
TOLITOLI (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, menyampaikan pesan agar para pengurus dan kader Hidayatulah tidak mudah merasa lelah dalam mengemban amanah dakwah. Menurutnya, membangun umat merupakan kerja panjang yang menuntut keteguhan niat, ketahanan spiritual, dan kesinambungan amal.
“Dinamika organisasi dan tanggung jawab kelembagaan tidak boleh melemahkan semangat pengabdian kepada umat. Membangun umat merupakan kerja panjang yang menuntut keteguhan niat, ketahanan spiritual, dan kesinambungan amal,” katanya.
Hal itu ia utarakan saat menyampaikan Taushiyah Kelembagaan kepada peserta Musyawarah Daerah Gabungan (Musdagab) DPD Hidayatullah se-Sulawesi Tengah yang dirangkaikan dengan Musyawarah Wilayah (Muswil) Muslimat Hidayatullah Sulawesi Tengah di Tolitoli, Kamis, 5 Rajab 1447 (25/12/2025).
Kehadiran Ketua Umum di Tolitoli juga bertepatan dengan agenda Tabligh Akbar yang dijadwalkan digelar di Masjid Agung Al-Mubarak Tolitoli. Rangkaian kegiatan ini menjadi ruang penguatan nilai, refleksi sejarah perjuangan, serta peneguhan orientasi dakwah Hidayatullah dalam bingkai keislaman dan keindonesiaan.
Pada kesempatan tersebut, Ketua Umum juga membagikan kisah inspiratif perjalanan dakwah bersama almarhumah Ustadzah Syarifah Aida Chered, istri dari almarhum KH Abdullah Said, pendiri Hidayatullah. Ia menuturkan dialog yang pernah terjadi terkait perbedaan kondisi Hidayatullah pada masa awal perintisan dibandingkan dengan situasi organisasi saat ini yang relatif lebih mapan.
Menurut penuturan KH Naspi Arsyad, Ustadzah Syarifah Aida Chered pernah menyampaikan bahwa kader Hidayatullah patut banyak bersyukur. Meski usaha yang dilakukan terasa kecil, Allah SWT telah memberikan limpahan nikmat yang besar. Pesan tersebut, kata Ketua Umum, menjadi pengingat agar setiap kader tidak lalai dalam mensyukuri amanah dakwah yang diemban.
Ia menegaskan bahwa Ustadzah Syarifah Aida Chered merupakan salah satu srikandi awal perintisan Hidayatullah. Sosok tersebut dikenal dengan pengorbanan yang luar biasa, kerja yang nyaris tanpa mengenal lelah, waktu istirahat yang sangat terbatas, serta ketekunan ibadah yang panjang di tengah kondisi serba keterbatasan. Kisah ini, menurutnya, merupakan cerminan keteguhan iman dan ketulusan dalam berjuang.
Ketua Umum juga mengisahkan perjuangan srikandi lain pada masa awal Hidayatullah yang tetap menjalankan dakwah masyarakat meski dalam kondisi hamil dan hidup sangat sederhana. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan makan, mereka hanya mengonsumsi nasi dengan batang pisang bagian dalam, setelah bekerja sejak pagi hingga menjelang siang.
“Usaha para dai daiyah senior ini menunjukkan beratnya perjuangan generasi perintis dalam meletakkan dasar-dasar dakwah,'” katanya.
Melalui rangkaian kisah tersebut, KH Naspi Arsyad mengajak seluruh peserta Musdagab dan Muswil Muslimat untuk melakukan refleksi mendalam. Ia menegaskan bahwa apabila para perintis saja memandang pengorbanan mereka masih sedikit, maka generasi saat ini memiliki tanggung jawab moral untuk melanjutkan dakwah dengan kualitas yang lebih baik dan lebih terstruktur.
Lebih lanjut, ia berpesan agar kesibukan mengelola lembaga tidak dijadikan alasan untuk melemahkan kualitas ibadah. Ia secara khusus mengingatkan pentingnya menjaga shalat berjamaah dan shalat malam, serta memastikan khidmat kepada masyarakat tetap terjaga di mana pun berada.
“Jangan sampai karena alasan mengurus lembaga, kita meninggalkan shalat berjamaah atau tidak bangun shalat malam. Justru kekuatan lembaga itu lahir dari kuatnya ibadah para pengembannya,” tegasnya.
Naspi menegaskan bahwa kekuatan dakwah Hidayatullah tidak hanya terletak pada sistem dan struktur organisasi, tetapi juga pada kualitas spiritual para pengurus dan kader yang terus berkhidmat bagi umat dan Indonesia.









