Beranda blog Halaman 463

Wakaf sebagai Solusi untuk Menopang Ekonomi Umat

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Memasuki pekan kelima perkuliahan, Program Studi (Prodi) Hukum Ekonomi Syariah Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah kembali mengadakan Kuliah Umum. Kali ini acara yang digelar di Aula Marfuah, lantai II mengusung tema “Wakaf sebagai Lifstyle di Era 4.0”, Jumat (21/2/2020).

Dalam paparannya, Asih Subagyo membahas tentang pentingnya wakaf dalam pembangunan ekonomi umat. Terlebih negara-negara maju juga telah menggunakan potensi wakaf tersebut sebagai roda pembangunan ekonomi bangsa mereka.

“Terlihat menonjol itu misalnya di Singapura, Malaysia, Turki, Arab Saudi dan Kuwait,” ucap Ketua Bidang Perekonomian Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah ini.

Menurut Asih, gerakan wakaf ini tak melulu harus dengan biaya mahal atau nominasi tinggi. Sebab wakaf bisa dalam banyak bentuk dan jenis waktu yang bersifat pilihan (optional).

“Jadi semua orang bisa berwakaf sebagaimana yang dikenal pada zakat, infak, dan sedekah,” lanjutnya menjelaskan.

Termasuk mahasiswa, kata praktisi wakaf tersebut, mereka semua bisa memulai wakaf dari kampus atau asrama. Setidaknya bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membantu sesama selama masa perkuliahan di STIS.

“Awali gerakan ini dari hal sederhana dulu,” ajak Asih yang juga Pembina Baitul Wakaf di Hidayatullah.

Di hadapan ratusan mahasiswa STIS, Asih juga bercerita tentang kekuatan ekonomi umat apalabila ditopang dengan gerakan wakaf. Hal ini disebutnya akan berdampak kepada pertumbuhan ekonomi yang semakin mandiri dan berdaya.

“Saat krisis ekonomi, seharusnya solusinya adalah wakaf dan ajaran Islam lainnya. Bukan malah berutang ke luar negeri,” jelasnya.

Kaitan dengan era 4.0, Asih meyakini wakaf justru semakin berkembang dan diminati oleh umat. Sebab wakaf disebutnya memiliki banyak kelebihan dibanding dengan akad atau transaksi lainnya.

“Itu terbukti dengan maraknya praktik wakaf di Negara-negara besar hari ini. Bahkan sampai pada kampus-kampus perguruan tinggi ternama dunia, semuanya memakai wakaf,” tutup Asih.*/MS Daeng Situju

Adab dan Akhlak Berperan Penting Membangun Indonesia

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah DR. H. Nashirul Haq, MA, memberi Kuliah Umum bertema “At-Ta’dib fil Islam” di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Kampus Utama Hidayatullah, Tanjung Uncang, Batam, Ahad (23/02/2020).

Kuliah Umum yang dikemas dengan suasana santai ini, diadakan di hall utama Masjid Arriyadh, Kampus 02 Putri Hidayatullah.

Hadir dalam kesemparan tersebut, Ketua STIT Hidayatullah Batam, Mohammad Ramli, jajaran pengurus inti, para dosen Pendidikan Tinggi Hidayatullah Batam, dan ratusan mahasiswa yang memenuhi tempat acara.

Dalam pemaparannya, Nashirul Haq menjelaskan secara historis bagaimana proses pembentukan akhlak dan adab dalam perjalanan peradaban Islam.

Menurutnya, sejak periode Makkah, ayat ayat yang turun kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah yang berkaitan dengan akidah, akhlak, serta adab.

“Dalam Tarikh Tasyri’, ayat yang turun fokus berkaitan dengan akidah dan akhlak. Nanti menjelang hijrah barulah ayat tentang ibadah, contohnya perintah shalat lima waktu,” papar lulusan Doktor International Islamic University Malaysia (IIUM) ini.

Maka, lanjutnya, belasan tahun ayat yang turun adalah berkaitan dengan akhlak yang didasari syahadat. Karena akhlak memiliki peran yang sangat penting dalam Islam. Ia merupakan buah dari tauhid. Bahkan, eksistensi sebuah negeri dan masyarakat tergantung dari akhlaknya, tentu termasuk Indonesia.

