Beranda blog Halaman 59

Hidayatullah Tekankan Pengajaran Al Qur’an sebagai Fondasi Pencerdasan Kehidupan Bangsa

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, K.H. Naspi Arsyad, menegaskan pentingnya pengajaran Al Qur’an bagi masyarakat sebagai bagian integral dari amanat konstitusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Naspi Arsyad menekankan bahwa pendidikan dan pembinaan masyarakat melalui Al Qur’an bukan sekadar kegiatan dakwah, melainkan kontribusi langsung terhadap tujuan negara sebagaimana tertuang dalam alinea IV Pembukaan UUD 1945.

“Mengajarkan Al Qur’an berarti mengajarkan kecerdasan akal, kejernihan moral, dan ketertiban sosial. Itu semua adalah bagian dari ikhtiar mencerdaskan kehidupan bangsa,” ujarnya kepada media ini usai menerima pengurus Badan Koordinasi Pembinaan Tilawatil Qur’an (BKPTQ) Hidayatullah di Jakarta, Kamis, 15 Jumadilawal 1447 (6/11/2025).

Ia menambahkan bahwa Pasal 31 UUD 1945 tentang pendidikan memberikan dasar kuat bagi umat Islam untuk terlibat aktif dalam memperluas akses pembelajaran yang bermutu.

Pertemuan tersebut juga membahas berbagai program pembinaan yang sedang dijalankan BKPTQ, termasuk perluasan program Grand MBA dan metode belajar Al Qur’an cepat Metode Al-Hidayah. Naspi Arsyad mendorong agar kedua program strategis ini terus dikembangkan, diperkuat secara metodologis, dan diperluas jangkauannya ke berbagai wilayah.

“Kami mendorong BKPTQ dan seluruh elemen pembinaan umat untuk memperkuat kapasitas, memperluas jaringan, dan bekerja dalam sinergi. Program Grand MBA dan metode Al-Hidayah telah memberikan bukti nyata di lapangan dan harus terus ditingkatkan,” katanya.

Lebih jauh Naspi memaparkan, pembelajaran Al Qur’an tidak hanya menyangkut kemampuan membaca teks, tetapi juga pembentukan karakter, literasi moral, dan peningkatan kemampuan berpikir.

Dia menyebutkan, dalam banyak studi tentang pendidikan Islam, Al Qur’an dipandang sebagai sumber pedagogi yang mengintegrasikan akal, etika, dan spiritualitas. Dalam konteks negara modern, jelasnya, integrasi ketiganya menjadi modal penting untuk menciptakan warga negara yang cerdas, berintegritas, dan mampu berkontribusi pada ketertiban sosial.

“Kecerdasan bangsa bukan semata kemampuan teknis, tetapi juga mencakup kedewasaan moral. Pembelajaran Al Qur’an, terutama melalui pendekatan metode cepat yang terukur seperti Grand MBA dan Metode Al-Hidayah, membantu masyarakat memperoleh literasi dasar secara sistematis. Keterampilan membaca Al Qur’an yang baik berdampak pada peningkatan disiplin kognitif, keteraturan berpikir, dan kemampuan memahami nilai-nilai etis, yang merupakan komponen penting dari pendidikan kebangsaan,” terangnya.

Naspi Arsyad juga menekankan perlunya sinergi lintas-elemen umat Islam, baik lembaga pendidikan, ormas, pesantren, maupun struktur pembinaan di akar rumput. Menurutnya, tidak ada program pengajaran Al Qur’an yang berdampak luas tanpa sinergi.

“Kita harus saling memperkuat, saling menopang, dan saling membangun ruang kolaborasi,” tegasnya. Ia mengingatkan bahwa tantangan dakwah ke depan semakin kompleks, sehingga kolaborasi menjadi kebutuhan strategis.

Penguatan sinergi tersebut menurutnya relevan dengan dinamika sosial saat ini, ketika kualitas literasi Al Qur’an di sebagian masyarakat masih belum merata. Dalam konteks pembangunan nasional, ketimpangan literasi, baik literasi umum maupun literasi keagamaan, menurutnya, dapat berdampak pada kesenjangan sosial dan lemahnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan.

“Oleh karena itu, program pembinaan Qur’ani yang terstruktur memiliki kontribusi strategis dalam memperkecil kesenjangan tersebut,” imbuhnya.

Pertemuan tersebut ditutup dengan komitmen BKPTQ untuk memperluas kualitas pelatihan guru mengaji, meningkatkan standar metode pembelajaran, serta memaksimalkan teknologi dalam memperluas akses masyarakat terhadap pengajaran Al Qur’an.

Naspi Arsyad menegaskan bahwa DPP Hidayatullah akan terus mendukung upaya tersebut dalam rangka memastikan bahwa pembelajaran Al Qur’an hidup di tengah masyarakat, hadir sebagai cahaya peradaban, dan menjadi bagian dari usaha mencerdaskan bangsa sebagaimana amanat konstitusi.

Makna Rezeki yang Melapangkan Hati dalam Refleksi Surah Al-Fajr

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Refleksi keagamaan adalah ruang bagi setiap muslim untuk mengurai kembali makna hidup yang sering kali tertutup oleh rutinitas. Salah satu tema yang terus relevan adalah tentang rezeki, terutama bagaimana manusia memahaminya, meresponsnya, dan meletakkannya dalam hubungan dengan nilai-nilai spiritual.

Dalam kajian Rabu malam di Masjid Baitul Karim, Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Rabu malam, 14 Jumadilawal 1447 (5/11/2025), Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, K.H. Naspi Arsyad, menelaah mengenai tafsir rezeki berdasarkan Surah Al-Fajr ayat 15–16.

