Beranda blog Halaman 554

Penguatan Sinergi Antara DPP Hidayatullah dengan PT Asyki

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Kantor Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Jln Cipinang Cempedak I/14 Otista Polonia Jakarta kedatangan tamu dari PT. Asuransi Syariah Keluarga Indonesia (Asyki), Senin (9/10/2017)

Rombongan jajaran Dewan Komisaris dan Manajemen lembaga asuransi yang dibentuk oleh Tazkia Group dan Pondok Pesantren Sidogiri ini diterima langsung oleh Ketua Umum DPP Hidayatullah KH Nashirul Haq dan Sekretaris Jenderal Candra Kurnianto serta didampingi jajaran lainnya seperti Kabid Perekonomian Asih Subagyo, Kabid Tarbiyah Tasyrif Amin, Kabid Pelayanan Umat Fathul Adhim, Kabid Organisasi Khairil Baits dan Bendahra Umum Wahyu Rahman.

Turut hadir bersama dalam rombongan tersebut adalah Komisaris Utama PT Asyki KH Abdul Madjid dan Komisaris Utama PT Asyki Sarana Sejahtera (Pialang) KH Bashori Alwi.

Keduanya adalah termasuk jajaran masyayikh yang mengasuh di Pondok Pesnatren Sidogiri. Dalam kesempatan kali ini beliau hadir sebagai jajaran Komisaris yang mewakili Pesantren.

Dalam pengantarnya, Agus Siswanto yang mewakili rombongan Asyki, mengatakan bahwa kehadiran tim Asky kali ini adalah sebagai tindak lanjut dari MoU antara DPP Hidayatullah dan Tazkia Group tahun lalu, yang dilanjutkan adanya PKS (Perjanjian Kerja Sama) dengan Asky, untuk membentuk unit palang asuransi.

Ketua Bidang (Kabid) Perekonomian DPP Hidayatullah Asih Subagyo selaku tuan rumah dalam pengantarnya menyampaikan ucapan terima kasih dan ihtiram atas kehadiran PT Asyki dan terutama masyayikh dari PP Sidogiri.

“Ini merupakan jalinan ukhuwah yang diharapkan akan terus membesar di berbagai bidang. Keterpurukan umat Islam dalam hal ekonomi misalnya, merupakan tanggung jawab bersama,” kata Asih dalam pertemuan silaturrahim yang berlangsung hangat tersebut.

Menimpali sambutan sebelumnya, KH Abdul Madjid menyampaikan bahwa, “Sidogiri ini kalau ketemu Hidayatullah, seperti ikan ketemu air. Klop“.

Dalam pada itu, KH Abdul Majid pula memaparkan pentingnya membangun jalinan sinergi umat. Menurutnya, kita tidak boleh memandang asuransi ini sebagai bisnis an-sich.

“Jangan banyak berdebat soal dalil, yang jelas semua sudah dikaji. Tetapi semangat taawun, tolong-menolongnya itu yang dikedepankan kan. Bahwa ini adalah langkah awal menuju tegaknya ekonomi Islam,” lanjut KH Majid seraya mengutip kaidah ushul fiqh مَا لاَ يُدْرَكُ كُلُّهُ لاَ يُتْرَكُ جُلُّهُ

“Apa-apa yang tidak bisa dilakukan semuanya, jangan ditinggalkan semuanya”.

Beliau juga menambahkan bahwa Dr. Cholil Nafis, Ketua Komite Dakwah MUI pusat, yang merupakan alumni PP Sidogiri adalah salah satu Dewan Pengawas Syariah di Asyki.

Senada dengan itu, Komisaris Utama PT Asyki Sarana Sejahtera (Pialang) KH Bashori Alwi menerangkan bahwa salah satu misi dari PP Sidogiri ini adalah Khidmad lil Ummah. Sehingga, kata dia, seluruh amal usaha dan aktifitas PP Sidogiri itu, dalam rangka ke sana.

“Mengabdikan diri untuk kepentingan umat di berbagai aspek kehidupan. Sehingga dengan Hidayatullah nanti, bisa diupayakan kerjasama di berbagai hal termasuk dakwah, pendidikan dan sebagainya,” harap KH Bashori.

Direktur Utama PT Asuransi Syariah Keluarga Indonesia Zaenal M Falah yang turut hadir dalam pertemuan tersebut menyampaikan bahwa kehadiran Asky itu sebagai komplementer BPJS.

“Sebab kehadiran BPJS itu berlandaskan UU, sebagai warga negara yang baik, dan sebagai muslim yang taat, kita dituntut untuk menaatinya. Tentu secara kritis kita bisa mempertanyakan banyak hal. Dan Asyki hadir untuk menjawab berbagai pertanyaan kritis itu,” jelas Zaenal.

Sebagai penutup, Ketua Umum DPP Hidayatullah KH Nashirul Haq, menyampaikan, dengan spirit “wahjurhum hajron jamiila” sebagaimana dalam Surah al Muzammil, beliau katakan bahwa kita tidak usah mengutuk yang tidak baik, tetapi kita wajib hadirkan solusi yang lebih baik, yang sesuai dengan apa yang kita inginkan.

“Dan Asky ini, Insya Allah, merupakan jawaban. Apalagi secara visi dan misi PP Sidogiri sebagai pemilik Asyki ini, sejalan dengan Hidayatullah,” tandas beliau.

Turut juga hadir dalam pertemuan tersebut Komisaris PT Asyki Sarana Sejahtera Muhamad Yasid, Corporate Secretary Muhammad Hafiludin, Business Development Junaidi, Busines Development Muhtar Ginting, Direktur Operasional Pialang Asyki Erwin Kinusi dan Strategic Alliance Dian Agus Siswanto. (ybh/hio)

Menyongsong Hadirnya Baitut Tamwil Hidayatullah sebagai Penyokong Ekonomi Umat

ILUSTRASI: Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menggelar Rapat Kordinasi Nasional (Rakornas) Ekonomi Hidayatullah yang berlangsung di Pesantren Hidayatullah Surabaya, Jawa Timur, mengusung tema “Mensinergikan Potensi Menuju Kemandirian Ekonomi” Jum’at (10/03/2017).

Oleh Saiful Anwar, ME*

DALAM waktu yang tidak lama lagi, akan segera berdiri Baitut Tamwil Hidayatullah (BTH) di lingkungan Kampus Induk dan Kampus Utama Hidayatullah.

