Beranda blog Halaman 621

Laznas BMH Gelar Bakti Sosial dan Salurkan Beasiswa Dhuafa

Sidoarjo_Bakti-sosial-dan-beasiswa-400x300Hidayatullah.or.id — Bertempat di Balai Dusun Pandan Sari Tlocor, Kecamatan Joban, BMH selenggarakan baksi sosial berupa pembagian sembako bagi lansia dan penyaluran beasiswa bagi para siswa binaan.

“Bakti sosial ini merupakan sup kegiatan dari program pembinaan dan pemberdayaan masyarakat dhuafa, diharapkan kedepan selain masyarakat dapat tercerahkan melalui pembinaan para dai, juga dapat mandiri melalui program pemberdayaan ekonomi,” jelas Slamet selaku Kadiv. Program dan Pendayagunaan BMH Sidoarjo, belum lama ini.

Dalam acara tersebut BMH bekerjasama dengan PKK RW 09 Perum Puri Indah Suko Sidoarjo menyalurkan sembako gratis yang berjumlah 80 paket, baju layak pakai sejumlah 7 dus, dan 17 paket beasiswa.

Dalam sambutannya, Ketua RW 09 Perum Puri Indah, Siswantoko menuturkan tujuan utama dari diselenggarakannya kegiatan tersebut ialah menjalin silaturahim, sehingga tercipta hubungan yang hangat sesama muslim khusunya bagi para mustahiq dan muzakki.

“Bakti sosial ini kami selenggarakan guna menyambung silaturahmi dalam ukhuwah Islamiyah, guna mempererat persaudaraan dalam membagi rezeki yang kami terima dari Allah SWT kepada yang lebih berhak menerima,” jelasnya.

Adapun Slamet Kadireja mengucapkan banyak terima kasih kepada berbagai pihak sehingga acara baksi sosial ini berjalan lancer dan betul dirasakan manfaatkna oleh para mustahiq

“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur atas respon dan dukungan masyarakat khususnya para donatur yang bersama menjalin kepedulian bagi masyarakat dhuafa. Semoga kerjasama ini dapat berkesinambungan sehingga dapat lebih banyak memberikan manfaat bagi mereka yang membutuhkan,” jelas Slamet Kadireja selaku Kadiv Program dan Pendayagunaan BMH Sidoarjo.

Melalui Zakat, Infak dan Sedekah anda mampu perkokohkan dakwah para dai, lahirkan pembinaan dan pemberdayaan di tengah-tengah masyarakat. Zakat Pilar Perubahan.*/Hermanto

Murid Hidayatullah Bali Lakukan Pengabdian Kemasyarakatakn

murid ma hidayatullah bali mengabdi masyarakat (1) murid ma hidayatullah bali mengabdi masyarakat (2)Hidayatullah.or.id — Jika umumnya anak SMA usai menjalani Ujian Nasional (UN) langsung loss control melepaskan “ketegangan” dan bahkan ada yang berencana berpesta bikini, hal berbeda ditunjukkan oleh siswa SMA Hidayatullah Bali.

Bukannya berpesta pora merayakan lepas UN, murid Madrasah Aliyah Pesantren Hidayatullah (MAHID) Denpasar, Provinsi Bali, memanfaatkan momen libur ini untuk melakukan pengabdian ke masyarakat.

Sejumlah siswa MA Hidayatullah Bali ini bertugas di empat daerah yakni Badung, Tabanan, Singaraja, dan terakhir Karangasem, kesemuanya dalam Provinsi Bali. Pelepasan penugasan ini dilakukan pada Sabtu (25/4) lalu.

Setelah menyelesaikan proses pendidikan formal dan UN, murid-murid MA Hidayatullah Denpasar angkatan pertama ini harus berhadapan dengan tugas yang tidak kalah berat dari Pondok.

Tugas tersebut yakni seluruh siswa harus turun mengabdi di masyarakat di daerah-daerah. Ini menjadi ujian awal mereka untuk mengasah mental mereka sebagai seorang calon dai sekaligus teladan umat.

Dalam pengabdian ini mereka diberi amanah diantaranya mengajar mengaji anak-anak muslim, menjadi marbot atau pembantu marbot, staf sekolah, dan lebih penting adalah harus mampu memerankan diri sebagai seorang muslim yang berakhlak mulia, penyayang, toleran, serta menjaga silaturrahim dengan semua komponen masyarakat di mana dia bertugas.

Kepala Sekolah MA Hidayatullah Denpasar, Ustadz Sakhnan, Lc, dalam sambutan pelepasan murid relawan umat ini mengaku terharu dengan perkembangan sekolah yang dipimpinnya.

“Kita harus lebih bersyukur. Kalau kita melihat perkembangan sekolah ini, dalam tiga tahun awal perlangkahannya, ada tiga tempat menjadi  tempat belajar, karena belum punya gedung sekolah,” ujarnya seraya mengenang.

