Beranda blog Halaman 439

Syarat Sehingga Pendidikan Islam Mampu Berakselerasi

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Tingginya animo kaum muslimin terhadap nilai-nilai Islam, menjadi peluang besar untuk masa depan pendidikan Islam.

Misal, banyaknya tumbuh komunitas-komunitas yang menggunakan identitas Islam. seperti pemuda hijrah, hijaber, dan seterusnya.

Demikian diurai oleh ustadz Amun Rowi, Ketua Departemen Pendidikan Menengah dan Atas Hidayatullah Pusat, dalam webinar pendidikan, yang mengangkat tema ; Akselerasi Pendidikan Islam (Jum’at, 16, 10, 2020).

Kata Amun, kelompok-kelompok yang mengidentitaskan diri dengan mencantolkan kata Islam atau turunannya itu, bila ditelisik kriteria sekolah invaran mereka untuk sang buah hati, maka yang menjadi refrensi nomor satunya itu, muatan pendidikan sekolah.

Kadangkala mengandung nilai-nilai keislaman yang tinggi, maka akan menjadi pertimbangan utama untuk memasukkan anak mereka ke sekolah.

“Baru setelah mengetahui muatan pendidikan sekolah, merambah ke reputasi, lingkungan, metode pembelajaran, fasilitas, dan terakhir biaya,” ungkapnya.

Oleh karena itu, lanjut sosok yang juga memangku amanah Sekretaris Yayasan P.P. Hidayatullah, Surabaya ini, seyogiyanya sekolah-sekolah Islam menangkap peluang besar ini, agar akselerasi yang ibgin dicapai bisa diwujudkan, baik itu secara kuatntitas maupun kualitasnya.

“Untuk memcapai itu semua,” imbuhnya, “sudah barang tentu berlaku syarat dan ketentuannya.”

Pertama, sebut Amun, sekolah harus mampu melepaskan diri dari formalisme. Yaitu formalitas-formalitas yang dibuat oleh sekolah/pemerintah, yang itu kurang memberikan nilai positif terhadap pertumbuhan pendidikan anak.

“Karena sibuk mengurusi hal-hal yang berbau formalitas, akhirnya pendidikan sekolah kehilangan makna,” terangnya.

Selanjutnya, sekolah harus mampu mengembalikan kedaulatan guru. Sebagai ujung tombak pendidikan, guru harus diberi kedaulatan untuk menegur para murid. Menegakkan akhlak di sekolah.

“Saat ini kedaulatan guru tengah turun. Betapa banyak guru dipenjara, gara-gara mengingatkan murid yang keliru, dan orangtua/wali murid tidak terima,” ujarnya.

Termasuk dalam hal ini, ialah memberi kebebasan guru dalam mengajarkan materi pelajaran. Sebab merekalah yang paling tahu kualitas peserta didik di kelas-kelas.

Syarat berikutnya, sekolah Islam harus mampu tampil modern dan Islami. Yang dimaksud dengan modern, tidak hanya terkait dengan fasilitas. Tapi juga lingkungan, yang tertata rapi, bersih, dan indah.

Nilai-nilai Islam harus dijalankan di lingkungan sekolah. Semua aktivitas harus didesain menjadi islami. Jadi, bukan sekedar selogan semata. Atau berhenti di ruang diskusi. Tapi menjadi praktek nyata dalam kegiatan sekolah.

“Yang keempat, kualitas adab. Ini harus menjadi kultur sekolah,” paparnya.

Untuk memudahkan pencapaian akselerasi ini, imbuh Amun, ada tiga hal yang harus dilakukan oleh pihak sekolah.

“Pertama; tetapkan standart. Kedua;buat modelnya. Da yang ketiga; lakukan terus pengembangan dan pendampingan.”(ybh/hidayatullah.or.id)

Mengimplementasikan Qum Faandzir Secara Kaffah

0

Situasi dan kondisi bangsa kini memanggil nurani, akal, bahkan keberanian untuk hadir. Namun, hal yang sangat mendasar penting hadir sebelum semua itu dilakukan adalah kesadaran, persatuan, dan tentu saja strategi perjuangan.

Jika merujuk pada historis kenabian, utamanya dalam kajian Sistematika Wahyu ada surah Al-Mudatstsir, yang satu ayatnya berbunyi, “Qum Faandzir.”

Ibn Katsir menuliskan, maksud dari Qum Faandzir adalah, “Bangun, lalu berilah peringatan.”

Kemudian dilanjutkan, maksudnya adalah “Bersiaplah untuk menyatukan tekad dan berikanlah peringatan kepada ummat manusia sehingga semua ini akan mencapai misi kerasulan..”

