Beranda blog Halaman 609

Hidayatullah Terima Wakaf Tanah 2 Hektar di Adonara

penyerahan tanah wakaf ke hidayatullah nttHidayatullah.or.id — Pimpiman Wilayah Hidayatullah Nusa Tenggara Timur (PW Hidayatullah NTT) mengelar acara seremoni serah terima wakaf tanah dari Bapak Khoirul Belo Beto bin Abu Bakar Olah Bala yang berlokasi di tanah wakaf, Desa Weranggere, Kecamatan Witihama, Pulau Adonara, Kabupaten Flores, NTT, Sabtu (22/08/2015).

Acara yang sejatinya digelar pada pukul 09:00 WITA tersebut terpaksa diundur hingga pukul 10:00 WITA, karena medan menuju lokasi tanag yang cukup berat dan berkelok-kelok.

Setelah dibuka secara sederhana dengan tilawatil Qur’an, lalu dilanjutkan dengan sambutan dari pemberi wakaf Bapak Khoirul Belo Beto bin Abu Bakar Olah Bala, perwakilan Kepala Desa, Kantor Urusan Agama (KUA), Tokoh Adat, Tokoh Agama, dan tidak ketinggalan keluarga pemberi wakaf tanah seluar dua hektar tersebut.

Dalam sambutannya, pewakif Khoirul Belo Beto bin Abu Bakar Olah Bala menyampaikan bahwa tidak ada hal lain apapun dibalik pemberian tanah ini selain untuk mendukung gerak langkah dakwah Islam di wilayah minoritas tersebut.

“Kami hanya ingin hadir Pondok Pesantren Hidayatullah di tempat kami. Hal ini di sebabkan tidak adanya pembinaan agama Islam dan itu keadaan ini semakin mengawatirkan muslim di sini,” kata Khoirul Belo Beto.

“Kami sekeluarga mewakafkan tanah ini dengan penuh ketulusan. Dan harapan besar kami, akan hadir pesantren di kampung ini yang akan membimbing kami dalam pemahaman Islam yang lebih baik,” ungkap putra daerah ini dengan bahasa Indonesia yang cukup fasih.

Bapak Khoirul Belo Beto menegaskan, tidak ada sedikitpun tujuan tertentu menyerahkan tanah ini selain mengharapkan ridha dari Allah Ta’ala dan merindukan hadirnya dakwah Islam di Adonara secara umum.

Penyerahan amanah wakaf tanah kepada Hidayatullah ini berawal dari pencarian keluarga Khoirul, dimana beliau telah berkeliling mencari kira-kira ke mana tanahnya ini akan di berikan dan untuk dikelola sebagai tanah pesantren. Lalu ketemulah dia dengan Hidayatullah yang juga berawal dari saran teman-teman di Labuan Bajo.

Khoirul yang juga merupakan tokoh adat masyarakat setempat mengaku pernah mengikuti penyerahan tanah di Pulau Longgos, dan kini di lokasi itu telah berdiri Pondok Pesantren untuk pembinaan umat dan terus mengalami perubahan dan peningkatan.

Maka, segera setelah Khoirul Belo Beto ingat Hidayatullah, beliau menghubungi PW Hidayatullah NTT untuk menindaklanjuti hingga acara penyerahan bisa di laksanakan di tanah wakaf ini beberapa waktu lalu.

Di kesempatan yang sama, perwakilan kepala desa juga mengapresiasi penyerahan wakaf tanah ini dengan memberikan dukungan jika segera di bangun pesantren di tempat ini begitu juga hal dengan imam masjid.

“Pada prinsipnya kita semua mendukung, pembangunan pesantren di tempat ini. Dalam rangka membina generasi Islam yang semakin memprihatinkan karena jauh dar nilai ajaran Islam dan di kemudian hari mereka dapat menjadi lebih baik,” ungkap Imam masjid setempat.

KUA Adonara sendiri sebagai bagian yang tidak terpisah akan turut memberikan dukungan, dengan segera mengurus berkas-berkas yang berhubungan dengan KUA dan wakaf ini.

Ustadz Usman Mamang selaku Ketua PW Hidayatullah NTT dalam sambutan mengucapkan terimakasih dan apresiasi yang tinggi kepada semua pihak atas kepercayaan dan dukungan terhadap Hidayatullah NTT.

Di akhir acara LAZNAS Baitul Maal Hidayatullah menyerahkan Al-Qur’an untuk dua masjid yang diterima langsung oleh kedua Imam masjid. Lalu dilanjutkan dengan pemantauan lokasi oleh pewakif dan ketua PW, untuk mengetahui batas lokasi, mengingat sensitifnya batas-batas tanah di Pulau Adonara ini.

Sebelumnya, Baitul Maal Hidayatullah telah menyerahkan bantuan dana untuk penggalian sumur di Dusun Molong dengan nilai 25 juta untuk memudahkan ummat Islam mendapatkan air dalam melakukan kegiatan terutama untuk bersuci. (Muhammad Adianto)

BMH Bali Serahkan Wakaf Qur’an ke Singaraja

Hidorid Hidorid1Hidayatullah.or.id — Team Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (LAZNAS BMH) Cabang Denpasar meluncur ke Kota Pelajar Singaraja, sebuah kabupaten paling utara di wilayah Provinsi Bali yang berjarak kurang lebih 81,5 Km, Senin siang (31/08/2015).

Berbekal Al-Qur’an amanah dari BMH Jakarta, team dengan mengendarai sepeda motor mulai membelah kota Denpasar menuju Kabupaten Tabanan.

Sore harinya, tim beristirahat sejenak di Pelataran Masjid Bambu Kuning menikmati sesaat pemandangan Danau Beratan yang gambarnya terdapat di uang kertas pecahan lima puluh rupiah.

Usai selesai sholat Ashar berjamaah, team yang dikomandani oleh Nur Yaddin, segera meluncur menaklukan jalan berliku-liku dengan kemiringan cukup terjal menuju Kabupaten Buleleng.

Pukul 17.15 wita team sudah tiba dengan selamat di tempat tujuan, tepatnya didaerah Banyuasri, Buleleng, Kota Singaraja.

Tim langsung bergabung dilantai dua mushollah setempat bersama Ustadz Sholihin yang sedang mengajar TPA untuk anak-anak. Dengan ramah beliau menyampaikan kepada anak didiknya dan mempersilahkan kepada BMH untuk melakukan distribusi dan pengambilan gambar dokumentasi.

Setelah Shalat Isya, rombongan kembali bergabung dengan Ustadz Sholihin untuk membaur dengan kelompok bapak-bapak yang setiap malam Senin belajar bersama mengaji di Musholla tersebut.

Pengajian bapak-bapak dan anak-anak binaan Ustadz Sholihin yang sudah tiga tahun berlalu ini mengawal hidayah Allah kepada para muallaf ini semakin ramai adanya.

“Saya ingin sekali ada teman kader-kader Hidayatullah yang siap berjuang di sini. Saya kepingin ada yang mengantikan ketika saya ada jadwal di luar untuk memenuhi undangan jama’ah. Semoga dalam waktu yang tidak terlalu lama, ada kawan, khususnya tahfidz yang bergabung memperkuat tim di Kota Pelajar ini,” ujarnya penuh harap.

Ini sejalan dengan harapan anak-anak didiknya, sebut saja Harianto, anak muallaf yang sudah kelas II SMP swasta di Kota ini.

“Saya dulu anak ‘kurang baik’, tapi setelah diasuh sama Ustadz Sholihin, dari yang awalnya tidak bisa mengaji. Alhamdulillah sekarang sudah hafal 1,5 Juz. Saya hafalkan disela-sela waktu belajar di SMP bersama rekan-rekan yang lainnya,” ujar Harianto polos.

Malam semakin larut, tim bersiap kembali ke Kota Denpasar. Berbekal jaket yang sudah disiapkan, tim kembali harus menerobos kabut tebal nan suhu ekstrim dingin dari Danau Beratan.

Dinginnya malam menjadi tantangan tersendiri untuk di’taklukan’ dan Alhamdulillah, setengah dua belas malam, tim BMH Bali tiba di kantor Denpasar dengan selamat.

“Lelah sih dalam perjalanan, tapi Alhamdulillah amanah sudah tertunaikan,” ujar Ami Gumilang diamini Uput dan Aroby dengan raut muka kelelahan. (Yusran Yauma)

Selamat Berguru ke ‘Sekolah Haji’ Baitullah

0

hajj-baitullahJEMAAH (calon) haji Indonesia secara berangsur telah diberangkatkan. Kita berharap, ibadah istimewa ini dapat dimanfaatkan oleh semua Tamu Allah sebagai sebuah kesempatan untuk berguru ke ‘Sekolah Haji’. Sekolah Haji?

Menangkap Pesan
Bak madrasah atau sekolah, ibadah haji memang memberikan banyak pelajaran di balik berbagai ritual di dalamnya. Mari kita cermati aneka hikmah di balik ritual talbiyah, ihram, thawaf, sa’i, wukuf, dan melempar jumrah.

Talbiyah adalah serangkain kalimat persaksian seorang hamba kepada Allah: Labbaika, Allahumma labbaik. Labbaika, laa syarika laka, labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka, wal mulka laka. Laa syarika lak.

(Yaa Allah, inilah hamba datang, hamba datang -memenuhi panggilan-Mu-. Hamba datang, tiada sekutu bagi-Mu, hamba datang. Sesungguhnya segala puji dan nikmat hanyalah untuk-Mu dan segala kekuasaan hanya ada pada-Mu, tiada sekutu bagi-Mu).

Apa pesan talbiyah yang jika dibacakan dengan sepenuh penghayatan akan sangat menggetarkan qalbu itu? Pertama, “Labbaika, Allahumma labbaik” adalah ungkapan kepatuhan seorang hamba dalam memenuhi panggilan Allah.

Jika jemaah haji bersaksi bahwa kehadiran mereka di Tanah Suci adalah sebentuk ketaatan seorang hamba kepada Tuhannya, maka apakah sikap yang sama akan bisa mereka peragakan kelak sepulang nanti di Tanah Air? Misalnya, apakah mereka akan selalu taat kepada semua hukum Allah?

Kedua, “laa syarika laka”. Ini adalah persaksian bahwa Allah itu Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Kelak sepulang di Tanah Air, akankah persaksian itu bisa mereka pertahankan yaitu tetap mengesakan Allah kapan dan di manapun? Bisakah mereka tidak menyekutukan Allah, dengan –misalnya- menuhankan jabatan atau kekuasaan? Atau, menuhankan uang?