Namun lanjutnya, Alhamdulillah tahun ini kita sudah memilki gedung sekolah sendiri. Ia pun mengaku bangga atas prestasi yang terus diukir MAHID Denpasar.

Dengan sedikit berguyon, ustadz ramah yang juga merupakan pria asli Bali ini mengatakan, “Di Kantor, lemarinya sudah tidak mampu menampung berbagai piala kejuaraan yang sudah ditorehkan anak didik kita, karena lemarinya memang agak kekecilan,” selorohnya.

Prestasi tersebut, kata Sakhnan, jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah yang telah lebih dulu ada di Denpasar, MAHID dianggap dapat  bersaing dengan sekolah-sekolah lainnya dalam sisi pencapaian. Namun dari sisi pembelajaran Diniyyah kepesantrenan, Sakhnan optimistis sekolah MAHID sudah jauh unggul.

Disebutkan Sakhnan, dalam tahun ini saja, ada 5 anak didik sekolah ini mewakili Kota Denpasar dalam bersaing ditingkat provinsi. Salah satunya, Rifaul Mujahidin, santri kelas 3 ini akan mewakili Kota Denpasar dalam lomba tahfidz 10 Juz.

Disela-sela acara pelepasan tugas pengabdian, Rifaul Mujahidin, anak kedua dari tiga bersaudara ini mengatakan kepada media ini, bahwatugas pengabdian masyarakat ini menjadi ujian yang tidak ringan baginya.

“Sejujurnnya kami belum siap dalam mengemban amanah ini, apalagi nanti kami harus menjadi teladan yang baik di masyarakat. Namun tugas ini telah dipercayakan kepada kami, dengan Bismillah kami harus siap,” tegasnya.

Santri yang sudah hafal 10 Juz yang rencananya akan melanjutkan Studi ke Gunung Tembak, Balikpapan ini mengatakan, dirinya memilih Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullah (STISHID) Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Dia memilih STISHID, alasannya karena dari 5 opsi pilihan perguruan tinggi Hidayatullah yang diajukan kepadanya untuk dipilih, Rifaul secara pribadi mantap memilih STIS.

“Saya pilih STIS karena saya bercita-cita untuk mengenal dien ini lebih baik lagi dari sekarang, karena kita hidup ini harus mengetahui syariah,” tukasnya. (Yusran Yauma/ Bali)

Syabab Hidayatullah dan IAIN Palopo Penjajakan Kerjasama

0

Syabab Hidayatullah dan IAIN Palopo Penjajakan KerjasamaHidayatullah.or.id — Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Syabab Hidayatullah, Naspi Arsyad, dan Rektor IAIN Palopo, Dr Abdul Pirol, M.Ag, bertemu silaturrahim seraya melakukan pembicaraan penjajakan kerjasama di bidang pembinaan  di Palopo, Sulawesi Selatan, belum lama ini, 23 April 2015.

Dalam pertemuan di ruang Kantor Rektor Lantai 2 Gedung Utama IAN Palopo ini, Naspi didampingi diantaranya Kadep Organisasi PW Hidayatullah Sulsel Muhahmmad Imran, M.Ag, Sekretaris PW Syabab Hidayatullah Sulsel Walimin, dan Ketua PD Hidayatullah Palopo Abdul Jabbar serta Imran Rizki, humas PD Hidayatullah Makassar.

Selain membicarakan seputar penjajakan kerjasama pembinaan mahasiswa IAIN, dalam kesempatan tersebut mereka saling bertukar pikiran seputar wacana Islam nusantara dan sejumlah tema-tema lain. Sang rektor juga sempat berkisah seputar dilema seorang rektor antara kerja akademik dan beban politis.

Naspi menilai, wacana Islam nusantara yang belakangan ini mengemuka adalah merupakan respon atas massifnya pemberitaan soal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) yang selalu digambarkan penuh kebengisan (demonic).

Gagasan tentang Islam Nusantara dikemukakan sebagai penerapan Islam teologis yang tetap menghargai nilai-nilai tradisi lokal dan adat istiadat di Tanah Air. Atas dasar itu wacana Islam Nusantara ini dinilai sebagai teladan ideal bagi aktualisasi Islam rahmatan lil aalamiin atas realitas yang terjadi di belahan dunia lainnya yang dikecamuk perang saudara.

Kendati demikian, tegas Naspi, konsepsi seputar Islam nusantara hendaknya tetap dipahami dan diterapkan secara proporsional agar inti ajaran Islam kaffah tidak tercerabut yang akhirnya menepikan ihwal lain yang bersifat prinsipil seperti perkara aqidah dan lain sebagainya.

“Kita, tentu, perlu terus mendorong sikap keberagamaan yang inklusif sebagaimana semangat yang terkandung di dalam wacana Islam nusantara. Tetapi jangan lupa, semangat itu hendaknya tetap dalam bingkai inti ajaran Islam kaffah yang tetap berpegang pada prinsip-prinsip asasi,” ujarnya.