Ayat ini tentu saja tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari rangkaian yang sistematis setelah diturunkannya perintah membaca dengan nama Tuhan, kemudian jaminan kepastian bahwa orang yang ber-Quran tidak akan pernah tersentuh oleh kegilaan, serta metode bagaimana menjadikan jiwa dan pikiran jernih, tenang, dan benar-benar terkoneksi dengan kehendak Tuhan.

Oleh karena itu, makna Qum Faandzir sejatinya bisa diperluas dari apa yang telah dikemukakan Ibn Katsir dengan merangkai atau menghubungkan rangkaian makna dari tiga surah yang turun sebelumnya, yakni Al-Alaq, Al-Qolam, dan Al-Muzzammil.

Di sini menjadi relevan jika kemudian Suharsono dalam bukunya Membangun Peradaban Islam menjabarkan bahwa yang dimaksud Qum Faandzir di antara makna dan maksud yang tidak kalah kuat adalah, “Bangun intelektual dan hadirlah sebagai juru bicara peradaban.”

Dijelaskan lebih lanjut bahwa perintah bangkit dan berikan peringatan itu mengharuskan Rasulullah ﷺ bersama sahabat membangun kerangka kerja dakwah, dengan melihat secara visional bahwa masyarakat Arab Jahiliyah adalah objek dakwah, bukan musuh yang harus dilenyapkan.

Di sini penting disadari perlunya “rancang bangun” gerakan dakwah dalam suatu gerakan organisasi. Dalam kata yang lain, hal-hal yang sifatnya sporadis dan segmentatif tidak semestinya menjadikan kita kehilangan orientasi dasar dan kelunturan di dalam bergerak di atas kerangka kerja yang telah dibangun sedemikian kokoh dalam konsep manhaji.

Sisi yang kemudian sangat kuat kaitannya dengan bahasan di awal, yakni intelektualisme, sejarah menghadirkan fakta bahwa para sahabat dalam hal dakwah harus juga siap berdialog bahkan berdebat dengan siapapun, kapan pun dan dimanapun.

Sebagaimana dilakukan oleh Ja’far bin Abu Thalib kepada raja Habasyah yang hampir saja “terprovokasi” hasutan dari Amru bin Ash yang mendiskreditkan umat Islam yang berhijrah ke negeri Afrika itu.

Dengan demikian Qum Faandzir, tulis Suharsono, “juga merupakan perintah untuk “kebangkitan intelektual” Umat Islam.” (halaman 145).

Jika kita tarik uraian di atas dengan situasi terkini, maka pemahaman akan hal ini sangatlah mendasar disamping juga sangat menentukan. Kita ketahui bahwa Ali bin Abi Thalib ra pernah berkata, “Kebatilan yang terorganisir akan mengalahkan kebenaran yang tidak terorganisir.”

Artinya, sikap cermat, mendalam di dalam membaca, menganalisis dan termasuk di dalamnya memilih sebuah tindakan adalah hal yang mutlak diperlukan. Tanpa itu, gerakan yang dilakukan akan tidak memadai dan tentu saja sulit untuk bisa efektif dan mengantarkan para pejuangnya pada keberhasilan.

Menarik apa yang dituliskan oleh Manshur Salbu dalam buku Mencetak Kader, “Hidup ini terlalu singkat, tidak cukup waktu untuk berspekulasi dengan mengadakan berbagai eksperimen guna menemukan satu metode perjuangan. Terlalu ceroboh bila kita nekad mencari sendiri metode perjuangan yang belum terjamin ketepatan, kejituan, dan kebenarannya. Apalagi bila kita mengulang-ulang menapaki jalur perjuangan yang terus-menerus menemui kegagalan di tengah perjalanan.” (halaman 187).

Dengan demikian, di tengah era digital, disaat manusia digempur loncatan informasi yang tidak beraturan, sangat penting bagi kader perjuangan lembaga memahami manhaj dengan sebaik-baiknya. Keadaan saat ini bisa saja mengubah apapun, namun satu hal yang menjadi pesan Ustadz Abdullah Said sebagaimana dikutip dalam buku Mencetak Kader (halaman 189) adalah, “Jangan ubah gaya dan irama perjuangan ini. Teruskan!” Allahu a’lam. 

Imam Nawawi, Ketua Umum Pemuda Hidayatullah


Solusi Ekonomi Untuk Keluar Dari Krisis Saat Pandemi

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Krisis multidimensi tengah menerjang dunia, tak terkecuali Indonesia, akibat pandemi yang masih berlanjut hingga saat ini.

Terutama ekonomi, yang saat ini sudah nampak jelas secara kasat mata. Seperti; rendahnya daya beli masyarakat, turunnya harga komuditas, serta terjadinya gelombang PHK secara maraton.