“Jika akhlak, moral, atau adab sebuah negeri itu rusak apalagi hilang, maka sejatinya hancurlah negeri dan masyarakat itu,” kata Nashirul sambil mengutip sebuah syair Arab.

Inilah sesungguhnya keistimewaan peradaban Islam, lanjutnya lagi, karena ia bersifat syamil. Ia mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Mulai dari hal-hal yang sederhana sampai perkara yang paling besar. Semuanya diurus dalam Islam. Kesemuanya itu ada di dalam konsep adab Islam.

“Tidak ada satu konsep atau ajaran pun yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia dari hal sederhana sampai yang sangat besar, kecuali Islam,” tegas alumnus Universitas Islam Madinah ini.

Itulah sebabnya dalam sebuah hadits disebutkan, lanjut Nashirul, iman memiliki 60 atau 70 cabang lebih. Yang paling tinggi kalimat tauhid dan yang paling rendah, menyingkirkan gangguan dari jalan. Artinya, semua aspek diatur dalam ajaran Islam.

“Hebatnya, ajaran itu mewujud nyata pada diri seorang manusia, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, sebagai contoh realisasi nilai adab itu. Jadi, kita tidak bingung ketika hendak melihat bagaimana gambaran orang yang berakhlak dan beradab itu. Lihatlah beliau. Kata Aisyah radhiyallahu anha, akhlak Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam adalah al-Qur’an”, jelasnya.

Oleh karenanya, adab di kalangan para Sahabat atau generasi Islam terdahulu, menjadi kunci dan perkara yang sangat penting dalam proses menuntut ilmu. Para ulama terlebih dahulu belajar adab baru ilmu. Bahkan durasi waktu mempelajari adab lebih lama dibanding mempelajari ilmu.

Ta’allamul adaba qabla an tata’allamal ilma. Pelajarilah adab dahulu sebelum mempelajari ilmu, “kutipnya.

Karena mempelajari ilmu tanpa didahului adab, ujar Nashirul, orientasinya bisa keliru. Bukannya tambah yakin, tambah beriman, justru yang muncul adalah i’jaabun nafs, bangga pada diri hingga muncul benih benih kesombongan.

Para ulama, lanjutnya lagi, menjadikan adab ini sebagai proses yang mutlak untuk ia jalani. Sehingga jika berkaca pada sejarah, para ilmuwan Muslim adalah orang-orang ahli ibadah, zuhud, sekaligus pribadi yang shaleh.

“Berkumpul padanya sosok yang alim, cerdas, ahli sains, kedokteran, kimia, matematika dan lainnya. Tapi di saat yang sama ia juga hafal al-Qur’an, ahli fiqh, paham hadits, berkarakter, dan punya kepribadian yang shaleh,” tandas anggota Dewan Pertimbangan MUI Pusat ini.

Usai pemaparan,dilanjutkan sesi diskusi dengan pemateri oleh menantu pendiri Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said ini. Acara berjalan sukses dan semoga memberi faidah dan maslahat yang besar bagi para mahasiswa, calon kader Hidayatullah di masa yang akan datang.*/Azhari

Sejenak di Rumah Singgah Kita

DUA ORANG merantau ke ibu kota. Masing-masing menempati sepetak tanah berdampingan. Yang pertama dengan izin pemiliknya. Dan ia boleh menempatinya sampai kelak ia harus menyerahkannya kembali.

Maka ia pun membuat rumah sederhana sekedar untuk berteduh. Ia selalu ingat bahwa tanah itu pinjaman. Dan karenanya ia menabung untuk bisa membangun rumah sendiri di kampungnya.

Orang yang kedua, asal serobot saja. Dia pun membangun rumah di atasnya. Kian tahun rumah itu dibesarkan. Bahkan ditingkat dan megah.

Sampai saatnya tiba pemiliknya datang dan mengambil tanahnya. Ada dua sikap yang jauh berbeda.

Orang yang pertama mengucapkan terimakasih karena ia sadar dengan kemurahan pemilik tanah ia bisa berteduh di perantauan bertahun- tahun dan telah bisa menyiapkan rumah sendiri.

Orang yang kedua marah dan murka. Karena ia merasa kehilangan rumah yang selama ini ia gunakan dan nikmati. Dan ia tak punya apa-apa lagi selain rumah yang akan dihancurkan itu.

