Beranda blog Halaman 560

Memaknai Ikhtilaf Pemikiran dan Cara Menyikapinya

0

IKHTILAF dalam pemikiran adalah perkara yang tidak bisa dihindari. Akal manusia tidak mampu mengingkari akan hal ini, karena dalam kenyataannya ikhtilaf itu ada.

Sedangkan syara’ juga tidak melarangnya, terbukti adanya ikhtilaf di kalangan sahabat, tabi’in setelah itu atba’ tabi’in dan yang paling nyata adalah adanya madzhab-madzhab fiqih dalam Islam.

Ikhtilaf Sejak Masa Salaf

Mengenai ikhtilaf para di kalangan sahabat, para ulama salaf sama sekali tidak melihat hal itu tercela, bahkan hal itu dinilai positif oleh mereka. Imam Al Qasim bin Muhammad seorang ulama tabi’in menyatakan:

“Benar-benar Allah telah memberi manfaat dengan ikhtilafnya para sahabat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dalam amalan mereka. Tidaklah beramal orang yang mengamalkan amalan yang dilakukan oleh seorang dari mereka (sahabat), kecuali ia melihat hal itu adalah bentuk kelonggaran. Dan ia melihat bahwa orang yang lebih mulia daripadanya telah melaksanakannya”. (Jami’ Bayan Al Ilmi wa Fadhlihi, 2/80)

Aun bin Abdillah, juga ulama tabi’in menyatakan:

”Aku tidak menyukai (jika) sesungguhnya para sahabat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam tidak berikhtilaf. Sesungguhnya mereka jika sepakat atas suatu hal dan hal itu ditinggalkan oleh seseorang, maka ia telah meninggalkan sunnah. Kalau mereka berselisih kemudian seseorang mengambil salah satu dari pendapat mereka (para sahabat), ia telah menempuh sunnah”. (Sunan Ad Darimi, 1/151)

Ikhtilaf adalah Kekhususan Umat Rasulullah

Bukan hanya merupakan hal yang lumrah di kalangan salaf, para ulama melihat bahwa ikhtilaf adalah bagian dari kekhususan umat ini.

Imam As Suyuthi menyatakan bahwa para sahabat yang mana mereka adalah sebaik-baik umat berbeda pendapat satu sama lain dalam masalah furu’, namun mereka tidak mengingkari satu sama lain, tidak menuduh yang lain salah atau memiliki keterbatasan.

”Maka diketahui bahwa ikhtilaf madzhab-madzhab yang ada dalam millah ini kekhususan dan keutamaan untuk umat ini”. (lihat, muqaddimah Jazil Al Mawahib fi Ikhtilaf Al Madzahib)

Imam Al Qashtalani juga menyampaikan:

”Dari kekhususan umat ini- umat pengikut Rasulullah- adalah ijma’ mereka adalah hujjah sedangkan ikhtilaf mereka adalah rahmah”. Dan menurut Al Hafidz Az Zurqani, hal itu dalam masalah furu’. (Syarh Al Mawahib Al Laduniyyah, 5/468)

Dari ungkapan para ulama tersebut, kita bisa memahami bahwa mereka tidak melihat perselisihan dalam masalah furu’ merupakan hal yang negatif. Bahkan justru sebaliknya, mereka melihat itu adalah hal yang positif.

Macam-macam Ikhtilaf

Ikhtilaf dalam pemikiran terjadi di berbagai bidang dan wilayah yang cukup luas. Sehingga para ulama pun mengklasifikasikannya dan menjelaskan mana ikhtilaf yang bisa ditolelir dalam Islam, sebagaimana yang digambarkan dalam penjelasan di atas.

Imam Al Ikhaththabi membagi beberapa macam ikhtilaf:

Ikhtilaf dalam penetapan adanya pencipta dan keesaan-Nya, maka ikhtilaf di sini menyebabkan kekufuran. Sedangkan ikhtilaf mengenai sifat pencipta dan kehenda-Nya maka hal ini adalah bid’ah, sebagaimana ikhtilaf kaum khawarij dan rawafidh mengenai status keislaman sejumlah sahabat.

