Beranda blog Halaman 555

Mindset Dunia versus Mindset Surga: Antara Kegelapan dan Kegembiraan

0

ALLAH Ta’ala menganugerahkan kelengkapan indera kepada manusia bukan tanpa sebab. Tak lain adalah agar kita memanfaatkannya semata-mata untuk membesarkan nama-Nya. Dan, sejatinya dalam hal apapun, termasuk pola pikir mestinya juga berada dalam koridor yang digariskan Tuhan.

Namun, sedikit yang masih enggan mengelola pola pikir (mindset) sesuai dengan digariskan Tuhan. Akibatnya kemudian, alih-alih menemukan kebahagiaan atau apa yang kemudian dipersepsi sebagai “kesuksesan”, malah melulu tak pernah puas dengan apa yang ada.

Kenapa kecemasan dan ketidakpuasan selalu ada? Tak lain karena pikiran yang dijejali beragam diktum yang mendekonstruksi kesejatian manusia itu sendiri, bahkan itu berlangsung di ruang intelektual. Tak pelak, kondisi ini mengantar kita keliru dalam melihat hidup dan menyikapi kehidupan nan fana ini.

Ketika duduk di bangku SMA, kita dicekoki oleh teori Auguste Comte yang dijuluki bapak sosiologi yang menyebut masyarakat yang maju adalah yang mendewakan berpikir logis-empiris, tidak lagi menganut Teologi sebagai bagian penting dari kehidupan ini.

Di bangku SMP, bahkan generasi muda mulai bersinggungan dengan pandangan-pandangan Adam Smith yang dijuluki Bapak Ekonomi. Teori Smith merasuk jauh ke dalam alam pikiran bawah sadar kita bahwa kebutuhan manusia tidak terbatas sementara sumber daya alam sangat terbatas. Sehingga tak heran lahirlah manusia-manusia serakah dan koruptif yang selalu merasa tidak pernah cukup.

Pada titik ini, jelas Barat keliru jika dijadikan sebagai acuan dalam membangun mindset hidup. Sebab, konstruk nalar mereka tentang manusia hanya sebatas pada hal lahiriyah dan empirik semata. Adapun nilai-nilai keagungan moral yang terdapat dalam ajaran agama sama sekali tak penting. Dibuang.

Bahkan, saking gelapnya peradabannya, mereka sampai mendeklarasikan “Tuhan telah mati”seperti dipopulerkan oleh tokoh sosialis Karl Max, yang –sangat menyedihkan- tak sedikit anak muda mengidolakannya.

Sebab itulah kemudian lahirlah term baru bernama “mindset surga” untuk menawarkan kepada khalayak pada nilai-nilai luhur yang sebetulnya sangat manusiawi dan universal . Dan apa yang disebut terakhir ini dapat digapai dengan akal yang sehat.

Mindset surga melihat segala hal dengan bingkai Ilahiyah sebab selalu ada hakikat di balik sesuatu. Misalnya makna dari peristiwa Nabi Nuh dengan bahteranya yang mengarungi lautan banjir yang menelan bumi. Peristiwa ini sejatinya penuh ibrah bagi pemilik mindset surga. Peristiwa tersebut sangat relevan dengan situasi dan kondisi umat Islam abad ini. Pertama, bahtera. Kedua, banjir.

Bahtera Nabi Nuh (As-safinatun Nuh) merupakan penyelamat satu-satunya bagi umat manusia kala itu. Sekarang mari kita berpikir adakah sesuatu yang dapat kita gunakan sebagai satu-satunya penyelamat kehidupan umat Islam modern, seperti bahtera Nabi Nuh?

Mungkin banyak orang tidak mengetahui, bahkan sebagian menganggapnya tidak perlu. Tetapi apakah mungkin Allah mengisahkan riwayat Nabi Nuh tanpa ada relevansinya dengan kondisi umat Islam sekarang? Tidak mungkin. Berarti ada relevansinya.

Karenannya, penulis berpandangan, bahwa bahtera Nabi Nuh di abad modern ini adalah masjid. Mengapa masjid? Selanjutnya jawabannya bisa dibaca di halaman 72-75 buku ini yang dipaparkan oleh penulis dengan narasi yang mudah dicerna.

Masih banyak lagi serpihan kisah untold story yang diketengahkan oleh penulis untuk membangun pemahaman tentang istilah mindset surga di dalam buku ini.

Catatan penulis pada bab-bab lainnya pun terasa sayang untuk dilewatkan karena sarat dengan kedalaman refleksi yang seakan menarik kita masuk ke dalam dimensi-dimensi dan menembus pola-pola. Juga memuat telaah yang memancing nalar seraya mengiringinya dengan perenungan yang mendalam.

Pada kesimpulannya, penulis membeberkan sejumlah hal yang juga nampaknya pelan-pelan telah luput dari perhatian umat khususnya pribadi-pribadi umat Islam. Buku ini disajikan secara reflektif yang berpadu dengan narasi teks yang terbilang akademis, yang ini dipengaruhi oleh latar belakang penulis sebagai aktifis dakwah dan yang dalam studi kersarjanaannya berkonsetrasi pada pemikiran Islam.

Kendati demikian, buku ini tetap recommended untuk dibaca oleh semua kalangan apalagi bahasa yang digunakan juga populer. Sangat tepat menjadi pendamping bagi kaum muda yang sedang mencari jati diri.

Nilai lebih lain dari buku ini adalah desainnya yang lux. Menggunakan font California FB dengan penerapan yang eye-catching. Pun dengan sampulnya yang emboss terbilang elegan dengan penerapan warna yang tak tumpang tindih.

Selain itu, penempatan kutipan di setiap bab pembuka, menjadi semacam simpul penegas arah tulisan sehingga akan lebih mudah diresapi. Ketukan paragraf satu dengan lainnya yang tak berapatan seperti umumnya buku-buku “berat” sangat memanjakan mata sehingga enak dibaca.