Dia juga berfirman dalam surat Al-Hadid ayat ke-20,

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS Al-‘Ankabut: 64).

Apa yang kita miliki di dunia ini hakekatnya adalah pinjaman. Dan saatnya nanti akan diambil kembali oleh Allah SWT. Kita akan ke kampung sejati kita di akhirat.

Sudahkah kita menyisihkannya dan menyiapkannya dengan baik? Ataukah semua kita habiskan untuk kebanggaan dunia kita semata yang sebentar akan kita tinggalkan?

HANIFULLAH HANNAN

Syahadat Selamatkan Jiwa dari Mental Cengeng dan Manja

0

JAYAPURA (Hiidayatullah.or.id) — Meneguhkan dakwah di perbatasan, tidak cukup hanya memberi perhatian kepada dai, tetapi juga daiyah.

Oleh karena itu di Papua, tepatnya Holtekamp Jayapura, para daiyah dalam sepekan sekali disediakan ruang upgrading agar senantiasa siap memberikan support terbaik bagi dakwah di Papua.

Dalam hal ini hadir sebagai narasumber Ketua DPW Hidayatullah Papua, Ustadz Muallimin Amin. Pada momentum itu beliau tegaskan pentingnya memahami syahadat.

“Ketika kita sudah berikrar, sudah menyatakan janji setia kepada Allah Ta’ala dengan ucapan syahadat, berarti dia sudah siap diatur oleh Allah Ta’ala,” katanya saat memberikan materi pengarahan di Kampus Hidayatullah Jayapura, Sabtu (22/2/2020)

Ibarat kalau di pengadilan, lanju dia, ada perkara yang akan diputuskan vonis, maka itu sangat dipengaruhi oleh adanya orang yang menjadi saksi. Saksi itu boleh menyatakan diri sebagai saksi jika memiliki bukti.

“Kalau saksi ini membawa bukti palsu, tidak sesuai dengan kenyataan, maka saksi itu langsung bisa dipenjara. Karena ia bersaksi secara palsu,” urainya.

Muallimin menerangkan, bahwasanya idealnya orang Islam total dan siap diatur oleh Allah. Kalau tidak maka kerugian sudah pasti.

“Jadi, kalau kita bersyahadat lantas tidak siap diatur oleh Allah, maka persaksian kita belum seutuhnya,” imbuhnya.

Di sinilah pentingnya lanjut Muallimin kita mengenal Shirah Nabawiyah agar mengerti bagaimana syahadat bekerja di dalam hati dan pikiran mereka.

Pria yang merupakan ayah dari 6 anak itu menegaskan hanya dengan syahadatlah perubahan bisa diwujudkan.

“Harapannya sederhana, kita memiliki perubahan-perubahan nyata dalam diri kita. Jadi, Islam-nya bukan lagi sekedar tahu, tapi dialami, dirasakan indah dan nikmatnya,” tegasnya.

Lebih dari itu, pria yang telah malang melintang di Papua itu menegaskan bahwa dengan syahadat yang benar, yang kuat, maka tidak akan ada lagi karakter negatif dalam diri, seperti mental cengeng dan manja.

“Islam tidak mengajarkan kemanjaan dan kecengengan. Tapi sebaliknya, bangkit dan tandang ke gelanggang. Kalau sedih mengadu kepada Allah. Kalau bahagia, bersyukur kepada Allah. Shalat disiplin, mengaji rajin, dan mengamalkan ajaran Islam, bahagia hatinya,” tutupnya.*/ Imam Nawawi

Dr. Abu Aiman: Katakan Cinta dengan Selalu Berbahasa Arab

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Peradaban Islam tidak akan bangkit jika umat Islam masih jauh dari agama. Sedang agama itu hanya bisa dipelajari dengan baik jika orang itu memahami Bahasa Arab.

Hal itu dikatakan oleh Syekh Abu Aiman, pakar pengajaran bahasa Arab di hadapan ratusan mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan, Kalimantan Timur, Jumat (21/2/2020)

Menurut dosen senior STIBA Ar-Raayah, Sukabumi Jawa Barat tersebut, hari ini disyukuri dengan ramainya geliat Bahasa Arab diajarkan di madrasah hingga sekolah-sekolah umum di Indonesia. Namun, kualitas pengajaran tersebut perlu ditingkatkan lagi untuk mendapatkan hasil maksimal.

