Beranda blog Halaman 58

KSPPS BTH Jalani Uji Kepatutan dan Kelayakan, Tegaskan Komitmen Syariah

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Koperasi sebagai pilar ekonomi rakyat Indonesia terus beradaptasi dengan tuntutan regulasi yang semakin ketat. Hal ini sejalan dengan peran strategis koperasi syariah dalam memperkuat keadilan ekonomi dan menjaga nilai kepercayaan publik.

Sebagai lembaga keuangan syariah berbadan hukum koperasi, Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS) Baituttamwil Hidayatullah (BTH) menegaskan komitmennya untuk tunduk dan patuh pada seluruh aturan yang berlaku. Salah satunya adalah kewajiban menjalani uji kepatutan dan kelayakan yang digelar oleh Kementerian Koperasi (Kemenkop) Republik Indonesia.

Pada Senin, 28 Rabi’ul Awal 1447 (21/9/2025), jajaran pengurus dan pengawas KSPPS BTH mengikuti Fit and Proper Test secara daring yang dipandu langsung oleh Tim Penguji Kemenkop RI.

Ujian ini berlangsung serius namun tetap diselingi kehangatan. Berbagai pertanyaan diajukan, mulai dari pemahaman tentang regulasi koperasi, mekanisme sistem keuangan syariah, hingga strategi pengawasan yang efektif.

Ketua Pengurus KSPPS BTH, Saiful Anwar, menyampaikan bahwa proses ini tidak hanya menjadi evaluasi teknis, tetapi juga menyentuh aspek moral dan spiritual.

“Kami diuji bukan hanya soal regulasi, tapi soal kesiapan mental dan keikhlasan. Hal ini semakin menegaskan bahwa amanah koperasi adalah ibadah yang tidak mudah, menuntut kesungguhan dan dedikasi,” ujarnya.

Saiful menambahkan bahwa kepatuhan pada regulasi merupakan keharusan bagi koperasi syariah.

“Sebagai lembaga keuangan syariah berbadan hukum koperasi, KSPPS BTH harus tunduk dan patuh pada seluruh regulasi, di antaranya adalah uji kepatutan dan kelayakan oleh Kementerian Koperasi,” tegasnya.

Ujian tersebut tidak hanya mengukur kemampuan menjawab pasal hukum atau menyusun strategi bisnis, tetapi juga menilai sejauh mana pengurus dan pengawas menjaga kepercayaan anggota. Dalam kerangka itu, menjaga prinsip syariah serta menahan diri dari potensi penyalahgunaan kekuasaan menjadi hal yang esensial.

Ketua Pengawas KSPPS BTH, Wahyu Rahman, turut menekankan dimensi moral dari pengawasan koperasi. Baginya, mengawasi bukan sekadar memeriksa angka atau laporan keuangan, melainkan memastikan dana anggota benar-benar dikelola secara jujur, transparan, dan sesuai syariah. “Jadi ujian ini adalah pengingat, bahwa pengawas pun harus bersih niatnya,” katanya.

Dari pihak pemerintah, Ketua Tim Penguji Kemenkop RI, Budi Suharto, menegaskan bahwa penilaian tidak berhenti pada kompetensi teknis.

Integritas menjadi aspek utama yang turut ditelaah dalam fit and proper test. “Yang kami harapkan, para pengurus dan pengawas mampu membuktikan diri bukan hanya kompeten, tapi juga amanah,” kata Budi, seraya menegaskan Fit and Proper Test ini menjadi bagian dari proses panjang penguatan tata kelola koperasi di Indonesia.

Sementara itu, bagi KSPPS BTH, ujian ini tidak hanya menjadi kewajiban administratif, tetapi juga momentum untuk memperkokoh komitmen dalam menegakkan prinsip syariah dan merawat kepercayaan anggota.

Semoga dengan langkah ini, diharapkan koperasi syariah dapat terus berperan sebagai instrumen penting dalam membangun kemandirian ekonomi bangsa.

Jalankan Misi Maqasid Syariah dan Kisah Haru Warga Belajar Al-Qur’an

0

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Di tengah dinamika kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk, pendidikan Al-Qur’an tetap menjadi fondasi penting dalam membangun kualitas spiritual bangsa.

Di Sulawesi Selatan, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) Sulsel berupaya menghadirkan pembinaan yang tidak hanya menyentuh kebutuhan material, tetapi juga memperkuat dimensi rohani umat.

Ketua Laznas BMH Sulsel, Kadir, menegaskan, program pembinaan baca Al-Qur’an ini merupakan bagian integral dari misi maqasid syariah yang dijalankan lembaganya.

Ia menjelaskan bahwa maqasid syariah menuntut keterpaduan antara pemenuhan kebutuhan jasmani dan rohani.

“Kami berkomitmen tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar mustahik berupa makanan (hifz an-nafs), tetapi juga kebutuhan rohani mereka melalui ilmu agama (hifz ad-din),” kata Kadir dalam keterangannya dikutip media ini, Selasa, 1 Rabi’ul Akhir 1447 (23/9/2025).

Kegiatan pembinaan ini berlangsung rutin setiap pekan di hari Selasa di Aula BMH Sulsel. Puluhan warga binaan mengikuti pembelajaran membaca Al-Qur’an dengan metode Terampil Membaca Al-Qur’an 8 Jam Grand MBA. Mereka berasal dari latar belakang dan usia yang beragam, namun bersatu dalam semangat untuk memperbaiki bacaan Al-Qur’an.