Lebih dari itu, kertas yang digunakan buku ini ternyata bukan kertas biasa, melainkan kertas imperial bookpaper dengan kualitas impor. Sekilas, nampak seperti kertas koran, tapi sangatlah berbeda sebab tidak mudah lusuh, kertas halus dan tegas. (ybh/hio)

Wantim MUI Serukan Gerakan Muhasabah untuk Kemajuan Bangsa​

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id – Anggota Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI), KH Nashirul Haq, mendorong semua elemen umat Islam melakukan muhasabah untuk kemajuan bangsa.

Hal itu diutarakan Nashirul dalam Rapat Pleno ke-20 Dewan Pertimangan MUI yang mengusung tema “Resolusi Umat Islam untuk 1439 H” yang berlangsung di Kantor MUI Pusat, Jalan Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (27/9/2017).

“Muhasabah untuk bagaimana membentengi umat kita dari ajaran dan ideologi yang menyimpang seperti sosalisme, komunisme, kapatalisme melalui tarbiyah dan dakwah secara sistematis dan sistemik,” kata Nashirul.

Nashirul menjelaskan, gerakan dakwah harus meneladani dakwah Rasulullah SAW yang memulai dari penanaman aqidah sebagai landasan utama.

“Materi dakwah juga harus syamil (menyeluruh), dan tidak parsial sehingga umat memiliki pemahaman yang utuh tentang Islam seperti konsep al wasathiyah dan kepemimpinan. Dari sinilah kita mencerahkan ummat tentang konsep kepemimpinan menurut Islam,” jelasnya.

Terkait dengan resolusi, Nashirul memandang perlu memuat penolakan terhadap komunisme dan seruan mengusung dan memilih pemimpin muslim yang memiliki kapabilitas dan integritas.

“Pertama, kita harus bersatu menentang kebangkitan komunisme di Indonesia. Kedua, menyongsong tahun politik 2018-2019 nanti, kita dorong partai-partai untuk mengusung calon pemimpin yang memiliki kriteria al quwwah wal amanah, yaitu memiliki kapabilitas dan integritas,” serunya.

Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI), Prof. Dr. Din Syamsuddin menyambut baik gagasan tersebut seraya menekankan pentingnya persatuan umat.

Selain perwakilan ormas Islam yang sekaligus anggota Wantim MUI, Rapat Pleno ke-20 tersebut turut dihadiri oleh pimpinan Wantim MUI lainnya yaitu Prof Dr Nazaruddin Umar dan Wakil Sekretaris Wantim MUI Natsir Zubaidi dan Bachtiar Nasir. (ybh/hio)

Kapolda Sulbar Narasumber Seminar Parenting Mushida

0
Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Barat (Kapolda Sulbar) Brigjen Pol Baharuddin Djafar saat menjadi narasumber seminar edukasi keluarga / Foto: Bashori

MAMUJU (Hidayatullah.or.id) – Polisi tidak saja mumpuni dan lumrah bicara tentang keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas). Ternyata polisi pun piawai membahas tentang kepengasuhan dan pentingnya ketahanan keluarga.

Demikianlah yang dilakukan oleh Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Barat (Kapolda Sulbar) Brigjen Pol Baharuddin Djafar saat didapuk menjadi pemateri dalam acara Seminar Edukasi Keluarga gelaran PW Muslimat Hidayatullah Sulbar di Kota Mamuju, Ahad (24/09/2017).

Seminar edukasi keluarga yang berlangsung di Hotel Pantai Indah Mamuju yang diselenggarakan Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatulah Sulawesi Barat berlangsung semarak. Apalagi dengan kehadiran Kapolda dengan pemarannya yang menyegarkan dan penuh semangat.

Kapolda Sulbar yang baru menjabat di wilayah tersebut sangat antusias dalam menyampaikan nasihatnya di hadapan ratusan peserta yang memadati Aula Hotel Pantai Indah.

Sosok yang dikenal familiar di lingkungan dan lingkup kerjanya yang sebelumnya menjabat sebagai Karopaminal Divprovam Mabes Polri ini mengaku sangat senang bisa beretemu dengan masyarakat melalui majelis-majelis ilmu sebagaimana perhelatan yang rutin digelar oleh Hidayatullah.

Bagi putra berdarah Enrekang yang dibesarkan di Bone Sulawesi Selatan itu menjadikan silaturahim sebagai hal pokok dalam mengemban amanah di mana saja ia bertugas. Termasuk ketika mantan Sesropaminal Divpropam Polri ini bertugas di Wilayah Sulbar ini.

“Hidayatullah adalah ormas pertama yang memberikan ruang dalam sosialisasi program kerjanya dan dikemas dalam sebuah acara Seminar Edukasi Keluarga,” kata mantan Kanit Reskrim Intel Polresta Pontianak Polda Kalimantan Barat ini.

Menurut Kapolda, kerjasama dengan Hidayatullah ini bukanlah yang pertama bagi Jenderal Bintang Satu yang rutin shalat berjamaah di masjid ini.

“Kejasama dengan Hidayatullah dengan program mainstream dakwah, pendidikan dan sosial merupakan aplikasi nyata di masyarakat dalam membentuk masyarakat yang paham dan taat hukum,” pungkas Baharuddin yang juga mantan Kabid Humas Polda Metro Jaya ini.

Kapolda mengatakan sangat antusias menghadiri acara ini. Beliau menekankan bahwa keamanan masyarakat berawal dari keluarga.

“Keluarga yang harmonis akan melahirkan generasi-generasi taat hukum,” katanya.

Lebih hebatnya lagi ketika didaulat menjadi narasumber dalam seminar walau dengan waktu yang sangat terbatas beliau mampu memukau peserta dengan statemen-statemen berkaitan dengan keluarga berdasarkan Al-Qur’an.

Kapolda memang bukan lulusan pesantren namun kedalaman ilmu agamanya tak bisa dipandang remeh. Kelima anaknya (4 putri dan 1 putra) dibesarkan dengan pembinaan agama yang ketat bahkan dia mengaku tak satupun anak gadisnya menikah dengan jalan pacaran. Cukup taaruf lalu dinikahkan, katanya.

“Lebih baik 70 orang melihat anak gadis kita lalu tak jadi menikah ketimbang satu orang tapi sudah diobok-obok lalu tak jadi pula menikah,” tegasnya disambut tawa hadirin.

