Beranda blog Halaman 85

Mushida – Wanita Al Irsyad Perkuat Silaturrahim dan Sinergi Program Keumatan

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Silaturahmi antarorganisasi perempuan Islam Muslimat Hidayatullah (Mushida) dan Pengurus Besar (PB) Wanita Al-Irsyad meneguhkan semangat keindonesiaan yang hidup dalam bingkai kebersamaan.

Ketua Umum PP Muslimat Hidayatullah, Hani Akbar, M.Pd., menilai, pertemuan lintas organisasi bukan hanya menjadi ruang berbagi pengalaman, tetapi juga peluang memperkuat jejaring kerja sama yang berorientasi pada kemaslahatan umat.

Dari pertemuan semacam inilah lahir gagasan-gagasan baru yang dapat dirasakan manfaatnya oleh keluarga dan masyarakat.

“Kami berharap pertemuan ini bukan hanya sebatas silaturahmi, tetapi juga menjadi pintu lahirnya kerja sama nyata dalam membangun program-program yang bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat,” kata Hani saat menerima kunjungan Pengurus Besar Wanita Al-Irsyad di Kantor PP Mushida, Cipinang Cempedak, Jakarta, 24 Rabi’ul Awal 1447 (17/9/2025).

Dalam sambutannya, Hani Akbar menyampaikan rasa syukur atas kedatangan jajaran PB Wanita Al-Irsyad. Ia menjelaskan bahwa Mushida merupakan organisasi pendukung Hidayatullah yang memiliki visi membangun keluarga Qur’ani menuju peradaban Islam.

Hingga kini, Mushida telah berdiri di 37 wilayah di seluruh Indonesia serta memiliki satu perwakilan di Papua Pegunungan. Selain itu, ia turut memperkenalkan Sistematika Wahyu sebagai manhaj perjuangan Hidayatullah dalam gerakan tarbiyah dan dakwah.

Sementara itu, Ketua Umum PB Wanita Al-Irsyad, Dra. Fahimah Abdul Kadir Askar, mengungkapkan kegembiraan dapat bersilaturahmi dengan jajaran PP Mushida.

Fahimah memperkenalkan jajaran pengurus yang hadir sekaligus menyampaikan program-program organisasi yang mencakup bidang pendidikan, ekonomi, sosial, dan lainnya.

“Kedatangan kami ke sini untuk silaturahmi, berguru, sekaligus menjalin sinergi program,” ungkap Fahimah.

Wanita Al-Irsyad sendiri merupakan salah satu organisasi wanita Islam tertua yang hadir sejak 1939 menjadi badan otonom dari Jam’iyah Al-Irsyad Al-Islamiyyah. Saat ini, organisasi tersebut memiliki 15 Pengurus Wilayah (PWW) dan 57 Pengurus Cabang (PCW) yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Momentum pertemuan ini juga disambut baik oleh Sekretaris Jenderal PP Mushida, Sarah Zakiyah, M.Pd. Ia menyampaikan rasa terima kasih atas sambutan hangat yang terjalin sepanjang acara.

Menurutnya, silaturahmi ini bukan hanya ajang temu muka, tetapi juga langkah nyata dalam mempererat ukhuwah sekaligus membuka peluang sinergi antarorganisasi muslimah.

Pertemuan yang berlangsung dalam suasana akrab tersebut diharapkan menjadi tonggak penting untuk memperluas jejaring dakwah muslimah di Indonesia.

Kolaborasi antara Mushida dan Wanita Al-Irsyad dapat memperkuat program pemberdayaan di berbagai bidang, mulai dari pendidikan hingga ekonomi, serta menghadirkan kontribusi nyata bagi umat.

Lebih lanjut, silaturrahim ini diharapkan semakin meneguhkan peran strategis perempuan dalam merawat nilai-nilai kebersamaan, sekaligus menyiapkan kontribusi berkelanjutan untuk masyarakat luas.

Ilmu Kehilangan Makna Apabila Tidak Ditopang Kekuatan Spiritual dan Amal Nyata

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ilmu pengetahuan, betapapun luasnya, akan kehilangan makna apabila tidak ditopang oleh kekuatan spiritual dan amal nyata. Hal ini ditegaskan dalam Seminar Nasional bertema “Peran Murabbiyah dalam Menyongsong Kebangkitan Islam” yang digelar Majelis Murobbiyah Pusat Muslimat Hidayatullah di Aula DPP Hidayatullah, Jakarta, pada Ahad, 27 Rabi’ul Awal 1447 (20/9/2025).

Seminar ini merupakan bagian dari rangkaian Musyawarah Nasional ke-6 Muslimat Hidayatullah dan berlangsung secara hybrid, dengan 45 peserta hadir secara langsung dan 250 peserta mengikuti secara daring dari berbagai wilayah di Indonesia.

Ketua Dewan Murabbi Pusat (DMP) Hidayatullah Ust. Dr. H. Tasrif Amin, M.Pd,, dalam sambutannya menekankan pentingnya keterpaduan antara ilmu, spiritualitas, dan amal.

“Materi yang sudah diberikan dalam Akademi Jatidiri (Akjari) tidak akan bermakna apabila tidak ditopang oleh kekuatan spiritual dan amal nyata,” ujarnya. Ia menambahkan, “Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH) harus dimulai dari pribadi. Kalau pribadi kuat, maka ia akan menjadi energi bagi jamaah.”

Dia menjelaskan, pesan integrasi ilmu tersebut sejalan dengan firman Allah dalam surah Ali Imran ayat 79 yang menegaskan bahwa ilmu harus melahirkan pribadi yang mengakar dalam spiritualitas dan konsisten dalam amal.

“Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya,” nukilnya.

Dalam sesi materi, Syekh Muhammad Alfuli dari Mesir menegaskan peran strategis murabbiyah sebagai pendidik yang lebih dari sekadar pengajar.

Syeikh Alfuli menggambarkan murabbiyah sebagai sosok yang menanamkan aqidah lurus di hati mutarobbiyah serta berperan sebagai penyembuh luka hati.

“Murabbiyah berperan sebagai seorang mujahidah yang berjihad di jalan Allah. Berjihad bisa dilakukan dengan harta, ilmu, waktu, bahkan nyawa,” paparnya.

Syekh Alfuli juga menyampaikan empat strategi praktis menyongsong kebangkitan Islam, yaitu, membangun keluarga visioner, meningkatkan kualitas diri, berkumpul dengan orang baik, dan memperbaiki niat.

“Bangun keluarga dengan arah yang jelas, perkuat niat hanya untuk Allah, serta terus tingkatkan kapasitas diri dengan ilmu. Berkumpullah dalam lingkungan yang baik serta jaga keikhlasan niat agar amal tidak ternodai,” jelasnya.

Pemikiran ini diperkuat oleh Ketua Umum DPP Hidayatullah, Ust. H. Dr. Nashirul Haq, yang menyebut bahwa kunci kemenangan Islam terletak pada i‘tiṣham bihablillah (berpegang teguh kepada Allah) dan laa tafarraqu (tidak bercerai-berai).

“Tarbiyah adalah proses menumbuhkembangkan manusia dalam segala aspek agar mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Murabbiyah berperan penting dalam membentuk generasi rabbani yang kokoh menghadapi tantangan zaman,” jelasnya.

Ia menambahkan, tarbiyah dalam tradisi Hidayatullah mengandung sepuluh makna, mulai dari tafdziyah hingga at-ta‘lim, yang semuanya menekankan aspek pendidikan, perbaikan, hingga penjagaan moral.

“Kebangkitan Islam adalah janji Allah bagi orang beriman dan beramal shalih. Dalam proses kebangkitan itu, peran murabbiyah sangat strategis, menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya, penjaga moral umat, pendidik lahirnya generasi rabbani, pejuang dakwah, penggerak perubahan, dan pemimpin bagi kaum wanita,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Panitia pelaksana acara, Nur Iryani, S.Pd.I, menjelaskan Seminar Nasional ini menandai momentum penting dalam menguatkan peran murabbiyah.

“Dengan sinergi tarbiyah, dakwah, serta ketulusan niat, murabbiyah Muslimat Hidayatullah diteguhkan sebagai ujung tombak dalam menyongsong kebangkitan Islam yang sejalan dengan cita-cita keindonesiaan untuk membangun generasi yang berilmu, beriman, dan beramal nyata demi kejayaan bangsa dan umat,” tukas Iryani menandaskan.

Dari STQ Kuaro, Hidayatullah Teguhkan Peran Membangun Generasi Qur’ani

0
Dari STQ Kuaro, Hidayatullah Teguhkan Peran Membangun Generasi Qur’ani (Foto: Dok. Tomi/Paser Pos)

PASER (Hidayatullah.or.id) — Pondok Pesantren Hidayatullah Kuaro, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, kembali menegaskan perannya sebagai lembaga pendidikan integral yang berkontribusi dalam mencetak generasi Qur’ani.

Harapan besar disampaikan agar pesantren ini mampu melahirkan santri yang tidak hanya unggul dalam tilawah, tetapi juga memiliki semangat dakwah dan kepemimpinan.

“Pondok Pesantren Hidayatullah Kuaro diharapkan bisa lebih banyak mencetak generasi Qur’ani yang tidak hanya unggul dalam tilawah, tetapi juga memiliki semangat dakwah dan kepemimpinan,” ungkap Ustaz Muhammad Fadhil, salah satu pembina pesantren.

Harapan tersebut lahir seiring prestasi yang diraih para santri dalam Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ) I tingkat Kecamatan Kuaro, Kabupaten Paser, yang digelar pada 17–20 September 2025. Ajang ini berlangsung di empat lokasi, yakni Arena MTQ Kuaro, Masjid Besar Al Jihad Kuaro, MTsN 3 Paser, serta Gedung Serbaguna Kuaro.

STQ perdana di tingkat kecamatan itu diikuti ratusan peserta dari berbagai lembaga pendidikan, baik pondok pesantren maupun sekolah umum. Lomba mencakup berbagai cabang, seperti Tilawah Al-Qur’an, Tartil, Fahmil Qur’an, dan Kaligrafi.

Tingginya antusiasme peserta maupun pendamping menunjukkan semangat masyarakat dalam membina generasi muda pecinta Al-Qur’an yang dapat berperan dalam pembangunan bangsa.

Santri-santri Hidayatullah Kuaro hadir sebagai bagian dari upaya tersebut. Mereka tampil di beberapa cabang lomba dan sukses menorehkan prestasi membanggakan. Nama-nama juara dari pesantren ini turut mewarnai daftar peraih penghargaan, antara lain:

  • Juara 1 Tartil Putri diraih oleh Nurhana Aida Irwan
  • Juara 3 Tartil Putri oleh Fatimah Azzahrah
  • Juara 3 Tartil Putra oleh Aizza Ibrahim Hafidz
  • Juara 2 Kaligrafi Naskah oleh Miftahatul Khairiyyah
  • Juara 2 Fahmil Qur’an oleh Zahra Hazima Farhani bersama tim

“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur dan bangga. Santri kami mampu bersaing dan berhasil meraih juara dalam beberapa cabang lomba. Semoga capaian ini menjadi motivasi bagi santri lainnya serta memberikan dampak positif bagi perkembangan pondok secara keseluruhan,” ujar Ustaz Fadhil.

