Beranda blog Halaman 571

Pesan Pernikahan Prof Didin untuk Gapai Keluarga Sakinah

Pesan Pernikahan Prof Didin Hafidhuddin untuk Gapai Keluarga Sakinah Pesan Pernikahan Prof Didin Hafidhuddin untuk Gapai Keluarga Sakinah3 Pesan Pernikahan Prof Didin Hafidhuddin untuk Gapai Keluarga Sakinah2Hidayatullah.or.id – Anggota Dewan Pertimbangan Pimpinan Umum Hidayatullah Dr Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar menikahkan putrinya dengan putra dari Dr Abdul Mannan yang juga mantan Ketua Umum DPP Hidayatullah yang saat ini mengemban amanah sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Pimpinan Umum (DPPU).

Cendekiawan Muslim Prof Dr KH Didin Hafidhuddin turut hadir dalam acara akad nikah itu sekaligus menyampaikan khutbah pernikahan.

Hadir pula menyaksikan prosesi akad nikah tersebut Pimpinan Umum Hidayatullah Ust Abdurrahman Muhammad, Ketua Umum DPP Hidayatullah Ust Nashirul Haq, juga sesepuh Hidayatullah yang juga pimpinan Java Motor, Andi Iman Loebis, serta anggota Dewan Pertimbangan Pimpinan Umum Drs Abdul Rahman.

Muhammad Saddam bin Abdul Mannan dengan Izzatul Mudzakkirah binti Abdul Aziz Qahar Mudzakkar melakukan akad pernikahan di Masjid Ummul Quro, Komplek Pondok Pesantren Hidayatullah, Kota Depok, Jawa Barat, Ahad (05/03/2017).

Dalam nasihat pernikahan itu, Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) Pusat ini menyebutkan beberapa pilar penting tumbuhnya keluarga sakinah mawaddah warohmah.

Pilar pertama, kata Didin, adalah ketaqwaan kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Dia menegaskan, keluarga sakinah tidak mungkin dibangun kecuali atas dasar landasan yang kuat, yaitu taqwa kepada Allah.

“Ketaqwaan kepada Allah merupakan sesuatu yang penting dalam membangun segala aspek kehidupan. Termasuk dalam membangun keluarga, apalagi membangun bangsa dan negara,” ujarnya seusai aqad nikah sepasang putra-putri tokoh ormas Hidayatullah yang digelar cukup sederhana itu.

Ia menjelaskan, untuk membangun keluarga sakinah, anggota keluarga mesti mendekatkan diri kepada Allah. Caranya antara lain melalui peningkatan ibadah, seperti membaca al-Qur’an, shalat tahajud, dan sebagainya.

“Insya Allah, Allah akan memberi keberkahan…. Keberkahan tidak mungkin turun kalau kita tidak akrab dengan kalimat-kalimat Allah,” ujarnya.

Pilar kedua, jelas Didin, ditunaikannya kewajiban masing-masing pasangan dalam rumah tangga.

“Keluarga sakinah akan mampu dibangun jika suami menunaikan kewajiban, keluarga sakinah akan mampu dibangun jika istri menunaikan kewajibannya,” ujar mantan Ketua Umum Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) ini.

Jadi, kata dia, daripada menuntut hak, suami maupun istri harus lebih mengutamakan penunaian kewajibannya. Suami atau istri kalau selalu menuntut hak, imbuhnya, belum tentu menunaikan kewajibannya.

Pilar ketiga, tambah Didin, suami-istri mesti mendesain rumah tangga menjadi sarana melahirkan generasi Muslim pejuang.

“Keluarga harus jadi tempat persemaian lahirnya para mujahid, keluarga harus jadi tempat persemaian lahirnya para dai,” ujarnya di depan 500-an tamu undangan yang memadati masjid.

Kemudian, pilar keempat dalam membangun keluarga sakinah, kata Didin, adalah terjalinnya hubungan yang lebih baik antara suami atau istri terhadap orangtuanya.

“Setelah pernikahan, maka hubungan dengan kedua orangtua harus semakin baik,” ujar Dekan Pascasarjana UIKA ini.

Ia mengatakan, ketika seorang suami ingin berbuat baik kepada orangtuanya, maka harus didorong oleh istrinya.

Begitu pula sebaliknya, kata dia, “Ketika seorang istri ingin berbuat baik kepada orangtuanya, maka harus didorong oleh suaminya.”

Dalam acara resepsi pernikahan tersebut hadir pula sejumlah tokoh antara lain Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X beserta permaisuri Gusti Kanjeng Ratu Hemas, anggota DPD RI Muhammad Aksa Mahmud, AM Fatwa, mantan Menteri Koperasi dan UKM Syarief Hasan, Neno Warisman, dan lain sebagainya.