“Orangtua punya tanggung jawab besar mengantarkan keselamatan keluarganya. Utamanya keselamatan kehidupan sesudah kematian,” tambahnya.

Statemen Kapolda ini sempat membuat peserta hening dan merenungkan kedalaman makna ungkapan tersebut. Tak lama kemudian kembali mencair dengan joke-joke segarnya yang dilemparkan tentang cinta yang membuat istrinya yang duduk di barisan terdepan tersipu malu.

Bertandem dengan trainer yang juga pemerhati parenting Islami, KH Zainuddin Musaddad, acara semakin menghangat hingga jelang shalat dhuhur waktu setempat.

“Sempurna sudah, betul kata pak Kapolda. Karena hanya melalui transformasi kekuatan besar saja ketika para kaum wanita memberikan asupan energi terbaiknya saat mereka menyusui pada proses itulah ada regenerasi kader-kader bangsa yang unggul,” kata Abah Zain, demikian ia karib disapa.

Selaras dengan materi yang disampaikan oleh tandemnya sebelumnya, keduanya menekankan betapa pentingnya membangun karakter anak melalui kekuatan cinta yang dirajut dalam kehidupan berumahtangga dan bermasyarakat dalam upaya meraih kehidupan yang haikiki sebagaimana tema acara “Merajut Cinta Meraih Surga”.

“Hingga contoh ringan yang dihadirkan ketika sang anak sudah candu dengan gadget dengan konten negatif yang harus diperangi bersama sebagai langkah memaksimalkan daya kerja otak anak agar tidak diasupi oleh penghalang hafalan al-Qur’annya,” kata Abah Zain.

Kedua pemateri yang saling menguatkan paparan itu mengakhirinya dengan kesimpulan; bahwa mendidik anak dan mengantarnya menjadi soleh adalah kerja yang membanggakan.
Hal ini harus dipahamkan kepada semua orangtua agar menjadi sahabat karib bagi anak-anaknya sebelum sang anak mencari teman dan tempat lain sebagai teman curhatnya.

Mencintai Keluarga

Sementara itu, pada prolog  Seminar Edukasi Keluarga yang dimoderatori oleh Murabbi Halaqah Hidayatullah Sulbar, Drs Muhammad Naim Thahir, di Hotel Pantai Indah Mamuju menekankan pentingnya membangun jalinan cinta yang sinergis antar sesama anggota keluarga terutama kepala keluarga.

“Cinta kita kepada istri itu merupakan keharusan bahkan wajib, namun jangan mengalahkan cinta kita kepada Allah Ta’ala,” demikian benang merah prolog tersebut.

Dikatakan Naim, mencintai orang terdekat bahkan tidur sama-sama harus mengutamakan nilai-nilai sunnah yang diajarkan oleh Nabiullah Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam.

Hingga ia mengandung dan sejak itulah kesempatan sang bapak memberikan pendidikan pertama kepada anak-anaknya. Dengan memperdengarkan tilawah qur’an sebagai rekaman perdana dalam hidupnya untuk mengawali kehidupan mereka di dunia ini.

“(Memperdengarkan lantunan Qur’an) ini bahkan lebih baik dari pada alunan musik-musik intrumental sekalipun,” kata Naim dalam prolognya mengawali acara.

Sehingga, katanya, pentingnya pendidikan keluarga harus dimulai dari figur ayah dan ibu yang sholeh karena dari dua pribadi itulah akan terlahir generasi yang dekat dengan Tuhannya.

“Maka di sinilah pentingnya mengajari setiap perempuan kepada agamanya agar kelak terlahir generasi yang shaleh. Mengapa masih terjadi fenomena ibu-ibu sering memarahi anak saat makan, belajar dan menjelang tidur. Fitrahnya, karena setiap ibu belum bisa mengontrol lisannya” katanya.

Hal tersebut, jelasnya, sebagaimana belum bisanya mengontrolnya mata bagi kaum bapak-bapak. “Contohlah sahabat Nabi, Ali Karramallahu wajhah yang “dikeramatkan” wajahnya yang sejak kecil menjaga wajahnya dari maksiat,” imbuhnya dengan semangat.

Sekira dua ratus peserta acara makin serius karena materi terus mengalir meneduhkan jiwa-jiwa yang haus akan nilai-nilai kebahagiaan dalam membina mahlligai rumahtangga.*/ Muhammad Bashori

Kodim TNI Boven Digoel Bantu Bangun Ponpes Hidayatullah

0

BOVEN DIGOEL (Hidayatullah.or.id) – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun TNI yang ke 72, Anggota Kodim 1711/BVD bersama masyarakat melaksanakan giat Karya Bhakti pembangunan gedung Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah yang berada di Jl. Trans Papua, Kampung Persatuan, Distrik Mandobo, Kabupaten Boven Digoel, Ahad (24/09/2017).

Kegiatan Karya Bhakti diawali dengan apel pengecekan oleh Lettu Inf Warsito (Pasi Ops). Selanjutnya pelaksanaan kegiatan yang dipimpin langsung oleh Pasiter Kodim 1711/BVD Lettu Inf Zabir dan diikuti oleh sebanyak 35 orang anggota Kodim 1711/BVD dan 15 orang masyarakat Boven Digoel.

Kegiatan Karya Bakti ini merupakan bagian dari serbuan teritorial dan pendekatan kepada masyarakat bahwa kehadiran TNI di tengah masyarakat adalah untuk membantu meringankan beban yang ada di masyarakat

Kegiatan Karya Bhakti ini ditinjau langsung oleh Dandim 1711/BVD Letkol Inf Raymond P. Simanjuntak, S.E., dan sekaligus memberikan dorongan semangat kepada anggota Kodim 1711/BVD serta masyarakat.

Dandim 1711/BVD Letkol Inf Raymond P. Simanjuntak mengatakan Tentara Nasional Indonesia (TNI) adalah bagian dari masyarakat dan akan selalu melekat dengan rakyat.

Sehingga, lanjut Raymond, kehadiran TNI bukanlah menjadi musuh akan tetapi TNI sebagai sahabat dan saudara yang peduli dan ingin membantu kesulitan ataupun masalah yang di hadapi masyarakat di sekelilingnya.

