
MATARAM (Hidayatullah.or.id) — Ketua Departemen Kepesantenan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah KH Muhammad Syakir Syafi’i mengingatkan bahwa tantangan umat pada masa mendatang semakin kompleks dan menuntut kesiapan organisasi yang kokoh.
Ia menyatakan bahwa kondisi tersebut mengharuskan Hidayatullah memiliki kekuatan yang utuh secara ideologis, struktural, dan kultural agar mampu menjalankan peran dan tanggung jawabnya secara berkelanjutan di tengah dinamika umat, bangsa, dan masyarakat.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam pembukaan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Nusa Tenggara Barat Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah NTB pada 7–8 Februari 2026 di Kota Mataram.
KH Muhammad Syakir Syafi’i mendorong pengurus wilayah dan daerah untuk memperkuat kaderisasi, meningkatkan kualitas kepemimpinan, serta mengembangkan amal usaha yang mandiri dan profesional.
Menurutnya, langkah-langkah tersebut diperlukan agar Hidayatullah dapat menjalankan perannya secara konsisten dan terstruktur dalam menjawab kebutuhan umat dan masyarakat.
Rakerwil Hidayatullah NTB 2026 mengusung tema “Konsolidasi Jati Diri dan Transformasi Organisasi Menuju Hidayatullah Mandiri dan Berpengaruh.” Tema tersebut dirumuskan sebagai kerangka kerja bersama dalam menjaga identitas, nilai, dan orientasi perjuangan Hidayatullah, sekaligus mendorong proses transformasi organisasi agar mampu beradaptasi dengan perubahan sosial, keumatan, dan kebangsaan yang terus berkembang.
Kegiatan ini diikuti oleh jajaran pengurus DPW Hidayatullah NTB, perwakilan Dewan Pengurus Daerah kabupaten dan kota, pimpinan lembaga serta amal usaha, dan unsur kader dari berbagai wilayah di Nusa Tenggara Barat.
Apresiasi Kiprah Hidayatullah NTB
Dari unsur pemerintah daerah, Biro Sekretariat Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat, Ahmad Masyhuri, S.H., menyampaikan sambutan dan apresiasi atas kontribusi Hidayatullah di NTB.
Ahmad menyatakan bahwa Hidayatullah telah berperan dalam pembangunan sumber daya manusia, terutama melalui pendidikan dan pembinaan karakter.
“Semoga terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam membangun masyarakat yang religius, berakhlak, dan berdaya saing,” katanya.
Ketua BAZNAS Provinsi NTB, Dr. Lalu Muhammad Iqbal, M.A., dalam kesempatan serupa menekankan pentingnya kolaborasi antara organisasi kemasyarakatan Islam dan lembaga zakat.
Ia menyampaikan bahwa penguatan kemandirian umat perlu dibangun melalui kerja bersama yang terencana dan profesional, khususnya dalam pengelolaan zakat, infak, dan sedekah yang diarahkan pada program pemberdayaan ekonomi dan sosial secara berkelanjutan.
Merespon Persoalan Umat
Sementara itu, Ketua DPW Hidayatullah NTB, Ustadz Lalu Mabrul, M.Pd., menegaskan bahwa Rakerwil merupakan momentum penting untuk konsolidasi ideologis dan organisatoris.
Ia mengingatkan bahwa jati diri Hidayatullah sebagai gerakan dakwah dan tarbiyah harus senantiasa dijaga, seraya melakukan transformasi organisasi menuju kemandirian dan penguatan pengaruh.
Ia juga menyatakan bahwa kemandirian organisasi berkaitan dengan kualitas kader, kekuatan amal usaha, dan kemampuan organisasi dalam merespons persoalan umat dan masyarakat.
Ketua Panitia, Fardin Rabbani, M.Pd., dalam laporannya, ia menyampaikan gambaran umum pelaksanaan kegiatan, tujuan Rakerwil, serta agenda strategis yang akan dibahas selama dua hari.
Fardin mengatakan bahwa Rakerwil dirancang sebagai ruang musyawarah yang produktif untuk merumuskan langkah-langkah konkret dalam memperkuat tata kelola organisasi, meningkatkan kualitas kader, serta mengoptimalkan peran Hidayatullah di bidang dakwah, pendidikan, dan sosial kemasyarakatan.
Selama dua hari pelaksanaan, Rakerwil Hidayatullah NTB 2026 dijadwalkan membahas evaluasi program kerja wilayah, penyusunan rencana strategis, penguatan sinergi antar-lembaga, serta perumusan langkah-langkah transformasi organisasi ke depan.
Hasil Rakerwil, lanjut Fardin, diharapkan menjadi pedoman kerja bagi DPW dan DPD Hidayatullah se-Nusa Tenggara Barat dalam menjalankan program secara terarah dan berkesinambungan.






