Beranda blog Halaman 43

Komitmen Literasi, Jihad Jurnalistik Hadapi Tantangan Baru dalam Dakwah Peradaban

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, Lc., memberikan sambutan dalam Focus Group Discussion (FGD) Kemediaan yang digelar di Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Senin, 17 Jumadil Akhir 1447 (8/12/2025).

Acara yang diinisiasi oleh Kelompok Media Hidayatullah ini menjadi ruang refleksi strategis tentang masa depan media dakwah di era disrupsi informasi.

Dalam sambutannya, Naspi menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya forum ini, yang ia sebut sebagai momentum penting dalam penguatan ekosistem media Hidayatullah sebagai saluran dakwah penyinar umat. Ia menegaskan bahwa forum pemikiran semacam ini perlu menjadi tradisi intelektual yang terus berlanjut dalam lingkungan Hidayatullah.

“Ini adalah FGD pertama di periode ini, ini kita utamakan karena sangat penting” katanya.

Naspi kemudian menguraikan tantangan yang dihadapi media dakwah hari ini. Menurutnya, perjuangan jurnalistik yang sejak awal menjadi salah satu pilar gerakan Hidayatullah menghadapi medan yang semakin berat. Era digital melahirkan arus informasi yang masif, kompetitif, dan tidak selalu berorientasi pada nilai.

“Kita sangat yakin bahwa jihad jurnalistik menemui titik tantangan yang lebih berat dari era sebelumnya,” katanya.

Tantangan itu tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari kondisi internal umat. Naspi menekankan bahwa komitmen literasi tidak boleh melemah, sebab melemahnya literasi berarti melemahnya kemampuan umat untuk memahami, mengkritisi, dan menyebarkan kebenaran dalam bingkai dakwah.

“Kita juga harus akui, komitmen literasi kita menurun seiring dengan massifnya transformasi digital,” katanya.

Dalam konteks itu, media dakwah dituntut untuk bekerja lebih kreatif dan lebih kuat dalam konten, distribusi, dan edukasi. Kompetisi dengan beragam produk jurnalistik di pasar informasi menjadi perhatian utama.

“Saingan produk jurnalistik banyak, sementara minat baca kader juga harus diperkuat, agar lebih kuat dan tinggi,” katanya.

Ia menekankan bahwa keberlanjutan media Hidayatullah bukan hanya tentang mempertahankan sebuah institusi, tetapi tentang menjaga salah satu warisan terbesar pendiri gerakan, Ustadz Abdullah Said, yang menempatkan dakwah tulisan sebagai sarana membangun peradaban Islam.

“Mudah-mudahan pertemuan ini memberikan solusi yang mencerahkan agar salah satu warisan terbesar Ustadz Abdullah Said ini tetap eksis,” ujarnya.

Di akhir sambutannya, Naspi menegaskan bahwa hasil FGD tidak akan berhenti pada diskusi semata. Ia menyampaikan bahwa gagasan dan rumusan yang lahir dari forum ini akan menjadi bahan strategis dalam pertemuan tingkat nasional berikutnya.

“Hasil dari FGD ini akan jadi amunisi untuk dialog di agenda Rakernas,” katanya.

Mushida Mantapkan Langkah Dakwah dan Ketahanan Keluarga pada Periode Baru

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah (PP Mushida) menggelar silaturrahim di Kantor Pengurus Pusat Mushida, Jalan Cipinang Cempdak, Otista, Polinia, Jakarta, Selasa, 18 Jumadil Akhir 1447 (9/12/2025).

Pada momentum ini, Ketua Umum Pengurus Pusat Mushida, Hani Akbar, S.Sos.I., M.Pd, dalam sambutannya menempatkan dimensi spiritual sebagai fondasi utama kesinambungan gerak organisasi.

“Pertolongan dan ridho Allah adalah harapan utama dalam setiap langkah melanjutkan perjuangan dalam berorganisasi,” ujarnya, menegaskan bahwa keberhasilan hanya dapat dicapai melalui ketaatan dan keikhlasan dalam memikul amanah.

Hani Akbar menyampaikan rasa syukur atas tuntasnya amanah 2020–2025 serta menjelaskan bahwa penetapan pengurus dilakukan melalui proses syura yang menempatkan musyawarah sebagai prinsip etis dan organisatoris.

“Alhamdulillah kita berhasil menyelesaikan amanah periode 2020–2025 dengan husnul khatimah,” ungkapnya. Ia berharap seluruh jajaran yang baru dikukuhkan dapat menjalankan tugas secara profesional dan tetap berpegang pada nilai-nilai dakwah.

Sebelumnya, Ketua Majelis Mudzakarah Muslimat Hidayatullah, Kurnia Irawati, S.Ag., menyampaikan tausiyah mengenai pentingnya keyakinan kepada pertolongan Allah dalam setiap langkah perjuangan.

