
ADA kisah yang tidak lahir dari mimbar megah, tetapi dari sunyi medan pengabdian. Kisah tentang kesetiaan pada amanah, tentang iman yang diuji bukan dengan kata-kata, melainkan dengan nyawa.
Kisah itu adalah kisah Ustadz Supri, dai Hidayatullah yang telah puluhan tahun menanamkan hidupnya di Toili, Luwuk Banggai.
Menjelang keberangkatan ke Musdagab VI Hidayatullah se-Sulawesi Tengah, ujian datang bertubi-tubi.
Pertama, dompetnya hilang.
Kedua, sang istri jatuh sakit.
Ketiga, anak-anak harus kembali ke pondok setelah libur semester.
Banyak alasan untuk tidak berangkat. Banyak pembenaran untuk menunda.
Namun Supri memilih satu sikap: tegak dalam ketaatan.
“Alhamdulillah, saya bisa hadir di tempat ini untuk mengikuti Musdagab sebagai bentuk ketaatan kepada lembaga,” ungkapnya lirih, saat diberi kesempatan menyampaikan tausiyah di hadapan peserta Musdagab.
Kalimat itu bukan retorika. Ia lahir dari perjalanan panjang hidup seorang pejuang.
Jejak Pengabdian
Ustadz Supri mulai mengenal Hidayatullah pada tahun 1993 di Tomohon, saat organisasi ini masih dipimpin oleh almarhum Ustadz Abdul Kadir Abdullah. Tiga tahun menimba tempaan di Sulawesi Utara, ia kemudian memilih pulang kampung ke Luwuk Banggai.
Tahun 1998, ia bergabung kembali dengan Hidayatullah Luwuk Banggai, dan setahun kemudian—bersama Ustadz Rasyid Ridho—mulai merintis dakwah di Toili. Saat itu, Toili masih sunyi. Pesantren baru dirintis. Lahan masih berupa semak belukar. Pondok-pondok berdiri dengan segala keterbatasan.
Semua serba awal. Semua serba kurang.
Namun dakwah tidak pernah menunggu keadaan sempurna.
Hari yang Mengubah Segalanya
Desember 2007 menjadi bulan yang tak pernah hilang dari ingatan keluarga Supri.
Tanggal 17 Desember 2007, sang istri sedang mencuci pakaian di sungai. Tanpa peringatan, seekor buaya besar menerkamnya. Gigitan itu mengenai perut dan sebagian lengan. Buaya berusaha menyeret tubuh sang istri ke tengah sungai, memutar-mutar mangsanya—cara alamiah untuk mematikan.
Saat itu, Supri tidak sempat berpikir panjang.
Yang ada di benaknya hanya satu: istri harus diselamatkan.
“Ini tanggung jawab saya sebagai suami,” katanya dalam hati.
Ia melompat ke sungai, berjibaku dengan buaya. Air bercampur darah. Buaya terus berputar. Supri berusaha mencari mata buaya untuk dicolok—namun gagal. Dalam satu celah, ia memasukkan tangan kiri ke dalam mulut buaya, berharap bisa mencapai tenggorokan.
Upaya itu gagal.
Tangan kirinya justru digigit, patah, dan cacat permanen hingga hari ini.
Namun Supri tidak menyerah.
Dengan sisa tenaga, ia kembali memasukkan tangan kanan ke mulut buaya. Kali ini ia berhasil meraih bagian tenggorokan. Buaya tercekik. Cengkeramannya melemah. Sang istri terlepas.
Dalam kondisi setengah sadar, Supri menarik istrinya ke tepi sungai. Buaya itu belum menyerah. Ia kembali menyambar. Supri meraih sepotong balok kayu di pinggir sungai dan menghalau buaya tersebut hingga akhirnya menjauh.
Sekitar 30 menit kemudian, warga setempat datang menolong. Keduanya dilarikan ke Puskesmas.
Istri Supri mengalami luka robek parah di perut.
Tangan Supri hancur dan cacat seumur hidup.
Namun keduanya selamat.
Atas izin Allah.
Ibrah dari Medan Dakwah
Hampir tiga puluh tahun Ustadz Supri mengabdikan hidupnya di Toili. Suka, duka, lapar, bahaya, dan kehilangan—semua pernah ia rasakan. Namun satu hal tidak pernah ia lepaskan: kesetiaan pada dakwah dan lembaga.
Kisah ini bukan untuk mengundang iba.
Ia adalah cermin keteguhan iman.
Bahwa dakwah bukan sekadar program, tetapi pengorbanan.
Bahwa ketaatan bukan sekadar slogan, tetapi pilihan hidup.
Dan bahwa para pejuang sering bekerja dalam sunyi, tanpa sorotan, tanpa tepuk tangan.
Semoga kisah Ustadz Supri menjadi ibrah bagi kita semua—terutama para pejuang Hidayatullah—tentang makna istiqamah, keberanian, dan cinta kepada amanah.
Semoga Allah menjaga beliau dan keluarganya, menerima seluruh pengorbanannya, dan menempatkannya di barisan orang-orang yang ikhlas. Amin.






