Beranda blog Halaman 85

Sumur ke-201 Mengalirkan Harapan untuk 235 Santri Pondok Pesantren Al-Falah

0

MALANG (Hidayatullah.or.id) — Di tengah dinamika kehidupan masyarakat dan isu-isu sosial yang kian kompleks, hadir secercah kabar baik dari Pondok Pesantren Al-Falah, Turen, Kabupaten Malang.

Sebuah sumur bor yang dibangun atas inisiatif Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH) telah menjadi titik balik penting bagi 235 santri yang menetap dan menuntut ilmu di pesantren tersebut.

Sebelumnya, para santri harus bertahan dengan kondisi air yang tidak layak. Sumur gali manual yang digunakan kerap keruh dan bahkan mengering di musim kemarau.

Kebutuhan dasar seperti mandi, mencuci, memasak, hingga berwudhu menjadi tantangan harian. Namun kini, situasi itu berubah drastis. Berkat sumur bor ke-201 yang diwujudkan BMH, para santri dapat menikmati akses air bersih yang stabil dan layak.

“Dulu airnya sering keruh dan kadang nggak keluar kalau siang. Sekarang alhamdulillah lancar. Jadi makin semangat menghafal karena nggak harus antre lama untuk mandi atau wudhu,” ungkap Irwan, salah satu santri kelas tahfidz yang telah menghafal delapan juz.

Kesaksiannya adalah potret nyata bagaimana infrastruktur dasar seperti air bersih mampu meningkatkan kualitas kehidupan sekaligus pendidikan di lingkungan pesantren.

Kepala Divisi Program dan Pendayagunaan BMH Jawa Timur, Imam Muslim, menegaskan bahwa penyediaan air bukan sekadar program fasilitas, melainkan bagian dari strategi peningkatan mutu kehidupan para santri.

“Sumur bor ini bukan sekadar fasilitas, tapi fondasi bagi semangat belajar dan beribadah para santri,” jelasnya, menegaskan bahwa pembangunan sumur bor bukanlah proyek temporer, melainkan investasi jangka panjang dalam pendidikan dan kesehatan generasi muda.

Proyek sumur bor ini merupakan bagian dari ikhtiar berkelanjutan BMH dalam menghadirkan infrastruktur dasar ke berbagai pelosok negeri, terutama bagi lembaga-lembaga pendidikan Islam.

Dengan dukungan para donatur yang konsisten, BMH terus menebar kebermanfaatan di titik-titik yang selama ini terpinggirkan dari perhatian publik.

Kisah dari Pondok Pesantren Al-Falah menjadi penanda bahwa kerja-kerja sosial yang terencana dan terukur dapat menghadirkan perubahan nyata.

Ia juga menjadi pengingat akan pentingnya kolaborasi antara lembaga zakat dan masyarakat luas dalam membangun sistem pendukung yang menopang pendidikan, kesehatan, dan kehidupan yang lebih layak.

Tak semua perubahan besar datang dari hal yang rumit. Terkadang, sebuah sumur yang mengalirkan air bersih adalah awal dari gelombang optimisme yang merambat jauh: membasuh kesulitan, menumbuhkan harapan, dan memperkuat tekad untuk terus belajar dan beribadah. BMH membuktikan bahwa gerakan kebaikan tidak pernah sia-sia—ia mengakar dalam kenyataan, dan tumbuh dalam kehidupan.

Undang Undang Jaminan Produk Halal Harus Dilaksanakan Serius di Daerah

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Kasus Ayam Goreng Widuran, sebuah usaha kuliner yang telah beroperasi puluhan tahun tanpa sertifikat halal dan akhirnya menuai protes masyarakat, menjadi cermin penting bagi seluruh pemangku kepentingan di Indonesia.

Menyikapi hal ini, ormas Islam Hidayatullah mengajak seluruh Pemerintah Daerah untuk segera melakukan asesmen menyeluruh terhadap implementasi Jaminan Produk Halal (JPH) dan harus dilaksanakan di wilayah masing-masing.

Ketua Bidang Tarbiyah Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Abu A’la Abdullah, M.HI, menegaskan bahwa asesmen JPH adalah langkah mendesak dan wajib, sejalan dengan amanat Undang-Undang No. 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal.

Kasus yang belakangan viral ini bukan sekadar persoalan administratif, melainkan pertanda bahwa pengawasan dan kesadaran atas kehalalan produk masih harus diperkuat.

Menurutnya, negara telah memiliki landasan hukum yang kuat, dan kini saatnya seluruh elemen menjalankan fungsinya.

“Undang-undang ini menegaskan bahwa produk yang masuk, beredar, dan diperdagangkan di Indonesia harus bersertifikat halal. UU ini mewajibkan semua produk makanan dan minuman yang masuk, beredar, dan diperdagangkan di Indonesia untuk memiliki sertifikat halal,” katanya dalam obrolan dengan media ini, Jum’at, 3 Dzulhijah 1446 (30/5/2025).