Ketiga, “innal hamda” adalah ungkapan pujian bagi Allah. Bahwa yang pantas mendapat puja dan puji hanyalah Allah. Maka, kelak di Tanah Air, bisakah mereka tak akan melakukan pekerjaan apapun jika itu hanya bertujuan untuk mendapatkan puja dan puji dari publik?

Keempat, “wan ni’mata laka” adalah pernyataan bahwa segala kenikmatan berasal dari Allah. Maka -kelak di Tanah Air- bisakah di saat mereka ingin mendapatkan nikmat (dunia), mereka akan melakukannya dengan cara-cara yang telah ditentukan Allah? Misalnya, bisakah mereka untuk tidak korupsi?

Kelima, “wal mulka laka” adalah pernyataan bahwa pemilik kekuasaan sejati adalah Allah. Maka, kelak di Tanah Air, bisakah mereka menahan diri untuk tak mengejar kekuasaan dengan menghalalkan segala cara?

Lalu, ketika kekuasaan benar-benar telah di dalam genggamannya, apakah mereka akan menjalankannya dengan sepenuh amanah? Sebab, bukankah semua kekuasaan itu harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah yang Maha Kuasa?

Keenam, talbiyah ditutup dengan mengulangi lagi kesaksian “Laa syarika lak”. Ini sebuah penegasan bahwa kita tak menyekutukan Allah. Maka, kelak di Tanah Air, bisakah mereka akan selalu dalam posisi seperti itu yaitu bahwa di setiap menghadapi situasi yang potensial membawa ke kesyirikan mereka akan tetap teguh memegang prinsip tauhid?

Sungguh, dengan selalu menghayati dan mengamalkan spirit talbiyah, ada tiga ‘penyakit ruhani’ yang tak akan pernah bisa singgah di diri kita. Tiga penyakit itu adalah suka dipuji (sebagai bagian dari sifat sombong), gemar mencari kenikmatan secara tidak sah (sebagai bagian dari sifat serakah), dan ingin berkuasa secara tidak halal (sebagai bagian dari sifat iri).

Sombong, serakah, dan iri adalah tiga dosa pertama yang dilakukan makhluq Allah. Lihatlah di saat iblis diminta bersujud kepada Adam a.s., ternyata iblis menolaknya lantaran dia merasa lebih terhormat dari Adam a.s.. Di saat itu iblis mendemonstrasikan sifat sombong.

Cermatilah di saat Adam a.s. di surga. Dia diperbolehkan menikmati apa saja yang ada di dalamnya, kecuali satu yang harus dijauhinya. Tapi, serakah membuat Adam a.s. melanggar aturan itu.

Perhatikanlah di saat syariat telah mengatur bagaimana seharusnya Qabil dan Habil mendapatkan ‘pasangan hidup’-nya masing-masing. Tapi, lantaran sifat iri dibunuhlah Habil oleh Qabil untuk mendapatkan wanita yang seharusnya menjadi hak si Habil.

Sekarang, kita bergeser ke ritual haji yang lain. Di saat kita menanggalkan pakaian berjahit –berihram- apakah kita bisa menangkap pesan bahwa untuk selanjutnya –sepulang nanti di Tanah Air- kita akan selalu menanggalkan pakaian kemaksiatan? Sebaliknya, apakah kita akan selalu mengenakan ‘pakaian takwa’? Apakah kita akan senantiasa mengerjakan semua yang diperintah Allah dan meninggalkan semua yang dilarang-Nya?

Ketika kita sa’i, bisakah kita menangkap pesan bahwa –sepulang nanti di Tanah Air- kapanpun akan selalu ‘berlari’ menuju Allah di antara rasa cemas dan harap?

Ketika kita wukuf di Arafah, bisakah kita menangkap pesan bahwa –sepulang nanti di Tanah Air- kita memahami bahwa Allah itu mengetahui segala apa yang ada pada diri ini sekalipun kita telah berusaha menyembunyikannya?

Lalu, ketika kita melempar jumrah, apakah kita berniat pula untuk di masa-masa selanjutnya –sepulang nanti di Tanah Air- akan selalu memerangi setan?

Agen Kebaikan

Pada musim haji tahun ini, setelah masing-masing melewati berbagai ‘perjuangan’, banyak di antara saudara Muslim kita yang telah dapat memenuhi seruan mulia ini:

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka” (QS Al-Hajj [22]: 27-28).

Sejalan dengan itu, kita berharap agar keseluruhan jemaah (calon) haji itu dapat menyempurnakan ibadah mereka selama di Tanah Suci. “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah” (QS Al-Baqarah [2]: 196). Hanya dengan cara itulah ibadah haji akan menjadi mabrur.

Terakhir, duhai para jemaah (calon) haji, berangkatlah dan bergurulah kepada ‘Sekolah Haji’. Penuhilah perintah Allah untuk mengambil manfaat darinya. Kelak setelah pulang ke Tanah Air, aplikasikan semua pelajaran itu. Jadilah agen kebaikan yang bisa mewarnai lingkungan manapun yang Anda tinggali. Pendek kata, konsistenlah dalam beramar makruf nahi munkar!

________
M ANWAR DJAELANI, penulis adalah dosen STAIL Pesantren Hidayatullah Surabaya dan pengurus Yayasan Bina Qalam Indonesia

Kultur Ber-Hidayatullah

Tampak pendiri Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said (paling kiri) menjadi pembawa acara dalam kegiatan Training Center Pemantapan Pancasila Tim Dakwah Hidayatullah yang digelar di Balikpapan, November 1983. / DOK
Tampak pendiri Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said (paling kiri) menjadi pembawa acara dalam kegiatan Training Center Pemantapan Pancasila Tim Dakwah Hidayatullah yang digelar di Balikpapan, November 1983. / DOK

Abstraksi

Memproses keimanan yang melahirkan kemurnian niat dan kekuatan untuk menggulirkan transformasi sosial secara berkesinambungan mutlak dengan merujuk sistematika wahyu.

 Ketika  wahyu turun, otomatis lahirlah struktur kepemimpinan yang kongkrit. Perpaduan dari kearifan senior, generasi tua (samahatus syuyukh) dan semangat yunior, generasi muda (hamasatus syabab).

 Jadi,  menguatkan daya serap terhadap sistematika wahyu itu dengan sistem komando imamah-jamaah. Komando dapat berjalan dengan efektif dan efisien itu dengan sami’na wa ‘atha’na (saya mendengar dan saya siap untuk patuh).

 Siap untuk memimpin dan dipimpin dengan spirit yang sama. Siap ditugaskan untuk iqamatud din (menegakkan agama). Ketaatan tanpa ketulusan adalah taqlidul a’ma (mengekor).Oleh karena itu perlu dilakukan proses iqra’ dalam arti yang luas, agar mampu  taat  dengan penuh kesadaran dan kesabaran.

Pengantar

Fenomena Sistematika Wahyu pada awal perlangkahan lembaga ini bisa kita rasakan atsarnya (efek dan pengaruhnya) hingga kini. Bahkan, keterpanggilan bergabungnya generasi awal di lembaga perjuangan ini didorong oleh spirit manhaj ini.

Intinya adalah penerapan konsep-konsep wahyu mulai dari surat Al Alaq 1-5 – surat Al Fatihah dalam kehidupan keseharian. Petugas berusaha semaksimal mungkin sebagai alat peraga wahyu yang beroperasi dalam berbagai skala  kehidupan. Mendekatkan jarak antara idealitas wahyu dengan realitas pemeluknya.

Kata Ulama : Al Quran itu tidak dapat berbicara, yang menyuarakannya dengan lantang adalah generasi qurani (Al Quran laa yunthiq walaakin yunthiquhur rijal). Dengan diamalkan, maka akan melahirkan berbagai harapan, ide, ilham, interpertasi baru, dari yang sudah ada (al Quran hammalatul ma’na). Yang menghasilkan bimbingan dan keterlibatan Allah dalam gerak-langkah.

Kehadiran Allah itu (tadakhul rabbani) terasa dari hasil pekerjaan yang seringkali tidak sepadan dengan kemampuan, sehingga membuat orang lain terheran-heran. Para peraga wahyu di lapangan ketika diterjunkan secara bebas, sering membuat peristiwa, menciptakan kejutan, dan membuat jalannya sejarah.

Sementara itu, jika terjadi sedikit penyimpangan dari rambu-rambu wahyu, dengan serta-merta  Allah Ta’ala akan menarik diri dari serangkaian pekerjaan itu dan muncullah berbagai persoalan sebagai ujian yang tidak terduga-duga.

Semakin jauh perjalanan kita dari komando wahyu, maka hukuman dari-Nya akan datang di luar planning kita dengan kelahiran individu yang tidak shalih dan pemimpin yang menindas. Kelahiran kepemimpinan (al Qiyadah) dan generasi pelanjut (al Jundiyah) ke depan ditentukan oleh keterikatan kita yang demikian kuat (iltizam) dengan manhaj sistematika nuzulnya wahyu ini.

Demikianlah Kami jadikan berteman sebagian orang-orang yang zhalim itu dengan sebagian lainnya disebabkan apa yang mereka lakukan (QS. Al Anam (6) : 129).

Wahai kaum mukmin, ingatlah perintah Allah Ta’ala yang diberikan kepada kalian untuk mengesakan-Nya. Juga perhatikanlah fitrah tauhid yang telah Allah tanamkan kepada kalian, ketika kalian masih berada dalam rahim ibu kalian.  Kalian berkata, kami dengar dan kami taat kepada perintah untuk mentauhidkan-MU. Karena itu taatlah kalian kepada Allah, sungguh Allah Mengetahui isi hati kalian (QS. Al Maidah (5) : 7).

Jadi, betapa nikmatnya hidup dibawah naungan wahyu itu. Baik secara individu, keluarga, sosial, dan organisasi kita. Sekalipun berat, tetapi dengan pertolongan Allah Ta’ala akan terasa mengasyikkan.

Berat, karena kadang menuntut pengorbanan yang seakan tidak manusiawi lagi, pelaksanaan perintah yang tidak sesuai dengan kecenderungan/subyektifitas nafsu pribadi. Tetapi, nikmat dan mengasyikkan karena ada keyakinan bahwa Allah Ta’ala selalu menyertai dan memandu dalam perjalanan. Ada rasa kepuasan batin jika melaksanakan sesuatu dengan tetap konsisten  di jalan-Nya.