“Dengan memperbaiki bacaan Al-Qur’an, shalat, dan hafalan surah pendek, kami berharap kualitas hidup para mustahik semakin baik lahir dan batin,” kata Kadir menambahkan.

Bimbingan mengaji ini dilakukan langsung oleh Ustadzah Sumarni. Ia mendampingi para peserta mengeja huruf demi huruf, hingga mampu merangkai bacaan dengan lebih baik.

Meski beberapa peserta telah memasuki usia senja, semangat mereka tidak surut. Hal ini menegaskan pesan universal bahwa menuntut ilmu, khususnya ilmu agama, tidak mengenal batas usia.

Susi Erawati (59), seorang pemulung asal Sipala, Makassar, mengaku sangat terharu bisa mengikuti program ini. “Alhamdulillah, BMH memfasilitasi kami untuk belajar Al-Qur’an. Selama ini kami sudah menerima bantuan sembako, kini ditambah dengan ilmu yang sangat berharga,” ungkapnya.

Kisah lain datang dari Daeng Bulan (60), warga Bontoramba, Makassar. Dengan penglihatan yang mulai terbatas dan bacaan yang masih terbata-bata, ia tetap menyelesaikan seluruh sesi pembelajaran. “Belajar Al-Qur’an tidak mengenal batas usia,” katanya lirih, namun penuh keyakinan.

Program ini menjadi wujud nyata pengelolaan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) yang tidak hanya diarahkan pada aspek ekonomi, tetapi juga aspek spiritual. Dengan cara ini, terang Kadir, Laznas BMH Sulsel menegaskan peran zakat sebagai instrumen transformasi sosial dan keagamaan yang berkelanjutan.

“Dalam konteks keindonesiaan, program ini menghidupkan kembali tradisi belajar Al-Qur’an di tengah masyarakat, sekaligus memperkuat identitas spiritual bangsa,” katanya.

Ke depan, BMH Sulsel bertekad memperluas jangkauan program serupa. Harapannya, semakin banyak masyarakat kurang mampu yang dapat merasakan manfaat ganda, yakni, terpenuhinya kebutuhan dasar sekaligus meningkatnya kualitas spiritual.

“Dengan demikian, zakat yang terkelola baik dapat menjadi sarana penguatan iman sekaligus penggerak pembangunan manusia Indonesia seutuhnya,” tandasnya.

Sukarwan Santri yang Berdakwah dan Berdaya dengan Kopi

0

MENJADI santri selalu menghadirkan cerita istimewa. Dari pesantren, jalan hidup bisa mengalir ke mana saja. Menjadi guru, petani, pedagang, penggerak masyarakat, bahkan pemimpin. Bagi seorang santri, yang terpenting bukanlah fasilitas atau gelar, melainkan kesetiaan pada jalan Ilahi.

Itulah yang tampak dalam diri para santri awal Hidayatullah, termasuk sosok Sukarwan.

Sukarwan, pria berusia 58 tahun asal Rahtawu, Kudus, bukanlah nama besar di panggung nasional. Namun kisah hidupnya adalah potret nyata bagaimana seorang santri bisa tumbuh menjadi penggerak dakwah di tengah masyarakat.

Ia tidak mengejar kemewahan, tidak pula tergoda dengan jalan pintas duniawi. Sebaliknya, ia memilih kembali ke desanya untuk merawat spiritualitas warga, sambil tetap menghidupi keluarganya lewat kebun kopi yang ia garap dengan tekun.

“Kalau saya tidak kembali, siapa yang merawat spiritualitas warga desa saya,” ucapnya lirih saat ditemui Hidayatullah.or.id di teras rumahnya, sambil menyesap kopi yang sudah mulai hangat pada malam pertengahan September 2025.

Kalimat itu menggambarkan panggilan jiwa yang membawanya pulang. Sebelum kembali ke Rahtawu, Sukarwan sempat menjadi bagian dari perintisan Pesantren Hidayatullah Kudus.

Ia tumbuh bersama tradisi pesantren, menghirup nilai-nilai dasar Hidayatullah: Sistematika Wahyu, Ahlussunnah wal Jama’ah, Imamah Jama’ah, Jama’atun Minal Muslimin, Al-Harakah Al-Jihadiyah Al-Islamiyah, hingga Wasathiyah. Nilai-nilai itu melekat dalam dirinya, menjadi panduan dalam setiap langkah.

Kini, meski usia tak lagi muda, ia tetap teguh menapaki jalan dakwah. Tidak hanya mengurus masjid, ia juga aktif membimbing warga, termasuk para mualaf yang terus berdatangan di Rahtawu. Setiap kali ada orang baru yang mengikrarkan syahadat, wajahnya kembali berseri. “Ini benar-benar menggembirakan,” ujarnya penuh syukur.

Namun, jalan dakwah di pedesaan tentu tidak mudah. Sukarwan tahu betul bahwa masyarakat butuh sentuhan yang lebih menyeluruh. Dakwah tidak bisa hanya berhenti di mimbar masjid. Ia harus merambah ke sektor ekonomi, pendidikan, dan sosial.