Selain itu tampak juga Ketua Harian DPP Partai Golkar Nurdin Halid, Ketua BPK RI Harry Azhar Azis, kolega dari anggota MPR, DPD, dan DPR RI, dan sejumlah anggota DPRD serta sejumlah Bupati/ Walikota dari Sulawesi Selatan. (skr/ybh)

Delegasi Urusan Agama Saudi Bertemu DPP Hidayatullah

Delegasi Urusan Agama Arab Saudi Bertemu DPP HidayatullahHidayatullah.or.id – Usai menghadiri undangan untuk mendengarkan sambutan Raja Salman di Gedung DPR pada Kamis (2/3), Ketua Umum DPP Hidayatullah, Nashirul Haq Lc MA, dijamu oleh delegasi Kementerian Urusan Agama Kerajaan Arab Saudi di Hotel Ritz Carlton, Kuningan, Jakarta Selatan.

Pertemuan informal ini, kata Nashirul Haq usai pertemuan tersebut, adalah untuk membincangkan masalah dakwah dan pendidikan.

“Kita sepakat mengusung dakwah wasathiyah dalam bingkai ahlus sunnah wal jama’ah, yaitu dakwah yang mendidik dan mencerahkan umat, serta bersikap tasamuh (toleran) dalam masalah furu’ (cabang),” katanya.

Nashirul juga mengungkapkan bahwa kunjungan Raja Salman ke Indonesia sangat bersejarah. Raja Salman mendapat sambutan yang hangat dari pemerintah dan masyarakat Indonesia. Ini menunjukkan jalinan persahabatan yang mesra antar kedua negara.

Hubungan kerja asama ini, jelas Nashirul, mudah-mudahan akan terjalin di semua bidang, baik ekonomi, politik, pendidikan keagamaan, maupun ketenagakerjaan.

“Persoalan haji, tenaga kerja wanita (di Arab Saudi), isu wahabi, Islam Arab dan Islam Nusantara, hendaknya sudah clear sehingga tidak mengganggu hubungan yang harmonis selama ini,” kata Nashirul.

Sebagaimana diberitakan, Raja Salman mengunjungi Indonesia sejak tanggal 1 hingga 9 Maret mendatang.

Di hari kedua lawatan tersebut, Raja Salman didaulat untuk menyampaikan sambutannya di Gedung Nusantara III DPR RI. Sejumlah ulama dan tokoh masyarakat diundang hadir untuk mendengarkan sambutan tersebut.

Dalam sambutan singkatnya, Raja Salman mengajak umat Islam untuk bersatu menghadapi berbagai tantangan global saat ini. Khusus untuk Indonesia, Raja Salman berharap terjalin kerja sama di segala bidang. (Mahladi)

Ketum Hidayatullah Sambut Dai Internasional Zakir Naik

Ketum Hidayatullah Sambut Dai Internasional Zakir Naik2 Ketum Hidayatullah Sambut Dai Internasional Zakir Naik_CoverHidayatullah.or.id — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Nashirul Haq, Lc, MA, menyambut tokoh dai internasional, Dr Zakir Abdul Karim Naik atau lebih karib disapa Zakir Naik.

Kedatangan Dr Zakir Naik ke Jakarta dalam rangka kunjungan silaturahim dengan ulama, dan tokoh.

Ini merupakan kunjungan awal tokoh kelahiran India itu dalam rangka persiapan kedatanganya kembali yang direncanakan akhir Maret untuk menjadi narasumber sejumlah kegiatan di beberapa tempat atau kampus yang sudah siap akan mengadakan acara.

Selain Ketua Umum DPP Hidayatullah, juga hadir pada kesempatan silaturrahim tadi malam, Kamis (02/03/2017) tokoh-tokoh lainnya seperti Sekjen MUI Anwar Abbas, Ketua MUI Bidang Luar Negeri MUI Muhyidin Junady, pengurus BKSPPPI KH Kholil Ridwan, Pimpinan Ponpes Darul Quran Ustaz Yusuf Mansur, Wakil Az-Zikra Alvin Arifin Ilham, perwakilan MIUMI Ustaz Adnin Armas, Ustaz Ahmad Farid Oqbah dari Al Islam Center, Jubir HTI Ismail Yusanto dan Rahmat S Labib dari HTI serta Irene Handono.

Seperti diketahui, dai internasional asal India ini kerap memukau dengan debat-debatnya. Ia tiba di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta sekitar pukul 18:15 WIB pada Rabu (1/3/2017).

Meskipun sepi dari liputan media, Dr Zakir Naik disambut baik oleh masyarakat Indonesia, baik selama di bandara hingga jamuan makan malam.