Ia menegaskan bahwa sejarah menunjukkan bagaimana kekuatan menjadi berlipat ganda ketika perjuangan dilakukan di jalan yang benar.

“Pertolongan Allah pasti datang. Maka bercita-citalah lebih tinggi,” pesannya. Ia mengingatkan bahwa seorang muslimah tidak perlu gentar selama berada dalam barisan perjuangan yang lurus. “Percayalah kepada janji-Nya,” tambahnya.

Penguatan dimensi moral dan spiritual tersebut diperluas oleh Anggota Majelis Penasihat Muslimat Hidayatullah, Ir. Emi Pitoyanti, yang mengingatkan pentingnya kerendahan hati dalam menerima amanah. Menurutnya, setiap tanggung jawab yang diberikan merupakan bagian dari ketetapan Allah dan harus dijalankan dengan penuh kesungguhan.

“Takdir Allah tidak pernah salah, termasuk amanah yang kini dipikul oleh para pengurus. Amanah yang diberikan wajib kita pertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Maka lakukan dengan profesional,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan harapan agar kepengurusan yang baru dapat semakin solid dan saling menguatkan. “Bismillah, semoga Pengurus Tingkat Pusat Muslimat Hidayatullah semakin kompak dan solid,” tuturnya.

Silaturahmi ini dihadiri oleh 26 peserta dan menjadi forum untuk merapikan struktur serta memperkuat arah kerja kepengurusan. Setelah sesi tausiyah dan arahan pimpinan, acara dilanjutkan dengan serah terima amanah sebagai simbol transisi kepemimpinan yang tertib.

Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama, membawa harapan agar kepengurusan baru mampu menjalankan peran strategisnya dalam memperluas dakwah, membangun ketahanan keluarga, serta meningkatkan kontribusi sosial Muslimat Hidayatullah di seluruh Indonesia.

Hidayatullah Tegaskan Pentingnya Penerapan Syariat dalam Penyembelihan Hewan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, Lc., menegaskan bahwa tugas penyelia halal khususnya pada lingkup penyembelihan hewan bukan hanya memastikan prosedur halal, tetapi juga bagian dari perjuangan aqidah melawan nilai-nilai yang bertentangan dengan syariat.

“Peradaban halal adalah bagian dari keteguhan umat Islam dalam menjaga identitas dan ibadahnya,” kata KH Naspi saat berdialog dalam forum konsultatif dengan Ketua Lembaga Sembelih Halal (LSH) Hidayatullah, Nanang Hanani, beserta jajarannya di Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Senin, 17 Jumadil Akhir 1447 (8/12/2025).

KH Naspi menekankan bahwa lembaga penyembelihan halal memegang misi besar dalam melawan berbagai penyimpangan dan praktik tidak syar’i yang dapat merusak kehalalan konsumsi umat.

Pertemuan ini membahas pentingnya peningkatan kualitas layanan sembelihan halal, termasuk penguatan nilai spiritual dan standar syariat dalam setiap prosesnya.

Naspi menegaskan bahwa LSH Hidayatullah harus menjadi lembaga yang benar-benar menghadirkan nilai tambah bagi umat. Menurutnya, lembaga ini bukan hanya menjalankan fungsi teknis penyembelihan, tetapi juga membawa misi dakwah, etika, dan peradaban halal.

Ia mengarahkan dengan mendorong agar LSH Hidayatullah tampil di masyarakat dengan ciri khas yang kuat, yaitu layanan bernilai ibadah dan keikhlasan.

“Berikan benefit yang berbeda kepada masyarakat. Berikan nilai lebih dalam penyembelihan seperti lakukan shalat dua rakaat, membaca 1 juz dulu, atau putarkan murattal Al Qur’an ke hewan sebelum disembelih,” katanya.

Ia kemudian menjelaskan bahwa praktik-praktik spiritual semacam ini telah menjadi tradisi ulama terdahulu sebagai bentuk permohonan pertolongan Allah dan penjagaan niat sebelum melaksanakan amal besar. Hal ini, jelasnya, rangkaian dari budaya keilmuan Islam yang menempatkan keberkahan sebagai tujuan utama.

Ia mencontohkan. Imam Bukhari, sebelum menuliskan satu hadis dalam kitabnya, selalu melaksanakan shalat istikharah dua rakaat untuk memohon petunjuk Allah. Begitu pula pendiri Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said, dikenal dengan disiplin ibadahnya yang kuat.

“Ustadz Abdullah Said itu tidak mengizinkan ada khatib keluar dari kampus kalau malamnya tidak shalat tahajjud,” katanya.

Melanjutkan arahannya, Naspi menekankan bahwa penyembelihan halal bukan sekadar proses teknis, melainkan tanggung jawab moral dan keagamaan. Ia mengingatkan bahwa apa yang dikonsumsi umat sangat menentukan kualitas spiritual dan kesehatannya, sehingga seluruh tahapan penyembelihan harus memenuhi syarat syariat.