“Kami masih butuh dukungan untuk dakwah yang lebih komprehensif dan inklusif,” katanya, seraya mengapresiasi dukungan yang telah hadir melalui program sembako, beasiswa, dan pembinaan dari Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH).

Malam itu, sembari berbincang, Sukarwan menuturkan keinginannya agar petani kopi di desanya mendapat akses bantuan pasca panen. Menurutnya, jika kopi Rahtawu bisa dikelola dengan baik, hasilnya akan meningkatkan taraf hidup masyarakat.

“Harapannya masyarakat semakin bersyukur kepada Allah, sehingga ibadah dan kemajuan umat dalam banyak sektor bisa kita lakukan bersama-sama,” ujarnya penuh harap.

Sukarwan memang dikenal sebagai pribadi yang sederhana namun penuh semangat. Siapa pun yang baru mengenalnya mungkin hanya melihat sosok yang khusyuk dalam dzikir. Tetapi di balik itu, ia punya sisi lain yang mengejutkan.

Ia lihai mengendarai motor menaklukkan jalan curam Gunung Muria. Tidak jarang ia membonceng istrinya melewati jalur terjal dengan kecepatan tinggi, sambil tetap tersenyum santai. “Baru sampai sini,” candanya saat berhenti sejenak sebelum melanjutkan perjalanan menuju lereng gunung.

Kehidupan Sukarwan adalah percampuran unik antara keteguhan spiritual dan ketangguhan fisik. Di satu sisi ia seorang santri yang setia berdakwah, di sisi lain ia seorang petani yang tekun membudidayakan kopi, serta pengendara tangguh yang menjadikan medan berat sebagai sahabat sehari-hari.

Dalam perjalanan dakwahnya, Sukarwan tidak pernah benar-benar sendirian. Sahabat lamanya di pondok dulu, seperti Ustaz Iman Syahid dan Ustaz Hanifullah, sering berkunjung ke Rahtawu. Mereka datang bukan hanya membawa kabar, tetapi juga energi persaudaraan yang membuat Sukarwan merasa didampingi.

“Dua orang itu sahabat dan guruku. Mereka selalu datang menengok saya yang banyak melakukan dakwah fardiyah di sini,” ujarnya dengan mata berbinar.

Kini, asa baru sedang bertumbuh. BMH Kudus dan Jawa Tengah berencana membantu pengembangan kopi Rahtawu agar bisa menjangkau pasar yang lebih luas. Langkah ini diyakini akan memperkuat kemandirian ekonomi warga sekaligus menghidupkan dakwah yang lebih berkelanjutan.

Eko, Koordinator BMH Kudus, menyelipkan kalimat penuh makna di sela obrolan malam. “Saatnya santri berdaya dengan kopi. Karena dakwah itu nikmat sambil ngopi-ngopi. Siapa yang tak suka kopi, aromanya saja sudah bisa menggugah imajinasi.”

Seloroh hangat Eko itu membuat semua yang hadir tertawa ringan, meski dalam hati mereka tahu bahwa kalimat itu mengandung pesan serius: dakwah tidak bisa dilepaskan dari pemberdayaan.

Sukarwan sendiri tidak pernah berhitung seberapa jauh ia telah berjalan. Ia hanya terus menapaki jalannya dengan penuh ketulusan. Setiap butir kopi yang ia tanam, setiap dzikir yang ia lafalkan, setiap langkah yang ia ayunkan di jalanan terjal Muria, semuanya adalah bagian dari pengabdiannya.

Di usianya yang mendekati enam dekade, Sukarwan seolah hendak membuktikan bahwa menjadi santri bukanlah fase sementara, melainkan jalan hidup. Santri adalah identitas yang melekat hingga akhir hayat, yang terus memandu untuk berbuat baik, bermanfaat, dan berguna bagi sesama.

Maka, bila ditanya apa yang membuat Sukarwan tetap teguh di jalan ini, jawabannya sederhana, ia ingin hidup bermakna, hidup yang dekat dengan Allah, sekaligus bermanfaat bagi manusia.

Dalam kesederhanaannya, ia mengajarkan bahwa dakwah bisa hadir dalam secangkir kopi, dalam senyum tulus, dan dalam ketekunan seorang santri desa yang tak pernah lelah mencintai umatnya.

Pesantren Hidayatullah dan Polres Boven Digoel Eratkan Sinergi untuk Kamtibmas

0

BOVEN DIGOEL (Hidayatullah.or.id) — Dalam semangat keberislaman dan keindonesiaan, hubungan pesantren dan aparat keamanan senantiasa menjadi bagian penting dari jalinan kebersamaan bangsa. Di tengah dinamika masyarakat, sinergi keduanya berperan dalam menjaga harmoni sosial dan memastikan terciptanya keamanan serta ketertiban.

Dalam kerangka tersebut, Pondok Pesantren Hidayatullah menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas kepedulian serta perhatian dari Satlantas Polres Boven Digoel. Mereka berharap sinergi antara pesantren dan kepolisian terus terjalin, khususnya dalam mendukung terciptanya keamanan, ketertiban, dan keselamatan berlalu lintas di lingkungan masyarakat.

Pernyataan itu disampaikan langsung oleh Ketua Pondok Pesantren Hidayatullah, Ust. Zainal Abidin, S.Pd., ketika menerima rombongan silaturahim dari Polres Boven Digoel pada Rabu, 24 Rabiul Awal 1447 (17/09/2025). Acara ini digelar dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-70 Lalu Lintas Bhayangkara, bertempat di Kampung Persatuan, Distrik Mandobo, Papua Selatan.