Panitia acara ‘Dr Zakir Naik Visit Indonesia 2017’, Al Bukhari Abdul Wahid mengatakan, kunjungan Dr Zakir Naik kali ini ke Jakarta lebih bersifat kunjungan pribadi.

“Selama di Jakarta, beliau tidak ada agenda mengisi ceramah umum ataupun khutbah Jum’at. Beliau di Jakarta hanya melakukan silaturrahim serta berkoordinasi dengan panitia lokal terkait persiapan safari dakwahnya akhir bulan ini,” ungkap Bukhari dalam keterangannya kepada wartawan, Jum’at pagi (3/3).

Bukhari Wahid selaku representatif Dr Zakir Naik di Indonesia, menegaskan juga bahwa kunjungan dai asal Mumbai, India ini ke Jakarta hingga safari dakwahnya, bukan karena ada pihak yang mengundang tapi atas keinginan pribadi Dr. Zakir Naik.

“Perlu kami tegaskan Dr Zakir Naik ke Indonesia kali ini serta kegiatan safari dakwah mendatang, murni atas keinginan pribadi beliau bukan karena ada pihak yang mengundang. Dan perlu dicatat juga, selama kegiatan safari dakwah beliau nanti, beliau sama sekali tidak dibayar dan tidak ada unsur komersialisasi,” jelasnya.

Mengenal jadwal ceramah di Indonesia, Humas Panitia, Budhi Setiawan, menjelaskan, kegiatan Safari Dakwah Dr Zakir Naik akan dilaksanakan mulai tanggal 31 Maret sampai dengan 9 April 2017.

“Dr Zakir Naik direncanakan melakukan dakwah di beberapa tempat, diantaranya Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Universitas Darussalam Gontor, Ponorogo. Untuk lokasi lainnya masih dalam tahap koordinasi,” ujarnya. (ybh/hio)

Alumni STISHID Diingatkan Jaga Idealisme dalam Dakwah

Alumni Diingatkan Jaga Idealisme PerjuanganHidayatullah.or.id – Alumni Kampus Pesantren Hidayatullah khususnya anggota Keluarga Besar Ikatan Alumni Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullah (STISHID) Balikpapan diingatkan untuk selalu menjaga idealisme perjuangan dalam mengarungi jalan dakwah dengan merawat silaturrahim.

Pesan tersebut disampaikan Ketua Lembaga Pendidikan dan Pengkaderan Hidayatullah (LPPH) Ustadz Abdul Ghofar Hadi dihadapan puluhan alumni se-kota Balikapan saat memberikan sambutan dalam Silaturrahim Akbar Alumni di Gedung Aula “Marfuah” Kampus STIS Hidayatullah, (24/02/2017).

Dalam sambutan tersebut, Ustadz Abdul Ghofar Hadi menekankan pentingnya menautkan tali silaturahim antar alumni.

“Silaturahim tak hanya dimaknai kumpul-kumpul dan saling tukar nostalgia masa lalu. Tapi juga mengingatkan tentang pentingnya idealisme perjuangan itu dijaga,” katanya.

“Silaturahim alumni yang diadakan di kampus memberi makna tersendiri. Bukan cuma cerita dan kenangannya saja. Tapi karena di kampus inilah idealisme dakwah itu mulai tertanam,” imbuhnya.

Abdul Ghofar menerangkan urgensi para lulusan STIS tersebut diwadahi dalam satu komunitas. Pertama, jelasnya, untuk menyegarkan spirit dan niat berjuang di jalan dakwah.

“Dengan teman yang sefikrah, maka gairah dakwah itu bisa dijaga. Sebab ada kesamaan idealisme dan cita-cita,” ungkap Ketua STIS Hidayatullah hingga 2015 lalu.

Dikatakan Abdul Ghofar, agenda silaturahim juga bisa diselingi dengan kegiatan pengajian, kajian atau taklim. Sebab semuanya berfungsi untuk menambah ilmu dan semangat dalam beragama.

“Jika ada alumni yang tidak aktif kegiatan, biasanya ia merasa kering bahkan kehilangan spirit dan niat berjuang,” papar Abdul Ghofar.

“Orang demikian akan terjebak dengan rutinitas sehari-hari yang kadang dianggapnya menjemukan,” imbuhnya lagi.

Di hadapan para alumni, Abdul Ghofar juga mengingatkan budaya berkontribusi kepada almamater dalam segala hal atau perkara kebaikan. Setidaknya dengan menjaga nama baik STIS dan tidak merugikan almamater yang dikenal sebagai lembaga pengkaderan selama ini.

