
BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Salah satu masalah kesehatan yang banyak melanda masyarakat modern hari ini adalah fenomena kecemasan berlebihan atau anxiety disorder yang diantaranya dipengaruhi oleh tekanan psikologis untuk harus tampak “sempurna” demi mendapatkan validasi dari manusia. Merespon gejala semacam ini, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah KH Naspi Arsyad mengingatkan perihal takwa dan ihtisab.
KH Naspi Arsyad mengatakan bahwa indikator utama ketakwaan adalah keikhlasan. Ia menjelaskan bahwa semakin tinggi orientasi akhirat seseorang, maka semakin sempurna keimanannya, sementara orientasi hidup yang berfokus pada dunia dapat membuat hati menjadi sempit dan mudah diliputi kegelisahan.
Naspi mengemukakan konsep ihtisab sebagai landasan penting dalam kehidupan seorang muslim. Ia menjelaskan bahwa Islam pada hakikatnya merupakan sikap berserah diri kepada Allah SWT dengan tujuan meraih keselamatan di dunia dan akhirat.
Dalam pandangannya, perjalanan hidup manusia pada akhirnya mengarah pada kesadaran bahwa keselamatan, ketenangan, dan kebahagiaan hanya dapat dicapai melalui keimanan dan amal yang dilandasi keikhlasan.
Naspi Arsyad menjelaskan bahwa ihtisab berarti mengharapkan pahala dari Allah SWT atas setiap amal kebaikan yang dilakukan. Konsep ini berkaitan erat dengan keikhlasan, yakni berbuat baik tanpa menunggu balasan dari manusia serta tidak mengungkit-ungkit perbuatan yang telah dilakukan.
“Ikhlas itu ditandai dengan harapan hanya kepada Allah. Tugas kita adalah berbuat baik, tanpa mengingat-ingatnya dan tanpa menunggu balasan,” ujarnya dalam tausiyah yang disampaikan pada pengajian Majelis Taklim Salimatunnisa di Bandung, Jawa Barat, pada Selasa, 19 Syawal 1447 (8/4/2026).
Ia menambahkan bahwa ukuran ketakwaan seseorang dapat dilihat dari orientasi hidupnya. Menurutnya, ketika orientasi akhirat menjadi tujuan utama, keimanan akan tumbuh secara lebih kuat. Sebaliknya, orientasi yang hanya tertuju pada kepentingan dunia dapat menimbulkan kegelisahan batin.
Dalam penjelasannya, ia menguatkan pemaparan tersebut dengan mengutip Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 112 yang berbunyi:
مَنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهٗٓ اَجْرُهٗ عِنْدَ رَبِّهٖۖ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَࣖ
“Orang yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah serta berbuat ihsan, akan mendapat pahala di sisi Tuhannya, tidak ada rasa takut yang menimpa mereka, dan mereka pun tidak bersedih“
Menurutnya, ayat tersebut menunjukkan bahwa sikap berserah diri kepada Allah disertai amal kebaikan merupakan jalan menuju keselamatan dan ketenangan hati. Prinsip tersebut, lanjutnya, sejalan dengan konsep ihtisab yang menempatkan keikhlasan sebagai dasar dalam setiap amal.
Dalam uraian selanjutnya, Naspi Arsyad menjelaskan bahwa sikap ihtisab memiliki sejumlah keutamaan, antara lain mampu menenangkan hati, menghapus dosa, serta menumbuhkan semangat dalam menjalankan ibadah. Ia juga menyebutkan bahwa setiap amal kebaikan yang dilakukan dengan niat ikhlas dapat bernilai besar di sisi Allah.
Ia mengingatkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari manusia sering lebih mudah menyadari kesulitan daripada menyadari nikmat yang dimiliki. Padahal, menurutnya, nikmat iman merupakan nikmat yang paling utama dibandingkan berbagai kenikmatan dunia yang bersifat sementara. “Iman adalah nikmat yang tidak terbatas. Sementara yang bisa kita hitung hanyalah nikmat sekunder,” jelasnya.
Dalam sesi tanya jawab, ia menanggapi pertanyaan mengenai menurunnya semangat ibadah setelah Ramadhan. Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut berkaitan dengan sifat iman yang dapat mengalami perubahan, sementara Ramadhan dikenal sebagai momentum intensif dalam ibadah.
Naspi Arsyad mengajak jamaah untuk terus menjaga keikhlasan dalam beramal serta tidak berhenti melakukan kebaikan. “Amalan kecil bisa menjadi besar karena niat yang benar. Maka perbaiki niat, dan jangan pernah kapok dalam berbuat kebaikan,” pungkasnya.






