AdvertisementAdvertisement

Hidayatullah Jakarta Didorong Terus Perkuat Layanan Sosial dan Inovasi Kelembagaan

Content Partner

Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. Nanang Noerpatria, berfoto bersama Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jakarta (Foto: Bilal Tazkir/ Hidayatullah)

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. Nanang Noerpatria, mendorong Hidayatullah Jakarta terus melakukan penguatan layanan sosial keumatan disamping melahirkan inovasi kelembagaan yang bermanfaat bagi kehidupan.

Hal itu disampaikan Nanang saat membuka Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Daerah Khusus Ibukota Jakarta di Aula Pesantren Hidayatullah Jakarta Timur, pada Jum’at, 11 Sya’ban 1447 (30/1/2026).

Nanang menyampaikan apresiasi terhadap rencana Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah DKI Jakarta yang menargetkan pendirian empat Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA). Ia memandang langkah tersebut sebagai inisiatif penting yang sejalan dengan karakter dasar gerakan Hidayatullah.

Nanang menyatakan harapannya agar rencana pendirian LKSA tidak tertunda terlalu lama dan dapat segera diwujudkan. Menurutnya, penguatan sektor sosial membutuhkan keberanian untuk mengeksekusi rencana secara bertahap tanpa harus menunggu waktu yang terlalu panjang.

“Saya berharap pembangunan LKSA di Jakarta bisa segera terealisasi dan tidak harus menunggu hingga lima tahun,” katanya.

Dalam konteks pengembangan sosial, Nanang menegaskan bahwa LKSA merupakan pintu masuk strategis bagi dakwah dan pelayanan umat. Ia mengingatkan bahwa sejarah awal Hidayatullah berakar dari kerja-kerja sosial sebelum berkembang menjadi organisasi kemasyarakatan yang lebih luas. Oleh karena itu, sektor sosial, pendidikan, dan dakwah tidak boleh dipisahkan satu sama lain.

“Kita berangkat dari sosial, karena Rasulullah SAW pun memulai dengan kedekatan dan kasih sayang. Dari sosial inilah pengaruh itu tumbuh,” ujarnya.

Menurut Nanang, kerja sosial bukan sekadar aktivitas karitatif, melainkan fondasi bagi tumbuhnya kepercayaan dan pengaruh di tengah masyarakat. Dari basis inilah dakwah memperoleh legitimasi moral dan kedekatan emosional dengan umat.

Lebih lanjut, Nanang membuka ruang pemikiran baru terkait pengembangan lembaga. Ia menilai bahwa kemitraan, kolaborasi, dan kerja sama strategis dapat menjadi pendekatan yang efektif tanpa harus selalu diawali dengan kepemilikan aset secara langsung. Model ini dinilai lebih adaptif dan responsif terhadap kebutuhan di wilayah perkotaan seperti Jakarta.

Pendekatan kolaboratif tersebut, menurutnya, dapat diterapkan baik dalam pengelolaan lembaga sosial maupun pendidikan, sehingga organisasi dapat bergerak lebih cepat dan fleksibel dalam menjawab kebutuhan masyarakat.

Selain menyoroti sektor sosial, Nanang juga menekankan pentingnya konsolidasi jati diri dan transformasi organisasi sebagai fondasi utama penguatan peran Hidayatullah, baik di tingkat wilayah maupun nasional. Ia menegaskan bahwa jati diri organisasi merupakan pembeda utama Hidayatullah dibandingkan dengan organisasi lain, dan nilai tersebut harus tetap terjaga dalam kondisi apa pun.

“Sepuluh tahun lalu kita bicara jati diri, hari ini pun tetap sama. Ini yang membuat kita bisa bermitra dan bersinergi tanpa kehilangan karakter dan nilai dasar organisasi,” katanya.

Bagi Nanang, konsolidasi jati diri bukanlah sikap defensif, melainkan modal untuk membangun kerja sama yang sehat. Dengan identitas yang jelas, organisasi dapat berkolaborasi secara terbuka tanpa kehilangan arah dan prinsip perjuangan.

Di sisi lain, ia menekankan bahwa konsistensi nilai harus berjalan beriringan dengan transformasi organisasi. Menurutnya, perubahan zaman, percepatan teknologi digital, dan dinamika geopolitik menuntut organisasi untuk terus beradaptasi dan berinovasi.

“Kita tidak bisa lepas dari transformasi. Organisasi harus adaptif dan inovatif agar tetap berpengaruh dan diperhitungkan,” katanya.

Transformasi tersebut, lanjut Nanang, mencakup pembaruan sistem, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta penataan data dan administrasi organisasi agar lebih tertib dan terintegrasi.

Memungkasi arahannya, Nanang mengajak seluruh elemen Hidayatullah DKI Jakarta untuk memperkuat sinergi internal, mempercepat agenda transformasi, serta menjaga integritas data dan sistem organisasi. Ia menegaskan bahwa ketertiban administrasi dan akuntabilitas merupakan prasyarat penting bagi organisasi modern.

“Jika kita kuat dalam jati diri dan cerdas dalam transformasi, insyaallah Hidayatullah akan terus memberi dampak nyata dan kontribusi penuh bagi umat dan bangsa,” katanya.

Rakerwil Hidayatullah DKI Jakarta ini dihadiri oleh seluruh pemangku kepentingan organisasi di wilayah ibu kota, termasuk para Ketua Dewan Pengurus Daerah se-DKI Jakarta, perwakilan amal-amal dan badan usaha, unsur Pemuda Hidayatullah, serta Pimpinan Wilayah Muslimat Hidayatullah.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Sambut Ramadhan, Dana Umat Hadirkan Air Bersih untuk Santri dan Warga Cimanggu

BANDUNG BARAT (Hidayatullah.or.id) -- Menjelang Ramadhan 1447 H, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) rampungkan program pipanisasi...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img