Beranda blog Halaman 431

Potensi 1,6 Milyar Muslim Dunia

Istiqlal Mosque Eid ul Fitr Jamaah 5

PADA tahun 1975, ahli demografi Carl Haub merasa penasaran terhadap berapa sebenarnya jumlah manusia yang pernah hidup di muka bumi.

Dengan menggunakan 50.000 tahun Sebelum Masehi sebagai titik tolak, ia pun mulai menerapkan angka kelahiran kasar (yaitu perkiraan angka kelahiran tahunan per seribu orang) kepada tiap populasi, lalu menjumlahkan seluruhnya. Hasilnya? Pada tahun tersebut, sekitar 103 milyar manusia pernah dilahirkan, dan hanya 4 persen yang masih hidup saat itu.

Berdasar perhitungan kasar ini, majalah National Geographic Indonesia edisi Juni 2011 memperkirakan pada 2011 jumlah totalnya mencapai 108 milyar. Sekitar 7 milyar masih hidup dengan kisaran 57 juta jiwa yang meninggal tiap tahun.

Tentu saja setelah 2 tahun berlalu, jumlah tersebut sudah meningkat. Pada saat artikel ini ditulis, jumlahnya telah mencapai 7,196 milyar dan terus tumbuh rata-rata 1,14 persen per tahun. Sekitar 50 tahun mendatang jumlah penduduk bumi akan stabil pada angka 10 milyar. Demikian rilis situs Worldometers (Real Time World Statistics, http://www.worldometers.info).

Pertanyaannya adalah, apa potensi dan peluang yang bisa kita ambil dari milyaran orang ini, sebagai pribadi muslim? Tetapi, sebelum itu, mari menyepakati satu hal: bahwa potensi dan peluang tersebut adalah hal-hal yang berhubungan dengan akhirat, bukan duniawi. Kita hanya berbicara tentang persiapan kita menuju kehidupan yang abadi, bukan rencana-rencana bisnis dan kenyamanan hidup yang fana.

Agar dapat membayangkan situasinya secara lebih baik, mari kita pahami fakta-fakta lainnya. Hasil survei Pew Research Center AS (2009), umat Islam dunia mencapai 1/4 total jumlah penduduk dunia (sekitar 1,6 Milyar). Jumlah tersebut melonjak hampir 100% dalam beberapa tahun terakhir.

Secara lebih terinci, CIA Fact Sheet (2007) mencatat jumlah penganut Kristen 33.32% (Katolik Roma 16.99%, Protestan 5.78%, Ortodoks 3.53%, Anglikan 1.25%), Muslim 21.01%, Hindu 13.26%, Budha 5.84%, Sikh 0.35%, Yahudi 0.23%, Baha’i 0.12%, dan agama lainnya 11.78%, ateis 2.32%.

New York Times pernah menulis bahwa 25% Muslim Amerika adalah mualaf. Menurut Ustadz Syamsi Ali (Imam Masjid New York yang asli Indonesia), sampai tahun 2013 ini sekitar 4 ribu orang masuk Islam setiap tahun di Amerika. Dari keseluruhan jumlah Muslim di Eropa, sekitar 60% adalah penduduk asli. Nama Muhammad menjadi nama paling banyak digunakan untuk bayi di Inggris (2010).

Menurut Ustadz Syamsi Ali, sebagaimana dirilis www.hidayatullah.com (29 November 2013), diantara tantangan terbesar dakwah di Amerika saat ini adalah membina para mualaf, dan mengkader para imam, dai, serta ulama’ dari kalangan warga asli sehingga Islam tidak lagi dianggap sebagai tamu.

Di saat bersamaan, Indonesia adalah negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Tidak kurang 209 juta penduduknya adalah muslim, disusul India dengan 176 juta, Pakistan 167 juta, dan Bangladesh 133 juta. Setelah itu Nigeria, Mesir, Iran, Turki, Aljazair, dan Marokko; di jajaran 10 negara berpenduduk muslim terbesar.

Apa peran yang dapat kita mainkan sebagai bagian dari komunitas muslim terbesar di dunia? Apa sumbangsih kita kepada sesama muslim di belahan dunia lainnya?

Dr. Abdul Mannan (Ketua Umum Ormas Hidayatullah periode 2010-2015) pernah mengatakan, bahwa saat ini kaum muslimin Indonesia mestinya menyiapkan diri secara lebih baik untuk menyambut saudara-saudaranya dari seluruh penjuru dunia. Seiring carut-marutnya situasi politik dan keamanan di sejumlah negara muslim lain, terutama Timur Tengah, mata kaum mualaf sekarang mulai beralih ke Asia Tenggara, terutama Indonesia dan Malaysia.

Bagaimana pun, terbetik kekhawatiran tertentu bagi sebagian kalangan untuk belajar Islam ke negeri-negeri muslim di kawasan lainnya. Bukan masalah ilmu dan ulamanya, bukan pula literatur dan institusinya, tetapi kondisi politik dan keamanannya. Walau kita sangat prihatin dan sedih dengan keadaan tersebut, akan tetapi kita tidak boleh berdiam diri. Selalu ada hikmah yang bisa dipetik dari setiap kejadian, agar semangat hidup tetap terjaga dan pikiran terus positif.

Apakah kita telah mempersiapkan diri sebaik mungkin? Bagaimana strategi pesantren, Madrasah, Ma’had ‘Aly, Perguruan Tinggi Islam, dan berbagai Lembaga Pendidikan Islam lainnya untuk memanfaatkan peluang ini? Bersediakah kita membuka pintu dan mengundang saudara-saudara kita dari Eropa dan Amerika untuk belajar Islam di negeri ini? Bukan hanya secara teori, namun dalam keseluruhan aspek budaya dan peradabannya?

