
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Direktorat Penerangan Agama Islam Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) kembali meneguhkan komitmen strukturalnya dalam mewujudkan pemerataan literasi dan bimbingan keagamaan di seluruh pelosok negeri. Komitmen ini diejawantahkan melalui perhelatan “Ceremony Pembekalan dan Pelepasan Da’i 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) dan Wilayah Perbatasan Tahun 2026” di Hotel Aston Kartika, Jakarta, pada Senin, 28 Sya’ban 1447(16/2/2026).
KH Naspi Arsyad menegaskan urgensi melihat realitas kebangsaan dari kacamata yang lebih holistik. Ia menekankan bahwa pembangunan peradaban tidak boleh terjebak pada bias urban, melainkan harus menyentuh urat nadi masyarakat di titik-titik pinggiran yang kerap dipandang sebelah mata.
Menurut KH Naspi, kehadiran da’i di wilayah 3T merupakan sebuah imperatif keagamaan sekaligus jawaban atas ketimpangan yang masih menjadi tantangan nyata. “Salah satu layanan dasar yang sangat terbatas di daerah 3T adalah layanan bimbingan keagamaan. Minim da’i, guru ngaji, serta literasi keagamaan sehingga tingkat pengetahuan dan pengamalan ajaran Islam masih tergolong rendah,” ungkapnya.
Guna meretas problem struktural tersebut, beliau menyerukan orkestrasi gerakan lintas sektoral yang berkesinambungan. Menurutnya, pengembangan dakwah masyarakat Islam di wilayah 3T menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah, lembaga dakwah, dan lembaga filantropi Islam untuk memberikan perhatian khusus agar dakwah tidak dinamis di kota saja,” katanya.
KH Naspi Arsyad turut membumikan gagasannya dengan membagikan refleksi dari perjalanan dakwahnya. Ia menceritakan pengalaman terakhirnya saat merintis sebuah pesantren di Kabupaten Sukabumi. Naspi mengajak para da’i muda untuk menajamkan kepekaan sosial terhadap kebutuhan umat yang sesungguhnya di lapangan. Berdakwah, menurutnya, adalah sebuah jalan hidup yang menuntut dedikasi secara paripurna.
“Menjadi da’i harus ada dua syarat, yaitu siang pintu harus terbuka, malam lampu harus menyala, artinya peran da’i harus 24 jam dan totalitas,” pesannya di hadapan para peserta. Dia menegaskan, pendakwah adalah pelayan umat seutuhnya yang senantiasa hadir menjadi oase intelektual dan spiritual tanpa mengenal batas waktu.
Kepada para da’i yang akan mengarungi medan juang di tapal batas negara selama bulan suci Ramadhan, KH Naspi memberikan injeksi moral agar mereka memelihara kebanggaan atas tugas yang diemban. “Jangan minder menjadi da’i 3T karena itu profesi mulia,” tuturnya.
Ia meyakinkan bahwa entitas pendakwah sejatinya sedang mengemban misi peradaban kelas wahid, sejalan dengan risalah kenabian. “Dakwah ini sangat mulia, nabi sudah mengatakan dalam hadis bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia,” tambahnya.
Dalam kerangka praksis, KH Naspi memaparkan konstruksi taktis bertajuk “Strategi Dakwah Da’i 3T” yang memuat empat pilar krusial. Pertama, sinergi program yang mencakup penyelarasan visi-misi hingga pemetaan objek dakwah berdasarkan program unggulan.
Kedua, pemetaan objek dakwah secara mendetail yang meliputi wilayah geografis, karakteristik penerima, hingga analisis tantangan dan rumusan solusinya. Ketiga, kolaborasi potensi yang menuntut sinergi sumber daya, sarana dan prasarana, anggaran dakwah, serta sistem monitoring dan evaluasi yang terukur.
Dan, Keempat, dukungan mutlak dari pemerintah, tidak sekadar pada ranah kebijakan dan anggaran, namun juga informasi program strategis yang dapat ditindaklanjuti oleh Lembaga Amil Zakat maupun lembaga dakwah di akar rumput.
Kolaborasi yang solid ini diyakini akan menjadi katalisator terbukanya keberkahan bagi bangsa. Hal ini beresonansi kuat dengan dustur Ilahi yang ia sampaikan dalam mukadimahnya, merujuk pada firman Allah SWT dalam Surah Al-A’raf ayat 96: “Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…”.