“Salah satu tantangannya, karena bahasa Arab kadang diajarkan dan masih bercampur dengan bahasa Indonesia atau bahasa daerah,” ucap Abu Aiman sambil mencontohkan beberapa kalimat yang sering digunakan.

Demikian itu, lanjutnya, hanya menjadikan orang itu sebagai guru bahasa Arab di tempatnya mengajar. Tidak akan berpengaruh kepada kebangkitan agama Islam. Sebab Al-Qur’an dipahami dengan bahasa Arab yang fushah.

Dalam kegiatan bertajuk “Daurah Peningkatan Pengajaran Bahasa Arab” tersebut, Abu Aiman juga menegaskan soal pentingnya lingkungan bahasa Arab di semua kalangan tanpa kecuali.

Hal ini diingatkan kembali, karena menurutnya sering salah dipahami. Seolah hanya mahasiswa atau santri saja yang wajib berbahasa Arab. Sedang guru atau dosennya bebas berbahasa lainnya.

“Katakan, antum berarti tidak mencintai saya, kalau ada yang masih mengajak ngobrol selain dengan berbahasa Arab,” ujar peraih Doktor Pendidikan Islam di Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor.

Diketahui, saat ini STIS Hidayatullah Balikpapan memiliki program khusus, Pendidikan Ulama Zuama (PUZ). Selain target hafalan al-Qur’an, salah satu keunggulan program ini adalah komunikasi bahasa Arab secara aktif 24 jam sehari.

“Ini langkah awal untuk menyemarakkan syiar bahasa Arab di Gunung Tembak. Semoga ke depan, ada kerjasama yang lebih erat antara STIS-PUZ dan perguruan tinggi lainnya, khususnya yang mengajarkan bahasa Arab secara langsung,” tutup Dinul Haq, penanggung jawab PUZ.*/ MS Daeng Situju

Hidayatullah Garut Kerjasama IMS dan Klinik 11 Duabelas Hapus Tato 54 Sahabat Hijrah

GARUT (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Garut dan Islamic Medical Service (IMS) menggelar acara hapus tato untuk Komunitas Sahabat Hijrah di Kabupaten Garut, Kamis, (20/02/2020).

Acara tersebut bertempat di Klinik 11 Duabelas Kp. Padesaan RT.01 Rw.04 Desa Situsaeur Kec. Karangpawitan, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Acara hapus tato, baksos, dan wakaf Qur’an tersebut dihadiri oleh Camat Karangpawitan, Rena Sudrajat, S.Sos, MSi, yang mewakili Wakil Bupati Garut, dr. Helmi Budiman, yang berhalangan hadir. Selain itu, juga hadir Danramil Karangpawitan, Kapten Inf. Deni, lurah, dan tokoh masyarakat.

Dalam sambutannya, Rena, mengapresiasi kegiatan hapus tato, baksos dan wakaf Al-Qur’an ini.

“Kegiatan ini sejalan dan merupakan realisasi dari visi misi kota Garut, yaitu kota yang beriman dan bertaqwa,” ujarnya.

“Kegiatan hapus tato merupakan salah satu aplikasi dari proses hijrah dan bukti nyata dari keimanan dan ketaqwaan. Pemerintah kota Garut sangat berterima kasih kepada DPD Hidayatullah, DPW Hidayatullah dan IMS yang telah mengadakan acara ini. Semoga ini bukan yang terakhir tapi berkelanjutan,” paparnya.

Ketua Bidang Pelayanan Umat DPP Hidayatullah, drg. Fathul Adhim, memaparkan kiprah IMS mulai dari kegiatan penanganan bencana, baksos kesehatan hingga hapus tato. Pendiri IMS ini juga mempunyai harapan agar IMS bisa hadir di Garut.

“Semoga IMS bisa bekerjasama dengan Klinik 11 Duabelas dalam rangka melayani kebutuhan kesehatan masyarakat di sini, “tuturnya.

Ketua Yayasan Asyahadataini Hidayatullah Garut, Ustadz Yayan Daryanto, menyampaikan rasa terima kasihnya.

“Alhamdulillah, saya sampaikan terima kasih atas kerjasamanya dari semua pihak. Saya tidak menyangka sambutan dari masyarakat khususnya komuntas sahabat hijrah yang sangat antusias. Semoga kegiatan ini mendapat ridha dan berkah Allah,” katanya.