Ia menekankan bahwa keberhasilan tersebut merupakan buah dari kerja keras para santri dan pembina yang konsisten mendampingi, baik dalam pembelajaran Al-Qur’an maupun pembinaan karakter.

Bagi pesantren, pencapaian ini bukan hanya soal prestasi di panggung lomba, tetapi juga bagian dari ikhtiar membangun generasi Islam yang unggul secara spiritual dan intelektual.

Lebih jauh, ajang STQ ini diharapkan dia menjadi sarana penjaringan qari dan qariah potensial yang dapat mewakili Kecamatan Kuaro di tingkat kabupaten maupun provinsi.

Selain itu, kegiatan ini juga memperlihatkan sinergi nilai keagamaan dengan semangat kebangsaan, sebab membumikan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari sejalan dengan cita-cita membentuk masyarakat berakhlak mulia di tengah keberagaman Indonesia.

Capaian santri Ponpes Hidayatullah Kuaro, ditambahkan Fadhil, semakin menegughkan langkah bersama dalam menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap Al-Qur’an dan yang siap menjadi pemimpin, pendakwah, dan teladan bagi masyarakat luas.

KSPPS BTH Jalani Uji Kepatutan dan Kelayakan, Tegaskan Komitmen Syariah

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Koperasi sebagai pilar ekonomi rakyat Indonesia terus beradaptasi dengan tuntutan regulasi yang semakin ketat. Hal ini sejalan dengan peran strategis koperasi syariah dalam memperkuat keadilan ekonomi dan menjaga nilai kepercayaan publik.

Sebagai lembaga keuangan syariah berbadan hukum koperasi, Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS) Baituttamwil Hidayatullah (BTH) menegaskan komitmennya untuk tunduk dan patuh pada seluruh aturan yang berlaku. Salah satunya adalah kewajiban menjalani uji kepatutan dan kelayakan yang digelar oleh Kementerian Koperasi (Kemenkop) Republik Indonesia.

Pada Senin, 28 Rabi’ul Awal 1447 (21/9/2025), jajaran pengurus dan pengawas KSPPS BTH mengikuti Fit and Proper Test secara daring yang dipandu langsung oleh Tim Penguji Kemenkop RI.

Ujian ini berlangsung serius namun tetap diselingi kehangatan. Berbagai pertanyaan diajukan, mulai dari pemahaman tentang regulasi koperasi, mekanisme sistem keuangan syariah, hingga strategi pengawasan yang efektif.

Ketua Pengurus KSPPS BTH, Saiful Anwar, menyampaikan bahwa proses ini tidak hanya menjadi evaluasi teknis, tetapi juga menyentuh aspek moral dan spiritual.

“Kami diuji bukan hanya soal regulasi, tapi soal kesiapan mental dan keikhlasan. Hal ini semakin menegaskan bahwa amanah koperasi adalah ibadah yang tidak mudah, menuntut kesungguhan dan dedikasi,” ujarnya.

Saiful menambahkan bahwa kepatuhan pada regulasi merupakan keharusan bagi koperasi syariah.

“Sebagai lembaga keuangan syariah berbadan hukum koperasi, KSPPS BTH harus tunduk dan patuh pada seluruh regulasi, di antaranya adalah uji kepatutan dan kelayakan oleh Kementerian Koperasi,” tegasnya.

Ujian tersebut tidak hanya mengukur kemampuan menjawab pasal hukum atau menyusun strategi bisnis, tetapi juga menilai sejauh mana pengurus dan pengawas menjaga kepercayaan anggota. Dalam kerangka itu, menjaga prinsip syariah serta menahan diri dari potensi penyalahgunaan kekuasaan menjadi hal yang esensial.

Ketua Pengawas KSPPS BTH, Wahyu Rahman, turut menekankan dimensi moral dari pengawasan koperasi. Baginya, mengawasi bukan sekadar memeriksa angka atau laporan keuangan, melainkan memastikan dana anggota benar-benar dikelola secara jujur, transparan, dan sesuai syariah. “Jadi ujian ini adalah pengingat, bahwa pengawas pun harus bersih niatnya,” katanya.

Dari pihak pemerintah, Ketua Tim Penguji Kemenkop RI, Budi Suharto, menegaskan bahwa penilaian tidak berhenti pada kompetensi teknis.

Integritas menjadi aspek utama yang turut ditelaah dalam fit and proper test. “Yang kami harapkan, para pengurus dan pengawas mampu membuktikan diri bukan hanya kompeten, tapi juga amanah,” kata Budi, seraya menegaskan Fit and Proper Test ini menjadi bagian dari proses panjang penguatan tata kelola koperasi di Indonesia.

Sementara itu, bagi KSPPS BTH, ujian ini tidak hanya menjadi kewajiban administratif, tetapi juga momentum untuk memperkokoh komitmen dalam menegakkan prinsip syariah dan merawat kepercayaan anggota.

Semoga dengan langkah ini, diharapkan koperasi syariah dapat terus berperan sebagai instrumen penting dalam membangun kemandirian ekonomi bangsa.

Jalankan Misi Maqasid Syariah dan Kisah Haru Warga Belajar Al-Qur’an

0

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Di tengah dinamika kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk, pendidikan Al-Qur’an tetap menjadi fondasi penting dalam membangun kualitas spiritual bangsa.