Bahkan, kedepan BTH akan didirikan diseluruh kampus Hidayatullah untuk melengkapi infrastruktur peradaban yang sedang dibangun selain beberapa bidang yang sudah kita garap.

BTH merupakan bagian dari desain besar program bidang perekonomian Hidayatullah.

Dalam konsep Hidayatullah Global Finance (HGF), yang merupakan representasi dari Konsep Baitul Maal dimasa Nabi, kedepan BTH akan berdiri sejajar dengan infrastruktur lembaga keuangan lain di Hidayatullah seperti Baituz Zakah Hidayatullah (BZH), Baitul Wakaf Hidayatullah (BWH), Baitut Takwin Hidayatullah (BTkH), Baitut Tijaroh Hidayatullah, Baitul Masyruk dan lain sebagainya.

Oleh karenanya, BTH tidak dalam bentuk Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) seperti umumnya. Karena BMT menjalankan fungsi baitul maal sedangkan fungsi maal bagi BTH nanti akan digarap oleh baituz zakah.

Lalu mengapa BTH harus dihadirkan?

Setidaknya ada 3 alasan: 1). Sebagai amanat program organisasi bidang perekonomian, 2). Ikhtiar melengkapi bangunan peradaban Islam yang hari ini tengah dibangun, 3). Sebagai lembaga bisnis yang akan mensupport dan memobilisasi dana maupun usaha organisasi dan para kader yang hari ini telah banyak terlibat dalam dunia bisnis yang dipastikan membutuhkan modal.

Jika tidak difasilitasi lembaga keuangan syariahnya, kader akan memanfaatkan jasa dan produk lembaga keuangan konvensional. Ini bentuk riba yg akan mengakibatkan banyak petaka.

Bagaimana BTH hadir dan beroperasi?

BTH akan didirikan dengan badan hukum Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS). Oleh karena itu dalam operasionalnya, BTH akan melayani anggota dengan produk dan jasa yang syar’i. Diawasi oleh Dewan pengawas syariah (DPS). Produk utama BTH adalah simpanan dan pembiayaan syariah.

Berbasis Halaqah
Desain BTH merupakan aplikasi dari program ekonomi keummatan. Dimana setiap kader atau jamaah diwajibkan berkontribusi melalui halaqah-halaqah yang ada.

Mekanisme keanggotaan melalui rekomendasi murabbi halaqah. Begitupula dengan proses pengajuan pembiayaan modal usaha. Didasari rekomendasi murabbi halaqah.

Dengan sistem seperti ini diharapkan dapat meminimalisir resiko kemacetan pembiayaan, menambah fungsi kontrol anggota, meningkatkan kedisiplinan mutarabbi dan meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian ekonomi jamaah dan umat. Sebagaimana dicitakan pada Rakernas Hidayatullah 2016 di Yogjakarta.

Bagaimana kader berpartisipasi? BTH berdiri dengan badan hukum koperasi, dimana jumlah pendiri minimal terdiri dari 20 orang. Dengan modal yang disepakati dalam simp pokok, wajib dan pokok khusus.

Disinilah peran para kader dan jamaah dalam proses pendirian BTH ini sangat diharapkan. Selain itu para pendiri yg juga sebagai pemilik inilah yang juga harus mendukung pertumbuhan BTH tersebut dengan menempatkan dana dalam simpanan di BTH maupun mengajukan kerjasama pembiayaan untuk pengembangan usaha kader. Sehinggi prinsip utama BTH adalah dari jamaah oleh jamaah dan untuk jamaah.

Jika hal ini disadari oleh seluruh jamaah akan pentingnya BTH hadir di tengah kampus Hidayatullah, pertumbuhan BTH akan berjalan sangat signifikan.

Harapanya dapat mewujudkan jamaah yang semakin berayariah dan sejahtera, melalui lembaga keuangan syariah yang sehat dengan layanan terbaik oleh sumbar daya manusia yang bertakwa dan kompeten.*

_______
*) SAIFUL ANWAR, penulis Trainer Hidayatullah Micro Finance (HMF) dan Direktur BMT Amanah Kudus, Jawa Tengah.

Laznas Baitul Maal Hidayatullah Salurkan Air Bersih ke Kawasan Dilanda Kemarau

LOMBOK TIMUR (Hidayatullah.or.id) – Hingga Oktober ini, sejumlah kawasan di Indonesia masih dilanda kemarau panjang. Krisis air bersih dengan hadirnya musim kemarau panjang kini dampaknya telah dirasakan warga.

Di antara yang terdampak adalah sejumlah desa di Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timut. Tak ayal, kedatangan air bersih adalah anugerah besar bagi mereka.

Itulah pemandangan yang tersaji kala tim Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) BMH bekerjasama dengan Aliansi Umat Islam Nusa Tenggara Barat (AUI NTB) hadir menyalurkan amanah air bersih.

“Mereka pun rela mengantre untuk menerima pembagian air bersih,” terang Kepala BMH Perwakilan NTB, Abdul Kholik.

Suasana itu terlihat saat pembagian air bersih secara gratis di Desa Pemongkong Kecamatan Jerowaru, Rabu (04/9).

Warga mengantre dengan membawa sejumlah jerigen maupun ember untuk menampung air bersih. Mereka pun rela membawa beban berat dari tempat penampungan air yang sudah terisi.

Antusiasme warga dalam menerima pembagian air bersih itu dikarenakan mereka mengalami krisis air bersih akibat kemarau panjang. penampungan air milik mereka telah mengering.

Kesulitan itu dipengaruhi juga karena kemarau panjang yang terjadi setiap tahun. Hal itu tentu tak dapat memenuhi kebutuhan air bersih setiap harinya.

Salah seorang warga yang ikut mengantre pembagian air bersih, Inaq Miyah (56 tahun), mengaku sangat terbantu dengan adanya penyaluran air bersih yang dilakukan oleh Laznas BMH tersebut. Dia mengatakan, sejak lebih dari sebulan terakhir penampungan air telah kering.

“Dengan adanya pemberian bantuan air bersih ini jelas warga merasa sangat terbantu,” kata Inaq Miyah.

Inaq Miyah dan warga lainnya berharap agar pembagian bantuan air bersih tersebut dapat berlangsung secara intensif selama musim kemarau. Bahkan, jika memungkinkan, mereka meminta agar bantuan tersebut dikirimkan kepada warga setiap lima hari sekali.

