Beranda blog Halaman 436

Tiap Bulan, 1 Ton Beras Disalurkan ke Pesantren-pesantren Tahfizh di Sulawesi Tenggara

0

KOLAKA (Hidayatullah.or.id) — Laznas BMH Perwakilan Sulawesi Tenggara terus bergerak mendukung program mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mendukung secara konkret melalui bantuan sumber bahan makanan pokok, berupa beras.

“Alhamdulillah hadirnya program beras untuk santri tahfizh ini merupakan satu bukti bahwa umat ini sangat menginginkan generasi masa depan negeri ini adalah generasi yang cerdas dan religius. Hal itu mendorong BMH terus hadir memberikan kebaikan kepada sesama,” terang Kepala BMH Perwakilan Sulawesi Utara, Fatahillah (21/11/2020).

Pada kesempatan ini, beras untuk santri tahfizh disalurkan ke pesantren binaan BMH di Desa Ulukalo, Iwoimendaa, Kolaka, Sulawesi Tenggara.

Bantuan berupa beras untuk santri tahfizh ini disambut ungkapan terima kasih dari pimpinan pesantren, Ustadz Hanif.

“Kami atas nama keluarga besar pesantren, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada BMH dan kaum Muslimin yang mendukung program ini. Semoga kebaikan ini mendorong kemajuan generasi masa depan kita semua,” ungkapnya.

Dalam setiap bulan, tidak kurang dari 1 ton beras terus digulirkan ke pesantren-pesantren tahfizh binaan BMH di Sulawesi Tenggara.

“Semua ini karena kepedulian umat Islam bagi kecerdasan generasi bangsa bersama BMH,” tutup Fatahillah.*/Herim

Webinar Series 01 Mushida Diikuti Ribuan Peserta, Bahas Peluang dan Tantangan Pendidikan Tinggi Kepengasuhan Putri

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangkaian pra Musyawarah Nasional V Muslimat Hidayatullah (Mushida), organisasi kewanitaan ini menggelar webinar pertama dari sejumlah webinar yang diagendakan. Webinar perdana yang diadakan pada hari Ahad (22/11/2020) kemarin sore itu mengusung tema “Peluang dan Tantangan Pendidikan Tinggi Kepengasuhan Putri”. Tidak tanggung-tanggung, seminar online ini dihadiri oleh lebih dari 1.000 peserta dari berbagai penjuru negeri.

Ada tiga tokoh pendidikan yang menjadi pembicara di seminar ini, yaitu Ustadz Miftahuddin, M.Si. (Ketua Departemen Pendidikan Tinggi dan Penelitian Pengembangan DPP Hidayatullah), Dr. Sulistianingsih, S.KM., M.Kes (Wakil Sekretaris Majelis Dikti Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah yang juga Dosen Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta), dan Dr. Sabriati Aziz, M.Pd.I (Presidium Badan Musyawarah Organisasi Islam Wanita Indonesia/BMOIWI). Webinar ini dimoderatori oleh Ina Choeriyati, S.Ag., M.Pd.I.

Ketiga pemateri tersebut memaparkan peluang dan tantangan dalam pendirian institut pendidikan tinggi dengan konsentrasi di kepengasuhan putri dari sudut pandang keahlian dan latar belakang masing-masing.

Pada sesi pertama, Ustadz Miftahuddin membahas secara detail tentang prospek dan daya saing perguruan tinggi Islam (PTI). Materi yang disampaikan tersusun secara padat, dengan penjelasan mengenai grand design pendidikan tinggi Islam, kerangka konseptual perkaderan kepengasuhan, alur proses kepengasuhan, sampai dengan pola kepengasuhan. Beliau menguraikan setidaknya ada empat tantangan dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi Islam.

Pertama, modernitas kelembagaan. Di mana PTI diharapkan dapat tumbuh dan berkembang menjadi institusi modern, yang juga tetap dapat memegang kuat akar dan nilai-nilai Islam. “Sebuah pesantren atau pendidkan Islam itu tidak hanya membuka program pendidikan studi Al-Qur’an, Al-Hadits, sirah, serta ilmu turunannya, tetapi (juga membuka) ilmu kedokteran, ilmu teknologi, itu menjadi sebuah tuntutan,” ujarnya pada webinar yang disiarkan live streaming di kanal youtube Hidayatullah Id. Sebagaimana juga katanya dalam pendidikan tinggi umum yang berfokus pada keilmuan umum yang pada akhirnya juga mengkaji tentang keilmuan keislaman.

