
SEBAGIAN orang mendambakan mobil, motor, atau gawai bermerek dengan harga tinggi. Jika itu untuk kebutuhan profesional dan efisiensi kerja, tentu tidak masalah. Namun persoalannya muncul ketika semua itu dikejar semata-mata agar tampak “hebat” di hadapan manusia.
Demikian pula dengan gelar dan kehormatan. Memiliki gelar tinggi bukanlah kesalahan. Yang perlu kita waspadai adalah ketika gelar menjadi sumber utama harga diri, bukan sekadar amanah keilmuan.
Untuk itu kita perlu berpikir ulang agar tidak kehilangan identitas yang hakiki, yakni sebagai hamba Allah sebelum menjadi apa pun di hadapan manusia.
Mengulas soal hamba, artinya kita penting memahami tentang identitas kita sendiri. Semakin kita jelas dan tegas dalam hal identitas, semakin fokus dan kokoh kita menjalani kehidupan ini.
Mengapa ada fenomena haus validasi? Karena orang lupa identitasnya atau tidak tahu lagi identitasnya.
Meski demikian fenomena haus validasi tidak lahir begitu saja. Ia bisa tumbuh dari trauma, pola asuh, budaya kompetitif, hingga arus media sosial. Namun di atas semua itu, ada satu akar yang lebih dalam: kaburnya kesadaran sebagai hamba Allah.
Alhasil orang yang selalu haus akan validasi menjadi orang yang bingung. Orang yang kehilangan identitas akan kehilangan landasan dan tujuan. Ia tidak tahu dari mana ia memulai hidup dan ke mana ia mengarahkannya.
Bagaimana tidak, ia terus memikirkan hal yang semu. Siang dan malam ia gunakan untuk menumpuk sesuatu yang tak bisa jadi sandaran apalagi andalan. Oleh karena itu penting bagi kita merenung sejenak, bahwa cukuplah kita sebagai hamba Allah SWT.
Wahai Jiwa yang Tenang
Pada empat ayat penutup Surah Al-Fajr, Allah SWT menjelaskan bahwa manusia yang dalam hidup ini jiwanya tenang, itulah yang Allah terima sebagai hamba.
يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ. ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةًۚ. فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ. وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْࣖ
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai. Lalu, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku!”
Jiwa yang tenang akan berupaya untuk ridha dan ingin diridhai oleh Allah. Kalau itu bisa kita capai, maka Allah akan terima kita sebagai hamba yang shaleh. Kemudian Allah berikan jalan untuk masuk ke dalam surga-Nya.
Kalau kita tarik dalam realitas sosial, Allah tidak mencari direktur. “Wahai direktur”. Tidak pula Allah memanggil orang kaya, “Wahai orang kaya”. Allah memanggil wahai jiwa yang tenang.
Dalam kata yang lain, hamba Allah itu terus berupaya hidupnya tenang. Tidak panik, tidak kagetan, tidak pula ikut-ikutan. Ia tahu jalan, ia fokus menyusurinya dengan segenap daya dan kekuatan.
Oleh karena itu ia istiqomah dalam kebaikan, dalam dakwah dan dalam ke-Islam-an.
Sederhana dalam Perkara Dunia
Menjadi hamba Allah artinya siap hidup secara bermakna dalam fase dunia ini.
Buya Hamka dalam bukunya, Falsafah Hidup, menerangkan “orang yang sederhana tidak terlalu condong dan tidak terlalu rebah. Syahwat yang diperbolehkan oleh syara’ sekalipun tidaklah melebihi mesti. Misalnya boleh makan enak, tetapi tidak dilahap secara berlebihan.”
Kalau kita cermati sejarah, orang-orang yang visinya itu akhirat, hidupnya sederhana saja.
Umar, meski dia pemimpin tertinggi umat Islam, tidur di bawah pohon bukanlah hal yang mengurangi kemuliaannya. Tapi ini tidak berarti kita harus menjadi asketisme total. Sebab dari sahabat Nabi ada juga sahabat-sahabat yang kaya secara harta.
Artinya, sederhana adalah alat bagi manusia mencapai kemuliaan hidup. Sebaliknya orang yang bermewah-mewah, mungkin ada yang kagum, tapi orang seperti itu cenderung sulit memiliki ketenangan hidup. Apalagi kalau hidupnya tidak peduli kepada anak yatim, orang miskin. Kemungkinan Allah terima sebagai hamba-Nya akan semakin tipis.
Dengan demikian orang yang menyadari identitasnya sebagai hamba Allah akan fokus pada kebaikan dunia dan akhirat.
Kala memiliki amanah berupa harta, ia akan meneladani sikap Utsman bin Affan ra. Kita tahu Utsman adalah sahabat yang kaya raya, sangat senang membaca Al-Qur’an dan gemar membantu sesama.
Ketika ia mendapat amanah dari Allah berupa kecerdasan, ia akan mengikuti cara hidup sahabat Nabi yang cinta ilmu, senang mengajarkan dan mendakwahkannya. Tidak sama persis, tapi prinsip hidupnya seperti itu.
Dalam kata yang lain, sejarah menunjukkan bahwa orang-orang yang berorientasi akhirat tidak menjadikan dunia sebagai pusat hidupnya. Sebagian hidup dalam kesederhanaan, sebagian dalam kelapangan harta. Namun hati mereka sama: tidak diperbudak oleh dunia.
Pada akhirnya, kemuliaan tertinggi bukanlah disebut sebagai orang sukses oleh manusia, tetapi diakui sebagai hamba oleh Allah. Bahkan Nabi Muhammad SAW, pada momen paling agung dalam Isra’ Mi’raj, disebut sebagai “hamba-Nya”. Di situlah letak kehormatan yang sejati.[]
Mas Imam Nawawi






