AdvertisementAdvertisement

Menuju Peradaban yang Mencerahkan, Menguji Makna Membangun Visi Islam bagi Dunia

Content Partner

DALAM wacana modern, istilah peradaban kerap digunakan sebagai simbol kemajuan dan kebanggaan. Ia dilekatkan pada pencapaian material, teknologi, serta tatanan sosial yang dianggap unggul. Namun, sejarah mencatat bahwa istilah ini memiliki beban masa lalu yang kompleks

Sejarawan Bruce Mazlish, melalui karyanya Civilization and Its Contents, menunjukkan bahwa pada abad ke-18, istilah peradaban pernah berfungsi sebagai instrumen ideologis. Ia digunakan untuk membedakan kelompok manusia yang dianggap beradab dengan mereka yang dicap liar atau terbelakang, sehingga memuat muatan rasisme dan klaim superioritas budaya.

Bagi Hidayatullah yang mengusung visi membangun peradaban Islam, kritik Mazlish tersebut tidak dipahami sebagai penyangkalan terhadap cita-cita peradaban, melainkan sebagai peringatan konseptual. Ia menjadi pijakan reflektif agar gagasan peradaban tidak dibangun di atas fondasi eksklusivisme, hierarki rasial, atau dominasi simbolik. Peradaban yang diperjuangkan harus berpijak pada nilai universal yang memuliakan manusia sebagai manusia, bukan sebagai objek klasifikasi historis.

Mazlish, yang selama lebih dari lima dekade berkiprah sebagai profesor di Massachusetts Institute of Technology, mengajukan gagasan penting tentang pergeseran cara pandang terhadap peradaban.

Ia mendorong agar peradaban tidak dipahami sebagai produk statis berupa bangunan megah atau teknologi canggih, melainkan sebagai proses panjang pembentukan manusia. Konsep proses peradaban ini memiliki irisan kuat dengan prinsip tarbiyah dan dakwah dalam Islam, di mana peradaban dipahami sebagai transformasi batin dan sosial yang berkesinambungan.

Dalam perspektif Islam, peradaban tidak diukur dari kemampuan menaklukkan atau mendominasi, melainkan dari keberhasilan mengelola diri. Jika dalam pemahaman umum peradaban identik dengan pengendalian kekerasan fisik, Islam meluaskannya ke ranah pengendalian hawa nafsu sebagai jihad akbar.

Dari proses internal inilah lahir dimensi sosial berupa empati dan kepedulian. Tingginya peradaban tercermin dalam kemampuan melahirkan semangat itsar, yakni mendahulukan kepentingan orang lain. Nilai ini menjadi ruh dari praktik filantropi yang dijalankan misalnya melalui berbagai program kemanusiaan BMH.

Peradaban dan Tanggungjawab Kemanusiaan

Sejalan dengan Mazlish, Abdul Mannan dalam bukunya Era Peradaban Baru juga mengkritisi narasi peradaban yang terjebak pada bayang-bayang konflik historis. Ia secara khusus menyoroti pandangan Samuel Philips Huntington dalam The Clash of Civilization, yang menurutnya merepresentasikan imajinasi peradaban yang obsesif terhadap masa-masa kelam.

Abdul Mannan menilai Huntington sedang membangun ketakutan kolektif dengan apa yang ia sebut sebagai “hantu teror peradaban”, sebuah narasi yang justru menghambat inisiatif perdamaian global. Pandangan ini disampaikan Abdul Mannan dalam Era Peradaban Baru halaman 261.

Menurut Abdul Mannan, peradaban Islam dan para pengusungnya tidak pernah memandang perbedaan sebagai keniscayaan yang harus bermuara pada benturan. Islam memposisikan manusia sebagai khalifah yang diberi amanah membawa jalan keselamatan bagi semesta. (idem, 263)

Dengan demikian, perbedaan dipahami sebagai ruang pengabdian dan kerja kemanusiaan, bukan sebagai alasan konflik. Abdul Mannan menegaskan bahwa inti pengaktualan manhaj Nabi Muhammad SAW dalam menegakkan kembali peradaban adalah prinsip ibda’ binafsik, memulai transformasi dari diri sendiri. (Era Peradaan baru, hal. 446)

Gagasan tentang peradaban sebagai proses kemanusiaan global juga menjadi titik temu antara pemikiran Mazlish dan visi Islam sebagai rahmatan lil alamin. Mazlish menolak pandangan yang memecah manusia ke dalam kotak-kotak benturan antarperadaban.

Islam, dalam konteks tersebut, hadir bukan untuk membangun tembok identitas, tetapi untuk merajut jembatan kemanusiaan. Praktik konkret seperti pengelolaan wakaf produktif di Mamuju atau rehabilitasi rumah penyintas banjir di Aceh Tamiang merupakan manifestasi dari proses peradaban yang nyata dan kontekstual.

Mazlish juga mengingatkan bahaya memahami sejarah secara desultory, yakni terpecah, acak, dan tanpa arah. Pesan ini relevan dalam konteks perjuangan organisasi. Membangun peradaban menuntut arah yang jelas, kerja yang sistematis, serta kesinambungan nilai.

Visi Hidayatullah dalam membangun peradaban Islam memerlukan literasi yang kuat dan kepemimpinan yang berintegritas agar gerakan tidak berhenti pada keramaian sesaat, melainkan menjadi arus panjang yang menyalurkan nilai-nilai wahyu ke tengah krisis spiritual dunia modern.

Jika Mazlish sempat mengusulkan agar istilah peradaban dipensiunkan karena beban sejarahnya, maka Islam justru menawarkan upaya pemurnian makna. Peradaban yang dibangun menempatkan Tuhan sebagai pusat orientasi, dan manusia sebagai khalifah yang memikul amanah memakmurkan bumi.

Inilah peradaban yang tidak melahirkan rasa unggul untuk menindas, tetapi kesadaran mendalam untuk melayani dan bertanggung jawab terhadap kemanusiaan.

*) Mas Imam Nawawi, penulis pegiat literasi Hidayatullah

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Sambut Ramadhan, Dana Umat Hadirkan Air Bersih untuk Santri dan Warga Cimanggu

BANDUNG BARAT (Hidayatullah.or.id) -- Menjelang Ramadhan 1447 H, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) rampungkan program pipanisasi...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img