Bisa dibayangkan, sebagaimana disampaikan oleh Ustadz Abdul Majid Aziz, dalam usia diatas 60-an tahun harus mengemban dakwah di Irian Jaya, bersama istri dengan anak yang cukup banyak, misalnya.

Tetapi, setelah dijalani, hiburan dari Allah senantiasa datang, dengan ditemukannya berbagai kemudahan dan jalan keluar dari kerumitan sepanjang perjalanan. Memang, dengan hidup dalam lingkaran wahyu sistem, seseorang akan selalu dapat mengambil manfaat (hikmah) dibalik segala macam kondisi.

Karena, pada dasarnya senang dan susah, gagal dan sukses, maju dan mundur, statis dan dinamis, lahan basah dan kering, muncul dan tenggelam, kejadian kecil dan kejadian besar, kelahiran dan kematian, itu semua ujian dari Allah.

Nilai Dasar

Lewat penghayatan Surat Al Alaq 1-5 akan muncul keyakinan 100 persen). Tanpa ada sedikit celah keraguan. Bahwa Allah Ta’ala tidak mati sebagaimana aqidah yang dipahami oleh kaum Nasrani. Na’udzu billah min zalik.

Tidur saja, Allah Ta’ala tidak. Inilah kekayaan yang paling mahal melebihi intelektual. Keyakinan inilah bekal yang sangat diperlukan untuk mengemban tugas. Berjuang di segala medan. Baik di pelosok Merauke, hingga ke ujung Maroko.

Keyakinan akan melahirkan sikap senantiasa tegar, teguh, pantang menyerah, dalam segala situasi dan kondisi. Tidak ada susah, kecut, sedih, sebab yakin bahwa Allah Ta’ala mem-backup segala gerak-geriknya. Sedang Ia adalah Maha segala-galanya.Maha Adil, Maha Kuasa, Maha Kuat, Maha Merajai, jadi apa yang perlu dikhawatirkan?

Yang nampak adalah sikap konsisten, ketegaran, istiqomah, siap dengan segala resiko yang ditemukan ditengah-tengah menjalankan tugas dakwah dan memikul tanggungjawab. Sikap demikian merupakan warna dasar (minimal) celupan surah Al ‘Alaq pada diri seseorang, sebagai kelanjutan dan konsekwensi dari sikap menempatkan Allah Ta’ala sebagai satu-satunya Rabbul ‘Alamin.

Menempatkan-Nya sebagai Tuhan menuntut adanya keyakinan bahwa hanya Dia yang patut dipuji, hanya Dia yang patut ditonjolkan. Manusia semua hanyalah hamba yang tidak memiliki kemampuan dan kelebihan apa-apa.

Sikap begini pula yang menghasilkan sesuatu yang sangat positif, tidak merasa kecewa bila suatu saat dilecehkan dan dikucilkan serta dikecilkan orang. Tidak ada rasa dongkol (ghill), sekalipun hasil karya dan perjuangannya tidak mendapatkan penghargaan dan penghormatan yang layak, sebab memang yang patut menerimanya hanyalah Allah Ta’ala. Sebagai hamba yang melaksanakan perintah, tanpa intress dan kepentingan, yang penting baginya adalah tegaknya kalimah Allah di muka bumi ini. Dan inilah sebuah kemenangan yang besar.

Gejala-gejala keyakinan ini demikian banyak menghadirkan bukti. Dalam setiap penugasan, bahkan ke daerah-daerah menantang dan terpencil, tenaga-tenaga yang semula tidak punya bekal yang memadai dari sisi intelektual, terbukti bisa sukses (eksis) hanya dengan berbekal keyakinan.

Sekalipun, bukan berarti bahwa intelektual itu tidak penting. Pada kondisi dan fase yang lain, intelektual tetap merupakan kebutuhan yang tidak bisa dikesampingkan. Tetapi, fakta klasik dan kontemporer membuktikan, kekuatan mental yang mengantarkan seseorang untuk sukses dan mempertahankan di puncak kesuksesan.

Seberapa besar keyakinan seorang kader, perlu sesekali diuji-coba di lapangan, dengan cara  memberinya tugas yang berat, atau bahkan tidak ada sangkut-pautnya dengan yang ditanganinya selama ini, atau bertolak-belakang dengan  latar belakang akademik yang dimilikinya. Terjun bebas untuk mengemban tugas merintis medan dakwah, hingga kini metode tersebut masih relevan untuk menguji mutu keimanan kita.

Komponen Hidup Berwahyu

Selain keyakinan yang begitu tebal, Bapak Pimpinan memberikan titik tekan (stressing) adanya dua ciri pendukung sebagai bukti bahwa celupan wahyu nampak pada diri seseorang.

Dua ciri itu ialah, ibadah yang sungguh-sungguh (iqamatus sholah) sebagai bukti keberadaan hamba yang lemah dan butuh bantuan Allah. Ciri kedua, akhlakul karimah, yang dalam keseharian sekaligus berfungsi untuk membangun citra diri dan menarik simpati. Jadi, karakteristik itu tampak dalam mutu interaksi hablun minalloh (hubungan vertikal) dan hablun minannas (hubungann horizontal).

Ini, memang berat, apalagi jika keduanya harus berjalan bersama, sementara masih dibutuhkan kerja keras luar biasa sebagai manifestasi sebuah keyakinan. Tetapi, bagaimanapun beratnya (secara pisik dan ruhani),  tetap harus dilaksanakan. Sebab, bohong saja ngomong soal cita-cita dan perjuangan jika ibadahnya tidak beres. Bagaimana  Allah Ta’ala akan menurunkan bantuan-Nya, bila kewajiban sebagai hamba yang faqir, dho’if, dzalil, tidak ditunaikan dengan baik. Bagaimana kekuatan itu akan didapat jika shalat lail bolong-bolong?.

Allah telah berfirman, wa man yu’min billah, yahdi qalbahu, barangsiapa yang beriman kepada Allah, Dia akan menunjuki hatinya (QS. 64 : 11). Ini memang benar, bila iman itu betul-betul tidak diragukan keberadaannya. Kembalinya kepada nilai ibadah seseorang, termasuk pada doa dan zikirnya.

Kekuatan doa sebagai penentu keberhasilan, juga telah dibuktikan terlalu banyak orang dan petugas sendiri, sekalipun tidak semua diceritakan. Ustadz Amin Mahmud sempat mengisahkan pula  khusus doa ini, berkaitan dengan proses landing-nya Pesantren Hidayatullah di Palembang.

Ia yang merasa sudah berkali-kali bertugas di cabang, tapi belum juga mencatatkan prestasi yang menurut kalkulasi imaniyahnya belum memadai, akhirnya lari kembali kepada doa. Doa itu lantas diikutinya dengan puasa Dawud. Dan, atas perkenan Allah Ta’ala, cabang Palembang bisa berdiri, ini malah dengan lahan seluas 8 hektar. Sekarang menjadi 20 hektar.

Soal doa pula yang disitir Pak Soewardhani Soekarno yang dilakukannya di Baitullah untuk cabang Irian. Maaf, saya bayangkan, barangkali Allah Ta’ala nangis kasihan, melihat saya nangis tersedu-sedu disitu. Kini, perkembangan Irian cukup menggembirakan.

Adapun tentang akhlak yang terpuji, Ustadz Usman Palese menambahkan contoh bahwa Umar sekalipun yang kelak menjadi khalifah, tetap menunduk bila berjumpa dengan Bilal. Padahal Bilal hanyalah seorang mantan budak berkulit hitam legam.

Persoalannya hanyalah Bilal merupakan salah seorang As Saabiqunal Awwaluun, kelompok orang yang dijamin kualitas keyakinannya dan merupakan penentu bagi tetap berlangsungnya proses perjalanan agama Allah Ta’ala. Terompah Bilal, terdengar di surga.

Syarat Mutlak

Syarat mutlak landingnya wahyu ke dalam diri adalah hilangnya rasa thogho. Melihat dirinya cukup berharta, cukup berkuasa. Seolah-olah tidak memerlukan bantuan Allah Ta’ala. Padahal perasaan ini secara potensial gampang sekali muncul.

Ada yang secara kultur memang sombong menyangkut kesukuan, ada pula yang karena intelektual, faktor fisik, dan sebagainya. Bukan hanya yang paling pintar, paling berprestasi, yang bisa sombong. Bahkan, yang bodoh sekalipun, tidak memiliki alasan untuk sombong, bisa saja membanggakan kebodohannya.

Keberhasilan dalam menyelesaikan pekerjaan, timbunan prestasi, merupakan pemicu dan pemacu lain munculnya kesombongan. Dan ini memang sangat manusiawi. Namun bila diperturutkan, akan menjadi penghalang turunnya hidayah Allah Ta’ala (iman).

Beberapa petugas tidak keberatan bila kisah munculnya kesombongan dalam dirinya dijadikan cermin disini. Pak Mansur Salbu (almarhum) merupakan satu-satunya yang diharapkan pada saat itu mewujudkan keinginan pesantren untuk menerbitkan majalah Suara Hidayatullah.

Diakui beliau sendiri, ia memang merasa menjadi orang paling penting untuk tugas itu, sambil meremehkan yang lain. Tetapi, apa mau dikata, setelah tiba pada saatnya ternyata semua ide macet. Berbagai kesulitan juga menghalangi, akhirnya majalah itu tidak bisa terbit dengan semestinya, sebelum akhirnya dipindahkan ke Surabaya.

Ustadz Chusnul Chuluq yang bertugas di Medan, juga mencatat kisah yang menarik. Ia merupakan satu-satunya orang pesantren yang mengawali tugas dengan katebelece. Saat itu dari Ali Said SH,  mantan Ketua Mahkamah Agung.

Begitu datang di Medan, memang hanya kemudahan saja yang ditemuinya. Bertemu pejabat setingkat gubernur sama sekali tidak ada kesulitan. Semua memberikan fasilitas, setidaknya uang saku dengan serta merta. Orang-orang tergopoh-gopoh menyambutnya.

Tetapi, ternyata, kelanjutannya tidak semudah yang dibayangkan. Hingga setengah tahun sejak itu, ia merasa dipingpong oleh Allah dengan mengejar-ngejar orang yang menjanjikan akan menyerahkan lokasi untuk pesantren seluas 2,5 hektar!. Akhirnya ia sampai pada kesimpulan harus bertaubat, dan melanjutkannya dengan puasa Dawud. Resep dari Ustadz Amin Mahmud Palembang. Hingga lokasi itu benar-benar didapatkan.