“Ada haknya umat Islam yang tidak tertunaikan kalau kita tidak serius dalam mengurusi ini. Adalah hak umat Islam mendapatkan kualitas daging yang baik dan halal dimana ini harus dipastikan dari rangkaian prosesnya hingga dikonsumsi,” katanya.

Hidayatullah melalui LSH, lanjut Naspi, adalah upaya sungguh sungguh untuk memperkuat ekosistem peradaban halal di Indonesia, mulai dari tata kelola penyembelihan hingga pemahaman masyarakat.

“LSH Hidayatullah diharapkan menjadi garda depan dalam memastikan bahwa kehalalan adalah nilai yang dijalankan secara menyeluruh,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua LSH Hidayatullah Pusat, Nanang Hanani, menyampaikan laporan perkembangan lembaganya. Saat ini, dia menyebutkan, jaringan struktural LSH Hidayatullah telah hadir di 30 provinsi di Indonesia.

Selain itu, ia menjelaskan bahwa LSH terus menggelar pelatihan sembelih halal di berbagai daerah untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai etika dan prosedur penyembelihan yang sesuai syariat.

Nanang menekankan pentingnya memperlakukan hewan sembelihan dengan penuh kasih sayang, ketenangan, dan penghormatan.

“Tugas LSH Hidayatullah terus mencerahkan masyarakat tentang bagaimana memperlakukan hewan sembelihan, bagaimana memperhatikan kesejahteraan hewan, bagaimana merobohkan hewan dengan cinta,” katanya.

Ia melanjutkan dengan ungkapan yang menggambarkan prinsip dasar etika penyembelihan Islam. “Muliakan, senangkan, nyamankan, tenangkan hewannya, maka tajamkan pisaumu,” katanya.

Nanang menambahkan bahwa LSH Hidayatullah saat ini sedang menyiapkan penerbitan buku saku pintar tentang sembelih halal sebagai panduan praktis bagi masyarakat dan juru sembelih.

Sekjen DPP Hidayatullah Tegaskan Indonesia 2045 Butuh Kontribusi Tulus dan Kerja Strategis Umat

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. Nanang Nur Patria, M.Pd., menekankan urgensi kontribusi umat Islam dalam agenda kebangsaan jangka panjang.

Hal itu disampaikan Nanang saat membuka Musyawarah Wilayah (Muswil) VI Hidayatullah Jawa Timur yang yang digelar di Kampus Madya Ar Rohmah Putri, Malang, dibuka pada Kamis, 14 Jumadil Akhir 1447 (5/12/2025).

Nanang menegaskan kembali arah gerakan dakwah dan kontribusi umat Islam dalam pembangunan nasional. Ia menekankan bahwa Indonesia menuju 2045 membutuhkan kontribusi tulus dan kerja-kerja strategis umat Islam.

Menurutnya, tema Muswil yang mengangkat nilai jatidiri, kemandirian, dan kebermanfaatan menjadi seruan agar kader dakwah memperkuat pondasi gerakan dan memastikan manfaat nyata hadir di tengah masyarakat.

Ia menyampaikan bahwa organisasi harus dipahami sebagai amanah perjuangan yang menuntut kesungguhan, konsolidasi nilai, serta keputusan yang memberi maslahat luas.

“Indonesia menuju 2045 membutuhkan kontribusi tulus dan kerja-kerja strategis umat Islam,” ujarnya.

Muswil VI tahun ini mengusung tema “Meneguhkan Jatidiri, Kemandirian, Kebermanfaatan, Menyongsong Indonesia Emas 2045.” Tema tersebut, terangnya, menjadi orientasi gerakan agar dakwah semakin kuat pijakannya serta memiliki daya transformasi sosial yang terukur.

Selain pembahasan laporan pertanggungjawaban, penyusunan arah kebijakan lima tahun mendatang, penguatan sistem dakwah dan pendidikan, diskusi tematik, serta penetapan kepemimpinan wilayah, jelas Nanang, rangkaian Muswil yang berlangsung selama tiga hari menjadi ruang refleksi bagi seluruh unsur organisasi untuk menilai capaian, tantangan, serta langkah strategis yang perlu diambil di masa mendatang.

Sekjen juga mengingatkan komitmen bahwa dakwah adalah jalan panjang yang memerlukan kesinambungan, keteguhan, dan keikhlasan. Karena itu, ia berharap, dari forum inilah, arah gerakan Hidayatullah Jawa Timur ditegaskan kembali yang membawa harapan bagi peran yang lebih kuat dalam perjalanan bangsa menuju Indonesia yang berkeadaban mulia.

Pembukaan Acara

Pada pembukaan Muswil, hadir sejumlah tokoh wilayah dan daerah, seperti Ketua DPW Hidayatullah Jawa Timur, Ust. Drs. Amun Rowi, M.Pd.; Ketua DMW, Ust. Muhammad Juweni; serta Analis Kebijakan Ahli Utama Pemprov Jawa Timur, Dr. Ir. Drajat Irawan, SE., SH., MT., M.Si. Hadir pula unsur Kapolsek Dawu, Koramil Dawu, Majelis Ulama Indonesia (MUI), pihak kecamatan, serta berbagai ormas Islam.