Naspi menambahkan, peran pemuda dalam upaya transformasi ajaran paripurna Islam ini sangat penting. Sebab itu, pihaknya berharap kolaborasi peran dengan berbagai pihak yang selama ini telah dilakukan oleh Syabab Hidayatullah dapat terus ditingkatkan dalam rangka menyemai generasi bangsa yang berwawasan nusantara, religius, dan berintelektual ideologis.

Dalam pertemuan yang berlangsung hangat itu ditelurkan beberapa kesepakan yang diharapkan kelak dapat memberi andil positif terhadap upaya pencerahan dan pengembangan potensi sumber daya manusia di semua lini kepemudaain tidak saja di lingkungan kampus. (cha/in)

Ketum Syabab Hidayatullah Pembicara Seminar di Sultra

0

Ketum Syabab Hidayatullah Pamateri Seminar Kepemudaan se-Sultra (2)Hidayatullah.or.id — Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Syabab Hidayatullah, Naspi Arsyad, menjadi narasumber tunggal seminar kepemudaan yang digelar oleh Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus Daerah VII Sulawesi Tenggara (Sultra) berlangsung di Kampus Universitas Sembilanbelas November (USN), Kabupaten Kolaka, 25 April 2015.

Membawakkan materi “Rekonstruksi Diri untuk Negara Bermartabat”, Naspi memaparkan di hadapan sedikitnya 200 peserta umumnya mahasiswa tentang pentingnya perubahan.

Definisi rekonstruksi, jelas Naspi, adalah upaya penyusunan atau pengembalian seperti semula yang dalam hal ini adalah menyangkut tradisi kepoloporan serta semangat pergerakan kalangan muda.

Jika ditilik dari aspek sejarah, berdirinya negara Indonesia dilatari oleh anak-anak muda yang memiliki etos kejuangan yang luar biasa.

“Perubahan apalagi untuk cita-cita kemandirian yang hilirnya adalah terjaganya marwah sebuah bangsa, harus dimulai yang terdekat yakni diri kita sendiri,” tegas Naspi.20150429164918

Naspi menerangkan, rekonstruksi pribadi pertama-tama harus dilakukan untuk kemudian dapat melakukan rekonstruksi yang lebih besar. Sebab, jelasnya, merekonstruksi bangsa dengan hanya mengandalkan seorang figur pemimpin tidak akan mungkin terwujud tanpa pribadi-pribadi yang telah tercerahkan.

“Kunci sukses rekonstruksi diri adalah mulai diri diri sendiri, mulai dari yang terkecil, dan mulai dari sekarang. Insya Allah perubahan yang sistematis seperti ini akan mempengaruhi juga wibawa negara menyongsong bangsa yang bermartabat relijius,” ujarnya.

Sebagai pemuda Indonesia, tegas Naspi, kita jangan cuma menuntut dan membeberkan data tapi juga mampu memberikan solusi kebangsaan. Usia pemuda akan mendapatkan ujian yang sangat berat maka harus memiliki energi ekstra untuk mampu melewati ujian-ujian tersebut sebagai bukti bahwa pemuda sekarang pewaris sah perjuangan dan perjalanan bangsa Indonesia.

Seminar ini dirangkai juga dengan acara seminar nasional Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang dihadiri sejumlah narasumber pakar tokoh lokal setempat. (hio/ybh)

Buletin Hidayatullah Edisi April 2015

Cover_Buletin_Hidayatullah_April_2015PIMPINAN Umum Hidayatullah mengajukan empat karakter manajerial yang hendaKnya dimiliKi oleh setiap pemimpin, khususnya kader Hidayatullah, di semua level. Tujuannya agar dapat terus maju dan tumbuh secara dinamis. Apa saja?

====================

JANGAN merasa menjadi sebagai “objek” kebijakan yang telah ditetapkan oleh Islam. Lalu, bagaimana semetinya sikap kita sebagai kader Hidayatullah dalam berlembaga dengan seabreg aturan dan ketentuannya itu?

====================

INILAH komentar sejumlah tokoh nasional tentang keberadaan media Hidayatullah. Kenapa mereka keberatan? Lalu bagaimana pula sikap yang disampaikan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang dikenal memiliki kedekatan dengan umat Islam di nusantara?

====================
DEMIKIAN tajuk sebagian isi Buletin Hidayatullah Edisi April 2015 ini. Selain kabar nasional, ikuti juga berita-berita Hidayatullah daerah lainnya seperti geliat di Bintan, penguatan informal leader di wilayah Utara, kunjungan Panglima, ada biogas di Makassar.

IKUTI juga coretan pendiri Hidayatullah tentang prediksinya soal hutan Kalimantan Timur. Peraih Kalpataru ini berbicara soal pentingnya menjaga lingkungan hidup.