Tantangan kedua, tambah Miftahuddin, PTI sepatutnya dapat melahirkan lulusan Muslim paripurna yang berkualitas, memiliki daya saing, dan menguasai iptek.

Ketiga, terkait peningkatan mutu kelembagaan, sehingga terwujud PTI yang terbuka, modern, empiris-kontekstual, dan produktif. Terakhir, PTI perlu melahirkan pemikiran Islam paripurna (syamil-kamil) melalui pengembangan dialog antar bangsa.

Di sesi selanjutnya, Dr. Sulistianingsih, Wakil Sekretaris Majelis Dikti PP ‘Aisyiyah yang juga Dosen Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, menyebutkan ada lima tantangan yang dihadapi dalam pendirian perguruan tinggi kepengasuhan putri.

Pertama, kata dia, belum adanya nomenklatur dalam bidang terkait kepengasuhan putri. Hal ini katanya butuh waktu untuk mewujudkannya, karena memang belum ada rujukannya secara internasional. Ini juga menjadi peluang karena banyak sekali prodi baru sekarang yang memang menjadi kekhasan Indonesia. “Ini tantangan sekaligus peluang yang bisa dilakukan oleh Muslimat Hidayatullah untuk bisa mewujudkan perguruan tinggi kepengasuhan putri ini,” ujarnya.
Tantangan kedua berkaitan dengan revolusi industri, sehingga perguruan tinggi perlu beradaptasi dalam hal penggunaan teknologi, interaksi manusia dengan mesir, penggunaan data dan komunikasi, serta digitalisasi dalam aktivitas dan prasarana perguruan.

Ketiga, perguruan tinggi juga diharapkan memiliki sistem penjaminan mutu internal yang dapat diterima secara eksternal oleh Badan Akreditasi Nasional dan dari lembaga akreditasi internasional. Tantangan berikutnya adalah pengembangan sumber daya dosen dan tenaga kependidikan, juga kondisi pandemi Covid-19 yang membuat adaptasi dalam berbagai bidang menjadi diperlukan.

Pada sesi terakhir Dr. Sabriati Aziz, Presidium BMOIWI yang juga Anggota Majelis Penasihat Mushida memaparkan visi dan misi Mushida dan latar belakang rancangan pendidikan tinggi kepengasuhan putri Hidayatullah. Potensi besar dari sekolah pada jenjang SD sampai SMA Hidayatullah, serta perbandingan yang cukup signifikan antara santri dan pengasuh di Pesantren Hidayatullah menunjukkan kebutuhan yang besar terhadap pendidikan tinggi kepengasuhan.

Sabriati selanjutnya memaparkan visi dan misi, serta tujuan dari perguruan tinggi. Permasalahan pendidikan dan kepengasuhan putri di pesantren menurut beliau terletak pada setidaknya empat hal, yaitu lemahnya integrasi kurikulum antara pendidikan di asrama dan kelas, profesionalitas, serta belum adanya kurikulum dan perguruan tinggi dengan jurusan kepengasuhan pesantren. “Ini juga menjadi satu hal yang perlu kita seriusi (untuk disikapi),” ujarnya.

Sabriati juga menyebutkan setidaknya ada empat peluang prodi pada pendidikan tinggi kepengasuhan, yaitu PGTK, PGSD, kepengasuhan asrama, dan pendidikan keluarga.

Pemaparan ketiga pemateri tersebut menggambarkan bahwa tantangan yang ada dalam pendirian perguruan tinggi kepengasuhan putri dapat dihadapi dengan perencanaan yang baik, serta banyaknya peluang dari pendirian perguruan tinggi ini sepatutnya mendorong realisasinya dalam waktu dekat. InsyaAllah.*

Protokol Kesehatan Diterapkan Pada Munas Muslimat Hidayatullah

0
Munas Mushida IV

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Organisasi Muslimat Hidayatullah (Mushida) akan menggelar Musyawarah Nasional (Munas) kelima pada penghujung tahun ini, tepatnya tanggal 11-12 Jumadil Uula 1442/26-27 Desember 2020.