Seperti diketahui, selain Desa Pemongkong, krisis air bersih juga melanda warga Desa Sekaroh dan 2 Desa Lainnya. Bahkan, warga di desa tersebut terpaksa harus merogoh kocek Rp. 4000-5000 per jerigen untuk kebutuhan mandi, mencuci piring serta pakaian.

Menyaksikan besarnya harapan warga, Program Sedekah Air Bersih ini akan terus digulirkan oleh BMH sampai hujan turun di wilayah Desa Pemongkong dan sekitarnya.

“Insya Allah dengan izin Allah kami BMH akan terus berupaya memberikan bantuan air bersih ini,” tandas Kholik.

Sementara itu, musim kemarau yang terjadi di beberapa tempat, khususnya di Kabupaten Semarang masih juga menyisakan kesulitan bagi masyarakat, terutama para Ibu rumah tangga yang memiliki anak kecil. Kebutuhan air bersih menjadi sangat urgen.

Hasil koordinasi BMH dengan Badan Penanggulangan Bencana Kabupaten Semarang, mengerucut pada Dusun Sengkrik, Desa Kalikurmo, Kecamatan Beringin, Kabupaten Semarang yang menjadi titik tujuan distribusi.

“Alhamdulillah, Jum’at (06/10) BMH dapat menyalurkan 11.000 liter air bersih, dengan total penerima manfaat 240 KK atau mencapai 1000 Jiwa,” terang Miesel yang diamini Ngalim Amil BMH Semarang.

Hal tersebut mengundang rasa gembira masyarakat. Ibu Nikma (29) mengatakan, “Saya bersyukur sekali, hari ini (Jum’at, 06/10) mendapat kiriman air bersih dari BMH. Kekeringan ini sudah kami rasakan sejak 3 bulan yang lalu,” tutur Ibu dua Anak itu.

“Bantuan ini sangat bermanfaat bagi warga, terima kasih kepada BMH yang telah mengirimkan air bersih di dusun kami, dan semoga ini bukan bantuan yang pertama dan terakhir,” harap Kepala Dusun Giono (47), Dusun Sengkrik.

Selain sedekah air bersih, BMH tetap menjalankan program rutinnya, yakni berupa sedekah nasi di setiap hari Jum’at.

“Alhamdulillah, Sedekah Nasi setiap Jum’at, kembali BMH aktifkan.Semoga setiap hari Jum’at dapat bersilaturahim ke masjid-masjid pingiran kota, khususnya Semarang dan sekitarnya dalam rangka menyalurkan titipan amanah para donatur.

Jum’at pekan lalu BMH mulai berbagi kembali sedekah nasi. Terlebih hari ini, dapat menyalurkan juga sedekah air bersih sebanyak 1100 Liter sebagai bentuk kepedulian BMH dalam membantu meringankan beban masyarakat.

Mohon do’anya semoga BMH selalu bersama umat dalam kerja-kerja amal sholeh seperti ini.” urai GM Perwakikan BMH Jawa Tengah Imam Muslim.

Sungguh kemarau adalah peluang bagi kaum beriman untuk membantu sesamanya terlepas dari kesulitan. Karena mereka yang memudahkan urusan kaum Muslimin, akan Allah mudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Insya Allah. (bmh/hrm)

Peran Kampus Hidayatullah dan Refleksi Penyucian Jiwa

0

Oleh Akib Junaid

AL-QUR’AN adalah kitab yang mulia lagi suci. Dan, tentu saja sangatlah berbeda dengan seluruh kitab/buku apapun di dunia ini.

إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ. فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ. لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ.

“Sesungguhnya al-Qur’an itu sangat mulia. Dalam Kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh). Tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan” (QS: Al Waqiah [56]: 77-79)

Maka, menjadi wajar bila “ruh/spirit” dari kandungan al-Qur’an itu hanya bisa terinternalisasi pada jiwa-jiwa yang “suci” yang pada gilirannya dapat mempengaruhi pola fikir dan cara pandangnya.

Bahkan Al Qur’an menjadi mesin penggerak dari seluruh aktifitas yang dilakoninya, agar tetap sejalan dengan apa yang “dikehendaki” oleh al-Qur’an itu sendiri.

Rangkaian perjalanan Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam sebelum menerima wahyu adalah proses pengkondisian. Agar begitu Wahyu diterima bisa langsung connect.

Dan, proses pengkondisian yang utama dilakukan Rasulullah, adalah menjaga kesucian hati. Ini makin diperjelas lewat proses pembelahan dada plus pencucian hati yang dialami oleh beliau saat usia 4 tahun.

Apa yang dilakukan oleh Hidayatullah dengan membuat kampus-kampus Pondok Pesantren dan seluruh miniaturnya di berbagai penjuru tanah air, salah satu fungsi utamanya, adalah terjemahan dari “pembelahan dada dan pensucian hati” dalam konteks kekinian.

Karenanya, aturan dan sistem yang dibuat sedemikian rupa dalam kehidupan berkampus. Hal itu dimaksudkan untuk menyiapkan para kadernya. Agar bila saatnya tiba, Wahyu itu mudah terserap ke dalam hatinya yang tentu saja bukan dimaksudkan sebatas teori, tapi bagaimana mempengaruhi paradigma berfikirnya yang otomatis mewarnai seluruh gerak dan aktifitasnya.

Ada keyakinan yang sangat kuat, bila tanpa dukungan lingkungan yang kondusif plus sistem yang melingkupinya, maka akan sangat sulit menginternalisasikan nilai-nilai Wahyu pada diri setiap calon kader.

Dan, bila tetap dipaksakan tanpa ada pengkondisian, niscaya al-Qur’an hanya sebatas menjadi ilmu, yang justru efeknya sangat bumerang bagi kelanjutan cita-cita membangun peradaban itu.

Dalam konteks pensucian hati, pada dasarnya setiap orang (tanpa kecuali) yang terlahir di dunia ini, terlepas dari kapan waktunya, di mana tempatnya, dan siapa orang tuanya, semuanya terlahir dalam keadaan suci, alias tidak membawa dosa warisan.

Namun, seiring dengan perjalanan waktu, pelan atau cepat. Setiap orang berpotensi “menodai” kesucian hatinya, dan inilah yang menjadi sebab utama, kenapa ayat-ayat al-Qur’an “tak bisa” mewarnai dirinya.

