
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Setiap Kamis pagi, sebuah ruang ibadah di dalam Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Balikpapan menjadi titik pertemuan antara nilai-nilai keislaman dan proses pembinaan warga negara.
Di ruang utama Masjid At-Taubah itu, ayat-ayat Al-Qur’an dibacakan dan ditadaburi bersama para warga binaan, dalam sebuah kegiatan pendampingan rohani yang berlangsung rutin di tengah pengawasan dan aturan pemasyarakatan. Aktivitas ini menggambarkan bagaimana pembinaan spiritual dijalankan sebagai bagian dari upaya pembentukan kembali kesadaran keagamaan di lingkungan terbatas.
Pendampingan tersebut merupakan bagian dari program Dai Tangguh yang dilaksanakan oleh Baitul Maal Hidayatullah (BMH) bekerjasama dengan DPD Hidayatullah Balikpapan. Melalui program ini, simpul sinergi ini secara konsisten mengirimkan dai untuk melakukan pembinaan keagamaan secara intensif di Lapas.
Program tersebut dilandaskan pada komitmen agar akses terhadap dakwah dan ilmu agama dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk warga binaan yang sedang menjalani masa pidana. Dalam konteks keindonesiaan, pendekatan ini sejalan dengan fungsi pembinaan pemasyarakatan yang menempatkan manusia sebagai subjek pembinaan.
Salah satu dai yang terlibat langsung dalam kegiatan ini adalah Ustadz Yasin Adnan. Dalam pendampingannya, ia menerapkan pendekatan tadabur Al-Qur’an yang disesuaikan dengan kondisi psikologis dan sosial warga binaan. Pembinaan ini tidak hanya berfokus pada kemampuan membaca teks suci, tetapi juga pada pemahaman makna dan relevansinya dengan kehidupan yang sedang dijalani para peserta pembinaan.
Ustadz Yasin Adnan menjelaskan bahwa aktivitas dakwah di dalam Lapas diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran spiritual dan mendorong perubahan sikap.
“Kami berupaya menumbuhkan kesadaran spiritual dan membangkitkan semangat untuk berubah. Di sini, kita tidak menghakimi masa lalu, tapi kita fokus menata masa depan melalui tuntunan ayat-ayat Allah,” ujarnya dalam keterangan yang diterima media ini, Rabu, 9 Syaban 1447 (28/1/2026).
Pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan menunjukkan hasil yang teramati dalam keseharian warga binaan. Berdasarkan pelaksanaan program, terjadi peningkatan pemahaman keagamaan, konsistensi dalam menjalankan ibadah, serta tumbuhnya optimisme untuk menjalani kehidupan yang lebih terarah setelah masa pembinaan berakhir. Aspek-aspek tersebut menjadi indikator perubahan yang diharapkan dari pembinaan spiritual di lingkungan pemasyarakatan.
Program Dai Tangguh juga ditempatkan sebagai kontribusi BMH dalam mendukung proses reintegrasi sosial warga binaan. Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Kalimantan Timur, Achmad Rifai, menyampaikan bahwa pembinaan mental dan spiritual memiliki peran penting dalam proses tersebut.
“Dengan mental dan spiritual yang terjaga, warga binaan diharapkan dapat kembali ke tengah masyarakat sebagai pribadi yang lebih religius, santun, dan produktif,” ungkapnya.
Dia mengatakan, pelaksanaan dakwah di wilayah khusus seperti Lapas memerlukan komitmen dan dukungan sumber daya yang berkelanjutan. Dalam konteks ini, peran para donatur menjadi faktor penopang utama. Dana zakat dan infak yang disalurkan melalui BMH memungkinkan keberlangsungan program pendampingan dan memastikan para dai dapat menjalankan tugasnya secara konsisten di ruang-ruang pembinaan khusus.
“Pendampingan rohani di Lapas Balikpapan ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk menjaga martabat manusia, membangun kesadaran beragama, dan mendukung proses pembinaan warga negara menuju kehidupan sosial yang lebih baik,” tandasnya.