Rombongan Satlantas Polres Boven Digoel yang dipimpin Kasat Lantas Iptu Afif Syofjanturi hadir mewakili Kapolres Boven Digoel, AKBP Wisnu Perdana Putra, SH, SIK, MM, CPHR. Kehadiran mereka disambut hangat oleh pengasuh pesantren.

Iptu Afif menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk silaturahim rutin sekaligus upaya mempererat sinergi dengan masyarakat, khususnya lembaga pendidikan berbasis keagamaan.

“Pesantren memiliki peran penting dalam membimbing masyarakat menjaga keamanan, ketertiban, serta mencegah dan menanggulangi segala bentuk pelanggaran hukum dan gangguan yang meresahkan. Kamtibmas adalah prasyarat penting untuk keberhasilan pembangunan nasional dan menjadi tanggung jawab bersama,” jelasnya.

Selain silaturahim, kunjungan itu juga diisi dengan kegiatan bakti sosial. Pihak kepolisian menyerahkan bantuan berupa sembako dan kebutuhan pokok lain kepada pengasuh serta santri. Bantuan tersebut diharapkan meringankan kebutuhan sehari-hari sekaligus mendukung keberlangsungan pendidikan di pesantren.

Iptu Afif menambahkan, kegiatan ini juga menjadi wujud rasa syukur atas peringatan HUT ke-70 Lalu Lintas Bhayangkara. Tahun ini, pihaknya mengusung tema “Lalu Lintas Modern yang Berkeselamatan Menuju Indonesia Emas”.

Menurutnya, tema itu menekankan pentingnya pelayanan yang humanis dan profesional, sekaligus memperkuat komitmen Polantas dalam memberikan pengabdian terbaik kepada masyarakat.

Sementara itu, Ust. Zainal Abidin menyampaikan harapan agar sinergi antara kepolisian dan pesantren terus berlanjut. “Semoga sinergi antara pesantren dan kepolisian terus terjalin, khususnya dalam mendukung terciptanya keamanan, ketertiban, dan keselamatan berlalu lintas di lingkungan masyarakat,” ujarnya.

Melalui pertemuan ini, diharapkan hubungan baik antara Polri dan masyarakat semakin kokoh. Keberadaan pesantren sebagai pusat pendidikan umat dan kepolisian sebagai penjaga keamanan dipandang sebagai dua unsur yang saling melengkapi. Dengan terjalinnya kebersamaan itu, cita-cita untuk menciptakan masyarakat yang aman, tertib, dan berperadaban dapat semakin nyata.

Touring Klub BHI Sulsel-Sulbar Kuatkan Jaringan Dakwah dan Persaudaraan

MAMUJU (Hidayatullah.or.id) — Menjelang Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah yang akan digelar pada 20–23 Oktober 2025 di Jakarta, semangat keberislaman dan keindonesiaan kembali dipererat melalui jalan kebersamaan.

Bikers Hidayatullah Indonesia (BHI) melaksanakan Touring Peradaban, yang menurut ketua panitia, Sarmadan Karani, sebuah agenda yang tidak hanya menjadi perjalanan fisik melintasi rute Makassar (Sulawesi Selatan) menuju Mamuju (Sulawesi Barat), tetapi juga sarana konsolidasi, penguatan ukhuwah, dan perumusan arah organisasi di masa depan.

“Touring ini menjadi momentum untuk memperkuat ukhuwah, meningkatkan semangat kebersamaan, sekaligus menyusun strategi pengembangan organisasi di masa depan,” kata pria yang karib disapa Om Dani ini dalam keterangannya, Senin, 29 Rabi’ul Awal 1447 (22/9/2025).

Om Dani menegaskan, touring yang dilakoni klub motor Bikers Hidayatullah Indonesia ini menjadi wadah strategis yang berakar pada nilai persaudaraan Islam sekaligus memperkokoh komitmen kebangsaan.

Rombongan BHI berangkat dari Makassar pada Jumat siang, 19 September 2025, dan tiba di Mamuju pada Sabtu subuh, 20 September 2025. Kehadiran mereka disambut hangat oleh Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Barat, Ustadz Mardhatillah.

“Kami sangat bersyukur mendapat kunjungan dari BHI Sulsel, ini menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kami,” ujar Mardhatillah.

Selama berada di Mamuju, peserta touring tidak hanya menikmati perjalanan melintasi eksotisme bentangan Sulawesi yang bak patahan surga ini, tetapi juga mengikuti berbagai kegiatan yang bernuansa keilmuan dan kebersamaan.

Mereka mengadakan pertemuan santai ngopi bareng dengan pengurus DPW Hidayatullah Sulbar, city touring mengelilingi kota, hingga bermalam di Pantai Tapandullu. Di lokasi tersebut, para peserta menggelar halaqah ilmiah sekaligus kegiatan Tudang Sipulung, forum musyawarah khas Sulawesi, untuk membicarakan strategi pengembangan BHI di masa mendatang.

Dikatakan Om Dani, Touring Peradaban ini memberi ruang refleksi bahwa pergerakan organisasi tidak lepas dari kerja kolektif. Perjalanan dari Makassar ke Mamuju yang menempuh waktu panjang merepresentasikan tantangan yang harus dihadapi bersama. Kebersamaan dalam perjalanan melahirkan semangat gotong royong, saling menopang, dan mempererat jaringan antarwilayah.