Kesimpulan

Tingkat kesucian hati seseorang, akan berbanding lurus dengan kemampuan dia menyerap “spirit” dari setiap ayat yang diterimanya kemudian.

Dari sekian banyak “virus atau penyakit” yang berpotensi menodai kesucian hati seseorang, satu diantaranya dan ini sangat berbahaya, adalah keangkuhan (istilah yang populer di Hidayatullah adalah thagha’).

Hal tersebut merujuk pada rangkaian fase Pra -Wahyu dan juga ayat ke 6 dan 7 Surah Al-Alaq. Bahkan sabda Rasulullah menyangkut soal ini, sungguh sangat ekstrim.

لايدخل الجنة من كا ن في قلبه مثقال ذرة من كبر
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya ada kesombongan, walau sebesar biji zarrah” (HR. Muslim 2/89 dan At Tirmidzi 3/243)

Penggunaan kata zarrah sebagai analogi, menggambarkan tidak adanya toleransi sedikitpun terhadap “thaqa'” itu, sebab zarrah adalah simbol benda terkecil.

Dulu, zarrah diartikan dengan biji sawi, sebab itulah benda terkecil saat itu. Belakangan ditemukan atom, bahkan kemudian ada electron, terakhir string. Dan inilah yang dimaksud zarrah itu.*

_____
*) AQIB JUNAID, penulis adalah Anggota Dewan Mudzakarah DPP Hidayatullah

Hidayatullah Bantu dan Buka Posko Erupsi Gunung Agung

0

BALI (Hidayatullah.or.id) – Hidayatullah menyalurkan bantuan dan membuka posko penanganan korban erupsi Gunung Agung. Tim Hidayatullah Peduli ini meliputi Laznas BMH, Islamic Medical Services, SAR Hidayatullah dan lainnya.

Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah yang ada di sejumlah kabupaten kota di Bali juga terus bersiaga menerima dan menampung korban erupsi yang membutuhkan pertolongan.

Diketahui, Gunung Agung di Karangasem Bali telah ditetapkan berada dalam status “awas” sehingga warga pun mulai berbondong-bondong mengungsi.

Erupsi terakhir kali terjadi pada 18 Februari 1963 dan berakhir hingga 27 Januari 1964.

Berbeda dengan Gunung Merapi, erupsi Gunung Agung jauh lebih lama. Artinya keberadaan pengungsi benar-benar membutuhkan kepedulian dan uluran tangan kita bersama.

“Alhamdulillah sejak ditetapkan status awas pada 22 September 2017, tim BMH dan Hidayatullah Peduli sudah ada di lokasi telah mendirikan 4 posko pengungsian,” terang Direktur Program dan Pendayagunaan BMH Pusat, Dede HB.

Bahkan, jika dalam perkembangan erupsi berlangsung dalam jangka lebih panjang, BMH telah menyiapkan beberapa program solutif. Seperti pendirian sekolah darurat hingga sekolah gratis di sekolah-sekolah Hidayatullah di Bali.

Bagi masyarakat yang terpanggil membantu pengungsi erupsi Gunung Agung bisa langsung melalui posko yang ada di beberapa titik, atau melalui BMH Perwakilan Bali di Denpasar, maupun BMH Perwakilan di kota Anda.

“Sejauh ini BMH terus menyalurkan bantuan logistik dan persiapan program kesehatan sembari terus melakukan assesment untuk mengetahui kebutuhan lanjutan dari para pengungsi,” pungkas Dede.*/Dhia

Saatnya Kita Membela dan Beli Bank Muamalat Indonesia

0

Oleh Asih Subagyo

SEBAGAI salah satu nasabah Bank Muamalat Indonesia, saya tergerak untuk ikut menanggapi apa yang sedang dialami oleh Bank Syariah paling awal di negeri ini.

Memperhatikan dinamika yang ada, baik di media mainstream, maupun di media sosial, yang ternyata begitu hot, bahkan cenderung “liar” terhadap Bank Muamalat yang “dikupas” dari berbagai macam sudut informasi, data dan ulasan. Baik ulasan berdasarkan pakem yang ada maupun, ulasan yang out of the box.

Kesemuanya, seolah menjadi ramuan yang terasa lebih “nikmat.”Dari ini semua, terutama perspektif yang berbeda, dan melahirkan pendekatan yang berbeda, mendorong saya sebagai nasabah ikut berpendapat dalam konteks BMI ini.

Sebagaimana kita ketahui, Bank Muamalat Indonesia (BMI) adalah bank pertama yang menerapkan prinsip syariah dalam operasionalnya,di Indonesia. Perjuangan mendirikan Bank Pertama yang beroperasi sesuai syariah itu, melibatkan banyak pihak, sebagai representasi ummat Islam saat itu.

Ulama, pengusaha, birokrat dan umat islam, bahu-membahu bersinergi dalam membangun ekonomi umat. Sehingga terkumpul total dana sekitar Rp. 110 miliar, dana yang sangat besar untuk mendirikan bank, sebab saat itu berdasarkan Pakto 1998, modal untuk mendirikan bank, cukup Rp. 10 miliar(Anif, et all : 2014).

Melalui perjuangan yang panjang itu, maka Bank Muamalat resmi berdiri pada 1 November 1991, tetapi baru beroperasi penuh pada 1 Mei 1992.

Dan, dengan berdirinya Bank Syariah ini, menandai kebangkitan ekonomi syariah di tanah air.Sehingga wajar, jika kemudian umat merasa bangga dan ikut memiliki kehadiran BMI ini.

Meskipun semua itu ternyata masih belum berbanding lurus dengan keperpihakan secara nyata dari sebagian besar umat Islam sendiri. Artinya, dalam menempatkan dananya masih belum berada di Bank Syariah.

Kendati demikian, jika kemudian ada praktik-praktik di BMI yang menurut persepsi umat, dengan keterbatasan informasi yang dimiliki, dianggap tidak sesuai dengan syariah, maka umat akan reaktif, bahkan tidak jarang yang “menyerang”, melalui media sosial.

Dan, lagi-lagi ini tidak sekedar wujud dari sense of belonging, tetapi hal ini sudah merupakan dari manifestasi iman, karena bank syariah dianggap sebagai representasi dari penegakkan syariah melalui ekonomi syariah.