Al Hajj Abdul Manan juga menceritakan kisah uniknya di Saudi. Karena sudah begitu gampang berhubungan dengan orang-orang penting, muncul kesombongannya. Tiba-tiba Allah Ta’ala seperti mengingatkannya, paspornya hilang, padahal di Saudi cukup ketat operasi orang-orang asing ‑ ilegal.

Merasa doanya sudah terhijabi oleh ke-thogho-annya, Pak Mannan kembali ingat minta didoakan oleh pimpinan sebagai cerobong doa jamaah. Akhirnya, berkat doa dari Gunung Tembak, pada hari berikutnya urusan paspor bisa selesai, atas pertolongan seseorang yang belum dikenalnya yang mengantar ke Kedubes Indonesia.

Akhirnya, sebuah perenungan yang disampaikan oleh Ustadz Abdul Majid Aziz layak disimak. Kata beliau, saya hanya lulusan SD seringkali merasa diri hebat, saya bayangkan apalagi mereka yang memiliki peran yang menentukan, terkenal, sungguh sangat rawan. Dan repotnya, thogho itu menjangkiti semua orang tanpa memandang warna bulu.

Keajaiban Berwahyu

Pada prinsipnya, menerapkan sistematika wahyu adalah menempatkan Allah sebagai penunjuk jalan dalam segala peluang dan kesempatan. Hal itu baru bisa dilakukan bila syariat Allah Ta’ala tidak dilanggar.

Dan ini memang berat, karena begitu terjadi pelanggaran, niscaya Allah Ta’ala akan segera menarik kembali pertolongan-Nya. Akhirnya keserbasulitan itu yang datang secara bertubi-tubi. Padahal, bila pertolongan Allah Ta’ala datang, segala sesuatu akan berjalan dengan begitu mudahnya.

Bukan semata kebetulan!. Harap disadari, bila suatu saat terjadi keajaiban-keajaiban yang tidak bisa diukur dengan akal pikiran, itu adalah pertolongan Allah Ta’ala.

Petugas-petugas dai Hidayatullah di Irian telah mencatat begitu banyak keajaiban. Mereka bisa dengan serta merta berinteraksi dengan kalangan yang sama sekali tidak sepadan, misalnya petugas di Wamena, yang begitu diakrabi Kanwil Depsos. Sementara, mereka bisa bertahan di tempatnya yang dekat akhirat dipinggirnya neraka, begitu istilah Bapak Pimpinan. Itu saja sudah satu hal yang ajaib. Apalagi berhasil membawa misi dengan sukses. Mereka menjadi petugas cabang yang sering naik pesawat. Sebab, memang tidak ada alat transportasi lain, kecuali mau berjalan kaki.

Pak Suwardhani Soekarno malah punya koleksi lebih banyak dalam hal yang aneh-aneh. Ia bisa ke London, dan dalam kondisi kekurangan uang, malah bisa mengajak adiknya kemana-mana menjadi guide. Rizki datang sendiri di jalan. Ia sampai ke Mesir.

Dan di sana disambut orang-orang Banjar yang lantas mengajaknya keliling Mesir, ke kuburannya Fir’aun segala. Ia bisa naik haji dan berkomunikasi dengan orang-orang asing dengan lancar. Bahasa Inggris bisa. Bahasa Arab bisa. Tetapi, setelah itu lupa.

Dan, sebenarnya secara umum, wajah lembaga ini di semua cabang adalah wajah keajaiban. Mereka semula bukan orang-orang yang pantas menangani pekerjaannya. Tetapi, toh akhirnya mampu juga. Dengan landasan keyakinan akan pertolongan Allah Ta’ala.

Dan, yang ajaib lagi, mereka sendiri tidak merasa luar biasa, melainkan biasa-biasa saja. Dan, kalau orang lain menganggap itu luar biasa, ya silahkan saja, kata Ustadz Abdul Qadir Jailani dari Dumai.

Kajian Sistematika Wahyu

Ustadz Abdurrahman Muhammad membagi konsep itu menjadi dua. Sistematika Wahyu sebagai kajian, dan sebagai peragaan.

Sebagai kajian perlu diperdalam dengan dalil-dalil yang kuat dan qath’i, secara terperinci lengkap dengan penjabarannya. Hal ini penting dan mendesak, agar tidak ada keraguan bagi setiap petugas dan juga agar generasi pelanjut kita tidak lagi meraba-raba.

Ustadz Abdul Qadir merasa, kadang kerepotan juga melayani permintaan orang tentang penjabaran sistematika wahyu. Tetapi, Ustadz Ir. Abdul Aziz Qahar menganggap, hal itu bukan masalah, karena memang tidak disitu letak persoalannya. Di ujung Pandang, permintaan kajian Sistematika Wahyu dilayaninya hanya dua kali. Lantas harus dilanjutkan dengan peragaan.

Sebab, pengalaman telah membuktikan, kajian saja tidak menjadikan semua orang paham. Ir. Fuad Rumi, telah mengadakan kajian Sistematika Wahyu selama 4 tahun bersama para mahasiswa di Ujung Pandang. Tetapi, hampir semua pesertanya mengatakan, tidak tahu maksudnya. Sebagian malah melecehkan pak Fuad Rumi sendiri.

Tetapi, lepas dari apakah itu bisa dipahami atau tidak, memang diperlukan petunjuk praktis pelaksanaan sistematika wahyu. Utamanya kajian. Karena, hal itu menyangkut kebutuhan banyak orang, dan merupakan cara dakwah yang efektif.

Benar materinya. Karena, bersumber dari Yang Maha Al Haq. Ada figur ideal yang dapat dijadikan teladan, satu pribadi dengan multikompentensi. Sistematis dalam menerapkannya. Dan menghasilkan sumber daya Qur’ani dalam sebuah komunitas. Juga sekaligus menjadi tuntunan, sebab kajian pesantren ke luar memang berkisar pada pola ini.

Ustadz Abdurrahman Muhammad mengatakan, perlunya menjadikan pola Sistematika Wahyu yang diwujudkan dalam mekanisme wahyu sistem sebagai doktrin bagi semua warga Hidayatullah, namanya juga doktrin, maka semuanya perlu mengerti, menerimanya sebagai acuan pola kehidupannya.

Sistematika Wahyu Sebagai Doktrin

Ustadz Abdurrahman Muhammad yang menyaksikan secara langsung proses menuju kelahiran sistematika wahyu sangat yakin, itulah konsep yang ditunggu-tunggu kehadirannya oleh umat yang sudah jatuh, tertimpa tangga pula.

Umat yang tergerus stamina (energi) ruhaninya. Beliau melihat proses adanya ‘bergua hiro’ sejak tahun 60-an yang dilakukan oleh Bapak Pimpinan di Sulsel hingga hijrah ke Balikpapan. Ia juga melihat konsistensi yang terus dipegang dan dipertahankan hingga meninggal, yaitu shalat lail.

Dalam hal ini, beliau tidak memiliki keraguan sama sekali, bahkan sekalipun pernah dihukum secara produktif dengan dibuang ke Jayapura. Peristiwa itu dipandang sebagai proses berwahyu, Bahkan, disana pula beliau menemukan banyak hal baru.

Ditinjau dari urut-urutan prosesnya, sistematika wahyu juga pas secara aqli dan naqli.  Bertolak dari aqidah, baru syariah. Dari individu menuju sosial. Tidak mungkin dibalik. Urutan turunnya wahyu, atas bimbingan Allah. Bukan karangan Rasulullah. Benar, kontennya. Dan benar pula momentum penerapannya. Antara kebenaran materi dan kearifan dalam penerapannya, saling beririsan.

Dari penghayatan surat Al ‘Alaq diperoleh keyakinan yang kuat akan kekuasaan Allah tanpa pensiun. Lantas dengan surah Al Qalam seseorang dididik untuk meluruskan cita-cita. Bahkan, demikian melangit cita-cita itu, bukan hanya dalam skup negara, tetapi dunia dan seisinya.

Cita-cita orang beriman adalah menegakkan kalimat Allah Ta’ala di muka bumi ini. Ini pekerjaan besar dan luar biasa yang tidak ada batasnya. Sementara, secara pribadi kemampuan untuk mensukseskan misi mulia itu, tidak ada. Dan, tidak mungkin manusia mampu melakukannya sendirian, tanpa bantuan dan keterlibatan Allah.

Karena itulah dibutuhkan kedekatan hubungan dengan sumber kekuatan, yaitu Allah Ta’ala, yang disyaratkan dalam surah Al Muzzammil. Urut-urutan itu sangat pas dirasakan, dan memang pada saatnya memproses seseorang untuk untuk terus berkembang.

Sungguh, tahapan dari ma’rifat, khithah, tazkiyah, dakwah, Al Fatihah, imamah dan jamaah, adalah proses kenaikan grafik ruhani terus-menerus (‘amaliyyatus shu’ud al mustamir). Proses kesadaran terus-menerus (‘amaliyyatul yaqzhoh al mustamirroh). Dan proses kebangkitan terus menerus (‘amaliyyatun nahdhoh al mustamirroh).

Hal itu dikuatkan oleh Ustadz Abdul Qadir Jailani, bahwa sentuan Al ‘Alaq letaknya pada iman. Manusia disentuh untuk beriman terlebih dahulu. Ini tepat sekali, sebab apa gunanya orang pandai, berharta, berkuasa, kalau tidak beriman.

Senjata ditangan orang tidak beriman hanya akan mendatangkan bencana. Dan memang, iman itu yang menjadi titik awal bobot/nilai seseorang. Jadi, iman itulah yang memproses setiap orang untuk terus berkembang.

Wahai orang-orang yang beriman, rukuklah, sujudlah, dan tunduklah kepada Tuhan kalian, lakukanlah semua kebajikan, niscaya kelak kalian di akhirat akan beruntung (QS. Al Hajj (22) : 77).

Orang yang tidak beriman, sekalipun memiliki kemampuan teknologi tinggi seperti kaum Tsamud, membuat bukit menjadi perumahan, dengan postur tubuh 60 hasta (1 hasta = 75 cm), besok di akhirat timbangan dirinya lebih ringan dari sayap seekor nyamuk (QS. Al Kahfi (18) : 105).