BULETIN HIDAYATULLAH adalah media informasi dan silaturrahim ormas Hidayatullah yang terbit reguler setiap bulan. Buletin ini diedarkan melalui saluran transimi virtual seperti email dan sejenisnya tanpa dikenakan biaya alias gratis bagi siapa saja yang ingin berlangganan.

Kami sangat merekomdendasikan supaya Anda menggunakan peramban (browser) Google Chrome ketika mengunduh (download) Buletin Hidayatullah ini untuk mendapatkan akses cepat dan kustomasi tampilan yang lebih dinamis. Download Buletin Hidayatullah di bawah ini:

BACA BULETIN HIDAYATULLAH APRIL 2015

Dibalik Layar Hidayatullah.com

situs islam diblikirHidayatullah.or.id – Di Jalan Cipinang Cempedak 1 Jakarta Timur, berdiri gedung situs Hidayatullah.com. Gedung berlantai dua itu terletak di kompleks Kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Hidayatullah. Sebuah organisasi Islam yang bergerak di bidang dakwah dan pendidikan.

Pemimpin Redaksi Hidayatullah.com, Mahladi, menerima kedatangan KBR siang itu. “Ini kan satu komplek dengan DPP, bawahnya sekolah gratis, tapi untuk anak-anak bermasalah, yang tak pernah dididik di pinggir2 pantai. Ada yang daftar, ada yang mengusulkan. Ada yang berhasil ada yang engga. Pada nginep sini. Ada tempatnya. Ini majalah dan situsnya disini. Sebagian di Surabaya. Koordinasinya kebetulan banyak di Jakarta jadi isunya disini,” tambahnya.

 

[soundcloud url=”https://api.soundcloud.com/tracks/saga-dibalik-layar-redaksi-hidayatullah” params=”color=00cc11&auto_play=true&hide_related=false&show_comments=true&show_user=true&show_reposts=false” width=”100%” height=”166″ iframe=”true” /]

Situs ini lahir 19 tahun lalu di bawah naungan Kelompok Hidayatullah Media. Hidayatullah.com menyajikan berbagai berita dari sudut pandang Islam. Semisal berita berjudul “Definisi Radikal Sudah Tercemar” di rubrik nasional edisi Minggu, 19 April lalu. Tulisan tersebut berisi komentar tokoh agama tentang definisi radikal.

Hidayatullah punya 10 reporter di Jakarta dan para koresponden di daerah dan luar negeri, yang ditugaskan meliput berita sesuai arahan redaktur. Proses berita dilimpahkan kepada redaktur, sebagai proses editing. Redaktur pelaksana dan redaktur kajian Hidayatullah.com berada di Surabaya Jawa Timur, sedangkan redaktur luar negeri berada di Ibu Kota. “Fitrah kami adalah sesuai organisasi bahwa Hidayatullah tidak mendukung ISIS,” ungkap Mahladi.

Saat KBR berkunjung ke ruang redaksi Hidayatullah.com, tampak sepi. Hanya ada beberapa orang bagian marketing dan redaktur majalah.

Menurut Mahladi, awak medianya sedang bertugas di beberapa tempat sesuai arahan redaktur. Namun, ada juga wartawan yang ditugaskan pada satu tempat. Semisal gedung Majelis Ulama Indonesia (MUI).

“Redaksi ada 10 orang. Reporter menggarap semua. Kita ini kan karena kelompok, jadi semua menggarap semua. Redaktur di online ada empat orang. Reporternya cukup banyak, di daerah juga,” kata dia.

Untuk menentukan pengejaran berita di lapangan, Hidayatullah.com mengambil beberapa tema yang sesuai dengan visi misi organisasi Islamya. Kembali Mahladi.

“Semua berita bisa diberitakan tetapi tergantung sudut pandang. Seperti bom di Tanah Abang. Itu kan sudah ada tuduhan-tuduhan, ke teroris misalnya. Kalau tidak ada  yang mengcounter, kasian mereka yang dituduh. Kita buatkan dalam sudut pandang Islam. Bagaimana ulama mendamaikan, kita tidak saling tuduh dan bagaimana masalahnya. Itu berita. Dalam kondisi ini siapa yang menyejukan. Aa Gym misalnya, bagaimana pendapat Aa Gym,” ucapnya.

Pemblokiran Hidayatullah.com

Tapi, pada awal April lalu, Kementerian Komunikasi dan Informatika memblokir situs Hidayatullah.com dan 21 situs Islam lain. Sebabnya, puluhan situs itu dianggap berisi ajakan dan ajaran paham radikal.

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bahkan mencatat ada dua konten yang dinilai berbau radikal. Namun, BNPT enggan menyebutkan judul tulisan tersebut. Kepala BNPT, Saud Usman Nasution.

“Ada dua berita di situ. (Judulnya apa pa?) ya ngga perlulah, beliau sudah tahu. Kami tidak menyuruh domain itu. Hanya dua berita itu, tolong di ralat. Menurut kami itu negatif,” ucap Saud kepada wartawan.