Amun Rowi memperkuat garis pemikiran yang disampaikan Sekjen DPP dengan menegaskan bahwa Muswil merupakan ruang untuk kembali pada nilai dasar pergerakan.

Ia menyampaikan bahwa meneguhkan jatidiri berarti memperkuat fondasi nilai yang menjadi dasar dakwah, sementara kemandirian adalah kehormatan organisasi yang harus dirawat.

Bagi Amun, kebermanfaatan adalah ukuran dari keberhasilan dakwah di tengah masyarakat, sehingga seluruh upaya organisasi perlu diarahkan untuk memberikan kontribusi terhadap bangsa dan generasi mendatang.

Ketua Organizing Committee, Fahmi Ahmad, melaporkan kesiapan panitia dalam menyelenggarakan Muswil secara matang dan tertib. Ia menyebut forum ini sebagai momentum bersejarah yang menentukan arah strategis gerakan wilayah.

Sementara itu, Ketua Steering Committee, Muh Idris, menjelaskan bahwa desain Muswil dirancang untuk menghasilkan gagasan besar dan kepemimpinan yang kokoh. Ia menekankan perlunya kebijakan yang terukur dalam menyiapkan lembaga yang mandiri serta memberikan kebermanfaatan lebih luas bagi umat.

Dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Drajat Irawan memberikan apresiasi atas kontribusi Hidayatullah dalam pembangunan daerah. Ia menilai tema Muswil selaras dengan arah pembangunan provinsi, terutama dalam aspek penguatan pendidikan, pembinaan karakter, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Menurut Drajat, kerja-kerja strategis seperti ini menjadi elemen penting dalam mempersiapkan masyarakat menyongsong momentum bonus demografi dan target Indonesia Emas 2045.

“Pemerintah berharap sinergi antara Hidayatullah dan Pemprov Jatim terus diperkuat agar pembinaan generasi muda berjalan optimal,” katanya menandaskan.[]

Muswil Hidayatullah Jatim 2025 Hadirkan Pesan Persatuan dan Keteguhan Dakwah

0

MALANG (Hidayatullah.or.id) — Musyawarah Wilayah (Muswil) Hidayatullah Jawa Timur yang diselenggarakan di Batu, Malang, pada 14-15 Jumadil Akhir 1447 (5–7/12/2025) menjadi momentum penguatan arah dakwah dan konsolidasi kader. Agenda tiga hari ini menampilkan rangkaian kegiatan, termasuk Tabligh Akbar yang menjadi pusat perhatian publik.

Ribuan jamaah menghadiri acara tersebut, dengan lebih dari 7000 orang memadati lokasi sejak pagi hari.

Dalam penyampaiannya pada Tabligh Akbar tersebut, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc., menegaskan bahwa tujuan utama dakwah adalah menghadirkan Islam secara kaffah dalam kehidupan masyarakat.

Ia menyampaikan bahwa cita-cita tersebut tidak mungkin dicapai jika umat Islam berjalan sendiri-sendiri atau terjebak dalam sikap merasa lebih baik dibandingkan kelompok lain.

“Dakwah kita bertujuan agar Islam ini dapat dilaksanakan secara kaffah. Hal tersebut dapat kita laksanakan jika kita bersatu. Tidak merasa lebih baik daripada yang lain, itu adalah sifat Iblis ‘ana khairun minhu’,” ujarnya.

Tabligh Akbar ini juga menghadirkan KH Syihabuddin Abdul Muiz Al Hafiz. Keduanya memberikan materi keislaman yang perkuat pemahaman jamaah mengenai hakikat perjuangan dakwah. Kehadiran keduanya menambah dimensi spiritual dan intelektual acara, yang berjalan dalam suasana khidmat dan penuh semangat hingga penutupan.

Dalam tausiyahnya, KH Naspi mengingatkan bahwa jalan dakwah tidak terlepas dari ujian dan tantangan. Ia menyampaikan bahwa berbagai rintangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjuangan.

“Tidak akan mulus jalan dakwah ini. Akan selalu mendapatkan halangan, rintangan dan tantangan,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya kepemimpinan yang bertumpu pada kekuatan ruhiyah. Menurutnya, pemimpin sejati tidak lahir dari pola hidup serba mudah, tetapi dari pembiasaan ibadah dan munajat yang konsisten.

“Tidak ada pemimpin besar yang lahir dari malam-malam yang dilewati dengan mata yang tertutup, dengan munajat yang minim kepada Rabb semesta alam,” ungkapnya.

KH Naspi menegaskan bahwa dakwah menuntut keterlibatan seluruh unsur umat. Ia menyampaikan bahwa Allah dapat meninggikan agama ini tanpa keterlibatan manusia, namun amanah ditegakkan agar umat berkontribusi dalam usaha kolektif.