Ia menjelaskan bahwa UU tersebut mengatur hak dan kewajiban pelaku usaha, dengan memberikan pengecualian hanya kepada produk yang berbahan haram berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah. Namun, produk semacam itu wajib mencantumkan secara tegas keterangan tidak halal.

“Keterangan tersebut harus tercantum pada kemasan Produk atau pada bagian tertentu dari Produk yang mudah dilihat, dibaca, tidak mudah terhapus, dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Produk. Hal ini dalam rangka memberikan pelayanan publik. Pemerintah bertanggung jawab dalam menyelenggarakan UU JPH ini,” ujarnya.

Seruan Hidayatullah ini, terang dia, menjadi bagian dari dorongan masyarakat sipil agar hukum berjalan, konsumen terlindungi, dan pelaku usaha menjalankan tanggung jawab moral dan legal mereka di tengah masyarakat mayoritas muslim.

Abu A’la mengingatkan para pelaku usaha agar bersikap jujur dalam menyampaikan informasi produknya. Kejujuran, menurutnya, bukan hanya bagian dari etika usaha, melainkan juga bentuk ibadah yang dapat membawa maslahat.

“Semoga para pelaku usaha segera menjamin halal produknya. Jangan menyembunyikan informasi produk. Lebih baik jujur sejak awal. Masyarakat muslim yang jumlah mayoritas di pulau Jawa, bahkan di Indonesia sangat senang dan mencari produk halal, sehat dan berkualitas,” katanya.

Keuntungan ekonomi, menurutnya, tidak harus dicapai dengan mengabaikan prinsip. Pelaku usaha yang berkomitmen pada produk halal juga berkontribusi pada pembangunan bangsa dalam aspek sumber daya manusia.

“Dengan demikian, para pelaku usaha disamping mendapat keuntungan, juga membangun sumber daya insani yang berkualitas untuk Indonesia emas,” terang dia.

Lebih jauh, ia juga menyampaikan bahwa menjalankan usaha halal bisa menjadi bagian dari ibadah yang mendatangkan pahala. Khususnya bagi pengusaha muslim, semangat menjalankan syariat dalam aktivitas ekonomi harus terus dibangun.

“Semoga para pengusaha, khususnya pengusaha muslim juga mendapat pahala di sisi Allah dengan meniatkan berwirausaha adalah ibadah, dengan memproduksi dan menjual produk yang halal, sehat dan berkualitas,” katanya.

Ia pun berharap agar masyarakat muslim terus meningkatkan kesadaran dalam memilih produk halal serta memberikan dukungan terhadap produk-produk yang terjamin kehalalannya.

“Semoga ummat Islam makin jeli dan cerdas dalam memilih produk halal. Kita support produk halal dan kita jauhi produk haram. Yaa Allah, ihdinashshiroothol mustaqiim,” tandasnya.

Belajar dari Kasus Ayam Goreng Kandung Bahan Haram, Hidayatullah Serukan Transparansi dan Asesmen Produk

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Bidang Tarbiyah Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Ir. Abu A’la Abdullah, M.HI., menyampaikan keprihatinan mendalam atas kasus tidak adanya transparansi dan sertifikat halal pada salah satu warung makan legendaris di Kota Solo, Ayam Goreng Widuran.

Warung makan yang telah berdiri sejak 1973 dan dikenal luas masyarakat ini diketahui baru mengumumkan dan meminta maaf secara terbuka setelah diprotes publik terkait ketidakhadiran sertifikasi halal pada produknya.

“Hidayatullah sebagai komponen umat Islam Indonesia sangat menyayangkan Ayam Goreng Widuran yang telah beroperasi sejak 1973 ini, telah beroperasi selama 52 tahun, baru mengumumkan dan meminta maaf secara terbuka kepada masyarakat setelah diketahui tidak memiliki sertifikat halal dan diprotes masyarakat,” katanya dalam obrolan dengan media ini, Jum’at, 3 Dzulhijah 1446 (30/9/2025).

Ia menegaskan, permintaan maaf tersebut haruslah disampaikan dengan sungguh-sungguh, tanpa menyembunyikan fakta-fakta penting yang menyangkut kepercayaan umat.

“Permintaan maaf dan perbaikan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Jangan ada yang disembunyikan lagi yang akan menipu umat Islam khususnya. Hal ini adalah kasus yang sangat disayangkan, tidak boleh terulang lagi,” tegasnya.

Kekecawaan Dirasakan Masyarakat

Sebagaimana diwarta media, kekecewaan mendalam dirasakan masyarakat, terutama warga Solo dan sekitarnya yang telah lama menjadi pelanggan.

Menyikapi reaksi publik yang cukup keras, Abu A’la mengimbau masyarakat agar tidak melakukan demonstrasi besar-besaran, tetapi menempuh jalur hukum.

“Bagi elemen masyarakat yang belum puas dengan permintaan maaf yang dilakukan, tidak perlu demo ramai-ramai, lebih efektif dan lebih baik mengadukan ke polisi agar diproses secara adil dan tuntas di pengadilan,” sarannya.

