
HARI hari setelah Ramadhan berlalu membawa kita pada refleksi Idulfitri. Secara harfiah, Idulfitri bermakna kembali kepada kesucian, sebuah pengingat akan fitrah manusia yang ditegaskan dalam Al-Qur’an:
فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, (tetaplah atas) fitrah Allah yang menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya” (QS. Ar-Rum: 30).
Para ulama menafsirkan bahwa ayat ini merujuk pada kecondongan jiwa dan raga manusia untuk selaras dengan Islam sebagai fitrah bawaan. Idulfitri, dengan demikian, bukan sekadar perayaan, melainkan momentum introspeksi mengenai sejauh mana madrasah Ramadhan telah membentuk kualitas iman kita, mengembalikan kita pada esensi penciptaan sebagai hamba yang berusaha menjalankan Al-Qur’an dan Sunnah.
Tujuan akhir dari puasa Ramadhan adalah terwujudnya insan bertakwa, sebagaimana digambarkan dalam firman Allah dalam Al Qur’an surah Ali Imran ayat 134-135:
الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ. وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللّٰهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْۗ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللّٰهُۗ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ
“(Yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui”
Ayat ini menjadi fondasi bagi kita untuk menakar takwa melalui empat pilar utama yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan setelah Ramadhan usai.
Pertama, kebiasaan berinfak—memberi sebagian harta di jalan Allah—baik dalam kelapangan maupun kesempitan. Ramadhan acapkali membangkitkan semangat filantropi, namun tantangannya adalah melanggengkan kebiasaan ini di bulan-bulan berikutnya.
Allah berfirman, “Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan infakkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar” (QS. Al-Hadid: 7).
Infak di sini mencakup jihad fi sabilillah, pembangunan masjid, madrasah, hingga lembaga sosial yang diridai Allah. Banyak yang ragu berinfak karena khawatir hartanya berkurang, namun Rasulullah menegaskan bahwa sedekah tidak pernah mengurangi kekayaan, melainkan menjadi investasi akhirat.
Dalam QS. Al-Baqarah: 261, Allah mengibaratkan, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir tumbuh seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang dikehendaki, dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
Bahkan, dalam QS. Al-Baqarah: 274, disebutkan, “Orang-orang yang menginfakkan hartanya malam dan siang hari (secara) sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya.” Janji pengganti pun ditegaskan dalam QS. Saba’: 39, “Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezeki yang terbaik.”
Kedua, pengendalian hawa nafsu, terutama dalam menahan amarah. Kehidupan selalu diwarnai cobaan, sebagaimana Allah tegaskan dalam QS. Al-Baqarah: 155, “Dan Kami pasti akan menguji kamu.”
Sabar menghadapi ujian tanpa keluh kesah adalah tanda kekuatan sejati. Rasulullah bersabda, “Siapa yang menahan amarahnya padahal ia mampu melakukannya, Allah ‘Azza wa Jalla akan memenuhi hatinya dengan rasa aman pada hari kiamat” (HR. Ibnu Asakir).
Dalam pandangan penulis, cobaan sejati hanya akan sirna ketika kita telah berada di surga. Oleh karena itu, di sinilah pentingnya kita memiliki pendekatan yang tepat untuk merespon setiap persoalan yang menghinggapi kita sehingga memiliki determinasi yang kuat dalam melakoni kehidupan untuk menjadi manusia pemenang. Bukan sebaliknya, menjadi manusia pecundang.
Ketiga, kesabaran sebagai sikap aktif dalam menghadapi penderitaan. Ibn Qayyim Al-Jawziyyah mendefinisikan sabar sebagai kemampuan menanggung rasa sakit tanpa mengeluh, sekaligus mencari solusi.
Sementara itu, Imam Al-Ghazali mengklasifikasikan sabar dalam tujuh bentuk: al-iffah (menahan nafsu perut dan farji), asy-syaja’ah (menahan diri dari permusuhan), al-hilm (menahan amarah), az-zuhd (menjauhkan diri dari kemewahan), al-qana’ah (menerima rezeki dengan ikhlas), serta kitmanu sirrin dan sa’atu shadrin (menjaga rahasia dan memaafkan orang lain).
Ali bin Abi Thalib menyamakan hubungan sabar dan iman seperti kepala dengan tubuh: tanpa sabar, iman akan rapuh. Kesabaran ini bukanlah kepasifan, melainkan kekuatan batin yang menuntun kita pada kemenangan spiritual.
Keempat, taubat atas dosa yang telah lalu. Nabi bersabda, “Setiap anak Adam pernah berbuat salah, dan sebaik-baik yang berbuat salah adalah yang bertaubat dari kesalahannya” (HR. At-Tirmidzi, no. 2499, hasan).
Kesadaran akan kekhilafan mendorong kita memperbanyak kalimat thayyibah—tahlil, tahmid, tasbih, dan istighfar—sebagai perisai dari godaan syaitan dan penghapus dosa. Nabi menjanjikan, “Barang siapa yang membaca ‘Maha Suci Allah dan aku memuji-Nya’ dalam sehari seratus kali, maka kesalahannya akan dihapuskan sekalipun seperti buih air laut” (HR. Bukhari: 7/168, Muslim: 4/2071, no. 2691).
Dalam hadits lain, beliau menyebut, “Perkataan yang paling disenangi oleh Allah adalah empat: Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, Allahu Akbar. Tidak mengapa dimulai yang mana di antara kalimat tersebut” (HR. Muslim: 3/1685, no. 2137).
Bulan Syawal, khususnya Idulfitri, menjadi momentum emas untuk saling memaafkan dan membuka lembaran baru. Bagi alumni madrasah Ramadhan, hari raya ini menandai komitmen menjalani kehidupan dengan kebiasaan mulia tadi: gemar berinfak dalam segala kondisi, menguasai hawa nafsu, menjalani kesabaran dengan penuh kendali, dan segera bertaubat atas setiap dosa. Semoga nilai-nilai ini terus terpatri dalam keseharian, mengantarkan kita pada kejayaan dunia dan akhirat.[]
*) Nursyamsa Hadis, penulis adalah Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Ummat Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah