Beranda blog Halaman 678

Mengoptimalkan Hari-hari Terakhir Bulan Ramadhan

0

HIDORID — Di Indonesia, di setiap bulan Ramadhan, ada tradisi yang telah menjadi budaya sebagian besar masyarakat Muslim Indonesia, yaitu ngabuburit. Ngabuburit adalah istilah untuk bersantai dan buang waktu menjelang berbuka.

 

[youtube width=”600″ height=”450″ src=”YRYH1Rk9N_w”][/youtube]

BERITA FOTO: Indahnya Berbuka Puasa di Bandar Labuhan

0

Tampak sejumlah santri Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Medan, Desa Bandar Labuhan, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, sedang menanti detik-detik berbuka puasa seraya tetap melafazkan zikir dan baca qur’an.

Di kampus asri (Islamic Green Village) atas prakarsa umat ini kini menampung ratusan santri putri dan putri dari tingkat MI, Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah. Sebagian besar dari mereka adalah santri dari kalangan yang tidak berkecukupan. Di sini mereka nyantri dan dididik menjadi generasi bangsa kelak dengan biaya gratis. Dukungan dan partisipasi umat senantiasa dinantikan.

 

Indahnya Berbuka Puasa di Bandar Labuhan 1 GE DIGITAL CAMERA Indahnya Berbuka Puasa di Bandar Labuhan 4

Belajar dari Spirit Mandiri Pesantren Hidayatullah

SALAH satu pesantren yang cabangnya banyak di Indonesia yaitu Pesantren Hidayatullah. Kantor pusatnya di Gunung Tembak Balikpapan. Waktu saya berkunjung ke sana tahun 2005 lalu, pengurus pesantren bercerita bagaimana mereka mengembangkan cabangnya sampai berjumlah ratusan dan tersebar di seluruh Indonesia, dari Aceh sampai Papua.

Sebelum santrinya yang alumni Madrasah Aliyah dikirim ke suatu daerah, mereka terlebih dahulu ditanya, “Apakah kamu yakin Allah ada di mana-mana? Tentu saja jawabannya “yakin”.

Kemudian, ustadznya melanjutkan, “Kamu di sini bisa hidup karena Allah yang memberi rezeki. Nah, Allah di sini dan di manapun itu sama. Jika di sini kamu bisa hidup, maka yakinlah Insya Allah di manapun kamu juga bisa hidup”.

Apa yang terjadi kemudian? Saya pernah bertemu dengan salah seorang santri yang berhasil membuka cabang Pesantren Hidayatullah di Cirebon. Setelah memiliki modal keyakinan yang sangat kuat akan pertolongan Allah maka dia pun berangkat ke Cirebon.

Maka mulailah dia mencari mesjid, ikut membantu mengurus mesjid, lalu berkenalan dengan jamaah. Sampai akhirnya dia dekat dengan seorang jamaah yang punya rumah kosong tidak ada yang urus. Dia pun ditawari tinggal dan mengurus rumah tersebut sambil terus merintis pendirian Pesantren Hidayatullah.

Sampai akhirnya simpatisannya semakin bertambah dan saat saya bertemu, dia sudah diamanahi sebidang tanah yang luas untuk dibangun pesantren di atasnya. Demikian sampai akhirnya pesantren pun berdiri di seluruh Indonesia.

Demikianlah, kekuatan keyakinan akan pertolongan Allah yang terinspirasi dari firman Allah :

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (Q.S. Muhammad : 7)

Kekuatan ini memberikan ketenangan, optimisme, pikiran dan perasaan positif dalam menghadapi segala macam tantangan dan hambatan. Namun perlu diingat, mereka tidak hanya mengandalkan keyakinan. Menolong (agama) Allah hendaknya dimaknai secara luas.

Segala aktivitas yang diniatkan untuk menjalankan fungsi manusia sebagai khalifah (pemimpin) yang rahmatan lil ‘alamin. Bekerja di bidang ekonomi, social, pendidikan dan bidang apa saja asalkan untuk memberi manfaat kepada manusia dan alam semesta juga termasuk bagian dari itu karena dia masuk kategori kerja ibadah. Apalagi dijaga dengan nilai-nilai tauhid, ikhlas, amanah, jujur dan istiqamah.