Adapun ikhtilaf mengenai hukum ibadah yang memungkinan adanya perbedaan, maka Allah menjadikannya mudah dan rahmat dan kemuliyaan bagi ulama. (A’lam Al Hadits, 1/219-221)

Perkara yang Masuk Ikhtilaf Tidak Boleh Dinggap Kemungkaran

Ikhtilaf nomor tiga inilah, tidak boleh manusia menganggapnya sebagai kemungkaran. Dimana para ulama telah membuat qaidah la yungkaru al mukhtalaf fih, wa inama yungkaru al majma’ ‘alaihi (tidak boleh diingkari masalah-masalah yang terdapat khilaf di dalamnya, pengingkaran hanya terdapat pada masalah- yang telah disepakati hukumnya). (lihat, Ihya Ulum Ad Din,2/253, Al Asybah wa An Nadzair,1/341).

Dalam hal ini, ulama salaf Imam Ats Tsauri juga menyampaikan:

”Jika kalian melihat seseorang melakukan amalan yang itu diperselisihkan sedangkan engkau berpendapat lain (dari amalan itu) maka jangan engkau larang ia”. (Al Faqih wa Al Mutafaqih, 2/69)

Demikian juga ulama salaf lainnya Imam Al Auzai menyampaikan dalam hal batal atau tidaknya wudhu karena mencium istri, ”Jika ada seseorang datang dan bertanya kepadaku, maka aku katakan ia harus wudhu. Namun jika ia tidak wudhu aku tidak mencelanya!” (Al Istidzkar, 1/323)

Sebab itulah mereka yang hendak mengubah kemungkaran harus memiliki pengetahuan mengenai khilaf para ulama, sehingga tidak sampai mengingkari perkara-perkara yang diperselisihkan oleh para ulama.

Kapan Pendapat Dihitung Sebagai Masalah Ikhtilaf?

Selanjutnya adalah pembahasan mengenai apakah semua pendapat bisa dimasukkan ke ranah ikthtilaf atau tidak.

Imam As Syatibi menyatakan bahwa ada pendapat-pendapat yang sebenarnya tidak dihitung sebagai perkara ikhtilaf yang ditolelir.

Dan, para fuqaha menyebutnya bukan agar dihitung sebagai perkara ikhtilaf, namun sebagai bentuk peringatan. Pendapat yang tidak bisa dimasukkan dalam ranah ukhtilaf antara lain:

  1. Menyelisihi nash sharih, sebab itu hukum qadhil batal jika ia menyelisihi ijma atau nash secara sharih.
  2. Bukan hasil dari ijtihad mujtahid.
  3. Bukan masalah yang boleh ijtihad terhadapnya.
  4. Sebagaimana para salaf juga tidak mengitung sebagai masalah khilafiyah terhadap beberapa masalah seperti masalah riba fadhl dan nikah muth’ah.

Namun perlu diketahui bahwa tidak sembarang pihak bisa mengklasifikasi apakah perkara itu dianggap masalah ikhtilaf yang bisa ditolelir atau tidak, karena hal itu adalah tugasnya para mujtahid. Di bawah derajat itu tidak memiliki kemampuan mengklasifikasikannya. (lihat, Al Muwafaqat, 4/172,173)

Walhasil, siapa saja tidak bisa dengan mudah-mudah mengingkari perkara-perkara yang diperselisihkan hukumnya.

Jika itu dilakukan oleh mereka yang tidak memiliki syarat yang cukup hingga tidak bisa membedakan mana yang harus diingkari mana yang tidak maka akibatnya akan terjadi kekacauan dalam masyarakat. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam.

Thoriq | Hidayatullah.com

Meluruskan Shaf, Merapatkan Ukhuwah

BILA Anda mampir di mushalla atau masjid mana pun di negeri ini, amatilah shaf (barisan) shalat berjamaah kaum muslimin di dalamnya.

Anda akan temui bahwa kebanyakan barisan itu renggang, tidak lurus, dan putus di sana-sini.

Banyak pula yang dengan entengnya membuat shaf baru, padahal shaf di depannya masih belum penuh.

Amati pula masjid dan mushalla tempat Anda shalat sekarang. Bagaimana keadaannya?

Tidak rapinya shaf shalat kaum muslimin sebenarnya bukan perkara sepele. Menurut Rasulullah, lurus dan rapatnya shaf adalah pertanda lurusnya hati dan rapatnya ukhuwah.

Abu Mas’ud al-Anshari bercerita, “Dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sering mengelus pundak-pundak kami dalam (persiapan) shalat, seraya bersabda: ‘Luruskan dan jangan bengkok, sehingga menjadi bengkok pula hati-hati kalian. Hendaklah yang tepat berada di belakangku adalah orang-orang pandai dan berakal, kemudian tingkatan di bawah mereka, kemudian tingkatan di bawah mereka.” (Riwayat Muslim).

