Beranda blog Halaman 84

Dukung Pendidikan Santri Jawab Tantangan Masa Depan Bangsa dengan Kebaikan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Di tengah dinamika kebangsaan yang menuntut lahirnya generasi unggul berilmu dan berakhlak, pesantren tetap menjadi salah satu pilar utama pendidikan di Indonesia. Dukungan masyarakat terhadap pesantren bukan sekadar bentuk kepedulian sosial, tetapi juga investasi strategis bagi masa depan bangsa.

Hal inilah yang tercermin dalam penyaluran bantuan dari Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) untuk Pesantren Hidayatullah Yayasan Marhamah, Jakarta Timur.

Ketua Pengasuh Pesantren Marhamah, Imam Ma’arif, S.Pd.I menyampaikan rasa syukurnya atas bantuan yang diberikan. Ia menekankan bahwa dukungan tersebut bukan hanya meringankan beban pesantren, tetapi juga menumbuhkan semangat keberlanjutan kebaikan.

“Semoga kebaikan yang disalurkan ini terus berlimpah keberkahannya bagi keluarga besar BMH dan para donatur,” ujarnya, seperti dalam keterangan diterima media ini.

Imam Ma’arif sendiri telah lebih dari dua dekade mendedikasikan hidupnya bagi pendidikan santri di pesantren ini.

Bantuan yang disalurkan BMH terangnya menegaskan betapa pentingnya kolaborasi antara masyarakat, lembaga zakat, dan pesantren dalam menyiapkan masa depan bangsa. Dengan mencetak santri yang berilmu, berakhlak, dan peduli, pesantren menjadi ruang strategis untuk menanamkan nilai keindonesiaan yang kokoh.

Dukungan terhadap pesantren bukanlah upaya sesaat. Kebaikan yang terus mengalir, sebagaimana disampaikan Imam Ma’arif, akan berbuah keberkahan berkelanjutan, melahirkan generasi yang mampu menjawab tantangan zaman sekaligus menjaga identitas kebangsaan.

Pada Jum’at, 4 Rabi’ul Akhir 1447 (26/9/2025), BMH menyalurkan bantuan berupa 2 kuintal beras bagi 83 santri yang tinggal dan menuntut ilmu di Pesantren Marhamah Jakarta Timur. Bantuan ini diterima dengan penuh suka cita, sekaligus menjadi bukti nyata kepedulian umat terhadap pendidikan generasi mendatang.

Pesantren Marhamah memiliki tiga lokasi pendidikan di Jakarta, yaitu Marhamah Pusat di Jakarta Timur dengan 83 santri, cabang Jakarta Barat dengan 19 santri, serta cabang Jakarta Selatan dengan 22 santri.

Lembaga ini konsisten membina generasi yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga beradab, peduli, dan memiliki tanggung jawab sosial. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan misi BMH dalam mencetak sumber daya manusia unggul dan berkarakter.

Sebelum penyerahan bantuan, Kepala Humas BMH Pusat, Imam Nawawi, memberikan motivasi kepada para santri. Ia mengingatkan bahwa pendidikan bukan sekadar proses mengisi pengetahuan, melainkan juga mengasah cita-cita dan tindakan nyata.

“Program ini adalah bagian dari solusi konkret untuk menciptakan SDM unggul yang akan membawa kemajuan bagi Indonesia. Kalian para santri hari ini adalah pemberi warna dan pengaruh terhadap perjalanan bangsa ke depan,” tegasnya.

Respon positif pun datang dari kalangan santri. Salah seorang santri, Rafan Ersa, mengungkapkan rasa bahagia dan semangat barunya setelah mendengar motivasi dari Imam Nawawi.

“Senang, ya. BMH terus mendukung pendidikan kami. Apalagi sekarang ada Mas Imam yang juga menguatkan kami tentang bagaimana santri harus mengisi kehidupan sehari-hari dengan kekuatan pikiran, cita-cita, dan tindakan. Itu benar-benar membuat saya ingin lebih giat ibadah dan menuntut ilmu,” ucap Rafan.

Hidayatullah Surabaya Jadi Ruang Perjumpaan Ulama Perkuat Kebangsaan

0

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Dalam sejarah panjang bangsa Indonesia, pesantren telah menjadi salah satu pilar penting peradaban. Bukan sekadar lembaga pendidikan, pesantren juga berperan melahirkan pejuang kemerdekaan sekaligus membentuk pemimpin moral bangsa.

Hal tersebut ditegaskan Wakil Ketua DPD RI, Drs. H. Tamsil Linrung yang menjadi narasumner dalam forum Silaturahmi Kebangsaan yang digelar di Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Rabu, 2 Rabi’ul Akhir 1447 (24/9/2025).