Meskipun kemudian kehadiran BMI sebagai bank yang dioperasionalkan sesuai dengan prinsip syariah ini, tidak selalu mendapat apresiasi yang positif. Ada saja yang “sinis” terhadap kehadiran BMI ini, dengan berbagai agumen yang diusungnya.

Tetapi sejarah membuktikan bahwa kehadiran BMI ini, pada akhirnya mendongkrak tumbuhnya industri keuangan syariah, dan bisnis syariah lainnya, yang menjamur dewasa ini.

Dan, inilah, yang seharusnya menjadikan modal bagi tumbuh kembangnya Sistem Ekonomi Syariah kedepan, bukan hanya sebagai alternatif, namun wajib menjadi pilihan.

Olehnya, terlepas apa latar belakangnya, sudah selayaknya umat Islam, menjadi pelaku dalam menggerakkan ekonomi Islam ini. Untuk itu, gagasan tentang implementasi praktek ekonomi Islam, mesti selalu dikontekstualkan.

Tuntutan Bisnis

Sampai saat ini, market share Bank Syariah masih berada pada kisaran 5% dari total Perbankan Indonesia. Dalam masa 25 tahun sejak didirkan BMI, meskipun tumbuh, namun belum signifikan. Diyakini, banyak faktor yang memengaruhinya, mengapa belum terjadi percepatan industri keuangan syariah ini.

Namum, salah satu penyebabnya adalah, hampir semua Bank Syariah (BS)aset dan modalnya masih kecil, maksimal berada di buku 2, dibandingkan dengan hegemoni Bank Konvensional. Dan, “modal kecil serta aset kecil” inilah, yang juga melanda BMI.

Disinilah sesungguhnya tantangan bisnis itu dihadapi oleh BMI. Sebenarnya BMI dan juga BS lainnya, juga terus mengalami pertumbuhan. Namun dengan market share yang kecil tersebut, maka pertumbuhannya tidak nampak, bahkan tenggelam dengan pertumbuhan bank konvensional.

Berdasarkan laporan semester I tahun 2017, kinerja BMI tumbuh dengan baik. Mengalami peningkatan perolehan laba, dan mengalami penurunan NPF. Artinya secara bisnis BMI sedang tumbuh dengan baik.

Sebagaimana yang sudah kita ketahui bersama, bahwa sesuai ketentuan regulator, setiap bank yang ingin bertumbuh besar, salah satu syaratnya harus memenuhi syarat dalam hal CAR (Capital Adecuacy Ratio). Dan, komponen utama dari CAR adalah modal.Bank tidak boleh berkembang lebih besar lagi jika syarat CAR tidak terpenuhi.

Artinya dengan modal yang dimiliki pada saat itu hanya bisa membuat bank berkembang sesuai dengan modal yang dimilikinya. Dalam satu sisi terdapat nilai positifnya, jika aset tumbuh dengan sehat maka bisa menggerus CAR. Artinya secara bisnis, BMI mengalami pertumbuhan.

Kita semua sangat ingin melihat Bank Muamalat ini tumbuh besar, bila perlu melebihi bank-bank konvensional yang ada, agar bisa memberikan kontribusi yang lebih besar kepada masyarakat dan umat. Namun dengan modal yg tersedia sekarang, BMI hanya boleh tumbuh seperti sekarang ini, tidak boleh lebih besar lagi karena keterbatan modal tadi.

Untuk kepentingan menambah kembali CAR, yang ditembuh oleh BMI adalah dengan melakukan right issue saham. Dengan adanya right issue ini, maka investor akan berebut membeli atau juga menghindar.

Ketertarikan orang membeli adalah, setelah melihat ROI/ROA (Return on Investment/Return on Asset). Jika ROI/ROA nya positif, maka sangat logis,jika kemudian investor berebut untuk membeli ini. Mereka (para investor) itu tentu melihat dari berbagai aspek, dan yang paling utama adalah dari spek bisnis.

Nah berangkat dari situ, maka wajar jika kedepannya BMI berencana untuk menerbitkan saham baru dalam rangka memperbesar modal tersebut sehingga bisa bertumbuh menjadi lebih besar lagi sesuai yang diharapkan oleh masyarakat (umat).

Untuk menerbitkan saham baru dalam rangka menambah modal yang ada sekarang (jadi bukan menjual saham dari pemegang saham yang ada sekarang, sebagaimana berita-berita di media masa), tentunya akan menawarkan terlebih dahulu kepada semua pemegang saham existing untuk menjadi membeli saham-saham yang nanti akan diterbitkan tersebut dengan istilah HMETD (Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu).

Heboh

Sebagaimana biasa, sebagian dari umat seringkali reaktif terhadap isu yang berkembang. Sebenarnya ini wajar, sebab sebagai wujud sayang dan keinginan serta rasa memiliki sebagaimana saya jelaskan di atas.

Dalam kaca umat, ada keinginan untuk untuk menerapkan syariat Islam secara kaaffah, termasuk di bidang perbankan syariah ini. Maka setiap hal yang disinyalir “mereduksi” syariat Islam, pasti direspon dengan berbagai cara.

Kehebohan ini, akan terus berlanjut dan akan menjadi bola liar, jika tidak ada respon positif berupa penjelasan dari BMI misalnya. Umat mencari pembenaran dan kebenaran melalui berbagai media, terutama media sosial.

Industri perbankan, yang sebenarnya sangat sedikit dipahami oleh umat, sebagaimana biasanya, mendadak kita jumpai pengamat perbankan ini, dengan sumber copy-paste, tanpa dibekali keilmuan yang memadai.

Namun, sebagai perusahaan terbuka, selayaknya BMI memberikan press release yang memberikan penjelasan, sejelas-jelasnya, sehingga tidak menimbulkan kebingunan umat. Dan ada panduan/ pedoman yang jelas untuk mensikapi hal tersebut.

Godaan

Ketika tuntutan bisnis melahirkan tantangan dan peluang, maka pada saat yang bersamaan, bisa juga mendatangkan godaan yang menggiurkan.

Godaan dimaksud adalah terkait dengan terpenuhi kebutuhan secara bisnis, berdasar rasio perhitungan bisnis, sebagaimana dijelaskan di atas.

Bukan hanya apa yang menjadi prasarat, tetapi lebih dari itu, mampu memberikan gambaran proyeksi dan proteksi masa depan yang menjanjikan.