Pada pembahasan awal, K.H. Naspi Arsyad menegaskan bahwa rezeki tidak semata-mata identik dengan materi ataupun kelapangan harta. Ia menyampaikan bahwa segala sesuatu yang melapangkan hati, menenangkan jiwa, dan mendekatkan diri kepada Allah merupakan rezeki.

Penekanan ini menjadi dasar untuk memahami lebih jauh pesan Al-Qur’an yang membuka ruang makna rezeki secara lebih komprehensif dan tidak terbatas pada ukuran duniawi.

Kajian dibuka dengan pembacaan ayat: “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: ‘Tuhanku telah memuliakanku’. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata: ‘Tuhanku menghinakanku’.” (QS. Al-Fajr: 15–16).

Ayat tersebut menggambarkan sikap sebagian manusia yang menilai kemuliaan atau kehinaan melalui banyak dan sedikitnya harta. Menurut penjelasan yang disampaikan, pandangan demikian mencerminkan karakter orang musyrik dan munafik pada masa turunnya ayat, yang menilai derajat dan kehormatan dari besaran materi yang dimiliki.

Dalam kesempatan tersebut, K.H. Naspi Arsyad menguraikan empat pesan penting terkait pemahaman rezeki. Pertama, bahwa rezeki meliputi segala hal yang memberi kelapangan batin. Ia mencontohkan kesehatan, keluarga yang tenteram, kekuatan beribadah, hingga kemampuan untuk bersyukur sebagai bentuk rezeki yang sering tidak terperhatikan.

Kedua, kesadaran terhadap rezeki itu sendiri dipandang sebagai rezeki tertinggi. Ia menjelaskan bahwa banyak orang menikmati nikmat tetapi tidak menyadari bahwa itu merupakan pemberian Allah. Kesadaran untuk melihat segala hal sebagai karunia disebut sebagai bentuk rezeki yang mengangkat derajat spiritual seorang hamba.

Ketiga, ibadah tidak seharusnya dikerjakan sekadar karena kebiasaan. Ia menekankan bahwa ibadah yang dilakukan tanpa kesadaran dan keikhlasan belum menjadi rezeki. Rezeki beribadah muncul saat seorang hamba menjalankannya dengan rasa syukur dan pemahaman akan nilainya.

Keempat, manusia perlu menilai rezeki melalui kacamata iman. Rezeki biasanya dipersepsi melalui ukuran kesenangan dan keuntungan. Namun, tegas Naspi, dalam pandangan seorang mukmin, ujian dan kesempitan juga dapat menjadi bentuk rezeki karena menyimpan pelajaran dan penghapus dosa.

Gerakan Peduli Mata di Jakarta, Edukasi Kesehatan yang Kian Mendesak

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Departemen Sosial Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Imron Faizin mengingatkan kesehatan mata menjadi persoalan publik yang membutuhkan perhatian serius ditengah kehidupan masyarakat Indonesia yang kian terhubung dengan perangkat digital.

“Mobilitas tinggi, gaya hidup urban, dan intensitas penggunaan layar telah menciptakan tantangan baru bagi kesehatan masyarakat,” kata Imron dalam keterangannya.

Dalam konteks inilah berbagai inisiatif sosial yang menekankan perlindungan indera penglihatan memperoleh relevansi yang semakin kuat, terutama bagi komunitas perkotaan yang rentan terhadap penurunan kualitas penglihatan.

Pada kegiatan Bakti Sosial Kesehatan Mata di Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu, 14 Jumadilawal 1447 (5/11/2025), Imron menegaskan kembali urgensi edukasi kesehatan mata bagi masyarakat. Ia menilai kegiatan semacam ini perlu dilakukan secara berkelanjutan sebagai bentuk kepedulian sosial.

“Kegiatan semacam ini perlu kita lakukan rutin dalam rangka menyadarkan masyarakat mengenai pentingnya kesehatan mata dan menjaganya dengan baik,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa perubahan gaya hidup, khususnya di kalangan muda yang banyak menghabiskan waktu di depan layar, menuntut perhatian lebih. “Banyak masyarakat, termasuk anak muda yang menatap layar berjam-jam, butuh perhatian lebih terhadap kesehatan mata. Sinergi seperti ini harus terus kita perkuat,” tambahnya.

Program sosial ini merupakan kolaborasi Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH), DPW Hidayatullah DKI Jakarta, dan Rumah Qur’an Darul Ikhlas. Mereka menghadirkan layanan pemeriksaan dan terapi mata dengan menggandeng Pusat Terapi Mata Sari Kusuma 99 sebagai mitra penyembuhan. Para terapis dari pusat layanan tersebut dikenal ramah dan komunikatif, sehingga memberikan kenyamanan bagi peserta yang hadir.

Pengasuh Rumah Qur’an Darul Ikhlas, Amin Johari, menjelaskan bahwa kebutuhan pelayanan kesehatan mata di wilayah tersebut cukup tinggi. Ia menyampaikan bahwa banyak warga, terutama perempuan usia produktif, mengalami gangguan penglihatan.

“Data kami menunjukkan rata-rata wanita usia 30-40 tahun mengalami mata minus dan silinder. Karena itu, kegiatan ini sangat relevan dan masyarakat butuhkan,” kata Amin.

Manfaat kegiatan ini dirasakan langsung oleh peserta. Salah satunya adalah Muhammad, warga yang mengikuti pemeriksaan dan terapi. Ia menyampaikan adanya perubahan positif setelah mendapatkan layanan. “Rasanya mata jadi terang, dan setelah diukur, minus saya berkurang,” ujarnya sambil tersenyum.