“Alumni adalah cermin hidup bagi almamater. Seperti apa kualitas kiprah dakwah alumni maka seperti itu juga orang lain menilai STIS Hidayatullah,” ujar pria murah senyum ini.

“Jadilah cermin yang selalu memantulkan teladan kebaikan, dimana pun kalian bertugas,” pungkasnya menutup.

Diketahui, hingga kini, STIS Hidayatullah telah meluluskan ratusan alumni dari berbagai angkatan sejak 2008 lalu. Sejak masa itu pula, terbentuk Ikatan Alumni STIS Hidayatullah, baik Alumni Putra ataupun Alumni Putri.

Saat ini, Alumni STIS Hidayatullah Putra dinakhodai oleh Rizki Kurnia Syah, S.H.I. sedang Alumni STIS Hidayatullah Putri diketuai oleh Sri Hartati, S.H.I., M.P.I.*/STISHID

Persit TNI Anjangsana Ponpes Hidayatullah Manokwari

Persit XVIII Kasuari Kunjungi Pesantren Hidayatullah Manokwari2 Persit XVIII Kasuari Kunjungi Pesantren Hidayatullah ManokwariHidayatullah.or.id – Menyambut HUT Persatuan Istri Prajurit TNI Kartika Chandra Kirana (Persit KCK) yang ke 71 dan Dharma pertiwi ke 53, Ketua Persit KCK PD kodam XVIII/Kasuari, Ny. Istriani Wayangkau beserta rombongan melaksanakan kegiatan anjangsana silaturrahim ke Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah, Manokwari, Provinsi Papua Barat (23/02/17).

Ketua Persit KCK Kasuaro beserta rombongan menuju ke Pesantren Hidayatullah dan juga ke Sekolah Pendidikan Guru Jemaat untuk melaksanakan kegiatan sosial dan bersilaturahmi dengan saudara-saudara kita di sana.

Kegiatan ini disambut baik oleh pengurus Pesantren Hidayatullah dan pengurus Sekolah Pendidikan Guru Jemaat.

Selain itu Ketua Persit juga memberikan bingkisan berupa sembako dan uang tunai ke Pesantren dan Sekolah Pendidikan Kristen tersebut agar dapat dipergunakan untuk keperluan pasantren dan juga sekolah.

Pada kesempatan tersebut salah seorang pengurus Pesantren Hidayatullah Manokwari, Ust Hasanuddin Ali, menyampaikan terimakasih dan apresiasi yang tinggi kepada organisasi Persit dan TNI secara umum yang memiliki kepedulian yang tinggi terhadap masyarakat termasuk lembaga Hidayatullah.

Selama ini Hidayatullah Manokwari telah menjalin silaturrahim dan sinergi dengan berbagai pihak dalam rangka membangun tradisi kebersamaan dan kekeluargaan.

Hal itu merupakan tekad dan ciri khas Hidayatullah dimanapun berada yang selalu menjalin kerjasama dengan berbagai pihak tanpa pandang golongan dalam rangka mendukung terselenggaranya kehidupan yang harmonis dan kolaboratif di masyarakat dan Indonesia secara umum. (ybh/hio)

Lahirnya Peradaban Islam Berawal dari Dakwah Fardhiyah

peradaban islamHidayatullah.or.id – Lahirnya peradaban Islam berawal dari dakwah fardhiyah. Sebagaimana Rasulullah mengutus para sahabat berdakwah secara fardhiyyah ke beberapa daerah atau negara.

Demikian disampaikan Pimpinan Umum Hidayatullah, Ust Abdurrahman Muhammad, saat memberikan taushiah di hadapan jamaah Masjid Ar Riyadh Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur, belum lama ini (25/2/2017).

Dakwah fardiyah adalah ajakan atau seruan kejalan Allah Subhanahu Wata’ala yang dilakukan seorang dai (pendakwah) kepada orang lain secara individual, dengan tujuan memindahkan mad’u (yang diseru) pada keadaan yang lebih baik dan diridhai Allah Ta’ala.

“Salah satu diantaranya Mushab bin Umair yang diutus ke Yastrib untuk berdakwah di sana. Sehingga berhasil mengajak beberapa penduduk Yastrib masuk Islam dan merekalah yang menjadi kaum Anshor yang menerima hijrah Rasulullah,” katanya.

Beliau mendorong segenap kader agar menderapkan langkah lebih massif. Maka, lanjutnya, sosialisasi kebijakan Dewan Pengurus Pusat terkait Kartu Anggota, infak organisasi dan dakwah fardhiyyah adalah bagian dari konsolidasi organisasi.

“Sehingga jamaah Hidayatullah tidak boleh lepas dari komando. Harus dalam halaqah. Karena untuk menghadapi kondisi fitnah akhir zaman kita harus kuatkan keimanan dan komando kepemimpinan,” imbuhnya.

