AdvertisementAdvertisement

Membangun Kerekatan Ruhiyah

Content Partner

“RUH-ruh itu pasukan yang terlatih untuk berkumpul. Jika saling mengenal, mereka akan bersatu. Sedangkan jika saling merasa asing, mereka akan berpisah.” (Terjemah hadits riwayat Bukhari Muslim)

Ada satu inspirasi penting dari hadits ini. Bahwa seseorang dengan orang lainnya berkemungkinan akrab dan sinergis manakala ada kesamaan dari dalam, yakni dari ruh. Kesamaan yang sifatnya permukaan semisal kepentingan dan hobi tidak menjamin terjadinya keakraban, mungkin hanya sekedar dekat.

Dalam konteks organisasi, inspirasi tersebut perlu digarisbawahi. Karena kerekatan kader organisasi penting untuk menjamin aktivitas organisasi berjalan sesuai harapan. Lebih jauh pada konteks organisasi Islam, kerekatan sangat penting sebagai ikhtiar bersama di dunia lalu bertetangga di surga.

Di sisi lain, Al-Qur’an surat Al-Isra’ ayat 85 menyampaikan sebuah pesan bahwa sedikit saja tentang ruh yang bisa dipahami oleh manusia. Selebihnya misteri ilahiyah. Oleh karena itu hendaklah serangkaian sikap proaktif dihadirkan.

Pertama, hendaklah setiap orang mengutamakan aktivitas ruhiyah, sendiri atau bersama-sama. Shalat jamaah itu yang utama, disusul dengan aktivitas baca Qur’an dan dzikir. Infaq tidak boleh dilupakan.

Dengan aktivitas ruhiyah yang padat, semoga kebersihan ruhiyah terwujud. Semangat berbuat baik merata dalam diri setiap orang di organisasi. Egoisme terkikis, berganti ta’awun.

Berikutnya, hendaklah setiap orang menyuburkan sikap terbuka. Satu sama lain saling belajar, menasehati, dan memotivasi. Hal ini didasarkan pada keyakinan bahwa setiap orang bisa saling mengisi. Pengetahuan tidak terpusat hanya pada satu atau dua orang.

Berikutnya, hendaklah aktivitas belajar kolektif dilangsungkan sesuai prioritas kebutuhan. Para pemimpin, misalnya, mendalami semua pengetahuan tentang strategi pengembangan komunitas. Para manajer mendalami teknis pengelolaan organisasi. Sedangkan para staf didampingi untuk belajar bekerja efektif dan efisien, juga teknik pemecahan masalah-masalah praktis.

Hasil belajar masing-masing pihak tidak langsung dipraktikkan di organisasi. Akan tetapi didiskusikan di dalam organisasi terlebih dulu. Selanjutnya diambil kesepakatan, hasil belajar mana yang relevan untuk diaplikasikan di organisasi.

Berikutnya, organisasi membangun penyelarasan visi. Orientasi yang dituju didetailkan dalam sistem serta program kerja. Agar segala sesuatu yang nampak, aktivitas dan sarana, terhubung dengan visi. Jangan sampai aktivitas dan sarana menjadi penghias saja tapi minim makna, tak hadir ruh di sana.

Terakhir, baik kiranya setiap kader memiliki semangat berkontribusi untuk organisasi. Jika tidak, maka kontribusi akan banyak bergantung pada sejumlah kader. Padahal kemajuan organisasi membutuhkan kontribusi semua kader.

Senior diharapkan mengerahkan seluruh strategi agar yunior mau berkontribusi. Sementara yunior membuka diri untuk bisa mendampingi senior dalam mengembangkan organisasi. Semua pihak saling menguatkan. Dengan demikian organisasi melaju kencang, disertai hati para kader yang senantiasa lapang.

Wallah a’lam.

FU’AD FAHRUDIN

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Pemuda Hidayatullah Nilai Pidato Jusuf Kalla di UGM Harus Dipahami Secara Utuh

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) -- Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah, Haniffudin Chaniago, merespon polemik penafsiran atas pidato Muhammad Jusuf Kalla...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img