Dandim juga mengungkapkan rasa terimakasihnya atas kerja samanya dalam pelaksanaan pembangunan Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah, meskipun dalam kondisi cuaca hujan semangat prajurit tidak luntur. (Kodam XVII/Cen – Hidayatullah)

Sosialisai Empat Pilar MPR RI Ponpes Hidayatullah Samarinda

SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) – Wakil Ketua MPR RI Mahyudin mengatakan musuh utama bangsa adalah perpecahan, karena itu anak-anak bangsa perlu terus membangun komitmen persatuan demi menjaga keutuhan.

Hal tersebut disampaikan Mahyudin ketika memberi pengantar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan MPR RI kepada ratusan pelajar dan pemuda di Aula Masjid Al Iman Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Jumat (22/9/2017).

“Dengan Pancasila, kita bisa bersatu dan ini menjadi kekayaan yang kita miliki. Alhamdulillah bisa bersatu meskipun kita memiliki beragam jenis bahasa,” kata Mahyudin di hadapan ratusan hadirin.

Persatuan tersebut ditegaskan Mahyudin mesti menjadi hal yang senantiasa disyukuri dan dirawat dengan baik oleh anak-anak bangsa.

Sebab, sambung dia, jika melakukan napaktilas sejarah, tidak ada yang menduga negara sebesar Uni Soviet atau Yugoslavia bisa bubar dan terpecah menjadi beberapa bagian.

Mahyudin mendorong generasi muda khususnya kaum santri untuk membangun semangat kerja keras dan gotong oyong. Dia menyebut bangsa yang kalah adalah karena generasinya yang lemah.

“Cita-cita menjadi pemimpin harus disiapkan. Tapi kalau anda tidur, anda adalah pemimpi. Kalau anda bangun tidur dan anda bekerja, anda adalah pemimpi sejati. Saya dan kita semua ingin melihat bangsa ini menjadi bangsa yang besar. Tidak melulu menjadi bangsa konsumtif tapi harus produktif,” pesan Mahyudin.

Sebab itu, Mahyudin menyarankan, santri sebaiknya tidak saja bercita-cita menjadi ustadz tetapi harus juga bermimpi menjadi ahli di bidang lainnya seperti menguasai teknologi karena ancaman dan tantangan kebangsaan juga kian kompleks.

“Ancaman agama adalah radikalisme. Kita juga menghadapi tantangan korupsi dan narkoba,” imbuhnya.

Pada kesempatan tersebut Mahyudin menjelaskan juga mengenai lembaga negara Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), terkait fungsi dan tugas-tugasnya.

Selain memiliki tugas-tugas konstitusional, MPR jelas Mahyudin adalah lembaga negara yang mempunyai tugas menyosialisasikan Empat Pilar MPR RI ((Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika), sesuai perintah UU No. 17 Tahun 2014 tentang MD3 (MPR, DPR, DPD, dan DPRD) kepada masyarakat.

“Empat Pilar MPR RI telah mempersatukan Indonesia sebagai negara besar yang terdiri dari ribuan pulau, suku, budaya, dan bahasa. Karena kita punya Pancasila sebagai perekat bangsa yang majemuk ini. Masyarakat seharusnya menyadari itu. Masyarakat harus memahami Pancasila sebagai ideologi,” imbuhnya.

Mahyudin menjelaskan kepada para peserta sosialisasi, bangsa Indonesia saat ini sedang menghadapi tiga ancaman yaitu korupsi, narkoba, dan radikalisme.

Mahyudin menegaskan bahwa korupsi harus diperangi bersama, agar bangsa Indoneia maju sebab, terang dia, sekarang ini korupsi nampak sudah menjadi budaya. Korupsi terjadi baik di pusat maupun daerah.

Pada kesempatan tersebut hadir juga anggota DPR RI Hetifah Sjaifudian, Walikota Samarinda Syaharie Jaang, dan Dandrem 091/ASN Kalimantan Timur Brigjen TNI Irham Waroihan sebagai narasumber.

Hetifah dalam pemaparannya menerangkan Pancasila sebagai ideologi negara yang perlu selalu diresapi disegar-segarkan. Pancasila sebagai konstitusi negara menurut dia merupakan pemersatu kita.

Senada dengan itu, Walikota Samarinda Syaharie Jaang mengatakan kiprah dan nasionalisme Hidayatullah tidak diragukan lagi serta komitemnnya dalam menjaga toleransi umat.
Terbukti, kata dia, Hidayatullah di banyak tempat di nusantara hadir dan diterima dengan baik di tengah-tengah komunitas minoritas muslim.

Syaharie Jaang menyebutkan tantangan yang tidak ringan dihadapi saat ini adalah gempuran teknologi khususnya internet di mana kerap kali bekelindan berbagai informasi menyesatkan alias hoax yang berpotensi memecah belah.

Karenanya Jaang mengajak keluarga Indonesia untuk membendung pengaruh negatifnya dengan membudayakan Tri Sukses.

“Internet itu postif. Tapi kalau salah digunakan bisa negatif. Ada Tri Sukses yang harus kita canangkan yaitu Sukses dalam Keluarga, Sukses dalam mendidik anak dan Sukses dalam karir. Kelak kita akan menyosongsong generasi sehat, tangguh, berakhlak khususnya di Kalimantan Timur,” tukasnya.

Santri sebagai Penjaga NKRI

Dalam kesempatan yang sama, Komandan Korem (Dandrem) 091/Aji Surya Natakesuma Brigjen TNI Irham Waroihan yang menjadi pembicara pamungkas menekankan pentingnya kesadaran berbangsa dengan menyadari berbagai ancaman yang ada.

Brigjen TNI Irham Waroihan menekankan bahwa salah satu tantangan yang kita hadapai saat ini sebagai bangsa adalah ancaman proxy war atau perang yang diciptakan pihak ketiga yang sengaja membenturkan pihak-pihak lainnya. Dimana, kata dia, akan selalu ada upaya untuk mengadu dan membenturkan antar sesama anak bangsa.