Dalam pandangan Islam, lanjutnya, persoalan makanan halal tidak dapat dianggap sepele. Ia menyampaikan bahwa konsumsi makanan haram memiliki implikasi spiritual yang serius.

“Beroperasi selama 52 tahun adalah waktu yang sangat panjang. Sangat banyak umat Islam yang mengonsumsi Ayam Goreng Widuran ini. Padahal produknya tidak halal. Tentu mereka sangat kecewa. Karena dalam Islam makanan halal adalah sangat penting,” ungkapnya.

Ia kemudian mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 168:

“Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.”

Tak hanya itu, ia juga menukil ayat lainnya dari surah Al-Ma’idah ayat 88:

“Dan makanlah dari apa yang telah diberikan Allah kepadamu sebagai rezeki yang halal dan baik, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.”

Konsumsi Makanan Haram Berdampak Dunia Akhirat

Lebih jauh Abu A’la menjelaskan, dampak dari konsumsi makanan haram bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.

“Makanan yang haram dalam Islam berdampak di akhirat dengan siksaan neraka. Sangat berat,” imbuhnya,

Ia lantas mengutip hadist Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Tirmidzi: “Setiap daging yang tumbuh dari yang tidak halal, maka neraka yang lebih utama baginya.”

Sebagai bentuk tanggung jawab bersama, Abu A’la menghimbau Pemerintah Daerah Surakarta agar segera melakukan asesmen terhadap seluruh produk konsumsi yang beredar di Kota Solo.

“Semoga dengan penerapan jaminan produk halal di Solo, maka para wisatawan muslim makin senang berwisata ke Solo. Sehingga kita berharap Solo makin maju dan mendapat berkah Allah SWT,” pungkasnya.*/

Ketahanan Pangan Pesantren dan Kolaborasi Umat Menumbuhkan Pendidikan Qurani

BEKASI (Hidyatullah.or.id) — Pesantren Tahfidzul Quran Hidayatullah Pebayuran kembali menorehkan capaian penting dalam perjalanan kemandirian pendidikannya. Bertempat di Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat, pesantren ini sukses melaksanakan panen padi ke-14, dengan hasil mencapai 5 ton. Bukan sekadar angka panen, tetapi cermin dari ikhtiar besar membangun fondasi pendidikan berbasis ketahanan pangan.

Program Lumbung Pangan Santri ini bukanlah inovasi biasa, melainkan solusi strategis yang menjawab persoalan mendasar bagaimana mencukupi kebutuhan dasar tanpa membebani anggaran operasional pesantren.

Sebelum program ini berjalan, pesantren mesti merogoh kocek sekitar Rp6–7 juta setiap bulan hanya untuk membeli beras. Kini, cukup dengan biaya Rp13 juta untuk satu kali panen, seluruh kebutuhan konsumsi santri bisa tercukupi hingga panen berikutnya.

“Kami bersyukur dengan adanya program ini. Selain memastikan kebutuhan pangan santri tercukupi, kami juga bisa lebih fokus pada peningkatan kualitas pendidikan,” ujar Direktur Prodaya BMH Pusat, Syamsuddin, dalam sambutannya pada acara panen, Selasa, 29 Dzulqa’dah 1446 (27/5/2025).

Ia menegaskan, upaya penyediaan kebutuhan primer semacam ini membuka ruang untuk kerja-kerja intelektual dan spiritual yang lebih serius.

Keberhasilan ini bukan berdiri sendiri. Ada sinergi umat di baliknya. Baitul Maal Hidayatullah (BMH), sebagai penggerak utama, mampu menjalin kolaborasi produktif dengan para donatur, institusi keuangan, hingga perusahaan nasional.

Dukungan mereka menjadi pilar keberlangsungan program. Syamsuddin pun mengungkapkan rasa syukur yang mendalam, “Terima kasih kepada para donatur yang telah mendukung program ini. Semoga dari setiap butir beras yang dimakan oleh para santri, kita semua mendapatkan keberkahan.”

Lebih dari itu, jelas Syamsuddin, panen kali ini menjadi lebih efisien dan produktif berkat penggunaan combine harvester, mesin panen kombinasi yang mempercepat kerja di lapangan dan menjaga kualitas hasil panen. Teknologi bukan lagi asing di pesantren; ia menjadi mitra dalam perjuangan kemandirian.

Dampak lanjutan dari program ini sudah mulai terlihat. Dengan kebutuhan pangan yang stabil, pesantren mulai mengalokasikan perhatian pada peningkatan sarana belajar serta pemberian beasiswa bagi santri yang ingin melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi.

Program Lumbung Pangan Santri adalah bukti konkret bahwa ketika umat bersinergi, hasilnya bukan hanya panen padi, tetapi panen kebaikan dan keberdayaan. Kemandirian pesantren bukan utopia, ia sedang tumbuh, butir demi butir, di antara sawah-sawah yang dikelola dengan iman dan ilmu.

Dia menegaskan, BMH pun berkomitmen membawa model ini ke lebih banyak pesantren di seluruh Indonesia. Visinya jelas, yakni menjadikan pesantren sebagai pusat pembelajaran yang mandiri, sejahtera, dan unggul.