Inilah yang saya maksud dengan godaan itu. Yaitu kehadiran PT Mina Padi Investana Sekuritas Tbk (PADI)yang menyatakan minat untuk menjadi pembeli siaga (standby buyer).

Meskipun beberapa waktu lalu santer terdengan bahwa PADI mau masuk ke BMI, namun beberapa hari belakangan ini pembicaraan terhadap PADI ini menjadi hangat.

Di berbagai media sosial, termasuk dibeberapa WAG (WhatsApp Group) yang saya ikuti diskusi tentang ini, dengan berbagai macam analisa bermunculan. Termasuk membahas siapa MP termasuk orang-orang yang menduduki sebagai eksekutif dan komisaris diperusahaan itu, yang diragukan komitmen dan keberpihakannya terhadap Islam.

Meskipun belakangan saya juga mendengar, bahwa ada orang-orang besar muslim, yang memanfaatkan PADI sebagai “vehicle” untuk masuk ke BMI. Kesemuanya masih samar, namun bahwa PADI sebagai standby buyer adalah sebuah kenyataan.

Sebagai pembeli siaga, tentunya masuknya PADI adalah menunggu dari bagaimana para pemegang existing saham melalui skema HMETD itu mengambil keputusan.

Jikalau nanti pemegang-pemegang saham existing tersebut, tidak berminat membeli saham-saham yang nantinya akan diterbitkan tersebut, maka langkah PADI akan menjadi mulus, jika ternyata pemegang saham membeli saham baru yang diterbitkan, maka langkah PADI untuk kali ini gagal.

Sebagaimana, kita ketahui, tawaran dari PADI sebagai standby buyer, adalah siap mengucurkan dananya sebesar Rp. 4,5T atau setara dengan 51% saham.

Proposal dari PADI ini, secara pragmatis merupakan jawaban secara perhitungan kalkulasi bisnis dimaksud. Namun benarkah ini akan menyelesaikan masalah, atau bahkan membawa musibah?

Butuh Proses

Namun sekedar untuk memberikan penjelasan alias informasi awal, bahwa MP saat ini sebagaimana tersebut di atas, baru pada tahap sebagai Standby Buyer / Pembeli Siaga, berkenaan dengan rencana peningkatan modal BMI tersebut.

Sebagai perusahaan publik (tbk), maka melalui keterbukaan informasi publik, PADI me-release rencana pembelian BMI tersebut.

Namun, sebagaiman ketentuan yang ada, maka existing shareholder diberikan prioritas untuk membeli namun apabila tdk terbeli oleh existing shareholder, maka PADI akan memiliki kesempatan untuk membelinya.

Tetapi untuk membeli saham yang baru diterbitkan tersebut, masih ada proses-proses yang harus dilalui, seperti kesepakatan harga, persetujuan OJK (otoritas Jasa Keuangan) dan lain-lain.

Selain itu, mengingat nilai pembeliannya adalah lebih dari sepuluh kali lipat modal PADI maka MP juga harus melakukan peningkatan modal terlebih dahulu.

Sebagaimana kita ketahui dari laporan Semester I tahun 2017 aset MP adalah Rp. 478,39M, sedangkan nilai transaksi saham yang akan dilakukan untuk mendapatkan 51% saham tersebut adalah Rp. 4,5T.

Dalam proses ini mungkin baru akan bisa diketahui, siapa sebebarnya ultimate shareholder Bank Muamalat, melalui MP. Dan sekali lagi ini butuh proses, butuh waktu, termasuk sumber dana dari MP untuk membeli saham BMI tersebut.

Sebagaiman kita ketahui melalui berbagai media, OJK juga akan mengkaji aksi korporasi PADI ini. Dimana OJK akan menimbang antara lain: menimbang kemampuan keuangan serta kredibilitas bakal calon pemegang saham BMI. Termasuk memperlebar size (menambah modal untuk pembelian saham) sebagaimana dimaksud di atas. Dan ternyata OJK pun masih belum menerima ajuan aksi korporasi tersebut.

Existing Shareholder adalah kunci

Dari penjelasan di atas, tentunya rencana penerbitan saham baru ini, termasuk pembelian oleh PADI adalah atas izin pemegang saham existing (existing shareholder). Artinya pemegang saham yang adaakan menentukan perubahan komposisi saham, sebagaimana jual beli saham biasa.

Pemegang saham existing harus peka terhadap keinginan umat tersebut. Tidak bisa lagi, para pemegang saham existing berkelit, bahwa hal ini hanya urusan bisnis an-sich. Tetapi dalam sekala tertentu, ini merupakan pembelaan atas tegaknya peradaban islam.

Jika kemudian umat dengan pengetahuan terbatas itu (meskipun tidak sedikit yang faham juga) bereaksi keras atas keinginan masuknya PADI sebagai pemegang saham (mayoritas) adalah sebuah kewajaran.

Spirit 212, yang diikuti dengan aksi-aksi berikutnya, beberapa waktu lalu, merupakan salah satu wujud dari bersatunya umat Islam, tidak hanya berdampak politis, namun mampu dikapitalisasi sebagai kekuatan ekonomi umat, tidak bisa di nafikan. Pemegang saham, harus memahami ini semua, sebagai energi positif bagi bangkitnya ekonomi umat.

Dari sini, maka sekalilagi seharusnya pemegang saham melihat semua ini sebagai sebuah “modal” yang patut diapresiasi, sehingga dalam HMETD, mereka justru mengambil langkah yang membuat umat semakin simpati atas BS, terutama BMI. Karena ada keberpihakan yang jelas terhadap umat Islam. Paling tidak, mereka tidak membiarkan pembeli saham baru kepada investor, yang diragukan keberpihakan terhadap umat.

Jika pemegang saham, gagal menghadirkan harapan umat ini, maka yang terjadi bisa jadi umat melakukan rush, menarik semua simpanan, melakukan take over semua pembiayaan dari BMI ke Bank Syariah lainnya.

Atau, lebih jauh dari itu, akan lahir kesimpulan bahwa tidak ada bedanya antara BS dan Konvensional. Jika ini yang terjadi, bukan menyelesaikan masalah tetapi membawa musibah. Na’udzubillah.

Beberapa Solusi

Ada beberapa solusi yang bisa ditawarkan, dengan satu semangat untuk mengembalikan kepemilikan BMI ke pelukan umat Islam Indonesia.