Sekretaris DPW Hidayatullah DKI Jakarta, Suhardi, yang turut hadir dalam kegiatan mengapresiasi kolaborasi ini. Menurutnyta, kegiatan ini tidak hanya menyediakan bantuan kesehatan, tetapi juga memperkuat pesan bahwa menjaga indera penglihatan turut berperan dalam menjaga kualitas hidup yang lebih baik.

Kepala Humas BMH Pusat, Imam Nawawi, menyatakan bahwa komitmen lembaganya terhadap pembangunan sumber daya manusia tetap menjadi prioritas. Ia menegaskan bahwa program seperti ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan yang dilakukan BMH. “BMH insya Allah komitmen dalam upaya membangun SDM Indonesia yang unggul dan beradab,” ujarnya.

Melalui sinergi berbagai pihak, dia berharap, kegiatan sosial ini menghadirkan ruang pembelajaran publik tentang pentingnya merawat mata, sekaligus membuka akses layanan kesehatan yang dibutuhkan masyarakat urban.

Seni, Budaya, dan Olahraga Jalan Baru Menyapa Generasi Hidayatullah Masa Kini

0

KELAHIRAN Departemen Seni, Budaya, dan Olahraga (SBO) di struktur baru Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah merupakan langkah strategis yang menandai kesadaran baru dalam organisasi dakwah dan pendidikan Islam modern.

Langkah ini bukan hanya soal penambahan unit kerja, melainkan pembukaan ruang kreatif dan dialog bagi generasi muda yang kini hidup di tengah arus deras digitalisasi, hiburan massal, dan transformasi sosial yang cepat.

Dalam hemat saya, keberadaan departemen baru ini adalah terobosan penting. Hidayatullah, yang dikenal dengan basis dakwah dan kaderisasinya yang kuat, kini menegaskan bahwa seni, budaya, dan olahraga adalah bagian integral dari dakwah dan pembinaan umat.

Tiga ranah ini, jika dikelola dengan baik, dapat menjadi medium penyadaran dan penguatan identitas keislaman di tengah masyarakat yang semakin terpolarisasi nilai dan gaya hidupnya.

Namun, di antara tiga sektor itu, budaya menempati posisi yang paling fundamental. Sebab budaya bukan sekadar ekspresi, melainkan cara hidup. Ia memuat nilai-nilai, kebiasaan, dan sistem makna yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dalam Islam, budaya (ats-tsaqafah) bukanlah wilayah sekuler yang netral, melainkan wadah spiritualitas, sebagaimana ditegaskan oleh para pemikir Muslim klasik seperti Ibn Khaldun, bahwa peradaban adalah hasil dari jiwa dan nilai yang hidup dalam diri manusia.

Ruh yang Hidup dalam Kebiasaan

Sejak berdirinya pada 1973 di Gunung Tembak, Balikpapan, Hidayatullah telah membangun budaya organisasi yang khas. Dari sekian banyak kultur itu, tiga di antaranya patut dicatat sebagai identitas yang bukan sekadar rutinitas, tetapi simbol nilai-nilai terdalam dari visi perjuangan.

Pertama, imbauan 30 menit sebelum waktu shalat melalui pengeras suara masjid atau biasa kita sebut “sholah-sholah”. Praktik sederhana ini memiliki makna yang kuat. Ia menumbuhkan kesadaran waktu, kedisiplinan spiritual, dan suasana batin yang senantiasa terikat pada Allah.

Dalam masyarakat modern yang cenderung terburu-buru, kebiasaan ini mengingatkan bahwa kehidupan tidak semata soal efisiensi, melainkan juga ritme ruhani. Islam memang menempatkan waktu sebagai unsur moral, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-‘Ashr: “Demi waktu, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian…” Imbauan tersebut adalah bentuk pendidikan batin yang menanamkan kesadaran akan nilai waktu dalam bingkai ibadah.

Kedua, wirid berjamaah pagi, sore, dan petang. Tradisi dzikir kolektif ini adalah upaya melestarikan spiritualitas yang aktif dan sosial. Dzikir tidak hanya bermakna mengingat Allah secara personal, tetapi juga mengikat batin antaranggota jamaah dalam satu irama ruhani.

Dalam salah satu sabda Nabi, kebersamaan dalam majelis dzikir seperti ini menjadi tempat turunnya ketenangan dan rahmat. Budaya ini membentuk habitus kolektif yang menjaga atmosfer spiritual kampus Hidayatullah dari rutinitas kosong.

Ketiga, menebarkan salam “Assalamu ‘alaikum” di lingkungan kampus. Sekilas tampak ringan, namun budaya salam adalah bentuk dakwah yang paling mendasar dan efektif. Rasulullah SAW menegaskan, “Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim).

Salam adalah simbol penghormatan, kasih sayang, dan kedamaian. Dalam tradisi Hidayatullah, ucapan salam menjadi wujud konkret persaudaraan, kesetaraan, dan pengakuan eksistensi antaranggota dan kaum muslimin. Budaya ini memperhalus suasana sosial, menumbuhkan empati, dan meneguhkan ikatan spiritual di tengah kehidupan modern yang individualistik.

Ketiga kebiasaan ini bukan hanya tradisi internal, melainkan warisan nilai Islam yang kontekstual. Mereka adalah bentuk “budaya yang menghidupkan” – budaya yang menumbuhkan kepekaan ruhani dan kebersamaan sosial. Bila tradisi semacam ini pudar, yang hilang bukan sekadar kebiasaan, melainkan ruh dari sistem pembinaan itu sendiri.