Demikian papar DR. Abdul Mannan, SE, MM, ketika mengisi Webinar ekonomi, pra-Musyawarah Nasional Virtual 5 Hidayatullah, yang mengangkat tema; Pandemi Covid 19, Krisis Ekonomi, dan Ketahan Pangan Nasional, Rabu, 14, 10, 2020.

“Tidak hanya lingkup keluarga yang mengalami krisis, tapi juga perusahaan-perusaan besar, seperti otomotif, dan sejenisnya. Banyak yang tutup,” ungkapnya.

Sejalan dengan Abdul Mannan, DR. Henri Tanjuna, Wakil Direktur Sekolah Pasca Sarjana UIKA, Bogor, menyodorkan data jumlah orang miskin di Indonesia.

Kata Henri, merujuk pada hasil laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS), bahwa jumlah orang miskin per Maret 2020, itu mencapai 26,42 juta jiwa. Atau sama dengan 9,78 persen dari seluruh penduduk Indonesia.

“Prediksinya, jumlah itu akan mengalami peningkatan. Bappenas memprediksi jumlah orang miskin akan bertambah 2 juta orang pada tahun 2020, akibat dari pandemi ini,” papar Henri.

Galakkan Pangan dan Wakaf

Untuk mengantisipasi hal terburuk yang akan terjadi di masa mendatang, terkait masalah krisis, Abdul Mannan merekomendasikan, pentingnya pemerintah dan masyarakat membangun ketahanan pangan.

“Kita harus bersyukur, tanah yang kita miliki luas dan subur. Ini harus dioptimalkan dengan cara ditanami makanan-makanan pokok,” terangnya.

Abdul Mannan kemudian menyetir sebuah hadits shohih, riwayat Bukhari dan Ahmad, tentang anjuran Nabi Muhammad SAW untuk menanam, meskipun sekiranya esok akan terjadi kiamat.

Hal lain yang harus diubah oleh masyarakat, mindset tentang makanan pokok, itu bukan sekedar nasi. Tapi ubi-ubian termasuk. Hal ini dipandang penting, agar masyarakat tidak memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap beras, karena telah memiliki alternatif lain.

Sementara itu, Heri Tanjung, menjelaskan akan petingnya menggalakkan zakat, shodaqoh, dan wakaf (Ziswaf) untuk mengatasi ancaman krisis.

Sebab, ujarnya, inilah salah satu solusi yang diberikan Islam untuk mengetaskan persoalan kemiskinan yang menjerat umat.

“Di sini dibutuhkan kesadaran orang-orang kaya untuk mengambil peran. Apalagi, jumlah mereka cukup besar. Menurut sebuah data, terdapat 231 ribu rekening, yang jumlah nominalnya di atas 2 milyar” sebutnya. (ain/hidayatullah.or.id)

Hidayatullah dan Tanggung Jawab Pengimplementasian Islam di Masyarakat

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Organisasi Islam (Ormas) Hidayatullah kini bersiap menghadapi musyawarah nasional (Munas) kelima, rencananya Munas kali ini akan bersifat virtual di 34 titik minimal yang ada diseluruh Indonesia pada tanggal 29-31 Oktober 2020. Rangkaian acara pra munas juga telah berjalan salah satunya ialah sidamg komisi. Suharsono, anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah menjadi pembicara pada sidang komisi ekonomi dan kebendaharaan (14/10).

Suharsono menyampaikan bahwa sebagai Ormas, Hidayatullah mempunyai tanngung jawab yang besar yaitu menyampaikan dan berusaha membawa masyarakat mengimplementasikan manhaj sistematika wahyu (SW), sehingga dalam membangun peradaban Islam, dalam terimplementasinya nilai-nilai keislaman dapat segera tercapai.

“Hidayatullah mempunyai tanggung jawab keumatan yang sangat besar di masyarakat. Yaitu terus berusaha berdakwa untuk terus agar masyarakat mengimplementasikan manhaj SW disegala aspek. Fungsi transformasi Hidayatullah sesungguhnya ialah mengubah masyarakat yang kurang/ bahkan tidak berperadaban Islami menjadi berperadaban Islami sepenuhnya” jelas Suharsono.

Menurut Suharsono sesungguhnya amanah penyampaian pesan ini merupakan tanggung jawab seluruh kader Hidayatullah. Baik memiliki gelar akademik, seorang penghafal Alquran, bahkan sampai kepada yang dianggap biasa-biasa saja. Sesungguhnya penyampaian pesan dakwah di Hidayatullah tidak memandang hal tersebut. Tentunya apa yang menjadi harapan Ustad Abdullah Said dalam membangun peradaban Islam dan harapan itu masih terus terwariskan hingga saat ini untuk segera direalisasikan.

“Sesungguhnya apa yang menjadi harapan Ustad Abdullah said dan juga yang menjadi harapan kita semua akan segera terealisasi jika kita semuanya bersungguh-sungguh menyampaikan dakwah di masyarakat. Sesungguhnya dakwah menjadi kewajiban bagi kita semua tanpa memandang embel-embel yang melekat. Sesungguhnya setiap kebenaran yang dibawa, sekalipun disampaikan dengan bahasa-bahasa yang sederhana. Maka, boleh jadi pesan itu akan sampai” ucap Suharsono.

Ia juga menyampaikan bahwa kedepanya Hidayatullah akan berusaha untuk semakin melebarkan ekspansinya hingga bahkan ke sudut-sudut yang bagi banyak orang sulit untuk dijangkau.

“Kedepanya Hidayatullah akan semakin melebarkan ekspansi menyebarkan peradaban islam, karena sesungguhnya metode SW bukan milik Hidayatullah semata. Namun, milik seluruh umat Islam. Dengan usaha perluasan dakwah ini maka boleh jadi kedepanya Hidayatullah akan semakin solid baik secara kuantitas maupun kualitas” ucapnya.*Amanjikefron

Alumni DMU Harus mempunyai Karakter dan Wawasan Berkelembagaan Yang Kuat

0

KENDARI (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka memenuhi tuntutan organisasi yang terus berkembang dalam menunjang upaya pengembangan dakwah Hidayatullah, Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Tenggara (Sultra) menggelar kegiatan Daurah marhalah ulaa bagi kader-kader Hidayatullah dan juga digabung bersama dengan kader Muslimat Hidayatullah (Mushida) Sultra dengan tema “Meneguhkan Komitmen Untuk Mewujudkan Peradaban Islam” di Pondok Pesantren Hidayatullah Kendari, 9 Oktober-11 Oktober 2020. Meskipun daurah ini daurah gabungan, ruangan untuk jamaah laki-laki dan perempuan dipisahkan.

Dalam kegiatan yang berlangsung selama tiga hari secara intensif ini, sebanyak 96 kader yang terdiri dari 34 orang laki-laki dan perempuan sebanyak 62 orang berasal dari 17 cabang perwakilan menjadikan daurah marhala ulaa ini menjadi daurah dengan peserta terbanyak selama pelaksanaan daurah yang ada diseluruh Indonesia.

Daurah Marhalah ulaa merupakan salah satu bentuk jenjang pengkaderan daiyah yang diinisiasi oleh Hidayatullah kepada seluruh kader-kadernya untuk semakin siap menjalankan dakwah Islam di bawah naungan Hidayatullah DPW Hidayatullah Sultra.

Ketua DPW Hidayatullah Sultra, Ustad Nashri Buhari menyampaikan bahwa tujuan dari pengadaan daurah marhala ini sebagai usaha untuk terus meningkatkan pemahaman kelembagaan bagi seluruh kader Hidayatullah Sultra sehingga para kader dalam berlembaga menjadi semakin bersemangat dan mempunyai landasan yang kuat.

“Tentunya kegiatan daurah ini bertujuan meningkatkan kualitas pemahaman keislaman kepada para kader serta memberikan wawasan kelembagaan sehingga mereka mempunyai landasan yang kuat dalam berlembaga. selain itu kita memberikan pemahaman mengenai metodologi.berdakwah dan membentuk mental jiwa kepemimpinan” jelas Nashri.

Nashri juga berpesan kepada seluruh alumni daurah marhala ulaa untuk terus berupaya melakukan pencerahan kepada masyarakat sehingga apa yang menjadi visi dan misi lembaga “Membangun Peradaban Islam” dapat terealisasi.

“Kita berharap kepada seluruh alumni daurah ini untuk menjadi kader pejuang peradaban yang tangguh yang bisa melakukan pencerahan dan perubahan tatanan masyarakat yang lebih bermartabat” ucapnya.

Rencananya para alumni daurah akan tetap diberikan pembinaan melalui halaqoh-halaqoh rutin yang akan dibentuk dengan bimbingan murobbi yang telah ditunjuk oleh organisasi. Nashri juga menjelaskan bahwa sesunguhnya karakter yang wajib dimiliki setiap alumni daurah ialah meningkatnya kualitas keimanan serta siap melaksanakan amanah yang diberikan lembaga secara baik.