Mahladi pun langsung melayangkan protes. Kata dia, pemblokiran terhadap situsnya tak tepat. “Saya sempat minta sama pak Saud, tapi ini untuk Anda. Saya paham, karena pak Saud tidak mau berdebat di depan umum. Konten yang diblokir adalah berita. Contohnya ada? Saya ngga bisa karena pak Saud bilang begitu. Berita yang diwawancara oleh reporter hasil komentar seseorang. Tokohnya siapa? Saya tidak bisa menyebutkan. Menurut BNPT membawa keradikal? Ya komentar tokoh itu. Andai pak Saud meminta itu dicabut, saya cabut. Kalau diblokir itu hak pembaca kami,” katanya.

Ketidakterbukaan itulah yang kemudian diprotes belasan situs Islam, hingga berlanjut ke DPR. (ybh/hio)

________

Berita di atas dicuplik dari portal berita KBR68H www.PortalKBR.com, 22 April 2015.

Memfungsikan Ajaran Islam

0
islam
ilustrasi

ISLAM diturunkan sebagai rahmat bagi semesta alam. Alam, karya Allah Ta’ala, adalah bukti kongkrit bahwa Dia yang menguasai semua makhluk.

Manusia yang beriman menyadari sepenuhnya hal ini. Kesadaran tersebut melahirkan sebuah ikrar bahwa tiada Tuhan yang patut disembah selain Allah Ta’ala.

Konsekuensi dari ikrar tersebut adalah menjadikan diri sebagai pengabdi Sang Pencipta dalam bentuk melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Aturan mengenai hal ini termaktub semuanya dalam al-Qur`an.

Allah mengistimewakan manusia dibanding makhluk lain di alam ini. Karena keistimewaan itulah maka Allah mempercayai manusia sebagai khalifah di bumi ini. Kepercayaan itu tidak diberikan kepada malaikat, jin, binatang, atau tumbuh-tumbuhan.

Manusia juga diberi tuntunan agar tidak salah menjalankan perannya sebagai khalifah. Tuntunan itu bisa berupa teladan yang diperlihatkan oleh para Nabi dan Rasul, atau berupa wahyu Allah yang dikumpulkan dalam kitab al-Qur`an.

Sayangnya, manusia ingkar terhadap tuntunan tersebut. Manusia memerankan fungsinya sebagai khalifah dengan caranya sendiri-sendiri. Manusia merasa dirinya mampu tanpa harus dibimbing oleh wahyu. Akibatnya, musibah terjadi di mana-mana. Sejak zaman Nabi Nuh hingga saat ini musibah datang silih beganti.

Apakah ada jaminan bahwa dunia akan terhindar dari musibah jika ajaran Allah  diterapkan dengan seksama? Jawabnya ya. Allah menjanjikannya dalam al-Qur`an.

Namun, sampai saat ini belum ada satu pun wilayah atau negara yang menerapkan secara total al-Qur`an dan as-Sunnah. Tak ada yang menempatkan al-Qur`an sebagai konsep bermasyarakat dan bernegara.

Lantas, bagaimana konsekuensi iman yang kita deklarasikan? Selevel apakah deklarasi keimanan yang kita artikulasikan?

Pertanyaan ini perlu kita jadikan sarana untuk mengevaluasi diri agar benih kebangkitan iman yang menyelinap dalam rongga dada mampu mendorong kita untuk bertanding ke gelanggang menegakkan inti pesan al-Qur`an.

Al-Qur`an Surat al-Mudatsir mengajak kepada individu Mukmin agar segera menyeru masyarakat kepada kebenaran. Surat ini mengajak orang-orang yang masih ”berselimut” di tengah problema umat agar segera bangkit menyusun strategi dakwah.

Rekrutmen kader dakwah harus terus digalakan. Cara perekrutan dan pembinaan mereka harus bisa dipertanggungjawabkan di hadapan mahkamah Allah. Kualitas mereka juga harus bisa dipertanggungjawabkan. Merekalah yang akan menjadi basis penerapan al-Qur`an sebagai konsep terbangunnya peradaban Islam.

Lebih dari itu, jiwa yang dilandasi Surat al-Mudatsir ini harus dapat mempengaruhi lingkungan di mana ia berada. Ia harus mengubah lingkungan yang tidak akrab dengan al-Qur`an menjadi lingkungan yang intim dengan al-Qur`an. Lingkungan  tersebut kemudian akan menjadi magnet bagi lingkungan yang lebih luas, termasuk negara.

Manhaj Nubuwah (Sitematika Nuzulnya Wahyu) harus bisa melahirkan generasi qur`ani. Jika tidak bisa, maka yang salah bukan manhaj-nya tetapi pelaku manhaj itu. Bisa saja telah terjadi salah urus.

Jarum jam terus berputar. Manusia menghabiskan waktu dengan beragam aktivitas. Sedang Allah senantiasa menilai manusia, seberapa produktifkah mereka mencari bekal untuk kehidupan akhirat.