Budaya dan Tantangan Zaman

Di era digital yang penuh distraksi, budaya acapkali direduksi menjadi sekadar hiburan dan gaya hidup instan. Padahal dalam pandangan Islam, budaya adalah wasilah peradaban, medium membumikan nilai ilahiah dalam ruang sosial manusia. Inilah tantangan yang kini dihadapi oleh organisasi keislaman seperti Hidayatullah.

Pembentukan Departemen Seni, Budaya, dan Olahraga adalah respons terhadap tantangan itu. Dalam ruang budaya, Hidayatullah dapat mengembangkan ekspresi seni Islam yang beradab, pola olahraga yang menumbuhkan etos jihad dan disiplin, serta pelestarian tradisi luhur yang telah menjadi identitas. Seni dapat menjadi bahasa dakwah yang lembut, budaya menjadi konteks nilai, dan olahraga menjadi wadah pembentukan karakter.

Namun demikian, kunci keberhasilan bukan pada banyaknya program, melainkan pada kemampuan menjaga nilai. Dalam kerangka gerakan Hidayatullah, budaya tidak boleh tercerabut dari akar tauhid. Semua ekspresi seni, aktivitas budaya, dan ajang olahraga harus berporos pada nilai ilahiah, sebagaimana diajarkan dalam Al-Qur’an: “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Menjaga Ruh, Menyapa Generasi

Refleksi atas tiga budaya khas Hidayatullah ini menunjukkan bahwa budaya bukan sekadar aktivitas, melainkan energi keberimanan. Tradisi ini perlu terus dihidupkan dan dikontekstualisasikan agar mampu menjawab tantangan generasi kini tanpa kehilangan ruhnya.

Departemen SBO menjadi wadah yang tepat untuk merawat nilai-nilai tersebut dalam bentuk baru yang kreatif dan komunikatif. Seni bisa menjadi jembatan antar generasi; budaya bisa menjadi sarana pendidikan karakter; olahraga bisa membentuk ketahanan fisik dan mental kader dakwah.

Ketika budaya dipelihara dalam ruh tauhid, maka seni menjadi ibadah, olahraga menjadi jihad, dan kehidupan sehari-hari menjadi dakwah. Inilah makna terdalam dari visi kultural Islam yang ingin dihidupkan kembali oleh Hidayatullah, bahwa budaya sejati bukan hanya yang indah di mata, tetapi yang menenangkan hati dan menghidupkan iman.

*) Deden Sugianto Darwin, penulis adalah Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah

Dai Senior Hidayatullah di Papua Ustadz Al Djufri Muhammad Berpulang

0

INNAA lillahi wa innaA ilaihi raji’un. Al Djufri Muhammad, sosok yang dikenal sebagai dai senior Hidayatullah, telah berpulang pada hari Selasa, 13 Jumadil Awal 1447 H (4 November 2025) di Mimika, Kabupaten Timika, Provinsi Papua.

Dengan meninggalnya beliau, dunia dakwah dan pendidikan Islam di kawasan timur Indonesia kehilangan salah satu tokoh yang mencurahkan hidupnya untuk menegakkan hadirnya Islam terpadu dalam wilayah yang terhimpit tantangan alam dan sosial.

Sebagai dai dan mengemban tugas sebagai Ketua Kampus Utama Hidayatullah Timika, Al Djufri menjalankan amanah yang tidak ringan. Di tengah situasi pedalaman yang tidak mudah, ia bergerak tanpa lelah untuk mendirikan dan memantapkan lembaga-lembaga pendidikan yang menggabungkan pengajaran agama dan pemahaman kontekstual atas kondisi masyarakat setempat.

Dalam serial liputan Republika (1/7/2014) mengenai dakwah di pedalaman Papua, sosok Al Djufri disebut beberapa kali langsung berada di medan lumpur, turunan keras jalur akses, dan situasi yang amat menantang untuk menggapai wilayah-wilayah di mana sekolah atau pesantren hampir tak terjamah.

Jejak-jejak dakwahnya menampilkan keberanian untuk meninggalkan zona nyaman. Dalam salah satu cerita liputan dikisahkan bagaimana jalan pedalaman yang dilintasi beliau terkadang sedemikian rusak dan berbentuk lumpur dalam sehingga kendaraan sering terjebak.

Namun, Al Djufri tidak gentar. Ia tetap meneruskan perjalanan karena urgensi menyebarkan ilmu dan meneguhkan hadirnya pendidikan Islam di wilayah yang kerap luput dari perhatian.

Selain medan fisik, tantangan sosial-kultural di Papua menjadi latar perjuangan beliau. Al Djufri hadir sebagai figur yang memahami bahwa pendidikan agama tidak bisa dilepaskan dari kondisi lokal bahwa anak-anak di pedalaman membutuhkan akses, guru, fasilitas, dan semangat yang sebenar-benarnya untuk tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, bertakwa, dan peduli terhadap masyarakat.

Kepergian beliau menjadi momen duka bagi banyak pihak: santri, guru, keluarga besar Hidayatullah, serta masyarakat Papua yang menjadi bagian dari jangkauan dakwahnya.

Dalam mengenang Al Djufri Muhammad, beberapa hal layak dicatat tentang sosoknya. Pertama, keberanian dan kesetiaan terhadap dakwah di wilayah yang sulit. Bukan di kota besar dengan fasilitas lengkap, melainkan di pedalaman Papua yang memerlukan keteguhan hati dan keuletan fisik. Ia menempuh jalan berlumpur, berhadapan dengan rintangan fasilitas, transportasi, bahkan risiko sosial di jalan-jalan yang sering sepi dan sulit diakses.