Di Sulawesi Selatan, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) Sulsel berupaya menghadirkan pembinaan yang tidak hanya menyentuh kebutuhan material, tetapi juga memperkuat dimensi rohani umat.

Ketua Laznas BMH Sulsel, Kadir, menegaskan, program pembinaan baca Al-Qur’an ini merupakan bagian integral dari misi maqasid syariah yang dijalankan lembaganya.

Ia menjelaskan bahwa maqasid syariah menuntut keterpaduan antara pemenuhan kebutuhan jasmani dan rohani.

“Kami berkomitmen tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar mustahik berupa makanan (hifz an-nafs), tetapi juga kebutuhan rohani mereka melalui ilmu agama (hifz ad-din),” kata Kadir dalam keterangannya dikutip media ini, Selasa, 1 Rabi’ul Akhir 1447 (23/9/2025).

Kegiatan pembinaan ini berlangsung rutin setiap pekan di hari Selasa di Aula BMH Sulsel. Puluhan warga binaan mengikuti pembelajaran membaca Al-Qur’an dengan metode Terampil Membaca Al-Qur’an 8 Jam Grand MBA. Mereka berasal dari latar belakang dan usia yang beragam, namun bersatu dalam semangat untuk memperbaiki bacaan Al-Qur’an.

“Dengan memperbaiki bacaan Al-Qur’an, shalat, dan hafalan surah pendek, kami berharap kualitas hidup para mustahik semakin baik lahir dan batin,” kata Kadir menambahkan.

Bimbingan mengaji ini dilakukan langsung oleh Ustadzah Sumarni. Ia mendampingi para peserta mengeja huruf demi huruf, hingga mampu merangkai bacaan dengan lebih baik.

Meski beberapa peserta telah memasuki usia senja, semangat mereka tidak surut. Hal ini menegaskan pesan universal bahwa menuntut ilmu, khususnya ilmu agama, tidak mengenal batas usia.

Susi Erawati (59), seorang pemulung asal Sipala, Makassar, mengaku sangat terharu bisa mengikuti program ini. “Alhamdulillah, BMH memfasilitasi kami untuk belajar Al-Qur’an. Selama ini kami sudah menerima bantuan sembako, kini ditambah dengan ilmu yang sangat berharga,” ungkapnya.

Kisah lain datang dari Daeng Bulan (60), warga Bontoramba, Makassar. Dengan penglihatan yang mulai terbatas dan bacaan yang masih terbata-bata, ia tetap menyelesaikan seluruh sesi pembelajaran. “Belajar Al-Qur’an tidak mengenal batas usia,” katanya lirih, namun penuh keyakinan.

Program ini menjadi wujud nyata pengelolaan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) yang tidak hanya diarahkan pada aspek ekonomi, tetapi juga aspek spiritual. Dengan cara ini, terang Kadir, Laznas BMH Sulsel menegaskan peran zakat sebagai instrumen transformasi sosial dan keagamaan yang berkelanjutan.

“Dalam konteks keindonesiaan, program ini menghidupkan kembali tradisi belajar Al-Qur’an di tengah masyarakat, sekaligus memperkuat identitas spiritual bangsa,” katanya.

Ke depan, BMH Sulsel bertekad memperluas jangkauan program serupa. Harapannya, semakin banyak masyarakat kurang mampu yang dapat merasakan manfaat ganda, yakni, terpenuhinya kebutuhan dasar sekaligus meningkatnya kualitas spiritual.

“Dengan demikian, zakat yang terkelola baik dapat menjadi sarana penguatan iman sekaligus penggerak pembangunan manusia Indonesia seutuhnya,” tandasnya.

Sukarwan Santri yang Berdakwah dan Berdaya dengan Kopi

0

MENJADI santri selalu menghadirkan cerita istimewa. Dari pesantren, jalan hidup bisa mengalir ke mana saja. Menjadi guru, petani, pedagang, penggerak masyarakat, bahkan pemimpin. Bagi seorang santri, yang terpenting bukanlah fasilitas atau gelar, melainkan kesetiaan pada jalan Ilahi.

Itulah yang tampak dalam diri para santri awal Hidayatullah, termasuk sosok Sukarwan.

Sukarwan, pria berusia 58 tahun asal Rahtawu, Kudus, bukanlah nama besar di panggung nasional. Namun kisah hidupnya adalah potret nyata bagaimana seorang santri bisa tumbuh menjadi penggerak dakwah di tengah masyarakat.

Ia tidak mengejar kemewahan, tidak pula tergoda dengan jalan pintas duniawi. Sebaliknya, ia memilih kembali ke desanya untuk merawat spiritualitas warga, sambil tetap menghidupi keluarganya lewat kebun kopi yang ia garap dengan tekun.

“Kalau saya tidak kembali, siapa yang merawat spiritualitas warga desa saya,” ucapnya lirih saat ditemui Hidayatullah.or.id di teras rumahnya, sambil menyesap kopi yang sudah mulai hangat pada malam pertengahan September 2025.

Kalimat itu menggambarkan panggilan jiwa yang membawanya pulang. Sebelum kembali ke Rahtawu, Sukarwan sempat menjadi bagian dari perintisan Pesantren Hidayatullah Kudus.

Ia tumbuh bersama tradisi pesantren, menghirup nilai-nilai dasar Hidayatullah: Sistematika Wahyu, Ahlussunnah wal Jama’ah, Imamah Jama’ah, Jama’atun Minal Muslimin, Al-Harakah Al-Jihadiyah Al-Islamiyah, hingga Wasathiyah. Nilai-nilai itu melekat dalam dirinya, menjadi panduan dalam setiap langkah.