Produktivitas seseorang bukan ditimbang dari hartanya yang menumpuk, melainkan sebesar apa karya manusia dalam mengimplementasikan al-Qur`an dalam kehidupannya sehari-hari.

”Ibda’  binafsik!” kata Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam. Awali dari dirimu. Jangan tunggu orang lain yang melaksanakan pekerjaan mulia ini terlebih dahulu. Tegakkan Islam di rumah masing-masing. Tularkan ke masyarakat sekitar. Lambat laun Islam akan mendunia. Wallahu a’lam.

____________

Dr. H. Abdul Mannan, SE, MM, penulis adalah Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Hidayatullah. Artikel ini juga telah dimuat di majalah Suara Hidayatullah edisi Juni 2010.

Manhaj Mencetak Pemimpin

ilustrasi / net
ilustrasi / net

Oleh Ustadz Sholih Hasyim*

SEBAGAI seorang yang beriman, tentu merindukan seorang pemimpin yang beriman. Pemimpin adalah bagian yang tak dapat dipisah-pisahkan dari diri kita.

Karena, pemimpin yang akan mengarahkan, memandu, dan membimbing kita, pengaruhnya kita rasakan secara langsung dalam memberikan perubahan kehidupan keseharian kita. Sehingga, pemimpin tersebut tidak saja legal secara konstitusional, pula legitimate, dan dicintai rakyatnya.

Dan Kami jadikan diantara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami,  ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini (membenarkan) ayat-ayat Kami (QS. As Sajdah (32) : 24).

Dalam Al Quran, Allah SWT telah menjelaskan kepada kita karakteristik pemimpin yang ideal. Yaitu pemimpin yang adil, kasih sayang, dan mencintai kita. Pemimpin yang dapat diteladani keilmuannya, ketakwaannya, pengabdiannya (khidmahnya).

Pemimpin yang menomorsatukan kepentingan yang dipimpin, dan menomor duakan kepentingan diri, keluarga, dan golongannya. Karena, ia sudah menjadi milik umat.  Bukan saja milik keluarga dan kabilahnya.

Ketika Allah menjelaskan proses pengangkatan nabi Yusuf as sebagai bendahara Mesir, Allah menjelaskan bagaimana Qithfir Al ‘Aziz memuji Yusuf.

Raja berkata:

Bawalah Yusuf kepadaku. Aku akan jadikan dia penasihat khusus untuk diriku.  Maka tatkala raja itu berbicara kepada Yusuf, Raja berkata : Mulai hari ini engkau menjadi orang yang memiliki kedudukan lagi terpercaya di sisi kami. Yusuf berkata : Jadikanlah aku pengelola harta kekayaan negara. Sesungguhnya aku orang yang sangat pandai untuk mengelola, lagi sangat luas pengetahuanku (QS. Yusuf (12) : 54-55).

Merujuk ayat di atas, kita memahami empat kriteria yang sepatutnya melekat dalam struktur kepribadian seorang pemimpin. Dengan keempat karakter tersebut, Yusuf menjadi pemimpin yang ideal. Menggabungkan  mutu komitmen dan kompetensi.

Demikian pula karakter pemimpin para malaikat (Jibril) yang Allah amanahi menyampaikan wahyu kepada para rasul-Nya, karakter Jibril yang dipuji oleh Allah dalam Al Quran.

Sesungguhnya Al Quran itu  benar-benar firman Allah yang dibawa oleh utusan yang mulia (Jibril). Yang memiliki kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi disisi Allah, mempunyai ‘arsy yang ditaati disana di alam malaikat lagi amanah (dapat dipercaya). (QS. At Takwir (19) : 21).

Jibril memiliki karakter yang sempurna, sehingga Allah menunjuknya untuk mengemban tugas paling berat, mengantarkan wahyu kepada utusan Allah yang ada di muka bumi ini. Dan seperti itulah selayaknya pemimpin yang menjadi wakil bagi rakyatnya. Bukan DPR (Dewan Perwakilan Rupiah), tetapi DPR (Dewan Perwakilan Ruhiyah) bagi rakyatnya. Dia sosok yang terhormat, bukan manusia rendahan. Memiliki kemampuan dan profesionalitas. Dan amanah dalam mengemban tugas.

Tentu saja, untuk memiliki pemimpin  dengan karakter yang sangat ideal bukan pekerjaan instan. Melahirkan pemimpin terkait dengan amaliyyatud tadayyun (proses keberagamaan) kita. Dan, proses interaksi dengan agama kita sebanding dengan ‘amaliyyatut ta’allum (proses pembelajaran) yang berlangsung secara berkesinambungan.

Jadi, untuk menyiapkan pemimpin yang merupakan foto copy diri kita, tergantung kesiapan kita untuk diproses, ditarbiyah, ditakwin, menuju insan yang shalih bagi setiap tempat dan masa sesuai dengan karakteristik dinul Islam itu sendiri.