“Sejak dahulu pesantren telah menjelma sebagai rumah peradaban. Dari rahim pesantren, lahir para pejuang kemerdekaan, para pemimpin penjaga moral bangsa ditempa. Maka ketika hari ini kita duduk bersama di Pesantren Hidayatullah, sesungguhnya kita sedang menyambung mata rantai perjuangan, menjaga api sejarah, dan menjaga peran pesantren sebagai mercusuar bangsa,” ujar Tamsil.

Kegiatan ini merupakan penyelenggaraan kedua Silaturahmi Kebangsaan di Hidayatullah Surabaya. Mengangkat tema “Peran Ulama dalam Menyelamatkan Bangsa dan Negara”, acara tersebut dihadiri bersama lebih dari 200 ulama, kyai, habaib, dan tokoh masyarakat.

Dua narasumber utama, yaitu Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo dan Tamsil Linrung, memimpin diskusi tentang kondisi kebangsaan, keumatan, dan kenegaraan pada tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Ketua Badan Pengurus Hidayatullah Surabaya, H. Samsudin, SE, MM, dalam sambutannya menekankan pentingnya konsistensi perjuangan ulama demi kepentingan rakyat.

“Kita tidak boleh lelah untuk berjuang, sebab suara ulama adalah napas umat. Kita harus memastikan bahwa setiap kebijakan berpihak pada kesejahteraan masyarakat, bukan hanya kepentingan segelintir orang,” ungkapnya.

Dalam keterangannya, Tamsil menegaskan bahwa ulama dan negara memiliki relasi konstruktif. “Ulama bukan sekadar pengiring kebijakan. Ulama penjaga arah agar negara tetap berpijak pada maslahat umat,” katanya. Ia juga menilai kepemimpinan Presiden Prabowo menunjukkan ekspresi kepemimpinan kuat yang diwujudkan dalam substansi kebijakan.

Salah satu kebijakan yang ia soroti adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurut Tamsil, program ini menjadi representasi nyata komitmen negara memberantas korupsi dan mengutamakan rakyat. “Efisiensi yang tadinya dinikmati oleh elit, justru diarahkan langsung kepada rakyat melalui Program Makan Bergizi Gratis,” jelasnya.

Tamsil mengaitkan program tersebut dengan ajaran Islam. “Rasulullah mengajarkan kita, bahwa memberi makan memiliki kedudukan setara dengan shalat malam dan silaturahim. Saya menemukan beberapa refleksi dari tafsir kontemporer perintah memberi makan. Tafsir yang menyatu dengan fenomena kauniyah,” ujarnya.

Ia menambahkan, MBG memiliki dimensi spiritual sekaligus sosial-ekonomi. “Berdimensi spiritual karena ia melanjutkan risalah Nabi tentang memberi makan sebagai jalan ibadah. Berdimensi sosial-ekonomi karena ia menggerakkan rantai pasok lokal: petani, nelayan, peternak, hingga pelaku usaha kecil,” tegasnya.

Sementara itu, Gatot Nurmantyo mengingatkan pentingnya persatuan ulama untuk memperkuat bangsa. “Ulama jangan hanya sibuk dengan organisasinya sendiri. Saatnya bersatu dan menyuarakan aspirasi rakyat secara bersama-sama,” katanya.

Acara ditutup dengan penegasan komitmen Hidayatullah Surabaya untuk terus menjadi ruang perjumpaan ulama dan umat, memperkuat nilai kebangsaan, memperjuangkan aspirasi rakyat, serta membangun generasi penerus berkarakter, berilmu, dan berakhlak mulia.

LSH Hidayatullah Gelar Pelatihan Sembelih Halal Dua Hari di Lombok Barat

0

LOMBAR (Hidayatullah.or.id) — Pelatihan Juru Sembelih Halal (Juleha) yang diselenggarakan oleh Lembaga Sembelih Halal (LSH) Hidayatullah dilaksanakan di Kabupaten Lombok Barat pada 3-4 Rabiul Akhir 1447 (25–26/9/2025).

Kegiatan ini dibuka secara resmi pada Kamis, 25 September 2025, bertempat di Aula Dinas Pertanian Lombok Barat. Acara pembukaan diresmikan oleh Asisten III Bupati Lombok Barat.

Panita acara H. Kholid Zuhri, M.Pd., yang juga Ketua LSH Hidayatullah NTB, menyampaikan bahwa kegiatan ini menandai langkah penting dalam penguatan kapasitas juru sembelih halal di Lombok Barat, dengan melibatkan kolaborasi antara lembaga keagamaan, pemerintah daerah, dan lembaga keuangan untuk mendukung penerapan standar halal secara menyeluruh.

