SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Suasana penuh semangat menyelimuti Pesantren Hidayatullah Surabaya saat Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menggelar Daurah Marhalah Wustho (DMW) pada 18–21 Agustus 2025.
Kegiatan ini menjadi ajang penting untuk memperkuat jatidiri kader dan memantapkan tekad mereka mengabdi di tengah masyarakat.
Sebanyak 51 calon wisudawan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Luqman Al Hakim Surabaya mengikuti rangkaian pembinaan yang dirancang khusus untuk menyiapkan dai muda yang berilmu, berakhlak, dan siap membangun umat.
Kepala Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah, Dr. Muhamad Shaleh Usman, M.I.Kom., menegaskan bahwa DMW bukan sekadar forum pembelajaran, melainkan wadah transformasi kader menuju terwujudnya peradaban Islam.
“Melalui forum ini, kita ingin melahirkan dai muda yang tidak hanya tangguh dalam ilmu, tetapi juga kokoh dalam karakter untuk membawa misi kemajuan umat dan bangsa,” ujarnya.
Shaleh menambahkan, gelaran DMW ini komitmen Hidayatullah dalam mencetak tenaga dai muda yang siap hadir di tengah umat, menyebarkan nilai Islam, dan memberi kontribusi positif bagi bangsa.
“Dari Surabaya, mereka membawa semangat baru untuk menyalakan cahaya dakwah hingga pelosok negeri,” katanya.
Bagi para peserta, momentum ini terasa istimewa. Arif Sukirno, peserta terbaik, mengungkapkan rasa syukurnya.
“Alhamdulillah, mengikuti DMW menjadi pengalaman sangat berharga. Banyak ilmu, wawasan, dan penguatan ruhiyah yang saya dapatkan. Selain itu, ukhuwah bersama peserta dan asatidz semakin menambah semangat untuk terus berjuang di jalan dakwah,” tuturnya dengan mata berbinar.
Ia juga berharap program ini terus berlanjut dan semakin baik.
“Untuk generasi berikutnya, semoga halaqah ula bisa diaktifkan agar semakin siap mengikuti DMW. Terima kasih kepada para asatidz dan panitia atas bimbingan dan kesabarannya,” tambahnya.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pakar pendidikan yang juga dai senior Hidayatullah KH. Dr. Ali Imron, M.Ag., mengingatkan bahwa kehadiran gerakan Islam hendaknya membawa maslahat yang menghadirkan perubahan signifikan bagi umat, bangsa, dan negara.
Hal itu ditegaskan dia dalam acara Forum Kamisan yang digelar Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Daerah Khusus Jakarta pada Kamis, 27 Safar 1447 (21/8/2025). Forum ini menjadi ruang refleksi atas perjalanan panjang organisasi Hidayatullah yang kini memasuki usia setengah abad.
Dalam paparannya, Ali Imron menekankan pentingnya memahami arah perubahan organisasi dengan kerangka historis, ideologis, dan sosial. Ia menyebut bahwa roda sejarah selalu digerakkan oleh tiga faktor besar yaitu pergeseran ideologi, perebutan materi, serta perubahan alam dan sosial teknologi.
“Zaman terus berkembang dan berubah. Karena itu, organisasi harus memiliki visi yang cerdas dan terukur agar mampu menjawab tantangan,” ujar KH. Ali Imron.
Siklus Perubahan
Pada forum itu, KH. Ali Imron menyoroti siklus organisasi yang secara alami melewati fase perintisan, pertumbuhan, pengembangan, hingga pembaharuan.
Pada fase perintisan, perjuangan lebih banyak ditopang oleh narasi iman, hijrah, dan jihad, serta kesadaran kolektif untuk berjuang bersama. Seiring waktu, fase pertumbuhan menuntut organisasi menegaskan posisi sosial-ekonomi sekaligus konsolidasi ideologi.
KH. Ali Imron menegaskan bahwa perjalanan Hidayatullah harus dipahami dalam konteks siklus kehidupan. “Setiap zaman ada orangnya, dan setiap orang ada zamannya. Karena itu, kepemimpinan dituntut adaptif, solutif, sekaligus berani,” ungkapnya.
Forum ini juga menyinggung berbagai tantangan internal, seperti pola kepemimpinan dan kaderisasi yang masih cenderung dogmatis, serta kesiapan sumber daya manusia untuk tampil sebagai tokoh berpengaruh.
Dari sisi eksternal, jelas KH. Ali Imron, organisasi menghadapi persaingan ideologi dengan berbagai gerakan lain serta persepsi publik tentang positioning yang sedang diperjuangkan.