Kedua, kepemimpinannya dalam pendidikan. Sebagai Ketua Kampus Utama Hidayatullah Timika, ia tidak hanya sebagai figur administratif, tetapi sebagai pelaku langsung dalam membangun lembaga pendidikan integral.

Ia memahami bahwa penguatan lembaga pendidikan tak boleh hanya berhenti di bangunan dan kurikulum formal, melainkan harus hadir dalam konteks sosial, ekonomi, dan budaya lokal agar pendidikan benar-benar bermakna untuk anak-anak pedalaman.

Ketiga, jejak relasi dengan masyarakat. Dalam setiap kunjungan ke pedalaman, Al Djufri tak sekadar datang sebagai pengajar atau pemimpin, tetapi sebagai sahabat dan penggerak komunitas.

Kisah-kisah liputan mencatat bagaimana banyak orang pedalaman mengenalnya, dan kehadirannya dipandang bukan sebagai tamu asing, melainkan sebagai bagian dari masyarakat yang ingin berkembang bersama.

Dengan wafatnya Al Djufri Muhammad, dunia dakwah dan pendidikan Islam di Papua dan khususnya jaringan Hidayatullah kehilangan teladan yang sambil mengajar juga ikut melewati lumpur, medan berat, dan tantangan yang tak banyak dipilih oleh orang lain.

Meskipun beliau telah tiada, intangible legacy-nya tentang keberanian, pengabdian, semangat membangun umat lewat dakwah dan pendidikan di garis terdepan tetap menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya.

Semoga Allah SWT menerima amal ibadah beliau, mengampuni segala kekhilafan, dan menempatkan beliau dalam golongan orang-orang yang mendapat rahmat luas. Serta, santri-santri yang pernah dibimbingnya menjadi penerus yang konsisten dalam pengabdian dan ilmu.

Dunia Kian Canggih, Tapi Setan Semakin Halus Menyelinap ke Hati Manusia

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Dalam Al Qur’an banyak memuat dialog tentang perintah Tuhan untuk sujud kepada Adam, penolakan dan kesombongan Iblis, bisikan Iblis kepada Adam, dan kisah Adam beserta istrinya yang akhirnya diturunkan ke bumi. Diantaranya seperti yang terkandung pada Surah Al-Baqarah ayat 30-39, Surah Al-A’raf ayat 11-25, dan Surah Thaha ayat 115-123.

Pada halaqah subuh di Masjid Ummul Qura, Pesantren Hidayatullah Depok, Selasa, 13 Jumadil Awal 1447 (4/11/2025), Ust. Ir. H. Abdul Aziz Qahhar kembali menekankan kandungan materi tersebut dengan menyajikan refleksi Surah Al Hijr 39–42 yang melukiskan bagaimana Iblis bersumpah akan menyesatkan manusia, kecuali mereka yang benar-benar terjaga dalam kemurnian ibadah kepada Allah Ta’ala.

“Ayat ayat dalam surah ini menjadi salah satu bagian penting dalam Al-Qur’an yang membuka kesadaran manusia tentang hakikat pertempuran batin yang terus berlangsung antara manusia dan setan,” katanya.

Ia menjelaskan, ayat ini turun dalam konteks kisah penciptaan Adam dan penolakan Iblis untuk bersujud kepadanya. Iblis yang dipenuhi kesombongan menganggap dirinya lebih mulia karena diciptakan dari api, sementara Adam dari tanah. Akibat keangkuhan itu, Iblis dikutuk keluar dari rahmat Allah.

Namun, sebelum diusir, Iblis meminta penangguhan waktu hingga hari kebangkitan untuk menggoda manusia. Dalam ayat ini, Iblis menegaskan rencananya untuk menyesatkan semua keturunan Adam, kecuali mereka yang tergolong mukhlasin.

“Ayat ini menunjukkan betapa seriusnya ancaman setan terhadap manusia. Ia tidak datang dengan bentuk fisik yang mudah dikenali, melainkan berperan halus sebagai qarin, pendamping dari kalangan setan yang selalu membisikkan keburukan,” jelasnya.

Hadits Nabi telah menegaskan bahwa kehadiran qarin merupakan bagian tak terpisahkan dari eksistensi manusia. Bahkan Nabi Muhammad SAW pun memilikinya. Namun, perbedaan mendasarnya terletak pada kemampuan Nabi untuk menundukkan setan yang melekat padanya.

“Dengan pertolongan Allah, Nabi mampu mengubah kekuatan destruktif itu menjadi dorongan kebaikan. Di sinilah letak hikmah besar ayat ini, bahwa manusia tidak pernah benar-benar bebas dari godaan setan, tetapi dapat mengendalikan pengaruhnya melalui kemurnian hati dan ketaatan yang total kepada Allah,” tegasnya.

Lebih jauh ia mengatakan, ditengah kehidupan modern yang kian maju seperti sekarang dimana arus informasi berkelindan tanpa batas, manusia menghadapi bentuk-bentuk baru dari “godaan setan” yang membungkus diri dalam teknologi, hiburan, dan ambisi material.

Godaan itu tidak selalu datang dalam bentuk kejahatan eksplisit tapi hadir dalam bentuk kemudahan, popularitas, atau kesenangan yang meninabobokan jiwa. Dalam situasi seperti ini, jelas Aziz, keberadaan ‘qarin’ menjadi semakin nyata, bukan sebagai entitas metafisik yang menakutkan, tetapi sebagai simbol kecenderungan manusia terhadap dorongan negatif yang terus membayang-bayangi pikiran dan perbuatannya.