Brigjen TNI Irham Waroihan menjelaskan, politik pecah belah (devide Te impera) telah lama dijalankan dan menyasar kita sesama anak negeri bahkan dilakukan jauh sebelum bangsa ini merdeka. Bahkan, hingga kini upaya tersebut terus berlangsung.

“Bahkan sesama angkatan TNI pun mau diadudoma agar kita sibuk saling ribut sendiri. Ini harus kita waspada. Jangan sampai kita dipecah belah,” tegasnya.

Irham mengatakan, isu disintegrasi pun menjadi ancaman yang harus diwaspadai oleh anak bangsa.

Brigjen Irham menegaskan, Indonesia yang luas dengan pulau-pulau yang disatukan oleh lautan harus kita jaga agar tidak dikuasai pihak asing.

Beliau menyatakan santri selalu terdepan dan berperan penting dalam sejarah Indonesia. Oleh karenanya, dia mendorong santri-santri Pondok Pesantren Hidayatullah harus selalu berada di garda terdepan dan dan benteng terakhir NKRI dalam menjaga aqidah dan akhlak.

“Kalau aqidah benar, pasti Islamnya benar, dan dalam bernegara juga pasti benar,” tegas dia.

Selain itu, Brigjen TNI Irham Waroihan menambahkan, gempuran teknologi informasi dengan turunannya berupa pornografi, gadget, media sosial, dan cyber bullyng juga menjadi satu hal yang tak boleh diabaikan dampaknya terhadap generasi bangsa.

Turut hadir pada kesempatan tersebut Ketua Yayasan Hidayatullah Samarinda KH Jamaluddin Ibrahim, tokoh agama dan ulama, anggota DPR RI Agati Sulie Mahyudin, Kepala Kesbangpol Samarinda Tejo Sutarnoto, dan Sekretaris DPW Hidayatullah Kaltim Abdullah Syarif yang sekaligus memoderatori acara itu. (ybh/hio)

Tahun Depan Pemkot Bangun Asrama Santri Hidayatullah Bontang, Plus Furniturenya

0

BONTANG (Hidayatullah.or.id) – Jika tak ada aral yang melintang, Insya Allah, Pemerintah Kota Bontang akan membangun asrama rusunawa di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Bontang yang ditargetkan mulai dibangun awal tahun 2018 mendatang.

Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni mengatakan, rumah susun tersebut khusus diperuntukkan bagi asrama putri Pondok Pesantren Hidayatullah. Mengingat tempat tinggal para santri di ponpes tersebut terbakar beberapa waktu lalu.

Beliau mengatakan, bantuan pembangunan asrama putri Hidayatullah Bontang ini dialokasikan melalui Kementerian PUPR setelah Pemkot Bontang melakukan presentasi dalam upaya penambahan bantuan rumah susun dari pemerintah pusat.

“Rencananya rusunawa ini akan dibangun setinggi dua lantai, lengkap dengan furniturenya,” terang Neni dikutip Kaltim Post belum lama ini.

Terkait proses percepatannya, kata Neni saat ini pun telah dilakukan pengukuran lahan oleh Kementerian PUPR. Pembangunannya sebut dia ditarget mulai berjalan awal 2018 mendatang.

“Lahannya sudah diukur, kabar terakhir rencananya mulai dibangun awal tahun depan,” tegas Neni.

Langkah ini tambah Neni, sebagai wujud kepedulian pemerintah daerah dalam upaya percepatan pembangunan, sekaligus membantu masyarakat dalam penyediaan perumahan yang layak. Termasuk fasilitas bagi pendidikan seperti halnya rumah susun untuk asrama putri Ponpes Hidayatullah Bontang.

“Kita terus berupaya maksimal dalam mewujudkan pembangunan dengan pembiayaan dari berbagai sumber. Salah satunya bantuan dari pemerintah pusat melalui ‘networking’ yang terjalin selama ini,” ungkapnya.

Seperti diketahui, setelah realisasi pembangunan rumah susun sederhana sewa (rusunawa) di Kelurahan Api-api yang siap dihuni Oktober mendatang, ditambah satu unit di Kelurahan Loktuan dan Guntung yang kini dalam proses pengerjaan, satu lagi rusunawa akan kembali dibangun 2018 mendatang yakni untuk asrama santri Pesantren Hidayatullah Bontang. (ybh/hio)

Empat Tokoh Inspiratif Terima Anugerah STIEHID Award 2017

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) – Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah (STIEHID) Depok menganugerahkan penghargaan “STIEHID Award 2017” kepada 4 (empat) tokoh inspiratif yang dinilai berjasa, menginspirasi, serta berkontribusi positif dalam pembangunan bangsa di bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan masyarakat, dan gerakan perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.

Penganugerahan itu dilakukan serangkaian dengan acara Sidang Senat Terbuka wisuda Sarjana Strata Satu (S1) Manajemen dan Akuntansi 2017 STIE Hiadyatillah di Aula Sarbini, Jalan Pusdika Raya Harjamukti, Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat, Sabtu (23/09/2017).

Keempat tokoh inspiratif peraih anugerah STIEHID Award 2017 tersebut adalah KH. Amin Zaini Safiuddin, Lc, MA (Tokoh Penggerak Pendidikan Islam), Abdul Jabir, ST, MM (Tokoh Penggerak Ekonomi Umat), Bidan Murtafiah, S.Keb (Tokoh Pemerhati Kesehatan Masyarakat) dan H. Sunaryo, CTM (Tokoh Penerus Perjuangan 45).

Keempat tokoh tersebut dinilai sebagai figur penebar manfaat dan telah berperan luar biasa dalam membangun bangsa dan memajukan umat.

Anggota Dewan Pembina STIE Hidayatullah Ir Abu A’la Abdullah, M.HI dalam sambutannya mengatakan penganugerahan ini sebagai bentuk apresiasi masyarakat dan pihak kampus dimana kempat tokoh tersebut layak menjadi teladan bagi generasi muda khsusnya segenap civitas akademika.