Sementara itu, Ketua DPW Hidayatullah Jawa Barat, Dadang Abu Hamzah, Lc, menyampaikan bahwa ada tiga jenis hijrah. Ia mengutip pendapat Syaik Munawar Kholil. Pertama, hijrah tempat seperti Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah, kedua, hijrah amal yaitu dari yang tadinya tidak shalat jadi melaksanakan shalat dan sebagainya. Ketiga, hijrah pergaulan, yaitu dari pergaulan yang tidak baik menjadi baik.

“Dalam Al Qur’an dikatakan bahwa sesungguhnya orang yang beriman, orang yang berhijrah, berjuang di jalan Allah merekalah orang yang mengharap kasih sayang Allah dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” ungkapnya.

“Terima kasih kepada aparat dan masyarakat yang luar biasa menyambut acara ini. Semoga berkah,” katanya.

Alhamdulillah, sebanyak 54 sahabat hijrah dihapus tatonya. Mereka sangat berharap DPD Hidayatullah Garut dan IMS hadir kembali untuk mengadakan hapus tato lanjutan.

Peserta hapus tato ini bukan saja diikuti oleh warga dari Garut saja tapi ada juga yang dari Singaparna, Tasikmalaya, sekitar 30 km dari kota Garut.

Beragam kisah dari para sahabat hijrah, di antaranya seorang pria berinisial M (68 tahun). Ia merasa senang dengan kegiatan ini.

“Alhamdulillah, saya senang, bersyukur karena bisa sedikit mengobati rasa risau saya karena memiliki tato,” ujarnya.

Menurutnya, ia mengenal tato ketika frustasi setelah kecelakaan yang mengharuskan kakinya di amputasi. Tapi ia kemudian mulai mencoba bertaubat dan menjadi muadzin. Namun, ia mendapat cibiran orang.

“Itu membuat saya kembali ke jalan yang kelam. Akhirnya saya bertemu dengan komunitas jamaah tabligh yang mengantarkan saya untuk hijrah dengan sepenuh hati dan hingga akhirnya saya memutuskan untuk membersihkan semua tato yang ada di tubuh saya,” ujar kakek paruh baya ini membeberkan kisahnya.

Sementara itu, pria berinisial R (37 tahun), mengetahui kegiatan hapus tato dari media sosial.

“Saya ditato saat SMP, ikut-ikutan teman. Keinginan untuk dihapus sudah lama 15 tahun lalu tapi tidak tahu di mana dan mahal harganya,” ujarnya.

“Saya malu, dan ragu ibadah shalat tidak diterima, apalagi saat ini saya aktif di mushala,” kata pria asal Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya ini.

Acara ini terselenggara atas kerjasama IMS, DPD Hidayatullah Garut, DPW Hidayatullah Jabar, Baitul Maal Hidayatullah, Klinik 11 Duabelas, dan Yayasan Wakaf Al Qur’an Suara Hidayatullah. */Dadang Kusmayadi

Energi Kebaikan Akan Lahirkan Kebaikan, Abadi Senantiasa

0

DALAM kajian fisika, energi bisa diubah bentuknya, namun tidak dapat diciptakan atau pun dimusnahkan. Karena itu belakangan sempat santer istilah kekekalan energi.

Hal ini karena memang kehidupan manusia tidak bisa berlangsung dengan baik tanpa energi. Manusia misalnya, ia akan hidup selama sepekan saja jika sepanjang itu memutuskan tidak minum air sama sekali.

Air adalah sumber energi, air bisa dikerahkan menjadi sumber energi listrik. Air juga sumber energi hidup manusia bahkan alam semesta.

Menariknya, kehidupan manusia itu sendiri sebenarnya adalah energi. Setiap pikiran, ucapan, dan tindakan yang dilepaskan akan menjadi energi. Maka, Islam mendorong kita mencari teman (energi) yang positif, karena dengan cara itulah seseorang bisa terus positif energinya.

Hanya saja ia tidak bisa otomatis baik, perlu kesadaran, perlu perencanaan, kesungguhan dan keyakinan.

Energi Kebaikan

Ini sebuah kisah sekaligus fakta bagaimana energi kebaikan yang dilepaskan melahirkan gelombang kebaikan yang luar biasa.