Perhelatan akbar lima tahunan itu kali ini akan digelar secara virtual karena berlangsung di tengah pandemi, dengan mengusung tema “Meneguhkan Integritas Muslimah Demi Tegaknya Peradaban Islam”.

Munas V Mushida ini akan berpusat di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Kota Depok, Jawa Barat, dengan 33 titik lain sebagai perwakilan tiap Pengurus Wilayah (PW) Mushida yang ada di berbagai provinsi.

Ketua Panitia Munas V Mushida, Neny Setiawaty, mengatakan bahwa protokol kesehatan akan diberlakukan ketat pada semua tamu dan perwakilan PW yang hadir. “Mohon doa dan dukungan dari semua pihak untuk kesuksesan munas Mushida ini,” ujar Neny Setiawaty dalam siaran pers kepada media, Senin (23/11/2020).

Dalam Munas V kali ini, Mushida akan melakukan pergantian seluruh pengurus tingkat pusat. Akan ada penunjukan Ketua Umum baru Mushida. Untuk diketahui, Ketua Umum Mushida saat ini, Reny Susilowaty, M. Pd. I, telah mengemban amanah sebagai Ketua Umum Mushida selama dua periode.

Mushida merupakan salah satu organisasi pendukung (orpen) Hidayatullah. Ormas Hidayatullah sebelumnya juga telah sukses mengelar Munas V secara virtual pada 29-31 Oktober 2020 dengan protokol kesehatan.

Neny menjelaskan, model suksesi penunjukan bukan pemilihan adalah ciri yang ada di Hidayatullah. Siapapun yang ditunjuk oleh Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah sebagai organisasi induk Mushida, harus siap dan bersedia. “Tentunya penunjukan adalah hasil dari musyawarah yang melibatkan berbagai pihak,” jelasnya.

Munas Mushida V ini diawali dengan beberapa webinar tentang kemuslimahan dan keluarga yang menjadi basis garapan Mushida. Webinar perdana digelar pada Ahad (22/11/2020).*

Musyawarah Wilayah Hidayatullah, Proses Lahirkan Kader Berkualitas

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Kepulauan Riau (Kepri) telah melaksanakan musyawarah wilayah (Muswil) dengan Darmasnyah S.Sos.I. yang diamanahkan menjadi ketua DPW periode 2020-2025. Muswil Hidayatullah Kepri sendiri dilaksanakan pada 19-21 November 2020 bertempat di Pondok Pesantren Hidayatullah Batam.

Dalam sambutanya Darmansyah mengatakan bahwa sesungguhnya ia sangat membutuhkan dukungan dari para pembina yang ada di Hidayatullah dalam melaksanakan amanah yang diberikan kepadanya. Ia juga berharap dalam melaksanakan amanah kepengurusan ini, ia mampu melanjutkan perkuangan para pendiri lembaga.

“Tentunya kami sangat membutuhkan doa dan dukungan para orang sholeh di lembaga ini. Tanpa dukungan mereka sesungguhnya menjalankan amanah ini kami tak akan mampu. Kami akan berusaha melanjutkan perjuangan para pendiri untuk perjuangan lembaga” jelas Darmansyah.

Ia juga menjelaskan bahwa sebagaimana program mainstream Hidayatullah adalah tarbiyah dan dakwah, maka pemberian amanah kepada para kader juga merupakan bagian dari proses tarbiyah struktural.

“Jika para kader telah diberikan amanah, maka itu bagian dari proses tarbiyah struktural. Sesungguhnya amanah itu merupakan tantangan sekalgus proses tarbiyah untuk kita semua” jelasnya.

