
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pendiri Rumah Sejarah Indonesia, Hadi Nur Ramadan, menyampaikan bahwa gerakan Islam harus mampu menjaga keaslian prinsip perjuangan sekaligus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Pernyataan tersebut disampaikannya Hadi dalam rangkaian webinar Ramadhan 5.0 bertema Kalangan Muda sebagai Game Changer yang diselenggarakan Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah Jakarta Selatan pada Selasa malam, 20 Ramadhan 1447 (10/3/2026).
Hadi menjelaskan pentingnya generasi muda Islam memahami sejarah sebagai dasar dalam membangun masa depan gerakan. Menurutnya, proses membaca sejarah memiliki peran penting dalam membentuk kesadaran intelektual, namun hal tersebut tidak cukup apabila tidak disertai kemampuan untuk terlibat langsung dalam membangun perubahan.
“Kader Abdullah Said membaca sejarah itu penting, tetapi menjadi aktor sejarah jauh lebih penting,” ujarnya.
Ia menyampaikan bahwa pesan tersebut merupakan bagian dari warisan pemikiran Abdullah Said sebagai pendiri Hidayatullah. Dalam pandangannya, generasi penerus tidak hanya dituntut memahami perjalanan sejarah gerakan, tetapi juga diharapkan mampu berperan aktif dalam melanjutkan dinamika perjuangan.
Hadi, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam Majelis Ulama Indonesia (LSBPI MUI), menegaskan bahwa gerakan Islam memerlukan keseimbangan antara menjaga prinsip dasar perjuangan dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan sosial yang terus berubah.
“Kita harus menjaga asolah, keaslian perjuangan, tetapi pada saat yang sama juga harus mu’ashirah, mampu mengikuti perkembangan zaman,” katanya.
Dalam pemaparannya, ia juga menyoroti tradisi literasi yang kuat pada diri Abdullah Said. Menurutnya, kebiasaan membaca berbagai karya keislaman menjadi faktor penting yang membentuk gagasan besar dalam perjalanan dakwah Hidayatullah.
Ia menyebut sejumlah karya yang menjadi rujukan intelektual Abdullah Said, di antaranya Tafsir Sinar karya Abdul Malik Ahmad, Rangkaian Mutu Manikam karya Mas Mansur, serta Tafsir Al-Azhar karya Hamka. Selain itu, buku Mujahid Dakwah karya Isa Anshary disebut turut mempengaruhi semangat militansi dakwah yang dibangun oleh Abdullah Said.
“Kalau Abdullah Said tidak memiliki budaya literasi yang kuat, saya kira beliau tidak akan melahirkan gagasan besar seperti Hidayatullah,” ujarnya.
Hadi juga menjelaskan bahwa perkembangan gerakan dakwah tidak terlepas dari strategi yang berakar pada masyarakat. Ia mencontohkan sejumlah tokoh Islam Indonesia yang membangun basis sosial sebelum mendirikan organisasi keagamaan.
Ia menyebut Ahmad Dahlan yang terlebih dahulu melakukan pembinaan masyarakat di Kauman sebelum mendirikan Muhammadiyah, serta Hasyim Asy’ari yang mengembangkan jaringan pesantren sebelum berdirinya Nahdlatul Ulama.
“Para tokoh itu punya basis dakwah yang jelas di masyarakat. Ketika basis itu kuat, organisasi yang mereka dirikan pun meledak dan berkembang,” jelasnya.
Menurutnya, pendekatan yang sama juga dilakukan oleh Abdullah Said ketika membangun komunitas dakwah di kawasan Gunung Tembak, Balikpapan. Kawasan tersebut kemudian berkembang menjadi pusat aktivitas Hidayatullah yang dikenal sebagai kampus Hidayatullah.
Hadi menjelaskan bahwa konsep tersebut dipahami sebagai miniatur peradaban Islam yang menghadirkan praktik kehidupan keagamaan secara nyata dalam kehidupan sosial.
“Hidayatullah dibangun sebagai miniatur peradaban Islam. Ketika masyarakat melihat contoh nyata itu, mereka tertarik datang dan belajar,” katanya.
Pada bagian akhir pemaparannya, Hadi mengingatkan pentingnya generasi muda mempelajari gagasan dan pemikiran para pendiri gerakan agar arah perjuangan tetap terjaga.
“Kita bukan hanya menjadi pelanjut organisasi, tetapi juga harus menjadi pembaca Abdullah Said, memahami gagasan dan perjuangannya, lalu melanjutkannya sesuai dengan tantangan zaman,” pungkasnya.