Sebagaimana dijelaskan di awal, spirit dari pendirian BMI saat itu adalah untuk memberikan akses permodalan bagi umat Islam Indonesia, untuk medekatkan dengan akses permodalan. Sehingga saat pendiriannya, 100% saham BMI dimilki oleh Umat Islam Indonesia.

Namun kini, setelah 25 tahun sejak berdirinya BMI, komposisi kepemilikan saham saat ini, sekitar 65% lebih dimiliki oleh pemegang saham asing. Meskipun semuanya masih mewakili institusi Islam. Baik oleh Islamic Development Bank, Bank Boubyan, Atwill Holding Limited, National Bank of Kuwait dan lain sebagainya.

Jika kondisi saat ini, dipandang sebagai momemtum, maka energi 212 yang terus membesar itu, merupakan potensi umat yang bisa diarahkan ke sini.

Disamping itu, jika pemerintah juga memiliki keberpihakan yang kongkrit terhadap ekonomi umat, maka saat ini, adalah momentum yang tepat untuk melakukan penempatan modal di BMI atau dengan berbagai regulasi dan skema yang tidak bertetangan dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

Tentu ada term and conditions, agar BMI lebih mengedepankan pembiayaan kepada umat Islam, Perusahaan milik Muslim serta Ormas Islam.

Beberapa solusi yang bisa kami tawarkan adalah sebagai berikut:

  1. Umat Islam melalui skema sebagaimana dilakukan oleh KS212, melakukan penghimpunan dana, dan selanjutnya dana yang terhimpun di KS212,dibelikan saham di BMI.
  2. Ormas Islam dan Pengusaha Muslim, secara mandiri maupun bersama-sama melalui MUI atau melalui Badan Usaha (Amal Usaha) yang dimiliki oleh Ormas, dan bisa juga melalui Perusahaan Investasi yang dimiliki pebngusaha muslim, dari dana yang dihimpun tadi, membeli saham BMI
  3. BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) dan LAZ (Lembaga Amil Zakat) Nasional, menerbitkan program wakaf tunai (wakaf uang/melalui uang), untuk menghimpun dana, dan selanjutnya konversi sebagai saham BMI
  4. Dana BPKH (Badan Pengelola Keuangan Haji), diinvestasikan untuk membeli saham BMI, dengan melihat potensi yang ada lebih dari Rp. 80T dana haji yang terkumpul, maka jika 10% (Rp. 8T) dibelikan saham BMI, maka BPKH akan menjadi pemegang saham pengendali.
  5. Dilakukan merger dengan Bank Syariah milik BUMN (baik dengan BUS maupun UUS), sehingga menjadi Bank Syariah terbesar di Indonesaia, tidak hanya di Buku 3, tetapi langsung melonjak ke-buku 4.

Tentu saja, kelima solusi ini memerlukan effort yang besar, dan tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak realistis. Perlu kajian yang komprehensip, baik dari sisi syar’i (fiqh) maupun pendekatan bisnisnya.

Namun jika tidak kita mulai dari sekarang dan ada ada upaya yang serius ke-arah sini, maka bisa jadi salah satu aset umat Islam, berupa Bank Syariah ini, akan lepas dan hilang dari pelukan umat Islam. Dan, kemudian menjadi bank yang bungkusnya adalah Bank Syariah, tetapi praktek, content, pemilik dan pelakukanya, jauh dari nilai-nilai ke-Islaman itu sendiri.

Kita tidak lagi bisa terus-menerus berteriak-teriak dipinggiran, sambil mengarahkan telunjuk kita ke BMI (atau BS lainnya), lalu dengan serampangan dengan mudah kita menguliti kekurangannya. Dengan enteng bilang bahwa BMI dalam ancaman kungkungan aseng dan asing, tanpa memberikan solusi.

Maka kini saatnya, kita ambil bagian (meminjam istilah Pak Heppy Trenggono) untuk ‘Bela sekaligus Beli Bank Muamalat Indonesia’. Semoga Allah memudahkan. Wallahu a’lam.*

_________
*)ASIH SUBAGYO, Ketua Bidang Perekonomian DPP Hidayatullah

Tabligh Akbar Halaqah Muharram Hidayatullah se-Sumatera

0

DUMAI (Hidayatullah.or.id) – Tahun baru Islam 1 Muharram 1439 hijriyah menjadi momentum evaluasi dan konsolidasi diri untuk menguatkan peran di masyarakat. Seperti yang dilakukan oleh kader Hidayatullah di Sumatera ini. Kali ini Halaqoh Muharram kader Hidayatullah se-Sumatera yang menghadirkan ulama kondang Ustadz Abdul Somad, Lc, MA, digelar di Dumai, Provinsi Kepulauan Riau, pada 12 Muharram 1439 (2/10/2017). Selamat menyaksikan:

[youtube width=”100%” height=”300″ src=”gljGHvOvY84?rel=0&autoplay=1″][/youtube]

Dr Abdul Mannan Hadiri Acara “Jatim Bershalawat” di Nganjuk

0

NGANJUK (Hidayatullah.or.id) – Ketua Dewan Pertimbangan Pimpinan Umum Hidayatullah Dr H Abdul Mannan hadir di Kota Nganjuk, Jawa Timur, memenuhi undangan dalam acara “Jatim Bershalawat”, belum lama ini (29/09/2017).

Acara yang digagas oleh Pondok Pesantren Sulaimaniyah Kertosono ini terbilang merupakan kegiatan terbesar sepanjang kegiatan shalawat di wilayah Kertosono.

Acara dimulai sekitar pukul 19.30 WIB dengan lantunan dari Group Ahbabul Musthofa pimpinan Habib Syech Bin Abdulqodir Assegaf.

Habib Syech yang didampingi Habib Ali Bin Abdurrahman Kwitang Jakarta ini sebelum menyapa jamaah Shalawat, sejenak mengunjungi Pondok Pesantren Tahfidz satu-satunya di Kabupaten Nganjuk itu.

Kehadiran Abdul Mannan yang turut membersamai Habib Syech beserta rombongan mendapat pengawalan khusus dari Banser dan Pagar Nusa di wilayah Kertosono dan sekitarnya.

Mengingat besarnya acara tersebut, dibutuhkan 100 lebih personil Banser TNI dan Polri. Serta keterlibatan IPNU-IPPNU Kertosono dalam kelancaran dan kesuksesan acara.