Namun, terangnya, Allah Ta’ala menegaskan bahwa hanya ‘mukhlasin’ yang mampu lolos dari jerat setan. Tafsir Ibn Katsir menjelaskan bahwa mukhlasin adalah mereka yang dibersihkan oleh Allah dari syirik dan penyakit hati, sehingga tidak ada ruang bagi setan untuk masuk ke dalam jiwa mereka. Sementara Al-Qurthubi menafsirkan ayat ini sebagai bentuk jaminan bahwa keikhlasan adalah benteng paling kokoh dari segala tipu daya setan.

“Ikhlas bukan hanya perasaan religius, tetapi kondisi kesadaran diri bahwa segala sesuatu terjadi atas izin dan kuasa Allah,” katanya.

Ia mengajak berkaca pada peri-kehidupan Rasulullah SAW yang memberikan teladan konkret bagaimana menghadapi godaan setan. Beliau menjaga kedekatan dengan Allah melalui dzikir, istighfar, dan shalat malam yang konsisten.

Dalam satu hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi bersabda yang menegaskan bahwa setan mengalir dalam diri manusia sebagaimana darah mengalir seraya berwasiat untuk mempersempit jalannya dengan lapar dan dzikir kepada Allah.

“Menjadi mukhlasin berarti menempuh jalan yang sunyi, jernih, dan terus-menerus membersihkan niat dari segala selain Allah. Keikhlasan menjadi satu-satunya jalan untuk tetap selamat dari bisikan setan yang terus mengintai dari balik segala bentuk kenikmatan,” tandasnya.

Manajemen Sosial Memanusiakan, Hidayatullah Ingatkan Fungsi Masjid sebagai Pusat Peradaban

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah menyesalkan tindakan kekerasan yang terjadi di Masjid Agung Sibolga, Jalan Diponegoro, Kecamatan Sibolga Kota, Jumat (31/10) hingga jatuh korban. Korban berinisial AT (21), dilaporkan awalnya tidur beristirahat di masjid, kemudian ditegur dan dianiaya oleh sekelompok orang hingga mengalami luka berat di bagian kepala dan akhirnya meninggal dunia.

Wakil Sekretaris Jenderal III Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Muhammad Isnaini mengatakan menyesalkan kejadian ini karena tiga sebab pokok. Pertama, tindakan kekerasan di ruang yang semestinya aman mencederai rasa keadaban dan kemanusiaan.

“Masjid, dalam pemahaman luas dan dalam konteks agenda pembinaan umat, memang seharusnya lebih dari sekadar ruang ibadah ritual. Masjid adalah pusat peradaban Islam,” kata Isnaini dalam keterangannya di Jakarta, Senin, 2 Jumadil Awal 1447 (3/11/2025).

Kedua, jelas Isnaini, kejadian ini menjadi pengingat bahwa fungsi masjid tidak otomatis terlaksana hanya dengan bangunan dan jamaah. Menurutnya, pemakmuran masjid membutuhkan manajemen sosial yang sensitif terhadap keberagaman, kondisi pengguna, dan tanggung jawab moral.

“Jika sebuah masjid justru menjadi tempat kematian seorang pemuda karena tidur di situ untuk beristirahat maka ada kegagalan fungsi sosial yang harus diakui,” katanya.

Ketiga, lanjutnya, dimensi institusional dan pendidikan dari masjid sebagai pusat peradaban harus kembali direfleksikan secara serius. Kejadian ini menurutnya konfrontatif terhadap semangat itu di mana seharusnya sikap empatik dan pembinaan umat, terjadi kekerasan spontan yang merenggut nyawa.

Kendati demikian, dia menegaskan, tidaklah adil menyimpulkan bahwa fungsi masjid secara keseluruhan gagal karena satu insiden. Banyak masjid yang dengan giat menjadi pusat aktivitas kemaslahatan, pendidikan, dan sosial.

Dalam lingkup yang lebih luas, jelas Isnaini, kejadian ini menjadi momentum penting untuk mendorong implementasi nilai-nilai pemakmuran seluruh masjid secara nasional sebagai pusat ilmu dan karakter.

Isnaini pun mengajak segenap pengelola masjid termasuk masjid di lingkungan Hidayatullah untuk memperkuat kegiatan pengarusutamaan nilai masjid sebagai majelis ilmu, kegiatan sosial-kemasyarakatan, ruang konsultasi, dan program pemuda yang aktif.

“Kalau hal ini terealisasi, fungsi masjid sebagai benteng peradaban akan lebih nyata,” tegasnya.

Untuk menghindari tragedi serupa, semua pihak termasuk DKM dan masyarakat sekitar perlu menyinergikan pengawasan terhadap aktivitas malam di masjid, khususnya jam penggunaan dan keamanan lingkungan.

Sebagai rumah Allah dan pusat peradaban, kata Isnaini, masjid harus dibentengi bukan hanya secara fisik tetapi juga secara budaya, kelembagaan, dan sosial bahkan dari sikap sederhana seperti menghormati orang yang tidur di masjid untuk istirahat hingga terbukanya ruang dialog antar-jamaah.

“Setiap masjid harus menjadi tempat persinggahan manusia yang aman, tidak hanya untuk ritual ibadah, tetapi juga untuk kebutuhan kemanusiaan. Jika masjid gagal menjalankan fungsi ini, maka ia kehilangan makna fundamentalnya,” tandasnya.

Khotmil Qur’an Nasional Muslimat Hidayatullah Teguhkan Spirit Indonesia Emas

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam kehidupan berbangsa yang tengah mencari arah moral dan spiritual menuju Indonesia Emas 2045, penting untuk mengingat bahwa ukuran kemajuan tidak semata diukur dari kemegahan pembangunan fisik atau kemajuan teknologi.