Dalam catatan diskusi, kondisi stagnasi kerap muncul akibat kesenjangan intelektual, sosial, dan finansial. Hal ini kemudian memicu orientasi yang lebih bersifat penyelamatan individu ketimbang memperkuat kolektivitas.
Pentingnya Pembaharuan
Menjawab tantangan tersebut, KH. Ali Imron mendorong pentingnya gerakan pembaharuan yang meliputi re-definisi doktrin kepemimpinan, rasionalisasi kebijakan, dan prioritas program yang mencerahkan umat.
“Transformasi dalam melakukan perubahan masyarakat sangat terkait dengan proses transfer nilai, sistem kepemimpinan, atau pilihan strategi,” tegas KH. Ali Imron.
Menurutnya, perbaikan harus dilakukan secara konsisten dan sabar agar organisasi tidak kehilangan relevansi di tengah masyarakat. Dalam hal ini ia menekankan perlunya membangun generasi baru dengan visi dan strategi segar yang adaptif, cerdas, dan kreatif.
Menatap 50 Tahun Kedua Hidayatullah
Lebih lanjut, KH. Ali Imron mengajak semua terutama angkatan muda untuk terus melangkah optimis. Momentum 50 tahun Hidayatullah dianggap sebagai titik persimpangan yang menentukan.
Pada fase ini, terangnya, organisasi dihadapkan pada pertanyaan besar apakah memilih stagnan atau justru melahirkan energi baru untuk menatap masa depan.
Ali Imron mengingatkan bahwa kesetiaan jamaah dan keberanian pemimpin akan menjadi penentu arah gerakan. “Kesaktian ideologi dan kapasitas leadership akan menjadi saksi bagaimana Hidayatullah menapaki babak berikutnya,” ucapnya.
Diskusi Kamisan yang dimoderatori Direktur Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect) Imam Nawawi ini menutup catatan dengan menekankan perubahan adalah keniscayaan seraya menggarisbawahi bahwa organisasi yang mampu menata ulang strategi dengan tetap berpegang teguh pada nilai luhur Islam akan lebih siap menjadi alternatif solusi bagi problem umat dan bangsa.
“Dan (ingatlah) ketika Kami telah memberikan kepada Musa Kitab (Taurat) dan pembeda (antara yang benar dan yang batil) agar kamu mendapat petunjuk.”
Demikianlan kandungan makna atau terjemah dari lafaz kitabullah surah Al-Baqarah ayat 53: وَاِذْ اٰتَيْنَا مُوْسَى الْكِتٰبَ وَالْفُرْقَانَ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ
Ayat ini bukan sekadar penggalan sejarah, tetapi sebuah pesan universal bahwa wahyu adalah nikmat terbesar. Allah mengingatkan Bani Israil tentang anugerah Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa.
Kitab itu bukan beban, melainkan cahaya yang membedakan antara kebenaran dan kebatilan, halal dan haram, serta petunjuk dari kesesatan.
Wahyu sebagai Cahaya Kehidupan
Tafsir Jalalain menegaskan bahwa kata al-Furqaan adalah penjelasan dari Taurat itu sendiri, yakni fungsi kitab suci sebagai pembeda antara hak dan batil.
Tafsir al-Muyassar menyebutnya nikmat yang menyelamatkan dari kegelapan menuju jalan lurus. Sementara Ibnu Katsir memperluas makna dengan menyebutkan fungsi kitab sebagai baṣā’ir (pelita hati), hudā (petunjuk), dan raḥmah (rahmat).
Allah juga mengabadikan fungsi ini dalam QS. al-Qashash: 43:
“Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa al-Kitab setelah Kami membinasakan generasi-generasi terdahulu, sebagai pelita bagi manusia, petunjuk, dan rahmat, agar mereka mau mengambil pelajaran.” (QS. al-Qashash: 43)
Tiga fungsi ini berlaku untuk semua kitab suci yang diturunkan Allah Ta’ala, termasuk Al-Qur’an. Ia adalah cahaya batin yang membuka mata hati, penunjuk jalan kehidupan, dan rahmat yang membimbing menuju keselamatan dunia dan akhirat.
Hikmah dan Pelajaran
Dari ayat ayat ini, kita mendapati kepingan kepingan hikmah, bahwa Wahyu adalah nikmat terbesar. Allah mengingatkan Bani Israil bahwa Taurat adalah nikmat, bukan beban.
Begitu pula kita hari ini. Al-Qur’an adalah anugerah yang harus disyukuri, bukan sekadar dibaca tanpa penghayatan. Syukur itu diwujudkan dengan membacanya, memahaminya, dan mengamalkannya.
