AdvertisementAdvertisement

Memperjuangkan Visi, Diskusi Kamisan Jakarta Dorong Kader Ambil Peran Transformasi Nilai

Content Partner

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam perjalanan perjuangan dakwah, semangat untuk tidak hanyut dalam arus keadaan menjadi salah satu penanda penting kematangan sebuah gerakan.

Sejarah menunjukkan, risalah dakwah yang dibawa oleh Rasulullah dan para sahabat tidak berhenti hanya karena hadangan rintangan dan beragam godaan duniawi. Demikian pula ketika Hidayatullah dirintis anak anak muda dengan segala kelemahan dan keterbatasannya, dapat terus eksis dalam melakukan transformasi nilai.

Semangat inilah yang kembali digugah dalam forum Diskusi Kamisan yang digelar secara daring dari Jakarta.

“Orang yang beriman tidak hanyut dalam situasi yang ada, melainkan justru mengendalikan dan mengubah situasi. Sebaliknya, orang yang pasrah hanya mengikuti arus,” tegas Ust. H. Suharsono Darbi, pemikir sekaligus Anggota Dewan Mudzakarah, dalam forum pekanan digelar Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jakarta ini, Kamis, 3 Rabi’ul Akhir 1447 (25/9/2025)

Diskusi ini merupakan rangkaian semarak menuju Musyawarah Nasional (Munas) ke-VI Hidayatullah. Mengambil tema provokatif “Apa Magnet Munas Bagi Kader?”, acara ini dimaksudkan sebagai ruang perenungan sekaligus peneguhan sikap kader dalam menatap agenda besar organisasi.

Menurut Haji Suharsono, Munas bukanlah peristiwa yang hanya dinantikan kedatangannya. Lebih jauh, Munas harus dimaknai sebagai arena transformasi yang digerakkan oleh kesadaran dan inisiatif para kader. “Kader bukan objek yang menunggu, tetapi subjek yang harus menciptakan inisiatif besar,” ujarnya.

Ia menegaskan, kualitas sebuah Munas akan ditentukan oleh sejauh mana kader hadir dengan gagasan, gerak, dan kontribusi nyata. Bukan sekadar menanti hasil, melainkan menjadi bagian aktif dari proses perubahan yang diusung.

Dalam forum ini, Suharsono juga mengutip pemikiran filsuf asal Asia Selatan, Muhammad Iqbal. Iqbal, kata dia, membedakan antara pribadi beriman dan yang tidak. “Jika Anda beriman, cakrawala tenggelam dalam diri Anda. Jika Anda kafir, Anda tenggelam dalam cakrawala,” kutipnya.

Pesan ini, lanjutnya, menegaskan bahwa kader Hidayatullah dituntut untuk tampil sebagai pengendali arus, bukan sekadar pengikut keadaan.

“Semoga Tuhan menyentuhkan ruhmu kepada badai yang baru. Karena tidak aku lihat gelombang di dalam air mukamu,” ujar Suharsono mengutip Iqbal sebagai peringatan agar kader tidak terjebak pada kenyamanan hidup yang stagnan.

Suharsono juga menekankan seruan moral bagi para kader untuk meneguhkan peran dalam membangun umat sekaligus peradaban bangsa. Sebagaimana gerakan dakwah sebagai perjuangan nilai yang lahir dari keyakinan dan keberanian mengubah situasi, kader Hidayatullah pun diingatkan bahwa perubahan hanya mungkin terwujud bila dimulai dari kesadaran pribadi.

Refleksi yang mengemuka menegaskan, masa depan Hidayatullah tidak akan bergerak hanya dengan menunggu momentum. Ia harus digerakkan oleh jiwa-jiwa yang berani menjadi gelombang perubahan, menghidupkan nilai-nilai iman dalam tindakan nyata, serta memberikan kontribusi bagi bangsa yang lebih besar.

Menutup materinya, Suharsono mengingatkanb bahwa setiap kader Hidayatullah memiliki tanggung jawab historis menghadirkan perubahan dengan iman, tekad, dan kesadaran untuk mengendalikan arah perjalanan sejarah.

Reporter: Herim Achmad
Editor: Adam Sukiman
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Sambut Ramadhan, Dana Umat Hadirkan Air Bersih untuk Santri dan Warga Cimanggu

BANDUNG BARAT (Hidayatullah.or.id) -- Menjelang Ramadhan 1447 H, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) rampungkan program pipanisasi...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img