Bara’ bin Azib juga menceritakan kebiasaan Rasulullah tersebut, “Dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa menyusup di sela-sela shaf dari sisi ke sisi (yang lain). Beliau mengusap dada dan pundak kami, seraya bersabda: ‘Jangan bengkok, sehingga menjadi bengkok pula hati-hati kalian” (Riwayat Abu Dawud. Hadits shahih).

Nu’man bin Basyir juga bercerita: Rasulullah bersabda, “Sungguh hendaknya kalian meluruskan shaf-shaf kalian, atau (jika tidak) sungguh Allah akan membuat wajah-wajah kalian saling berselisih.” (Riwayat Bukhari). Maksudnya: ditimbulkan-Nya perselisihan, permusuhan, dan kebencian di antara sesama muslim.

Sekarang, kita jadi mengerti mengapa ukhuwah kaum muslimin tidak kunjung kokoh. Bila shaf-shaf shalat berjamaah kita masih berantakan dan tidak keruan, jangan harap hati-hati kita bisa dipersatukan.

Allah Maha Tahu bagaimana menautkan hati-hati hamba-Nya, dan Dia membimbing kita untuk terlebih dahulu bersedia merapatkan tubuh dalam shalat berjamaah, sebelum dirapatkan-Nya dalam kehidupan bermasyarakat.

Jika badan wadak kita ini masih enggan saling bersentuhan, maka ruh kita pun lebih sukar lagi untuk dipertemukan.

Bayangkan, sekedar untuk merapatkan barisan 5 orang di sebuah mushalla kecil saja kita tidak sanggup, apakah pantas mengharap bersatunya 200 juta kaum muslimin di Indonesia?

Bagaimana dengan 1,6 milyar kaum muslimin di seluruh dunia? Jangan mimpi! Hanya jika para imam di seluruh masjid dan mushalla sudah bisa mengomando jamaahnya untuk merapatkan dan meluruskan shaf, baru pada saat itulah persatuan Islam menjadi kenyataan.

Bukankah banyak para imam yang mengucapkan: “sawwuu shufuufakum, fa inna taswiyatas shufufi min tamaamis shalaah”, sebelum mereka bertakbir? Artinya: “Luruskan shaf-shaf kalian, sebab lurusnya shof merupakan bagian dari kesempurnaan shalat”.

Akan tetapi, siapakah yang mematuhi komando ini? Adakah kata-katanya dituruti? Jika seorang imam yang kita angkat sendiri dalam shalat lima waktu tidak kita patuhi, bagaimana dengan khalifah atau amirul mu’minin? Akankah kita termasuk orang-orang yang berdiri di belakangnya dengan penuh takzim, atau justru berbaris di hadapannya dengan sikap bermusuhan?

Rasulullah sendiri menyatakan bahwa rapatnya shaf adalah karunia istimewa yang hanya diberikan oleh Allah kepada kaum muslimin.

Beliau bersabda, “Kita dilebihkan di atas seluruh umat manusia dengan tiga hal, yaitu: shaf-shaf kita dijadikan seperti shaf-shaf para malaikat, seluruh bumi dijadikan sebagai masjid untuk kita, dan debu tanahnya dijadikan sebagai alat bersuci bila kita tidak menemukan air.” (Riwayat Muslim, dari Hudzaifah).

Bagaimanakah shaf para malaikat itu? Samurah berkata: Rasulullah pernah bertanya kepada kami, “Mengapa kalian tidak berbaris seperti para malaikat di sisi Tuhannya?” Kami balik bertanya, “Bagaimana cara malaikat berbaris di sisi Tuhannya?” Beliau menjelaskan, “Mereka memenuhi barisan-barisan yang terdepan, dan saling merapatkan barisannya.” (Riwayat Muslim, Abu Dawud, Nasa’i, dan Ibnu Majah).

Nu’man bin Basyir juga bercerita, “Dulu Rasulullah biasa meluruskan shaf-shaf kami, seakan-akan beliau sedang meluruskan batang anak panah (pada saat meraut dan membuatnya), sampai akhirnya beliau menilai kami benar-benar telah mengerti maksud beliau.