Apakah keyakinan saja cukup? Ternyata belum. Keyakinan menjadi syarat wajib tapi belum cukup. Agar menjadi cukup dibutuhkan juga ikhtiar, kerja keras yang tak kenal lelah. Dari tanah subur keyakinan akan tumbuh tindakan positif yang selalu siap menghadapi kesulitan bahkan penderitaan demi tercapainya cita-cita dan menjalankan tugas mulia.

Segala kesulitan dan penderitaan dijadikannya pupuk kesabaran untuk mengundang rahmat dan pertolongan dari Allah SWT.  Allah berfirman :

“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,” (Q.S. Al Baqarah : 45)

Rahmat dan pertolongan Allah akan turun kepada mereka yang sabar dan banyak berdo’a melalui shalat yang khusyuk. Khusyuk juga bisa dimaknai dengan focus. Artinya saat mengerjakan sesuatu lakukanlah dengan focus pada target yang ingin dicapai.

Jangan berhenti, bersabarlah sampai engkau meraihnya. Menghadapi segala macam tantangan, hambatan, kesulitan dan penderitaan dalam perjuangan dibutuhkan sandaran yang kuat dan hanya Allah tempat menggantungkan segala sesuatu. Allah berfirman :

“Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia”. (Q.S. Al Ikhlash : 1-4)

Prinsip sabar dalam berjuang yaitu “gagal ulangi, salah perbaiki, sampai berhasil”. Jika gagal sekali itu belum gagal. Minimal kegagalan itu tujuh kali sebagaimana Siti Hajar yang berlari dari Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali sebelum menemukan air zamzam.

Akhirnya, jika ingin meraih rahmat dan pertolongan Allah dalam hidup ini maka milikilah 4 hal yaitu KIDS yang merupakan singkatan dari Keyakinan, Ikhtiar, Do’a dan Sabar.

Syamril1

Syamril, penulis adalah Koordinator Kalla Educare Yayasan Kalla | Human Capital Division Kalla Group. Tulisan ini dimuat juga di MediaKalla.

Hidayatullah Berpartisipasi di Helatan Kaltim Summit

Kamis, 25 Juli 2013 11:16

Sebagai bagian dari stakeholder pembangunan di Kaltim, Pondok Pesantren Hidayatullah menilai perlu ikut berpartisipasi dalam pelaksanaan Kaltim Summit II yang akan dilaksanakan di Hotel Gran Senyiur Balikpapan, 30-31 Juli 2013.

Hal itu diungkapkan Ketua Bidang Keuangan DPP Hidayatullah Ustad Asih Subagya yang didampingi Pembina SAR Hidayatullah Ustad Supriyadi dan Ketua PW Hidayatullah Kaltim Ustad Hamzah Akbar saat melakukan pertemuan dengan Pelaksanan Tugas Sekprov Kaltim Dr H Rusmadi di Kantor Gubernur Kaltim, Selasa (23/7).

“Ada kesamaan pemikiran antara Hidayatullah dengan Pemprov Kaltim, terutama untuk transformasi ekonomi setelah era migas dan batu bara, dengan mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas lewat pengembangan sektor pendidikan, dan pengembangan ekonomi melalui energi terbarukan,” ujar Asih.

Asih mengungkapkan, saat ini Pemprov Kaltim telah mempersiapkan SDM berkualitas dalam jangka panjang dengan baik melalui program Beasiswa Kaltim Cemerlang, yang diberikan bagi putra-putri Kaltim, termasuk santri dan santriwati Ponpes Hidayatullah di Kaltim.

Menurut dia, Hidayatullah memiliki banyak model pendidikan, mulai dari pendidikan gratis maupun berbayar. Hal itu dikembangkan melalui konsep boarding school yang juga menjadi program utama di sekolah-sekolah unggulan di Kaltim.

Selain itu, juga disampaikan pemikiran terkait transformasi ekonomi setelah migas dan batu bara dengan mengarah pada pengembangan agroindustri. Demikian halnya untuk ketahanan energi melalui pemanfaatan energi biomassa.

Sementara, Pelaksana Tugas Sekprov Kaltim Dr H Rusmadi menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kepedulian Hidayatullah terhadap program pembangunan di Kaltim, khususnya dalam rangka penyusunan Visi Kaltim Maju 2030 yang memang membutuhkan saran dan masukan dari seluruh pemangku kepentingan pembangunan di Kaltim.