“Tentunya karakter yang harus melekat pada Alumni Daurah adalah Karakter pembelajar, Selalu berupaya mengaplikasikan nilai-nilai Al Qur’an ,semakin rajin menunaikan ibadah baik yang wajib maupun yang sunnah dan siap mengemban amanah dakwah kapanpun dan dimanapun juga, serta mengimplementasi nilai-nilai tauhid dalam kehidupan keluarga dan masyarakat” pungkasnya.*AmanjiKefron

Alamat Pondok Pesantren Hidayatullah Kendari: Pesantren Hidayatullah Kendari Putra, Jl AH. Nasution no 8 Kel.Kambu Kec. Kambu, Kendari. Putri Jl Orinunggu Kel Padaleu Kendari

Munas V(irtual), Bukan Munas Biasa

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Penghujung Oktober 2020, ormas Islam Hidayatullah diagendakan menggelar acara Musyawarah Nasional (Munas) V. Perhelatan akbar ormas Hidayatullah ini digelar tidak biasa, yakni secara virtual.

“Munas V(irtual)”, demikian sebutannya, digelar secara daring sebagai upaya turut mencegah penyebaran Covid-19. Hingga jelang penghujung tahun 2020 ini, pandemi memang belum berakhir.

Munas V(irtual) Hidayatullah siap digelar pada tanggal 29-31 Oktober 2020, dengan mengusung tema “Meneguhkan Komitmen Keummatan Menuju Indonesia Bermartabat”. Jamaah Hidayatullah dari berbagai penjuru Indonesia pun siap mensukseskan acara lima tahunan ini.

Yang menarik pula dari Munas ini, kata Kepala Biro Humas Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Mahladi, ormas itu akan melakukan pergantian seluruh pengurus di tingkat pusat.

Periode ini, DPP Hidayatullah dipimpin oleh Ustadz Dr Nashirul Haq, sedangkan Dewan Mudzakarah dipimpin oleh Ustadz Abu A’la Abdullah. “Periode mendatang kita belum tahu siapa yang ditunjuk untuk mengemban amanah tersebut,” ujarnya, September lalu.

Ia menjelaskan, model suksesi di Hidayatullah bukan pemilihan, tapi penunjukan oleh Pimpinan Umum Hidayatullah, yakni KH Abdurrahman Muhammad. Hanya saja, sebelum menunjuk pemangku amanah, beliau melakukan syuro (musyawarah) dengan banyak pihak.

Hal menarik lainnya yaitu Hidayatullah juga telah merumuskan arah perjalanan 5 tahun ke depan. Kelak, arah perjalanan ini akan dijabarkan lewat program-program kerja pengurus pusat yang akan ditunjuk.

“Munas kali ini akan berlangsung secara virtual (online). Ini tentu tantangan tersendiri bagi Hidayatullah. Tak mungkin di masa pandemi seperti sekarang ini kita mengumpulkan 1.000 orang dalam sebuah musyawarah akbar,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Munas V Hidayatullah, Ustadz Drs Wahyu Rahman, menjelaskan, pusat kegiatan Munas V(irtual) ini bertempat di kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, dengan 34 titik lain sebagai perwakilan tiap-tiap DPW Hidayatullah yang ada di daerah.

Wahyu Rahman menegaskan akan adanya pemberlakuan ketat protokol kesehatan pada acara Munas ini selama di lokasi acara, baik yang berpusat di Kampus Hidayatullah Depok, maupun di titik-titik lainnya.

Pihaknya juga menyiapkan segala kebutuhan untuk sukses penyelenggaraan acara ini, seperti kelengkapan perangkat teknis termasuk memaksimalkan jaringan data maya.*Muh. Abdus Syakur

Hidayatullah Nyatakan Tolak UU Cipta Kerja

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pengesahan Rancangan Undang Undang Cipta Kerja menjadi Undang Undang oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Senin (5/10) telah menuai protes banyak pihak. Organisasi Islam Hidayatullah juga menyatakan menolak Undang Undang tersebut.

“Hidayatullah menolak Undang Undang Cipta Kerja karena jauh dari rasa keadilan. Seharusnya pemerintah dan DPR lebih peka terhadap masalah-masalah sosial,” jelas Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr Nashirul Haq, saat ditemui Jumat (9/10).

Undang Undang tersebut, menurut Nashirul, lebih banyak memihak para pengusaha dan investor asing. Padahal, menurut amanah UUD 1945, bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya harus dipergunakkan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Selain itu, kata Nashirul lagi, pembahasan RUU Cipta Kerja di DPR tidak mempedulikan aspirasi banyak pihak. Padahal, ormas-ormas Islam sudah lama bersuara menolak rancangan undang-undang ini. Justru yang terjadi, RUU ini disyahkan menjadi UU.