Selain DPW Kepulauan Riau, perwakilan DPW Hidayatullah yang ada diseluruh Indoesia juga bersiap melakasanakan Musywil yang agendanya rutin dilakukan sebannyak sekali dama lima tahunan. Pada Muswil DKI Jakarta yang dilaksanakan pada 20-22 November, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Dr. Nashirul Haq, Lc. MA. Mengatakan bahwa sesungguhnya Musywil ini menjadi acuab untuk melahirkan kader yang berkualitas

“Melalui Muswil ini para pengurusorganisasi di tingkat wilayah dan daerah disegarkan kembali orientasi hidupnya, dipertajam visi perjuangannya, dikuatkan komitmennya agar berfikir dan bekerja lebih keras, melakukan karya nyata, melahirkan kader berkualitas” jelasnya. *AmanjiKefron

Tarbiyah dan Dakwah Akan Menjadi Arus Program Utama Hidayatullah

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurs Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. Nashirul Haq, Lc. Ma menyampaikan bahwa selama ini Hidayatullah telah menjadikan tarbiyah (Pendidikan) dan dakwah sebagai bentuk usaha agar terbangunya masyarakat yang mengimplementasikan keimanan dalam kehidupan. Hal tersebut ia sampaikan pada musyawarah wilayah (Musywil) Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Jabodebek (20/11/2020).

“Pendidikan dan dakwah sebagai arus utama kegiatan Hidayatullah. Karena itu tarbiyah dan dakwah haruslah menjiwai seluruh kebijakan dan program organisasi” ucapnya.

Nashirul juga menyampaikan pesan kepada para kader Hidayatullah yang diamanahi kepengurusan DPW untuk periode 2020-2025 bahwa sesungguhnya kepemimpinan adalah sebuah amanah yang nantinya akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT. Maka seorang pemimpin seharunya mampu memberikan ketauladanan bagi para pengikutnya.

“kepemimpinan adalah sebuah amanah yang akan dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT. Karenanya, seorang pemimpin harus berusaha memberikan keteladanan untuk menguatkan jiwa dan komando kepemimpinannya” jelas Nashirul.

Sebagai oraganisasi masyarakat (Ormas) Hidayatullah akan senantiasa berusaha untuk menyelesaikan berbagai problematika yang ada di masyarakat. Salah satunya ialah Hidayatullah terus berupayamembangun kemandirian di bidang ekonomi dan keuangan, baik secara kelembagaan maupun secara keummatan dan kewargaan.

“Hidayatullah akan terus memberikan dampak positif dan kontributif terhadap problem-problem keummatan. Salah satunya ialah membangun kemadirian ekonomi umat” ucapnya.

Lalu Nashirul juga menyampaikan apresianya kepada kepengurusan DPW periode 2015-2020 yang ada diseluruh Indonesia yang telah mencurahkan segalanya untuk memberikan yang terbaik kepada masyarakat

“Kami sampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Dewan Pengurus Wilayah periode 2015-2020yang telah mencurahkan tenaga, pikiran dan waktunya untuk memberikan yang terbaik dalam mengemban amanah perjuangan selama lima tahun ini” pungkas Nashirul*AmanjiKefron

Begini Mestinya Sosok Seorang Pemuda

0
ilustrasi

Dalam Ihya Ulumuddin Imam Ghazali menulis bahwa orang yang dalam kesehariannya banyak menunda mengerjakan kebaikan serta nyaman dalam kelalaian maka ia akan disambar dengan mendadak pada saat diri tidak siap atau pun momentum yang tidak dikehendaki, sedangkan diri berlumuran dengan kerugian dan penyesalan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita temukan dengan mudah anak-anak muda yang katanya “mengisi waktu” namun dengan aktivitas yang tidak progresif apalagi membawa diri lebih beradab dalam kehidupan sehari-hari. Bagi mereka, waktu luang adalah kesempatan bermain (baca game), bukan bersungguh-sungguh menempa diri untuk berkarya.

Padahal, Allah Ta’ala telah anugerahi potensi dan kesempatan besar bagi setiap pemuda untuk hidup dengan amal dan karya yang bermanfaat besar bagi kehidupan. Namun, faktanya tidak banyak yang benar-benar menyadari dan mengamalkannya. Sebagian suka terbahak-bahak membahas hal yang receh. Di waktu yang lain, begitu mudah wajah mereka tampak sedih dan lesu, karena amat suka mengeluh, mudah pusing, lemas dan ujung-ujungnya banyak waktu terbuang percuma.

Di sini kita harus mulai melihat diri secara lebih objektif, apakah benar diri adalah sosok muda yang bertenaga atau justru sosok muda yang hanya bernostalgia?