Kelahiran seorang pemimpin terkait langsung dengan kualitas keberagamaan kita. Jika kita adalah sosok minal muttaqin, minal mukminin, minal mujahidin, minal muqarrabin, minash shalihin, minal muhsinin, maka seperti itulah pemimpin yang akan kita lahirkan.

Sebaliknya, jika kita tidak memiliki keterikatan yang kuat (komitmen) terhadap nilai-nilai manhaj (wahyu), kita jangan kaget jika Allah SWT mengirimkan pemimpin yang fasiq, diktator, di tengah-tengah komunitas kita.

Demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zhalim menjadi pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan (QS. Al An’am (6) : 129).

Kita meyakini, tidak ada kejadian yang kecil dan besar, diam dan gerak, muncul dan tenggelam, maju dan mundur, naik dan turun, termasuk pengangkatan seorang pemimpin, kecuali dalam pengaturan, izin, dan restu Allah SWT. Tidak semata-mata peristiwa alam (thabii, natural).

Katakanlah: Wahai Tuhan yang memiliki kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki di tangan Engkaulah segala kebaikan (QS. Ali Imran (3) : 26).

Surat Al Anam ayat 129 di atas kita bisa memperoleh pelajaran fundamental bahwa diantara hukuman Allah kepada orang yang zhalim (menganiaya diri sendiri) adalah Allah menunjuk orang zhalim lain yang menguasainya. Si zalim pertama akan mendapatkan kezhaliman dari sosok zalim kedua.

Ketika kita ikhlas, sabar dalam mentarbiyah, mentazkiyah diri, keluarga, masyarakat, dengan amar bil ma’ruf dan nahi ‘anil mungkar, maka Allah akan mengirimkan pemimpin yang baik. Ketika masyarakat berbuat zalim, melakukan maksiat, menjauhi syariat, maka yang akan memimpin kita adalah orang yang menindas kita, sebagai hukuman atas perbuatan kita.

Selama ini, kita selalu menuntut agar pejabat, kalangan elitis (qiyadah), agar menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana. Kita sering mengangkat hadits: Jihad tertinggi adalah kalimat yang haq di sisi sulthan yang zalim (jair).

Tetapi, kita seringkali mengabaikan muhasabah, muraqabah, terhadap diri kita sendiri. Sudahkah kita menjadi sosok yang shalih, mukmin, mujahid? Jika kita belum menjadi alat peraga Al Quran yang berjalan di medan kehidupan, mengapa kita menuntut kelahiran pemimpin yang Qur’ani?.

Kita harus berpikir realistis, bahwa pemimpin yang hadir di tengah-tengah kita adalah lukisan dari kepribadian kita. Janganlah kita seperti kaum Khawarij yang selalu menuntut dan mengkritik Ali bin Abi Thalib. Mengapa pemerintahan kalian tidak seperti pada masa Abu Bakar dan Umar bin Khathab ?.

Ali bin Abi Thalib menjawab:

Karena pada zaman Abu Bakar dan Umar, yang menjadi rakyat adalah aku, dan orang-orang yang sepadan denganku, sedangkan rakyatku adalah kamu dan orang-orang yang semisalmu (Syarh Riyadhush Shalihin, Ibnu Utsaimin).

Para ulama mengatakan :

اعمالكم اعمالكم كما تكونوا يولي عليكم

Amal perbuatan kalian sejenis dengan pemimpin kalian. Sebagaimana karakter kalian, seperti itulah model kepemimpinan yang akan mengendalikan kalian.

Ibnul Qayyim Al Jauziyah pernah menjelaskan pentingnya memperbaiki diri, jika kita berharap memiliki pemimpin yang baik.

وتأمل حكمته تعالى فى أن جعل ملوك العباد

وأمراءهم ووﻻتهم من جنس أعمالهم ظهرت

فى صوروﻻتهم وملوكهم فان استقاموا استقامت

ملوكهم وان عدلوا عدلت عليهم وان جاروا جارت ملوكهم

Renungkanlah hikmah Allah. Dia jadikan pemimpin bagi para hamba-Nya, sejenis dengan amal dan prilaku hamba-Nya. Bahkan seolah-olah amal mereka berwujud seperti pemimpin mereka. Mereka istiqomah dalam kebaikan, pemimpin mereka akan istiqomah.

Sebaliknya, ketika mereka menyimpang, maka pemimpin mereka pun menyimpang. Ketika mereka berbuat zalim, pemimpin mereka juga akan berbuat zalim (Miftah Darus Sa’adah hal. 253).

Ada seorang ulama mantan pemimpin para begal, Fudhail bin ‘Iyadh, beliau memberikan contoh kepada kita tentang pentingnya mendoakan kebaikan bagi pemimpin.