Maka itu, terangnya, para kader yang diberi amanah sebagai murabbi, ketua, muallim atau kepemimpinan di halaqah harus mengkondisikan anggota halaqah, mendekatinya lagi, dan kasih sayang ditingkatkan untuk meningkatkan keimanan anggotanya.

“Harus ada tekad terkait peningkatan spritual,” tegasnya.

Waspada Komunisme

Pada kesempatan tersebut beliau juga mengingatkan bahaya komunisme yang telah dilarang oleh negara sebagaimana termaktub dalam UU 27/1999 tentang Perubahan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang berkaitan dengan keamanan negara.

Dalam UU 27/1999 tersebut pada pasal 107, disebutkan bahwa upaya dengan lisan, tulisan maupun media apa pun menyebarkan atau mengembangkan ajaran Marxisme, Komunisme, Leninisme dalam segala bentuk dan wujudnya dipidana dengan pidana paling lama 20 tahun penjara.

“Informasi pergerakan komunis di Indonesia bukan isu. Yang ngomong bukan orang kecil tapi para jenderal, tokoh tokoh, penyair negeri ini untuk banyak menyampaikan bahaya komunis. Bahkan mereka mengatakan, ‘yang berkata komunis isu maka harus dicurigai dia bagian dari komunis,” imbuh beliau.

Maka beliau sarankan untuk membuat Front Anti Komunis bersama komponen umat Islam yang lain.

Namun, ia mengingatkan, kita tidak perlu takut dengan ancaman komunis, tapi harus ada persiapan untuk melawan dengan apa saja agar tidak konyol atau mati sia sia.

“Persiapan itu bagian syariah. Tak perlu takut kecelakaan atau mati, karena mati itu pasti. Mati dalam perjuangan melawan kebathilan atau memperjuangkan Islam adalah syahid atau kemulian,” ingatnya.

Beliau mengungkapkan, hidup ini bukan hanya untuk makan, tidur, tua lalu mati. Apa artinya hidup orang Islam tanpa memperjuangkan Islam sebagai agamanya.

Ditambahkannya, lahirnya tokoh tokoh besar dalam pergerakan akhir zaman bisa lahir dari gerakan tarbiyah. Maka harus ada keterlibatan dari semua pihak dalam tarbiyah dengan meningkatkan spritual, mental, intelektual dan moral.
Moral paling tinggi adalah berani. Keberanian yg dikelola dengan baik. Para pemimpin yang masih muda muda harus berani dan sedikit nekat untuk membuat program yang revolosioner dan progressif,” tukasnya.

Dia mengingatkan agar kader siapa saja dan di institusi manapun coba mengajak orang untuk shalat atau mengaji. Kalau tidak mau, didoakan agar mendapat hidayah, selamat dunia akhirat.

“Sebagaimana Rasulullah mendoakan tokoh tokoh Makkah Madinah. Diantaranya dua Umar yang berhasil masuk Islam. Perlu berdakwah dan mendoakan tokoh tokoh untuk menguatkan dakwah Islam,” katanya.

Dia menjelaskan, komando spritual dengan pekikan takbir yang bisa menggetarkan musuh sekaligus memberikan spirit orang beriman. Gelora Sukarno di Jakarta dan gelora Bung Tomo di Surabaya dengan takbirnya berhasil mengusir penjajah.

“Sehingga program dakwah fardhiyyah itu ringan, enteng sekali. Sederhana tapi dampak atau dibelakangnya ada kekuatan yang besar utk keimanan dan dakwah Islam. Tanpa atau mandeknya dakwah menjadikan berhentinya peradaban sebagaimana kerajaan atau peradaban Islam yang tinggal hanya museum, tempat wisata saja,” ujarnya.

Kemudian, lanjutnya, kita perlu perkuat gerakan ibadah nafiilah (sunnah yang dianjurkan) yang dalilnya jelas dan yang melaksanakan amalan amalan nafilah adalah waliyullah yg Allah akan membelanya.

Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حتَّى أُحِبَّهُ

“Barang siapa memusuhi salah seorang wali-Ku, sungguh Aku umumkan peperangan padanya. Tidaklah hamba-Ku bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada-Ku dengan suatu (ibadah) yang lebih Aku cintai daripada ibadah/amalan yang Aku wajibkan atasnya. Senantiasa hamba-Ku bertaqarrub kepada-Ku dengan ibadah/amalan nafilah hingga Aku mencintainya.” (HR. al-Bukhari no. 6502, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Hadits di atas menerangkan bahwa ibadah-ibadah nafilah merupakan salah satu sebab memperoleh kecintaan dan pembelaan dari Allah. “Sehingga perlu ada gerakan nafilah yg termanajemen, terorganisir dan massif,” pungkasnya.
*/Abdul Ghofar Hadi

TNI Bantu Ponpes Hidayatullah Biak Mengolah Lahan Sawah

0

Kodim Biak Numfor Bantu Pesantren Hidayatullah Olah Lahan SawahHidayatullah.or.id – Jajaran Kodim 1708/Biak Numfor (BN) membantu petani mengolah lahan sawah seluas satu hektare di Kampung (Desa) Moibaken, Distrik Yendidori, Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua, baru baru ini.

Perwira Seksi Teritorial (Pasiter) Kodim 1708/BN Kapten Inf Yoyok Sudianto, bersama Danramil Yendidori Mayor Inf Ahmad Sugianto, dan beberapa anggota koramil terlibat aktif dalam bakti sosial itu.

Mereka mendampingi Suratno dari kelompok tani Moibaken mengolah satu hektare lahan sawah dalam kompleks Pondok Pesantren Hidayatullah Biak, yang dipersiapkan untuk masa tanam beberapa pekan ke depan.

Mayor Ahmad mengatakan kegiatan pendampingan seperti itu merupakan salah satu tugas pokok yang harus dilakukan terutama bagi satuan kewilayahan.

“Selain itu, untuk memberikan motivasi kepada para petani, juga bertujuan untuk mendukung tercapainya program pemerintah dalam menyukseskan program swasembada pangan Nasional, khususnya di wilayah Kabupaten Biak Numfor,” ujarnya dikutip Antara Papua.

Sedangkan Kapten Yoyok menambahkan, guna mendukung tercapainya program pemerintah tersebut, diperlukan kerjasama seluruh elemen masyarakat mulai dari para petani, kelompok tani, petugas PPL, dan Babinsa sebagai ujung tombak di lapangan.

“Saat ini memang terkendala dengan terbatasnya petugas lapangan, dalam hal ini petugas PPL, untuk itu, satuan kewilayahan khususnya Koramil akan selalu berperan aktif dalam melaksanakan pendampingan program dan upaya khusus pertanian guna mencapai program swasembada pangan,” ujarnya.

Sementara itu, pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah, Ustadz Jamaludin menyambut baik upaya yang dilakukan semua pihak khususnya dalam menyiapkan lahan milik pondok pesantren itu.

Ia berharap, musim tanam kali ini sesuai kondisi cuaca sehingga dapat menghasilkan panen yang melimpah dan bermanfaat, terutama bagi penghuni pondok pesantrennya. (ybh/hio)

DPRD Jabar Dukung Gerakan Dakwah-Tarbiyah Hidayatullah

DPRD Jabar Dukung Gerakan Dakwah-Tarbiyah HidayatullahHidayatullah.com. Dakwah dan tarbiyah (pendidikan) sangat penting. Sebab ini menyangkut masa depan masyarakat. Jika kualitas dakwah dan pendidikan berkualitas, maka masyarakat akan maju.

Oleh karena itu, kata Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat, Haris Yulana, umat Islam selain jumlahnya mayoritas, yang lebih penting lagi adalah kualitas.

Hal tersebut ia sampaikan saat membuka acara Silaturahim Tokoh Masyarakat dan Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah Jabar di Pondok Pesantren Hidayatullah Bandung, Jalan Rd. Edang Suwanda Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, belum lama ini (18/02/2017).

Menurut Haris, ketika berbicara dakwah dan pendidikan, maka harus mencontoh Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

“Karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun memulai dari ini,” ujar Haris.

Anggota dewan dari Fraksi PKS ini mengatakan, Pemerintah Provinsi Jabar sangat memperhatikan pendidikan. Sudah banyak sekolah negeri yang dibangun. Tetapi banyak juga yang belum tertampung.

“Oleh karena itu, pemerintah daerah mendukung upaya yang dilakukan oleh Hidayatullah dalam bidang dakwah dan pendidikan,” kata dia.

Haris juga mengapresiasi dakwah ormas Islam itu melalui Majalah Suara Hidayatullah.

Menurutnya, di era globalisasi dan informasi ini persaingan media sangat ketat, tidak mudah untuk bisa eksis. Namun, majalah bulanan itu sampai kini masih bisa bertahan dan menyebarkan informasi yang bermanfaat.

“Saya pelanggan setianya sejak dahulu, bahkan mengenal Pesantren Hidayatullah pun melalui majalahnya,” kata Haris yang juga pernah berkecimpung di media ini.

Sementara itu, Ketua Dewan Pengurus Wilayah Jabar ormas itu, Dadang Abu Hamzah mengatakan, kerja sama antara Pemprov Jabar dan ormas itu sudah terjalin baik.