Kini, meski usia tak lagi muda, ia tetap teguh menapaki jalan dakwah. Tidak hanya mengurus masjid, ia juga aktif membimbing warga, termasuk para mualaf yang terus berdatangan di Rahtawu. Setiap kali ada orang baru yang mengikrarkan syahadat, wajahnya kembali berseri. “Ini benar-benar menggembirakan,” ujarnya penuh syukur.

Namun, jalan dakwah di pedesaan tentu tidak mudah. Sukarwan tahu betul bahwa masyarakat butuh sentuhan yang lebih menyeluruh. Dakwah tidak bisa hanya berhenti di mimbar masjid. Ia harus merambah ke sektor ekonomi, pendidikan, dan sosial.

“Kami masih butuh dukungan untuk dakwah yang lebih komprehensif dan inklusif,” katanya, seraya mengapresiasi dukungan yang telah hadir melalui program sembako, beasiswa, dan pembinaan dari Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH).

Malam itu, sembari berbincang, Sukarwan menuturkan keinginannya agar petani kopi di desanya mendapat akses bantuan pasca panen. Menurutnya, jika kopi Rahtawu bisa dikelola dengan baik, hasilnya akan meningkatkan taraf hidup masyarakat.

“Harapannya masyarakat semakin bersyukur kepada Allah, sehingga ibadah dan kemajuan umat dalam banyak sektor bisa kita lakukan bersama-sama,” ujarnya penuh harap.

Sukarwan memang dikenal sebagai pribadi yang sederhana namun penuh semangat. Siapa pun yang baru mengenalnya mungkin hanya melihat sosok yang khusyuk dalam dzikir. Tetapi di balik itu, ia punya sisi lain yang mengejutkan.

Ia lihai mengendarai motor menaklukkan jalan curam Gunung Muria. Tidak jarang ia membonceng istrinya melewati jalur terjal dengan kecepatan tinggi, sambil tetap tersenyum santai. “Baru sampai sini,” candanya saat berhenti sejenak sebelum melanjutkan perjalanan menuju lereng gunung.

Kehidupan Sukarwan adalah percampuran unik antara keteguhan spiritual dan ketangguhan fisik. Di satu sisi ia seorang santri yang setia berdakwah, di sisi lain ia seorang petani yang tekun membudidayakan kopi, serta pengendara tangguh yang menjadikan medan berat sebagai sahabat sehari-hari.

Dalam perjalanan dakwahnya, Sukarwan tidak pernah benar-benar sendirian. Sahabat lamanya di pondok dulu, seperti Ustaz Iman Syahid dan Ustaz Hanifullah, sering berkunjung ke Rahtawu. Mereka datang bukan hanya membawa kabar, tetapi juga energi persaudaraan yang membuat Sukarwan merasa didampingi.

“Dua orang itu sahabat dan guruku. Mereka selalu datang menengok saya yang banyak melakukan dakwah fardiyah di sini,” ujarnya dengan mata berbinar.

Kini, asa baru sedang bertumbuh. BMH Kudus dan Jawa Tengah berencana membantu pengembangan kopi Rahtawu agar bisa menjangkau pasar yang lebih luas. Langkah ini diyakini akan memperkuat kemandirian ekonomi warga sekaligus menghidupkan dakwah yang lebih berkelanjutan.

Eko, Koordinator BMH Kudus, menyelipkan kalimat penuh makna di sela obrolan malam. “Saatnya santri berdaya dengan kopi. Karena dakwah itu nikmat sambil ngopi-ngopi. Siapa yang tak suka kopi, aromanya saja sudah bisa menggugah imajinasi.”

Seloroh hangat Eko itu membuat semua yang hadir tertawa ringan, meski dalam hati mereka tahu bahwa kalimat itu mengandung pesan serius: dakwah tidak bisa dilepaskan dari pemberdayaan.

Sukarwan sendiri tidak pernah berhitung seberapa jauh ia telah berjalan. Ia hanya terus menapaki jalannya dengan penuh ketulusan. Setiap butir kopi yang ia tanam, setiap dzikir yang ia lafalkan, setiap langkah yang ia ayunkan di jalanan terjal Muria, semuanya adalah bagian dari pengabdiannya.

Di usianya yang mendekati enam dekade, Sukarwan seolah hendak membuktikan bahwa menjadi santri bukanlah fase sementara, melainkan jalan hidup. Santri adalah identitas yang melekat hingga akhir hayat, yang terus memandu untuk berbuat baik, bermanfaat, dan berguna bagi sesama.

Maka, bila ditanya apa yang membuat Sukarwan tetap teguh di jalan ini, jawabannya sederhana, ia ingin hidup bermakna, hidup yang dekat dengan Allah, sekaligus bermanfaat bagi manusia.

Dalam kesederhanaannya, ia mengajarkan bahwa dakwah bisa hadir dalam secangkir kopi, dalam senyum tulus, dan dalam ketekunan seorang santri desa yang tak pernah lelah mencintai umatnya.

Pesantren Hidayatullah dan Polres Boven Digoel Eratkan Sinergi untuk Kamtibmas

0

BOVEN DIGOEL (Hidayatullah.or.id) — Dalam semangat keberislaman dan keindonesiaan, hubungan pesantren dan aparat keamanan senantiasa menjadi bagian penting dari jalinan kebersamaan bangsa. Di tengah dinamika masyarakat, sinergi keduanya berperan dalam menjaga harmoni sosial dan memastikan terciptanya keamanan serta ketertiban.