“Momentum ini semakin penting karena beriringan dengan persiapan Munas VI Hidayatullah. Melalui touring, BHI berusaha mengirimkan pesan kuat bahwa forum nasional bukan hanya ajang pengambilan keputusan, tetapi juga hasil dari rangkaian konsolidasi dan pembentukan solidaritas di akar rumput,” katanya.

Dengan demikian, lanjut dia, Munas VI diharapkan dapat melahirkan kebijakan strategis yang berpijak pada realitas, aspirasi, dan semangat kolektif para kader di seluruh wilayah.

Touring Peradaban, imbuhnya, menegaskan bahwa ukhuwah dan konsolidasi adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan membangun organisasi. Ia menggabungkan kehangatan silaturahim, semangat kebersamaan, serta refleksi strategis menuju masa depan.

“Di jalanan yang ditempuh para biker, tercermin langkah-langkah kecil menuju arah besar, yakni menjadikan dakwah dan peran sosial Hidayatullah semakin kokoh di tengah masyarakat dan bangsa,” tandasnya.

Silaturahim Dai Hidayatullah di Baduy Tegaskan Dakwah sebagai Perekat Persatuan Bangsa

BANTEN (Hidayatullah.or.id) — Ratusan dai Hidayatullah berkumpul di Kampung Muallaf Suku Baduy, Desa Cibungur, Kabupaten Lebak, Banten, pada Sabtu-Ahad, 28 Rabi’ul Awal 1447 H atau 20–21 September 2025. Mereka hadir dalam Halaqoh Kubro Gabungan yang melibatkan tiga wilayah dakwah, yakni Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.

Kegiatan forum silaturrahim dan konsolidasi dai yang berlangsung dengan suasana guyuran hujan ringan ini perwujudan kesungguhan membangun sinergi dakwah lintas daerah.

Ketua Panitia Ahmad Maghfur Gunawan menegaskan,kegiatan silaturrahim dan malam refleksi ini erat kaitannya dengan spirit pembinaan dan kiprah pengabdian dalam menerangi hidup umat yang dilakukan oleh Hidayatullah di berbagai titik di nusantara.

Diharapkan dari sini, kian memantapkan nawaitu luhur bahwa peran dakwah, pembangunan, dan penguatan transformasi peradaban mesti menyentuh semua kalangan termasuk saudara saudara sebangsa dan setanah air yang ada di pedalaman.

“Lebih dari sekedar silaturrahim yang berlangsung di tengah keindahan alam pedalaman Banten, melalui agenda ini Hidayatullah ingin menegaskan bahwa dakwah adalah sarana perekat bangsa, menyapa masyarakat tanpa memandang batas geografis, budaya, maupun latar belakang,” katanya Maghfur dalam keterangannya.

Peran dakwah, pembangunan, dan penguatan transformasi peradaban tidak dapat berhenti hanya di kota-kota besar atau pusat-pusat keramaian. Maghfur menegaskan, nilai luhur dakwah Islam mengajarkan bahwa setiap manusia, tanpa kecuali, memiliki hak yang sama untuk mendapatkan cahaya ilmu dan bimbingan hidup.

“Dalam konteks keindonesiaan, semangat itu berarti memastikan bahwa pesan kebaikan, pendidikan, dan pembangunan juga hadir bagi saudara-saudara sebangsa yang hidup jauh di pedalaman, di kampung-kampung adat, atau di wilayah terpencil yang kerap terabaikan,” kata pria Sunda yang juga Ketua DPW Hidayatullah Banten ini.

Ia melanjutkan, dakwah yang menyentuh pedalaman hadir sebagai jalan pembinaan, mengajarkan nilai persaudaraan, dan menumbuhkan kesadaran kolektif untuk bangkit bersama.

“Pembangunan yang lahir dari dakwah ini tidak hanya fisik, tetapi juga pembangunan manusia yang mencerdaskan akal, melembutkan hati, dan menguatkan ikatan sosial,” terangnya, seraya menegaskan bahwa ini bentuk dari amanah kebangsaan yang sejalan dengan nilai Islam rahmatan lil ‘alamin, Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam.

Di sisi lain, penguatan transformasi peradaban menjadi bagian penting dari misi ini. Islam tidak hanya berbicara tentang ibadah personal, tetapi juga tentang bagaimana sebuah masyarakat bergerak menuju tatanan yang lebih adil, bermartabat, dan berdaya.

Maghfur menerangkan, ketika nilai-nilai dakwah masuk ke ruang kehidupan masyarakat pedalaman, ia menjadi energi perubahan yang menumbuhkan kemandirian, memperkuat gotong royong, dan menghubungkan pedalaman dengan arus besar kebangsaan.

Bagi Hidayatullah, jelas Maghfur, Indonesia adalah mozaik yang terdiri dari berbagai suku, bahasa, dan adat. Setiap ujung negeri adalah bagian dari rumah besar yang sama. Karena itu, lanjutnya, menjadikan dakwah dan pembangunan hadir di pedalaman bukanlah pilihan, melainkan keharusan.