Wahyu sebagai pembeda kebenaran dan kebatilan. Di tengah derasnya arus informasi yang bercampur antara fakta dan manipulasi, Al-Qur’an adalah furqān. Ia membantu kita memilah mana yang benar dan salah, yang baik dan buruk, yang halal dan haram.
Tanpa wahyu, manusia mudah terjebak dalam kabut opini dan kepentingan duniawi.
Wahyu juga merupakan petunjuk bukan hanya untuk diketahui, tapi diikuti. Bani Israil mengenal isi Taurat, namun sebagian enggan mengamalkannya.
Itulah kesalahan yang tidak boleh kita ulang. Ilmu yang tidak diiringi amal hanya menjadikan seseorang tahu arah jalan, tetapi tetap tersesat karena tidak mau melangkah.
Lebih jauh lagi, Wahyu adalah nikmat besar yang hendaknya disertai tanggung jawab besar. Wahyu tidak hanya membawa keistimewaan, tetapi juga amanah. Allah menegaskan dalam QS. Al-Baqarah: 143:
“Dan demikianlah Kami menjadikan kalian umat yang pertengahan, agar kalian menjadi saksi atas manusia…”
Menjadi saksi kebenaran berarti menyampaikan kebenaran melalui ilmu dan dakwah, memperlihatkan ajaran itu melalui akhlak nyata, serta menjaga kemurnian wahyu dari penyimpangan.
Dari sini kita juga belajar dari sejarah umat terdahulu. Kisah Bani Israil bukan sekadar dongeng, tetapi cermin bagi kita. Mereka lalai mensyukuri wahyu, bahkan ada yang meremehkannya. Kesalahan itu menjadi peringatan agar kita tidak bersikap sama terhadap Al-Qur’an.
Renungan untuk Zaman Ini
Di era modern, manusia sering merasa lebih percaya pada data, algoritma, atau opini publik dibanding wahyu. Padahal, segala teknologi dan pengetahuan hanyalah alat. Tanpa wahyu, manusia kehilangan kompas moral.
Al-Qur’an datang untuk menghidupkan hati, mengajarkan keadilan, dan mengokohkan nilai kemanusiaan. Jika ia benar-benar menjadi pedoman, maka kehidupan akan tertata, bukan hanya secara spiritual, tetapi juga sosial, politik, dan peradaban.
Namun, nikmat wahyu bisa berubah menjadi bencana bila diabaikan. Tanpa kesadaran, Al-Qur’an hanya dibacakan di acara seremonial, tetapi tidak dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Inilah titik rawan yang harus kita waspadai.
Maka disinilah kewajiban kita sebagai mukmin untuk selalu berupaya menghidupkan wahyu dalam kehidupan.
Menghargai wahyu berarti menjadikannya sebagai sumber inspirasi hati, membaca dengan tadabbur, sehingga ayat-ayatnya menggerakkan hati untuk berubah.
Mari kita menjadikan wahyu Qur’ani sebagai kompas moral. Menjadikannya sebagai penentu benar-salah dalam keputusan pribadi maupun sosial.
Wahyu adalah panduan kita dalam beramal juga menerjemahkan nilai-nilainya dalam ibadah, muamalah, hingga dalam sikap berbangsa dan bernegara.
Al Qur’an adalah rahmat yang menyatukan. Wahyu yang dikandungnya merupakan perekat yang membawa manusia pada kebaikan bersama, bukan sumber perpecahan.
Akhirnya, kita diajak untuk merenung, apakah wahyu sudah kita syukuri sebagai nikmat terbesar, ataukah masih kita biarkan sekadar hiasan? Jawaban ini tidak cukup dengan kata, tetapi harus tampak dalam laku hidup sehari-hari.
*) Ust. Drs. Khoirul Anam,penulis alumni Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, Jatim, Anggota Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sumut, pengisi kajian rutin Tafsir Al Qur’an di Rumah Qur’an Yahfin Siregar Tamora dan pengasuh Hidayatullah Al-Qur’an Learning Centre Medan
SUMENEP (Hidayatullah.or.id) – Aula lantai tiga SMP Luqman Al Hakim, Pesantren Hidayatullah di bilangan Payudan Tengah, Mastasek, Pabian, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, hari itu dipenuhi semangat.
Sebanyak 35 peserta dari berbagai daerah berkumpul dalam Daurah Marhalah Wustho bertema “Transformasi Jati Diri Hidayatullah Menuju Terwujudnya Peradaban Islam” yang digelar pada pertengahan Agustus ini.