Jika benar sosok muda bertenaga, maka langkah yang diambil dengan segera adalah mengisi hari-hari penuh perjuangan, produktivitas, dan manfaat bagi kehidupan. Tidak berfoya-foya dan berleha-leha. Dalam konteks sejarah Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said tidak mau ketinggalan manfaat walau pun hanya sedetik.

Terlebih dengan manhaj Sistematika Wahyu dimana ada perintah Iqra’ Bismirabbik, semestinya kita setiap saat membaca, berpikir, berdzikir, kemudian belajar, bergerak dengan sebaiko-baiknya, tak sebatas pada diri sendiri tapi juga mengajak yang lain, sehingga hari-hari kita adalah hari-hari penuh tenaga karena setiap gerakan dilakukan secara sistematis dan berjama’ah.

Kita perlu kembali meluangkan waktu bahkan memprioritaskan untuk membuka lembar demi lembar kehidupan Usama bin Zaid. Ia adalah sosok sahabat Nabi yang masih remaja, setiap hari aktivitas utamanya adalah menyimak taujih dari Nabi, menemani Nabi menerima delegasi dari berbagai kabilah yang silih berganti datang ke Madinah.

Pada akhirnya Usamah diberi kesempatan ikut serta dalam ekspedisi militer ke Tabuk. Kemudian, karena konsisteni dan produktivitas Usamah, akhirnya Nabi malah menunjuk pemuda itu sebagai panglimanya.

Usamah memimpin banyak sahabat senior, baik dari kalangan Muhajirin maupun Anshar, seperti Abu Bakar, Umar, Sa’ad bin Abi Waqash dan lainnya. Begitulah Usamah bin Zaid.

Apakah hanya Usamah yang demikian? Tidak! Aid Al-Qarni dalam La Tahzan menjelaskan bahwa tidak sedikit para sahabat Nabi yang masih muda tak lagi sempat merasakan masa mudanya untuk hal yang tidak perlu. Mereka terus sibuk dalam majelis ilmu, majelis ibadah, dan majelis jihad di medang perang. Hingga ada sebuah syair menyatakan, “Kilatan pedang-pedang itu laksana bayangan bunga di kebun hijau dan menebarkan bau wangi yang semerbak.”

Dengan demikian, kaum muda sadar dan bangkitlah. Rentang waktu diri dikatakan muda tidaklah panjang, bahkan kita tidak tahu kapan ujung usia datang. Jadi, mari kembali pada dasar-dasar kemuliaan yang telah digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Sekiranya diri ini lemah ketika masih muda dalam intelektualitas dan spiritualitas, setidak-tidaknya jangan mengubur potensi diri dengan banyak keluh kesah, permainan yang melalaikan. Perbanyaklah amal sholeh. Sungguh banyaknya amal sholeh akan menyelamatkan diri dari hidup tanpa arti. Allahu a’lam.*

Imam Nawawi, Ketua Umum Pemuda Hidayatullah

Muslimat Hidayatullah Akan Gelar Munas Desember Mendatang

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Organisasi pendukung (Orpen) wanita Hidayatullah, Muslimat Hidayatullah (Mushida) akan menyelenggarakan musyawarah nasional (Munas) kelima yang direncanakan akan dilaksanakan secara virtual pada tranggal 26-27 Desember 2020. adapun tema Munas kali ini ialah “Meneguhkan Integritas Muslimah Demi Tegaknya Peradaban Islam”

Ketua panitia Neny Setiawaty, S.S., M.Pd. menjelaskan bahwa Munas Mushida tidak dilaksanakan bersamaan dengan Munas Hidayatullah dikarenakan sebagai organisasi pendukung Mushida perlu menunggu hasil keputusan Munas Organisasi induk terlebih dahulu sebagai landasan untuk pengambilan keputusan-keputusan Mushida nantinya.

“Munas V Mushida tidak bersamaan dengan Munas V Hidayatullah hal ini dikarenakan Mushida merupakan organisasi pendukung Hidayatullah. Sehingga Mushida perlu menunggu hasil munas induk terlebih dahulu. Dengan demikian, Mushida bisa mem-breakdown kebijakan strategis, struktur kepengurusan,  dan kelak bisa menjadikannya sebagai pijakan dalam menetapkan arah kebijakan Mushida’     jelas Neny.