“Allah bisa saja menjayakan Islam ini sendiri. Namun diamanahkan kepada kita semua. Dan ini tidak bisa kita pikul sendirian. Harus dipikul bersama seluruh unsur kaum Muslimin,” jelasnya.

Tabligh Akbar juga menjadi ruang untuk memperluas jejaring antar elemen pergerakan Islam. KH Naspi mengajak agar kegiatan serupa diperbanyak dan melibatkan lebih banyak unsur umat sehingga ukhuwah semakin kokoh.

“Saya berpesan agar acara seperti ini sering dilaksanakan dengan melibatkan lebih banyak lagi unsur pergerakan Islam yang lain agar tercipta ukhuwah antar kaum Muslimin,” ucapnya.

Rais ‘Aam Hidayatullah Ingatkan Kemajuan itu Bertumpu pada Iman, Ilmu, dan Amal

0

MALANG (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangkaian Musyawarah Wilayah (Muswil) VI Hidayatullah Jawa Timur, Rais ‘Aam Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad, sampaikan taushiyah dalam acara bertajuk Taujih ‘Aam yang memberi arah strategis bagi gerakan dakwah dan pembangunan.

Acara yang berlangsung di Aula Al Hambra Kampus Madya Hidayatullah Ar Rohmah Putri, Malang, ini dihadiri sekitar 400 peserta dari unsur pengurus daerah dan unsur pengurus pusat.

KH Abdurrahman Muhammad menegaskan bahwa sejarah kejayaaan pembangunan termasuk kemajuan dakwah selalu bertumpu pada tiga fondasi utama. Ia menggambarkan bahwa tidak ada perubahan yang kokoh tanpa perpaduan antara kekuatan rohani, wawasan keilmuan, dan kerja nyata.

“Kemajuan itu asasnya tiga: iman, ilmu, dan amal. Maka setiap ada kerja yang dilandasi ilmu dan iman pasti ada perkembangan,” katanya.

Dari prinsip dasar itu, ia melanjutkan bahwa arah perjalanan Hidayatullah di masa mendatang sangat ditentukan oleh kualitas kepemimpinan yang berakar pada iman dan jatidiri perjuangan. Baginya, jatidiri gerakan adalah kompas moral yang harus hadir dalam setiap keputusan organisasi.

“Kemajuan di Hidayatullah ini akan terjadi jika hadir iman, kepemimpinan, dan jatidiri. Jika jatidiri dilaksanakan dalam kepemimpinan yang didasarkan pada iman, maka pasti terjadi kemajuan,” tegasnya.

Dalam penjelasan selanjutnya, KH Abdurrahman Muhammad mengingatkan kembali tentang ruh perjuangan dakwah yang bersumber dari Al-Qur’an. Ia menekankan pentingnya haqqa tilawah sebagai proses pembacaan Al-Qur’an yang benar secara lahir dan batin.

Haqqa tilawah (pembacaan yang benar) akan melahirkan iman,” tegasnya.

Dari prinsip itu, ia menekankan bahwa seluruh aktivitas dakwah, termasuk dakwah media sebagai instrumen membangun peradaban, harus berpijak pada nilai Ilahiah. Tatanan Rabbaniyah, menurutnya, adalah kerangka hidup yang memastikan arah dakwah tidak melenceng dari tujuan Qur’ani.

“Tugas utama kita mengenalkan Allah dan menjalankan kehidupan kita dengan tatanan Rabbaniyah,” terangnya.

Menutup taujihnya, KH Abdurrahman Muhammad menyoroti kekuatan ukhuwah sebagai modal terbesar umat. Menurutnya, persatuan hati adalah sumber energi dakwah yang tak tergantikan.

“Kekayaan yang paling besar bagi seorang Muslim adalah menyatunya hati dalam ukhuwah. Kita ini disatukan hatinya karena ada ketaatan kepada Allah,” katanya.

Logistik Darurat Didistribusikan ke Lima Titik Krisis di Aceh dan Sumut, Anak-Anak Jadi Penerima Manfaat Utama

0

TAPANULI (Hidayatullah.or.id) — Komitmen untuk membantu pemulihan masyarakat terdampak bencana di Sumatera terus diwujudkan melalui kolaborasi filantropi. Terbaru Baitul Maal Hidayatullah (BMH) berhasil mendistribusikan bantuan logistik kemanusiaan hasil donasi dari Vanilla Hijab ke lima titik prioritas di wilayah Aceh dan Sumatera Utara yang masih dalam masa pemulihan darurat pada Ahad, 16 Jumadil Akhir 1447 (7/12/2025).

Logistik yang disalurkan berupa kebutuhan pokok, sembako, serta kebutuhan vital bagi anak-anak dan kebersihan seperti susu, pampers, dan hygiene kit.

Bantuan ini sangat mendesak pasca-bencana dan dirancang untuk menjangkau wilayah yang mengalami kesulitan akses.

