
BATAM (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, mengatakan bahwa gerakan dakwah Islam tidak dapat dijalankan secara parsial, melainkan harus dirancang dan dilaksanakan secara menyeluruh agar setiap ruang kehidupan dapat merasakan nilai dan kenikmatan Islam.
Hal itu disampaikan KH. Naspi Arsyad saat memberikan kuliah umum di Institut Agama Islam (IAI) Hidayatullah Batam, Sabtu, 22 Jumadil Akhir 1447 (13/12/2025). Menurutnya, dakwah yang komprehensif merupakan kunci agar Islam hadir dan dirasakan manfaatnya di seluruh lapisan masyarakat, tanpa terkecuali.
KH. Naspi Arsyad mengawali pemaparannya dengan mengajak seluruh peserta mendoakan almarhum Ustaz H. Jamaluddin Nur, perintis Hidayatullah Batam yang menjadi bagian penting dari titik awal gerakan Hidayatullah di wilayah tersebut.
Ia kemudian menegaskan bahwa arus utama gerakan Hidayatullah bertumpu pada internalisasi nilai-nilai keislaman dalam diri setiap kader agar terbentuk pribadi muslim yang utuh dan menyeluruh serta mendorong pembumian dakwah yang menyeluruh.
Menurut Naspi, dakwah harus diawali dengan penguatan ilmu dan tarbiyah. Ia merujuk pada kaidah yang dikemukakan Imam Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari pada bab Al-‘Ilmu Qabla Al-Qaul wa Al-‘Amal, yang menegaskan bahwa ilmu harus mendahului ucapan dan perbuatan.
Dalam konteks itu, tegas Naspi, penempatan tarbiyah sebelum dakwah mengandung makna bahwa nilai-nilai Al-Qur’an harus tertanam kuat dalam diri sebelum disampaikan kepada orang lain.
“Gerakan dakwah harus bersifat komprehensif, agar setiap tempat, setiap ruang sosial, bisa menikmati dan merasakan keindahan Islam,” kata KH. Naspi Arsyad.
Ia menambahkan bahwa dakwah tidak harus selalu disampaikan dengan cara yang rumit, melainkan dapat menggunakan bahasa sederhana yang tepat sasaran, terutama dengan memanfaatkan media dan perkembangan teknologi. Menurutnya, ruang inilah yang dapat dimanfaatkan genarasi masa kini atau gen z untuk berkhidmat pada agama.
Ia menjelaskan bahwa dakwah Islam tidak menuntut pola hidup yang terasing dari realitas sosial. Ladang dakwah, menurutnya, masih terbentang luas di pasar-pasar, kampus, komunitas, hingga ruang-ruang sosial yang selama ini belum tergarap secara optimal. Bahkan, ia mencontohkan bahwa hidayah dapat hadir di tempat yang tidak terduga ketika nilai-nilai Islam disampaikan dengan hikmah.
Dalam pemaparannya, KH. Naspi Arsyad juga menyampaikan sejumlah prinsip strategis yang perlu dimiliki dalam membangun dakwah. Di antaranya adalah fondasi tauhid yang kuat, keluasan wawasan, kemampuan mengelola sumber daya, kekuatan jamaah, keterbukaan terhadap masukan, serta kedisiplinan dalam sistem dan aturan. Ia juga menekankan pentingnya keikhlasan dalam menyusun program, jaringan yang rapi, kemampuan komunikasi yang baik, hingga sikap responsif terhadap dinamika eksternal.
Prinsip-prinsip tersebut, lanjutnya, harus dilandasi visi ukhrawi yang kokoh, keberanian dalam menghadapi tantangan, strategi dakwah yang tepat, serta optimisme yang kuat. Seluruh nilai itu, menurut Naspi, relevan dengan konteks keindonesiaan yang majemuk dan menuntut dakwah Islam hadir sebagai kekuatan moral dan sosial yang menyejukkan.
Perjalanan Kampus IAI Hidayatullah Batam

Kuliah umum yang mengusung tema Strategi Kemenangan Dakwah Gen Z itu digelar di Aula Gedung Asia Raya Lantai Dua Kampus II Hidayatullah Batam. Kegiatan akademik tersebut dihadiri pimpinan dan sivitas akademika kampus, antara lain Rektor IAI Hidayatullah Batam Dr. M. Siddik, Wakil Rektor I Dr. Moh. Ramli, Wakil Rektor II Dr. Sumarno, para dekan fakultas, serta ketua dan pengelola program studi di lingkungan IAI Hidayatullah Batam.
Dalam sambutannya, Rektor IAI Hidayatullah Batam, Dr. M. Siddik, memaparkan perjalanan institusi tersebut sebagai perguruan tinggi di lingkungan Hidayatullah. Ia menjelaskan bahwa kampus ini merupakan hasil penggabungan dua institusi, yakni Sekolah Tinggi Ilmu Hidayatullah dan IAI Abdullah Said, yang resmi melakukan merger pada 2023 dan kemudian bertransformasi menjadi IAI Hidayatullah Batam.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas kehadiran KH. Naspi Arsyad, yang menjadikan kampus Batam sebagai perguruan tinggi pertama yang dikunjungi dari total sebelas perguruan tinggi Hidayatullah di seluruh Indonesia.
“Kuliah umum ini diharapkan dapat memberikan perspektif baru kepada mahasiswa tentang pentingnya gerakan dakwah, baik di lingkungan kampus, masyarakat, maupun komunitas-komunitas yang terus berkembang,” ujar M. Siddik.
Sementara itu, Wakil Rektor I IAI Hidayatullah Batam, Dr. Moh. Ramli, yang bertindak sebagai moderator, menilai materi yang disampaikan sangat padat dan bernilai substansial. Ia menyampaikan bahwa kegiatan kuliah umum semacam ini akan terus digiatkan sebagai bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam penguatan wawasan keilmuan dan pengabdian kepada masyarakat.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, kuliah umum tersebut diakhiri dengan penyerahan apresiasi kepada tiga mahasiswa yang dinilai paling aktif selama seminar berlangsung. Momen tersebut sekaligus menegaskan komitmen IAI Hidayatullah Batam dalam menumbuhkan budaya akademik yang partisipatif, dialogis, dan berorientasi pada penguatan dakwah Islam yang relevan dengan tantangan keindonesiaan masa kini.