Suatu waktu, seorang guru melihat muridnya pergi sekolah tanpa sepatu, kala itu tahun 1990-an di daerah Timika Papua.

Sang guru itu tidak bertanya, kenapa tidak pakai sepatu kepada murid sekolah itu. Ia malah balik kanan mengambil sepatu yang dimiliki kemudian diserahkan kepada murid itu.

“Sekolah harus pakai sepatu. Nah, ini sepatu, silakan dipakai sekolah,” ucap sang guru.

Sang murid hanya mengangguk dan tersenyum bahagia, lalu sekelebat berlari kencang dengan sepatu baru yang diterimanya.

Enam belas tahun kemudian, sang murid ini bertemu dengan sang guru.

“Assalamu’alaikum,” Ustadz. Masih ingat saya,” kata murid itu yang kini sudah berperawakan tinggi, bersih dan tampan.

“Tidak,” jawab sang guru singkat.

“Saya adalah Robi, saya adalah anak yang ke sekolah tidak punya sepatu, lalu, Ustadz kasih saya sepatu waktu SD,” ucapnya.

Seketika sang guru ingat. “Oh, itu kamu. Saya sudah lupa kejadian itu,” timpal sang guru yang diikuti gerakan salaman yang lebih erat dan pelukan hangat.

Guru itu mungkin tak pernah berpikir, energi positif yang dikerahkan hanya dalam bentuk memberi sepatu itu akan mendatangkan energi lebih besar lagi dikemduian hari.

Sang murid itu ternyata termotivasi belajar, ia kuliah di Surabaya, kini menjadi kepala sekolah di daerah Kudus Jawa Tengah.

Inilah bukti nyata, bahwa setiap kebaikan yang kita dayagunakan karena iman akan menjadi energi positif yang terus menghadirkan kebaikan dan pada akhirnya membanggakan.

Jauh-jauh hari sebelum manusia mengenal istilah dan dunia fisika atau apapun, Allah telah menegaskan di dalam Al-Qur’an.

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman: 60).

Jadi, untuk menjadi baik, hakikatnya kita butuh keyakinan. Karena referensi, data, fakta, bahkan teori yang kini berjibun dimana-mana tidak akan mampu mendorong manusia menebar energi positif, tanpa keimanan.

Maka, inilah saatnya kita kembali tunduk, percaya, patuh, dan yakin bahwa hanya perilaku baik kita semata yang akan menghadirkan kebaikan besar dikemudian hari.

Inilah spirit Ustadz Muhammad Sulthon yang disampaikan kepada Pemuda Hidayatullah Papua Barat yang melaksanakan Musyawarah Wilayah di Kaimana. Kebaikan itu akan menjadi energi besar kehidupan yang mengubah segalanya menjadi baik dengan idzin-Nya. Allahu a’lam.

*) IMAM NAWAWI, Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah

Belajar Dari Kesalahan yang Dilakukan Abu Lahab

Ada orang-orang yang dikaruniai segala kelebihan untuk beriman dan beramal shalih, namun mereka malah terjerumus ke jurang sebaliknya, yaitu kekufuran dan dosa-dosa. Allah memberinya kelebihan secara fisik, nasab, rezeki, pangkat, jabatan, tempat tinggal, dan lain sebagainya; akan tetapi segala karunia ini seolah-olah tidak ada pengaruhnya samasekali. Segenap kelapangan itu malah membuatnya semakin leluasa menantang Allah dan memusuhi Rasul-Nya. Bagaimana bisa?

BERKACALAH kepada sejarah, karena di sana banyak terdapat pelajaran berharga. Perhatikanlah ‘Abdul ‘Uzza bin ‘Abdul Mutthalib, atau kita lebih mengenalnya sebagai Abu Lahab. Tahukah Anda, bahwa ia punya segala kelebihan dan potensi istimewa untuk menjadi seorang muslim yang baik?

Namun, Allah justru murka dan memvonisnya sebagai penghuni neraka, padahal ia sendiri masih segar-bugar dan berkeliaran ke sana ke mari di muka bumi.

Allah berfirman dalam surah al-Lahab, “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya ia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak ia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, si pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.”