“Dakwah adalah wujud nyata bahwa Islam di bumi Nusantara senantiasa bergerak menyatukan, bukan memisahkan. Merangkul, bukan mengucilkan. Seperti pesan para pendiri bangsa, kemerdekaan ini harus dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia, termasuk mereka yang hidup di balik hutan, di pegunungan, atau di pulau-pulau terluar,” katanya.

Maka, imbuhnya lagi, ketika dai-dai Hidayatullah menjejakkan kaki di Kampung Baduy, pesan yang dibawa bukan sekadar seruan dakwah, melainkan peneguhan janji kebangsaan bahwa cahaya peradaban harus sampai ke semua kalangan.

“Inilah spirit Islam dan keindonesiaan yang bertemu, menghadirkan harapan baru agar setiap anak bangsa dapat tumbuh dalam bimbingan iman, ilmu, dan kebersamaan,” tandasnya.

Dalam kesempatan tersebut hadir Ketua Dewan Murabbi Pusat (DMP) Hidayatullah Ust. Dr. H. Tasrif Amin, M.Pd., dan Ketua Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Dr. Muhammad Saleh Usman, S.S., M.Kom, sebagai narasumber utama.

Menyiapkan Generasi Pemimpin Bangsa dari Latihan Dasar Kepemimpinan

0

TULUNGAGUNG (Hidayatullah.or.id) — Tulungagung menjadi wadah lahirnya generasi baru calon pemimpin muda ketika Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Surya Melati Hidayatullah (SMH) menggelar Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) belum lama ini yang sekaligus menandai memasuki bulan September.

Dalam konteks keindonesiaan yang sarat dengan nilai kebersamaan, kegiatan ini menghadirkan gagasan bahwa kepemimpinan sejati bukanlah tentang instruksi, melainkan tentang pelayanan.

“Kepemimpinan tidak hanya tentang siapa yang memberikan instruksi, tapi lebih dari itu, kepemimpinan adalah siapa yang siap melayani dan membersamai karena memimpin itu adalah melayani. Dan sebelum kita memimpin orang lain, kita harus selesai dengan diri kita sendiri,” tegas Alim Puspianto, Ketua Satuan Komunitas Daerah (Sakoda) Pramuka Hidayatullah Jawa Timur.

Pesan tersebut menjadi pokok pemikiran utama yang menjiwai seluruh rangkaian LDK. Esensi kepemimpinan ditempatkan pada pondasi moral: bukan siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang paling siap memberi manfaat.

LDK kali ini diikuti oleh 48 calon pengurus Gerakan Pandu Hidayatullah (GPH) periode 2025–2026. Kehadiran pengurus inti Sakoda Jatim beserta Sekretaris Departemen Pendidikan Hidayatullah Jawa Timur menegaskan pentingnya forum ini dalam mencetak kader yang berintegritas.

Aris Gunawan, Direktur LPI SMH Tulungagung, menyampaikan penghargaan kepada tim Sakoda.

“Kami berharap, bekal yang diberikan hari ini bisa menjadi bekal berharga bagi pengurus GPH dalam menjalankan tugasnya ke depan,” kata Aris dalam keterangannya, Jum’at, 26 Rabi’ul Awal 1447 (19/9/2025).

Menurut Aris, kegiatan ini digelar sebagai wujud komitmen sekolah untuk membentuk siswa yang unggul secara akademik sekaligus berkarakter kepemimpinan.

“Tidak hanya sekadar cerdas di kelas, mereka harus tumbuh dengan jiwa kepemimpinan yang berorientasi pada kebermanfaatan,” jelasnya.

Dalam materinya, Alim Puspianto menggarisbawahi bahwa kepemimpinan adalah tentang pengaruh positif. “Berbicara kepemimpinan tidak berbicara siapa yang hebat, tapi siapa yang siap memberikan manfaat,” ungkapnya.

Ia juga menggunakan analogi dunia rekreasi untuk menggambarkan pentingnya berorganisasi. “Jika sekolah hanya untuk datang dan pergi, kita hanya seperti melihat-lihat saja. Namun, jika kita aktif berorganisasi, kita seperti mengikuti seluruh permainan yang ada,” jelasnya.

Alim menekankan berorganisasi seperti melalui Sakoda Pramuka Hidayatullah sebagai ruang pembelajaran praktis. Dengan berorganisasi, siswa belajar keterampilan penting seperti negosiasi, manajemen, hingga kepemimpinan.

Rangkaian LDK dirancang dengan kurikulum komprehensif. Materi yang diberikan meliputi Leadership Basic Training, Manajemen Organisasi, Penguatan Pandu & Sako, Peraturan Baris-Berbaris, hingga Leadership Game. Perpaduan teori dan praktik membuat suasana interaktif serta menyenangkan.

Endang Suparti, penanggung jawab acara, mengungkapkan rasa syukurnya atas kelancaran kegiatan. “Pembawaan pemateri sangat bagus, materi outdoor dan game edukatif membuat suasana jadi bergairah,” katanya.

Endang menambahkan bahwa antusiasme peserta sangat tinggi. “Bahkan, mereka yang awalnya ragu untuk bergabung dengan GPH, kini sudah mantap untuk ikut. Semoga bisa menjadi bekal untuk kepengurusan GPH ke depan,” imbuhnya.