Demonstrasi dan penolakan yang terjadi di banyak tempat dan dilakukan oleh banyak elemen masyarakat, menurut Nashirul, adalah bukti bahwa UU ini tidak mewakili masyarakat secara luas.

UU ini juga mengatur terlalu banyak hal. Bahkan, urusan halal pun ikut diurusi oleh Undang Undang ini. Jadi semestinya, pembahasannya pun tidak gegabah dan tidak buru-buru.

Belum lama ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah mengeluarkan rilis menolak UU ini. Begitu juga dua ormas Islam besar di Indonesia, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, serta ormas-ormas Islam lainnya.

Dulu, ujar Nashirul, saat negara ini dibangun, ulama selalu didengarkan pendapatnya oleh pemerintah. Bahkan, dalam merumuskan dasar negara pun, pemerintah mendengarkan kata-kata ulama.

Sekarang, jika pemerintah tak lagi peduli dengan perkataan ulama, maka habislah keberkahan negeri ini. “Kita khawatir keberkahan negeri ini hilang karena pemerintahnya sudah tak peduli lagi dengan ulama,” jelas Nashirul. *

Wantim MUI Serukan Ormas Islam Bergandengan, Jadikan Dakwah sebagai Primadona

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia Prof Dr KH Didin Hafidhuddin mengatakan dakwah harus menjadi kegiatan primadona.

“Dakwah harus dijadikan primadona dan hal paling utama dalam setiap kegiatan kita karena tanpa dakwah tidak mungkin ada kebaikan,” kata Didin pada Webinar Series 06 – Pra Munas V Hidayatullah seperti dilansir kanal Youtube Hidayatullah ID, Sabtu (3/10/2020).

Didin mengimbuhkan, kalau kita tidak bertanggungjawab, acuh tak acuh dan tidak terlibat dalam kegiatan dakwah maka akan melanggengkan kemunkaran yang bisa meruntuhkan peradaban manusia. Dia menegaskan bahwa dakwah adalah bagian yang sangat penting dalam kehidupan umat. Maju mundur umat sangat tergantung pada kegiatan dakwah.

“Bahkan predikat khairah ummah dikaitan dengan dakwah,” ujarnya seraya menukil Al Quran Surah Ali Imran ayat 110.

Dalam pada itu, Ketua Pembina Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII)  ini mengingatkan bahwasanya dakwah adalah kemuliaan yang karena itu pelakunya akan berhadapan dengan ragam tantangan.

“Dakwah mulia maka karena itu banyak tantangannya. Tentu banyak hambatannya, tidak ada yang mulia yang dilakukan secara santai. Pasti banyak godaan,” kata Didin.

Oleh karena itu, Didin mengatakan, kita sekarang ini berusaha melakukan kegiatan dakwah dalam barisan rapi dan teratur dalam manajemen dan jamaah yang rapi yang saling mendukung dan menguatkan.

“Jangan ini kita menjad singel fighter. Menjadi pemain tunggal itu cepat capek dan berat. Cepat bosan. Problem begitu banyak sementara potensi yang dimiliki sedikit,” katanya.

Makanya, imbuh dia, kita perlu berada di barisan yang teratur untuk melakukan dakwah secara berjamaah. Apalagi sekarang ini ada tantangan dakwah yang sangat massif seperti banyak terjadi islamphobia. Diantara tantangan itu, Didin menyebutkan tiga hal yang telah difatwakan oleh MUI pada tahun 2005 sebagai faham yang haram diikuti umat Islam yaitu sekularisme, pluralisme agama dan liberalisme agama.

“Olehnya, dalam kegiatan dakwah ini kita harus bergerak bersama sama memadukan berbagai kekuatan yang ada. Saling menghargai dan saling menguatkan satu sama lain,” katanya.

Dia mengimbuhkan semua organisasi harus bergandengan tangan, “kita akan kuat Insya Allah jika bergandengan tangan”. 

Didin pun menyarankan, agar dapat berjalan dengan baik, efektif dan efesien maka perlu ada spesialisasi dalam dakwah ini. Misalnya, dia mencontohkan, harus ada kelompok yang concern pada masalah pemikiran agar memiliki ketangguhan wacana. 

“Yang dakwah di pedalaman juga mesti ada dan mesti kuat. Begitu juga dakwah di bidang pendidikan, harus berkualitas pendidikan yang kita bangun. Demikian pula yang lainnya,” tukasnya.

Dia kembali mengingatkan. Kalau kita merasa lebih baik, merasa lebih unggul dibandingkan yang lain, maka dakwah ini tidak akan jalan.

“Sinergi itu ketika menyatu hati kita. Sehingga setiap jamaah melakukan apa yang menjadi keunggulannya kemudian didukung yang lainnya. Sinegri harus mengarah ke sana,” pungkasnya.