Pelatihan tersebut menghadirkan narasumber utama, H. Nanang Hanani, S.Pd.I., MA., selaku Ketua LSH Hidayatullah Pusat. Ia menyampaikan materi tentang dimensi praktis dan manajerial dalam pelaksanaan penyembelihan hewan yang terstandar syar’i dan halal.

“Pelatihan ini mengupas tuntas dimensi praktis dan manajerial dalam pelaksanaan penyembelihan hewan yang terstandar dan halal,” ungkap Nanang.

Selain itu, hadir pula Ust. H. Muhammad Syarif, S.Pd.I., dari unsur Pengurus Pusat LSH Hidayatullah. Ia membawakan materi tentang fiqih udhiyah dan manajemen penyembelihan hewan berbasis prinsip ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal).

“Penyembelihan hewan harus memperhatikan aspek syariah sekaligus aspek kesehatan dan keamanan pangan,” jelasnya.

Acara pembukaan turut dihadiri oleh berbagai tokoh dan lembaga. Wakil Bupati Lombok Barat diwakili oleh Asisten III Pemkab Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Lombok Tengah, Zarkasi.

Hadir pula Pimpinan Baznas Provinsi NTB, Ust. Ardi Samsuri, Pimpinan Baznas Kabupaten Lombok Barat TGH. Muhammad Taisir Al-Azhar, perwakilan Bank Indonesia Cabang Mataram, Kepala Dinas Pertanian Lombok Barat Damayanti Widyaningrum, dan perwakilan unsur Kementerian Agama Lombok Barat.

Hadir juga pada kesempatan itu Satgas Halal Kementerian Agama, serta para peserta dari Juru Sembelih Rumah Potong Hewan (RPH) dan Rumah Potong Unggas (RPU) di wilayah Lombok Barat dan Kota Mataram.

Selain materi pokok, peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai sertifikasi Nomor Kontrol Veteriner (NKV) dari Dinas Pertanian Provinsi NTB. Kegiatan berlangsung dengan suasana akademis yang menekankan pentingnya pengetahuan teknis dan syariah dalam praktik penyembelihan halal.

Sebagai bagian dari rangkaian acara, dilakukan penyerahan cendera mata berupa golok dari Ketua LSH Pusat, H. Nanang Hanani, kepada Asisten III Bupati Lombok Barat dan perwakilan Bank Indonesia Cabang Mataram.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan praktik penyembelihan sapi di RPH Majeluk Mataram, pengukuhan pengurus LSH Lombok Barat, serta pelantikan pengurus Daerah LSH Hidayatullah Lombok Barat.

Ekosistem Kebaikan dari Perkampungan Penisir Tanjung Palas

0

BULUNGAN (Hidayatullah.or.id) — Di berbagai pelosok Indonesia, semangat kebersamaan terus menemukan bentuknya dalam aksi nyata. Dari kota hingga pedalaman, gotong royong sebagai warisan budaya bangsa tampil dalam wajah-wajah baru, salah satunya melalui kegiatan sosial keagamaan.

Di Bulungan, Kalimantan Utara, aksi sederhana pembagian makanan bagi warga dan mualaf menjadi bukti bahwa nilai keindonesiaan masih hidup dalam keseharian masyarakat.

Amin Umar, Kepala ULZ BMH Bulungan, menegaskan makna terdalam dari kegiatan tersebut. Ia menjelaskan bahwa program ini tidak sekadar bersandar pada rutinitas amal, tetapi memiliki tujuan yang lebih luas.

“Kami ingin membangun kebersamaan. Kegiatan ini adalah cara kami menjangkau dan merangkul mereka yang membutuhkan, termasuk mualaf yang seringkali menghadapi tantangan dalam beradaptasi,” katanya dalam keterangannya, Jum’at, 4 Rabi’ul Akhir 1447 (26/9/2025).

Amin menerangkan, gerakan sosial bukan hanya tentang berbagi materi, melainkan juga soal merawat identitas, menguatkan iman, dan menjaga persaudaraan dalam bingkai kebangsaan.

Di tengah keragaman Indonesia, mualaf kerap menghadapi jalan terjal dalam menyesuaikan diri. Dukungan berupa perhatian, pendampingan, dan kehangatan komunitas menjadi kebutuhan mendasar agar mereka tidak merasa terasing di tanah sendiri.

Kegiatan pada Jumat itu berlangsung di perkampungan Penisir, Tanjung Palas, sebuah kawasan yang berdampingan dengan aliran Sungai Kayan. Sebanyak 74 paket makanan siap santap disalurkan kepada masyarakat, terutama santri TPA dan komunitas mualaf.

Pembagian makanan sederhana ini sarat makna, sebab menyatukan aspek jasmani dan rohani yang mengenyangkan perut sekaligus menguatkan keyakinan.