Tim Relawan BMH menempuh perjalanan panjang untuk menjangkau penerima manfaat. Terdapat dua tim yang diturunkan untuk wilayah Aceh dan Sumatera Utara.

Di Aceh Tamiang, fokus utama penyaluran dilakukan di tiga wilayah kritis yang mengalami kerusakan parah akibat banjir, yaitu Dusun Karya di Kampung Seumadam, Desa Tanah Terban di Kecamatan Karang Baru, dan Bukit Rata di Kecamatan Kejuruan Muda.

Sementara di Sumatera Utara, distribusi diarahkan ke wilayah yang sekitarnya terdampak banjir bandang, meliputi Desa Lalang di Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat, serta Desa Sipange di Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah.

Dhiyaudin, Implementator Program BMH, yang memimpin langsung tim penyaluran, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih mendalam atas dukungan penuh dari Vanilla Hijab dan seluruh donatur.

“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Vanilla Hijab dan seluruh donatur yang telah mempercayakan dana kebaikannya melalui BMH. Bantuan ini sangat berarti, terutama untuk kebutuhan pangan dan hygiene yang sangat dibutuhkan di lokasi,” ujar Dhiyaudin.

Dampak dari bantuan ini terasa langsung oleh anak-anak penerima manfaat di Dusun Karya. Dalam salah satu momen haru, seorang anak penerima bantuan bernama Abians menyampaikan terima kasih tulus yang mewakili para penerima.

“Terima kasih Om, Tante. Terima kasih banyak Kakak [Vanilla Hijab] atas bantuannya,” ucap Abians dengan senyum ceria saat menerima paket logistik.

Ucapan polos tersebut menjadi pengingat nyata bahwa setiap donasi yang disalurkan telah mengubah duka menjadi harapan baru bagi masyarakat yang berjuang untuk bangkit kembali.

BMH menegaskan akan terus berkomitmen menyalurkan bantuan secara bertahap dan tepat sasaran di seluruh wilayah terdampak.*

Murid SD Integral Rahmatullah Hidayatullah Tolitoli Juara Nasional Pidato PAI 2025

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Seorang siswa SD Integral Rahmatullah Hidayatullah Tolitoli mencatatkan prestasi membanggakan pada tingkat nasional. Murid bernama lengkap Achmad Khalfatulard ini berhasil meraih Juara 1 Lomba Pidato Pendidikan Agama Islam (PAI) Nasional tingkat sekolah dasar pada Grand Final Olimpiade Pendidikan Agama Islam & Semarak Lomba PAI 2025 yang berlangsung di Jakarta, Rabu, 12 Jumadil Akhir 1447 (3/12/2025).

Kompetisi tersebut menghimpun finalis dari 35 provinsi di Indonesia, menjadi ajang pertemuan talenta muda yang mengedepankan kemampuan komunikasi dan pemahaman nilai-nilai keislaman.

Achmad tampil sebagai peserta terbaik setelah melalui rangkaian seleksi yang digelar sejak 30 November hingga 3 Desember 2025 di Mercure Convention Center, Ancol, Jakarta. Penilaiannya didasarkan pada kepercayaan diri dalam penyampaian pidato, ketepatan penguasaan materi, serta konsistensi performa sepanjang kompetisi. Atas capaian tersebut, ia memperoleh trofi dan hadiah sebesar Rp5.000.000.

Ajang ini diselenggarakan untuk memperkuat mutu pendidikan agama Islam di tingkat dasar sekaligus membuka ruang bagi peserta didik untuk menunjukkan kompetensi dan karakter yang terbentuk melalui proses pembelajaran. Melalui platform lomba ini, sekolah-sekolah dari berbagai wilayah dapat menampilkan capaian pendidikan yang berorientasi pada pembinaan akhlak dan kemampuan akademik.

Kemenangan Achmad membawa kebanggaan tidak hanya bagi sekolahnya, tetapi juga bagi masyarakat Tolitoli. Prestasi ini dinilai memberi dorongan baru bagi peserta didik lain agar terus menumbuhkan semangat berkompetisi secara sehat dan berdaya saing nasional.

Selain itu, hasil lomba ini turut menjadi refleksi atas proses pendidikan yang dijalankan di sekolah, terutama dalam penguatan nilai keagamaan dan keterampilan literasi lisan.

Kepala SD Integral Rahmatullah Hidayatullah Tolitoli, Dahlan Singara, S.Pd.I, menyampaikan apresiasi atas dedikasi peserta didik dan komitmen para guru dalam membimbing. Ia menegaskan bahwa pencapaian tersebut sekaligus memacu lembaga pendidikan untuk memperkuat metode pembinaan.

“Prestasi ini menjadi kebanggaan bagi murid dan orang tua, dan juga memotivasi para guru untuk terus mendidik dengan hati, doa, dan keteladanan,” ujar Dahlan.