Dalam perspektif Islam, tolok ukur keemasan suatu bangsa justru ditentukan oleh kedalaman iman dan stabilitas spiritual masyarakatnya. Hal inilah yang menjadi pokok pandangan Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muslimat Hidayatullah (Mushida), Ustadzah Hani Akbar, dalam kegiatan Khotmil Al-Qur’an Nasional yang digelar Muslimat Hidayatullah di Aula Orny Loebis DPP Hidayatullah, Jakarta, pada Jumat, 10 Jumadil Awal 1447 (1/11/2025).

“Dalam pandangan Islam, ukuran keemasan sebuah peradaban bukanlah gemerlap duniawi, tetapi stabilitas keimanan masyarakatnya. Karena dari keimanan yang kuatlah lahir peradaban yang beradab dan bermartabat,” ujar Ustadzah Hani Akbar.

Kegiatan yang mengusung tema “Menguatkan Jiwa Menuju Indonesia Emas dengan Al-Qur’an” ini dilaksanakan secara hybrid dan diikuti sekitar 50 peserta secara langsung serta ratusan lainnya dari berbagai wilayah Indonesia melalui tayangan bersama. Rangkaian ini menjadi bagian dari gebyar Musyawarah Nasional (Munas) Muslimat Hidayatullah 2025 yang meneguhkan visi organisasi untuk membangun keluarga Qur’ani sebagai basis peradaban Islam.

Menurut Hani, Khotmil Qur’an Nasional bukan sekadar kegiatan seremonial. Lebih dari itu, ia menjadi bentuk ikhtiar spiritual bersama untuk memperkuat ruh jihad perempuan Muslimah dalam dakwah, serta menyatukan langkah seluruh kader dan simpatisan Muslimat Hidayatullah dari berbagai daerah.

“Ini adalah momentum untuk menyatukan hati dan langkah dalam kecintaan kepada Al-Qur’an, agar kita semua senantiasa berorientasi pada nilai-nilai Ilahiyah dalam setiap kiprah kehidupan,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, narasumber kegiatan, Ustadz Muhammad Yusri Ramadhan Alzamy, menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah sumber kekuatan peradaban Islam. Ia menekankan pentingnya tidak hanya membaca, tetapi juga mentadaburi dan mengamalkan ajarannya.

“Generasi terbaik dalam sejarah Islam adalah generasi Nabi. Maka, Indonesia Emas hanya dapat diraih jika masyarakatnya meneladani generasi tersebut dalam kedekatannya dengan Al-Qur’an,” ujarnya.

Ustadz Yusri kemudian mengutip firman Allah dalam surah Ar-Ra’d ayat 28, ‘(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.’ Ia menjelaskan bahwa ketenangan hati yang diperoleh melalui zikir dan tilawah Al-Qur’an adalah fondasi bagi terbentuknya generasi yang kuat secara spiritual dan moral.

Kegiatan Khotmil Qur’an Nasional ini diharapkan mampu menumbuhkan kembali semangat rahmatan lil ‘alamin di tengah masyarakat yang tengah diuji oleh derasnya arus globalisasi dan krisis nilai.

“Kami berharap kegiatan ini menjadi suluh penerang bagi jiwa-jiwa yang merindukan kebaikan, serta menjadi wasilah turunnya keberkahan Allah bagi perjuangan Muslimat Hidayatullah dalam menyongsong masa depan Indonesia yang lebih bermartabat dan berkeadaban,” tandas Ustadzah Hani.

Dengan demikian, tambah Hani, melalui semangat tilawah dan tadabbur Al-Qur’an, Muslimat Hidayatullah meneguhkan peran strategis perempuan Muslim dalam membangun fondasi spiritual bangsa.

“Sebab, dari tangan-tangan perempuan berimanlah lahir generasi yang tangguh, berakhlak, dan berjiwa Qur’ani, sebagai pilar utama menuju Indonesia Emas yang berkeimanan teguh,” tukasnya.

Ponpes Hidayatullah Ikut Sukseskan Doa Bersama dan Mlaku Bareng Santri di GOR Sidoarjo

0

SIDOARJO (Hidayatullah.or.id) – Hari Santri Nasional bukan sekadar seremonial tahunan, tetapi menjadi momen reflektif untuk mengingat kembali jejak historis perjuangan para santri dan ulama dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Semangat kebangsaan yang lahir dari pesantren merupakan bagian integral dari perjalanan panjang bangsa ini membangun jati diri dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Manager Unit BMH Sidoarjo, Abdul Karim, menegaskan pentingnya nilai-nilai perjuangan itu untuk terus diwariskan melalui keterlibatan aktif santri dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan.

“Hari Santri merupakan momentum untuk mengenang peran besar para santri dan ulama dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, sekaligus meneladani semangat perjuangan, keikhlasan, dan pengabdian mereka,” ujarnya di sela kegiatan peringatan Hari Santri Nasional 2025 di Sidoarjo, Ahad, 1 Jumadil Awal 1447 (2/11/2025).

Dalam kesempatan itu, puluhan santri dari Pondok Pesantren Hidayatullah Sidoarjo turut menyemarakkan kegiatan bertajuk Doa Bersama, Mlaku Bareng Santri, dan Festival UMKM yang berlangsung di Parkir Timur GOR Delta Sidoarjo.

Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Bupati Sidoarjo H. Subandi, S.H., M.Kn., dan dihadiri oleh berbagai tokoh masyarakat, antara lain Ketua DPRD Sidoarjo H. Abdilah Nasih, Ketua PCNU Sidoarjo KH. Zainal Abidin, M.Pd., serta Direktur PT Radar Surabaya, Lilik Widyantoro.