Kegiatan ini tidak sekadar forum belajar, melainkan juga ruang pembentukan karakter. Sambutan pembuka dari Ketua Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah Dr. Muhammad Shaleh Utsman, S.S, M.I.Kom, menegaskan bahwa kader Hidayatullah harus memahami jati diri mereka sebagai bagian dari perjuangan besar menegakkan nilai Islam.
“Daurah ini bukan sekadar pembelajaran, tetapi perjalanan ruhani yang membentuk karakter dan komitmen,” pesan Shaleh seperti dalam keterangannya, Rabu, 26 Safar 1447 (20/8/2025).
Keistimewaan daurah kian terasa dengan hadirnya tokoh pusat Hidayatullah, antara lain Ust. Dr. Nashirul Haq, MA., Ust. Ir. Hanifullah, dan Ust. Dr. Ir. H. Abdul Azis Qahhar, M.Si.
Mereka menyampaikan materi inti yang menekankan pentingnya penerapan nilai Islam dalam ranah pribadi, sosial, hingga kepemimpinan dakwah. Jajaran Dewan Murabbi Wilayah Jawa Timur juga turut hadir memperkuat spirit peserta.
Selama empat hari, peserta aktif mengikuti materi, diskusi, dan refleksi. Lebih dari sekadar menambah wawasan, daurah ini mempererat ukhuwah dan kesadaran spiritual. Para peserta pulang dengan tekad lebih kuat untuk mengimplementasikan nilai Islam dalam kehidupan nyata.
Pola interaktif ini membuat mereka tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga terlibat langsung dalam proses penguatan jati diri. Bagi Sugeng Purnomo, peserta dari Malang, pengalaman ini sangat berkesan.
Baginya, semangat kebersamaan yang lahir di Sumenep ini menjadi bekal penting dalam membawa nilai nilai peradaban Islam yang luhur untuk Indonesia Emas 2045.
“Penyampaian materi penuh semangat, panitia pun membuat kami nyaman dan fokus,” ungkapnya.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Praktisi Pemberdayaan Masyarakat, Sigit Iko Sugondo, menekankan pentingnya penerapan Zakat Core Principles (ZCP) sebagai standar tata kelola dan manajemen lembaga zakat.
Hal ini ia sampaikan saat menjadi pembicara dalam Pelatihan Kepemimpinan Amil Leader Baitul Maal Hidayatullah (BMH) 2025 Batch 3 di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Cipinang Cempedak, Jakarta Timur, Rabu, 26 Safar 1447 (20/8/2025).
Sigit menjelaskan bahwa ZCP merupakan seperangkat prinsip yang dirancang untuk memastikan lembaga zakat beroperasi secara amanah, transparan, akuntabel, dan sesuai syariah.
Ia menegaskan, prinsip ini sangat penting agar lembaga zakat mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat dan memaksimalkan manfaat zakat dalam pengentasan kemiskinan serta pemberdayaan umat.
“Zakat Core Principles (ZCP) adalah seperangkat prinsip inti sebagai standar tata kelola dan manajemen lembaga zakat,” ungkap Sigit.
Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa ZCP terinspirasi dari Core Principles for Effective Banking Supervision yang disusun oleh Basel Committee dan digunakan dalam dunia perbankan. Prinsip tersebut kemudian diadaptasi agar sesuai dengan konteks pengelolaan zakat di Indonesia.
“ZCP terinspirasi dari Core Principles for Effective Banking Supervision yang digunakan dalam dunia perbankan, lalu diadaptasi agar sesuai dengan konteks pengelolaan zakat,” jelasnya.
Dalam paparannya, Sigit juga menyoroti peran penting amil zakat Baitul Maal Hidayatullah (BMH) sebagai pengelola dana umat.
Menurutnya, amil memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga kepercayaan publik agar zakat, infak, dan sedekah dapat disalurkan secara adil, transparan, dan sesuai syariah.
“Amil zakat BMH sebagai pengelola dana umat memiliki peran strategis dalam menjaga kepercayaan publik dan memastikan bahwa zakat, infak, dan sedekah benar-benar tersalurkan secara adil, transparan, dan sesuai syariah,” tegas Sigit.
Oleh karena itu, ia menekankan bahwa mempelajari prinsip tata kelola zakat menjadi keharusan bagi setiap amil. Prinsip ini, menurutnya, tidak hanya meningkatkan kualitas pengelolaan lembaga, tetapi juga membangun profesionalisme dan akuntabilitas dalam menjalankan amanah umat.