Dalam kerangka tersebut, Pondok Pesantren Hidayatullah menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas kepedulian serta perhatian dari Satlantas Polres Boven Digoel. Mereka berharap sinergi antara pesantren dan kepolisian terus terjalin, khususnya dalam mendukung terciptanya keamanan, ketertiban, dan keselamatan berlalu lintas di lingkungan masyarakat.

Pernyataan itu disampaikan langsung oleh Ketua Pondok Pesantren Hidayatullah, Ust. Zainal Abidin, S.Pd., ketika menerima rombongan silaturahim dari Polres Boven Digoel pada Rabu, 24 Rabiul Awal 1447 (17/09/2025). Acara ini digelar dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-70 Lalu Lintas Bhayangkara, bertempat di Kampung Persatuan, Distrik Mandobo, Papua Selatan.

Rombongan Satlantas Polres Boven Digoel yang dipimpin Kasat Lantas Iptu Afif Syofjanturi hadir mewakili Kapolres Boven Digoel, AKBP Wisnu Perdana Putra, SH, SIK, MM, CPHR. Kehadiran mereka disambut hangat oleh pengasuh pesantren.

Iptu Afif menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk silaturahim rutin sekaligus upaya mempererat sinergi dengan masyarakat, khususnya lembaga pendidikan berbasis keagamaan.

“Pesantren memiliki peran penting dalam membimbing masyarakat menjaga keamanan, ketertiban, serta mencegah dan menanggulangi segala bentuk pelanggaran hukum dan gangguan yang meresahkan. Kamtibmas adalah prasyarat penting untuk keberhasilan pembangunan nasional dan menjadi tanggung jawab bersama,” jelasnya.

Selain silaturahim, kunjungan itu juga diisi dengan kegiatan bakti sosial. Pihak kepolisian menyerahkan bantuan berupa sembako dan kebutuhan pokok lain kepada pengasuh serta santri. Bantuan tersebut diharapkan meringankan kebutuhan sehari-hari sekaligus mendukung keberlangsungan pendidikan di pesantren.

Iptu Afif menambahkan, kegiatan ini juga menjadi wujud rasa syukur atas peringatan HUT ke-70 Lalu Lintas Bhayangkara. Tahun ini, pihaknya mengusung tema “Lalu Lintas Modern yang Berkeselamatan Menuju Indonesia Emas”.

Menurutnya, tema itu menekankan pentingnya pelayanan yang humanis dan profesional, sekaligus memperkuat komitmen Polantas dalam memberikan pengabdian terbaik kepada masyarakat.

Sementara itu, Ust. Zainal Abidin menyampaikan harapan agar sinergi antara kepolisian dan pesantren terus berlanjut. “Semoga sinergi antara pesantren dan kepolisian terus terjalin, khususnya dalam mendukung terciptanya keamanan, ketertiban, dan keselamatan berlalu lintas di lingkungan masyarakat,” ujarnya.

Melalui pertemuan ini, diharapkan hubungan baik antara Polri dan masyarakat semakin kokoh. Keberadaan pesantren sebagai pusat pendidikan umat dan kepolisian sebagai penjaga keamanan dipandang sebagai dua unsur yang saling melengkapi. Dengan terjalinnya kebersamaan itu, cita-cita untuk menciptakan masyarakat yang aman, tertib, dan berperadaban dapat semakin nyata.

Touring Klub BHI Sulsel-Sulbar Kuatkan Jaringan Dakwah dan Persaudaraan

MAMUJU (Hidayatullah.or.id) — Menjelang Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah yang akan digelar pada 20–23 Oktober 2025 di Jakarta, semangat keberislaman dan keindonesiaan kembali dipererat melalui jalan kebersamaan.

Bikers Hidayatullah Indonesia (BHI) melaksanakan Touring Peradaban, yang menurut ketua panitia, Sarmadan Karani, sebuah agenda yang tidak hanya menjadi perjalanan fisik melintasi rute Makassar (Sulawesi Selatan) menuju Mamuju (Sulawesi Barat), tetapi juga sarana konsolidasi, penguatan ukhuwah, dan perumusan arah organisasi di masa depan.

“Touring ini menjadi momentum untuk memperkuat ukhuwah, meningkatkan semangat kebersamaan, sekaligus menyusun strategi pengembangan organisasi di masa depan,” kata pria yang karib disapa Om Dani ini dalam keterangannya, Senin, 29 Rabi’ul Awal 1447 (22/9/2025).

Om Dani menegaskan, touring yang dilakoni klub motor Bikers Hidayatullah Indonesia ini menjadi wadah strategis yang berakar pada nilai persaudaraan Islam sekaligus memperkokoh komitmen kebangsaan.

Rombongan BHI berangkat dari Makassar pada Jumat siang, 19 September 2025, dan tiba di Mamuju pada Sabtu subuh, 20 September 2025. Kehadiran mereka disambut hangat oleh Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Barat, Ustadz Mardhatillah.

“Kami sangat bersyukur mendapat kunjungan dari BHI Sulsel, ini menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kami,” ujar Mardhatillah.

Selama berada di Mamuju, peserta touring tidak hanya menikmati perjalanan melintasi eksotisme bentangan Sulawesi yang bak patahan surga ini, tetapi juga mengikuti berbagai kegiatan yang bernuansa keilmuan dan kebersamaan.

Mereka mengadakan pertemuan santai ngopi bareng dengan pengurus DPW Hidayatullah Sulbar, city touring mengelilingi kota, hingga bermalam di Pantai Tapandullu. Di lokasi tersebut, para peserta menggelar halaqah ilmiah sekaligus kegiatan Tudang Sipulung, forum musyawarah khas Sulawesi, untuk membicarakan strategi pengembangan BHI di masa mendatang.