Sejak pagi pukul 06.00, para santri dan masyarakat mulai memadati area acara. Suasana kebersamaan tampak hangat ketika Bupati Subandi mengibarkan bendera start sebagai tanda dimulainya kegiatan jalan santai “Mlaku Bareng Santri”. Acara ini menjadi simbol semangat gotong royong dan kekompakan masyarakat dalam memperingati hari yang memiliki nilai historis bagi bangsa.

Abdul Karim sebagai salah satu pendamping rombongan ini menjelaskan bahwa keterlibatan santri Hidayatullah tidak hanya sekadar partisipasi, tetapi merupakan bentuk nyata kontribusi dalam menghidupkan semangat keumatan dan kebangsaan di tengah masyarakat.

Pondok Pesantren Hidayatullah Sidoarjo sendiri merupakan salah satu mitra binaan Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Sidoarjo, yang selama ini aktif melaksanakan berbagai program sosial dan pemberdayaan umat.

“BMH bersama pesantren terus berupaya menghadirkan manfaat bagi masyarakat luas melalui berbagai program sosial seperti wakaf Al-Qur’an, sumur bor, beras santri, sedekah buka puasa sunnah, hingga pembangunan mushala di pelosok,” tambah Abdul Karim.

Ia juga mengajak para dermawan untuk terus menumbuhkan kepedulian dan partisipasi dalam mendukung program-program tersebut agar kebermanfaatannya semakin luas.

Kegiatan peringatan Hari Santri di Sidoarjo tidak hanya menampilkan semangat keagamaan, tetapi juga menggambarkan sinergi antara pemerintah daerah, lembaga pendidikan Islam, dan masyarakat dalam memperkuat nilai-nilai kebangsaan.

Melalui momentum ini, semangat perjuangan para santri dan ulama di masa lalu diharapkan terus hidup dalam jiwa generasi muda, menjadi fondasi moral dalam membangun bangsa yang berkeadaban dan berkeadilan.

Kunjungan Pengusaha Agribisnis ke Hidayatullah, Bahas Peluang Ekspor Sekam dan Sabut Kelapa ke Belanda

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pengusaha agribisnis nasional Ade Wardhana Adinata yang juga founder dari Minaqu Indonesia melakukan kunjungan ke Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta pada Kamis, 8 Jumadil Awal 1447 (30/10/2025).

Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka silaturrahim sekaligus mengucapkan selamat atas terpilihnya KH Naspi Arsyad sebagai Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah.

Ade Wardhana yang dikenal sebagai pengusaha sukses di bidang pertanian yang telah mengekspor tanaman hias dalam bentuk kultur jaringan (tissue culture) ke 56 negara, termasuk ke Belanda, hadir bersama dua mitra bisnisnya asal Belanda, yaitu Mr. Jan dan Mr. Frank. Dalam pertemuan tersebut, mereka membuka peluang kerja sama dengan Hidayatullah yang memiliki jejaring hampir di seluruh kota kabupaten di Indonesia.

Beberapa skema kerja sama yang dijajaki antara pihak Minaqu Indonesia, mitra Belanda, dan Hidayatullah mencakup potensi ekspor produk agraria seperti sekam bakar, batok dan sabut kelapa dari Indonesia ke Belanda.

Dalam sambutannya, Ade Wardhana menyampaikan apresiasi kepada Hidayatullah atas penerimaan dan sambutan hangatnya terhadap kunjungan bisnis pertama mitra Belanda.

“Kami sangat berterima kasih atas penerimaan Hidayatullah dalam kunjungan pertama kami ke Indonesia,” ungkap Mr. Jan secara simbolis dalam pertemuan tersebut. Pihak Belanda melihat potensi kemitraan yang strategis melalui jaringan dakwah dan sosial Hidayatullah yang tersebar hingga tingkat daerah.

Sementara itu, KH Naspi Arsyad dalam sambutannya menekankan pentingnya menjembatani antara dakwah, pendidikan, dan ekonomi mikro-makro sebagai bagian dari kontribusi Hidayatullah terhadap pembangunan ekonomi umat. Ia menyebut bahwa kerja sama yang bersifat bisnis dan sosial dapat menjadi bagian dari penguatan jaringan ekonomi di kalangan anggota dan mitra Hidayatullah.

Para pihak sepakat untuk melanjutkan kajian teknis mengenai rantai pasok dan ekspor produk sabut dan batok kelapa mulai dari ketersediaan bahan baku di tingkat petani, standar mutu ekspor, hingga regulasi logistik dan pemasaran di Belanda.

Wakil Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah Muhammad Isnaini dalam keterangannya mengatakan kunjungan ini menjadi langkah awal yang bersifat simbolis namun potensial bagi pembukaan kerja sama agrikultur lintas negara yang menggabungkan kapabilitas pengusaha Indonesia, mitra asing, dan jejaring organisasi nasional.

“Jika direalisasikan dengan baik, peluang seperti ekspor sabut, batok kelapa dan sekam bakar dapat menjadi perluasan ekonomi berbasis sumber daya lokal sekaligus memperkuat peran organisasi dakwah dalam bidang pemberdayaan ekonomi,” katanya.

Ke depan, dia menambahkan, keberlanjutan kolaborasi ini akan bergantung pada penyusunan skema yang konkret, kesiapan standar ekspor, serta sinergi antara sektor bisnis dan komunitas dakwah.

“Dengan demikian, momen kunjungan pada hari ini bukan hanya menguatkan silaturrahim, melainkan bisa menjadi batu loncatan bagi sinergi ekonomi-keagamaan yang produktif,” tandasnya.