Salah seorang ibu warga Penisir menyampaikan haru dan rasa syukurnya. “Terima kasih banyak atas kebaikan yang tak terhingga. Bukan hanya makanan, tapi juga bimbingan Al-Qur’an untuk kami dan anak-anak. Semoga Allah membalas dengan pahala yang besar,” ungkapnya dengan suara bergetar.

Ucapan ini menjadi kesaksian bahwa program tidak berhenti pada tataran bantuan, tetapi juga menyentuh dimensi pendampingan keagamaan yang berkelanjutan.

Kolaborasi antara Baitul Maal Hidayatullah (BMH) dan Muslimat Hidayatullah (Mushida) Bulungan menjadi motor utama kegiatan tersebut. Melalui sinergi dengan para donatur, kegiatan ini menghadirkan ekosistem kebaikan yang terus bergerak. Bukan hanya membagikan santapan, melainkan juga membangun rasa memiliki dalam satu ikatan umat dan bangsa.

Amin Umar menambahkan, program ini pada hakikatnya adalah cara mengubah sedekah menjadi solusi nyata. Melalui jaringan filantropi Islam, zakat, infak, dan sedekah dapat diterjemahkan dalam bentuk pelayanan sosial yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.

“Program ini adalah pengingat bahwa di setiap sudut Indonesia, ada kebaikan yang bekerja diam-diam, menumbuhkan harapan di tempat-tempat yang paling membutuhkan. Melalui BMH, zakat, infak dan sedekah dapat mewujudkannya,” tuturnya.

Pesan yang tersirat dari kegiatan ini adalah bahwa solidaritas masih menjadi urat nadi bangsa. Ia menunjukkan bagaimana nilai kemanusiaan dan keislaman berjalan beriringan, melahirkan ruang persaudaraan di tengah keragaman.

Dari tepian Sungai Kayan, cerita sederhana ini menegaskan kembali bahwa Indonesia dibangun di atas landasan saling merangkul dan berbagi.

Literasi Keuangan Syariah Bekali Santri Pesantren Hidayatullah Menuju Kemandirian Ekonomi

0

PALANGKA RAYA (Hidayatullah.or.id) — Indonesia dikenal sebagai negeri dengan basis pendidikan Islam yang kuat, di mana pesantren tidak hanya berfungsi sebagai pusat pembelajaran agama, tetapi juga sebagai wadah pembentukan kemandirian.

Di tengah tantangan zaman, pesantren dituntut untuk menghadirkan generasi yang tidak hanya cakap dalam ilmu agama, tetapi juga mampu mengelola kehidupan secara mandiri, termasuk dalam bidang ekonomi.

Ketua Pondok Pesantren Hidayatullah Palangka Raya, Muhammad Usamah Sudiono, menegaskan bahwa literasi keuangan syariah merupakan bekal penting bagi para santri.

“Literasi keuangan syariah ini sangat penting sebagai bekal santri untuk memiliki kecakapan dalam mengelola keuangan dan usaha berbasis syariah,” ujarnya dalam kegiatan Inkubasi Ekosistem Pesantren Inklusif Keuangan Syariah (EPIKS) di Palangka Raya, Selasa, 1 Rabi’ul Akhir 1447 (23/9/2025).

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kalimantan Tengah, Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Kalteng, BSI Palangka Raya, dan menggandeng Pondok Pesantren Hidayatullah Palangka Raya.

Dengan mengusung tema “Membangun Kemandirian Pesantren”, kegiatan yang digelar di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Palangka Raya, Jalan Danau Rangas, Kelurahan Bukit Tunggal, Kecamatan Jekan Raya, Kota Palangka Raya ini melibatkan para santriwan dan santriwati sebagai peserta utama.

Usamah mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan tersebut sebagai langkah nyata mendukung kemandirian pesantren.

“Kami sangat menyambut baik kegiatan ini karena memberikan bekal penting bagi santri untuk memahami literasi keuangan syariah,” katanya.

Usaman memandang, literasi keuangan syariah di lingkungan pesantren penting sebagai modal utama untuk menyiapkan generasi muda yang berdaya. Pesantren yang selama ini identik dengan pendidikan agama, kini diarahkan agar santrinya juga siap menghadapi tantangan ekonomi dengan landasan prinsip syariah.

“Melalui pemahaman ini, kami berharap pesantren dapat semakin mandiri dan mampu mengembangkan potensi ekonomi berbasis nilai-nilai syariah,” jelasnya.

Dari sisi regulator, program EPIKS dianggap sebagai inisiatif strategis. Kepala OJK Provinsi Kalimantan Tengah, Primandanu Febriyan Aziz, melalui Asisten Direktur Senior OJK Kalteng, Andrianto Suhada, menyampaikan bahwa pesantren memiliki posisi vital dalam membangun generasi berdaya saing.