Neny menjelaskan bahwa kegiatan Munas nantinya akan dilakukan secara daring. dengan jumlah titik jaringan tersebar diseluruh wilayah di Indonesia. selain daring, beberapa peserta juga akan hadir secara luring dengan syarat melakukan pendaftaran terlebih dahulu demi mematuhi protokol kesehatan.

“Adapun kegiatan nantinya, akan dilaksanakan secara daring yang tersebar diseluruh titik perwakilan Mushida yang ada di Indonesia. adapun total peserta daring untuk saat ini berjumlah 98 orang, sedangkan bagi peserta yang ingin mengikuti secara luring maka diwajibkan terlebih dahulu untuk meminta izin” jelasnya.

Neny menjelaskan bahwa perbedaan zona waktu dan perbedaan kekuatan internet menjadi kendala utama dalam pelaksanaan Munas kali ini. ia menjelaskan panitia akan berusaha mengantisipasi kendala jaringan internet jika sewaktu-waktu mengalami gangguan.

“Tentunya perbedaan zona waktu dan kualitas jaringan internet yang berbeda-beda menjadi kendala utama dalam pelaksanaan Munas kali ini. Namun, panitia akan berusaha mengantisipasi kendala jaringan sehingga pelaksanaan Munas akan tetap berjalan lancar” ucapnya.

Neny juga menyampaikan pesan kepada seluruh pengurus maupun warga Muslimat Hidayatullah untuk aktif dalam upaya mensukseskan agenda Munas salah satunya ialah mengikuti agenda-agenda pra-munas seperti webinar.

“Diharapkan kepada seluruh pengurus maupun warga Mushida untuk aktif mensukseskan agenda Munas kali ini, dengan terus membagikan informai munas di sosial media dan juga mengikuti agenda pra munas berupa webinar” jelas Neny. *Amanjikefron

TASK Hidayatullah Salurkan Bantuan untuk Pengungsi Merapi di Sleman

0

SLEMAN (Hidayatullah.or.id) —Untuk membantu masyarakat yang berada di barak pengungsian Merapi, Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Yogyakarta dan SAR Hidayatullah yang tergabung dalam naungan TASK Hidayatullah menyalurkan bantuan, Senin sore (16/11/2020).

Sampai awal pekan ini, ratusan pengungsi yang berada di barak pengungsian Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, DIY, masih tetap bertahan. Para pengungsi tersebut terdiri dari lansia, difabel, anak-anak, ibu mengandung dan menyusui.

Mereka berasal dari padukuhan Kalitengah Lor, Cangkringan yang menjadi wilayah Katagori Rawan Bencana (KRB).

Koordinator lapangan TASK Hidayatullah, M. Fauzan mengatakan. Setelah beberapa hari bertemu dan berkomunikasi langsung dengan para pengungsi, selain bantuan makanan, mereka juga membutuhkan bimbingan spiritual.

“Program bimbingan rohani bagi pengungsi yang beragama Muslim insyaAllah menjadi agenda lanjutan kami, dalam program tersebut kami datangkan para ustadz ke barak pengungsian untuk menguatkan mental dan iman para pengungsi,” katanya.

Sementara itu, Syai’in Kodir selaku Kadiv. Program dan Pemberdayaan BMH Yogyakarta mengungkapkan, bantuan yang disalurkan oleh lembaganya berupa kebutuhan pokok untuk pengungsi.

“Setelah sebelumnya kami lakukan kegiatan trauma healing untuk anak-anak, kali ini kami kirim sembako dan popok untuk lansia dan bayi,” terang Syai’in.

Ia menambahkan, lembaganya bersama SAR Hidayatullah juga membuat posko bersama yang berada di Jl. Kaliurang Km. 11,5 Ngaglik, Sleman.

“Untuk memaksimalkan kegiatan kami dalam membantu masyarakat akibat perkembangan status Merapi, kami buat posko bersama. Nantinya posko tersebut untuk melakukan koordinasi antar relawan dan juga untuk lokasi persediaan logistik bantuan warga,” ungkapnya.* (TASK Hidayatullah)

TASK Hidayatullah Bantu Anak-anak Pengungsi Merapi

0

YOGYAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Semenjak status Gunung Merapi dinaikkan menjadi siaga (level III), sudah sebanyak 275 warga lereng Gunung Merapi yang berada di wilayah Kawasan Rawan Bencana (KRB) mengungsi di balai desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Dari jumlah warga yang mengungsi tersebut terdapat lansia, ibu menyusui, dan anak-anak. Tiga kelompok rentan itu menjadi prioritas untuk diungsikan.