Tidakkah kita berharap menjadi orang yang dicerahkan wajahnya di Hari Kiamat kelak? Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini,

“Semoga Allah mencerahkan wajah seseorang yang mendengar sesuatu dari kami, lalu ia menyampaikannya sebagaimana yang ia dengar. Bisa jadi orang yang diberitahu itu lebih mengerti dibanding orang yang mendengarnya (secara langsung).” (Riwayat Tirmidzi, dari Ibnu Mas’ud. Hadits shahih).

Tidakkah kita ingin mendapat pahala sebagai pembimbing jutaan mualaf dari Eropa dan Amerika itu? Rasulullah bersabda,

“Barangsiapa yang menunjukkan kepada suatu kebaikan maka ia akan mendapat pahala setara dengan orang yang melakukannya.” (Riwayat Abu Dawud, dari Abu Mas’ud al-Anshari. Hadits shahih).

Jadi, mari berbenah dan menata diri, sehingga menjadi pribadi maupun masyarakat muslim yang layak dijadikan guru sekaligus pembimbing dalam ber-Islam oleh para mualaf itu. Manfaatkan potensi 1,6 milyar muslim ini!. Wallahu a’lam.

Alimin Mukhtar. Rabu, 01 Shafar 1435 H.

Almarhum Manna Pasannai Tak “Berposisi” Tapi Bertahta di Hati

0
Almarhum Manna Pasannai (atas motor) berbincang dengan Ketua STIS Hidayatullah Ust Masykur Suyuthi

SINJAI (Hidayatullah.or.id) — Kabar duka sekejab menyeruak di segenap sudut sudut ruang nyata maupun ruang maya. Ada yang terkejut lantas berdoa. Ada yang teringat lantas terkenang. Demikianlah ketika kematian saatnya tiba menemui hamba.

Meninggalnya kader dai Hidayatullah, Ust Abdul Manna Pasannai, pada Senin malam, 4 Januari 2021 sekitar pukul 22:55 WIB di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, menyisakan sungkawa mendalam bagi orang yang mengenalnya.

Di Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Kelurahan Teritip, Balikpapan, Pak Manna, demikian ia karib disapa, tidak menonjol sebagai dai yang pandai berceramah dari mimbar ke mimbar. Namun, bagi banyak santri, khususnya orang orang yang pernah berinteraksi langsung dengannya, namanya selalu di hati.

“Beliau tak ‘berposisi’ tapi bertahta di hati,” kata Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah, Imam Nawawi, mengenang pria yang selalu bersemangat itu.

Pak Manna banyak menghabiskan masa pengabdiannya di dapur umum. Saban waktu dia mengurus makanan para santri, pagi, siang dan malam. Posisi yang barangkali tak dianggap bergengsi, namun Pak Manna menjalani amanah tersebut penuh bakti.

Kesan mendalam misalnya diceritakan oleh Sarmadani saat menjadi santri di Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak. Menurutnya, Manna Pasanai adalah sosok pejuang yang sederhana.

Sarmadani punya kenangan tak terlupakan bersama Pak Manna ketika almarhum menjadi petugas dapur umum. Bagaimana tidak terkenang, dulu saat dirinya masih santri, kadang secara diam-diam dia menyelinap di antara santri Kuliah Muballigh/ Muballighat (KMM), untuk turut mendapat porsi yang cukup untuk makan siang.

“Kadang beliau melotot, dan bertanya, “santri dari mana ini”. Santri dari Manggar, jawab saya singkat. Beliau hanya tersenyum, dan menyodorkan sepiring nasi, komplit dengan sayur dan lauknya,” kisah Sarmadani yang sekarang berdinas di Ujung Pandang ini.

Menurut Sarmadani, Pak Manna merupakan sosok yang tidak pernah juga menuntut banyak. Ia hanya taat ber-Hidayatullah hingga akhir hayatnya.

Sarmadani juga mengemukakan mengenai kebiasaan Pak Manna yaitu ketekunannya dalam beribadah. Meski tertatih, karena usia, dia tidak pernah absen untuk ke masjid. Sholat duduk di antara jamaah. Banyak anak muda yang dikalahkannya, kalau bicara semangat untuk shalat jamaah di masjid.

Senada dengan Sarmadani, salah seorang santri yang pernah menerima tempaan almarhum yaitu Muhammad Idris terkenang dengan ketelatenan Pak Manna dalam menjalankan tugas sebagai kepala dapur umum santri.

Memang menjadi kepala dapur perlu ketegasan. Bagi yang pernah nyantri pasti paham dengan kemelut yang acapkali terjadi di dapur umum.

Seringkali ada santri yang berupaya melakukan aksi “penyelundupan” untuk mendapatkan jatah makan lebih. Terkadang aksi yang demikian itu perlu ketegasan dan almarhum sangat ahli mengawasi hal seperti ini.

“Logat bugisnya yang kental seringkali menjadikan suasana menjadi segar dan bersahabat,” kata Idris mengenang Pak Manna dalam setiap tugas mengawal santri setiap waktu makan tiba.

Bagi Idris, Pak Manna juga dikenal disipilin termasuk dalam ketepatan beliau untuk berangkat dan shalat berjamaah ke masjid.

“Shalat berjamaah seakan menjadi bagian dari dirinya yang tak dapat dipisahkan. Sepanjang perjalanan ke masjid beliau akan menegur santri yang belum bersiap untuk shalat. Selalu hadir di lapangan untuk kerja bakti, seakan tak mau kalah dengan santri,” ungkap Idris.