Kemudian, pada suatu hari, beliau keluar lalu berdiri dan hampir saja bertakbir, tapi beliau melihat seseorang yang dadanya tampak lebih maju dari barisan. Beliau pun berseru: ‘Wahai hamba-hamba Allah, sungguh hendaknya kalian luruskan shaf-shaf kalian, atau (jika tidak) Allah akan membuat wajah-wajah kalian saling berselisih.” (Riwayat Muslim).

Anas bin Malik bahkan menceritakannya lebih detil lagi. Beliau mengutip sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Luruskanlah shaf-shaf kalian, sebab aku bisa melihat kalian dari balik punggungku.”

Anas kemudian berkata, “Dulu salah seorang dari kami mendempetkan pundaknya dengan pundak temannya, juga telapak kakinya dengan telapak kaki temannya.” (Riwayat Bukhari).

Senada dengannya adalah hadits yang diceritakan Nu’man bin Basyir, “Rasulullah menghadapkan wajahnya kepada orang-orang, lalu bersabda: ‘Luruskan shaf-shaf kalian (beliau mengucapkannya tiga kali). Demi Allah, sungguh hendaknya kalian meluruskan shaf-shaf kalian, atau (jika tidak) Allah benar-benar akan membuat hati-hati kalian saling berselisih.”

Nu’man berkata, “Saya melihat seseorang mendempetkan pundaknya dengan pundak temannya, lututnya dengan lutut temannya, dan mata kakinya dengan mata kaki temannya.” (Riwayat Abu Dawud. Hadits shahih).

Inilah bimbingan Rasulullah dalam shalat berjamaah. Jangan anggap enteng masalah ini. Mari mulai menegakkan persatuan kaum muslimin dengan merapikan barisan shalat berjamaah di masjid dan mushalla kita.

Semoga setelah itu Allah menata dan menautkan hati-hati kita, seluruhnya. Amin. Wallahu a’lam.

__________
ALIMIN MUKHTAR, penulis adalah pengasuh POndok Pesantren Hidayatullah Malang, Jawa Timur

Hidayatullah Nabire Komitmen Bangun Kultur Silaturrahim

NABIRE (Hidayatullah.or.id) – Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Nabire bekerjasama dengan Pengurus Daerah (PD) Hidayatullah Nabire, provinsi Papua, Indonesia, berkomitmen untuk menjaga silaturrahim dengan berbagai pihak sebagai kultur Islami.

“Silaturrahim itu sudah menjadi budaya kita di Hidatullah, ajaran Islam yang mulia,” kata Ketua DPD Hidayatullah Nabire, Ust Yusuf Qordhowi, seperti dalam rilisnya diterima media ini baru baru ini.

Kampus Hidayatullah Nabire yang beralamat di Jalan Poros Pelabuban, Kampung Waharia, Distrik Teluk Kimi, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua, juga sekaligis menjadi salah satu pusat aktifitas agama Islam warga setempat.

Saat ini Hidayatullah Nabire memiliki beragam kegiatan dakwah dan pendidikan termasuk program unggulan tahfidz Qur’an 2 juz, Bahasa Arab dasar dan Bahasa Inggris serta tafaqquh fiddin.

Dalam rangka menguatkan simpul ukhuwah dan kerjasama dengan berbagai pihak dalam bersama membangun Nabire, Yusuf Qordhowi mengatakan pihaknya juga telah menjalin kerjasama pembinaan dalam bidang dakwah.

Diantaranya yang dilakukan adalah melakukan pembinaan muallaf. Sejak tahun 2012 lalu Pesantren Hidayatullah Nabire menjalin sinergi dengan salah satu tokoh muallaf Nabire, Atta Rumbewas.

Atta Rumbewas memang bukan dilahirkan dari keluarga Muslim. Namun, setelah menemukan Islam dan menjadi muallaf tahun 2002, kepeduliannya kepada anak-anak Muslim yang muallaf sangat besar.

Atta Rumbewas yang kelahiran Biak Numfor menampung anak-anak yatim dan dhu’afa sebanyak 20 orang dari kalangan penduduk asli Papua Muslim dan pendatang.

Untuk pembinaan keimanan anak-anak asuh di Desa Sanoba, Atta bekerjasama dengan Hidayatullah Nabire, sedangkan untuk kebutuhan hariannya dari rezeki yang disisihkannya dan sumbangan dari para donator. (ybh/hio)

Laznas BMH Beri Kemudahan Berqurban ke Desa-desa

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Ibadah Qurban 1438 H menyisakan waktu kurang lebih sebulan lagi. Rentang masa yang cukup untuk setiap Muslim menyiapkan diri.