Kata Fudhail: Seandainya saya memiliki satu doa yang mustajabah, maka saya tidak akan menggunakannya kecuali untuk kebaikan pemimpin. []

____________

USTADZ SHOLIH HASYIM, penulis adalah anggota Dewan Syura Hidayatullah

Hidayatullah Usul Dai Dibiayai oleh Pemerintah

Hidayatullah Usul Dai Dibiayai Pemerintah (3)
Ketua Bidang Pelayanan Ummat PP Hidayatullah, Ustaz Tasyrif Amin

Hidayatullah Usul Dai Dibiayai Pemerintah (1) Hidayatullah Usul Dai Dibiayai Pemerintah (2) Hidayatullah.or.id — Pengurus Pusat Hidayatullah mengusulkan agar dai dibiayai pemerintah. Terutama saat menjalankan misi dakwah ke pelosok.

Ketua Bidang Pelayanan Ummat PP Hidayatullah, Ustaz Tasyrif Amin mengatakan, misi ini tidak kalah pentingnya dengan program mantri, tentara, jaksa, dan yang lainnya masuk desa.

Menurut dia, kalau para dai berhenti berdakwah ke pelosok, maka akan banyak sekali persoalan yang akan muncul di masyarakat. Apalagi jika melihat kenyataan bahwa terjadi perubahan kultur di tengah-tengah masyarakat pedesaan.

“Kebiasaan mengaji di rumah-rumah sudah jarang sekali kita jumpai,” kata Ustaz Tasyrif di sela-sela upgrading 50 dai dari 24 kabupaten/kota di Sulsel di Enrekang, hari ini, Sabtu 18 April.

Tradisi yang hilang itu dinilai memicu banyaknya kejahatan. Termasuk oleh remaja usia sekolah belakangan ini.

“Semua itu tentu saja tidak bisa dilepaskan dari pengaruh media sosial dan informasi yang sudah sampai hingga ke pedesaan,” lanjutnya.

Upgrading yang berlangsung 17-19 April 2015 memberi bekal kepada para dai untuk menangkal perilaku-perilaku menyimpang tersebut. Para dai digembleng di kampus Pesantren Hidayatullah Enrekang, Lembah Sudu.

Pengurus Hidayatullah, Ustaz Irfan Yahya mengatakan, pelatihan ini digelar Pengurus Wilayah Hidayatullah Sulawesi Selatan bekerja sama BMH Makassar. Kegiatan ini bagian dari Gerakan Nasional Dakwah Mengajar & Belajar Al-Qur’an. (sap/hio)

Hidayatullah Malang Beri Beasiswa Ratusan Santri

0
Suasana belajar di ruang terbuka SMP Ar Rohmah Putri Hidayatullah Malang/ dok
Suasana belajar di ruang terbuka SMP Ar Rohmah Putri Hidayatullah Malang/ dok

Hidayatullah.or.id — Sekolah terintegrasi Ar Rohmah Putri, Pesantren Hidayatullah, Dawu Malang, Jawa Timur, memberikan bantuan bagi 275 santri yang membutuhkan. Bantuan diberikan berupa keringanan pembayaran SPP dan beberapa jenis biaya lainnya.

“Jadi sifatnya subsidi silang,” kata Abdullah, dari Yayasan Ar Rohmah Hidayatullah Malang.

Hal itu dikemukakan Abdullah di Malang, belum lama (12/4) ini, dalam acara Pertemuan Wali Santri SMP Ar Rohmah Putri.

Pondok Pesantren Hidayatullah, Malang, memiliki sekitar 720 santri SMP Putri dan sekitar 300 santri SMA Putri. Selain itu, ada juga siswa play group, TK dan sekolah dasar.

Yayasan Ar Rohmah juga mengembangkan SMP dan SMA Putra terintegrasi. Menurut Abdullah, dari 275 santri yang menerima bantuan, berasal dari seluruh lembaga yang dikelola Yayasan Ar Rohmah Malang.

Kepala Asrama Ar Rohmah Putri, Najad Sakinah, menyebutkan, pendidikan di Ar Rohmah Putri, dilakukan secara terintegrasi, baik di sekolah maupun di asrama.

Khusus untuk pendidikan di asrama, ditekankan pada aspek adab, ibadah, kemandirian dan kepemimpinan.

“Apa yang kami upayakan akan tercapai kalau didukung oleh para wali santri. Adanya kepercayaan dan kerjasama yang baik,” kata Sakina.

Kepala SMP Ar Rohmah Putri, Rully Cahyo Nuvanto, mengatakan, dukungan orang terhadap keberhasilan anak, bisa diwujudkan dengan memberikan contoh yang baik. Karena dengan demikian anak tidak bingung dengan pendidikan yang diterimanya di pesantren.

“Kalau orang tua tidak mencontohkan ibadah yang baik,sementara di sekolah dididik menjadi anak yang solihah, anak jadi bingung, mana yang harus diikutinya,” kata Rully. (rep/hio)