“Alhamdulillah, sudah terbangun kerja sama dan perlu ditingkatkan lagi. Kami berterima kasih kepada pemerintah yang konsen terhadap dakwah dan pendidikan. Tak lupa juga kepada masyarakat yang telah mendukung dan berkontribusi,” ujarnya dalam sambutannya.

Rakerwil yang berlangsung dari tanggal 18-19 Februari ini dihadiri oleh jajaran anggota ormas itu dari unsur Dewan Pengurus Pusat yaitu Sofyan Sumlang dan Musyafir dan 11 anggota DPD Jabar. Hadir pula perwakilan dari MUI, kelurahan, polsek, ormas Islam lain, dan tokoh masyarakat. (Dadang Kusmayadi)

Pemkot Mataram: “Terima Kasih Kiprah Nyata Hidayatullah”

Rakerwil DPW Hidayatullah NTB 2017_2 Rakerwil DPW Hidayatullah NTB 2017Hidayatullah.or.id – Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah NTB menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) II dengan tema “Optimalisasi Gerakan Mainstream Menuju Gerakan Tarbiyah Dakwah” selama dua hari 25–26 Februari 2017.

Acara tersebut berlangsung di Aula Pendopo Wali Kota Mataram dan dibuka oleh pejabat Pemerintah Kota Mataram, Asisten I Bidang Pemerintahan H. Lalu Martawang.

Dalam sambutannya Lalu Martawang mengapresiasi dan berterima kasih kepada Hidayatullah dan mengaku salut karena Hidayatullah adalah salah satu ormas yang tidak ikut berkecimpung di dunia politik. Akan tetapi Hidayatullah lebih memilih berbuat nyata di tengah-tengah masyarakat dengan pendidikan dan dakwahnya.

“Kami sampaikan terimakasih sekaligus bangga dengan kiprah Hidayatullah yang konsisten dengan progam pendidikan dan dakwahnya tanpa sedikit pun bersinggungan dengan agenda-agenda politik praktis,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua DPW Hidayatullah Mataram, Ust Ahmad Syaifudin Nawawi, Lc dalam sambutannya bertekad bersama mujahid dakwah NTB tuk memakmurkan masjid yang ada di NTB wabilkhusus di pulau seribu masjid ini.

“Dengan makmurnya masjid Allah akan mengirim pertolongan kepada umat Islam namun sebaliknya ketika masjidnya sepi yang datang kemungkaran dan kemaksiatan. Itu tidak akan berjalan dengan baik tanpa sinergi dengan pihak lain diantaranya pemerintah Kota Mataram,” tegasnya.

Ahmad Syaifudin mengucapkan terima kasih kepada Wali Kota Mataram TGH Ahyar Abduh atas supportnya sehingga kegiatan ini berjalan dengan baik. Pihaknya mendoakan semoga Kota Mataram semakin maju, religius dan berbudaya di bawah kepemimpinan beliau. (Abdul Choliq)

1500 Peserta Jamnas I Pandu Hidayatullah Dapat Wasbang

Ribuan Peserta Jamnas I Pandu Hidayatullah Ikuti Pendidikan Wawasan Kebangsaan2 Potret Galeri Jambore Nasional I Pandu Hidayatullah di Coban Rondo Ribuan Peserta Jamnas I Pandu Hidayatullah Ikuti Pendidikan Wawasan KebangsaanHidayatullah.or.id – Sebanyak 1.500 siswa SD, SMP, SMA lembaga pendidikan Hidayatullah se-Indonesia mengikuti Jambore Nasional (Jamnas) I Pandu Hidayatullah di Batu, Jawa Timur pada 14-18 Februari 2017. Pada kesempatan tersebut mereka juga mendapatkan pendidikan wawasan kebangsaan (wasbang).

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Nashirul Haq, MA, saat membuka acara tersebut, mengatakan jambore tersebut mengangkat tema “Sukses Kaderisasi Melalui Pandu Hidayatullah”.

Dalam pidato pembukaannya, ia meminta para santri kader Hidayatullah memiliki karakter spiritual yang baik, kemandirian, ketangguhan dan keterampilan, serta rasa persaudaraan yang tinggi.

“Sesuai dengan maksud diadakannya pandu Hidayatullah I ini, seorang santri harus memiliki kualitas ketakwaan, ketaatan, dan kesabaran yang tinggi dalam rangka menumbuhkan semangat juang dalam diri,” kata Nashirul.

Sementara itu, Ketua Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah DPP Hidayatullah Amun Rowie mengatakan acara Jambore Nasional I ini menjadi cikal bakal untuk selanjutnya diadakan kegiatan serupa.