Dalam rangka membantu warga di pengungsian, BMH dan SAR Hidayatullah yang tergabung dalam Tim Aksi Siaga Kemanusiaan (TASK) Hidayatullah turut memberikan bantuan antara lain dengan mengadakan penyembuhan trauma (trauma healing) kepada anak-anak, Ahad (15/11/2020).

Anak-anak di barak pengungsian sangat antusias untuk mengikuti kegiatan tersebut.

David Surya Pamungkas, misalnya, bocah kelas 3 SDN Srunen tersebut mengungkapkan kegembiraannya. “Permainannya mengasyikkan, walau sederhana tapi membuat kami betah,” ungkapnya.

Rasa ingin tahu David sangat tinggi, dia belajar mengunakan kamera, bermain dengan relawan, hingga tampak wajah ceria David.

Sementara itu, M Fauzan selaku Koordinator Lapangan TASK Hidayatullah Siaga Merapi mengungkapkan, pihaknya dalam hal tanggap siaga Merapi membutuhkan kesabaran yang tinggi.

“Status Gunung Merapi ke depan tidak ada yang bisa memastikan kapan berakhirnya, kita ikuti saja perkembangannya, maka dibutuhkan kesabaran yang tinggi,” ujarnya

Fauzan menambahkan, berbagai kegiatan dilakukan para relawan dalam rangka membantu warga yang terdampak.

Sebagai informasi, sebelumnya SAR Hidayatullah menggelar Musyawarah Besar (Mubes) V di Kampus Pondok Qur’an Hidayaturrahman, Ciawi, Bogor, Jawa Barat selama 2 hari, Sabtu-Ahad (07-08/11/2020).

Mubes V bertema “Meneguhkan Komitmen dan Kemandirian sebagai Lembaga Kemanusiaan untuk Indonesia Bermartabat” ini dihadiri hampir 100 orang peserta mulai dari ujung pulau Sumatera hingga Papua. Terdiri dari Pembina, Pengawas, Majelis Pertimbangan Pusat, Pengurus Pusat, dan Pengurus Wilayah se-Indonesia. 20 Pengurus Wilayah yang hadir mulai dari Batam (Kepulauan Riau), Bengkulu, Jabodetabek, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Maluku Utara, hingga Timika (Papua).

“Harapannya ke depan, SAR Hidayatullah mampu berkontribusi secara maksimal, terutama dalam memberikan edukasi kepada warga Hidayatullah dan masyarakat pada umumnya agar lebih siap dan waspada serta tidak gagap dalam menghadapi bencana,” ujar Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Nashirul Haq dalam sambutannya pada acara Mubes tersebut.

Mubes V tersebut dirangkai dengan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) lanjutan Navigasi darat di Cibodas, Jawa Barat. Bakda rangkaian acara itu, sejumlah personel SAR Hidayatullah langsung bergerak menuju kawasan Merapi untuk melakukan misi kemanusiaan.

Sebagaimana diketahui, status siaga (Level III) Gunung Merapi ditetapkan sejak 5 November 2020.

Dalam laporan aktivitas Gunung Merapi tanggal 6-12 November 2020, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyebutkan, pada pekan ini kegempaan Gunung Merapi tercatat 244 kali gempa Vulkanik Dangkal (VTB), 2.189 kali gempa Fase Banyak (MP), 9 kali gempa Low Frekuensi (LF), 385 kali gempa Guguran (RF), 403 kali gempa Hembusan (DG), dan 6 kali gempa Tektonik (TT). Intensitas kegempaan pada tersebut lebih tinggi dibandingkan pekan sebelumnya.

“Pemerintah Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Klaten agar mempersiapkan segala sesuatu yang terkait dengan upaya mitigasi bencana akibat letusan Gunung Merapi yang bisa terjadi setiap saat,” rekomendasi BPPTKG.* (SKR/AM)

Hidup yang Tidak (Pernah) Mati

0

Satu bukti kehebatan ajaran Islam adalah kemampuannya menjelaskan hakikat mendalam dari sebuah fakta kehidupan.