Webinar bertajuk “Dakwah Manhaji: Mengajak, Membela, Dan Bersama Umat Membangun Jamaah” ini menghadirkan narasumber anggota Dewan Penasehat Pimpinan Umum (DPPU) Hidayatullah Ust H Hamim Thohari dan dipandu oleh Pimpinan Pesantren Tahfidz Qur’an Putra Al Kautsar Cibinong Ust Munawwir Baddu.*/Ainuddin Chalik

Suara-suara Gagasan Para Pemuda

0

“Sebuah komunitas, lembaga, jama’ah atau organisasi masa sekalipun, akan tidak dianggap ada jika tidak menyuarakan gagasan-gagasan.”

Ungkapan di atas disampaikan oleh Ustadz Suharsono, penulis buku Membangun Peradaban Islam kala menerima kunjungan PP Pemuda Hidayatullah di kediamannya Rabu (30/9) di kediamannya.

Beberapa jam sebelum itu, Prof Din Syamsuddin dalam webbinar menyambut Munas Hidayatullah V menyatakan bahwa Pemuda Hidayatullah harus bangkit dan bersuara memberikan pandangan terhadap dinamika politik di Tanah Air.

Sahabat saya, Bang Ainuddin, menjadikan satu statement Ketua Majelis Pertimbangan MUI dalam bentuk meme berbunyi, “Mas (Imam) Nawawi, Dinda, Anda harus bangkit sebagai Pemuda Hidayatullah.”

Dua ungkapan sosok penuh karya di atas cukup menjadi sebuah injeksi bagi kaum muda untuk segera berbenah dan melakukan terobosan guna mengambil tanggungjawab moral di negeri ini, di antaranya dengan lantang bersuara.

Akan tetapi, hal ini bukanlah perkara mudah. Terlebih kala anak muda hanya dipandang sebagai entitas yang “harus” mengikuti alur yang telah ada, suaranya dinilai receh, dan keberadaannya pun terkesan hanya diada-adakan dalam bentuk formal. Tunduk pada keadaan tanpa ada ruang diberikan untuk menjelaskan aspirasi dan gagasannya. Dalam skala yang lebih luas, kini anak-anak muda telah banyak dininabobokan oleh kecanggihan handphone, sehingga memandang bersuara cukup melalui media sosial.

Dalam sejarah Islam, kita patut belajar pada Sayyidina Umar ra yang memberikan kesempatan kepada khalayak, siapa yang akan menegurnya bila ia melakukan kesalahan secara sengaja, terstruktur dan sistematis. Seorang pemuda berdiri dan berkata, “Saya yang akan meluruskannya dengan ini (sembari mengangkat pedang).” Umar tersenyum, tenang, dan bahagia, serta plong.

Jadi, sosok anak muda, terutama keberanian dan suaranya sangat dihargai oleh pemimpin yang mengerti masa depan. Akan tetapi, suara muda akan dipandang semacam gangguan bagi mereka yang tak memahami bagaimana menjadikan pemuda benar-benar siap bertarung untuk masa depan umat.

Dengan demikian, kaum muda wajib memiliki gagasan untuk selanjutnya bersuara. Dan, untuk memiliki gagasan, kaum muda wajib banyak membaca, dalam arti yang luas, sehingga kian hari kian tajam intuisinya, intelektualnya, bahkan yang sangat penting adalah spiritualnya.

Itu pun masih langkah awal, selanjutnya kaum muda harus berkonsolidasi melalui wadah yang memadai, seperti organisasi atau komunitas. Dari sana tukar pikiran dijalankan, pengamatan demi pengamatan dilakukan, lalu lakukan analisa, dan hadirkan tawaran solusi. Tentu ini sudah tinggal jalan di dalam tubuh organisasi Pemuda Hidayatullah.

Fokus Kajian dan Gerakan

Suara dalam pengertian gagasan hanya akan keluar jika dua hal telah menjadi tradisi. Pertama, fokus kajian. Kedua fokus gerakan.

Pemuda Hidayatullah wajib memiliki dua hal di atas untuk bisa melangkah pasti, berkiprah luas, dan berperan strategis. Tanpa itu, maka Pemuda Hidayatullah hanya akan menjadi pelengkap setiap gerakan yang besar dan terus berlangsung di negeri ini. Tanpa pernah memiliki gagasan otentik dan gerakan yang tertata apik.

Mewujudkan itu tidaklah sulit, kalau menurut Prof Din, tinggal melihat bagaimana kebutuhan rakyat dan arah kebijakan pemerintah, termasuk kecenderungan para pejabat. Tetapi, dasar sebelum masuk ke arah tersebut, intelektualisme dan spiritualitas harus terus dikuatkan. Dengan demikian, suara yang dikeluarkan adalah suara pencerahan, bukan ketidakpuasan dan kemarahan semata.