Ketua PD Pemuda Hidayatullah Balikpapan, Imam Muhammad Fatih Farhat, pun punya kenangan tersendiri. Baginya, Pak Manna adalah salah satu dari sekian orangtua yang paling akrab ke semua kalangan di Hidayatullah.

“Mulai sapaan khas, candaanya yang kental, hingga kedekatannya dengan semua orang seperti family sendiri bahkan orangtua yang senantiasa mencairkan suasana dimana dan kapan saja,” tulisnya.

Selain di dapur, rupanya Pak Manna juga pernah memandu kegiatan Training Center (TC) santri putri atau dalam istilah sekarang seleksi masuk menjadi santri. Hal ini diceritakan oleh Miftah Assa’adah.

Saat mengarahkan kegiatan TC santri putri yang diharuskan membersihkan danau yang disesaki daun teratai, Pak Manna begitu tegas, tampak galak dan tidak ada kompromi. Ia bahkan sampai mengajari cara yang benar membersihkan danau itu.

“Miftah! bukan begitu, ambil batangnya dari dalam air, tarik, nanti yang lain ikut semua! Takut bettul tangan lentiknya rusak…!,” teriaknya seperti dinukil dari kisah Miftah Assa’adah di laman Facebook miliknya.

Tak lama berselang, beliau datang dengan nampan penuh gorengan buatan istrinya serta secerek air es. “Ayo-ayo naik, cuci tangan baru makan ini, habiskan kalau kurang minta lagi.”

Tak terdengar lagi suara sangarnya. Kali ini Miftah dan teman temannya mendengarnya berbicara sangat lembut bak seorang ayah pada anaknya. Sambil menikmati gorengan mereka mendengar celotehnya.

“Jadi santri putri itu jangan manja, harus kuat. Nanti di cabang kau akan belah kayu sendiri, tiup api ditungku, urus suami plus masakin santri,” kata Pak Manna berpesan seperti diutarakan Miftah Assa’adah.

“Begitulah Pak Manna akrab dengan kehidupan kami. Beliau bagai bapak, satpam juga tukang bagi kami. Sedikit-sedikit Pak Manna, hingga beberapa di antara kami turut memanggilnya ayah sebagaimana anak-anak biologis beliau,” kata Miftah Assa’adah mengenang.

Semoga Allah Ta’ala menyayangi Ust Abdul Manna’ Pasannai, mengampuni dan mengumpulkan beliau bersama para Nabi, Rasul, Shiddiqin, Syuhada, dan Shalihin di Jannah Firdaus tertinggi, Aamiin. (ybh/hio)

Aksi Kemanusiaan Tanggap Bencana Banjir Bandang Kudus

KUDUS (Hidayatullah.or.id) – Tim SAR Hidayatullah bersama Laznas BMH turut melakukan aksi tanggap darurat bencana banjir bandang yang melanda sejumlah kawasan di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, akibat tanggul Sungai Gelis, Desa Pasuruan Lor, Kecamatan Jati, jebol. Akibatnya puluhan rumah warga di Dusun Goleng, Desa Pasuruan Lor, kebanjiran dan terisolasi.

Dari pantauan yang dilakukan di lokasi, tanggul jebol sepanjang sekitar 25 meter. Tampak jalan akses warga Dusun Goleng terputus karena tergenang air.

Kejadian tanggul jebol kurang lebih jam 10.45 WIB, Jumat (1/1/2021) malam. Akibat dari tanggul jebol tersebut Dusun Goleng terisolasi dan puluhan rumah warga terdampak banjir.

Ketua SAR Hidayatullah Jateng Edy Mulyanto yang juga korlap aksi tanggap kebencanaan ini melaporkan, wilayah terdampak tanggul jebol ini antara lain Goleng Desa Pasuruhan Lor Kecamatan Jati.

“Warga terisolir oleh tanggul jebol, air melimpas ke jalan ± 1 – 2 m, air masuk ke dalam pemukiman warga ± 10 – 30 Cm, air menggenang di pemukiman dengan fondasi rumah rendah, ketinggian air intensitas meningkat, jumlah warga terdampak diperkirakan 700 KK hingga 1200 jiwa,” kata Edy.

Daerah terdampaj lainnya yaitu Jalan Karang Turi, Desa Setro Kalangan, Kecamatan Kaliwungu. Air menggenang di jalan masuk dengan ketinggian genangan ± 60 cm.

“Air tidak masuk ke pemukiman warga,” kata Edy. Namun, akibat akibat limpahan air ini aktifitas warga lumpuh dan terisolir oleh genangan. Ketinggian air intensitasnya meningkat, korban terdampak terisolir diperkirakan 350 KK,” imbuhnya.

Adapun kebutuhan mendesak yang sangat diharapkan oleh masyarakat terdampak banjir bandang ini adalah makanan siap saji dan oba-obatan.

Sementara ini tim relawan SAR Hdayatullah seperti Sholehan, Faqih, Qowam, Farhan dan sejumlah tim gabungan lainnya masih terus melakukan upaya mitigasi serta mendistribusikan bantuan dari Laznas BMH.

Update: Saat ini hari Ahad, 3 Januari 2020 pukul 14:00 WIB, pantauan SAR Hiayatullah dari lokasi, Alhamdulillah air sudah mulai surut dan tanggul sudah mulai ditambal.

Sumber: sarhidayatullah.com

Hidayatullah Luaskan Khidmat Dakwah ke Manokwari Selatan

0

MANSEL (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah menetapkan dakwah sebagai arus utama gerakan, selain tarbiyah yang juga terus dikuatkan. Dalam rangka meneguhkan mainstream gerakan tersebut, Hidayatullah meluaskan dakwah ke berbagai titik. Salah satunya kini berkhidmat dakwah menjumpai masyarakat di Manokwari Selatan.