Orientasi pada Pemberdayaan Mustahik
Sigit menjelaskan bahwa pemahaman yang baik terhadap prinsip-prinsip tata kelola akan memperluas fungsi amil. Amil tidak lagi sekadar menjadi penyalur dana, tetapi juga dapat berperan sebagai penggerak perubahan sosial dan ekonomi di tengah masyarakat.
“Dengan pemahaman yang baik terhadap prinsip-prinsip tata kelola, amil tidak hanya berfungsi sebagai penyalur dana, tetapi juga sebagai penggerak perubahan sosial-ekonomi umat,” ujar Sigit.
Ia menambahkan, hal ini sekaligus memperkuat legitimasi lembaga zakat di mata masyarakat dan regulator. Dengan demikian, keberadaan lembaga zakat dapat semakin dipercaya dan diakui sebagai pilar penting dalam pembangunan ekonomi umat.
Selain itu, penerapan prinsip tata kelola zakat juga berperan dalam membangun budaya integritas, kepatuhan syariah, dan mitigasi risiko di dalam lembaga.
Menurut Sigit, hal ini akan mendorong amil untuk senantiasa bekerja dengan penuh tanggung jawab dan menjaga kredibilitas lembaga zakat.
“Hal ini sekaligus memperkuat legitimasi lembaga zakat di mata masyarakat dan regulator, serta mendorong tumbuhnya budaya integritas, kepatuhan syariah, dan mitigasi risiko dalam setiap aktivitas kelembagaan,” pungkasnya.
BONTANG (Hidayatullah.or.id) — Ketua Kwartir Cabang Pramuka Bontang, Kak H. Budi Supriyanto, secara resmi melepas kontingen Hidayatullah Bontang untuk mengikuti Jambore Nasional (Jamnas) Islamic Scout Camp Hidayatullah III resmi dimulai pada Kamis, 21 hingga Ahad, 24 Agustus 2025, bertempat di Hidayatullah Pusat Gunung Tembak (Gutem) Balikpapan.
Dari Bontang, peserta berjumlah 161 santriwan-santriwati yang terbagi dalam empat regu SD, empat regu SMH putra, dan lima regu SMH putri, dengan tambahan 24 orang bina damping.
Seluruh kontingen dilepas secara resmi di lapangan Masjid Ar Riyadh, Kampus Hidayatullah Bontang pada Rabu, 26 Safar 1447 (20/8/2025).
Meski sejak malam sebelumnya kawasan kampus diguyur hujan rintik hingga deras, semangat pelepasan tidak surut.
Acara pelepasan dimulai pukul 08.15 WITA dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, menyanyikan lagu Indonesia Raya, Himne Satya Darma Pramuka, Mars Kota Bontang, doa, serta sambutan-sambutan.
Selain dihadiri Ketua Kwartir Cabang Pramuka Bontang, Kak H. Budi Supriyanto, turut hadir beserta sekretarisnya, Kak H. Misbahul Munir. Juga hadir para ketua dan pengurus majelis pembimbing ranting serta kwartir ranting Bontang Utara, Barat, dan Selatan.
Dari internal Hidayatullah tampak Dewan Pembina Ust. H. Jamaluddin I, Dewan Pengawas Ustadz Ahmad Wisnu, Ketua YPPH Kota Bontang Ust Firdaus, serta jajaran guru ustadz dan ustadzah Pesantren Hidayatullah Kota Bontang.
Dalam sambutannya, Kak H. Budi menegaskan pentingnya menjaga nama baik daerah.
“Kegiatan Jambore ini peserta membawa nama Kota Bontang. Maksimalkan kehadirannya di sana dengan berupaya sungguh-sungguh mengikuti kegiatan atau lomba-lomba yang diadakan panitia,” katanya.
“Perhatikan kebersihan, ketertiban, dan keamanan, serta selalu siaga menghadapi kondisi alam yang sering hujan,” ujarnya berpesan.
Acara pelepasan ditutup dengan penyerahan bendera Sako Hidayatullah Bontang oleh Kak H. Budi secara simbolis, menandai keberangkatan kontingen Jamnas III.
Prosesi berlangsung khidmat dengan doa bersama agar peserta senantiasa dilindungi Allah Ta’ala dan mampu membawa nama baik Kota Bontang di arena Jamnas.
Kegiatan berskala nasional ini diperkirakan diikuti sekitar 5.000 peserta dan 1.000 bina damping dari berbagai daerah di Indonesia.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Sinergi antara Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Baitul Maal Hidayatullah (BMH) dan Perum Perhutani terus diperkuat melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
Pada Rabu, 26 Safar 1447 (20/8/2025), jajaran BMH melakukan kunjungan resmi ke kantor Perhutani di Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan.
