AdvertisementAdvertisement

KH Hamim Thohari Ungkap Empat Nilai Karakter Kader dalam Silaturrahim Syawal Jatim

Content Partner

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, KH Hamim Thohari, menyampaikan bahwa kader Hidayatullah perlu memiliki empat karakter utama yang dirumuskan dalam istilah Jawa, yaitu Ngandhel, Kendhel, Bandel, dan Kandhel.

Hal tersebut disampaikan Hamim dalam kegiatan Silaturrahim Syawwal 1447 Hijriah digelar Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Timur di Masjid Aqshal Madinah, Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, pada Sabtu, 8 Syawal 1447 (28/3/2026).

Empat istilah tersebut disampaikan setelah KH Hamim mendengarkan testimoni dari para santri generasi awal Hidayatullah Surabaya yang pernah menjalankan amanah dakwah di berbagai wilayah, termasuk Jawa, Nusa Tenggara, dan Bali. Pengalaman mereka dalam menjalankan tugas dakwah di berbagai daerah menjadi dasar perumusan karakter yang menurutnya penting dimiliki oleh setiap kader.

“Kalau kita mendengar testimoni para santri awal yang dikirim ke berbagai daerah, kita bisa menangkap bahwa perjuangan ini hanya bisa dijalani oleh kader yang memiliki fondasi kuat. Karena itu saya katakan, kader Hidayatullah harus punya karakter Ngandhel, Kendhel, Bandel, dan Kandhel,” ujar KH Hamim dalam kesempatan tersebut.

Ia menjelaskan bahwa keempat istilah tersebut merupakan ringkasan nilai yang terbentuk dari pengalaman perjuangan generasi perintis. Menurutnya, perjalanan dakwah di berbagai wilayah memperlihatkan bahwa keberhasilan perjuangan membutuhkan kesiapan mental, spiritual, dan sosial yang kuat.

“Ini bukan slogan kosong. Ini adalah fondasi mental, spiritual, dan sosial. Dari testimoni para perintis itu kita belajar, perjuangan dakwah tidak cukup hanya dengan niat baik, tetapi butuh keyakinan, keberanian, ketangguhan, dan bekal yang kuat,” jelasnya.

Karakter pertama yang disebutkan adalah Ngandhel, yang dalam bahasa Jawa bermakna percaya atau memiliki keyakinan yang kokoh. KH Hamim menjelaskan bahwa seluruh aktivitas perjuangan harus berakar pada keyakinan yang kuat kepada Allah, kepada ajaran Islam, dan kepada jalan dakwah yang dijalankan.

Ngandhel itu akar dari semuanya. Kader harus punya keyakinan utuh kepada Allah SWT, kepada risalah Islam, dan kepada perjuangan ini. Dari para santri awal kita belajar, mereka bisa bertahan di berbagai daerah karena memiliki keyakinan yang kuat. Mereka tidak mudah goyah oleh keraguan, tidak lemah oleh tekanan, dan tidak berhenti hanya karena hasil belum terlihat,” katanya.

Karakter kedua adalah Kendhel, yang diartikan sebagai keberanian. Ia menjelaskan bahwa keberanian merupakan manifestasi dari keyakinan yang hidup dalam diri seorang kader. Pengalaman para perintis yang menjalankan dakwah di berbagai wilayah menjadi contoh bagaimana keberanian diperlukan dalam menghadapi tantangan.

“Mereka yang dahulu dikirim ke Jawa, Nusa Tenggara, dan Bali tidak berangkat dengan jalan mudah. Mereka berangkat dengan keberanian. Maka kader hari ini juga harus Kendhel, berani menyampaikan kebenaran, berani mengambil keputusan, dan berani menghadapi risiko perjuangan,” ujarnya.

Karakter ketiga adalah Bandel, yang dimaknai sebagai ketangguhan dalam menghadapi berbagai ujian. Ia menyampaikan bahwa perjalanan dakwah seringkali diwarnai oleh berbagai tantangan sehingga membutuhkan daya tahan mental yang kuat.

“Perjuangan itu tidak selalu mulus. Ada penolakan, ada keterbatasan, ada tekanan. Maka kader harus Bandel, tidak mudah menyerah, tidak cepat putus asa, dan tetap istiqamah. Kalau jatuh, bangkit lagi. Kalau gagal, belajar lagi. Kalau berat, tetap jalan,” tegasnya.

Karakter terakhir adalah Kandhel, yang berarti memiliki ketebalan atau kekuatan modal. KH Hamim menjelaskan bahwa modal yang dimaksud tidak terbatas pada aspek materi, tetapi juga mencakup kesiapan spiritual, intelektual, dan jaringan sosial yang kuat.

“Kader harus Kandhel. Tebal ilmunya, kuat jaringannya, kokoh nilainya, dan siap berkorban. Para perintis dulu bisa menjalankan amanah karena punya bekal dan kesiapan. Tanpa modal yang kuat, perjuangan akan mudah rapuh,” katanya.

Menurut KH Hamim, keempat karakter tersebut saling melengkapi dalam membentuk profil kader yang mampu menjalankan amanah dakwah secara berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa nilai tersebut tidak cukup dipahami sebagai konsep, tetapi perlu dihidupkan dalam praktik kehidupan sehari-hari.

“Ini bukan untuk dihafal, tetapi untuk dijalani. Setiap kader harus terus mengasah kepercayaan, melatih keberanian, menguatkan ketangguhan, dan memperbesar modal diri. Dari sinilah akan lahir kader pejuang yang siap mengemban amanah dakwah,” tandasnya.

Kegiatan Silaturrahim Syawal 1447 Hijriah ini mengangkat tema “Merawat Jatidiri dari Generasi ke Generasi”.

Acara ini diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Timur bersama Kampus Utama Hidayatullah Surabaya, Dewan Pengurus Daerah, Muslimat Hidayatullah, serta Pemuda Hidayatullah.

Reporter: Muhammad Idris
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Silaturrahim Syawal Jawa Timur, Naspi Arsyad Ingatkan Takwa dan Pewarisan Nilai

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) -- Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, menyatakan bahwa jati diri kader harus tercermin...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img