Beribukota Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan sendiri merupakan pemekaran dari Kabupaten Manokwari, yang secara resmi dimekarkan pada 17 November 2012.

Hidayatullah mulai berkhidmat di kawasan sejak beberapa tahun lalu melalui kegiatan pembinaan keagamaan rutin bagi masyarakat muslim di daerah ini, yang, menurut data Badan Pusat Statisktik Manokwari Selatan (BPS Mansel) Tahun 2019, penganut Islam sebanyak 15,28%.

Sementara prosentase penganut agama Kristen adalah mayoritas sebesar 84,18%, Katolik 0,47%, Hindu 0,01% dan penganut Kepercayaan lainnya sebesar 0,06%. Hubungan harmonis antar suku, agama dan ras senantiasa terjalin sangat baik. Demikian pula dakwah Islam yang disambut positif oleh masyarakat.

Khidmat dakwah Hidayatullah tersebut pun bersambut dengan adanya lokasi tanah wakaf seluas 3 hektare dari pemberian secara kolektif dari tokoh masyarakat setempat yakni Muhammad Yamin dan saudaranya, Muhammad Arsyad dan Seno.

Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Ust Muhammad Sulton dan Ust Hasanuddin Aly dan Kadep Dakwah DPW Hidayatullah Papua Barat Ust Burhanuddin Ibnu dan Kadep Perkaderan Ust. Muhammad Sanusi serta didampingi pengurus lainnya mengunjungi langsung lokasi perintisan Hidayatullah Kabupaten Manokwari Selatan tersebut, Sabtu (2/1/2021).

Saat ini khidmat dakwah Hidayatullah Manokwari Selatan kian diteguhkan dengan diutusnya dua orang tenaga dai yang juga pengurus Hidayatullah Mansel yaitu Ust Maghfuri dan Ust Sulaiman Anwar.

Maghfuri mengatakan, Manokwari Selatan adalah cabang rintisan yang sudah mulai dijajaki sejak dari DPW Hidayatullah Papua Barat Periode lalu (2015-2020) dan terus direalisasikan pada periode DPW 2020-2025 ini.

“Semoga dakwah dalam rangka membangun Mansel dari sisi sumber daya manusianya ini semakin meluas kebaikannya dan berbagai rencana pembangunan yang dicanangkan dapat dilakukan dengan baik pula,” kata Maghfuri.

Dia meminta agar diberi dukungan doa agar dimampukan mengabdi di kawasan dengan kesabaran dan keistiqamahan dalam mengemban amanah dakwah ini sehingga bisa terwujud Pesantren Hidayatullah di Mansel sebagaimana maenstrem Hidayatullah.

Pihaknya pun berharap semoga keberadaan Hidayatullah Mansel turut berkontribusi dalam pembangunan di kawasan, diterima dan terus bersinergi dengan berbagai lapisan masyarakat maupun dengan pemerintah setempat.*/Miftahuddin

Tetaplah Selalu Jaga Imunitas

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah KH Dr Nashirul Haq, MA, mengimbau agar tetap selalu menjaga iman dan imunitas tubuh di masa pandemi agar dakwah sebagai prioritas utama gerakan dapat terus dikuatkan. Hal ini disampaikan dia saat menutup acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Depok, Jawa Barat, Kamis (31/12/2020).

Sistem imunitas merupakan sistem pertahanan atau kekebalan tubuh yang memiliki peran dalam mengenali dan menghancurkan benda-benda asing atau sel abnormal yang merugikan tubuh kita.

Dalam forum pamungkas itu, Nashirul mendorong segenap kader dan pengurus Hidayatullah untuk benar-benar disiplin dalam menghadapi pandemi yang berkepanjangan ini.

“Kita harus tetap menjaga dan meningkatkan iman dan imun secara seimbang. Karena kesehatan jiwa dan fisik merupakan hal yang tak terpisahkan, kala mengemban amanah sebagai Abdullah dan Khalifatullah,” katanya.

Nashirul menukil sebuah pepatah mengatakan, ‘Lebih baik mencegah daripada mengobati.’

“Kalau kita terpapar, itu prosesnya lebih berat. Syukur kalau tidak ada penyakit bawaan. Oleh karena itu kehati-hatian harus mutlak diupayakan dalam menghadapi pandemi yang berkepanjangan ini,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Nashirul pula mengingatkan pentingnya setiap kader dan pengurus Hidayatullah perihal strategisnya amanah dakwah yang diemban.

“Hendaknya kita semua, mengemban amanah kepengurusan ini dengan membangun soliditas yang kuat, team work yang solid dan mengedepankan musyawarah,” terangnya.

Nashirul pun menjelaskan perihal bagaimana Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah dalam menjalankan amanah organisasi.

“Kami di DPP, kekuatan itu ada di musyawarah, semua dimusyawarahkan di Pengurus Harian. Bahkan pada urusan yang strategis kami konsultasikan dengan Dewan Mudzakarah, lebih strategis lagi kami konsultasikan dengan Dewan Pertimbangan dan puncaknya adalah kepada Pemimpin Umum. Kekuatan musyawarah ini menjadi bekal kita,” imbuhnya.

Lebih dari itu penting juga semua kader dan pengurus memahami bahwa amanah sejatinya dipertanggungjawabkan kepada Allah Ta’ala.

“Pertanggungjawaban kita adalah kepada Allah, ini semua adalah jihad, amal sholeh. Jadi yang pertama menilai adalah Allah. Kemudian dinilai oleh Rasulullah dan pemimpin di atas kita, juga oleh seluruh kaum Muslimin. Pada ujungnya akan dinilai oleh jama’ah dan anggota kita,” pugkasnya.