Shalawat Habib Syech dilaksnakan di sepanjang Jl Gatot Soebroto hingga Ds Pandantoyo Nganjuk. Antusiasme masyarakat yang hadir sangat besar. Di setiap sisi ruang tidak pernah kosong dari para jamaah Majelis Ahbabul Musthofa ini.

Lantunan syair Ya Hannana, Turi Putih, Kisah Sang Rasul, Sholawat Burdah,dan Sholatun Bissalamin Mubbin, selalu disambut oleh jamaah dengan baik.

Menutup acara, lagu kebangsaan Indonesia raya, Hari Merdeka, dan Garuda Pancasila dikumandangkan sebagai wujud kecintaan kepada Rasullullah tidak sampai melupakan kecintaan terhadap Tanah Air Indonesia sebagai landasan kuat meneguhkan Hubbul Wathon Minal Iman.

Shalawat bersama Habib Syech selain dihadiri santri Sulaimaniyah se Indonesia juga dihadiri Wagub Jatim Syaifulloh Yusuf, Kapolres dan Komandan Kodim Nganjuk. (ybh/hio)

Kerugiaan Besar Hamba Bila Enggan Berdoa pada Allah

0

TERDAPAT banyak kerugian yang akan didapatkan seorang hamba apabila ia enggan berdoa pada Allah Subhanahu Wata’ala. Dalam salah satu hadits Rasulillah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam, dikatakan:

قال صلى الله عليه وسلم:إِنَّهُ مَنْ لَمْ يَسْأَلٍ اللَّه يَغْضَبْ عَلَيْهِ-الترمذي

Artinya: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,”ٍSesungguhnya mengenai sebuah urusan, barang siapa tidak meminta kepada Allah, maka Allah murka atasnya. (Riwayat At Tirmidzi, dan ia menyatakan “hasan”)

Sesungguhnya ketika seorang hamba enggan berdoa untuk memohoan kepada Allah, maka Allah murka atasnya.

Hal ini karena ada dua kemungkinan, pertama hamba tersebut putus asa, dan yang kedua ia sombong, dan kedua-duanya adalah perbuatan yang dimurkai Allah Ta’ala.

Sebab itulah Al Halimi berpendapat bahwasannya hendaklah setiap hamba dalam sehari semalam jangan sampai tidak berdoa sama sekali, maka ia akan memperoleh murka dari Allah Ta’ala. Minimal jika seorang hamba meninggalkan amalan doa dalam sehari semalam, maka hal itu termasuk perkara makruh.

Hal inilah yang membedakan antara sifat Allah dengan sifat manusia. Jika Allah tidak diminta, maka Ia pun murka, sebaliknya manusia justru marah ketika ia diminta. (lihat, Faidh Al Qadir, 3/12)

Penggerak Pendidikan KH Amin Zaini Syafiuddin dan Perguruan Tinggi Hidayatullah

Dewan Pengasuh LPI Darul Ulum Banyuanyar, Pamekasan KH. Amin Zaini Syafiuddin, Lc, MA, menerima STIEHID Award 2017″ yang diserahkan oleh Anggota Dewan Pembina STIE Hidayatullah Ir Abu A’la Abdullah, M.HI / Dok

DEPOK (Hidayatullah) – Kyai kharismatik asal Pamekasan yang juga Dewan Pengasuh Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Darul Ulum Banyuanyar, Pamekasan, KH. Amin Zaini Syafiuddin, memuji perguruan tinggi Hidayatullah.

Menurut Kyai Amin Zaini, perguruan tinggi Hidayatulllah merupakan pilihan tepat untuk menjadi sarjana.

“Kalau mau kuliah di Indonesia bahkan di luar negeri, kecuali Makkah dan Madinah, tidak ada yang lebih tepat dan cocok kecuali kuliah di Perguruan Tinggi Hidayatullah,” kata Kyai Amin Zaini seraya tersenyum ketika berbincang dengan Waka II STIE Hidayatullah Hafidh Bahar, MM, belum lama ini.

Kyai yang juga Pimpinan IBTASIM Foundation ini menyebutkan alasannya. Kata beliau, perguruan tinggi Hidayatullah tidak hanya mengantar mahasiswa menjadi sarjana dan selesai urusan setelah wisuda.

“Tetapi mahasiswa juga diantar bagaimana agar menjadi manusia seutuhnya. Berguna bagi bangsa dan agama,” kata Kyai Amin.

Dan hal itu, lanjut beliau, semua telah disediakan perangkatnya dengan adanya kampus-kampus kurang lebih tiga ratusan cabang yang menyebar di seluruh nusantara.

“Semuanya diperhatikan dari proses pendidikan, nikah, rumah tangganya sampai pada bermasyarakatnya diarahkan oleh Hidayatullah. Unik memang,” imbuhnya.

KH. Amin Zaini Syafiuddin, Lc. MA, merupakan satu diantara empat penerima penghargaan “STIEHID Award 2017” dalam kategori Tokoh Penggerak Pendidikan Islam digelar di Aula Sarbini, Jalan Pusdika Raya Harjamukti, Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat, Sabtu (23/09/2017).

Saban tahun, Kyai Amin Zaini selalu memotivasi dan mendorong para santri yang jumlahnya ribuan agar melanjutkan studinya tidak hanya di dalam negeri tapi juga keluar negeri. Bahkan, beliau mengutus langsung beberapa alumninya untuk kuliah di perguruan tinggi tertentu.

Dedikasinya dalam membina dan mendidik tidak saja berbuah pada sebelas putra putri beliau yang empat darinya telah hafidz Qur’an serta 3 melanjutkan studi di luar negri.

Kyai Amin Zaini juga telah berhasil melahirkan ratusan bahkan ribuan kader umat peserta didik yang kini menyebar ke berbagai daerah di Indonesia juga luar negeri.

Selain itu, setiap tahun, sejak STIE Hidayatullah berdiri 2009 tahun pertama sampai saat ini, istiqomah mengirimkan santri-santrinya yang terbaik ke STIE hidayatullah.

Pada acara wisuda sarjana stara satu (S1) jurusan Manajemen dan Akuntansi STIE Hidayatullah memberikan penghargaan kepada para tokoh yang telah banyak memberikan kontribusi kepada masyarakat di bidang ekonomi, kesehatan, perjuangan dan pendidikan. (ybh/hio)