Kehadiran rombongan BMH disambut langsung oleh Kepala Divisi Keuangan Perhutani, Ahmad, serta Kepala Seksi Utama Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan, Suharsono.
Kunjungan ini menjadi momentum penting karena bertepatan dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dalam pelaksanaan program TJSL untuk budidaya pisang Cavendish.
Program ini sudah berjalan sejak awal 2025 dan direncanakan menghasilkan panen perdana pada Oktober mendatang.
“Alhamdulillah, program ini berkembang positif. Oktober nanti, insya Allah kita bisa menyaksikan panen perdana,” ujar Direktur Marketing BMH, Zainal Abidin, saat memberikan keterangan di sela pertemuan.
Menurutnya, pendekatan sinergis antara lembaga zakat dan badan usaha milik negara dapat berkontribusi signifikan pada peningkatan ekonomi masyarakat serta pelestarian lingkungan.
Harapan besar disematkan agar inisiatif ini terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi model pemberdayaan berbasis kemitraan di masa depan.
Dalam kesempatan yang sama, pihak Perhutani menekankan pentingnya keberlanjutan dan dampak program terhadap masyarakat.
“Kami berharap BMH dapat memastikan program berjalan baik. Yang tak kalah penting, manfaatnya bisa dirasakan masyarakat dan santri binaan BMH. Kalau berhasil, ini akan jadi contoh yang bisa kita laporkan ke kementerian dan terus kita lanjutkan,” kata Ahmad.
Sebagai mitra, BMH menyatakan kesiapan untuk menjaga kualitas pelaksanaan program. “Kami berkomitmen menjalankan program ini sebaik-baiknya agar pertumbuhan ekonomi masyarakat semakin berkualitas,” tambah Zainal Abidin.
Menurut Zainal, program budidaya pisang Cavendish tidak hanya berorientasi pada hasil pertanian, tetapi juga membuka ruang pemberdayaan bagi masyarakat di berbagai daerah. Salah satu kisah nyata datang dari seorang kepala keluarga di Sidoarjo, Jawa Timur.
Sebelumnya ia menggantungkan hidup sebagai pemulung, kini ia terlibat langsung dalam pengelolaan tanaman pisang Cavendish yang dikembangkan bersama BMH. Perubahan ini menjadi contoh bagaimana kolaborasi dapat memberikan peluang baru bagi peningkatan taraf hidup masyarakat.
Pertemuan ini ditutup dengan penandatanganan PKS yang mengikat kedua pihak dalam upaya mengembangkan kemitraan berkelanjutan.
Kolaborasi ini diharapkan tidak hanya menghasilkan panen pisang Cavendish berkualitas, tetapi juga menjadi model kerja sama yang mampu memberikan manfaat luas, baik bagi masyarakat maupun lingkungan.
Juri lomba kebersihan lingkungan Mushida melakukan pemantauan langsung kawasan (Foto: Dok. Mushida)
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Semarak Jambore Nasional ke-3 Sako Pramuka Hidayatullah (ISCH) disambut dengan inisiatif Muslimat Hidayatullah (Mushida) Balikpapan yang menggelar lomba kebersihan rumah dan lingkungan. Kegiatan ini menjadi bentuk nyata dukungan terhadap tema #lingkunganhijau dan #backtonature yang diusung pada acara Islamic Scout Camp of Hidayatullah tersebut.
“Ini dukungan riil Mushida untuk sukses ISCH. Kita sambut para peserta Jamnas dengan wajah tersenyum dan lingkungan yang bersih lagi berseri,” ujar Ustadzah Sholehah, Ketua Pengurus Daerah (PD) Mushida Balikpapan, dalam keterangannya, Selasa, 25 Safar 1447 (19/8/2025).
Lomba kebersihan tidak hanya diikuti oleh anggota Mushida, melainkan juga melibatkan warga sekitar dan mahasiswa.
Kegiatan ini bertepatan dengan momentum perayaan Hari Kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia.
Suasana kebersamaan terlihat di berbagai sudut lingkungan kampus tarbiyah dan dakwah Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan.
“Alhamdulillah, benar-benar semarak. Luar biasa dukungan warga RT khususnya di lingkungan kampus tarbiyah dan dakwah Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak,” kata H. Syamsul Ma’arif, Ketua Departemen Kampus dan Kewargaan Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Balikpapan.