Endang berharap kegiatan ini terus bergulir sebagai upaya serius dalam investasi jangka panjang bagi bangsa. “Dari LDK di Tulungagung ini, nilai tentang memimpin sebagai melayani diperkuat kembali, sejalan dengan cita-cita membangun Indonesia yang berkarakter dan berdaya guna,” tandas Endang.

LPH Hidayatullah Sumut Jajaki Kerja Sama MUI dalam Sosialisasi Sertifikasi Halal

0

MEDAN (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) Hidayatullah Sumatera Utara (Sumut) melakukan audiensi ke kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara di Medan pada Rabu, 24 Rabiul Awal 1447 (17/9/2025).

Audiensi ini dipimpin Ketua LPH Hidayatullah Sumut, Muslihuddin Akbar, bersama jajaran pengurus, dan disambut langsung oleh Wakil Ketua Umum MUI Sumatera Utara Dr. H. Ardiansyah, Lc., MA, Ketua Bidang Fatwa MUI Sumut H. Ahmad Sanusi Luqman, Lc., MA, serta Sekretaris Bidang Fatwa MUI Sumut Dr. Irwansyah, M.HI.

Pertemuan tersebut bertujuan memperkenalkan keberadaan LPH Hidayatullah di Sumatera Utara sekaligus menyampaikan kondisi lapangan terkait pemeriksaan halal.

Dalam kesempatan itu, Muslihuddin Akbar menuturkan sejumlah dinamika dalam sosialisasi mengenai pentinga sertifikasi halal demi untuk kenyamanan konsumen. Diantara kendala yang dihadapi adalah masih banyaknya pelaku UMKM di kawasan yang masih enggan membuat sertifikasi halal pada produknya.

“Mereka beralasan, karena mereka Muslim, maka produk yang dijual otomatis halal tanpa perlu sertifikasi,” katanya.

Ia juga menyampaikan kendala lain yang dihadapi dan memohon dukungan MUI agar dapat hadir sebagai pemateri dalam sosialisasi sertifikasi halal yang direncanakan oleh LPH Hidayatullah Sumut.

Suasana pertemuan berlangsung hangat. Dr. H. Ardiansyah, Lc., MA menyampaikan kedekatannya dengan Hidayatullah sejak masa kuliah di Universitas Islam Madinah.

“Sejak di Madinah, banyak teman-teman saya dari Hidayatullah. Karena itu saya merasa sangat dekat dengan Hidayatullah,” ujarnya.

Ia juga menegaskan tiga hal penting yang harus menjadi perhatian LPH, yakni kejujuran dalam menyelia setiap produk yang diperiksa, pentingnya kapabilitas termasuk kehadiran ahli gizi karena produk harus halal sekaligus thayyib, serta ketaatan pada regulasi dan aturan yang berlaku.

Sementara itu, Ketua Bidang Fatwa MUI Sumut, H. Ahmad Sanusi Luqman, Lc., MA, menekankan peran historis lembaga pengawasan halal.

“LPPOM MUI sudah berusaha menyelamatkan umat dari haram selama 38 tahun,” katanya.

Ia berharap perkembangan zaman dan kehadiran LPH dapat mempercepat sertifikasi halal, meningkatkan kualitas, dan tidak menimbulkan kemunduran.

“Auditor harus benar-benar teliti karena tanggung jawabnya sangat berat. Selama ini Komisi Fatwa sangat teliti dalam menjalankan tugas, sebab ini bagian dari himayahul ummat, menjaga umat.” katanya menambahkan.

Pertemuan tersebut juga menjajaki kerja sama antara LPH Hidayatullah Sumut dan MUI Sumatera Utara dalam program sosialisasi sertifikasi halal, dengan melibatkan MUI sebagai salah satu pemateri.

Perguruan Tinggi Keagamaan Islam sebagai Episentrum Keilmuan Berbasis Tauhid

SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) — Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) di Indonesia dituntut untuk tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga episentrum pengembangan sains, teknologi, dan adab berbasis Tauhid.

Hal ini disampaikan Direktur Hidayatullah Institute, Muzakkir Usman, SS., M.Ed., Ph.D., saat menyampaikan pidato ilmiah dalam Studium General Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Hidayatullah Samarinda (STIT HISAM) tahun akademik 2025/2026.

“Untuk menjadikan PTKI sebagai episentrum sains, teknologi, dan adab, diperlukan aktualisasi epistemologi iqra’ bismirobbik,” ujarnya.

Menurut Muzakkir, hal tersebut dapat diwujudkan melalui tiga langkah utama, yaitu, desain kurikulum holistik berbasis tauhid, penerapan metode pengajaran heutagogy, serta penghidupan tradisi ilmiah dalam literasi dan penelitian.”

Acara yang mengusung tema “Iqra’ Bismirabbik: Integrasi Ontologis dan Epistemologis dalam Pendidikan Islam sebagai Spektrum Sains, Teknologi, dan Adab” itu digelar di Aula UPTD BPPSDMP Provinsi Kalimantan Timur pada Senin, 23 Rabiul Awal 1447 (15/09/2025).

Muzakkir menjelaskan, desain kurikulum holistik berbasis tauhid menjadi landasan utama untuk menjadikan PTKI termasuk di dalamnya Perguruan Tinggi Hidayatullah (PTH) sebagai episentrum keilmuan. Kurikulum ini tidak sekadar menyatukan ilmu agama dan sains, tetapi menempatkan tauhid sebagai poros yang memayungi seluruh bidang pengetahuan.