Tokoh Inspiratif

Berikut profil singkat penerima anugerah STIEHID Award 2017. Tokoh Penggerak Pendidikan Islam diberikan kepada KH. Amin Zaini Safiuddin, Lc, MA. Beliau adalah Dewan Pengasuh LPI Darul Ulum Banyuanyar, Pamekasan. Kyai Amin juga merupakan Pimpinan IBTASIM Foundation.

Saban tahun, Kyai Amin Zaini selalu mendorong para santri yang jumlahnya ribuan agar melanjutkan studinya tidak hanya di dalam negeri tapi juga keluar negeri. Bahkan, beliau mengutus langsung beberapa alumninya untuk kuliah di perguruan tinggi tertentu.

Dedikasinya dalam membina dan mendidik tidak saja berbuah pada sebelas putra putri beliau yang empat darinya telah hafidz Qur’an serta 3 melanjutkan studi di luar negri.

Kyai Amin Zaini juga telah berhasil melahirkan ratusan bahkan ribuan kader umat peserta didik yang kini menyebar ke berbagai daerah di Indonesia juga luar negeri.

Selain itu, setiap tahun, sejak STIE Hidayatullah berdiri 2009 tahun pertama sampai saat ini, istiqomah mengirimkan santri-santrinya yang terbaik ke STIE hidayatullah.

Tokoh penggerak ekonomi umat, Abdul Jabir, ST, MM. Beliau pernah menjadi ketua REI (Real Eastate Indonesia) Sulawesi Tenggara, trainer nasional ESQ, Ketua Pinbuk (Pusat Induk dan Usaha Kecil) yang menjadi cukal bakal lahirnya BMT se-Indonesia.

Sosok inspiratif yang ramah dan pekerja keras ini juga pernah menjabat sebagai Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Wilayah Indonesia Timur.

Jabir merupakan konsultan di Tazkia Grup dan berbagai perusahaan, komisaris dan direksi di bebrapa perusahaan dan konsultan bidang perekonomian DPP Hidayatullah.

Kiprah Abdul Jabir dalam mengembangkan Pinbuk dinilai telah turut merangsang gairah kewirausahaan nasional yang terus bertumbuh positif hingga kini.

Sementara, Bidan Murtafiah, S.Keb diapresiasi sebagai tokoh peduli kesehatan masyarakat. Ia senantiasa tidak kenal lelah 24 jam membantu masyarakat terkhusus ibu-ibu dalam persalinan.

Murtafiah juga aktif dalam mempromosikan pendidikan melahirkan generasi Qur’ani dan aktif berkecimpung dalam pengembangan pendidikan anak usia dini melalui sejumlah lembaga pendidikan yang dimilikinya.

Dedikasinya yang luar biasa dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat melalui rumah persalinan yang dirintisnya sejak tahun 90-an telah turut memberi andil besar dalam menekan tingkat kematian ibu dan anak (AKI) dalam proses persalinan.

Bidan Murtafiah juga memiliki komitmen yang tinggi dalam mempromosikan pentingnya tiga pilar pembangunan kesehatan yang harus diperhatikan para tenaga kesehatan dalam berkarya. Ketiga pilar tersebut yaitu, paradigma sehat, penguatan pelayanan kesehatan dan program jaminan kesehatan nasional.

Penerima anugerah lainnya yaitu H. Sunaryo, merupakan sosok yang tak asing lagi di lingkungan civitas akademika STIE Hidayatullah. Beliau merupakan tokoh penerus perjuangan 45.

Sunaryo bukan saja saksi sejarah tapi ia juga ikut terlibat dalam barisan para Pejuang Kemerdekaan 45. Sunaryo tercatat pernah bertugas di Papua dalam melawan agresi militer Belanda.

“Mereka adalah para tokoh yang kiprah dan perjuangannya untuk bangsa ini layak menjadi teladan bagi mahasiswa dan umumnya para pemuda lebih-lebih bagi civitas akademika STIE Hidayatullah,” kata Anggota Dewan Pembina STIE Hidayatullah Ir Abu A’la Abdullah, M.HI dalam sambutannya.

Penyerahan STIEHID Award 2017 ini dilakukan oleh Ir Abu A’la Abdullah, MHI selaku anggota Dewan Pembina STIE Hidayatullah Depok. Beliau turut didampingi oleh Ketua STIE Hidayatullah Dr. Dudung A. Abdullah, Ketua Yayasan Hidayatullah Depok Ust Lalu Mabrul, M.Pd.I, dan Perwakilan Laznas BMH Pusat Ade Syariful Alam.

Tampak juga hadir menyaksikan penganugerahan itu segenap pengurus STIE Hidayatullah Depok diantaranya Wakil Ketua I STIE Hidayatullah Abdul Chadjib Halik, SE, MM, Waka II Hafid Bahar, SE, MM, Waka III Suheri Abdullah, MM dan dan Waka IV Ahmad Maghfur, M.P.d.I. (ybh/hio)

Diserap Bursa Kerja, Sarjana Ekonomi STIE Hidayatullah Menjadi Penggerak Pembangunan

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) – Wisudawan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah langsung diserap bursa kerja termasuk 82 orang yang dikukuhkan sebagai Sarjana Ekonomi yang wisuda hari ini di Aula Sarbini, Jalan Pusdika Raya Harjamukti, Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat, Sabtu (23/09/2017).

“Sebanyak 82 orang wisudawan ini akan bergabung dengan 417 orang alumni STIE Hidayatullah Depok yang sebelumnya sudah berkiprah di tengah masyarakat sebagai penggerak pembangunan,” kata Ketua STIE Hidayatullah Depok DR. Dudung Amadung Abdullah ketika menyampaikan pidatonya.

Dudung mengatakan, para alumni STIE Hidayatullah Depok sudah tersebar sebagai insan mandiri penggerak pembangunan di tengah-tengah masyarakat dari Sabang sampai Merauke.

“Wisuda ini bukan sekadar seremoni, tetapi merupakan peristiwa penting yang menunjukkan berakhirnya tugas layanan dan asuhan kami secara formal kepada mahasiswa STIE Hidayatullah Depok dalam mengembangkan potensinya,” katanya.