“Kami mengumpulkan seluruh elemen lembaga pendidikan di Hidayatullah secara nasional mulai SD, SMP, dan SMA,” katanya.

Amun berharap kegiatan Jambore ini berjalan lancar. Dia menjelaskan acara ini akan diisi dengan beragam kegiatan yaitu Pandu Challenge, Pandu Edutrip, serta Pandu Bela Negara.

“Khusus pandu bela Negara kami mengundang dari TNI sebagai instruktur,” ujarnya.

Meskipun kegiatan diadakan di alam terbuka, kata dia, kegiatan spiritual menjadi kegiatan unggulan dalam pandu ini. Sholat lima waktu sangat dijaga. Termasuk sholat sunnah lainnya. Hal itu, menurutnya sesuai dengan ruh Hidayatullah sebagai lembaga dakwah Islam.

Di sela acara itu, peserta Jambore Nasional Pandu asal Surabaya Renata Mahardika mengatakan, dirinya metasa tertantang dengan kegiatan pandu ini. Selain bisa bertemu dengan santri dari lembaga pendidikan Hidayatullah dari berbagai daerah, kegiatan inti pandu sangat menantang.

“Yang paling menantang adalah pandu bela Negara,” kata dia.

Wawasan Kebangsaan

Pada kesempatan tersebut, Taman Wisata Coban Rondo, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, menjadi saksi bagi tumbuh kembangnya wawasan kebangsaan (wasbang) yang disiramkan Kepala Staf Kodim 0818 Mayor Inf Bambang kepada sekitar 1.500 pelajar se-Indonesia yang mengikuti acara Jambore Nasional Pandu I Hidayahtullah, Rabu (15/02) sore.

Tema wasbang yang disampaikan Mayor Bambang kepada para pelajar yang didampingi para ustad ini mengenai bahaya narkoba, bahaya laten komunis, dan radikalisme terhadap generasi muda.

“Tiga topik tersebut berkaitan erat dengan kehidupan anak-anak saat ini yang akrab dengan teknologi. Tanpa adanya filter, empat perusak moral generasi muda ini akan mudah masuk dan menjadikan mereka korban,” ujar Bambang.

Bambang mencontohkan bahaya narkoba yang menjadi salah satu musuh utama generasi muda saat ini.

“Narkoba semakin banyak jenisnya. Bahkan mereka memodifikasi bentuk narkoba agar disukai anak-anak. Tanpa adanya penanaman moral dan pemahaman dari guru, orang tua dan lainnya, akan mudah anak-anak kita terjebak oleh para pengedar narkoba,” paparnya.

Ceramah wasbang yang disampaikan Bambang dengan gaya yang mudah dicerna dan dengan bahasa lugas itu membuat anak-anak antusias mendengarkannya. Hal-hal faktual tentang bahaya narkoba, bahaya laten komunis, dan radikalisme disampaikan dengan cara dan pola yang mudah dipahami peserta jambore ini.

Bahaya laten komunis dan radikalisme yang disinyalir mulai marak pada tahun-tahun lalu sampai sekarang ini juga menyasar generasi muda.

“Anak-anak yang ikut jambore ini yang nantinya akan menjadi penerus bangsa. Karena itu, menjadi kewajiban seluruh elemen, khususnya kami di TNI, untuk menguatkan perisai terhadap berbagai bahaya yang mengepung tanpa mereka kita sadari betul,” ujar Bambang yang berharap dengan adanya penanaman wasbang ini, elemen perusak generasi muda bisa dienyahkan sedini-dininya.

Dia juga memberikan petuah kepada anak-anak dalam upaya menangkal bahaya narkoba, komunisme dan radikalisme yang bisa saja hadir dari berbagai sumber media, khususnya teknologi internet.

“Hargai, patuhi orang tua maupun para ustad yang membimbing adik-adik semua agar terhindar dari berbagai bahaya yang bisa merusak di kemudian hari,” ujarnya yang disambut semangat oleh 1.500 pelajar dan para ustad yang mendampingi.

Di akhir ceramahnya, kepala staf Kodim 0818 ini mengajak para peserta Jambore Hidayatullah berbuat yang terbaik untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat serta bangsa dan negara.

“Jadilah anak-anak yang berprestasi, berguna demi masa depan kalian semua serta keberlanjutan bangsa dan negara ini ke arah yang lebih maju,” tandas Bambang.

Selain memberikan ceramah wasbang, Kodim 0818 juga melatih para peserta Jambore Nasional Pandu I Hidayatullah dalam baris berbaris dalam upaya menanamkan sikap dan kedisiplinan yang baik. (mtc/hio)