“Sekarang, kami tidak lagi khawatir soal konsumsi santri. Fokus utama kami adalah bagaimana membuat mereka lebih berkonsentrasi dalam belajar dan menghafal Al-Qur’an,” tambah Syamsuddin.

DMU Hidayatullah Sulbar Menyiapkan Generasi Cerdas dan Militan

0

MAMUJU (Hidayatullah.or.id) — Di penghujung Mei 2025, suasana hangat pengkaderan kembali terasa di bumi Manakarra. Pengurus DPW Hidayatullah Sulawesi Barat menyelenggarakan Daurah Marhalah Ula (DMU) tingkat SMU se-Sulawesi Barat bertempat di Binaan Khusus (Bianpus) Madya Hidayatullah Mamuju, pada 2-4 Dzulhijah 1446 (29–31/5/2025).

Meski jumlah peserta tak mencapai ratusan, semangat yang dibawa oleh setiap individu dalam daurah ini menegaskan bahwa kaderisasi bukan sekadar soal kuantitas, melainkan kualitas kesungguhan.

Najamuddin, M.Pd., Ketua Departemen Perkaderan DPW Hidayatullah Sulbar yang juga menjadi ketua panitia kegiatan ini, menjelaskan adanya kendala teknis sehingga beberapa siswa tidak dapat hadir.

“Peserta asal SMU Hidayatullah Polman tidak hadir di sini mengingat mereka sedang belajar di SDH Hidayatullah Parepare dan persiapan mengikuti kegiatan yang sama di Parepare,” ungkapnya.

Dengan mengusung tema Menjadi Kader Hidayatullah yang Cerdas dan Militan, daurah ini menjadi refleksi strategis arah gerakan pengkaderan ke depan. Para peserta tidak hanya menerima materi dasar tentang keislaman, tetapi juga diperkenalkan pada esensi gerakan dakwah Hidayatullah yang bercirikan tarbiyah dan transformasi sosial.

Di antara pemateri utama, Drs. H. Mardhatillah menyampaikan materi Komitmen Bersyahadat dan Makna serta Konsekuensinya. Dalam uraiannya, ia menekankan bahwa syahadat bukan hanya pengakuan lisan, tetapi juga ikrar perubahan total dalam hidup.

Drs. Muhammad Naim Tahir, Ketua DMW Hidayatullah Sulbar, membawakan materi Tarbiyah Ruhiyah, menekankan pentingnya penguatan spiritual sebagai fondasi dari militansi dakwah.

Sedangkan Abdurrahman Hasan, S.Pd.I., anggota DMW, menyampaikan materi Transformasi Masyarakat, memperlihatkan kait erat antara dakwah dan perubahan sosial.

Pengenalan organisasi dibawakan oleh Muhammad Bashori, S.Pd.I., selaku Ketua Departemen Organisasi dan SDI, sementara Najamuddin menyampaikan materi Proses Lahirnya Syahadat, mengajak peserta merenungi ulang akar kesadaran berislam mereka dalam bingkai gerakan Hidayatullah.

Menurut Najamuddin, target utama dari kegiatan ini adalah agar peserta lebih memahami lembaga tempat mereka menimba ilmu—bukan semata sebagai sekolah, tetapi sebagai institusi kaderisasi yang membawa misi besar.

*“Kami berharap peserta mengenal organisasi Hidayatullah, memahami visi, misi, serta gerakan utamanya yang bertumpu pada tarbiyah dan dakwah,” jelasnya.

Kegiatan ini bagian dari upaya pembentukan karakter dan peradaban. Hasil dari daurah ini diharapkan melahirkan pribadi muslim yang taat, sekaligus kader cerdas dan militan yang siap mengambil peran strategis dalam membangun umat, bangsa, dan agama.*/

[KHUTBAH JUM’AT] Awal Dzulhijjah Banyak Panggilan Kebaikan

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن

أَمَّا بَعْدُ, فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى : وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً، فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Kita telah tiba di ambang waktu yang istimewa. Waktu yang mungkin tak berbunyi, tak berpamer cahaya, tak gegap gempita. Tapi langit mengenalnya, bumi menyambutnya, dan malaikat menunduk khidmat padanya. Itulah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

Betapa waktu yang kita kira biasa ternyata menyimpan karunia yang luar biasa. Hari-hari ini adalah undangan dari Allah, undangan kepada siapa saja yang masih memiliki sisa iman, secuil tekad, dan secercah rindu untuk kembali kepada-Nya.

Dzulhijah bukan bulan biasa, tanggalnya bukan sekadar deret hari dalam kalender. Ada banyak panggilan kebaikan untuk kita beramal sholeh.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Rasulullah menunjukkan keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah melalui hadits Ibnu ‘Abbas,

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ

Ada sabda Rasulullah ﷺ yang mungkin pernah kita dengar, pernah mampir di telinga, pernah lewat di beranda media sosial kita, atau singgah sejenak di grup WhatsApp keluarga:

“Tidak ada satu amal shalih yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal shalih yang dilakukan pada hari-hari ini — yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.”