Menurut berbagai riwayat, surah ini turun kurang lebih 3 tahun sesudah kenabian, sementara Abu Lahab sendiri meninggal tidak lama setelah Perang Badar, yakni pada tahun 2 H. Ada jarak tidak kurang dari 12 tahun sejak turunnya vonis tersebut dengan saat kematian Abu Lahab. Selama itu, ia masih bebas memprovokasi manusia untuk memusuhi dakwah Islam.

Konon, tokoh ini berwajah sangat tampan. Kulitnya putih bersih dan parasnya cerah bersinar, menyala penuh tenaga. Gelar Abu Lahab artinya ‘seseorang yang cahaya wajahnya laksana api sedang bergolak’, sebagaimana dikatakan Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya.

Di kalangan Quraisy, ia dikenal sebagai seorang konglomerat. Kekayaan Abu Lahab antara lain berkat perkawinannya dengan Ummu Jamil binti Harb (saudari Abu Sufyan), putri sebuah keluarga bangsawan yang kaya-raya. Mereka adalah pasangan pedagang sukses di Makkah pada masa itu.

Di saat bersamaan, Abu Lahab juga tetangga dekat Rasulullah. Di mana pun, sudah lazim bila orang-orang yang berkerabat tinggal saling berdekatan. Bagaimana pun, Abu Lahab adalah saudara Abdullah, ayahanda Rasulullah.

Tidak cukup sampai di situ, sebab ternyata dua putri Rasulullah adalah menantu Abu Lahab. Jadi, selain memiliki hubungan paman-keponakan, keduanya adalah besan. Ruqayyah dan Ummu Kultsum, dua orang putri Rasulullah, diperistri oleh dua anak Abu Lahab, yaitu ‘Utbah dan ‘Utaibah.

Pikirkan baik-baik fakta ini: apakah seorang ayah bersedia menyerahkan dua orang putrinya untuk diambil menantu oleh satu orang yang sama, bila dia tidak percaya dan mengakui kebaikannya?

Abu Lahab dan istrinya adalah profil-profil yang “nyaris sempurna”. Rupawan, kaya-raya, bangsawan, terkenal, dan disegani masyarakat. Akan tetapi, itu dulu sebelum Rasulullah menerima wahyu. Begitu beliau menyerukan Islam, seketika Abu Lahab menantangnya, dan karena itu pula martabatnya terhinakan.

Ibnu Mas’ud berkisah: tatkala Rasulullah memperingatkan kaum Quraisy dari azab yang pedih di akhirat bagi orang yang tidak beriman, Abu Lahab mengatakan, “Jika apa yang dikatakan anak saudaraku itu benar, maka aku akan menebusnya dengan seluruh harta dan anak-anakku.” (Sumber: Tafsir Zaadul Masir).

Kesalahan pertama Abu Lahab terletak dalam persepsinya terhadap kekayaan, juga kehidupan ukhrawi. Ia berpikir bahwa keberlimpahan materi akan membuatnya kekal dan bisa melakukan apa saja tanpa halangan, termasuk membebaskan diri dari azab Allah.

Cara berpikir Abu Lahab ini sebenarnya mewakili pandangan umum kaum tidak beriman di mana pun. Al-Qur’an sangat sering mengecamnya dalam surah-surah yang turun di Makkah, misalnya: “Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela. Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya.” (QS. Al-Humazah: 1-3). Kecaman senada dilontarkan dalam surah al-Balad: 1-7.

Tidak sedikit manusia yang terjangkiti virus serupa, termasuk sebagian kaum muslimin. Di atas segenap kelebihan dan karunia Allah yang ada padanya, mestinya ia makin mudah beriman dan beramal shalih, namun faktanya ia justru semakin kufur dan durhaka.

Bisa jadi berkali-kali ia telah berlibur ke Disneyland atau shopping ke Singapura. Sayangnya, ia merasa tidak punya waktu untuk mengunjungi Baitullah di Makkah. Ia punya waktu yang cukup untuk rapat-rapat dan wawancara, namun tidak sempat memenuhi panggilan adzan meski kurang dari 15 menit.

Ia memiliki anggaran milyaran rupiah untuk meraih simpati masyarakat dalam Pemilu dan Pilkada, namun enggan mengeluarkan 2,5 persen dari hartanya untuk Zakat Maal. Pesta pernikahan anaknya menelan dana ratusan juta rupiah, namun tetangganya tenggelam dalam kemelaratan.