“Transformasi ekonomi setelah migas dan batu bara telah lama menjadi pemikiran masyarakat Kaltim. Oleh karena itu, gubernur mengusung Visi Kaltim 2013 dengan tujuan utama, yaitu mewujudkan Kaltim sebagai pusat agroindustri dan energi terkemuka. Yang artinya, perlunya melakukan pengembangan sektor ekonomi unggulan berbasis SDA terbarukan dan tetap mengelola SDA tak terbarukan namun lebih fokus pada produk hilirnya,” kata Rusmadi.

Rusmadi menambahkan pada pelaksanaan Kaltim Summit II 2013 akan diprioritaskan pembicara-pembicara dari luar Pemprov, terutama untuk mencari masukan dalam merumuskan Visi Kaltim Maju 2030 “Pertumbuhan Kaltim Hijau yang Berkeadilan dan Berkelanjutan”.

“Kita inginkan pemikiran-pemikiran outsidedari seluruh pemangku kepentingan di Kaltim, baik dari kalangan pemuda, pengusaha, pendidikan, kesehatan, keagamaan  dan lainnya. Jadi semua pihak bisa berpartisipasi untuk menyumbangkan ide dan saran terkait Visi Kaltim Maju 2030,” tambahnya. (prov/hio)

Kejari Sambangi Hidayatullah Tanjung Selor

Di bulan Suci Ramadhan tahun ini, Kejaksaan Negeri Tanjung Selor, Bulungan, Kaltim, menggelar beberapa rangkaian kegiatan sosial yang dilaksanakan selama sepekan sejak awal minggu lalu. Salah satu kegiatannya adalah anjangsana ke Pondok Pesantren Hidayatullah di kota tersebut.

Kepala Seksi Pidana Khusus Kejari Tanjung Selor, Regie Komara, menjelaskan, kegiatan itu bagian dari rangkaian kegiatan Hari Bhakti Adhyaksa ke-53.

“Selain bersih-bersih tempat ibadah di Pesantren, kita juga memberi bantuan paket sembako yang diserahkan untuk para santri,” jelasnya. Kejari juga melakukan ziarah ke Taman Makam Pahlawan Telabang Bangsa di Tanjung Selor.

“Berbagai perlombaan bernuansa Islami kita gelar pula,” ujarnya. Yakni lomba hafalan doa sehari-hari kategori anak. Selain itu, lomba adzan untuk kalangan anak-anak dan lingkup Pegawai Kejari Tanjung Selor. Khusus untuk perempuan pihaknya mengadakan lomba hafalan Qur’an Surat pendek.

Ditegaskannya, kegiatan tersebut tidak hanya dilakukan saat Ramadhan. Namun sebelumnya juga pernah melakukan kegiatan bakti sosial serupa yang dihelat setiap tahun. Puncak kegiatan diisi buka puasa bersama di kantor Kejari.

“Rencananya kita akan mengundang sejumlah Pondok Pesantren dan komponen masyarakat di Bulungan. Sekaligus memberi bantuan pendidikan serta Al’quran,” jelasnya.

Berkaitan puncak peringatan Hari Bhakti Adhyaksa, jajaran Kejari menggelar upacara di halaman Kantor Kejaksaan, dipimpin langsung Kajari Tanjung Selor, Dwi Setyo Budi Utomo. Dalam upacara tersebut, melalui sambutan Jaksa Agung Basrief Arief yang dibacakan Kajari menegaskan, melalui perintah hariannya  agar dapat menjaga diri terutama institusi kejaksaan. Karena sikap dan perilaku aparat kejaksaan dapat mempengaruhi citra keluarga dan kejaksaan.

“Aparat kejaksaan diharapkan senantiasa mengambil bagian dalam menyelesaikan berbagai persoalan kemasyarakatan,” ujarnya.  Aparat kejaksaan juga dituntut mempersiapkan diri menyongsong penyelenggaraan Pemilu 2014. (kk/hio)

Ramadhan, Momentum Tepat Kelola Hawa Nafsu Menuju Taqwa

Ibadah Ramadhan adalah momentum yang terbaik untuk melatih diri mengendalikan hawa nafsu. Sebab, inti Ramadhan bukan terletak pada lapar dan dahaga. Melainkan pada terkendali atau tidaknya iman seseorang.