Para sahabat bertanya, “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi menjawab, “Tidak pula jihad, kecuali seseorang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, lalu tidak kembali sedikit pun darinya.” (HR. Bukhari)

Sebuah sabda yang dalam. Sunyi, tapi tajam.
Ia seperti suara yang tidak menggelegar, tapi menggetarkan.
Ia tidak berteriak—tapi menembus dinding hati orang-orang yang masih bisa merasa dengan bibit-bibit keimanannya.

Lalu, pertanyaan bagi kita:

Ketika sabda itu sampai pada kita, apa yang terjadi di dalam dada ini?
Apakah ia hanya sekadar info? Seperti kabar cuaca atau jadwal kereta api?
Apakah ia sekadar lalu? Seperti angin yang hanya menyapa sebentar daun pintu?

Ataukah ia sempat mengetuk sesuatu di dalam jiwa kita yang paling dalam?
Karena, jamaah sekalian, sabda itu bukan hanya kalimat.
Ia adalah panggilan.

Panggilan untuk mendekat.
Panggilan untuk kembali.
Panggilan untuk bangkit dari kealpaan yang panjang.

Namun tidak semua bisa mendengarnya.
Atau lebih tepatnya: tidak semua ingin benar-benar mendengarkannya.
Karena mendengar seruan kebaikan menuntut sesuatu yang besar: iman dan kemauan.
Dan iman tidak selalu berjalan bersama kenyamanan.

Terkadang, iman harus memilih sunyi ketika dunia memilih gemerlap.
Terkadang, iman meminta kita beranjak dari zona aman. Dari alasan-alasan yang kita bangun sendiri.

“Saya belum siap.”
“Saya masih banyak urusan.”
“Nanti, ada waktunya.”

Padahal siapa yang menjamin ada “nanti”?
Siapa yang bisa mengembalikan waktu yang lewat tanpa pamit?

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah,

Ibnu Rajab al-Hanbali, dalam kitabnya, Latho’if al-Ma’arif, menyampaikan pemikiran yang indah:

“Amalan yang biasa, jika dilakukan pada waktu yang utama—seperti sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah—akan lebih utama daripada amalan yang lebih besar tetapi dilakukan di luar waktunya.”

Seperti benih yang sama, tapi ditanam di tanah yang subur dan pada musim yang tepat, maka ia tumbuh lebih cepat, lebih kuat, lebih ranum.
Demikian pula amalan kita.

Barangkali hanya shalat sunnah dua rakaat.
Barangkali hanya selembar sedekah.
Barangkali hanya beberapa bait tilawah.

Tapi ketika dilakukan di sepuluh hari ini—di musim yang Allah muliakan—maka ia bernilai lebih dari yang bisa kita bayangkan.
Karena ini bukan soal besar kecilnya amalan. Ini soal kapan dan dengan hati seperti apa kita melakukannya.

Apakah hati ini ingin mendekat?
Apakah kita, yang sedang berjalan dalam labirin rutinitas dan kesibukan dunia, masih mau berhenti sejenak, menengok langit, dan menjawab panggilan-Nya?

Maka, Jamaah Jumat sekalian,

Mari kita tidak menunda.
Mari kita hidupkan hari-hari ini.
Mari kita jaga, bukan hanya amal-amal besar, tapi juga detik-detik kecil yang bisa kita isi dengan zikir, doa, istighfar, dan sujud.
Karena bisa jadi, sepuluh hari ini adalah sepuluh kesempatan yang tidak datang dua kali.

Amal-amal shalih yang kita lakukan di hari-hari ini tidak saja bernilai lebih—tapi dicintai oleh Allah. Dan apa lagi yang lebih kita harapkan dari hidup ini selain menjadi yang dicintai oleh-Nya?

Maka perbanyaklah dzikir. Ucapkan banyak takbir dengan hati yang tergetar. Lafalkan tahmid dengan jiwa yang penuh syukur. Tahlil dan tasbih, sebagai puisi-puisi kecil kepada Sang Pencipta.

Berpuasalah, terutama pada hari Arafah, 9 Dzulhijjah, hari di mana langit terbuka dan pengampunan-Nya turun laksana hujan musim semi. Hari yang bisa menghapus dosa—bukan satu, tapi dua tahun—untuk siapa yang ikhlas menahan lapar demi cinta kepada-Nya.

Tegakkan shalat-shalat sunnah, minimal ditambah atau dirutinkan di bulan Dzulhijah ini untuk shalat sunnah rawatib, shalat lail, shalat Dhuha.
Memperbanyak tilawah al-Qur’an, diamlah bersama Al-Qur’an seperti dua sahabat lama yang saling rindu.

Memperbanyak infak atau shadaqah. Ringankan tanganmu untuk bersedekah, karena siapa tahu, harta kecil yang kita sisihkan menjadi jembatan besar menuju rahmat-Nya.