Satu hal yang tidak boleh dilupakan dalam perkembangan itu, adalah bekal dan persyaratan (standar) pribadi dalam surah Al Muzzammil. Terutama shalat lail.

Kata Ustadz Qadir Jailani, saya malu, kalau ada orang Hidayatullah, shalat lailnya kalah dengan pihak luar. Apalagi, sampai shalat lailnya, lubang-lubang. Padahal, ia menambahkan, bila al-Muzzamil tidak beres (kocar-kacir), akan terasa ketidakberesannya jika menuju fase Al Muddatsir.

Umat yang didakwahi, tidak connect. Mereka merasakan apa yang kita sampaikan terasa hambar. Tidak merasuk ke dalam lubuk hati yang paling dalam. Islam yang didakwakan menjadi kehilangan spiritnya.

Ustadz Abdurrahman Muhammad menambahkan, sistematika wahyu dan wahyu sistem adalah dua sejoli yang tidak bisa dipisahkan. Satu paket. Bagaikan sayap seekor burung. Jika, salah satunya patah, burung tidak bisa terbang tinggi.

Wahyu sistem adalah metode pengenjawantahan sistematika wahyu, yang diartikan sebagai penyandaran segala gerak perjuangan kepada kehendak Allah. Allahlah yang memberikan ide, inspirasi, dan manusia tinggal melaksanakan saja dengan dukungan manajemen dan profesionalisme. Jadi, sosok yang sudah masuk dalam dirinya nilai-nilai wahyu. Dia siap diperjalankan oleh Allah Ta’ala. Organisasi hanyalah operator aktor peradaban wahyu.

Mekanisme seperti itulah yang disarankannya menjadi doktrin secara total, full time (tajarrud) di lembaga ini. Itulah cara untuk memberikan standarisasi personel lembaga, yang tidak bisa diganggu gugat. Standar moral, spiritual, kompentensi, kinerja di lapangan, dll. Standarisasi yang utuh. Tidak parsial (sepenggal-sepenggal).

Konsep mengikuti langkah Rasul dalam membawa islam itu, disepakati menjadi cara satu-satunya membawa kejayaan islam. “Tak mungkin tanpa itu, memperjuangkan islam secara benar,” kata Ustadz Manshur Salbu.

“Secara fiqih, tetap islam, tetapi dengan meninggalkan konsep itu, tak mungkin akan berhasil memenangkan Islam dalam kancah perjuangan,” tambah Ir. Abdul Aziz Qahhar.

Adapun tentang pemahaman akan konsep ini, Ustadz Abdul Rahman Surabaya mensyaratkan adanya proses iqra’ dalam makna yang luas, sebagaimana menjadi perintah pertama surah al-Alaq.

“Ini adalah persoalan yang sangat prinsip (landasan berpikir dan bertindak), karena menyangkut hidup dan mati. Karena itu sekadar taqlid (mengekor) dalam hal begini adalah dilarang. Perlu ditempuh proses pemahaman hingga tercapai pengertian dengan penuh keikhlasan. Sebab tanpa ketulusan, ya bohong saja mutu imanya.”           

Peragaan Sistematika Wahyu

Memahami sistematika wahyu memang harus dengan proses. Dan, proses itu bisa membutuhkan waktu amat panjang. Repotnya lagi, pemahaman secara benar baru bisa dilakukan setelah proses itu sendiri berjalan. Prinsip utama dalam memahami ini adalah hijrah dalam arti sebenar-benarnya.

Fisik (makani), dan non-fisik (maknawi). Hajara dan haajara. Fisik dalam bentuk meniggalkan ‘tanah air’-nya dengan niat berjuang dijalan-Nya, dan non-fisik diwujudkan dengan pemutusan terhadap segala bentuk ideologi lain.

Pengalaman di Ujung Pandang sempat dicatat oleh Ir. Abdul Aziz Qahar, bahwa mereka yang begitu masuk lantas putus hubungan dengan organisasi lamanya, dan dengan kawan lamanya, berproses lebih cepat.

Tetapi, mereka yang masih aktif dengan diskusinya, bahkan masih memiliki peran di sana, lambat sekali proses keislamannya. Seperti jalan di tempat. Terseok-seok.. Sebagian diantaranya malah putus di tengah jalan. Padahal dalam diskusi mereka itu disimpulkan pula hal-hal yang senada dengan apa yang digeluti di Pesantren. Tentang imamah-jamaah, mereka paham. Al Quran dan As Sunnah juga menjadi pegangan. Tetapi soal proses, ternyata tidak bisa mereka lakukan. Itu karena sikap hijrah yang masih setengah-setengah.

Oleh karena itu dapat disimpulkan, dalam mewujudkan hijrah secara totalitas diperlukan fase eksklusif dan isolasi total dari lingkungan sosial, sekalipun muamalah yang lain, selain interaksi ideologis, masih berjalan dengan normal.

Warga dikonsentrasikan penuh hanya dalam urusan perjuangan. Informasi dari luar ditutup, dengan secara sadar. Buku-buku bacaan, selain Al Quran dan Al Hadits, distop. Siapa yang bisa menghafalkan matan (materi) keduanya, akan dibukakan berbagai disiplin ilmu (man hafizhol mutun faazal funun), meminjam istilah Ibnu Taimiyah. Koran tidak perlu dibaca. Sepertinya otoriter, tetapi ini sangat diperlukan untuk menyamakan persepsi. Toh, itu tidak berjalan selamanya. Sampai warga memiliki manna’ah imaniyah (imunitas keimanan).

Hal senada disarankan oleh Ustadz Suwardhany Sukarno. Malah lebih ekstrim lagi dikatakannya, semua budaya sekuler harus ditinggalkan dulu. Baik sekuler subyektif (kegiatan sehari-hari), maupun sekuler obyektif (institusi), agar bisa berjalan selaras dengan sistematika wahyu.

Lebur dengan konsep wahyu, atau tinggalkan sama sekali. Supaya kita mudah menyikapinya. Sebab, pasti akan terjadi benturan keras. Dan, menuntut harus ada yang dikalahkan. Bila hukmul jahiliyah, zhannul jahiliyah, hamiyyatul jahiliyah, tabarrujul jahiliyah, masih dipertahankan, menjadi penghalang masuknya wahyu. Gagallah proses ber-wahyu sistem.

 Mekanisme Wahyu Sistem

Mekanisme yang dituntut, menurut Ustadz Abdurrahman Muhammad, adalah bersifat instruktif dan mengikat (mulzim). Jadi, pimpinan harus menginstruksikan kepada makmum. Sementara, makmum dituntut siap untuk menerima instruksi.

Mekanisme seperti ini, tidak akan berjalan jika tidak ada kepercayaan (ats tsiqah). Tanpa, kepercayaan secara timbal-balik, tidak akan terwujud kerjasama yang harmonis.

Kesiapan ini menyangkut dalam hal apa saja, dengan resiko bagaimanapun. Karenanya, perlu ada dulu kesadaran dalam hal ketaatan. Perlu dipahami, karena nasib keislaman makmum telah diserahkan sepenuhnya kepada imam, ditandai dengan konsensus sejak awal bergabungnya disini.

Maka, imam perlu ditempatkan pada maqom dimana tidak ada sama sekali kekhawatiran bahwa instruksinya tidak akan dijalankan, atau jalan tapi diiringi rasa dongkol.

Hal ini dikuatkan dengan pernyataan Ir. Abdul Aziz Qohar, bahwa tanggungjawab imamlah yang mentazkiyah makmumnya. Menjadi makmum, memang rawan gangguan. Mereka punya peluang besar untuk berprestasi, dan memang itu yang dituntut.

Dan, prestasi akan mendatangkan rasa thagha (sikap melampaui batas). Sementara, sebagai sesuatu yang manusiawi, thagha dalam hal begini sulit dihindari. Maklumlah, bila sekali-sekali muncul. Tetapi, segera setelah itu harus dinetralisir oleh imam dengan proses tazkiyah. Jika tidak, keimanan menjadi tercerabut.

Jadi, keterkaitan antara imam dan makmum memang sangat erat dengan mekanisme ini. Apalagi, sebagaimana disampaikan di awal, berwahyu sistem mutlak membutuhkan komando. Maka, kian tidak dipisahkan lagi gerak bersama imam dan makmum.

 Tentang Ketaatan

Ini merupakan faktor sangat penting dalam operasional wahyu sistem. Imam perlu sampai pada keyakinan bahwa makmum benar-benar taat kepadanya. Sebelum itu, pekerjaan mendasar dalam skala besar belum akan bisa berjalan.

 Ustadz Abdul Rahman dari Surabaya menyatakan, ketaatan yang dilandasi oleh kesadaran akan berjalan dengan begitu indah. Tidak ada paksaan di sana, karena memang Allah juga tidak pernah mengajarkan kepada hamba-Nya untuk memaksakan keyakinan. Jadi mendidikkan kesadaran itu yang paling penting. Kata beliau, ini merupakan pekerjaan mendasar, karena berkait langsung dengan faktor manusia.

Pekerjaan menggarap manusia itulah yang dikatakannya merupakan kunci penyelesaian dari segala macam problem internal. Bila mekanisme sudah berjalan karena faktor manusia telah beres, pekerjaan bagaimanapun besarnya tidak perlu menjadi kekhawatiran.

Dan, yang akan menjadikannya indah lagi, karena ketaatan yang dilandasi kesadaran ini akan menghasilkan makmum yang aktif, yang kreatif, produktif, dan mandiri. Bagaimana tidak, yang ada dalam benaknya hanyalah bagaimana bisa menyelesaikan tanggung jawabnya dengan sebaik-baiknya.

Mereka menerima perintah dengan kesadaran bahwa Allah ada di belakang perintah itu, sehingga pertanggungjawaban sekaligus adalah ke hadapan Allah. Jadi tidak bisa tidak, mereka dituntut kreatif dan produktif.

Sementara itu ketaatan yang tidak dilandasi kesadaran akan tanggung jawab itu justru hanya melahirkan manusia yang pasif. Kreatifitasnya kurang karena memang tidak ada inisiatif. Dalam kondisi begini, lembaga menanggung beban berat untuk melanjutkan langkah memikul beban lebih besar, karena faktor internal belum selesai. Kehadiran seseorang disini bagian dari masalah, bukan bagian dari solusi.

“Tetapi dengan kesadaranpun, taat itu bukan persoalan mudah. Buerat. Wallahi!” kata Al-Hajj Abdul Mannan dengan gaya kocak meskipun bukan bermaksud mengurangi nilai yang disampaikannya.