Lebih dari itu, lanjutnya, wisuda adalah peristiwa penting untuk menandai batas antara tahapan kehidupan belajar di kampus dengan status mahasiswa dan tahapan kehidupan pengamalan ilmu di tengah masyarakat dengan status sebagai Sarjana yang siap merancang dan Pelaku Pembangunan di negeri ini.

“Kehidupan yang akan Saudara-saudara hadapi adalah dunia yang sangat kompleks, yang merupakan ciri khas kehidupan di manapun dan kapanpun Saudara berada. Semua orang, termasuk lulusan perguruan tinggi, akan menghadapi kenyataan kehidupan yang demikian,” imbuhnya.

Kehidupan yang kompleks itu, menurut Dudung, harus dihadapi para sarjana dengan kesiapan spiritual, mental dan inelektual.

“Saudara juga harus hadapi dengan sikap optimis. Sebagai lulusan STIE Hidayatullah Depok, Saudara-saudara telah dibekali nilai-nilai Spiritual yang dibingkai dengan manhaj Sistematika Wahyu sebagai panduan gerakan Hidayatulah,” katanya berpesan.

Dudung menyebutkan, para wisudawan sudah diperkaya dengan pengetahuan, kecerdasan emosi, keterampilan serta bekal hidup yang memadai. Dengan potensi ruhiyah, fikriyah, dan jasadiyah yang yang sudah dikembangkan di Kampus Peradaban Hidayatullah Depok, wisudawan diharapkan bisa membangun masyarakat yang kompleks tersebut dengan karakter Qur’an.

“Keberhasilan Saudara-saudara dalam menyelesaikan studi di STIE Hidayatullah Depok ini adalah berkat usaha dan kerja keras Saudara-saudara dalam menempuh studi. Saudara telah menunjukkan usaha yang sungguh-sungguh dan berhasil melewati masa-masa sulit yang penuh tantangan dan cobaan. Saudara-saudara telah mendapatkan pengalaman belajar dan hasil belajar yang memadai untuk membekali diri dalam menempuh kehidupan pascastudi,” kata Dudung dalam pidatonya.

Dudung mengharapkan para alumni ini pandai dan bijak dalam memanfaatkan pengalaman belajar dan hasil belajar itu demi keberhasilan kehidupan lebih lanjut.

Dudung mengajak wisudawan untuk memaknai keberhasilan saat ini sebagai momentum untuk berusaha dan bekerja lebih keras lagi demi keberhasilan yang akan datang dengan membawa nama baik STIE Hidayatullah Depok sebagai almamater.

“Saudara Wisudawan juga harus paham bahwa almamater Saudara telah memiliki identitas diri sebagai Universitas Pembelajaran, Learning University. Dengan identitas itu, Saudara-saudara tidak hanya belajar di kampus ini, tetapi juga memetik pelajaran dari kampus ini,” ungkapnya.

Lebih jauh Dudung mengemukakan, proses pendidikan yang berkualitas merupakan bagian dari komitmen STIE Hidayatullah Depok dalam menjalankan perannya di dunia pendidikan tinggi. Dari sisi pedagogi pembelajaran, kata dia, pendekatan student-centered learning telah dan akan terus diterapkan dalam proses pembelajaran.

Konsekuensi dari penerapan pedagogi ini, mahasiswa maupun staf pengajar perlu menjalankan peran baru dalam proses interaksi yang berlangsung. Penjaminan mutu menjadi penting untuk melakukan pemantauan proses pendidikan tersebut.

“STIE Hidayatullah Depok akan bekerja keras untuk menjaga kualitas pendidikan yang dilakukan. Pengelolaan bidang akademik juga telah dikoordinasikan melalui penerapan Sistem SIAKAD guna lebih mencermikan pengelolaan yang transparan, akuntabel, responsif, dan dinamis sesuai dengan dinamika kegiatan akademik di lingkungan STIE Hidayatullah Depok,” katanya.

Dengan sistem SIAKAD, lanjut Dudung, data kemahasiswaan dapat diakses secara online sebagaimana tuntutan aturan, demikian juga ijazah yang dikeluarkan oleh STIE Hidayatullah dapat dipertanggungjawabkan secara akademik dan bisa dipantau oleh masyarakat karena terintegrasi dengan SIFIL (Sistem Informasi Ijazah Online) yang diterapkan oleh Kementerian Pendidikan Republik Indonesia.

Dudung menambahkan, terkait lulusan yang dihasilkan, alumni STIE Hidayatullah Depok tidak hanya dibekali Surat Berharga yang bernama Ijazah, tapi juga diberikan Sertifikat Keahlian Pendamping Ijazah (SKPI), dalam hal ini alumni STIE Hidayatullah sudah dibekali keahlian sebagai Amil ZISKAF.

“Sehingga Alumni STIE Hidayatulah Depok lebih banyak tersebar dipenjuru Nusantara sebagai Manajer Cabang serta posisi lainnya pada Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah,” ujarnya.

Dalam pelaksanaan tugas yang berujung menghasilkan lulusan ini, STIE Hidayatullah Depok telah mendapatkan kesediaan kerja sama dan bantuan berbagai pihak, baik pemerintah maupun perusahaan mitra.

Atas kerja sama dan bantuan tersebut, Dudung mengatakan pihaknya menyampaikan terima kasih antara lain kepada Bapak Gubernur Jawa Barat, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Koordinator Koppertis Wilayah IV Jawa Barat, Ketua Umum APTISI dan Ketua APTISI Wilayah IV Jawa Barat dan Banten, Ketua Umum DPP Hidayatullah, Ketua DPW dan DPD Hidayatullah seluruh Indonesia, Baitul Maal Hidayatullah, seluruh Amal Usaha dibawah Perkumpulan Hidayatullah, Konsultan Perguruan Tinggi (KPT) yang selama dua tahun terakhir ini sudah menjalin kerjasama, serta semua pihak yang telah mendukung baik secara langsung maupun tidak langsung.

Pihaknya juga menyampaikan terimakasih tak terhingga kepada tokoh senior Hidayatullah yang juga sebagai orangtua civitas kampus STIE Hidayatullah diantaranya DR. KH. Abdul Mannan, SE, MM dan DR. (Cand) Abu A’la Abdullah yang telah memberikan kepercayaan dan bimbingan dalam melaksanakan proses pendidikan di STIE Hidayatullah.