Rakernas Hidayatullah yang berlangsung intensif selama 3 hari ini memberlakuan standar penyelenggaraan dan protokol kesehatan yang cukup ketat dengan mensyaratkan pemberlakuan social distancing, penggunaan masker serta pemeriksaan kesehatan metode swab antigen kepada semua. (ybh/hio)

Ketum Tutup Rakernas Ingatkan Jaga Amanah, Iman dan Imun

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Rapat Kerja Nasioanal Hidayatullah 2020 yang berlangsung di Kampus Utama Pesantren Hidayatullah Depok telah resmi ditutup, Kamis (31/12/2020).

Dalam arahan penutupnya, Ketua Umum DPP Hidayatullah, Ust Dr Nashiru Haq (UNH) mengingatkan pentingnya setiap kader dan pengurus perihal strategisnya amanah yang diemban.

“Hendaknya kita semua, mengemban amanah kepengurusan ini dengan membangun soliditas yang kuat, team work yang solid dan mengedepankan musyawarah,” tegasnya.

UNH pun menjelaskan bagaimana DPP Hidayatullah dalam menjalankan amanah organisasi.

“Kami di DPP, kekuatan itu ada di musyawarah, semua dimusyawarahkan di Pengurus Harian. Bahkan pada urusan yang strategis kami konsultasikan dengan Dewan Mudzakarah, lebih strategis lagi kami konsultasikan dengan Dewan Pertimbangan dan puncaknya adalah kepada Pemimpin Umum. Kekuatan musyawarah ini menjadi bekal kita,” imbuhnya.

Lebih dari itu penting juga semua kader dan pengurus memahami bahwa amanah sejatinya dipertanggungjawabkan kepada Allah Ta’ala.

“Pertanggungjawaban kita adalah kepada Allah, ini semua adalah jihad, amal sholeh. Jadi yang pertama menilai adalah Allah. Kemudian dinilai oleh Rasulullah dan pemimpin di atas kita, juga oleh seluruh kaum Muslimin. Pada ujungnya akan dinilai oleh jama’ah dan anggota kita,” ungkapnya.

Tidak tertinggal, dalam forum pamungkas itu, UNH dorong segenap kader dan pengurus Hidayatullah untuk benar-benar disiplin dalam menghadapi pandemi yang berkepanjangan ini.

“Kita harus tetap menjaga dan meningkatkan iman dan imun secara seimbang. Karena kesehatan jiwa dan fisik merupakan hal yang tak terpisahkan, kala mengemban amanah sebagai Abdullah dan Khalifatullah.

Pepatah mengatakan, ‘Tindakan preventif itu lebih baik dari pada pengobatan.’

“Kalau kita terpapar, itu prosesnya lebih berat. Syukur kalau tidak ada penyakit bawaan. Oleh karena itu kehati-hatian harus mutlak diupayakan dalam menghadapi pandemi yang berkepanjangan ini,” jelasnya.*/Imam Nawawi

Menggerakkan Ekonomi Umat untuk Menopang Giat Dakwah

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Gerakan dakwah harus ditopang dengan gerakan ekonomi keumatan. Oleh karena itu, para kader dakwah Islam, pesan Pemimpin Umum Hidayatullah Ustadz Abdurrahman Muhammad, harus berpikir bagaimana membangun ekonomi keummatan.

“Ekonomi keummatan harus benar-benar digerakkan. Sebab Allah Ta’ala menyampaikan kepada kita, kita harus menopang gerakan ini dengan ekonomi,” ujar Ustadz Abdurrahman dalam taujihnya saat membuka Rapat Kerja Nasional Hidayatullah 2020 secara virtual, Selasa (29/12/2020).

“Kalau kita berada di lingkungan nelayan bagaimana nelayan itu diberdayakan, demikian juga kalau ada di lingkungan peternak dan petani, berdayakan semuanya,” imbuhnya.

Semangat membangun ekonomi keumatan itu harus dikuatkan dan sangat penting untuk segera diwujudkan. “Yang penting kita sehat, sehingga kuat berjuang, ditopang dengan ekonomi yang kuat,” ujarnya.

Selain mendorong penguatan ekonomi umat, Ustadz Abdurrahman juga menegaskan pentingnya para kader meneguhkan posisinya sebagai insan beriman yang berpikir di atas nilai-nilai Al-Qur’an. Hal itu diwujudkan dengan sikap dan perilaku gemar memberi sebanyak-banyaknya.

“Memang ada perbedaan cara berpikir, antara orang beriman dengan orang yang menerapkan pemikiran liberal, maupun pemikiran kiri. Orang beriman landasan berpikirnya adalah keimanan kepada wahyu Allah Ta’ala.

Wahyu adalah yang menghadirkan kesadaran diri kita sebagai hamba Allah. Apapun yang kita lakukan itu dalam rangka memberikan kontribusi terhadap perjuangan, memberi kontribusi,” urainya.

Karena itu, sikap mental insan beriman tidak sama dengan yang tidak beriman.

“Tidak seperti paradigma yang dibangun kaum liberal, yang hanya dibangun di atas interes materialisme, positivisme, dan sekularisme. Yang hanya berpikir bagaimana mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya untuk diri dan kelompoknya tanpa peduli terhadap mudharat yang ditimbulkan,” imbuhnya menegaskan.

Oleh karena itu, semakin hari kader Hidayatullah harus semakin yakin dengan janji Allah dan terus melatih diri gemar berbagi, memberi sebanyak-banyaknya untuk perjuangan.