Beliau lantas memberikan contoh dari jaman Nabi. Ali suatu saat ditanya oleh Rasulullah, “Ali, jam berapa kamu bangun sholat lail?” “Terserah Allah,” jawab Ali. Kontan muka Rasulullah merah. Menantunya sendiri, orang yang termasuk paling awal masuk Islam, juga termasuk keponakannya, ternyata belum bisa taat sepenuhnya.

Bukan hanya itu, Ali juga terlambat berbai’at kepada Abu Bakar sepeninggal Rasul. Lantas ada pertentangan juga antara Umar dan Abu Bakar yang menyebabkan turunnya surah Al-Hujurat. Istri-istri Nabi pernah memprotes gara-gara menganggap Rasulullah tidak adil.

Umar bahkan sampai pada kesangsian apakah Muhammad benar-benar Nabi, pada perjanjian Hudaibiyah. Puncaknya, para sahabat pernah menolak seratus persen perintah Nabi untuk ber-tahallul, sampai Rasul sendiri melakukannya, baru kemudian mereka melakukannya satu per satu.

Jadi memang taat itu bukan urusan gampang. Ini urusan keyakinan iman. Terlalu banyak hal yang menjadi penghalangnya. Karena itu perlu disyukuri, kondisi pribadi yang telah sampai pada posisi siap diapakan saja. Ustadz Manshur Salbu menyatakan sambil senyum-senyum, “Saya bersyukur, bahwa saya sudah bisa dengan penuh kesadaran siap dimarahi terus-terusan.”

Pasalnya, katanya, itu juga yang dialaminya selama ini. Tapi bukan hanya itu. “Saya sekarang ini siap saja, lengkap dengan rombongan dan rombengan saya, untuk diapakan saja. Suruh lurus, lurus. Belok sedikit, belok. Sudahlah apa saja siap.”

Ketaatan tingkat tinggi ini merupakan salah satu syarat berjalannya proses komando.  Ir. Abdul Aziz Qahar menambahkan, idealnya, ketaatan itu sampai pada keadaan, imam tidak punya kesulitan sama sekali mengatur makmum, karena faktor makmum itu sendiri. Jadi, selain ada ketaatan terhadap segala bentuk komando, baik yang disuka maupun tidak disuka, juga perlu ada kesiapan  secara pribadi untuk menangani tugas itu.

Itu pula yang ditekankan Ustadz Abdul Rahman Surabaya, sebagai terwujudnya makmum yang produktif dan mandiri. Sebab, bagaimana bisa sampai pada kesimpulan ‘berani’ memberikan tugas, bila yang harus mengemban tugas itu sendiri tidak layak. “Bisa-bisa malah menambah dosa makmum, karena dinilai ketaatannya berkurang,” katanya pada kesempatan yang lain.

Menumbuhkan kesadaran akan ketaatan, bisa dilakukan dengan memupuk rasa kepercayaan terhadap pemberi komando. Percaya bahwa apa yang diinstruksikan merupakan sesuatu yang tidak main-main, sesuatu yang sudah dipertimbangkan dengan masak berdasar lintasan ide yang berada dalam bimbingan Allah. Bila kepercayaan ini hilang, maka ketaatan akan menumpul. Komando tidak jalan.

Karenanya kedua pihak perlu terus intropeksi, baik yang memberikan komando maupun yang dikomando. Sebab tumbuhnya kepercayaan tidak bisa hanya sepihak, tetapi harus kedua-duanya. Satu pihak memang layak dipercaya, pihak lain menyadari kedudukannya sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya.

Faktor Lain

Pelaksanaan sistematika wahyu bisa saja gagal. Atau istilah yang lebih halus, tidak berjalan dengan sukses. Almarhum Abdullah Said menyarankan, bila menemui banyak hambatan, cobalah untuk mengintropeksi, apa yang telah terjadi selama ini. Mungkin karena terlalu banyak dosa, berani melanggar syariah. Biar dosa kecil, bagi seorang mujahid bernilai besar. Atau telah muncul kebanggaan-kebanggaan diri karena keberhasilan, sampai-sampai meremehkan jalan komando. Atau mulai bergeser tempat bergantungnya, bukan semata Allah Ta’ala.

Tentang yang terakhir ini ada banyak referensi disampaikan. Biasanya karena petugas merasa mendapatkan kemudahan dari fasilitas yang disediakan seseorang di daerah masing-masing, sampai-sampai terjebak pada sikap menggantungkan nasibnya kepada fasilitas itu. Tidak diragukan, Allah akan segera menegur hal yang demikian.

Ustadz Abdul Madjid Aziz mengingatkan, jangan sampai kemudahan-kemudahan yang bersifat duniawi itu mengebiri keyakinan kepada Allah. “Ini sangat berbahaya,” katanya. Mengapa? Karena akan menghapus semua nilai perjuangan yang telah dirintis. Selain mungkin hal-hal di atas, beberapa analisa barangkali bisa dijadikan rujukan: 

Faktor keyakinan

Ustadz  Abdurrahman Muhammad mengisahkan, pada fase sebelum mi’raj, dakwah nabi tidak terlalu lancar. Memang diperoleh tenaga-tenaga potensial, tetapi jumlahnya sedikit. Merekapun berhadapan dengan begitu banyak kesulitan.

Tetapi satu hal yang patut dicermati, Rasulullah saat itu masih memiliki rasa sedih. Buktinya, pada saat khadijah meninggal, beliau kesusahan, beliau tak bisa menyembunyikan kekecewaan dan kegundahannya. Apalagi berangkai dengan meninggalnya Abu Thalib, bertambahlah kekabungan Nabi, sampai-sampai tahun itu disebut sebagai ‘amul khuzni. Tahun duka cita’.

Lantas Nabi dimi’rajkan. Beberapa saat kemudian mulai diperintahkan berhijrah. Suatu perubahan besar terjadi. Nabi, pada masa selanjutnya, seperti sudah tidak punya rasa khawatir. “Terserah Engkau, ya Allah, mana jurang yang harus kuterjuni, mana gunung yang harus kudaki!” begitu sikapnya menghadapi segala tantangan.

Artinya, segala sesuatu toh terjadi di bawah kendali  kehendak Allah, jadi tidak ada alasan untuk bersedih hati. Dengan kata lain, telah terjadi peningkatan keyakinan pada diri beliau, yang juga menentukan keberhasilan perjuangan.

Faktor niat

Sering terjadi penyimpangan niat dari jalur yang seharusnya. Niat berjuang terlupakan oleh gemerlapnya dunia, yang seiring dengan kemajuan lembaga tentu semakin besar pula jumlahnya. Lagi-lagi Ustadz Madjid mengingatkan hal ini, agar senantiasa tak bosan-bosan meninjau nawaitu.

Momen-momen silaturrahim seperti ini, menurut Pak Suwardhani merupakan kesempatan yang baik untuk memperbaiki niat. “Kita ini semakin kaya. Kendaraan banyak. Uang di bank banyak. Itu semua menjadi pendorong yang sangat potensial untuk membuat kita lupa diri.”

Ustadz Usman Palese menambahkan, bukan hanya untuk memperbaiki niat, bahkan silaturrahim seperti ini juga saat yang paling pas untuk meluruskan kembali shaff. Yang ketinggalan hendaknya terpancing untuk maju, yang terlalu cepat segera menyadari urgensinya berjama’ah. “Memang berat, hidup berjama’ah tetapi itu persyaratan, dan jadi indah dirasakan,” katanya.

Faktor Ibadah

Ini biasanya menjadi pengganjal keberhasilan yang sangat jelas. Ustadz Abdul Mannan mengakui, bila ibadahnya kendor, persoalan segera saja berdatangan, baik yang ber-skup lembaga maupun keluarga, bahkan pribadi. Yah kiriman macetlah, yang Istri sakit, anak-anak nakal, dan seterusnya.

Memang, pada kondisi masih sulit, ibadah biasanya gencar. Tetapi setelah mulai berhasil, ibadah menurun, setidaknya dari segi kualitas. Alasannya sibuk, hal-hal begini perlu segera diwaspadai.

 Obyek dan Subyek

Ustadz Abdul Majdid Aziz mengistilahkan adanya obyek dan subyek sistematika wahyu. Obyek adalah semua warga, semua personel yang terlibat di dalam usaha mengejawantahkan wahyu. Sedang subyek adalah lembaga tempat sistem itu diterapkan.

Syarat untuk sukses, obyek menggantungkan aktivitasnya kepada subyek. Sekali lepas, gagal. Untuk tetap bisa bergantung secara proporsional, perlu kesiapan obyek secara fisik maupun mental, untuk diproses dengan wahyu. Sebab namanya saja sudah obyek, tentu mengikuti apa kemauan subyek.

________

USTADZ SHOLEH HASYIM, penulis adalah anggota Dewan Syura Hidayatullah. Artikel ini disarikan dari rangkaian diskusi Tajdidul Manhaj, digabung dengan amanah Bapak Pimpinan Abdullah Said (almarhum) pada acara Silatgab Ponpes Hidayatullah Korwil Sumatra, Jabotabek, Jawa-Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Irian Jaya. (Surabaya, 18-26 Juni 1994/8-16 Muharram 1415).

Hidayatullah Sulsel Narasumber Dialog Islam dan Nasionalisme

0

dialog islam dan nasionalismeHidayatullah.or.id — Ketua Pimpinan Wilayah Hidayatullah Sulawesi Selatan (PW Hidayatullah Sulsel), Dr H Abdul Majid, SH, hadir sebagai narasumber acara dialog publik bertajuk “Islam dan Nasionalisme dalam Mewujudkan Generasi Cinta Tanah Air”.” yang berlangsung di Komplek Pondok Pesantren IMMIM, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Makassar, Jumat (27/8/2015).

Hadir pula dua pembicara lainnya dalam dialog yang digelar oleh Lembaga Poros Pemuda Indonesia ini, yaitu Pembantu Dekan III FISIP Universitas Hasanuddin Dr Rahmat Muhammad dan Direktur Pondok Pesantren IMMIM Dr Muhammad Taufan. Dialog berlangsung kurang lebih 2 jam dengan tingginya antusiasme hadirin.

Dalam dialog tersebut ditarik benang merah bahwa Islam tak dapat dipisahkan dari nasionalisme. Dan, dalam pada itu santri adalah merupakan figur nasionalis yang terbukti mampu memberi kontribusi nyata bagi kemerdekaan. Hal ini khususnya ditekankan oleh Abdul Majid.

