
DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Intelektual Muslim dan pendiri Ulul Albab Media, Ustadz Suharsono Darbi, memaparkan keterkaitan antara spiritualitas, pengendalian pikiran, dan penguatan intelektual sebagai fondasi pembentukan identitas Muslim di era modern yang ditandai percepatan arus informasi dan dominasi budaya digital dalam Kajian Ramadhan 1447 H yang berlangsung di Masjid Ummul Quraa Pondok Pesantren Hidayatullah Depok pada Sabtu, 3 Ramadhan 1447 H (21/2/2026).
Dalam forum bertema “Membangun Identitas Muslim Remaja di Tengah Budaya Viral,” itu Suharsono Darbi mengemukakan kerangka konseptual awal. Ia menjelaskan bahwa takwa merupakan manifestasi konkret dari iman dalam seluruh dimensi kehidupan manusia. Ia menegaskan bahwa takwa tidak berhenti pada aspek ritual, tetapi mencerminkan orientasi eksistensial yang utuh.
“Takwa dalam isitilah (ormas) Hidayatullah itu adalah manifestasi iman dalam semua aspek kehidupan. Jadi, perwujudan dari seluruh dimensi iman dalam kehidupan itulah yang disebut dengan takwa,” ujarnya.
Untuk memperjelas relasi antara iman dan tindakan, ia mengangkat peristiwa Perang Khandaq sebagai ilustrasi historis. Ia menjelaskan bahwa secara rasional dan matematis, kondisi umat Islam saat itu berada dalam posisi yang tidak menguntungkan.
“Di perang Khandaq, saat itu umat Islam dikepung oleh pasukan yang bersekutu. Jika menurut analis yang matematis dan menggunakan rasio yang membutuhkan hitung-hitungan matematis, hasilnya kita akan menyerah,” katanya.
Ia kemudian menegaskan bahwa keputusan Rasulullah dan para sahabat untuk bertahan menunjukkan adanya dimensi kesadaran yang melampaui rasionalitas material.
“Tapi kenapa Rasulullah dan para sahabat tidak menyerah? Apa yang membuat mereka tidak menyerah? Ada dimensi yang jauh lebih tinggi yang membuat senjata, jumlah pasukan, dan sebagainya itu tidak menjadi dasar pertimbangan dia untuk bertindak,” jelasnya.
Menurutnya, tindakan manusia ditentukan oleh tingkat kesadaran eksistensial yang dimilikinya, dan puasa menjadi sarana untuk membentuk kesadaran tersebut.
“Kenapa bisa seperti itu? Jadi jawaban tindakan seseorang itu tergantung pada maqom eksistensialnya. Itu mengapa kita diperintahkan untuk berpuasa,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa puasa merupakan seruan ilahiah yang bersifat universal dan memiliki fungsi transformasi spiritual.
“Karena berpuasa itu pada dasarnya seruan ilahiyah, dan karena itulah puasa itu adalah universal,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa puasa memiliki peran dalam meningkatkan kualitas eksistensi manusia.
“Jadi orang yang tidak berpuasa jangan harap dia mencapai derajat eksistensial yang tinggi, dan karena itulah puasa menjadi begitu pentingnya,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa puasa tidak hanya berkaitan dengan pengendalian fisik, tetapi juga pengendalian mental.
“Puasa bagi orang awam hanya sekadar menahan makan dan minum. Lebih tinggi dari itu, menahan jangan sampai pikiran kita itu berpikir terus tentang makan dan minum,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa dominasi pikiran material dapat memengaruhi orientasi eksistensial manusia.
“Orang yang berpikir makan apa nanti waktu berbuka sebetulnya adalah pikiran-pikiran materialisme. Mungkin jika di antara kita ada yang masih berpikir seperti ini, mungkin lapar dan haus sudah terkendali, tetapi pikiran menjadi materialis,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah mengangkat manusia menuju tingkat kesadaran spiritual yang lebih tinggi.
“Sasaran dari puasa adalah supaya manusia sampai ke maqom eksistensi yang tinggi,” katanya.
Mengutip pemikiran Imam Al-Ghazali, ia menjelaskan tahapan perkembangan jiwa manusia, termasuk tahap jiwa yang mencapai ketenangan spiritual.
“Tahap lanjut yaitu adalah muthmainnah, jiwa yang tenang, adalah jiwa yang bisa melihat dunia sebagai dunia sarana mencapai akhirat, dan akhirat menjadi akhirat yang dituju di dalam kehidupan dunia. Kalau sudah berpikir sampai situ, apapun yang diperoleh itu siap dilepas untuk mencapai akhirat,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa tahap tersebut berkembang menuju kondisi orientasi penuh kepada keridhaan Ilahi.
“Itu kalau dalam diri yang tenang, lanjut kepada diri yang mardhiyyah mencari keridhoan Allah,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa puasa menjadi sarana mencapai kesempurnaan penghambaan.
“Nah puasa itu mencapai derajat itu di depan Allah Taala. Jadi kita sampai kepada kamilatun ubudiyah, ketika sampai itu dia menjadi sarana ilahiyah untuk menyebar asma asma Allah, menjadi khalifah Allah di bumi,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa tantangan terbesar dalam puasa adalah pengendalian pikiran.
“Makna pengendalian atau puasa itu yang paling berat adalah tatanan mengendalikan pikiran,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa pikiran menjadi pusat berbagai gangguan rasional dan psikologis.