“Melalui wahyu, prinsip kita bagaimana memberikan sebanyak-banyaknya manfaat. Ketika kita memiliki spirit yang baik, bagaimana kita memberikan manfaat dimana kita berada. Ketika kita mendapatkan sesuatu maka cara berpikir kita bagaimana kita memberikan sebanyak-banyaknya sesuatu itu,” ujarnya, yang membuka rakernas bertema “Konsolidasi Idiil, Organisasi dan Wawasan Menuju Terwujudnya Standardisasi, Sentralisasi dan Integrasi Sistemik” itu.

Sementara Ketua Umum DPP Hidayatullah Nashirul Haq atau yang akrab disapa UNH dalam sambutannya, menjelaskan, forum ini menjadi ajang pembuktian ketaatan dan loyalitas kader.

“Alhamdulillah, kita bersyukur, kita (masih) merasakan ketaatan dan gelora perjuangan para kader. Dari kampus induk ada 60 orang ditugaskan. Berarti identitas kelembagaan masih bisa dijaga. Ditambah rejuvenasi yang berlangsung saat ini,” ujarnya.

Pada Rakernas ini UNH menegaskan loyalitas dan ketaatan kader akan diukur. “Rakernas ini yang dominan adalah sosialisasi hasil keputusan Musyawarah Majelis Syuro (MMS). Ketaatan dan loyalitas kader adalah komitmennya dalam melaksanakan amanah dari keputusan Musyawarah Majelis Syuro yang disampaikan di forum ini,” tegasnya.

Lebih jauh, UNH menegaskan bahwa dalam upaya tersebut mainstream organisasi harus terus diutamakan. “Gerakan mainstream (dakwah dan tarbiyah) harus diutamakan, bahkan menjiwai dan menjadi ruh seluruh program kerja kita,” imbuhnya.

Rakernas kali ini berlangsung di Kampus Utama, Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat dengan tetap menerapkan protokol kesehatan dalam upaya mencegah penyebaran Covid-19.*/Imam Nawawi

Banyak Memberi dan Perkuat Gerakan Ekonomi Keummatan

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Pemimpin Umum Hidayatullah, KH. Abdurrahman Muhammad berkesempatan hadir secara virtual memberikan taujih di arena Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah yang berlangsung di Kampus Pondok Pesantren HidayatullahKota Depok, Jawa Barat, Selasa (29/12/2020).

Dalam uraiannya, Abdurrahman menegaskan pentingnya para kader meneguhkan posisinya sebagai insan beriman yang berpikir di atas nilai-nilai Wahyu. Dan, itu diwujudkan dengan sikap dan perilaku gemar memberi sebanyak-banyaknya.

“Memang ada perbedaan cara berpikir, antara orang beriman dengan orang yang menerapkan pemikiran liberal, maupun pemikiran kiri. Orang beriman landasan berpikirnya adalah keimanan kepada Wahyu Allah Ta’ala”.

“Wahyu adalah yang menghadirkan kesadaran diri kita sebagai hamba Allah. Apapun yang kita lakukan itu dalam rangka memberikan kontribusi terhadap perjuangan, memberi kontribusi,” urainya.

Karena itu, tegas dia, sikap mental insan beriman tidak sama dengan yang tidak beriman.

“Tidak seperti paradigma yang dibangun kaum liberal, yang hanya dibangun di atas interest materialisme, positivisme dan sekularisme. Yang hanya berpikir bagaimana mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya untuk diri dan kelompoknya tanpa peduli terhadap mudharat yang ditimbulkan,” imbuhnya menegaskan.

Oleh karena itu, semakin hari kader Hidayatullah harus semakin yakin dengan janji Allah dan terus melatih diri gemar berbagi, memberi sebanyak-banyaknya untuk perjuangan.

“Melalui Wahyu, prinsip kita bagaimana memberikan sebanyak-banyaknya manfaat. Ketika kita memiliki spirit yang baik, bagaimana kita memberikan manfaat dimana kita berada. Ketika kita mendapatkan sesuatu maka cara berpikir kita bagaimana kita memberikan sebanyak-banyaknya sesuatu itu,” paparnya.

Di penghujung uraian, KH. Abdurrahman Muhammad mendorong agar segenap kader mulai berpikir bagaimana membangun ekonomi keummatan.

“Ekonomi keummatan harus benar-benar digerakkan. Sebab Allah Ta’ala menyampaikan kepada kita, Kita harus menopang gerakan ini dengan ekonomi,” tandasnya.

“Kalau kita berada di lingkungan nelayan bagaimana nelayan itu diberdayakan, demikian juga kalau ada di lingkungan peternak dan petani, berdayakan semuanya,” imbuhnya.

Semangat itu harus dikuatkan dan sangat penting untuk segera diwujudkan.

“Yang penting kita sehat, sehingga kuat berjuang, ditopang dengan ekonomi yang kuat,” tutupnya.*/Imam Nawawi

Komitmen Bersama Bangun Peradaban Melalui Pendidikan

PADA hari Ahad (27 Desember 2020), empat Organisasi Islam menggelar acara Tabligh Akbar Bersama melalui media online. Tema yang dibahas adalah: “Pendidikan dan Kebangkitan Peradaban Kita”.

Tabligh Akbar itu merupakan penegasan komitmen dari empat organisasi Islam untuk melanjutkan perjuangan dakwah melalui pendidikan dalam rangka mewujudkan satu peradaban mulia di bumi Indonesia.

Empat orang tampil sebagai pembicara: Dr. Nasirul Haq (Ketua Umum Hidayatullah), Dr. Jeje Zainuddin (Wakil Ketua Umum Persatuan Islam/Persis), Dr. Adian Husaini (Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia) dan Dr. Muhammad Zaitun Rasmin (Ketua Umum Wahdah Islamiyah). Moderatornya, Dr. Imam Zamroji, Wakil Ketua Umum Dewan Da’wah.

