
BETAPA banyak orang berpuasa, tapi mereka tidak memperoleh selain lapar dan dahaga. Hadits Nabi Muhammad SAW itu mengajak kita memiliki kemampuan berpikir secara tajam dan dalam, bahwa Ramadhan bukan “festival” tidak makan dan tidak minum. Lebih jauh, Ramadhan adalah momentum yang Allah siapkan agar kita bisa meraih ketenangan hidup.
Ketenangan hidup bukan tentang tidak ada masalah, juga bukan soal tentang fasilitas yang serba ada. Semua itu adalah imajinasi orang-orang yang dangkal secara pemikiran dan tandus secara ruhani.
Orang yang mau berpikir akan sampai pada ketenangan hidup atau ketenangan batin, mana kala hatinya terus ia upayakan terhubung kepada Allah, ia senantiasa ingat kepada Allah.
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْب
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram” (QS. Ar Ra’d: 28)
“Ingat” dalam hal ini berbeda dengan sebatas seseorang pernah melintas di sebuah jalan atau berkunjung ke satu lokasi. Ingat pada konteks ini adalah ia memurnikan tahid dalam hati, kemudian komitmen untuk taat kepada Allah SWT secara pikiran, lisan dan perbuatan. Demikian penjelasan dalam tafsir Al-Muyassar.
Kedalaman dalam Memahami Tawakal
Orang yang beriman dan terus mengasah ketajaman berpikirnya insya Allah akan memiliki kegemaran berinteraksi dengan Al-Qur’an, hingga ia bisa sampai pada kedalaman dalam memahami Al-Qur’an.
Problem utama manusia dalam kehidupan ini adalah soal takut, terutama takut kehilangan, takut tidak kebagian (yang sifatnya duniawi) dan takut dengan bayang-bayang kalau kemiskinan datang.
Islam tidak menafikan ketakutan yang seperit itu, tetapi kita mesti paham bahwa ada cara memaknai hidup dengan kandungan Al-Qur’an. Yang mana itu akan membuat kita lebih relevan dalam menempatkan rasa takut.
Kita boleh takut, khawatir, tapi jangan lepas dari yang namanya tawakal. Satu konsep hidup dari Al-Qur’an yang mendorong kita untuk senantiasa berharap kepada Allah setelah berupaya dengan semakismal yang bisa kita lakukan. Kalau seseorang tidak tawakkal, maka ia akan mengalami stres dan gangguan jiwa, baik level ringan hingga akut.
Imam Abu Qasim Al-Qusyairi menerangkan bahwa tawakal adalah memasrahkan setiap perkara kepada Allah. Ia yakin bahwa Allah yang akan menetapkan dan memutuskan hasil dari setiap perkara yang kita hadapi.
Praktik dari tawakal itu pun terang. Sahal bin Abdullah memberikan ilustrasi yang sangat konkret. “Awal dari derajat tawakal adalah ketika seorang hamba merasakan kepasrahan kepada Allah bagaikan seonggok jenazah di depan orang yang memandikannya yang dapat dibolak-balik dengan mudah sesuai keinginan orang yang memandikannya.”
Fastabiqul Khairat
Meski demikian pentingnya tawakal, kita jangan sampai salah paham. Menempatkan tawakal sebagai benteng pembenaran bahwa umat Islam itu boleh usaha sedikit, asal-asalan, lalu tawakal. Atau malah terlalu serius dalam hal manajemen, sehingga terus menunda kebaikan, karena begitu yakin usahanya akan menentukan hasil.
Islam adalah ajaran yang mendorong kita segera dalam melakukan kebaikan, bahkan mesti berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat). Kita bisa menemukan konsep fastabiqul khairat itu langsung dari Al-Qur’an, yakni pada Surah Al-Baqarah ayat ke-148 dan Al-Maidah ayat ke-48.
Artinya Islam mendorong “kompetisi” tapi dalam kebaikan menolong agama Allah, bukan dalam hal bermegah-megahan dalam kehidupan dunia dengan harta kekayaan.
Abu Bakar ra langsung menyerahkan selruuh hartanya untuk kepentingan Islam kala Rasulullah meminta sedekah untuk kebutuhan kaum Muslimin. Rasulullah SAW pun bertanya, “Apa yang kau tinggalkan untuk keluargamu?” Ayah dari Ummul Mukminin, Aisyah ra itu menjawab, “Allah dan Rasul-Nya.”
Betapa luar biasa usaha Abu Bakar ra dalam berlomba dalam kebaikan. Kita mungkin sulit untuk sampai pada level seperti itu, tapi komitmen Abu Bakar dalam kebaikan penting kita jadikan inspirasi dan teladan.
Dalam sisi yang lain, dengan konsep fastabiqul khairat, Islam mendorong umat ini untuk segera menjadi pelaku, turun ke gelanggang menjadi pemain, jangan diam dan menjadi penonton belaka.
Kalau kita sibuk bermain (beramal), maka kita akan fokus berlatih. Tapi kalau banyak menonton, kita akan sibuk berkomentar. Nah, ketenangan hidup ada pada orang yang hari-harinya penuh dengan kelelahan karena taat kepada Allah, lalu ia mengharap hasil terbaik dari sisi-Nya.
Orang yang seperti ini dalam Ramadhan akan semakin kuat keyakinannya kepada Allah. Ia akan tenang dan mampu menenangkan sesama yang dalam keguncangan jiwa.[]
Mas Imam Nawawi