Menurut Abdul Majid, negara tidak perlu meragukan nasionalisme santri dan pondok pesantren. sebab, kata dia, keberadaan pondok pesantren pada dasarnya dilatari untuk menumbuhkan semangat patriotik untuk membela kepentingan umat dan bangsa secara luas.

“Adapun sekarang adalah eranya kita mengisi kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh pahlawan kita khususnya dari kalangan santri. Mari kita isi kemerdekaan Indoesia ini dengan karya bakti untuk nusantara yang benar-benar berdaya manfaat secara luas. Semangat ini pulalah yang mendorong lahirnya Hidayatullah yang lahir pasca kemerdekaan,” kata Majid.

Dijelaskan Majid, nasionalisme dengan pengertian paham untuk mencintai bangsa dan negara sendiri dan kesadaran keanggotan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa, bukan hanya tidak bertentangan. Tetapi juga bagian tak terpisahkan dari Islam. Artinya, bagi Majid, kita bisa menjadi muslim taat, plus seorang nasionalis sejati.

Islam, lanjut Majid, punya nilai yang sifatnya global dan tanpa batas, seperti dalam akidah dan ibadah. Tapi dalam kasus tertentu, Islam memperhatikan, dan sangat mengutamakan kepentingan lokal seperti pembagian sedekah dan zakat diwajibkan tetangga dan wilayah terdekat dulu. Baru setelah dianggap cukup boleh dialihkan ke luar.

Karena itu, menurut dia, nasionalisme tidak bertentangan dengan konsep persatuan umat dan tidak menghalangi kesatuan akidah. Batas geografis tidak sepenuhnya negatif sebab solidaritas umat tetap bisa dibangun, apalagi kita sekarang berada di era globalisasi.

“Solidaritas Uni Eropa bisa menjadi contoh kita. Pokok soal kemunduran peradaban umat Islam bukan pada tidak adanya khilafah, tapi pada kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan, dan kurangnya solidaritas umat,” imbuh dia.

Majid menambahkan bahwa seorang muslim yang taat adalah orang yang sejatinya menjunjungtinggi nasionalisme yang diiring dengan kesadaran kemanusiaan untuk saling bahu membahu membagun tatanan kehidupan yang beradab.

Sementara itu, Direktur Ponpes IMMIM Muhammad Taufan mengatakan, nasionalisme merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Islam itu sendiri. Muhammad Taufan menyampaikan bahwa Islam mengajarkan manusia untuk memiliki rasa nasionalisme.

“Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan umatnya untuk mencintai tanah air, seperti beliau mencintai Mekkah dan Madinah,” kata Taufan.

Senada dengan itu, Pembantu Dekan III FISIP Universitas Hasanuddin Dr Rahmat Muhammad, menilai semangat nasionalisme harus selalu disegar-segarkan khususnya di kalangan anak-anak muda yang saat ini bisa jadi telah banyak tercekoki budaya-budaya luar. (ybh/hio)

Pemain Timnas Bayu Gatra Sambangi Hidayatullah Bali

0

Bayu GatraHidayatullah.or.id — Pemain sepakbola profesional, Bayu Gatra Sanggiawan, yang juga salah satu skuad andalan di Tim Nasional Indonesia U-23, bersilaturrahim ke kantor Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah di Denpasar, Bali, Sabtu lalu.

Anjangsana Bayu yang dilakukan sehari sebelum laga klubnya Bali United melawan Persija FC dalam laga Piala Presiden, diterima oleh pengurus Hidayatullah Bali di kantor yayasan yang berada di Denpasar tersebut.

“Saya minta berkah doa dari anak-anak santri Ponpes Hidayatullah,” kata pemain muda yang dikenal relijius ini saat diterima pengurus Hidayatullah Bali Ustadz Yusran Yauma didampingi Ustadz Mahfud Arobi.

Dalam kesempatan tersebut Bayu Gatra menyerahkan bantuan tali asih sekaligus minta didoakan agar selalu diberikan kelancaran karir dan turnamen yang digelar ini berjalan lancar khususnya saat ini masih bergabung dengan Bali United Pusam dibawah asuhan Indra Sjafri.

Dalam laga yang digelar Ahad (30/8/2015 )Bali United berhasil mempertahankan keunggulan 3-0 atas Persija di babak kedua setelah sukses menahan beberapa serangan berbahaya tim asuhan Rahmat Darmawan di laga perdana Piala Presiden tersebut.

Di babak kedua ini, Bayu Gatra bergerak agresif. Aksinya membuat lini pertahanan Persija kocar-kacir. Pada menit ke-63, Bayu sempat berhasil menerobos lini pertahanan hingga berada di muka gawang. Sayangnya, ia terjebak posisi offside.

Anak-anak pemain belakang Persija kian kerepotan lantaran lini serang Bali United seringkali berhasil hingga berhadapan langsung dengan kiper.

Sebuah serangan berbahaya terakhir dibangun Bayu Gatra dan Hendra Sandi. Hendra menyambar bola liar hasil pantulan tendangan Bayu yang berhasil dihalau kiper Persija. Sayang, tendangannya masih terlalu tinggi.Laga pun berakhir. Bali United tetap berhasil unggul dengan skor 3-0. (ybh/hio)

Hidayatullah Manokwari Tuan Rumah Bimtek Kurtilas

manokwari hidayatullahhidayatullah manokwariHidayatullah.or.id — Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Manokwari menjadi tuan rumah penyelenggaraan kegiatan Bimbingan Teknis Kurikulum 2013 (Bimtek Kurtilas) Mata Pelajaran Umum Bidang Pendidikan Agama Islam (PAI) Tahun Anggaran 2015, bertempat di aula Pondok Pesantren Hidayatullah Manokwari, Provinsi Papua Barat, dibuka pada Jumat (28/08/2015).

Seperti diketahui, pemerintah melalui Kemdikbud, mengembangkan Kurikulum 2013 secara nasional. Pengembangan Kurikulum 2013 didesain untuk menyiapkan dan membangun generasi muda Indonesia masa depan yang tangguh dan madani.

Kurikulum ini juga dimaksudkan untuk pengembangan dan mencetak generasi muda Indonesia yang beradab, bermartabat, berbudaya, berkarakter, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab dalam mengawal kehidupan bangsa dan negara.

Untuk mendukung keefektifan dan efisiensi pelaksanaan kurikulum SD/SMP/SMA/SMK pada Tahun Pelajaran 2014/2015, Kemdikbud melalui Ditjen Dikdas, Ditjen Dikmen, BPSDMP dan PMP, P4TK, LPMP perlu memberikan Pemberian Bantuan Implementasi Kurikulum Tahun 2013 untuk Satuan Pendidikan SD/SMP/SMA/SMK. Salah satu bentuk pemberian bantuan pelaksanaan kurikulum adalah melalui Bimbingan Teknis( Bimtek).

Bimtek tersebut diharapkan mampu meningkatkan pemahaman, penguasaan, dan kemampuan guru/kepala SD/SMP/SMA/SMK tentang latar belakang, filosofi, konsep, tujuan, standar isi, standar kompetensi lulusan, kompetensi inti dan kompetensi dasar, standar proses, struktur kurikulum,silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), metode dan media, bahan ajar, bahan tayang, dan perangkat pembelajaran lainnya seperti sistem penilaian, serta aplikasinya dalam implementasi Kurikulum SD/SMP/SMA/SMK Tahun 2013 secara nasional. (ybh/hio)

Berita Duka dari Papua dan Mengenang Fachry Ammari

Jenazah almarhum Fachry Ammari ditandu pelayat menuju pemakaman/ Malut Pos
Jenazah almarhum Fachry Ammari ditandu pelayat menuju pemakaman/ Malut Pos
Almarhum Ustadz Nurdin Bonggo semasa hidupnya bersama istri saat melakukan ibadah ke tanh suci Makkah/ dok
Almarhum Ustadz Nurdin Bonggo semasa hidupnya bersama istri saat melakukan ibadah ke tanh suci Makkah/ dok

Hidayatullah.or.id — Ada dua kabar duka yang menyelimuti keluarga besar Hidayatullah beberapa waktu terakhir ini.

Pertama, adalah telah berpulangnya ke Rahmatullah, Ketua Pimpinan Wilayah Hidayatullah Papua Barat, Ustadz Nurdin Bonggo.

Beliau meninggal dunia di kediamannya di Kampus Pesantren Hidayatullah Manokwari pada tanggal 23 Agustus 2015 pukul 22:45 menit WITA. Beliau meninggalkan seorang istri dan 9 orang anak.

Salah seorang sahabat dekat almarhum yaitu Ustadz Mahlan Yani yang saat ini menjadi pembina Pondok Pesantren Abdul Kadir Ubbe (AKU) Yayasan Al Amien, Punggur Besar, Kalimantan Barat (Kalbar), mengatakan Nurdin merupakan sosok periang dan pekerja keras.

Mahlan menceritakan, setelah menikah massal mubarak sebanyak 61 pasang di Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak Balikpapan tahun 1990, seminggu kemudian mereka kembali ke tempat tugas ke Papua sekaligus dengan membawa istri masing-masing. Ongkos perjalanan seadanya.

Dikisahkan Mahlan, di kapal PELNI kelas ekonomi itu ada 4 pasang pengantin baru yang ditugaskan ke Papua. Di kapal PELNI inilah pula mereka sekaligus berbulan madu hingga kapal mencium daratan Papua.

Kala itu Mahlan bersama dengan kader lainnya yaitu almarhum Ustadz Normawardi dengan istrinya tujuan Fakfak, Ustadz Nurdin Bonggo dengan istrinya tujuan Jayapura, dan Ustadz Toha juga tujuan Jayapura. Sementara Mahlan saat itu diintruksikan membuka Hidayatullah cabang baru di Kaimana.

“Banyak hal-hal lucu, kami berempat saling mengganggu dan saling menggoda. Hanya lapisan koran bekas yang kami hampar sebagai tempat kami berbaring sebagai saksi bisu,” kisah Mahlan seperti dikutip redaksi dari catatannya belum lama ini.

Sejak pengiriman dai itu, Mahlan menceritakan sudah jarang bersua dengan sahabat-sahabat itu yang tentu sibuk dengan amanahnya di tempat lain. Mereka hanya dipertemukan kembali pada acara-acara kelembagaan seperti Rakerwil. Dan, selanjutnya mereka kembali asyik dengan tanggung jawab kelembagaan masing-masing.