“Pesantren memiliki peran besar dalam membentuk generasi yang tidak hanya berilmu, tetapi juga mandiri secara ekonomi,” kata Andrianto.

Ia menambahkan, tujuan dari EPIKS bukan hanya sekadar memberikan wawasan, tetapi juga mengintegrasikan nilai-nilai syariah dengan praktik pengelolaan keuangan modern.

“Melalui program EPIKS, kami ingin mendorong agar santri memiliki pemahaman literasi keuangan syariah sekaligus mampu mengembangkan potensi ekonomi pesantren secara berkelanjutan,” ujarnya.

Program ini sejalan dengan upaya nasional mendorong inklusi keuangan syariah yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Pesantren, dengan jumlahnya yang banyak lebih dari 42.433, dipandang sebagai titik strategis untuk memperluas pemahaman keuangan berbasis syariah. Selain mendidik santri menjadi pribadi berilmu, pesantren juga diharapkan menjadi pusat pemberdayaan ekonomi umat.

Melalui kerja sama lintas lembaga, Usamah menambahkan, pesantren dapat memperkuat peran ganda sebagai pusat pendidikan sekaligus penggerak ekonomi.

“Dengan begitu, pesantren tidak hanya melahirkan generasi alim, tetapi juga mandiri dan produktif dalam memberikan kontribusi bagi bangsa,” tukasnya menandaskan.

Memperjuangkan Visi, Diskusi Kamisan Jakarta Dorong Kader Ambil Peran Transformasi Nilai

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam perjalanan perjuangan dakwah, semangat untuk tidak hanyut dalam arus keadaan menjadi salah satu penanda penting kematangan sebuah gerakan.

Sejarah menunjukkan, risalah dakwah yang dibawa oleh Rasulullah dan para sahabat tidak berhenti hanya karena hadangan rintangan dan beragam godaan duniawi. Demikian pula ketika Hidayatullah dirintis anak anak muda dengan segala kelemahan dan keterbatasannya, dapat terus eksis dalam melakukan transformasi nilai.

Semangat inilah yang kembali digugah dalam forum Diskusi Kamisan yang digelar secara daring dari Jakarta.

“Orang yang beriman tidak hanyut dalam situasi yang ada, melainkan justru mengendalikan dan mengubah situasi. Sebaliknya, orang yang pasrah hanya mengikuti arus,” tegas Ust. H. Suharsono Darbi, pemikir sekaligus Anggota Dewan Mudzakarah, dalam forum pekanan digelar Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jakarta ini, Kamis, 3 Rabi’ul Akhir 1447 (25/9/2025)

Diskusi ini merupakan rangkaian semarak menuju Musyawarah Nasional (Munas) ke-VI Hidayatullah. Mengambil tema provokatif “Apa Magnet Munas Bagi Kader?”, acara ini dimaksudkan sebagai ruang perenungan sekaligus peneguhan sikap kader dalam menatap agenda besar organisasi.

Menurut Haji Suharsono, Munas bukanlah peristiwa yang hanya dinantikan kedatangannya. Lebih jauh, Munas harus dimaknai sebagai arena transformasi yang digerakkan oleh kesadaran dan inisiatif para kader. “Kader bukan objek yang menunggu, tetapi subjek yang harus menciptakan inisiatif besar,” ujarnya.

Ia menegaskan, kualitas sebuah Munas akan ditentukan oleh sejauh mana kader hadir dengan gagasan, gerak, dan kontribusi nyata. Bukan sekadar menanti hasil, melainkan menjadi bagian aktif dari proses perubahan yang diusung.

Dalam forum ini, Suharsono juga mengutip pemikiran filsuf asal Asia Selatan, Muhammad Iqbal. Iqbal, kata dia, membedakan antara pribadi beriman dan yang tidak. “Jika Anda beriman, cakrawala tenggelam dalam diri Anda. Jika Anda kafir, Anda tenggelam dalam cakrawala,” kutipnya.

Pesan ini, lanjutnya, menegaskan bahwa kader Hidayatullah dituntut untuk tampil sebagai pengendali arus, bukan sekadar pengikut keadaan.

“Semoga Tuhan menyentuhkan ruhmu kepada badai yang baru. Karena tidak aku lihat gelombang di dalam air mukamu,” ujar Suharsono mengutip Iqbal sebagai peringatan agar kader tidak terjebak pada kenyamanan hidup yang stagnan.

Suharsono juga menekankan seruan moral bagi para kader untuk meneguhkan peran dalam membangun umat sekaligus peradaban bangsa. Sebagaimana gerakan dakwah sebagai perjuangan nilai yang lahir dari keyakinan dan keberanian mengubah situasi, kader Hidayatullah pun diingatkan bahwa perubahan hanya mungkin terwujud bila dimulai dari kesadaran pribadi.