Bagi yang mampu, berangkatlah haji. Di sana, jejak para Nabi masih hangat di atas pasir, dan doa-doa mengalir dari bibir jutaan jiwa yang menangis rindu kepada Tuhan.

Bagi yang belum mampu, terus menjaga optimisme keyakinan dengan doa dan ikhtiar suatu saat nanti bisa menunaikan rukun Islam kelima ini yaitu haji ke Baitullah.

Bersiaplah berkurban. Sebab setiap tetes darah yang mengalir dari hewan kurban adalah kisah tentang cinta: cinta Nabi Ibrahim yang rela mengorbankan anaknya demi Allah, dan cinta Nabi Ismail yang berserah atas nama taat.

Jamaah sekalian,

Hari-hari ini bukan milik orang-orang yang sempurna. Ia adalah milik mereka yang mau mencoba. Milik mereka yang meski terjatuh berkali-kali, masih ingin berdiri. Milik mereka yang diam-diam menyesal, dan diam-diam berharap. Dan Allah Maha Tahu.

Maka jangan biarkan sepuluh hari ini berlalu seperti angin. Tanpa jejak, tanpa makna. Mari kita isi dengan zikir, dengan doa yang jujur, dengan sujud yang lama, dengan hati yang pulang.

Semoga Allah menerima amal kita, memaafkan kekurangan kita, dan menuliskan kita di antara hamba-hamba yang dicintai-Nya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ

اَللّٰهُمَّ انْصُرِ الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمِ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ. اَللّٰهُمَّ اكْشِفْ الغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْفَعَ الْبَلَاءَ عَنْ غَزَّةَ وَأَهْلِهَا، وَأَنْ تَنْصُرَهُمْ عَلَى عَدُوِّهِمْ، وَأَنْ تَرْحَمَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ، وَأَنْ تَكْشِفَ الْغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ عَافِنَا وَالْطُفْ بِنَا وَاحْفَظْنَا وَانْصُرْنَا وَفَرِِّجْ عَنَّا وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اكْفِنَا وَإِيَّاهُمْ جَمِيْعًا شَرَّ مَصَائِبِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

(Untuk mengunduh naskah ini ke format PDF, klik icon “print” pada share button di bawah lalu pilih simpan file PDF)

Amil Pemegang Amanah Umat dengan Konsekuensi Dunia dan Akhirat

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Para amil Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) mengikuti sesi pembinaan bertajuk ‘Menjadi Amil Tangguh dan Excellent’ di Aula Abdullah Said, Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Selasa, 29 Dzulqa’dah 1446 (27/5/2025).

Sesi ini diisi oleh Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, M.Pd.I., Pengawas Syariah BMH Pusat, yang hadir membekali para peserta dengan prinsip-prinsip dasar dalam menjalankan peran strategis sebagai pengelola zakat.

“Amil itu bukan posisi yang mudah. Kita berdiri di tengah, memegang amanah dari muzakki, dan menyampaikan kepada mustahik,” kata Ghofar.

Menurutnya, posisi amil bukan hanya pekerjaan administratif, melainkan posisi yang sarat amanah, dengan konsekuensi dunia dan akhirat. Ia menegaskan bahwa inti dari kekuatan seorang amil terletak pada keimanan.

“Tanpa iman, sulit untuk bisa amanah. Apalagi jika yang dikelola adalah dana umat. Itu butuh kesungguhan dan integritas tinggi,” ujarnya.

Dia menegaskan, ieimanan menjadi fondasi utama agar amil tidak tergelincir dalam pengelolaan dana publik yang sangat sensitif.

Dalam paparannya, Ghofar mengutip pandangan Syaikh Sayyid Sabiq Muhammad At-Tihamiy, ulama fiqh klasik, bahwa amil pada awalnya adalah pemungut zakat yang diangkat oleh otoritas negara atau pemimpin umat.

Namun, dalam konteks lembaga zakat modern, peran amil tidak hanya mengumpulkan, tetapi juga mengelola, menyalurkan, dan mempertanggungjawabkan dana zakat dengan baik dan profesional.

Karena itu, dia membeberkan, amil masa kini harus memiliki setidaknya empat kompetensi utama. Pertama, kompetensi spiritual.

Ia menjelaskan, seorang amil harus dekat dengan Allah, menjaga keikhlasan, dan konsisten dalam ibadah. “Aneh kalau ada amil yang jauh dari perintah Allah,” ujar Ghofar dengan nada menohok.

Kedua, amil harus memiliki kompetensi syariah. Ia menekankan pentingnya penguasaan fiqh zakat, ibadah, dan muamalah agar pengelolaan dan penyaluran dana zakat sesuai dengan tuntunan syariah yang benar.

Ketiga, kompetensi profesional. Menurut Ghofar, keterampilan kerja di bidang masing-masing sangat penting. “Dana umat tidak boleh dikelola secara asal-asalan. Harus dengan kompetensi yang sesuai,” tambahnya.

Dan, Keempat, kompetensi organisasi. Seorang amil perlu memahami visi, misi, sejarah, dan dinamika lembaga tempatnya berkhidmat. “Ini juga tentang kesiapan hidup terorganisir dan berjiwa pemimpin,” jelasnya.