Mahlan mengaku memiliki banyak pengalaman unik bersama almarhum Nurdin Bonggo selama hidupnya. Salah satunya sewaktu mereka pernah bersama-sama di Jayapura di bilangan Entrop.

“Waktu beliau kena malaria bisa barazanji pakai bahasa Makassar yang sebelumnya tidak tahu sama sekali. Pernah juga sama-sama ke rumah sakit rombongan dengan yang lain, almarhum berujar “tenang obat sudah dikantong, Jangan takut malaria”. Eh.. begitu kita sampai di kampus almarhum yang tegeletak kena malaria,” cerita Mahlan.

Mahlan mengatakan mengenal almarhum sebagai sosok yang periang dan humoris. Almarhum juga dikenal sebagai orang yang sangat baik.

“Doa kami semoga almarhum disyurgakan oleh Allah Ta’ala, dan keluarganya diberi ketabahan dan kesabaran atas takdir Allah dan atas kesabaran itu menjadi ibadah yang mulia di mata Allah,” munajat Mahlan.

Mahlan kemudian mengingatkan agar anak-anak para generasi perintis ini benar-benar dijaga dan diberikan penghormatan oleh lembaga sebagai bagian yang tak terpisahkan dari cita-cita lembaga Hidayatullah untuk merawat dan memuliakan anak-anak yatim dan dhuafa.

Mengenang Fachry Ammari

Kabar duka lainnya datang dari daratan Maluku Utara. Putra terbaik Maluku yakni H. Fachry Ammari dipanggil menghadap Rahmatullah pada Rabu (22/7/2015) lalu, pukul 23.15 WIT.

Mantan Sekretaris Kota (Sekkot) Ternate itu mengembuskan nafas terakhir dengan tenang di kediamannya, Kelurahan Salero, Kecamatan Ternate Utara.

Sosok yang dikenal supel, lugas dan berwawasan luas itu wafat pada usia 62 tahun 17 hari. Almarhum meninggalkan seorang istri, Irma Ammari serta 4 anak, yakni M. Irfan Ammari, dr Risnia Ammari, Rafiq Ammari dan M Rafli Ramadan.

Fachry Ammari adalah sesepuh Hidayatullah Maluku Utara dan beliau sangat intens perhatiannya terhadap perkembangan dan pertumbuhan Hidayatullah di wilayah tersebut. Tak terhitung jasa beliau dalam mendukung Hidayatullah baik secara moril maupun materil.

Sudah pasti kepergian Fachry meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga, kerabat dan publik di daerah ini. Di mata publik, Fachry bukan saja sosok yang kaya pengalaman birokrasi, melainkan juga seorang intelektual.

Di detik-detik penghujung hidupnya, almarhum menghadap Sang Khalik dalam keadaan tenang. “Sebelumnya bapak sehat-sehat saja. Tidak mengeluh sakit. Dua tahun lalu, bapak sempat dirawat karena sakit. Tapi setelah itu, kondisi bapak baik. Ini semua kehendak Allah,” M Irfan Ammari, salah satu anak almarhum kepada Malut Post di rumah duka.

Sejumlah pejabat, mantan pejabat, politisi berbaur dengan warga mengantar almarhum ke tempat peristirahatan terakhir. Tampak mantan Wali Kota Syamsir Andili, mantan Sekretaris Provinsi Muhadjir Albaar dan Rektor Unkhair Husen Alting dan sejumlah tokoh lainnya mengikuti prosesi pemakaman.

Semasa hidup, Fachry dikenal begitu peduli dengan kondisi sosial politik di daerah. Meski mengawali karirnya di birokrasi, Fachry bukan tipe sosok yang hanya di belakang meja. Aktivitasnya justru berhubungan langsung dengan masyarakat.

Ia bahkan dikenal sebagai pegawai negeri sipil (PNS) yang memiliki dedikasi dan integritas yang tinggi. Ketika itu, Malut masih berstatus kabupaten, Fachry merintis karir birokrasi sebagai Kepala Seksi Pembinaan Umum dan Pembinaan Masyarakat pada Pemerintah Kabupaten Malut tahun 1982.

Seiring dengan perjalanan waktu, Fachry pun diangkat sebagai Kabid Pengkajian dan Pengembangan pada tahun 1991. Pada tahun 1994, Fachry dipercaya sebagai Kepala Bagian Organisasi Setda Kabupaten Malut dan selanjutnya menjadi Kepala Kantor Sosial Politik Kabupaten Malut pada tahun 1996. Empat tahun kemudian, ia diangkat menjadi Pj. Sekretaris Kota (Sekkot) Ternate. Ia pensiun dari PNS dengan jabatan terakhir sebagai Staf Ahli Wali Kota Ternate Bidang Hukum dan Politik pada tahun 2010.

Selain di birokrasi, almarhum juga mengabdikan diri sebagai pengajar di Universitas Khairun (Unkhair). Ia bahkan sempat mendukuki jabatan Pembantu Rektor. Kiprahnya di dunia akademik membuat Fachry juga dikenal sebagai sosok intelektual. Ia sering tampil di forum-forum publik untuk membahas persoalan sosial dan politik.

Setelah pensiun dari PNS dan memasuki usia lanjut, Fachry tetap melakukan aktivitas sosialnya. Ia bahkan sering menulis buah-buah pikirannya lewat media massa. Fokusnya, adalah persoalan sosial dan politik di daerah ini. Karenanya, salah satu tokoh agama, Pdt Rudy Rahabeat menyebut Fachry sebagai ‘mentor publik’.

Cerita dari salah seorang pengurus Hidayatullah di Maluku Utara, hingga menjelang wafatnya, saking tingginya kepedulian beliau terhadap dakwah Islam dan Hidayatullah, Fachry selalu berpesan kepada pembesuk yang datang untuk terus mendukung kiprah Hidayatullah.

“Jangan lupakan Hidayatullah,” demikian pesan Fachry kepada pembesuknya dikutip pengurus wilayah Hidayatullah Malut, Arif Ismail kepada redaksi belum lama ini.

Innaa lillaahi Wainnaa iIahi roojiun. Ssungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada Allah kita akan dikembalikan. Atas nama keluarga besar Hidayatullah, kami mengucapkan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya.

Semoga Almarhum keduanya diampuni dan dihapuskan dosa-dosa dan kesalahan selama hidupnya serta mendapatkan tempat yang terbaik disisi Allah Ta’ala. Bagi keluarha dan sanak famili serta keluarga lainnya yang ditinggalkan kami doakan semoga kuat dan tabah atas cobaan ini. Aamiin Yaa Robbal ‘Aalamiin.

Asrama Putri Pondok Pesantren Hidayatullah Bontang Terbakar

hidayatullah bontangHidayatullah.or.id — Asrama putri Pesantren Hidayatullah  Kota Bontang yang terletak di Jalan Imam Bonjol, Kota Bontang, Kaltim, Selasa (25/8/2015) siang hangus dilalap si jago merah.

Empat lokal bangunan milik 150 santri putri Pesantren Hidayatullah Bontang yang terdiri dari kantin, lemari pakaian santri putri, dan 2 ruang asrama, akhirnya habis dilalap si jago merah.

Dari keterangan warga di lokasi kejadian yang didapatkan redaksi, mengatakan awalnya ada kobaran api di 4 ruangan yang terbuat dari kayu di asrama tersebut.

Api pun langsung membesar. Tanpa membutuhkan waktu yang lama, api terus membesar dan melalap habis 4 ruangan di asrama putri Pesantren Hidayatullah tersebut.

Melihat api yang membesar, Muhlis sontak betlari mendekati TKP guna menyelamatkan sebagian santri putri yang tinggal di asrama tersebut.

Dengan kejadian tersebut, 150 santri putri harus kehilangan pakaian dan perlengkapan sehari-hari lainnya. Sementara itu, saat kejadian, seorang santri terpaksa mendapat pertolongan intensif karena mengalami sesak nafas.

Sementara itu, kebakaran yang terjadi di asrama putri Hidayatullah ini praktis membuat aktivitas kegiatan para santri putrid terganggu.

Kendati demikian, Walikota Bontang Adi Darma yang juga berada di lokasi pada saat kebakaran mengaku akan total memberikan bantuan kepada pesantren tersebut. Apalagi kata dia, sebenarnya ruangan yang terbakar itu memang sudah sempat akan dibenahi Pemkot karena kondisinya yang sudah tidak laik.

“Saya akan berkoordinasi dengan Dinas Sosial untuk segera diberikan bantuan awal dulu. Misalnya seperti pakaian dan untuk Dinas Pendidikan untuk segera menyalurkan bantuan berupa buku,” kata walikota.

Selain itu, Adi juga menjelaskan bahwa ruangan yang terbakar tersebut sebelumnya sudah dilakukan pengukuran dilakukan perbaikan.

“Sebelumnya ini sudah diukur tapi tunggu anggaran 2016 dulu bukan pakai anggaran 2015,” tambahnya.

Selain itu selaku Ketua Yayasan Hidayatullah Bontang, Ustadz Muhammad Nurdin berharap Pemkot Bontang pun bisa membantu pengurusan para santri putri yang ijasahnya ikut terbakar.

“Satu ruangan itu kan dipakai buat lemari penyimpanan santri, santri yang menaruh ijasahnya didalam situ ikut terbakar,”tukasnya.

Saat ini, sebagian santri dan guru menggunakan 1 ruangan untuk dijadikan posko sukarela untuk menggalang dana.

“Di depan gerbang sebagian guru dan santri putra menggunakan posko untuk bantuan kepada relawan untuk dananya digunakan buat beli pakaian seadanya dan keperluan lain buat santri sembari menunggu bantuan dari pemkot. Karena santri hanya memiliki pakaian dibadan saja,” tutup Nurdin. (kbc/hio)

Laznas BMH Gelar Talkshow dan Pelepasan Dai

0

SEBANYAK 30 Sarjana Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah yang baru saja lulus tahun ini mendapat penugasan dari Pimpinan Pusat untuk berdakwah ke pelosok Nusantara. Baitul Maal Hidayatullah (BMH) bersinergi dengan Permata Bank Syariah turut mendukung Program Da’i Tangguh yang akan berdakwah di luar Pulau Jawa.

[youtube width=”600″ height=”338″ src=”23D7Jf6UUQ8″][/youtube]