Keempat Ormas Islam tersebut memang selama ini dikenal dengan aktitivitas dakwahnya dalam bidang pendidikan. Persis yang sudah berumur 97 tahun, kini mengelola ratusan sekolah, pondok pesantren, dan juga Perguruan Tinggi.

Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, sejak berdirinya tahun 1967, memilih jalur Pendidikan – dalam arti luas – sebagai jalan utama dakwah. “Dulu kita berdakwah dengan politik, sekarang kita berpolitik dengan dakwah,” kata Mohammad Natsir, menyusul pendirian Dewan Da’wah.

Sejak awal berdirinya, tahun 1973, Organisasi Hidayatullah memulai dengan pendirian Pondok Pesantren di Balikpapan, Kalimantan Timur. Kini, Hidayatullah mengelola ratusan lembaga Pendidikan yang berkualitas, mulai TK sampai Perguruan Tinggi. Pesantren dan sekolah-sekolah Hidayatullah tersebar di berbagai provinsi di Indonesia.

Wahdah Islamiyah yang berdiri tahun 1988 di Kota Makassar Sulawesi Selatan juga mengawali pendiriannya dengan sebuah lembaga pendidikan.

Kini, Wahdah Islamiyah sudah menjadi Ormas Islam dengan basis utama gerakan dakwah melalui dunia pendidikan. Wahdah Islamiyah memiliki satu Perguruan Tinggi yang berkualitas bernama STIBA (Sekolah Tinggi Islam dan Bahasa Arab), di Makasar. Setiap tahun, kampus ini meluluskan ratusan dai yang ditugaskan sebagai dai-dai dan aktivis Wahdah Islamiyah.


Dalam acara Tabligh Akbar akhir tahun 2020, Dr. Nasirul Haq menguraikan konsep pendidikan dan peradaban dalam Islam, dengan mengutip al-Quran Surat al-Jumuah ayat 2:

هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ

“Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS: Al Jumuah: 2)

Membangun peradaban mulia merupakan misi kenabian. Dan itu dimulai dengan membangun manusia-manusia yang mulia melalui proses pendidikan. Ayat tersebut menjelaskan, bahwa metode pendidikan dimulai dengan menghafal dan memahami ayat-ayat al-Quran, lalu dilanjutkan dengan tazkiyatun nafs (pensucian jiwa). Proses tazkiyah harus menjadi inti pendidikan. Sebab, inilah kunci kesuksesan.

Dr. Nasirul Haq juga menekankan pentingnya penanaman adab dalam Pendidikan, sebagaimana dikatakan seorang ulama besar, Abdullah Ibn al-Mubarak. Kata beliau: “Aku mencari adab selama 30 tahun, kemudian aku mencari ilmu selama 20 tahu.”

Dr. Jeje Zainuddin mengambil perumpamaan al-Quran Surat Ibrahim ayat 24-25 tentang “pohon kebaikan” sebagai simbol peradaban mulia: “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.”

Bahwa, peradaban mulia harus dibangun berdasarkan keimanan yang kokoh. Karena itulah, pendidikan harus didasarkan kepada penanaman Tauhid. Selanjutnya, keimanan itu terwujud dalam akhlak mulia. Dengan akhlak mulia itulah, seorang manusia akan memberi manfaat kepada sesamanya, sebagaimana disimbolkan al-Quran dengan satu pohon yang akarnya kokoh menghunjam ke bumi, cabang-cabangnya menjulang ke langit, dan buahnya dinikmati oleh umat manusia.

Dr. Zaitun Rasmin pun menekankan pentingnya organisasi Islam memperhatikan aspek pendidikan sebagai proses membangun kader-kader umat dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam bidang politik. Secara khusus, Ustadz Zaitun menekankan pentingnya program kaderisasi ulama, untuk mewujudkan ulama-ulama hebat yang akan memimpin umat. Sejak awal berdirinya Wahdah Islamiyah hingga kini, Dr. Zaitun Rasmin dan para aktivis Wahdah Islamiyah terus melahirkan kader-kader umat yang jumlahnya kini mencapai ribuan dan tersebar di seluruh Indonesia.

Pada kesempatan tersebut, saya pun menekankan, bahwa problem terbesar yang kita hadapi di Indonesia, adalah kualitas SDM umat Islam dalam berbagai bidang kehidupan. Kader-kader umat yang unggul itu harus disiapkan melalui proses pendidikan yang unggul. Menyongsong 100 tahun kemerdekaan Indonesia, tahun 2045, umat Islam Indonesia memiliki peluang besar dalam mewujudkan peradaban mulia, dengan beberapa pertimbangan:

Pertama, Pendidikan dan Peradaban Islam memiliki model ideal yang abadi, yakni model Pendidikan Rasulullah ﷺ dan model ideal masyarakat Madinah yang dibangun oleh Rasulullah ﷺ.

Kedua, konsep itu terjaga dengan baik, karena diterapkan dari generasi ke generasi, dan telah terbukti berhasil mewujudkan beberapa generasi gemilang dalam sejarah peradaban Islam, teramsuk di Indonesia.

Ketiga, situasi global yang semakin menunjukkan kegagalan peradaban besar dalam menyelesaian problematika umat manusia. Keempat, fenomena kebangkitan lembaga-lembaga Pendidikan Islam, yang semakin mendapat kepercayaan dari umat Islam. Kelima, potensi religius bangsa Indonesia, yang dalam satu survei oleh Lembaga internasional (Pew Research Center) dikatakan ada 93 persen masyarakat yang menyatakan, bahwa agama sangat penting dalam kehidupan masyarakat.