Dikatakan Om Dani, Touring Peradaban ini memberi ruang refleksi bahwa pergerakan organisasi tidak lepas dari kerja kolektif. Perjalanan dari Makassar ke Mamuju yang menempuh waktu panjang merepresentasikan tantangan yang harus dihadapi bersama. Kebersamaan dalam perjalanan melahirkan semangat gotong royong, saling menopang, dan mempererat jaringan antarwilayah.

“Momentum ini semakin penting karena beriringan dengan persiapan Munas VI Hidayatullah. Melalui touring, BHI berusaha mengirimkan pesan kuat bahwa forum nasional bukan hanya ajang pengambilan keputusan, tetapi juga hasil dari rangkaian konsolidasi dan pembentukan solidaritas di akar rumput,” katanya.

Dengan demikian, lanjut dia, Munas VI diharapkan dapat melahirkan kebijakan strategis yang berpijak pada realitas, aspirasi, dan semangat kolektif para kader di seluruh wilayah.

Touring Peradaban, imbuhnya, menegaskan bahwa ukhuwah dan konsolidasi adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan membangun organisasi. Ia menggabungkan kehangatan silaturahim, semangat kebersamaan, serta refleksi strategis menuju masa depan.

“Di jalanan yang ditempuh para biker, tercermin langkah-langkah kecil menuju arah besar, yakni menjadikan dakwah dan peran sosial Hidayatullah semakin kokoh di tengah masyarakat dan bangsa,” tandasnya.

Silaturahim Dai Hidayatullah di Baduy Tegaskan Dakwah sebagai Perekat Persatuan Bangsa

BANTEN (Hidayatullah.or.id) — Ratusan dai Hidayatullah berkumpul di Kampung Muallaf Suku Baduy, Desa Cibungur, Kabupaten Lebak, Banten, pada Sabtu-Ahad, 28 Rabi’ul Awal 1447 H atau 20–21 September 2025. Mereka hadir dalam Halaqoh Kubro Gabungan yang melibatkan tiga wilayah dakwah, yakni Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.

Kegiatan forum silaturrahim dan konsolidasi dai yang berlangsung dengan suasana guyuran hujan ringan ini perwujudan kesungguhan membangun sinergi dakwah lintas daerah.

Ketua Panitia Ahmad Maghfur Gunawan menegaskan,kegiatan silaturrahim dan malam refleksi ini erat kaitannya dengan spirit pembinaan dan kiprah pengabdian dalam menerangi hidup umat yang dilakukan oleh Hidayatullah di berbagai titik di nusantara.

Diharapkan dari sini, kian memantapkan nawaitu luhur bahwa peran dakwah, pembangunan, dan penguatan transformasi peradaban mesti menyentuh semua kalangan termasuk saudara saudara sebangsa dan setanah air yang ada di pedalaman.

“Lebih dari sekedar silaturrahim yang berlangsung di tengah keindahan alam pedalaman Banten, melalui agenda ini Hidayatullah ingin menegaskan bahwa dakwah adalah sarana perekat bangsa, menyapa masyarakat tanpa memandang batas geografis, budaya, maupun latar belakang,” katanya Maghfur dalam keterangannya.

Peran dakwah, pembangunan, dan penguatan transformasi peradaban tidak dapat berhenti hanya di kota-kota besar atau pusat-pusat keramaian. Maghfur menegaskan, nilai luhur dakwah Islam mengajarkan bahwa setiap manusia, tanpa kecuali, memiliki hak yang sama untuk mendapatkan cahaya ilmu dan bimbingan hidup.

“Dalam konteks keindonesiaan, semangat itu berarti memastikan bahwa pesan kebaikan, pendidikan, dan pembangunan juga hadir bagi saudara-saudara sebangsa yang hidup jauh di pedalaman, di kampung-kampung adat, atau di wilayah terpencil yang kerap terabaikan,” kata pria Sunda yang juga Ketua DPW Hidayatullah Banten ini.

Ia melanjutkan, dakwah yang menyentuh pedalaman hadir sebagai jalan pembinaan, mengajarkan nilai persaudaraan, dan menumbuhkan kesadaran kolektif untuk bangkit bersama.

“Pembangunan yang lahir dari dakwah ini tidak hanya fisik, tetapi juga pembangunan manusia yang mencerdaskan akal, melembutkan hati, dan menguatkan ikatan sosial,” terangnya, seraya menegaskan bahwa ini bentuk dari amanah kebangsaan yang sejalan dengan nilai Islam rahmatan lil ‘alamin, Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam.

Di sisi lain, penguatan transformasi peradaban menjadi bagian penting dari misi ini. Islam tidak hanya berbicara tentang ibadah personal, tetapi juga tentang bagaimana sebuah masyarakat bergerak menuju tatanan yang lebih adil, bermartabat, dan berdaya.

Maghfur menerangkan, ketika nilai-nilai dakwah masuk ke ruang kehidupan masyarakat pedalaman, ia menjadi energi perubahan yang menumbuhkan kemandirian, memperkuat gotong royong, dan menghubungkan pedalaman dengan arus besar kebangsaan.

Bagi Hidayatullah, jelas Maghfur, Indonesia adalah mozaik yang terdiri dari berbagai suku, bahasa, dan adat. Setiap ujung negeri adalah bagian dari rumah besar yang sama. Karena itu, lanjutnya, menjadikan dakwah dan pembangunan hadir di pedalaman bukanlah pilihan, melainkan keharusan.