Inilah “keturunan” Abu Lahab di zaman modern. Ia kaya, terkenal, rupawan, berpangkat, namun mentalnya keropos dan pikirannya picik. Sekilas kita menganggapnya sebagai pribadi yang “sempurna” dan pantas dicontoh. Profilnya sangat sering diliput media massa, sehingga masyarakat pun berdecak kagum. Belakangan terbukti jiwanya rapuh dan pikirannya menyimpang. Kehormatannya rusak dan martabatnya pun jatuh bahkan ketika ia masih segar-bugar, persis seperti Abu Lahab.

Beberapa saat lalu ia begitu dipuja, sekarang telah meringkuk di penjara, dan entah bagaimana nasibnya di akhirat nanti. Tampaknya, Allah hendak memberi pelajaran agar kita tidak bernasib sama dengan mereka. Maka, adakah yang mau mengambil pelajaran? Wallahu a’lam.

[*] Alimin Mukhtar.

Pemuda Hidayatullah Papua Barat Terus Kuatkan Kiprah

0

KAIMANA (Hidayatullah.or.id) — Ketua DPW Hidayatullah Papua Barat, Ust Muhammad Sulthon, mendorong segenap pemuda Hidayatullah Papua Barat untuk melanjutkan dan terus menguatkan kiprah dalam membangun provinsi tersebut khususnya di bidang pengembangan kapasitas pemuda, penguatan dakwah dan pendidikan.

Hal tersebut disampaikan beliau kala membuka Musyawarah Wilayah (Muswil) I Pemuda Hidayatullah Papua Barat di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Kaimana, Papua Barat, Rabu (19/2/2020).

“Jika orangtua terdahulu, mampu melakukan ekspansi dakwah dengan modal 0,0 menaklukkan Papua, mengapa tidak pemuda saat ini,” katanya memberikan wejangan.

Papua ketika itu, kata dia, jangan dibayangkan dengan Papua saat ini. Faktanya, ini bisa diraih. Maka pemuda mestinya jauh lebih bisa, tantangnya.

Dia menambahkan, semangat Ketua Umum mengharapkan Pemuda Hidayatullah Papua Barat bisa memberi warna, setidak-tidaknya tiga tahun ke depan.

“Lihatlah sosok Ustadz Nashirul Haq, sosok muda yang kini memimpin guru-gurunya dahulu. Karena memang secara kapasitas memadai untuk menahkodai lembaga ke depan,” imbuhnya.

“Tidak boleh ada kata-kata ini tidak bisa. Harus berupaya, berdoa, biar Allah yang menolong kita. Berangkat dari niat yang tulus, diawali dengan bismirabbik, insya Allah tidak ada persoalan,” pesannya lagi.

“Kita harus bangkit, wujudkan inovasi, kreativitas, dinamis, punya pandangan segar dan berkembang. Bekali diri kita dengan 7 azimat Surah Al-Muzzammil,” tambahnya.

“Ya mungkin sudah setiap waktu baca Qur’an, sudah berdakwah, sudah tampil ke gelanggang, tapi jangan sampai itu pernah semua dilakukan dan kala sampai di rumah, terpental-pental, tidak bisa dijadikan sebagai teladan,” pungkasnya menukil pesan yang sering disampaikan Pimpinan Umum Hidayatullah.

Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah telah menetapkan ketua dan Pengurus Wilayah Pemuda Hidayatullah Provinsi Papua Barat periode 2020-2023 dalam Musyawarah Wilayah I Pemuda Hidayatullah Provinsi Papua Barat, Kamis (20/2/2020).

Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah, Imam Nawawi, membacakan SK penetapan Pengurus Pusat tentang Ketua Wilayah Provinsi Papua Barat periode 2020-2023.

Berdasarkan SK tersebut menetapkan Muhammad Nur Rumain Wahyuddin sebagai ketua wilayah Pemuda Hidayatullah Papua Barat dan didampingi Jamal Tafalas sebagai Sekretaris. (ybh/hio)

Kebun Ponpes Hidayatullah Depok Terapkan Teknologi 4.0

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Ada yang menarik dalam sistem pertanian hidroponik di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat. Pekarangan hidroponik yang terletak di bilangan Kalimulya, Kebon Duren ini, menggunakan teknologi 4.0 yaitu Internet Of Things atau IOT. Berikut liputan lengkap TV Tani Indonesia.