“Jika iman seseorang semakin menghujam ke dalam hati, insya Allah hawa nafsu akan terkendali. Sebaliknya, jika tidak, maka hawa nafsu akan berkuasa,” demikian taushiah Ketua Pengurus Pusat (PP) Hidayatullah Ustadz Drs. Tasryf Amin, M.Pd.I dalam kuliah singkatnya di Masjid Ummul Quro, Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, belum lama ini.

Oleh karena itu, pesan Ustadz Tasryf, kita harus memperbanyak ketaatan, utamanya di Bulan Ramadhan ini.

“Karena dengan ketaatan itulah iman akan dominan. Dan, mari kita jauhi kemaksiatan. Karena kemaksiatan itulah yang menyebabkan iman dikuasai hawa nafsu. Imam Ghazali mengatakan bahwa, iman itu bertambah dan berkurang,” paparnya.

Di akhir pemaparannya, Ustadz yang juga menjadi dewan pembina Pesantren Hidayatullah Batam ini menghimbau jamaah untuk terus-menerus meningkatkan kualitas ketaatan yang dilakukan selama Ramadhan.

“Mari kita perbaiki sholat kita, tahajud kita, tarawih kita. Dan, mari kita jauhkan kemaksiatan dalam kehidupan kita. Insya Allah, puasa tahun ini akan benar-benar mengantarkan kita menjadi sosok pemenang, yaitu manusia yang mampu mengendalikan hawa nafsunya,” tutupnya.

Keluarga Besar PMII Gelar Bukber di Hidayatullah Tjilik Riwut

Organisasi yang berada di bawah Nahdlatul Ulama (NU), Ikatan Keluarga Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA-PMII) Kota Palangkaraya bersama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Palangkaraya, Kalimantan Tengah, menggelar buka puasa bersama (bukber) di Masjid As-Salam, Pondok Pesantren Hidayatullah, Jalan Danau Rangas, Tjilik Riwut, Km6,5, Palangkaraya, beberapa waktu lalu (20/7)/2013.

Bukber yang dirangkai dengan kegiatan temu kangen tersebut dihadiri Pembina IKA-PMII Kota H Bambang Suryadi dan Ketua IKA-PMII Kalteng H Awaludin Noor itu. Selain untuk menjalin silaturahmi juga bertujuan meningkatkan rasa simpati dan empati terhadap kondisi sosial masyarakat terutama anak-anak yatim piatu yang dibina Panti Asuhan Darul Tazkiah. Panti asuhan ini sebagai salah satu unit yang dikelola Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Tjilik Riwut.

Sebagai Dewan Pembina IKA-PMII Kota, Bambang meminta antara IKA-PMII dan PMII Kota tetap selalu membina jalinan informasi dengan selalu berkoordinasi dalam setiap kegiatan agar terarah dan berjalan dengan baik, terutama dalam moment-moment penting bagi umat Islam, seperti bulan Ramadhan ini.

“Saya sangat mendukung sekali kegiatan seperti ini, saya harap antara IKA-PMII dan PMII selalu ada jalinan kebersamaan,” kata Bambang.

Sementara Ketua IKA-PMII Kota, Elly Saputra mengungkapkan IKA-PMII Kota baru terbentuk akhir Juni lalu, dan buka puasa bersama ini merupakan kali pertama kegiatan yang dilakukan.

Sebagai sarjana yang dulunya ketika mahasiswa tergabung dalam PMII, Elly menyadari bahwa PMII yang dibentuk oleh Nahdathul Ulama (NU) tetap berpegang pada pola pikir organisasi kemasyarakatan yang didirikan oleh Hadratussyekh H Hasyim Asyari tersebut.

“Tetapi PMII yang menginginkan kebebasan berpendapat secara keorganisasian sehingga independent dan terlepas dari kebijakan NU,” kata Elly seraya menambahkan bahwa semua itu sebagai wujud dari pola pikir IKA-PMII pula.

Elly juga menegaskan, sebagai organisasi yang beranggotakan intelektual yang berasal dari PMII, maka IKA-PMII tetap akan berpikiran kritis dalam menanggapi seluruh proses pembangunan baik di pemerintahan maupun di masyarakat.