Menurut H. Syamsul, partisipasi masyarakat tahun 2025 menunjukkan antusiasme yang lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal itu terlihat dari upaya warga dalam memperindah lingkungan, mulai dari kebersihan halaman rumah, penataan bunga, pengecatan dinding rumah, hingga pemasangan umbul-umbul dan pembangunan gapura di berbagai lorong perumahan.
“Alhamdulillah, sekali lagi terima kasih atas partisipasi semua warga dan ibu-ibu sekalian,” tambah H. Syamsul.
Pesan Lingkungan dan Harapan Mushida
Tagline Jamnas yang menekankan kelestarian lingkungan selaras dengan visi Mushida dalam menjaga lingkungan rumah dan pesantren. “Tagline Jamnas ini sejalan dengan harapan Mushida, bagaimana berkontribusi mewujudkan lingkungan hijau di seluruh lingkungan rumah dan pesantren secara umum,” ungkap Ustadzah Sholehah.
Seorang ibu warga RT 46 Villa Madani menuturkan manfaat lomba kebersihan tersebut. “Senang, sering-sering saja bikin lomba, biar rumahnya ikut bersih selalu,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kegiatan ini menciptakan kebersamaan karena warga turun bersama-sama membersihkan lingkungan sekitar.
ISCH III dijadwalkan berlangsung selama empat hari, mulai 21 hingga 24 Agustus 2025, di Kampus Induk Hidayatullah Balikpapan.
Panitia menyampaikan sejumlah tokoh nasional dijadwalkan hadir pada pembukaan acara, di antaranya Menteri Pemuda dan Olahraga RI Ario Bimo Nandito Ariotedjo, Gubernur Kalimantan Timur Dr. H. Rudy Mas’ud, Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka Komjen Pol (Purn) Drs. Budi Waseso, serta Ketua Umum DPP Hidayatullah K.H. Dr. Nashirul Haq.
Peresmian Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan oleh Menteri Agama Republik Indonesia saat itu, Prof. Dr. K.H. Mukti Ali, M.A., tampak juga salah satu tokoh mengenakan seragam Gerakan Pramuka (Foto: Dok. Hidayatullah)
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Bulan Agustus yang identik dengan perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, juga menyimpan catatan penting dalam sejarah perjalanan Pondok Pesantren Hidayatullah.
Selain sebagai bulan proklamasi bangsa pada Jumat, 17 Agustus 1945, Agustus juga menjadi momentum bersejarah berdirinya lembaga dakwah dan pendidikan Islam ini.
Peresmian Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan dilaksanakan pada Kamis, 5 Agustus 1976. Acara tersebut dihadiri langsung oleh Menteri Agama Republik Indonesia saat itu, Prof. Dr. K.H. Mukti Ali, M.A.
Sebelum resmi berdiri, cikal bakal pesantren ini dimulai pada Senin, 1 Muharram 1393 Hijriah atau 5 Februari 1973.
Ustadz Abdullah Said merintis pendirian pesantren yang sempat berpindah lokasi beberapa kali di Kota Balikpapan, hingga akhirnya menetap di kawasan Gunung Tembak, Balikpapan Timur. Lahan pesantren berasal dari hibah H. Darman, seorang dermawan setempat.
Dalam catatan Manshur Salbu melalui buku Mencetak Kader, peresmian tersebut dihadiri sejumlah tokoh agama dan pejabat pemerintahan. Di antaranya, K.H. Abdullah Syafi’i selaku Ketua Majelis Ulama Indonesia DKI Jakarta yang turut membawa putrinya, Hj. Tuti Alawiyah.
Turut hadir pula Gubernur Kalimantan Timur H. Ahmad Wahad Sjahranie, Walikota Madya Balikpapan H. Asnawie Arbain, serta Drs. Awang Faisjal yang menjabat Sekretaris Kota Madya Balikpapan.
Suasana peresmian berlangsung meriah dan penuh syukur. Kegiatan tersebut dimeriahkan oleh perkemahan siswa Pramuka se-Kota Balikpapan yang diadakan di halaman masjid kampus Gunung Tembak.
“Atas anjuran Walikota Madya, Asnawie Arbain, malamnya anak-anak Pramuka dari Kota Balikpapan mengadakan perkemahan di kampus,” tulis Manshur Salbu dalam Mencetak Kader.
Selain itu, simpatisan dari berbagai daerah turut hadir meramaikan acara. Kehadiran mereka memberi semangat baru bagi pesantren yang kala itu masih memiliki jumlah santri terbatas.