Akan tetapi, menjelang hari H terkadang fokus, konsentrasi, bahkan mungkin intensitas pekerjaan tak bisa terprediksi atau malah justru semakin meningkat.

Untuk itu, menyegerakan pelaksanaan mewujudkan niat untuk berqurban di tahun ini adalah langkah yang sangat tepat.

Laznas Baitul Maal Hidayatullah sebagai mitra umat selama ini dalam pemberdayaan masyarakat desa telah membuka program Qurban Masuk Desa.

“Qurban Anda akan disalurkan kepada mereka yang berada di pelosok desa di 30 propinsi di Indonesia. Kriterianya adalah desa yang memang sangat jarang bahkan belum pernah menikmati ibadah qurban lengkap dengan daging qurban,” papar Ketua Panitia Qurban Laznas BMH Pusat, Tri Winarno. seperti dalam risisnya yang diterima di Jakarta.

Bagi Anda yang berdomisili di Jabodebek dengan harga Rp. 1.777.000 qurban Anda berupa kambing standar.

Untuk kambing premium Anda bisa dapatkan dengan harga Rp. 2.125.000, dan untuk sapi seharga Rp. 14.875.000.

Untuk hewan qurban yang Anda ingin salurkan ke daerah lain harga sesuai dengan lokasi yang diinginkan.

Bagi yang ingin berqurban di desa-desa di luar Jabodebek, info lebih lanjut dapat menghubungi Nur Hadiansyah di nomor Hp/Wa 0896 0570 2552.

Laznas BMH juga menghadirkan kemudahan bagi Anda yang kesulitan mengalokasikan waktu sekedar untuk bertatap muka untuk menjalankan ibadah qurban.

Anda bisa klik:

https://www.blibli.com/qurban-kambing-premium-bmh-berkah-nusantara-1438-h-program-qurban-masuk-desa-MTA.1284562.html dan pilih

Selain itu, Anda juga bisa memilih sendiri kemana qurban Anda ingin disalurkan ke beberapa pulau di Indonesia.

Misalnya, Anda ingin qurban disalurkan ke Jambi, Anda tinggal klik ini:

https://qurban.kitabisa.com/kampungnelayan

Semoga kemudahan ini memudahkan kita semua mendapatkan keridhoan Allah sekaligus membahagiakan sesama yang dalam ibadah qurban tahun ini belum tentu tersenyum bahagia.

Qurban Anda merupakan perantara datangnya kebahagiaan bagi saudara-saudara kita di desa-desa di Indonesia. (bmh/hio)

Kajian Surah Al Quraisy oleh Ustadz Anwari Hambali

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Anggota Dewan Mudzakarah Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan, Ust H Anwari Hambali menyampaikan taushiah tentang tafsir Surah Al Quraisy. Berikut rekamannya seperti dikutip dari Salima TV:

[youtube width=”100%” height=”300″ src=”tGHWoYyvRfc?rel=0&autoplay=1″][/youtube]

Halal Bihalal SAR Hidayatullah Teguhkan Spirit Kerelawanan

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) – Pengurus Pusat SAR Hidayatullah menggelar acara Silaturrahim dan Halal Bihalal bertajuk “1000 Ketupat” yang berlangsung di Komplek Pendidikan PAUD Al Istiqomah, Cikaret, Depok, Jawa Barat, Ahad (30/07/2017).

Tidak saja dihadiri oleh fungsionaris dan keluarga relawan SAR Hidayatullah, acara ini juga mengundang segenap kader Hidayatullah se-Jabodebek yang diinvitasi melalui grup WhatsApp dan jalur media sosial lainnya.

Ketua Umum SAR Hidayatullah, Syaharuddin Yusuf, yang dalam acara ini sekaligus dalam rangka aqiqah anaknya yang ke-6, mengatakan bahwa halal bihalal dan silaturrahim bertajuk “1000 Ketupat” ini mengandung makna yang mendalam.

“Ketupat itu sendiri memiliki substansi filosofis yang sangat dalam. Ketupat bukan saja tentang kerumitan prosesnya atau kekhasan citarasanya, tetapi juga meneruskan pesan-pesan tentang kerelawanan dan kemanusiaan kita,” kata Syahar dalam rilisnya, Ahad.

