
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, menyampaikan sambutan penutupan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah 2026 di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Rabu malam, 19 Rajab 1447 (14/1/2026).
Dalam arahannya, Naspi menekankan pentingnya merawat nilai kebaikan, kesabaran, dan soliditas sebagai fondasi utama kepemimpinan dan pengabdian dalam organisasi dakwah.
Naspi melakukan refleksi tentang karakter dasar kader Hidayatullah. Ia menyampaikan keyakinannya bahwa mereka yang bergabung dalam Hidayatullah pada dasarnya adalah pribadi-pribadi yang memiliki kecenderungan pada kebaikan atau setidaknya keinginan kuat untuk menjadi baik. Nilai inilah, menurutnya, yang harus terus dijaga dan dirawat sebagai ikhtiar jangka panjang.
“Orang yang masuk Hidayatullah itu pasti baik. Kalau bukan orang baik pasti tidak tahan lama,” katanya, setengah berkelakar.
Dari titik itu, Naspi mengajak seluruh peserta Rakernas memahami bahwa tugas kepemimpinan dalam organisasi dakwah tidaklah sederhana. Mengelola manusia, katanya, jauh lebih kompleks dibanding mengelola sistem atau program, karena berhadapan dengan latar belakang, watak, kebiasaan, dan budaya yang beragam. Tantangan ini, menurutnya, adalah bagian tak terpisahkan dari amanah kepemimpinan di semua level.
Ia menjelaskan bahwa para pemimpin struktural, baik di pusat maupun daerah, akan selalu berhadapan dengan dinamika tersebut. Karena itu, kualitas utama yang harus dibangun oleh seorang pemimpin adalah kesabaran dan kelapangan jiwa.
“Tugas berat pemimpin itu adalah karena mengurus orang. Oleh karena itu harus selalu membesarkan hati dan melapangkan jiwa,” katanya.
Naspi juga menyinggung keluhan yang kerap muncul dari sebagian pengurus daerah terkait sumber daya manusia yang dikirim dari perguruan tinggi Hidayatullah. Ia memahami bahwa ekspektasi sering kali tidak sepenuhnya terpenuhi. Namun, ia mengingatkan agar persoalan ini dihadapi dengan kedewasaan dan kesabaran.
Menurutnya, kader yang ditugaskan bukanlah alat atau mesin yang langsung mampu menyesuaikan diri dengan segala tuntutan. Mereka adalah manusia yang memerlukan proses adaptasi, pembinaan, dan pendampingan.
“Mereka yang dikirim ini bukan iron man, yang langsung bisa apapun yang diminta. Perlu proses dan ini butuh kesabaran, kebesaran jiwa, dan doa,” katanya.
Semangat Pengabdian kepada Agama

Lebih lanjut, Naspi mengingatkan agar hasil Rakernas tidak berhenti di tingkat pusat, tetapi benar-benar diturunkan dan diimplementasikan hingga ke wilayah, daerah, cabang, dan ranting. Ia menekankan bahwa seluruh kerja organisasi harus dilandasi semangat pengabdian kepada agama dan bangsa.
Ia juga menekankan pentingnya kesederhanaan dan fokus dalam penyusunan program kerja. Menurutnya, program yang sedikit tetapi berjalan efektif jauh lebih bernilai daripada banyak program yang tidak terlaksana.
“Tiga program kerja saja cukup, yang penting jalan dan efektif. DPP memaklumi jika ada program kerja yang tidak berjalan maksimal, tapi ini jangan jadi legitimasi untuk tidak melakukan apa-apa,” imbuhnya.
Selain internal organisasi, Naspi menaruh perhatian besar pada pentingnya membangun jejaring eksternal. Ia mendorong para pengurus untuk memperkuat silaturrahim dengan berbagai elemen umat, tokoh masyarakat, dan pemangku kebijakan di daerah.
“Ketemu tokoh dan perbanyak jaringan. Harus punya koneksi dan konfidensi serta harus mampu membangun komunikasi yang selevel dengan pemimpin pemerintah daerah,” ujarnya.
Menurutnya, kemampuan komunikasi yang setara dan berwibawa menjadi syarat penting agar dakwah dan pengabdian Hidayatullah dapat diterima dan berdampak lebih luas di masyarakat.
Menutup pidato sambutannya, Naspi menegaskan kembali pentingnya menjaga kekompakan, soliditas, dan solidaritas di seluruh jajaran organisasi. Tanpa kerja sama yang tulus dan sinergis, kesepakatan yang telah dirumuskan dalam Rakernas tidak akan pernah terwujud.
“Apa yang telah kita sepakati tidak akan terwujud jika tidak ada kerjasama. Mari memaksimalkan potensi para kader yang ada di lingkup amanahnya masing-masing,” tandasnya.