Pendiri Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said, dalam kesempatan tersebut menyampaikan pidato penuh semangat untuk membakar tekad para sahabat perjuangan dan santri.
“Kami dicap orang sebagai penghayal-pengkhayal agung, tapi insya Allah kami akan wujudkan khayalan itu dalam kenyataan,” ungkapnya.
Empat puluh sembilan tahun setelah momentum bersejarah itu, Gunung Tembak kini kembali menjadi pusat kegiatan besar pada Agustus 2025. Hidayatullah akan menyelenggarakan Islamic Scout Camp of Hidayatullah (ISCH) atau Jambore Nasional Sako Pramuka Hidayatullah III.
Jika pada 1976 peresmian pesantren dimeriahkan siswa Pramuka se-Balikpapan, maka tahun ini ribuan santri pramuka Hidayatullah dari berbagai daerah akan berkumpul di bumi perkemahan Gunung Tembak.
Ketua Panitia Pelaksana ISCH III, Kak Haji Abdul Malik, menyampaikan estimasi jumlah peserta. “Ditaksir hingga 2500 peserta, insya Allah,” ujarnya.
Dengan demikian, bulan Agustus bagi Hidayatullah bukan hanya peringatan kemerdekaan bangsa, tetapi juga tonggak perjalanan sejarah pendidikan, dakwah, dan pengkaderan yang terus berlanjut lintas generasi.
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – H-3 menjelang pelaksanaan Islamic Scout Camp of Hidayatullah (ISCH) III yang juga dikenal dengan sebutan Jambore Nasional (Jamnas) Sako Pramuka Hidayatullah, dukungan dari berbagai kalangan masyarakat dan pejabat terus berdatangan.
Kegiatan akbar yang dipusatkan di Bumi Perkemahan Gunung Tembak, Balikpapan, ini dijadwalkan akan dihadiri oleh lebih dari 2.500 santri Hidayatullah dari seluruh Nusantara.
Panitia pelaksana mencatat antusiasme tinggi dari para peserta. Persiapan dilakukan mulai dari latihan santri hingga pemenuhan perlengkapan keberangkatan. Sejumlah video persiapan dari berbagai daerah juga dikirim ke panitia media sebagai bentuk syiar dan penyemarak acara.
“Alhamdulillah, teman-teman santri di daerah terus bersemangat menyambut acara Jamnas ini,” ujar Syakur, panitia media ISCH III.
Dukungan Pemerintah Daerah
Dukungan terhadap kegiatan nasional ini turut datang dari kepala daerah. Walikota Makassar, Sulawesi Selatan, Munafri Arifuddin, S.H., menyampaikan apresiasi dan doa bagi kelancaran acara.
“Saya, Munafri Arifuddin, atas nama Pemerintah Kota Makassar mengucapkan selamat dan sukses ISCH Jambore Nasional III Sako Pramuka Hidayatullah,” ungkapnya dalam video yang diterima panitia media, baru-baru ini.
Tidak hanya Makassar, dukungan juga mengalir dari Maluku Utara. Ketua Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kota Ternate Merlisa Marsaoly, menyampaikan langsung dukungannya saat melepas keberangkatan kontingen santri Hidayatullah asal Ternate menuju Balikpapan.
Pelepasan Kontingen Ternate
Acara pelepasan kontingen Ternate dilaksanakan di lapangan Pondok Pesantren Hidayatullah Ternate pada Selasa (12/8/2025). Suasana kegiatan berlangsung penuh semangat dan kebersamaan, dihadiri para pengurus dan keluarga peserta.
Dalam kesempatan tersebut, Merlisa Marsaoly yang juga istri daripada Wali Kota Ternate M. Tauhid Soleman ini menegaskan rasa bangganya kepada santri yang terpilih mewakili daerah.
“Kakak bangga dengan adanya Sako Pramuka Hidayatullah di Maluku Utara, khususnya Ternate, yang memiliki warna kabilah tersendiri. Gunakan kesempatan ini untuk menambah wawasan, mempererat persaudaraan, dan membawa pulang pengalaman yang bermanfaat bagi kemajuan Pramuka dan generasi muda di Kota Ternate,” ujarnya.
Panitia mencatat bahwa kegiatan ISCH III dirancang bukan hanya sebagai ajang perkemahan, tetapi juga sebagai wahana pendidikan karakter, kepemimpinan, dan kebangsaan bagi generasi muda.
Para peserta dari berbagai daerah diproyeksikan dapat saling berinteraksi, berbagi pengalaman, dan memperkuat semangat kebersamaan dalam bingkai nasionalisme dan keislaman.