Syahar menjelaskan, penggunaan janur sebagai bungkus ketupat menunjukkan identitas budaya pesisiran yang banyak ditumbuhi pohon kelapa.

Hal ini, lanjut Syahar, memberi pesan bahwa setiap relawan SAR Hidayatullah harus hadir di hati umat dengan membawa jatidiri Hidayatullah dan akhlak Islam yang melekat dalam dirinya.

Janur berwarna kuning pada ketupat, imbuh Syahar, mengalirkan pesan energi kerendahhatian sebagaimana kependekan arti janur yakni jatining nur, atau hati nurani.

“Tema ‘seribu ketupat’ ini ingin menancapkan spirit bahwa relawan SAR Hidayatullah harus selalu belajar kepada siapapun dan hendaknya selalu rendah hati,” pesan Syahar.

Lebih lanjut, jelas Syahar, janur yang kemudian dianyam sebagai wadah ketupat merupakan simbol kompleksitas di mana SAR Hidayatullah harus menjadi relawan yang humanis tanpa memandang suku, ras, aliran dan agama. Namun, tetap selalu berpegang teguh pada prinsip-prinsip aqidah Islam yang universal.

Syahar pun memberi refleksi filosofis tentang bentuk ketupat. Kata Syahar, bentuk ketupat bersegi empat menandakan empat penjuru mata angin, yang bermakna ke mana pun manusia pergi tidak boleh melupakan Kiblat sebagai arah shalat.

“Artinya, dalam kondisi bagaimanapun, termasuk ketika terjun ke medan bencana, relawan SAR Hidayatullah hendaknya selalu shalat berjamaah 5 waktu untuk meminta pertolongan Allah Ta’ala” kata Syahar menjelaskan.

Syahar berharap Halal Bihalal “1000 Ketupat” SAR Hidayatullah ini semakin menguatkan simpul jejaring kerelawanan SAR Hidayatullah untuk terus mengabdi untuk bangsa dan kemanusiaan.*

Sinergi Ormas dan Pemerintah Positif untuk Bangun Bangsa

0
Media massa mewawancarai Ketua Umum DPP Hidayatullah, Ust Nashirul Haq, usai pertemuan membahas berbagai masalah kebangsaan dengan Wapres Jusuf Kalla di Istana Wapres, Jakarta Pusat, Senin (16/05/2016)

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Ketua Umum DPP Hidayatullah Ust Nashirul Haq, MA mengatakan terbangunnya komunikasi dan sinergi antara organisasi massa khususnya ormas Islam dengan pemerintah berkontribusi positif terhadap pembangunan bangsa.

Hal itu dikatakan beliau menanggapi terbitnya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 2 tahun 2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) yang dinilai banyak pihak mengancam Hak Asasi Manusia (HAM), khususnya hak berserikat dan berkumpul.

“Padahal peran dan konstribusi mereka sangat besar untuk negara dan bangsa, tinggal bagaimana menjalin komunikasi dan sinergi yang baik,” kata Ust Nashirul ditemui baru baru ini di Jakarta.

Hidayatullah, ditegakan beliau, sejak berdirinya memiliki komitmen sinergi dengan pemerintah yang tak diragukan. Hal ini juga telah ditunjukkan oleh kiprah Hidayatullah di berbagai daerah yang senatiasa selaras dengan program pembangunan.

Menurutnya, berkembang pesatnya eksistensi ormas Hidayatullah tentu tidak saja akan mampu membawa dampak positif langsung bagi anggota dan masyarakat, melainkan juga turut menopang program pemerintah.

Terkait dengan Perppu ormas, Hidayatullah bersama ormas-ormas Islam lainnya mengajukan Gugatan Judicial Review terhadap Perppu Nomor 2 Tahun 2017 tentang Organisasi Masyarakat (Ormas) ini.

Gugatan tersebut selaras dengan semangat demokrasi dan senyawa dengan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi khususnya Pasal 51 ayat (1) bahwa mengajukan gugatan ke MK merupakan hak setiap Warga Negara Indonesia.

UU tersebut menegaskan bahwa merupakan hak setiap warga negara Indonesia untuk memperjuangkan kepentingannya yang dilanggar oleh berlakunya suatu Undang-undang untuk melakukan upaya hukum yaitu menguji ke Mahkamah Konstitusi.