Refleksi yang mengemuka menegaskan, masa depan Hidayatullah tidak akan bergerak hanya dengan menunggu momentum. Ia harus digerakkan oleh jiwa-jiwa yang berani menjadi gelombang perubahan, menghidupkan nilai-nilai iman dalam tindakan nyata, serta memberikan kontribusi bagi bangsa yang lebih besar.

Menutup materinya, Suharsono mengingatkanb bahwa setiap kader Hidayatullah memiliki tanggung jawab historis menghadirkan perubahan dengan iman, tekad, dan kesadaran untuk mengendalikan arah perjalanan sejarah.

Hidayatullah Susun Buku Panduan Pendidikan Integral Berbasis Tauhid

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah tengah menyusun Buku Panduan Pendidikan Integral Berbasis Tauhid (PIBT) sebagai langkah strategis memperkuat pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai tauhid. Proses penyusunan berlangsung selama beberapa hari mulai Rabu ini, 3 Rabi’ul Akhir 1447 (25/9/2025), bertempat di Pesantren Hidayatullah Depok.

Penyusunan panduan ini merupakan bagian dari upaya sistematis dalam mewujudkan pendidikan yang kokoh serta relevan dengan kebutuhan umat dan bangsa. Menurut penjelasan Ustadz Dr. Nanang Noerpatria, Kepala Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Depdikdasmen) DPP Hidayatullah, tujuan utama dari PIBT memiliki cakupan yang fundamental.

“Spirit hadirnya PIBT ini adalah untuk kebangkitan Islam, agar peradaban Islam bisa tegak kembali,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa penyusunan panduan ini akan menjadi penguat semangat keimanan dalam menjalankan misi pendidikan.

“Glora iman kita tidak akan pernah redup apalagi padam dalam mewujudkannya,” tegas Nanang Noerpatria dalam keterangannya.

Nanang menjelaskan, kehadiran panduan pendidikan berbasis tauhid ini sebagai instrumen penting dalam membangun fondasi pendidikan integral.

Harapannya, ungkap Nanang, setiap proses belajar mengajar di lingkungan Hidayatullah tidak hanya menghasilkan capaian akademik, tetapi juga mengakar pada nilai-nilai iman yang mendasari peradaban Islam.

Langkah penyusunan PIBT ini juga tidak terlepas dari program kerja Depdikdasmen 2025. Sebelumnya, gagasan tersebut telah melalui pembahasan dalam rapat koordinasi Tim Nasional Depdikdasmen DPP Hidayatullah.

Dengan adanya panduan komprehensif tersebut, diharapkan pendidikan yang dijalankan Hidayatullah semakin terarah, konsisten, serta berdaya guna dalam mencetak generasi berkarakter.

Penyusunan PIBT tidak berhenti pada forum kali ini. Proses pengembangan materi akan terus berlanjut secara bertahap.

Pertemuan lanjutan sudah dijadwalkan pada 2 hingga 3 Oktober 2025, dengan fokus memperdalam substansi dan memperkuat kerangka panduan agar siap diimplementasikan dalam lembaga pendidikan Hidayatullah di seluruh Indonesia.*/

Ketua Umum Hidayatullah Hadiri Peringatan Hari Nasional Arab Saudi

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. H. Dr. Nashirul Haq, M.A., menghadiri peringatan Hari Nasional Arab Saudi ke-95 yang digelar di Hotel Raffles, Jakarta, Selasa malam, 1 Rabi’ul Akhir 1447 (23/9/2025).

Kehadiran H. Nashirul Haq menjadi simbol apresiasi sekaligus penguatan hubungan kerja sama antara perkumpulan keagamaan ini dengan Kerajaan Arab Saudi, sekaligus menegaskan keterikatan budaya dan keagamaan yang erat antara Indonesia dan Arab Saudi.

Acara yang diinisiasi oleh Kedutaan Besar Arab Saudi di Indonesia ini bertema “Kebanggaan akan Alam Kita” (Our Pride in Our Nature), menekankan kualitas yang membentuk semangat bangsa Arab Saudi dan mencerminkan identitas serta nilai-nilai masyarakatnya.

Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, H.E. Mr. Faisal Abdullah H. Amodi, hadir langsung dan dalam sambutannya menekankan pentingnya memperkuat kerja sama antara kedua negara.

“Kedua pihak menekankan pentingnya memperkuat kerja sama di semua bidang. Upaya kedua negara sahabat ini akan terus berlanjut, Insya Allah,” kata Dubes Faisal.

Ia juga menegaskan bahwa sejak awal hubungan diplomatik pada 1968, interaksi antara Kerajaan Arab Saudi dan Indonesia telah berkembang di berbagai sektor, termasuk ekonomi, pendidikan, dan sosial.