Pada sesi ini Ghofar membangkitkan kesadaran akan nilai luhur profesi amil. “Menjadi amil bukan sekadar menghimpun. Ini perjuangan. Ini ladang pahala. Maka, jangan setengah hati,” tegas Ghofar di akhir sesi.

Dengan pembinaan seperti ini, Laznas BMH menargetkan terwujudnya amil-amil yang tidak hanya tangguh dalam kerja, tetapi juga unggul dalam iman, ilmu, dan integritas.*/

Upgrading Dakwah dan Pembinaan untuk Penguatan Khidmat Para Dai Wilayah DIY-Jateng

YOGYAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah DIY-Jateng menyelenggarakan pembinaan intensif bagi 75 dai dari wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah bagian selatan.

Kegiatan ini dilangsungkan selama dua hari, pada 24–25 Mei, di kompleks Yayasan As-Sakinah Yogyakarta. Program ini merupakan bagian dari upaya strategis dan sinergis dalam memperkuat kapasitas dan khidmat para dai di lapangan, khususnya dalam mendukung gerakan dakwah berbasis masyarakat.

Ketua DPW Hidayatullah DIY-Jateng Bagian Selatan, Ust. H. Abdullah Munir, menjelaskan, pembinaan tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk membangun ketangguhan dai secara intelektual, spiritual, dan sosial.

Menurutnya, di tengah tantangan dakwah yang kian kompleks, pelatihan dan penguatan seperti ini menjadi krusial agar para dai dapat tampil relevan dan solutif dalam menjawab kebutuhan umat, baik di bidang pendidikan, sosial, maupun penguatan nilai-nilai keislaman di masyarakat akar rumput.

Secara umum, kegiatan ini menandai konsistensi pembinaan dan mendampingi dai-dai tangguh di wilayah strategis. Langkah ini memperkuat posisi dai sebagai ujung tombak pembinaan umat, sekaligus memperkuat jaringan dakwah yang lebih adaptif dan berdampak.

Salah satu peserta, Muhammad Arifin dari Magelang, menyampaikan agenda upgrading dai semacam ini sangat bermanfaat sekali bagi dirinya dan rekan rekan sejawat.

“Berkumpulnya para dai menjadi sarana memompa semangat saya dan juga untuk menggali inspirasi yang akan saya aplikasikan di lapangan,” kata Arifin.

Didukung Laznas BMH

Kegiatan ini turut didukung oleh Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Baitul Maal Hidayatullah (BMH).

Muhammad Nashir, Kepala Divisi Program BMH Yogyakarta, mengungkapkan rasa syukurnya atas terselenggaranya kegiatan tersebut dan menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung, khususnya para donatur BMH.

“Alhamdulillah, dengan dukungan berbagai pihak terutama para donatur BMH, pembinaan dai ini berjalan lancar dan sukses. Tujuannya adalah memperkuat para dai tangguh agar semakin bermanfaat di tengah masyarakat,” ujar Muhammad Nashir.

Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya menjadi forum peningkatan kapasitas, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi dan motivasi antar-dai yang selama ini menjalankan dakwah di wilayah dengan tantangan tersendiri.

Para peserta berasal dari berbagai daerah di DIY dan Jawa Tengah bagian selatan, wilayah yang memiliki ragam karakter sosial dan geografis, menuntut kesiapan personal dan spiritual yang tinggi dari para dai.*/

Menyembelih dengan Ilmu, DQM Gandeng LSH Hidayatullah Gelar Pelatihan Manajemen Qurban

BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Qurban bukan sekadar penyembelihan hewan. Ia adalah ibadah dengan dimensi spiritual, sosial, dan teknikal yang menuntut pemahaman mendalam atas syariat dan praktik lapangan.

Demikian pesan utama yang digaungkan dalam Pelatihan Manajemen Qurban & Sembelihan Halal yang diselenggarakan Darul Quran Mulia (DQM) Bogor, bekerja sama dengan Lembaga Sembelih Halal (LSH) Hidayatullah, pada Senin, 28 Dzulqa’dah 1446 (26/5/2025).

Acara ini menghadirkan pakar sembelihan halal nasional, H. Nanang Hanani, S.Pd.I., MA., Ketua LSH Hidayatullah Pusat.

Dalam pemaparannya, Nanang menekankan bahwa praktik penyembelihan halal bukan hanya persoalan keterampilan teknis, tapi juga integritas spiritual dan kepatuhan syariah.

“Qurban bukan hanya soal memotong hewan, tapi mengelola amanah dengan prinsip ASUH: Aman, Sehat, Utuh, Halal,” ujar Nanang dalam sesi pelatihan. “Jika prinsip ini dijaga, maka daging qurban menjadi berkah, bukan sekadar daging.”

Nanang tidak hadir sendiri. Ia didampingi oleh Ust. H. Muhammad Syarif, S.Pd.I., unsur Pengurus Pusat LSH Hidayatullah, yang turut menguatkan sisi fiqih dan tata laksana ibadah qurban dalam bingkai pendidikan masyarakat muslim.

Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari seluruh elemen civitas DQM. Ketua Panitia Qurban DQM, Ustadz Asep Roni Hermansyah, M.Si., menyatakan bahwa pelatihan ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan bagian dari program pendidikan karakter dan kompetensi keagamaan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

“Kami ingin para santri dan guru tidak hanya paham fiqih qurban secara teoritis, tapi juga mampu mengelolanya secara profesional di masyarakat,” terang Asep.

Para peserta yang terdiri dari guru, karyawan, mahasiswa STIU, serta santri SMP dan SMA DQM, mendapatkan materi berjenjang mulai dari fiqih Udhiyah, manajemen qurban berbasis konsep ASUH, hingga kesejahteraan dan kesehatan hewan. Salah satu bagian yang paling antusias disambut adalah praktik merebahkan dan menyembelih 2 ekor domba secara syar’i.

Turut hadir pula Ustadz Musthofa, alumni Pelatihan LSH Hidayatullah angkatan pertama, yang kini menjadi edukator sembelihan halal di lingkungan pesantren.

“Pelatihan ini memberi daya hidup baru dalam tradisi qurban kita. Bukan sekadar warisan budaya, tapi ibadah yang terus ditumbuhkan dengan ilmu,” ujarnya.

Kegiatan ditutup dengan sesi praktik penyembelihan unggas di lapangan, di mana peserta dilatih langsung oleh para instruktur bersertifikat. Sebagai bentuk apresiasi, seluruh peserta memperoleh sertifikat penghargaan dari LSH Hidayatullah.

Melalui kegiatan ini, DQM menegaskan posisinya sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya mendalami ilmu agama, tetapi juga menyebarkan praktik keislaman yang profesional, etis, dan bertanggung jawab.*/

Evaluasi Kompetensi dan Karakter, Lomba PAI SD Tunjukkan Indikator Pembinaan

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Kelompok Kerja Guru Pendidikan Agama Islam (KKG PAI) Kecamatan Tamalanrea menyelenggarakan Lomba Keterampilan Pendidikan Agama Islam (PAI) tingkat Sekolah Dasar di Kompleks SD Integral Al Bayan, Pondok Pesantren Hidayatullah Makassar, Sabtu, 26 Dzulqa’dah 1446 (24/5/2025).

Acara tersebut dibuka secara resmi oleh Kepala Seksi Pendidikan Agama Islam Kemenag Kota Makassar, Dr. H. Syaifullah Rusmin, Lc., M.Th.I., yang menekankan bahwa kegiatan ini berfungsi ganda yang bukan hanya mengukur kemampuan siswa, tetapi juga menjadi indikator pembinaan yang dilakukan para guru.

“Lomba ini menjadi indikator sejauh mana pembinaan yang dilakukan guru terhadap siswanya, baik dalam aspek akademik maupun nilai-nilai keagamaan,” ujar Syaifullah dalam sambutannya.

Lomba PAI yang sudah memasuki tahun ketiga ini memperebutkan Piala Bergilir KKG PAI Tamalanrea.

Kompetisi ini melibatkan berbagai sekolah dasar dari lingkungan Kecamatan Tamalanrea, dengan partisipasi kepala sekolah negeri maupun swasta, serta pengurus KKG PAI tingkat Kota Makassar.

Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kecamatan Tamalanrea, Arifuddin, S.Pd., M.Pd., hadir dalam kegiatan tersebut dan menyampaikan harapannya agar lomba ini bisa berlanjut pada skala yang lebih luas.

“Saya berharap ke depan kegiatan seperti ini bisa berjenjang sampai ke tingkat kota, agar memberi ruang lebih luas untuk siswa berprestasi,” ucap Arifuddin.

Ketua Yayasan Hidayatullah Makassar Ust. H. Suwito Fattah, turut hadir dan menyatakan apresiasinya terhadap pelaksanaan kegiatan di lingkungan kampus Al Bayan, yang menjadi tuan rumah tahun ini. Kegiatan ini memperlihatkan dukungan aktif dari berbagai elemen pendidikan di wilayah tersebut.

Dalam kompetisi tahun ini, SD Inpres Tamalanrea 6 Blok F BTP berhasil keluar sebagai juara umum dan berhak membawa pulang Piala Bergilir KKG PAI Tamalanrea.

Penutupan acara dilakukan oleh Ketua Pokjawas PAI Kota Makassar, Sahid, S.Ag., M.Pd. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa nilai utama dari lomba bukanlah pada simbol piala, melainkan pada proses pembentukan motivasi dan semangat siswa.

“Piala bisa dibeli, harganya murah. Tapi semangat juang dan motivasi anak-anak kita dalam lomba ini tidak bisa dibeli. Itulah yang paling berharga,” tegas Sahid.

Kegiatan ini mencerminkan sinergi antara pendidik, lembaga, dan pemerintah dalam mendukung pendidikan agama Islam yang tidak hanya akademik, namun juga membentuk karakter dan nilai.*/