Karena itulah, saya mengajak para pimpinan Ormas Islam dan peserta Tabligh Akbar untuk tetap istiqamah dalam mewujudkan peradaban mulia, dengan membentuk insan-insan mulia melalui proses pendidikan yang unggul. Berbagai problematika dan tantangan dakwah kontemporer tidak boleh membuat kita pesimis dan memalingkan kita dari program dan tugas utama tersebut.

Model Pendidikan Nabi sudah dirumuskan oleh banyak ulama dan cendekiawan, dengan menekankan aspek penanaman adab atau akhlak mulia dan penguasaan ilmu-ilmu yang wajib dan bermanfaat. Semoga komitmen dan optimisme empat Ormas Islam dalam mewujudkan peradaban mulia, mendapatkan pertolongan Allah SWT, sehingga melahirkan “Generasi 2045” yang akan membawa Indonesia menjadi negeri yang adil dan makmur, dalam naungan Ridho Ilahi. Amin.*/ Depok, 29 Desember 2020

Dr Adian Husaini, penulis Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia. Artikel ini dikutip dari Hidayatullah.com

Mushida Terus Teguhkan Pengabdian Keumatan

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH DR Nashirul Haq, mendorong organisasi pendukung (orpen), Muslimat Hidayatullah, untuk terus meneguhkan cinta pengabdian berkhidmat untuk agama dan umat. Komitmen tersebut selaras dengan gerakan Hidayatullah yang telah berkiprah selama lebih dari 47 tahun.

“Hidayatullah telah memegang teguh kesetiaan, semangat mengabdi kepada Ilahi, berkhidmat untuk agama dan ummat, serta berkhidmat untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia lewat berbagai program di bidang pendidikan, dakwah, sosial, dan ekonomi keummatan,” kata Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH DR Nashirul Haq, MA.

Hal tersebut disampaikan Nashirul ketika membuka Musyawarah Nasional (Munas) ke-V Muslimat Hidayatullah yang digelar secara virtual bertitik koordinat utama di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Sabtu (26/12/2020).

Nashirul berharap gelaran Musyawarah Nasional Muslimat Hidayatullah kali kelima ini semakin meneguhkan kiprah dan cinta muslimat dalam mengabdi kepada umat, agama, bangsa dan negara.

“Yang menjadi tantangan bahwa Muslimat Hidayatullah harus serius dan fokus menjalankan peran dan fungsinya untuk membangun keluarga Qur’ani menuju peradaban Islam,” jelas anggota Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) Pusat ini.

Lebih lanjut, Nashirul juga mengungkapkan bahwa rahasia suksesnya seorang suami dalam menjalankan amanahnya tergantung pada peran istri dan muslimah dalam me-manejerial keluarga di rumah.

Dalam pada itu, yang tak kalah penting, Nashirul mengimbau bagi seorang muslimah yang diberi amanah untuk dakwah di luar rumah harus menjalankan tugasnya dengan proporsional.

“Tak ada yang didahulukan, dan tak ada pula yang diabaikan. Semuanya harus berjalan seimbang sebagaimana ummahatul mukminin, istri Nabi yang juga berperan sebagai daiyah yang memiliki tanggung jawab di luar rumah,” tambahnya.

Dia melanjutkan, seorang muslimah memiliki jiwa dan paradigma berpikir yang lurus hingga menjadi karakter yang melekat dalam dirinya. Paradigma yang lurus tersebutlah yang akan mengantarkan kesuksesan setiap pribadi muslimah.

“Pola pikir harus berpijak pada wahyu Allah. Sehingga program yang diwujudkan Mushida merupakan derivasi dari Al-Quran dan sunnah,” ucap Nashirul di hadapan peserta offline terbatas yang hadir secara langsung di ruang acara.

Masih dalam sambutannya, Nashirul menyampaikan pesan kepada segenap kader Muslimat Hidayatullah agar senantiasa menjaga ukhuwah dan tidak meninggalkan barisan jamaah seraya menukil sebuah hadits dari sahabat Umar bin Khattab yang diriwayatkan Ibn Khuzaimah dan al-Hakim:

“Jika ada suatu kelompok sebanyak tiga orang hendaknya mereka mengangkat salah seorang dari mereka sebagai pemimpin atas mereka. Itulah amir yang diperintahkan oleh Rasulullah saw”.

“Setiap kader adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kaum muslimin. Spirit harus selalu menyatu untuk meninggikan kalimat tauhid. Mushida adalah wasilah dalam berislam, dan sebagai wadah penyebaran dakwah dalam rangka membangun peradaban Islam,” pungkas Nashirul.

Munas dengan tema “Meneguhkan Integritas Muslimah Demi Tegaknya Peradaban Islam” ini digelar secara virtual, dengan pusat kegiatan di Pondok Pesantren Hidayatullah, Kota Depok, Jawa Barat.

Peserta yang hadir offline dibatasi yang terdiri dari Pengurus Majelis Murobbiyah, Majelis Penasehat, Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah, serta perwakilan dari Pengurus Wilayah dari seluruh provinsi di Indonesia.

Acara Munas secara virtual ini juga diikuti seluruh Pengurus Wilayah dan Pengurus Daerah melalui aplikasi meeting Zoom yang pembukaan acara disiarkan melalui live streaming kanal Youtube Hidayatullah ID.

Sementara itu, Ketua Panitia Munas V Muslimat Hidayatullah, Neny Setiawaty, dalam sambutannya menyampaikan acara ini mematuhi peraturan dan menerapkan protokol kesehatan ketat sebagaimana telah ditetapkan.

“Semua peserta wajib mematuhi protokol kesehatan seperti menjaga jarak, menghindari kontak fisik, memakai hand sanitizer, mencuci tangan, dan selalu memakai masker,” jelasnya.

Neny juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan acara ini.*/Arsyis Musyahadah