“Dakwah adalah wujud nyata bahwa Islam di bumi Nusantara senantiasa bergerak menyatukan, bukan memisahkan. Merangkul, bukan mengucilkan. Seperti pesan para pendiri bangsa, kemerdekaan ini harus dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia, termasuk mereka yang hidup di balik hutan, di pegunungan, atau di pulau-pulau terluar,” katanya.

Maka, imbuhnya lagi, ketika dai-dai Hidayatullah menjejakkan kaki di Kampung Baduy, pesan yang dibawa bukan sekadar seruan dakwah, melainkan peneguhan janji kebangsaan bahwa cahaya peradaban harus sampai ke semua kalangan.

“Inilah spirit Islam dan keindonesiaan yang bertemu, menghadirkan harapan baru agar setiap anak bangsa dapat tumbuh dalam bimbingan iman, ilmu, dan kebersamaan,” tandasnya.

Dalam kesempatan tersebut hadir Ketua Dewan Murabbi Pusat (DMP) Hidayatullah Ust. Dr. H. Tasrif Amin, M.Pd., dan Ketua Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Dr. Muhammad Saleh Usman, S.S., M.Kom, sebagai narasumber utama.

Menyiapkan Generasi Pemimpin Bangsa dari Latihan Dasar Kepemimpinan

0

TULUNGAGUNG (Hidayatullah.or.id) — Tulungagung menjadi wadah lahirnya generasi baru calon pemimpin muda ketika Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Surya Melati Hidayatullah (SMH) menggelar Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) belum lama ini yang sekaligus menandai memasuki bulan September.

Dalam konteks keindonesiaan yang sarat dengan nilai kebersamaan, kegiatan ini menghadirkan gagasan bahwa kepemimpinan sejati bukanlah tentang instruksi, melainkan tentang pelayanan.

“Kepemimpinan tidak hanya tentang siapa yang memberikan instruksi, tapi lebih dari itu, kepemimpinan adalah siapa yang siap melayani dan membersamai karena memimpin itu adalah melayani. Dan sebelum kita memimpin orang lain, kita harus selesai dengan diri kita sendiri,” tegas Alim Puspianto, Ketua Satuan Komunitas Daerah (Sakoda) Pramuka Hidayatullah Jawa Timur.

Pesan tersebut menjadi pokok pemikiran utama yang menjiwai seluruh rangkaian LDK. Esensi kepemimpinan ditempatkan pada pondasi moral: bukan siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang paling siap memberi manfaat.

LDK kali ini diikuti oleh 48 calon pengurus Gerakan Pandu Hidayatullah (GPH) periode 2025–2026. Kehadiran pengurus inti Sakoda Jatim beserta Sekretaris Departemen Pendidikan Hidayatullah Jawa Timur menegaskan pentingnya forum ini dalam mencetak kader yang berintegritas.

Aris Gunawan, Direktur LPI SMH Tulungagung, menyampaikan penghargaan kepada tim Sakoda.

“Kami berharap, bekal yang diberikan hari ini bisa menjadi bekal berharga bagi pengurus GPH dalam menjalankan tugasnya ke depan,” kata Aris dalam keterangannya, Jum’at, 26 Rabi’ul Awal 1447 (19/9/2025).

Menurut Aris, kegiatan ini digelar sebagai wujud komitmen sekolah untuk membentuk siswa yang unggul secara akademik sekaligus berkarakter kepemimpinan.

“Tidak hanya sekadar cerdas di kelas, mereka harus tumbuh dengan jiwa kepemimpinan yang berorientasi pada kebermanfaatan,” jelasnya.

Dalam materinya, Alim Puspianto menggarisbawahi bahwa kepemimpinan adalah tentang pengaruh positif. “Berbicara kepemimpinan tidak berbicara siapa yang hebat, tapi siapa yang siap memberikan manfaat,” ungkapnya.

Ia juga menggunakan analogi dunia rekreasi untuk menggambarkan pentingnya berorganisasi. “Jika sekolah hanya untuk datang dan pergi, kita hanya seperti melihat-lihat saja. Namun, jika kita aktif berorganisasi, kita seperti mengikuti seluruh permainan yang ada,” jelasnya.

Alim menekankan berorganisasi seperti melalui Sakoda Pramuka Hidayatullah sebagai ruang pembelajaran praktis. Dengan berorganisasi, siswa belajar keterampilan penting seperti negosiasi, manajemen, hingga kepemimpinan.

Rangkaian LDK dirancang dengan kurikulum komprehensif. Materi yang diberikan meliputi Leadership Basic Training, Manajemen Organisasi, Penguatan Pandu & Sako, Peraturan Baris-Berbaris, hingga Leadership Game. Perpaduan teori dan praktik membuat suasana interaktif serta menyenangkan.

Endang Suparti, penanggung jawab acara, mengungkapkan rasa syukurnya atas kelancaran kegiatan. “Pembawaan pemateri sangat bagus, materi outdoor dan game edukatif membuat suasana jadi bergairah,” katanya.

Endang menambahkan bahwa antusiasme peserta sangat tinggi. “Bahkan, mereka yang awalnya ragu untuk bergabung dengan GPH, kini sudah mantap untuk ikut. Semoga bisa menjadi bekal untuk kepengurusan GPH ke depan,” imbuhnya.

Endang berharap kegiatan ini terus bergulir sebagai upaya serius dalam investasi jangka panjang bagi bangsa. “Dari LDK di Tulungagung ini, nilai tentang memimpin sebagai melayani diperkuat kembali, sejalan dengan cita-cita membangun Indonesia yang berkarakter dan berdaya guna,” tandas Endang.