“Dengan cara ini, setiap disiplin ilmu dipandang sebagai bagian dari amanah ilahiah, sehingga mahasiswa tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki kesadaran spiritual,” katanya.

Adapun penerapan metode pengajaran heutagogy penting untuk menumbuhkan kemandirian belajar mahasiswa. Heutagogy, terang Muzakkir, menekankan pada self-determined learning, di mana peserta didik didorong untuk aktif mencari, mengolah, dan mengembangkan pengetahuan sesuai kebutuhan dan minatnya.

“Hal ini mendorong mahasiswa menjadi subjek pembelajaran, bukan sekadar objek, sehingga mereka lebih adaptif terhadap perkembangan zaman dan mampu menghadirkan solusi atas problematika masyarakat,” jelasnya.

Muzakkir juga menekankan pentingnya penghidupan tradisi ilmiah melalui literasi dan penelitian. Tradisi ilmiah ini tidak hanya melahirkan karya akademik, tetapi juga membangun ekosistem intelektual yang kritis dan produktif.

“Dengan demikian, kita berharap STIT Hisam dapat melahirkan generasi ilmuwan Muslim yang berkontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban,” katanya.

Dalam paparan utamanya, Muzakkir menegaskan kembali bahwa pendidikan Islam harus berorientasi pada pembentukan generasi ilmuwan dan pendidik yang utuh.

“Kurikulum berbasis tauhid akan melahirkan keseimbangan antara kecerdasan intelektual, spiritual, dan moral,” katanya.

Ia juga menekankan metode heutagogy yang menuntut kemandirian mahasiswa dalam belajar, serta pentingnya membangun budaya literasi dan penelitian yang hidup di lingkungan kampus.

Melalui Studium General ini, STIT HISAM menegaskan komitmennya melahirkan lulusan yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mampu menghadirkan ilmu sebagai instrumen membangun peradaban.

“Generasi yang kita harapkan adalah mereka yang mampu menguasai sains dan teknologi tanpa kehilangan jati diri keislaman,” terang Muzakkir.

Kegiatan Studium General yang menandai dimulainya tahun akademik STIT HISAM 2025/2026 ini dihadiri juga oleh Ketua STIT HISAM, Jumain Rajab, S.H.I., M.Pd.I., dan Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Samarinda, Ustadz H. Hizbullah Abdullah Said, S.Pd.I.

Hidayatullah Kalbar Hadirkan Bimbingan Spiritual di Bapas Kelas I Pontianak

0

PONTIANAK (Hidayatullah.or.id) — Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Pontianak menjadi saksi lahirnya secercah harapan bagi para klien Pembebasan Bersyarat (PB) pada Selasa, 23 Rabi’ul Awal 1447 (16/9/2025).

Dalam suasana penuh kekhidmatan, Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Kalimantan Barat bekerjasama dengan Bapas menghadirkan program bimbingan khusus yang dirancang untuk menguatkan aspek tanggung jawab pribadi dan sosial para peserta.

Sebanyak 22 orang klien PB mengikuti kegiatan tersebut dengan penuh perhatian. Kehadiran mereka difokuskan pada materi yang dibawakan oleh Ustaz Nurkalam, dai sekaligus Ketua DPW Hidayatullah Kalbar dari BMH Kalbar.

Dalam penyampaian materi, ia menekankan bahwa keberhasilan seseorang untuk kembali ke masyarakat tidak hanya ditentukan oleh kebebasan fisik, melainkan juga kesiapan moral dan spiritual.

“Setiap pribadi memiliki tanggung jawab, bukan hanya terhadap diri sendiri, tetapi juga terhadap masyarakat di sekitarnya,” ujar Ustaz Nurkalam di hadapan peserta.

Ia menguraikan bahwa kehidupan pasca-penjara harus dipandang sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri, sekaligus berkontribusi positif dalam lingkungan sosial.

Tema yang diangkat, “Membentuk Kepribadian Klien yang Memiliki Tanggung Jawab Pribadi dan Sosial dalam Masyarakat,” dirancang untuk membangun kesadaran baru.

Menurut Nurkalam, pembentukan pribadi yang berkarakter bukan sekadar harapan tetapi dengan kesungguhan akan dapat diwujudkan melalui kebiasaan sehari-hari.

“Jika seseorang mampu menjaga amanah, jujur, dan berbuat baik, maka kehadirannya akan diterima dengan tulus oleh masyarakat,” tegasnya.

Kegiatan ini berlangsung dengan suasana hangat dan penuh keterbukaan. Para peserta merespons positif pesan yang disampaikan. Sejumlah di antara mereka menyampaikan rasa nyaman karena merasa dihargai dan dibimbing dengan penuh empati.

Program ini juga mendapat dukungan dari Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH). Kehadiran BMH mempertegas komitmen organisasi dalam mendampingi kelompok masyarakat yang membutuhkan arah baru dalam hidupnya.

Melalui kegiatan ini, DPW Hidayatullah Kalbar menegaskan perannya dalam bidang dakwah sosial di wilayah Kalimantan Barat.

Harapannya, bimbingan semacam ini dapat menjadi jembatan bagi para klien PB untuk menemukan kembali arah hidup yang lebih bermakna, serta menumbuhkan kesadaran bahwa perubahan sejati berawal dari tanggung jawab yang ditunaikan secara konsisten.