Ia menambahkan bahwa capaian tersebut mendorong sekolah untuk semakin bersemangat dalam mengembangkan kualitas proses belajar-mengajar serta berupaya terus meneguhkan ekosistem pendidikan yang terarah dan konsisten dalam rangka melahirkan generasi yang mampu tampil percaya diri di panggung nasional, membawa identitas keislaman dan keindonesiaan secara berimbang.

Bertahan atau Punah, Metamorfosis Suara Hidayatullah di Era Senjakala Media Cetak

0

GELOMBANG krisis media cetak yang melanda dunia dalam satu dekade terakhir memberikan peringatan serius bagi siapa pun yang terlibat dalam industri informasi. Raksasa-raksasa pers yang pernah menjadi simbol kejayaan jurnalistik global kini satu per satu tumbang.

Newsweek mengakhiri edisi cetaknya setelah 80 tahun penerbitan, menyatakan bahwa model majalah cetak tak lagi sanggup menopang biaya produksi di era digital. Chicago Tribune dan The Sun kehilangan jutaan pembaca, padahal keduanya sempat mencatat laba ratusan juta poundsterling di masa kejayaannya.

Fakta-fakta ini berdiri sebagai lonceng peringatan paling nyaring: Jika media bertabur modal triliunan pun bisa gulung tikar karena gagal membaca zaman, apa jaminan Majalah Suara Hidayatullah (Sahid) akan abadi?

Jawabannya keras dan jujur: tidak ada jaminan. Tidak ada institusi media yang aman dari disrupsi digital. Yang ada hanyalah kesiapan beradaptasi, atau, hilang ditelan zaman.

Industri media cetak global telah menyusut tajam. Sirkulasi media cetak di berbagai negara mengalami penurunan dua digit sejak pertengahan 2010-an. Organisasi seperti Pew Research Center mencatat bahwa pendapatan iklan media cetak di AS turun lebih dari 70% dalam dua dekade terakhir.

Di Indonesia, laporan Antara dan berbagai lembaga riset menunjukkan tren serupa dimana koran-koran besar berhenti cetak atau mengurangi halaman, sementara majalah-majalah mapan kehilangan pasar akibat perpindahan pembaca ke platform digital.

Di tengah realitas ini, Majalah Suara Hidayatullah tidak boleh terjebak keyakinan romantik bahwa media dakwah akan selalu hidup karena nilai-nilai yang dibawanya. Nilai memang kekuatan moral, tetapi model bisnis dan strategi editorial tetap menentukan umur panjang sebuah media. Karena itu, keberanian “membunuh cara lama” adalah satu-satunya pilihan rasional.

Masyarakat tidak lagi membutuhkan majalah cetak untuk mengetahui apa yang terjadi. Teknologi telah mengambil alih fungsi tersebut melalui pemberitahuan real-time di gawai setiap orang. Jika Sahid terus menjual berita harian atau informasi permukaan yang bisa ditemukan di Google, maka ia sedang menggali kuburnya sendiri.

Langkah yang logis bagi edisi cetak adalah berubah menjadi produk intelektual premium. Disinilah konsep slow journalism menjadi relevan dengan menyajikam laporan investigatif mendalam, analisis peradaban, panduan keluarga Muslim, hingga arsip pemikiran yang tak lekang dimakan algoritma.

Versi cetak harus menjadi barang koleksi, bukan komoditas sekali baca. Kertasnya harus berkualitas, desainnya memikat, dan isinya harus menjadi referensi dakwah yang layak disimpan di rak-rak buku kader, akademisi, dan keluarga pembaca. Dengan demikian, posisi cetak bukan untuk sekadar bersaing dengan kecepatan digital, tetapi menawarkan kedalaman, bobot, dan keindahan intelektual.

Namun kemungkinan beralih ke 100% digital juga tidak boleh ditakuti. Jika ongkos cetak semakin mencekik, atau distribusi semakin tidak efisien, maka transisi penuh ke ruang digital bukanlah bentuk kekalahan. Inilah evolusi.

Pada platform digital, Sahid justru memiliki peluang tumbuh lebih cepat melalui ekosistem multimedia: video dokumenter, podcast diskusi pemikiran, artikel mendalam interaktif, hingga serial dakwah yang dikemas visual.

Tentu langkah ini menuntut revolusi model bisnis. Harga digital Rp 86.000 untuk tiga edisi misalnya, tidak kompetitif dibandingkan pemain nasional yang menawarkan harga jauh lebih rendah untuk akses setahun. Solusi yang lebih rasional adalah membership dimana pembaca menjadi anggota gerakan dakwah, bukan pembeli PDF. Mereka membayar bukan untuk berlangganan, tetapi untuk mendukung visi.

Digital juga membuka pintu inklusivitas generasi Z dan Alpha. Konten bisa dikembangkan menjadi potongan pendek yang memancing perhatian di TikTok atau Instagram Reels, kemudian diarahkan ke kanal utama Sahid untuk konsumsi konten penuh. Ini bukan sekadar strategi pemasaran, tetapi strategi pembinaan dalam menjangkau generasi yang secara natural hidup dalam dunia digital.

