AdvertisementAdvertisement

Membangun “Pabrik” Kader Pemimpin

Content Partner

DALAM sejarah peradaban, keberlanjutan (sustainability) bukanlah sebuah kebetulan atau alamiah. Ia adalah buah dari desain besar yang bernama kaderisasi. Sebuah negara, institusi, organisasi, bahkan keluarga akan mengalami “kematian sejarah” jika ia gagal melahirkan generasi pengganti yang lebih tangguh dari pendahulunya. Menyiapkan kader bukanlah sekadar pilihan personal, melainkan amanah keumatan yang menjadi penentu masa depan umat.

Di dunia ini pernah terlahir peradaban yang bisa bertahan ratusan tahun dengan pergantian beberapa generasi karena kaderisasi berjalan dengan baik. Salah satu alasan mengapa Utsmaniyah mampu bertahan selama lebih dari 600 tahun adalah keberadaan Sekolah Enderun di Topkapi. Ini contoh “kaderisasi” paling sistematis di zamannya. Mereka mengambil input talenta terbaik, menempa mereka dengan proses tarbiyah jasmani dan rohani yang ketat, hingga menghasilkan output birokrat dan panglima sekaliber Muhammad Al-Fatih. Mereka memastikan bahwa suksesi kepemimpinan didasarkan pada meritokrasi, bukan sekadar warisan biologis tapi digabungkan dengan kompetensi.

Satu sisi ada juga peradaban yang berjalan sesaat atau satu generasi saja karena tidak menyiapkan kader dengan baik. Contoh Kekaisaran Mongol setelah era Genghis Khan dan Kublai Khan. Mengapa? Karena mereka hebat dalam penaklukan (acquisition), namun gagal dalam kaderisasi sistemis (pengembangan bakat). Kepemimpinan mereka bersifat atomistik, bergantung pada karisma individu  sehingga saat sang tokoh wafat maka imperium hancur dan punah.

Keruntuhan peradaban sering kali berasal dari internal yaitu melemahnya kaderisasi. Adapun faktor eksternal sebagai titik balik yang mempercepat kehancuran.

Dialektika Kader: Antara Takdir Fitrah dan Rekayasa Kaderisasi

Perdebatan klasik mengenai apakah pemimpin itu dilahirkan (born) atau dibentuk (made) menemukan titik temu yang indah dalam Islam. Rasulullah SAW mengibaratkan manusia seperti “logam” (ma’adin); ada yang bak emas, ada yang bak perak dan perunggu.

Namun, seberapa pun mahalnya emas, ia tidak akan menjadi perhiasan yang indah tanpa proses pemurnian, pembakaran, dan penempaan. Di sinilah letak peran pendidikan (tarbiyah) berbasis kaderisasi dan lingkungan (bi’ah). Kita tidak bisa hanya mengandalkan faktor genetika meski itu juga aspek yang tidak bisa disepelekan, namun jika hanya mengandalkan previlige tanpa mengikuti proses kaderisasi menjadi pemimpin maka kehancuran menunggu waktu saja.

Tugas besar kita bukan sekadar mengumpulkan orang, melainkan membangun sebuah “Pabrik Kader”. Sebuah sistem manufaktur talenta yang terintegrasi untuk mengubah potensi mentah (fitrah) menjadi kompetensi kepemimpinan yang nyata.

Istilah “pabrik” di sini bukan berarti menyamakan manusia dengan mesin, melainkan sebuah penekanan pada presisi proses dan standarisasi kualitas. Dalam manajemen kaderisasi modern, pabrik ini bekerja mengintegrasikan aspek Input, Process, Output, dan Outcome:

Penggunaan istilah pabrik juga sebuah kritik terhadap pola kaderisasi “asal-asalan” yang selama ini terjadi di banyak organisasi. Terkadang input calon kader dengan kualitas apa adanya, tanpa seleksi dan kreteria. Sebagian memiliki input yang bagus tapi tidak memiliki proses yang jelas dan sistematis.

Banyak lembaga yang punya berhasil melahirkan output dengan kuantitas banyak tapi kompetensi kurang memadai. Salah satu sebabnya mesin prosesnya tidak berjalan dengan baik, prosesor sebagai pusat kendali dan teladan tidak ada.

Kemudian  outcome (sejauh mana alumni tersebut berkontribusi) kepada almamater ataupun masyarakat secara luas kurang mendapatkan porsi perhatian. Padahl ini menjadi titik balik evaluasi yang krusial dan pengembangan kaderisasi.

Istilah “Pabrik Kader” juga merupakan antitesis dari “Accidental Leadership (Kepemimpinan kebetulan). Banyak organisasi Islam terjebak dalam pola survival mode karena mereka tidak memiliki stok pemimpin cadangan, banyak orang tapi seperti tidak ada orang. Mereka mengalami apa yang disebut dalam teori manajemen sebagai Leadership Gap atau ada jurang antara kompleksitas tantangan zaman dengan kapasitas pemimpin yang tersedia.

Membangun “Pabrik Kader” berarti kita berkomitmen pada disiplin manajerial dengan memperhatikan empat proses di atas. Kita tidak lagi menunggu pemimpin jatuh dari langit; kita menjemputnya dengan sistem yang terukur. Karena kepemimpinan yang kuat bukan lahir dari kebetulan, melainkan hasil dari rekayasa sistemik yang matang.

Pabrik kader bisa dalam bentuk formal, non formal dan informal. Institusinya bisa mengikuti sesuai dengan kebutuhan dan tujuan dari out put yang akan dilahirkan dari pabrik kader tersebut. Perlu nafas panjang untuk mengelola pabrik kader karena hasilnya tidak instan, bin salabin yang tiba-tiba mendidik sesaat langsung menjadi kader.

Dalam sebuah penelitian disebutkan bahwa organisasi yang memiliki program pengembangan kepemimpinan internal yang kuat (pabrik kader) memiliki ketahanan tiga kali lipat lebih tinggi dalam menghadapi krisis ekonomi global. Tentu dibandingkan dengan organisasi yang tidak memiliki program kaderisasi. Maka masa depan sebuah organisasi ataupun peradaban ditentukan oleh kaderisasi.

*) Dr Abdul Ghofar Hadi, penulis Ketua Bidang Perkaderan DPP Hidayatullah

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Ketika Kebenaran Disampaikan Namun Tak Lagi Didengar

DALAM kehidupan sosial, ada satu ironi yang kerap berulang. Yaitu, ketika kebenaran disampaikan, namun justru ditolak, nasihat diucapkan, tetapi...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img