Bagi rasio umum, manusia disebut hidup hanya kala bisa bernafas di atas bumi. Karena itu, Barat memandang kehidupan itu ya hanya di dunia saja. Tidak ada alam kubur, apalagi Kiamat, hingga Surga atau Neraka.

Islam mengajak manusia menembus realitas empiris itu dengan melihat hakikat bahwa hidup tak sebatas di dunia, tetapi juga di alam kubur, bahkan akhirat. Oleh karena itu, apa hidup dan mengapa ada mati, Islam memiliki penjelasan yang sangat memadai.

“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk [68]: 2).

Bimbingan Islam pada ayat di atas mendorong manusia berpikir bahwa hakikat hidup adalah berbuat baik bahkan terbaik. Jadi, bukan sebaliknya, apalagi berorientasi hanya pada pemuasan hawa nafsu.

Bahkan, Islam memandang secara paradoks dimana ada orang hidup namun hakikatnya mati. Bernafas, berjalan, dan berpikir di atas bumi, namun substansinya telah mati.

Terkait hal ini kita bisa merujuk pada ungkapan Imam Hasan al-Bashri, bahwa orang yang mati (hatinya) walau hidup jasadnya akan mengikuti jalan-jalan keburukan. Sedangkan manusia dengan hati yang sehat dan hidup akan berupaya meninggalkan perbuatan dosa dan memohon ampun kepada Allah.

Dari dasar pandangan ini kita bisa melihat dengan tegas bahwa dampak dari ketidaktahuan manusia tentang hakikat hidup akan mendorong manusia mati hati dan mati hakikat dirinya. Sebaliknya, kala seseorang mengenal konsep hidup yang sejati dalam Islam, maka selamanya ia akan hidup.

Mari kita telusuri perlahan-lahan. Ketika kita mempelajari beragam ilmu, maka kita akan temukan nama banyak ulama, seperti Imam Syafi’i, Al-Ghazali, Ibn Sina, bahkan sampai Buya Hamka. Mengapa mereka masih hadir dalam diskusi manusia yang secara masa teramat jauh? Tidak lain karena semasa hidupnya berkarya untuk terus hidup.

Secara psikologis, ketika ada di antara orang yang kita kenal bahkan cintai dan sayangi meninggal dunia, maka seketika kita akan teringat akan perilaku dan akhlaknya yang mulia, untaian katanya yang indah dan memberi makna.

Hal ini menunjukkan bahwa manusia hakikatnya harus hidup untuk selamanya. Caranya pun telah dijabarkan dalam Islam bahkan diteladankan oleh Nabi Muhammad SAW, sahabat dan para ulama. Namun, siapakah yang benar-benar mau memikirkannya?

Imam Ibn Qudāmah memberi nasihat penting mengenai dunia ini.

“Ketahuilah! Semoga Allah merahmatimu. Dunia ini adalah “ladang” akhirat, tempat keuntungan berniaga, tempat mengumpulkan bekal, dan menumpuk barang-barang yang menguntungkan. Orang yang lebih dahulu mendapatkannya dialah yang menang. Di dalamnya orang-orang yang bertakwa sukses, orang-orang jujur menuai kejayaan, orang-orang yang beramal memanen hasil, sementara orang yang berleha-leha mereguk gelas kerugian yang tiada tara.”

Dengan demikian, kita harus menyadari bahwa bernafasnya diri saat ini, di dunia ini, adalah sebuah kesempatan sekaligus pilihan. Apakah kita akan mengisinya dengan amal terbaik yang menjadikan diri hidup yang tak (pernah) mati. Atau kita jadikan hidup ini sebatas hanya kepastian untuk mati yang selamanya dan hidup kembali dalam nestapa?

Satu hal yang pasti, Rasulullah SAW telah berikan bimbingan, bahwa jika ingin hdiup selamanya maka milikilah amal jariyah, ilmu yang bermanfaat serta anak-anak yang sholeh dan sholehah yang mendoakan kedua orangtuanya. Jika ini tergapai, insya Allah, bahagia akan terus hadir dalam hidup yang tak (pernah) mati. Insha Allah.*

Imam Nawawi, Ketua Umum Pemuda Hidayatullah