Pada akhirnya, yang harus dipertahankan bukan bentuk fisiknya, tetapi napas ideologinya. Gagasan dakwah yang jernih, konsisten, dan terukur. Kertas hanyalah kendaraan. Jika kendaraan itu rusak, ia bisa diganti dengan roket digital.

Namun selama masih mungkin dirawat, edisi cetak dapat menjadi “mahkota” yang menjadi simbol eksklusivitas dan kedalaman. Sementara edisi digital menjadi “pedang” yang menjangkau jutaan massa.

Jika media raksasa dunia bisa tumbang karena gagal membaca zaman, maka Sahid tidak punya kemewahan untuk lambat berubah. Statusnya sebagai media dakwah justru menuntutnya untuk lebih cepat beradaptasi demi memastikan suara peradaban Islam tetap hadir di tengah riuh rendah arus digital.

Dan, Sahid harus memutuskan: ikut berubah, atau, dipaksa berhenti oleh zaman.[]

*) Imam Nawawi, penulis pegiat literasi Hidayatullah

Keteguhan Dakwah dan Rahasia Kenikmatan Iman di Balik Medan Perjuangan

0

PALU (Hidayatullah.or.id) — Musyawarah Wilayah (Muswil) Hidayatullah Sulawesi Tengah di Palu pada Sabtu, 15 Jumadil Akhir 1447 (6/12/2025), berlangsung dalam suasana reflektif yang menegaskan kembali pentingnya keteguhan nilai dalam gerakan dakwah.

Di tengah tantangan kebangsaan yang semakin kompleks, Ketua Bidang Perkaderan DPP Hidayatullah, Dr. Abdul Ghafar Hadi, mengajak para peserta melihat kembali hakikat perjuangan organisasi. Ia menekankan bahwa perjalanan dakwah, yang akarnya tumbuh dari tradisi Nusantara dan spiritualitas Islam, selalu mengandung konsekuensi dan tuntutan pengorbanan.

Pada awal pemaparannya, Abdul Ghafar menegaskan bahwa rahasia kenikmatan iman justru lahir dari beratnya medan perjuangan. “Di balik beratnya medan juang itulah tersimpan rahasia kenikmatan iman,” ujarnya, seraya mengingatkan bahwa kehadiran para kader dalam forum musyawarah merupakan bagian dari pelaksanaan kewajiban iman. Ia menambahkan bahwa musyawarah adalah bentuk nyata ketaatan dan instrumen etis untuk menjaga arah perjuangan kolektif.

Ia kemudian menggarisbawahi bahwa jalan dakwah bukanlah jalur yang datar dan tanpa risiko. “Jalan ini bukan jalan biasa. Ia penuh konsekuensi, mulai dari konsekuensi teologis, sosial, budaya, hingga ekonomi,” katanya di hadapan peserta Muswil. Karena itu, setiap kader dituntut untuk siap menghadapi tekanan serta dinamika sosial yang menyertainya.

Memperluas perspektif, Abdul Ghafar merujuk pada perjalanan Rasul, Sahabat, Tabiin, dan generasi Mujahidin sebagai contoh sejarah keteguhan. Ia menilai bahwa kekhusyukan ibadah tidak lahir dari kenyamanan, tetapi dari proses panjang perjuangan yang melelahkan.

“Beratnya medan dakwah itulah yang membuat perjalanan hidup ini menjadi asyik. Beratnya perjuangan itulah yang membuat kita bisa merasakan manisnya iman,” tuturnya.

Dalam konteks sejarah internal organisasi, ia mengingatkan kembali ketangguhan para perintis Hidayatullah sejak 52 tahun lalu, yang memulai dakwah dari Gunung Tembak, Balikpapan, menuju ratusan titik di Nusantara. Keteladanan itu, menurutnya, mewajibkan kader masa kini memelihara kesabaran, keberanian, dan pengorbanan.

“Kita harus mengikuti jejak kesabaran, keberanian, dan pengorbanan mereka,” tegasnya.

Menutup amanatnya, Abdul Ghafar mengutip Surah Ali Imran ayat 159, mengingatkan bahwa musyawarah bukan sekadar mekanisme organisasi, tetapi fondasi moral sebuah peradaban. Ia menekankan pentingnya kesiapan batin sebelum bermusyawarah.

“Sebelum bermusyawarah, kita harus memasang diri kita dengan kelapangan hati dan kasih sayang. Tanpa itu, benteng peradaban tidak akan terbangun kokoh,” pungkasnya.

Muswil ini menetapkan Sarmadani Karani sebagai Ketua Wilayah Hidayatullah Sulawesi Tengah untuk periode 2025-2030. Selain dikenal sebagai wartawan senior, pria yang telah lama malang melintang dalam penugasan dakwah ini juga menekuni dunia pendidikan dan pangan.