Sebagaimana kajian sejumlah pakar hukum seperti Prof. Yusril Ihza Mahendra bahwa di dalam Perppu tersebut terdapat beberapa pasal yang bersifat karet, tumpang tindih dengan peraturan hukum lain dan berpotensi menimbulkan ketidakpastian hukum.

Perppu ini juga dinilai bisa menimbulkan kesewenang-wenangan pemerintah utk membubarkan ormas-ormas Islam yang ada. (ybh/hio)

Kuatkan Program Mainstream

Ketua Umum DPP Hidayatullah, Ust Nashirul Haq, MA

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Dalam rangka pengabdian keummatan dan meneguhkan peran pembangunan bangsa, Hidayatullah berkomitmen terus menguatkan dua program mainstream gerakannya yakni bidang dakwah dan pendidikan.

Ketua Umum DPP Hidayatullah Ust Nashirul Haq mengatakan pelaksanaan program mainstream tersebut harus terus dikawal, dimonitor dan dievaluasi.

“Jika program ini berjalan secara efektif, Insya Allah kaderisasi, dakwah dan rekruitmen, serta pemberdayaan ekonomi anggota akan terwujud,” katanya kepada media ini usai acara Rapat Pleno DPP Hidayatullah baru baru ini.

Karenanya, lanjutnya, program mainstream Hidayatullah yang telah dicanangkan tersebut perlu terus mendapat dukungan semua pihak, khususnya para pengurus di semua level, seluruh kader dan anggota.

Rapat Pleno DPP Hidayatullah yang digelar di Jakarta pada Selasa-Kamis, 25-27 Juli ini agenda membahas sejumlah masalah di antaranya konsolidasi dan koordinasi, monitoring dan evaluasi program bulan Juni-Juli, dan persiapan program Agustus-September.

Juga pemaparan materi Training Bina Aqidah, pembahasan materi Adab-adab Masjid, serta membahas materi training keorganisasian dan Sumber Daya Insani.

Pertemuan pleno rutin ini dilakukan untuk konsolidasi, koordinasi, monitoring dan evaluasi. Diharapkan agar kebijakan dan program yang dicanangkan berjalan maksimal sesuai target.

“Selama tiga semester ini kita sudah menjalankan sinergi program mainstream,” pungkasnya. (ybh/hio)

Majelis Ulama Tegaskan Indonesia Bukan Negara Kafir

Hidayatullah.or.id – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, KH Ma’ruf Amin menegaskan bahwa Indonesia bukan negara kafir sehingga perlu dipertahankan segala keragamannya oleh seluruh umat Islam agar keutuhan Indonesia tetap terjaga.

Dia menekankan, Indonesia dibentuk atas kesepakatan antara umat Islam dan umat agama lain. Maka dari itu, lanjut Kiai Ma’ruf, Indonesia bukanlah negara kafir karena umat Islam turut berperan dalam pembentukannya.

Kiai Ma’ruf mengutarakan hal tersebut kala memberi sambutan di acara Milad MUI yang ke 42 di Balai Sarbini, Jakarta, Rabu malam (26/7).

“Indonesia adalah wilayah kesepakatan. Bukan negara kafir. Bukan negara perang,” katanya.

Kiai Ma’ruf lalu mengatakan, umat Islam di Indonesia harus memiliki komitmen kebangsaan yang kuat.

Umat Islam, menurut Kiai Ma’ruf, berkewajiban memelihara dasar negara Pancasila dan menjaga keutuhan NKRI secara bersama-sama.

“Serta menjaganya dari segala bentuk rongrongan, pengkhianatan atas kesepakatan oleh siapa pun, alasan apa pun, dan ideologi apa pun,” ujarnya.

Kiai Ma’ruf mengingatkan bahwa hubungan antarumat beragama merupakan suatu kewajiban untuk dijaga oleh umat Islam di mana pun berada, seperti diperintahkan oleh agama.

Di samping itu, menjaga kedamaian antarumat beragama juga termasuk dalam kesepakatan yang telah terjalin lama antara umat Islam dan agama lain.

Oleh karenanya, lanjut Kiai Ma’ruf, umat Islam harus berpegang teguh kepada kesepakatan tersebut agar tidak ada perpecahan yang merujuk kepada disintegrasi bangsa.

“Hubungan antarumat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, hubungan muslim dan nonmuslim adalah hubungan saling berjanji secara damai, saling mencintai dan menyayangi,” ujarnya.