“Ucapan yang sama kami sampaikan Kepada Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok yangsangat berjasa dalam pelaksanaan tugas kami. Atas jasa baik itu, semuanya, kami sampaikan terima kasih,” pungkas Dudung. (ybh/hio)

Daurah Pengasuhan Nasional Mantapkan Boarding School

0

SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) – Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Samarinda, Kalimantan Timur, menjadi tuan rumah penyelenggaraan pelatihan (daurah) kepengasuhan yang berlangsung selama 3 hari mulai Jumat hingga Ahad, 15 – 17 September 2017.

Ketua Panitia Daurah Kepengasuhan Nasional Hidayatullah, Sirajuddin, S.Pd.I, M.Pd, mengatakan dakwah dan tarbiyah merupakan mainstream gerakan Hidayatullah dalam rangka membangun peradaban Islam.

Untuk itu, kata dia, diharapkan program pendidikan Integral Hidayatullah dapat memberikan sumbangsihnya secara signifikan dalam mengawal proses lahirnya kader-kader yang akan mengisi dan meneruskan tongkat estafet membangun peradaban akhlak (adab) ini.

Sirajuddin mengimbuhkan, berdirinya sekolah-sekolah Hidayatullah dari jenjang pendidikan SD/MI hingga SMA/MA, bahkan SMK saat ini mengikuti pola dan sistem pendidikan fullday dan boarding school (berasrama).

“Standarisasi pengelolaan sekolah dan sistem belajar dikelas sudah sering mendapatkan pelatihan maupun workshop. Adapun sistem berasrama pada sekolah boarding school masih mempunyai standar pengelolaan yang berbeda-beda,” kata pria kelahiran Sangkulirang, Kutai Timur, ini.

Sirajuddin memandang, kondisi SDM, pengalaman dan latar belakang pendidikan pengelolanya yang berbeda menjadi salah satu penyebab ketidaksamaan pengelolaan tersebut.

“Untuk itu dalam upaya menstandarisasi pengelolaan kepengasuhan dalam sistem keasramaan serta menyinergikan potensi masing-masing sekolah boarding school di berbagai daerah yang ada, maka diperlukan penyamaan visi dan standar sistem pengelolaan asrama dari para pengelola dan pengasuh asrama,” jelas Sirajuddin perihal acara tersebut.

Semenatara itu, Ketua Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah DPP Hidayatullah, Amun Rowie, M.Pd, mengimbuhkan untuk menyamakan visi dan sistem pengelolaan tersebut maka diperlukan Daurah Kepengasuhan yang diadakan oleh Tim Kepengasuhan, diniyah dan kepanduan.

Tim bentukan Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah DPP Hidayatullah ini diharapkan sebagai jembatan penghubung yang Insya Allah akan menjadi katalisator untuk mempercepat proses standarirasi tersebut.

“Oleh sebab itu, diperlukan dukungan dari seluruh DPW Pendidikan Hidayatullah dan pengelola sekolah berasrama pada kampus induk, kampus kampus utama dan madya untuk mensupport terhadap program-program Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah sehingga kegiatan yang intens dan berkesinambungan dapat berjalan dengan baik,” kata Rowie.

Rowie menambahkan, tanpa adanya dukungan maka peningkatan dan sinergi yang diharapkan tidak dapat tercapai.

Selain itu, terang beliau, pengelolaan kepengasuhan yang masih belum berbasis data juga menjadi perhatian. Sehingga, setiap sekolah boarding school akan mempunyai data yang lengkap dan bisa dipertanggungjawabkan.

“Dan yang tidak kalah pentingnya adalah kegiatan Pandu Hidayatullah dan Diniyah yang sudah menjadi program nasional harus selalu disegarkan sehingga ghirah pengelola asrama tetap terjaga,” tambah Rowie.

Untuk itulah kata dia maka kegiatan Daurah Kepengasuhan ini penting untuk diadakan. Adapun beberapa tujuannya yakni melakukan standarisasi pengelolaan kepengasuhan pada sekolah boarding school Hidayatullah.

Juga untuk mengsinkronisasi terlaksananya kegiatan Pandu Hidayatullah dalam pengelolaan kepengasuhan serta sinkronisasi pengelolaan Diniyah dalam pengelolaan kepengasuhan.

“(Juga) membangun sinergi dan menguatkan jejaring sekolah integral Hidayatullah dengan sistem boarding school,” pungkasnya. (ybh/hio)

Pengurus Struktur Hidayatullah se-Papua Mengikuti Upgrading

0

JAYAPURA (Hidayatullah.or.id) – Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Papua menggelar acara konsolidasi dan upgrading untuk meningkatkan kapasitas pengurus struktural Hidayatullah se-Papua. Acara ini berlangsung selama 3 hari, 16-18 September 2017 di Kampus Hidayatullah Jayapura.

Hadir dalam acara tersebut Ketua Departemen Sumber Daya Insani DPP Hidayatullah Ir. Abdul Muhaimin, MM dan anggota Dewan Mudzakarah Ir Ahkan Sumadiana. Acara ini dihadiri oleh peserta dari unsur pengurus struktural tingkat Dewan Pengurus Daerah (DPD), Dewan Pengurus Ranting (DPRa), dan struktural amal usaha.

Pada kesempatan pengaragannya dalam acara tersebut Ketua Departemen Sumber Daya Insani DPP Hidayatullah Ir. Abdul Muhaimin, MM mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman pengurus struktural organisasi tingkat wilayah dan daerah terhadap peraturan hasil musyawarah organisasi di tingkat pusat.

“Agar dapat lebih baik di dalam melaksanakan amanah sebagai pengurus struktural organisasi,” katanya.

Kegiatan ini jelas beliau juga untuk meningkatkan kemampuan kepemimpinan dan keterampilan manajemen para pengurus struktural organisasi.

Selain upgrading, kegiatan ini juga bermuatan konsolidasi idiil, organisasi, dan pemberian wawasan kepada para pengurus tersebut. (ybh/hio)