Sebagai negara dengan Dua Kota Suci, Arab Saudi memiliki hubungan religius yang mendalam dengan Indonesia, negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia.

Kedua negara juga aktif dalam Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan Kelompok 20 Negara Besar (G20), memperkuat posisi strategis mereka di arena global.

Perjanjian ekonomi senilai 27 miliar dolar AS antara kedua negara menjadi salah satu bentuk nyata kolaborasi yang sejalan dengan Visi 2030 Arab Saudi dan Visi Indonesia Emas 2045.

Selain agenda diplomatik, Nashirul Haq memanfaatkan momen ini untuk berdiskusi dengan Dubes Saudi dan tokoh lain tentang peluang kolaborasi yang seiringan dengan misi Hidayatullah selama ini. Diskusi ini menjajaki peluang sinergi antara organisasi keagamaan di Indonesia dengan negara sahabat untuk memperluas dampak positif di bidang pendidikan, dakwah, dan sosial.

Dalam perayaan tersebut, Dubes Faisal juga menyoroti layanan bagi jamaah haji dan umroh Indonesia melalui the Makkah Route Initiative. Program ini telah diterapkan di beberapa bandara dan direncanakan diperluas untuk meningkatkan efisiensi, koordinasi, serta kualitas pelayanan bagi jamaah Indonesia.

Menteri Agama RI Nasaruddin Umar menyampaikan ucapan selamat Presiden RI Prabowo Subianto kepada Kerajaan Arab Saudi.

“Kita berkumpul di sini bukan hanya untuk merayakan perjalanan Kerajaan yang luar biasa, tetapi juga untuk menegaskan kembali ikatan persahabatan dan kerja sama yang menyatukan kedua negara kita,” kata Nasaruddin.

Perayaan ini dihadiri pula oleh pejabat tinggi Indonesia seperti Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar, Menteri Pendidikan Abdul Mu’ti, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, Ketua MPR Ahmad Muzani, Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, serta sejumlah duta besar negara sahabat.

Forum Sekolah Murabbi Selami Kedalaman Al Fatihah yang Menuntun ke Jalan Lurus

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Semangat mendalami makna Surah Al-Fatihah menjadi pesan utama dalam acara Sekolah Murabbi yang digelar Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Jawa Barat.

Di hadapan para peserta forum yang digelar daring ini, Ust. H. Akib Junaid Kahar menegaskan bahwa penghayatan terhadap nilai iqra’ dan pemahaman Al-Fatihah adalah bekal penting agar manusia tidak terjebak dalam godaan dunia.

“Semakin kita tekun Iqra’ dan memahami Al-Fatihah, kita tidak akan berpikir pindah rel karena godaan dunia,” ujarnya dalam forum pagi ini, Rabu, 2 Rabi’ul Akhir 1447 (24/9/2025).

Pesan tersebut disampaikan dalam konteks kegamangan masyarakat dan para pemimpin dalam meniti jalan kehidupan. Ustadz Akib mengingatkan bahwa Surah Al-Fatihah menyimpan inti dari permohonan jalan lurus, yakni jalan ketaatan penuh pada perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya.

Ia menegaskan, untuk istiqamah di jalan ini, menurutnya, dibutuhkan dua hal mendasar, yaitu pengetahuan dan kemauan.

“Pengetahuan inilah yang ditandai dengan seruan iqra’, membaca dan memahami segala yang diciptakan Allah,” jelasnya.

Ustadz Akib menekankan tiga objek utama dalam proses iqra’. Pertama, mengenal Rabb atau Tuhan. Pemahaman ini membuat jiwa menjadi ringan dalam mengemban amanah sebagai hamba-Nya.

Kedua, mengenal seluruh ciptaan Allah berupa alam semesta. Dengan pemahaman ini, manusia mampu mengolah alam secara bertanggung jawab demi kemaslahatan bersama.

Dan, Ketiga, mengenal manusia. Pemahaman ini, jelas Akib, akan menuntun pada akhlak mulia serta kebermanfaatan bagi sesama.

Ia menegaskan bahwa kedalaman iqra’ akan melahirkan keteguhan hati. Kaum muslimin dan tak terkecuali para kader, katanya, tidak akan memutar arah perjuangan hanya karena takut pada ancaman atau tertipu oleh gemerlap dunia.

“Dengan iqra’ yang benar, seseorang tidak akan mudah goyah, sebab ia memahami hakikat hidup,” ungkapnya.

Pesan tersebut bukan hanya relevan bagi para kader, melainkan juga penting bagi bangsa Indonesia yang tengah menghadapi berbagai tantangan. Nilai iqra’ dan makna jalan lurus dalam Al-Fatihah mengajarkan pentingnya memperkokoh landasan moral sekaligus intelektual.