Ketika Allah Ta’ala memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk bangkit dan memberikan peringatan (bersuara), kapasitas intelektual, mental, dan spiritual sudah sangat matang melalui pengamalan Al-Alaq, Al-Qolam, dan Al-Muzzammil.

Dalam kata yang lain, Pemuda Hidayatullah sangat penting menekuni kajian tentang Manhaj Sistematika Wahyu lalu mengamalkannya dan mendakwahkannya hingga menjadi sebuah gerakan. Jika ini terus ditajamkan, maka insya Allah, Qaulan Tsaqila akan menjadi kekuatan pembeda, dimana suara Pemuda Hidayatullah bukan sekedar peramai aspirasi, tetapi benar-benar berbobot dan dapat dipertimbangkan serius oleh siapapun, terutama pemegang kebijakan di negeri ini.

Pertanyaannya, kapankah itu terjadi? Insya Allah segera, jika kita tak lagi berleha-leha dengan keadaan yang ada, tetapi bergegas mengambil peran, tanggungjawab dan benar-benar menempa diri untuk benar-benar mampu dan berani bersuara. Allahu a’lam.*

Imam Nawawi, Ketua Umum Pemuda Hidayatullah

Tim Sudan Menang Lomba Tulis Strategis Deplu Sambut Munas

KHARTOUM (Hidayatullah.or.id) – Tim penulis mahasiswa Hidayatullah di Sudan dinyatakan sebagai Pemenang Pertama Musabaqah Penulisan Gagasan Strategis “Seandainya Kami Memimpin Hidayatullah 2020-2025”.

Lomba tersebut diselenggarakan oleh Departemen Luar Negeri Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah untuk menyambut Musyawarah Nasional V Hidayatullah akhir Oktober mendatang.

Karya Tim Sudan yang dipimpin oleh Muhsin Kahar, mahasiswa tingkat akhir Fakultas Syariah Universitas Afrika Internasional menitikberatkan tema strategisnya pada “Kepemimpinan dan Kaderisasi Pemimpin”.

Pemenang Kedua Tim Mesir memusatkan perhatian pada “Ekonomi dan Kesejahteraan Berasas Waqaf”. Sedangkan Pemenang KetigaTim Yaman, menggali lebih dalam “Gerakan Peradaban Berasas Hifzhul Quran”.

Dewan Juri Musabaqah ini terdiri dari: Ustadz Hamim Thohari (Sekretaris Dewan Pertimbangan Pimpinan Umum), Ustadz Hanifullah (Ketua Majelis Murobbi, Dewan Mudzakarah), Marwan Mujahidin (Ketua Baitul Maal Hidayatullah), Santi Soekanto (Direktur ISA – Institut Al-Aqsa untuk Riset Perdamaian).

Musabaqah ini dimaksudkan menantang anak-anak muda keluarga Hidayatullah yang sedang menuntut ilmu di luar Indonesia, untuk ikut memikirkan masa depan gerakan da’wah yang akan mereka warisi dari generasi pendahulunya.

Ada empat kriteria yang dinilai oleh Dewan Juri:

Pertama, bahasa yang mudah dimengerti, ringkas, baku, tepat sasaran, sesuai kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Kedua, bobot strategis gagasan-gagasan yang dituliskan. Selain membahas bidang-bidang yang dianggap strategis secara umum, setiap tim diminta memfokuskan perhatian pada salah satu bidang yang diarahkan Deplu pada tahap pertama.

Ketiga, kesesuaian gagasan dengan masalah-masalah nyata yang saat ini dihadapi Hidayatullah.

Keempat, kesesuaian karya tulis dengan 6 Jatidiri Hidayatullah.

Siaran Departemen Luar Negeri DPP Hidayatullah menyebutkan, tim pemenang pertama mendapat hadiah uang tunai senilai US$300, tim pemenang kedua US$200, tim pemenang ketiga US$100.

Selain Sudan, Mesir, dan Yaman, lomba ini juga diikuti tim penulis mahasiswa/santri keluarga Hidayatullah yang sedang menuntut ilmu di Saudi, Turki dan Malaysia.

Menurut data di Departemen Luar Negeri DPP Hidayatullah, saat ini sedikitnya ada 150 mahasiswa dan santri keluarga Hidayatullah yang sedang belajar di perguruan tinggi maupun ma’had di keenam negara tersebut.

Semoga Allah jadikan mereka semua Mujahid Ilmu dan Da’wah baik di Indonesia maupun kelak tersebar di seluruh penjuru dunia.