Sementara itu, Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Palangkaraya,  Ustaz Muhammad Robi’in, menginformasikan bahwa saat ini di Panti Asuhan Darul Tazkiah yang dibinanya terdapat 64 anak yatim piatu yang semua menjalani pendidikan dari taman kanak-kanak hingga bangku kuliah.

Diterangkan pula di Ponpes Hidayatullah tersebut terdapat sekolah dasar terpadu dengan 30-an guru, dan mereka semua bekerja dengan ikhlas mengharap ridho Allah SWT sehingga bekerja tanpa digaji.

“Alhamdulillah saat ini kami dapat terus melaksanakan kegiatan belajar baik tingkat TK maupun sekolah dasarnya. Termasuk saat ini dilakukan pembangunan Masjid As-Salam. Dalam pembangunan ini kami tidak mengharap atau meminta kepada siapapun, kami hanya meminta kepada Allah SWT,” kata Robi’in.

Dalam kegiatan buka puasa bersama itu, tausiyah disampaikan Ustaz Syamsul Bahri yang menggugah kader PMII dan anggota IKA-PMII untuk menumbuhkan rasa empati, sehingga makna puasa di bulan Ramadan ini dapat dilaksanakan dengan tepat.

Dalam kesempatan itu, IKA-PMII juga memberikan kenang-kenangan kepada pihak pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah yang disampaikan oleh Ketua IKA-PMII Kalteng Awaludin Noor.

Tak Ada Televisi, Koran Jadi Pusat Informasi

SEHARI semalam “nyantri” di Ponpes Hidayatullah, Kaltim Post merasakan suasana kekeluargaan yang Islami kental terasa. Apalagi dengan intensitas ibadah yang lebih tinggi dari hari biasa.

Ditambah lingkungan pesantren yang asri dengan rimbun pepohonan serta danau yang tenang, menjadikan suasana lebih nyaman. Diakui media yang terbesar di Kalimantan Timur ini, keberadaan mereka sehari semalam di Kampus Hidayatullah Balikpapan bagai sedang melakukan kunjungan wisata religi.

Hal itu diulas panjang lebar media ini beberapa waktu lalu dalam sebuah tulisan berseri bertajuk “Ramadhan di Kota Santri”.

Bendahara Ponpes Hidayatullah Balikpapan, Achmad Sujaib, mengatakan di rumah warga di kompleks pesantren, tak ada televisi. Bagi warga pesantren, televisi termasuk barang yang banyak mudaratnya. Agar tak ketinggalan informasi, warga dan santri di ponpes selalu mengikuti pemberitaan di media massa. Biasa didapatkan dari koran atau majalah.

Di luar kegiatan akademisi, satu yang identik dari ponpes ini adalah rutin menggelar nikah massal bagi santri yang sudah memasuki usia dewasa dan ingin segera berkeluarga. Prosedur nikah massal ini sangat ketat. Kedua calon pasangan tidak boleh bertemu sebelum akad nikah.

Pemilihan jodoh dilakukan dengan mengisi formulir kesediaan untuk menikah, kemudian berkonsultasi dengan pihak panitia untuk mencari kecocokan kriteria calon pasangan hidup.

Peserta cukup menyerahkan Rp 2 juta. Jumlah itu sudah termasuk mahar, pakaian masing-masing kedua mempelai, pengurusan surat-surat administrasi ke Kantor Urusan Agama (KUA), dan konsumsi pembinaan pranikah peserta selama 15 hari.

Ada 800-an santri putra dan putri di Ponpes yang terletak di bilangan Gunung Tembak, Balikpapan, ini. Jumlah  terbanyak santri putri sekira 450 orang, sisanya santri putra. Mereka terpisah asrama dan tidak pernah ketemu satu sama lain. Kecuali ada acara besar yang diadakan ponpes, itupun mereka dipisahkan dengan hijab yang menjadi pembatas.

Masih dalam ulasan media tersebut, Pesantren yang bernaung di bawah Yayasan Hidayatullah ini juga punya gerai Baitul Maal Hidayatullah (BMH). Santri yang ditunjuk, biasanya aliyah dan mahasiswa, turun ke kota untuk menggalang dana dari masyarakat yang peduli, baik secara door to door maupun dengan membuka gerai pelayanan. (kp/hio)

Ini Kebijakan Baru Kemenag Terkait Pendidikan

Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, Bahrul Hayat menegaskan bahwa setidaknya ada 4 kebijakan baru Kemenag terkait dengan pendidikan yang akan ada pada tahun ini dan akan diteruskan pada 2014.