“Kenapa pengendalian pikiran menjadi sesuatu berat, karena di sini adalah pusat konsentrasi dari setan dan sebagainya, yaitu waswas, dan itu melalui rasional,” ujarnya.
Ia kemudian mengaitkan hal tersebut dengan dominasi rasionalitas materialistik dalam peradaban modern.
“Matematika itu sekuler dan cara berpikirnya materialis, dan kita di sini sangat didominasi oleh matematika,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa Al-Qur’an menawarkan perspektif alternatif melalui analogi yang lebih organik.
“Allah mengilustrasikan hubungan antara suami dan istri sebagai ladang, bukan bilangan variabel matematika. Cara pandang dari Al Quran layaknya sebagai petani,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa puasa membantu menyeimbangkan rasionalitas dan spiritualitas.
“Sudut pandang dari Al Quran itu baru bisa masuk dengan cara pikiran rasionalisme itu diredam dengan puasa, jangan melulu berpikir materialisme,” katanya.
Dalam konteks budaya digital, ia menyoroti fenomena viral sebagai faktor yang memengaruhi persepsi kebenaran.
“Ketika suatu tema menjadi viral, maka itu akan dianggap kebenaran, dan itu kesalahannya,” ujarnya.
Ia menegaskan pentingnya komunikasi kebenaran.
“Sesuatu yang benar tetapi tidak disampaikan maka itu akan dianggap kesalahan,” katanya.
Ia menekankan pentingnya penguatan intelektualitas sebagai respons terhadap arus informasi.
“Satu-satunya cara mengatasi supaya tidak terbawa arus viral adalah dengan meningkatkan intelektual kita,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa teknologi dapat menjadi sarana penguatan intelektual.
“Dengan adanya internet yang luar biasa masifnya zaman sekarang, kalau punya penalaran yang bagus dan mendalam, itu sangat bagus!” katanya.
Ia menegaskan pentingnya pengembangan intelektual sejak usia remaja.
“Pikiran waktu remaja itu bisa diakselerasi ketika dia rajin meningkatkan dan mengembangkan tema-tema yang besar,” ujarnya.
Ia mendorong remaja menjadi teladan intelektual dan moral.
“Jangan hanya merasa up to date, kalau bisa menjadi contoh teladan yang bisa ditiru oleh remaja-remaja lain, bukan hanya akhlaqnya tetapi juga pikirannya,” katanya.
Ia menegaskan pentingnya berpikir kritis sebagai bagian dari pembentukan intelektual.
“Berpikir kritis itu perlu dan harus dilatih,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa berpikir kritis membentuk kemampuan argumentasi.
“Jawaban dari berpikir kritis itu memang tidak selalu benar, tetapi selalu mengajari kita berargumen dengan tertib,” katanya.
Ia menambahkan bahwa berpikir kritis berkontribusi pada stabilitas emosional dan spiritual.
“Orang yang berpikir kritis itu cenderung bisa mengendalikan emosi, dan justru orang yang seperti itu bisa menjaga agama dibanding teman-temannya,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pembentukan kemampuan berpikir merupakan bagian dari proses pendidikan.
“Berpikir itu harus dilatih, dan itu menjadi tugas para guru,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa proses tersebut melibatkan pengamatan dan penalaran sistematis.
“Harus dilatih untuk mengamati suatu fenomena, dikasih reasoning atau pola penalaran,” ujarnya.
Ia mencontohkan metode Rasulullah dalam membangun kesadaran intelektual.
“Rasulullah seringkali berbicara dengan para sahabat dengan gaya bahasa yang ‘menggugat’ agar para sahabat terpancing untuk menjawab walau hanya menjawab ‘Hanya Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui’,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa kemandirian berpikir merupakan bagian dari pembentukan intelektual.
“Terkadang pikiran independen itu menghasilkan anak itu ‘kurang ajar’, tetapi ‘kurang ajar’ itu dihasilkan oleh kerangka berpikir,” ujarnya.
Ia menutup dengan menegaskan kekuatan argumentasi sebagai instrumen perubahan.
“Kekuatan argumentasi sesekali lebih kuat dan lebih menggugah dibanding kekuatan senjata,” katanya.
Kesimpulan
Suharsono Darbi menegaskan bahwa pembentukan identitas Muslim remaja di era digital tidak hanya bergantung pada aspek moral dan ritual, tetapi juga memerlukan integrasi antara spiritualitas, pengendalian pikiran, dan penguatan intelektualitas.
Ia menjelaskan bahwa puasa berfungsi sebagai instrumen transformasi eksistensial yang mengarahkan manusia menuju kesadaran spiritual yang lebih tinggi, sekaligus melatih kemampuan mengendalikan pikiran di tengah dominasi rasionalitas materialistik.
Dalam konteks budaya viral dan percepatan arus informasi, ia menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis, argumentatif, dan independen sebagai fondasi untuk menjaga integritas keimanan dan identitas intelektual. Suharsono menjelaskan bahwa penguatan kapasitas berpikir tidak hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi juga bagian dari proses pendidikan dan pembinaan generasi.
Melalui integrasi antara penguatan spiritual, pengendalian mental, dan pengembangan intelektual, ia menegaskan bahwa remaja Muslim memiliki kapasitas untuk membangun identitas yang kokoh, adaptif, dan relevan dalam menghadapi dinamika zaman, sekaligus menjaga orientasi hidup yang berlandaskan nilai-nilai keimanan.






