
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc., secara resmi melepas keberangkatan 1.500 dai yang akan bertugas ke wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) di seluruh Indonesia. Program ini merupakan buah kerja sama antara Hidayatullah, Kementerian Agama (Kemenag), dan Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH).
Acara pelepasan yang digelar secara hybrid di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, pada Senin, 28 Sya’ban 1447 (16/2/2026), menjadi momentum penting dalam peta dakwah nasional. Pelepasan juga dihadiri Direktur Penerangan Agama Islam (Penais) Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama (Kemenag) Dr. Muchlis M. Hanafi, Lc., M.A., dan Ketua Dewan Pengurus Laznas BMH Supendi.
Dalam pengarahannya, KH Naspi Arsyad menekankan bahwa kehadiran Hidayatullah di wilayah 3T bukanlah fenomena baru, melainkan sebuah manifestasi dari nafas gerakan yang telah lama dianut, yakni bergerak memberdayakan pinggiran.
Menggunakan analogi, KH Naspi menggambarkan strategi pergerakan Hidayatullah layaknya cara menikmati bubur panas. Filosofi ini menyiratkan kesabaran, strategi bertahap, dan fokus pada area yang sering kali terabaikan oleh arus utama.
“Kalau berbicara tentang daerah 3T, terdepan, terjauh, terlupakan, ya semua T itu, Hidayatullah sudah lama hadir. Bahkan Hidayatullah ini ada yang mengasumsikan seperti makan bubur panas dari pinggir. Hidayatullah itu hadir dari pinggir. Dari Balikpapan lalu kemudian ke Berau, lalu kemudian ke Irian Jaya,” ujar KH Naspi.
Naspi menegaskan rekam jejak historis organisasi dalam menembus isolasi geografis yang bahkan sulit dijangkau oleh entitas dakwah lainnya pada masa lampau. “Dulu Hidayatullah menyisir Indonesia itu dari pinggir. Di saat dai-dai lain kesulitan menembus Irian, Hidayatullah sudah hadir di Merauke,” tambahnya, menegaskan posisi strategis Hidayatullah dalam menjaga kedaulatan moral di tapal batas negeri.
Sinergi Strategis dengan Kementerian Agama
Dalam kesempatan tersebut, KH Naspi juga memberi apresiasi tinggi terhadap Kementerian Agama, khususnya Direktorat Penerangan Agama Islam, yang dinilainya telah menjadi mitra strategis sekaligus “orang tua” bagi gerakan dakwah di lapangan. Kolaborasi ini dianggap sebagai validasi atas kiprah sunyi para dai Hidayatullah yang selama ini bekerja jauh dari sorotan popularitas media.
“Mungkin Hidayatullah itu mencari dainya yang populer, dainya yang menasional? Mungkin tidak ada. Tapi mohon maaf, kiprah para dai Hidayatullah adalah kiprah yang sudah nyata di daerah-daerah 3T ini,” tegasnya.
“Alhamdulillah hari ini kita telah mendapatkan orang tua. Orang tua kita itu bernama Kementerian Agam. Insyaallah, Kementerian Agama tidak akan membiarkan kita berjalan sendirian,” katanya.
Penugasan 1.500 dai ini, menurut KH Naspi, merepresentasikan sebuah gelombang energi yang besar dalam upaya rekonstruksi sosial dan spiritual masyarakat. Ia menyebutnya sebagai upaya “merangkai mozaik perjuangan” untuk tujuan yang lebih agung, yakni memajukan peradaban.
“Ketika 1.500 ini berdiri sendiri mungkin kita akan mengatakan itu angka yang banyak. Tapi, ini bukan sekedar jati diri, ini adalah bagaimana kita merangkai usaha, merangkai mozaik-mozaik perjuangan ini dalam rangka menegakkan peradaban Islam itu,” jelas KH Naspi.
Dakwah Berbasis Keteladanan dan Rasa
Menutup arahannya, KH Naspi menekankan metodologi dakwah yang harus dibawa oleh para dai. Ia mengingatkan para kader untuk tidak terjebak pada formalitas penyampaian materi yang kaku, melainkan fokus pada transfer pengalaman spiritual.
Beliau mengutip sebuah dialog historis antara pendiri Hidayatullah, Allahuyarham Ustaz Abdullah Said, dengan tiga santrinya—Ustaz Soewardhani Soekarno, Ustaz Hasan Suraji, dan Ustaz Sarbini Nasir—saat mereka ditugaskan merintis dakwah di Kutai tanpa bekal kemampuan bahasa asing atau penguasaan kitab yang mendalam.
Dalam pertemuan tersebut, KH Naspi menceritakan bahwa Ustaz Abdullah Said tidak meminta mereka mengajarkan teori yang rumit, melainkan cukup menularkan kenikmatan ibadah yang mereka rasakan di pesantren induk.
“Sampaikan ke umat bahwa salat berjamaah itu nikmat. Salat tahajud itu nikmat. Baca Al-Qur’an itu nikmat. Sampaikan karena itulah yang umat kita saat ini belum bisa merasakannya,” pesan KH Naspi, mengutip kembali pesan sang pendiri.
Pesan ini menjadi landasan filosofis bagi 1.500 dai yang akan bertugas, bahwa umat di wilayah 3T sedang dalam kondisi “dahaga dan lapar” akan nilai-nilai spiritualitas yang menentramkan. Oleh karena itu, ia menginstruksikan agar para dai bekerja dengan totalitas penuh.
“Maka jangan ada yang bermain-main. Para dai kerahkan semua energinya. Para dai totalitas dalam menjalankan tugasnya. Umat ini membutuhkan, umat ini dahaga, umat ini lapar,” serunya membakar semangat para peserta.
Acara pelepasan ini diakhiri dengan harapan agar program ini tidak hanya sukses secara teknis, tetapi juga membawa keberkahan dan pencerahan bagi bangsa, mewujudkan cita-cita baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.