Penegasan ini disampaikan Bahrul dalam acara buka puasa bersama di kediamanya, Jl. Brawijaya 11, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Menurut Bahrul, kebijakan baru pendidikan yang ada pada tahun ini dan akan dilaksanakan pada 2014 adalah Pendidikan Menengah Universal (PMU). Bahrul menjelaskan bahwa PMU merupakan program perluasan akses pendidikan untuk MA dan SMA.

Kebijakan lainnya adalah yang terkait dengan implementasi kurikulum. Menurut Bahrul, kurikulum 2013 di madrasah akan mulai diimplementasikan pada tahun ajaran 2014-2015.

“Kemenag akan menyelenggarakannya secara serentak di semua kelas 1, 4, 7, dan kelas 10,” jelas Bahrul.

“Tahun ini kami konsern betul pada kesiapan guru. Pelaksanaannya akan 100% kelas 1,4,7,dan 10 tahun depan,” imbuh Bahrul.

Namun demikian, Bahrul menyatakan bahwa tugas Kemenag ada juga yang terkait dengan sekolah. Menurut Bahrul, setidaknya ada 6.250 sekolah yang ditetapkan Kemendikbud untuk menerapkan kurikulum 2013 dan di dalamnya ada guru agama.

“Karena Kemendikbud melaksanakannya tahun ini, maka guru agamanya pun ikut,” terang Bahrul.

Kebijakan lainnya, lanjut Bahrul, kita mentargetkan tahun ini dan ke depan tetap konsisten untuk mengalokasikan anggaran 40% beasiswa miskin. “Kalau Kemendikbud pada kisaran 25%, Kemenag menganggarkan pada angka 40% rata-rata,” jelas Bahrul.

“Jadi setiap madrasah, termasuk swasta, 40% dari seluruh siswanya yang masuk kategori miskin akan diberi beasiswa, dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) sampai Perguruan Tingga Agama (PTA),” tambah Bahrul.

Lebih dari itu, kata Bahrul, Kemenag telah menyediakan 75.000 beasiswa untuk seluruh PTA. “Ini diluar bidik-misi,” tegas Bahrul.

Kepada para wartawan, Bahrul juga menjelaskan bahwa tahun ini, Kemenag mentargetkan untuk membangun sekitar 12 Madrasah Aliyah Insan Cendekia (MAN IC) baru di beberapa provinsi.

“Ini semua dari sekolah baru karena kita ingin mimpi baru. Pemda dan Masyarakat banyak yang mau mewakafkan tanah. Luar biasa kemauan mereka untuk membantu.” Terang Bahrul.

Disinggung tentang prestasi madrasah yang tidak terlalu terdengar gaungnya, Bahrul mengatakan bahwa masalahnya terletak paada potret prestasi madrasah yang masih jarang diungkap saja. Ditambah lagi, lanjut Bahrul, persepsi publik masih menganggap bahwa kualitas madrasah seolah-olah lebih rendah.

Bahrul menegaskan bahwa anggapan seperti itu keliru. Menurutnya, madrasah terus mengukir prestasi yang memusakan. Sebagai contoh, untuk tahun 2013, Bahrul mengungkap beberapa fakta berikut: MAN IC Serpong menduduki ranking kedua secara nasional untuk seluruh SMA dan MA, kompetisi UIN Jakarta di bidang sainstek, telah masuk pada 10 terketat pada perguruan tinggi negeri, termasuk perguruan tinggi Kemendikbud.

Juga, perbandingan siswa yang ingin masuk Fakultas Kedokteran UIN Jakarta adalah 1:95. “Ini yang tertinggi dari kompetisi di perguruan tinggi umum,” ujar Bahrul. Ada juga MAN Malang menduduki rangking 1 dalam seleksi di Jepang serta Hasil UN MTs lebih baik dari SMP.

Ramadhan di Hidayatullah Gunung Tembak, Shalat Malam Tuntaskan 1 Juz

RAMADHAN menjadi bulan penuh ibadah di Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah, Gunung Tembak, Balikpapan. Kaltim Post, akhir pekan lalu sehari semalam mengikuti kegiatan keagamaan di ponpes terbesar di Balikpapan ini. Salat malamnya panjang bagi yang tak terbiasa.