Dalam konteks kebangsaan, pemahaman ini dapat menjadi penopang agar masyarakat dan pemimpin tidak kehilangan arah dalam menghadapi derasnya arus perubahan global.

Ustadz Akib menambahkan, penguatan pemahaman keagamaan yang seimbang akan melahirkan generasi berakhlak, berilmu, dan berkomitmen pada perjuangan.

“Kader yang istiqamah tidak akan berpaling dari tugas dakwah dan perjuangan, sekalipun godaan dunia datang silih berganti,” tegasnya.

Acara Sekolah Murabbi yang diinisiasi DMW Hidayatullah Jabar ini merupakan forum refleksi bersama dalam rangka menyegarkan ruhani guna menuntun ke arah kemaslahatan yang lebih luas.

Mushida – Wanita Al Irsyad Perkuat Silaturrahim dan Sinergi Program Keumatan

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Silaturahmi antarorganisasi perempuan Islam Muslimat Hidayatullah (Mushida) dan Pengurus Besar (PB) Wanita Al-Irsyad meneguhkan semangat keindonesiaan yang hidup dalam bingkai kebersamaan.

Ketua Umum PP Muslimat Hidayatullah, Hani Akbar, M.Pd., menilai, pertemuan lintas organisasi bukan hanya menjadi ruang berbagi pengalaman, tetapi juga peluang memperkuat jejaring kerja sama yang berorientasi pada kemaslahatan umat.

Dari pertemuan semacam inilah lahir gagasan-gagasan baru yang dapat dirasakan manfaatnya oleh keluarga dan masyarakat.

“Kami berharap pertemuan ini bukan hanya sebatas silaturahmi, tetapi juga menjadi pintu lahirnya kerja sama nyata dalam membangun program-program yang bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat,” kata Hani saat menerima kunjungan Pengurus Besar Wanita Al-Irsyad di Kantor PP Mushida, Cipinang Cempedak, Jakarta, 24 Rabi’ul Awal 1447 (17/9/2025).

Dalam sambutannya, Hani Akbar menyampaikan rasa syukur atas kedatangan jajaran PB Wanita Al-Irsyad. Ia menjelaskan bahwa Mushida merupakan organisasi pendukung Hidayatullah yang memiliki visi membangun keluarga Qur’ani menuju peradaban Islam.

Hingga kini, Mushida telah berdiri di 37 wilayah di seluruh Indonesia serta memiliki satu perwakilan di Papua Pegunungan. Selain itu, ia turut memperkenalkan Sistematika Wahyu sebagai manhaj perjuangan Hidayatullah dalam gerakan tarbiyah dan dakwah.

Sementara itu, Ketua Umum PB Wanita Al-Irsyad, Dra. Fahimah Abdul Kadir Askar, mengungkapkan kegembiraan dapat bersilaturahmi dengan jajaran PP Mushida.

Fahimah memperkenalkan jajaran pengurus yang hadir sekaligus menyampaikan program-program organisasi yang mencakup bidang pendidikan, ekonomi, sosial, dan lainnya.

“Kedatangan kami ke sini untuk silaturahmi, berguru, sekaligus menjalin sinergi program,” ungkap Fahimah.

Wanita Al-Irsyad sendiri merupakan salah satu organisasi wanita Islam tertua yang hadir sejak 1939 menjadi badan otonom dari Jam’iyah Al-Irsyad Al-Islamiyyah. Saat ini, organisasi tersebut memiliki 15 Pengurus Wilayah (PWW) dan 57 Pengurus Cabang (PCW) yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Momentum pertemuan ini juga disambut baik oleh Sekretaris Jenderal PP Mushida, Sarah Zakiyah, M.Pd. Ia menyampaikan rasa terima kasih atas sambutan hangat yang terjalin sepanjang acara.

Menurutnya, silaturahmi ini bukan hanya ajang temu muka, tetapi juga langkah nyata dalam mempererat ukhuwah sekaligus membuka peluang sinergi antarorganisasi muslimah.

Pertemuan yang berlangsung dalam suasana akrab tersebut diharapkan menjadi tonggak penting untuk memperluas jejaring dakwah muslimah di Indonesia.

Kolaborasi antara Mushida dan Wanita Al-Irsyad dapat memperkuat program pemberdayaan di berbagai bidang, mulai dari pendidikan hingga ekonomi, serta menghadirkan kontribusi nyata bagi umat.

Lebih lanjut, silaturrahim ini diharapkan semakin meneguhkan peran strategis perempuan dalam merawat nilai-nilai kebersamaan, sekaligus menyiapkan kontribusi berkelanjutan untuk masyarakat luas.