Tanpa kerukunan itu, kata Kiai Ma’ruf, Indonesia tidak akan pernah dapat meraih tujuannya.

MUI menghelat acara milad yang ke-42 di Balai Sarbini, Jakarta tadi malam. Selain dipenuhi oleh anggota MUI dari berbagai kalangan, acara tersebut juga dihadiri pejabat-pejabat negara serta tokoh nasional.

Mereka adalah Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, Wiranto, Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin, Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid dan Oesman Sapta Odang.

Hadir pula Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin, serta Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh. (cnn/hio)

Dai Hidayatullah Masuk Hutan Bina Suku Terasing Togutil

0

Hidayatullah.or.id – Puluhan orang dari berbagai lembaga dan ormas menggelar “Ekspedisi Syahadat” di pedalaman Pulau Halmahera, Maluku Utara (Malut), selama sepekan, 18-25 Juli 2017. Mereka masuk-keluar hutan untuk menyukseskan ekspedisi ini.

“Alhamdulillah kita dari dai tangguh Baitul Maal Hidayatullah dan dai AMCF (Asia Muslim Charity Foundation) bersama tim GPMP (Gerakan Peduli Muslim Pedalaman) bergerak ke hutan untuk mensyahadatkan suku terasing pedalaman Halmahera, Suku Togutil,” ujar Nurhadi (34), dai Hidayatullah yang ikut serta dalam ekspedisi itu.

Tim Ekspedisi Syahadat bergerak menulusuri daerah Kecamatan Maba Utara dari hutan Desa Patlean, lanjut daerah Trans Siap Pemukiman (SP) 1, daerah Trans SP 2, dan Desa Wasileo.

“Kita dengan tim berjumlah sekitar 10 orang. Masuk ke hutan selama satu minggu tanpa sinyal HP. Sehingga kehilangan kontak dengan dunia luar, putus komunikasi waktu sampai di tempat,” kata Nurhadi.

“Daerah ini pun hanya bisa dilalui via kapal kayu yang hanya seminggu beberapa kali saja. Sementara jalan darat belum tembus ke daerah ini,” tuturnya kepada hidayatullah.com melalui sambungan jarak jauh, Selasa (25/07/2017).

Nurhadi bertutur, kadang tim berjalan kaki setiap dua hari dan menginap di hutan. Mereka berjalan menelusuri hutan, bukit-bukit, dan menyeberangi sungai.

“Bahkan sungai rawa yang banyak buayanya pun kita lewati,” ungkap dai yang biasa berdakwah di pedalaman ini.

Demi menempuh perjalanan itu, sampai-sampai mereka rela makan nasi dengan lauk nasi karena kehabisan bekal di perjalanan. Mereka masak nasi ala orang Suku Togutil, yaitu menggunakan bambu yang diisi beras lalu dibakar di atas bara api.

Tujuan ekspedisi ini antara lain mensyahadatkan puluhan warga Suku Togutil.

Lelah-letih yang mereka rasakan menuai hasil, setelah akhirnya Tim Ekspedisi Syahadat berhasil menemui dan membimbing warga demi warga yang akan masuk Islam.

“Alhamdulillah dari jerih payah itu, puluhan orang Suku Togutil pun ikut bersyahadat masuk Islam yang sebelumnya belum beragama,” ungkapnya.

Tutur Nurhadi, mereka merasa jerih payah perjalanan panjang itu lenyap setelah suksesnya prosesi pensyahadatan itu.

“Rasanya capek dan lelah berjalan masuk ke hutan pun hilang ketika ada saudara-saudara seiman kita. Allahu Akbar!” ungkapnya.

Prosesi masuk Islam warga Suku Togutil itu berlangsung di beberapa titik. Antara lain di hutan Desa Patlean, Kecamatan Maba Utara dan di masjid Trans SP 1, Maba Utara, Halmahera Timur.

“Yang lain di hutan-hutan seperti Desa Patlean,” tuturnya.

Sebelumnya, diberitakan hidayatullah.com, sebanyak 21 warga Suku Togutil, Selasa (23/05/2017), juga telah mengikrarkan syahadat.

Prosesi yang diselenggarakan DPW Hidayatullah (Malut) bersama Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Malut dan bertempat di Pondok Pesantren Hidayatullah Ternate ini berjalan lancar, dibimbing Ketua DPW Hidayatullah Tertanet, Ryadi Poniman.*/Hidcom