==========

Bulan puasa tahun ini menandai dua tahun setengah Rahmat nyantri di Ponpes Hidayatullah. Santri asal Nusa Tenggara Barat (NTB) ini tercatat sebagai murid kelas tahfiz. Ini adalah kategori santri yang dikhususkan untuk menghafal Alquran di ponpes tersebut.

Ramadan tahun ini, santri kelas tahfiz tidak mendapatkan libur seperti kelas lain, yaitu awaliyah dan tsanawiyah. Sementara santri kelas aliyah dan perguruan tinggi selama Ramadan ini melakukan perjalan ke sejumlah kota untuk dakwah dan menggalang dana pesantren. Momen ini pun dimanfaatkan santri tahfiz seperti Rahmat untuk menambah hafalan ayat-ayat Alquran.

Saat bincang dengan Kaltim Post, Rahmat mengaku sudah hafal kurang lebih 15 juz dalam Alquran. Itu ditempuhnya dalam kurun waktu 1 tahun terakhir. “Saya baru hafal 15 juz dalam satu tahun ini, Ramadan kali ini menjadi kesempatan untuk menambah hafalan saya,” tuturnya.

Setiap usai salat wajib di masjid pondok, Masjid Ar Riyadh, biasanya penghafal-penghafal muda seperti Rahmat berkumpul untuk menyetor hafalan kepada ustaz pembimbing. Soal bagaimana metode menghapal ayat suci dengan cepat, Rahmat mengaku pasang standar satu hari satu lembar. Jika sudah hafal satu lembar, dia langsung presentasi hasilnya kepada ustaz pembimbing. Biasa dilakukannya usai salat Subuh.

“Kita di sini (Hidayatullah) menggunakan Alquran cetakan dari Arab, sehingga semua santri Alquran yang dipegang sama tiap halamannya. Jadi mudah bagi kami untuk melakukan sharing halaman yang sedang dihafalkan,” tutur santri yang duduk di kelas 2 tsanawiyah ini.

Sujaib, bendahara Ponpes Hidayatullah, mengatakan selain ada kegiatan khusus bagi penghapal Alquran, selama Ramadan di pesantren ini, volume ibadah jadi lebih banyak. Misalnya, salat malam durasinya ditambah, dari hanya satu jam menjadi tiga jam tiap malam. Mulai pukul 01.00 hingga 04.00 Wita. Jumlah bacaan ayat dalam salat dengan 11 rakaat ini adalah 1 juz setiap malamnya.

Salat malam, dilakukan usai istirahat sejenak, setelah salat Isya, tarawih, dan tadarus di masjid.

“Setiap malam selesai satu juz, jadi nanti pada saat malam terakhir kami telah menyelesaikan 30 juz. Ramadan tahun ini ‘kan genap 30 hari,” ungkap pria yang telah mengabdi di ponpes ini selama 21 tahun.

Saat di ponpes itu, media ini ikut salat malam. Benar saja, bacaan suratnya panjang-panjang. Meski begitu jamaah tetap khusyuk. Jamaah salat malam juga tak hanya datang dari santri dan ustaz, ada juga warga di sekitar pondok.

“Jamaah salat malam akan bertambah banyak ketika Ramadan memasuki 10 malam terakhir. Biasanya banyak santri yang berdatangan dari ponpes cabang Hidayatullah di seluruh Nusantara untuk iktikaf di masjid ini (Masjid Ar Riyadh),” jelas Sujaib.

Jadi, biasanya usai salat malam, istirahat sejenak, langsung lanjut sahur. Usai sahur dan salat Subuh, santri akan mendapat siraman rohani dan tafsir ayat Alquran yang disampaikan kelompok-kelompok pengajian warga di kompleks ponpes ini.

Sementara, seusai salat Zuhur santri melanjutkan ibadah dengan tadarus Alquran. Begitu juga setelah salat Asar.

Ponpes Hidayatullah di Balikpapan ini pusat dari seluruh abang Ponpes Hidayatullah di seluruh Nusantara. Pesantrennya tersebar, di antaranya, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, hingga Papua. (kp/hio)