AdvertisementAdvertisement

Kendalikan Diri Sedari Lintasan Pikiran, Sebelum Terjadi Kezhaliman

Content Partner

Peristiwa terbunuhnya satpam bendungan Jatiluhur sepekan lalu membuat hati terenyuh. Kondisi jenazahnya mengenaskan. Mulutnya dilakban sementara tangannya diikat, mirip dengan fantasi di tayangan film atau game bergenre kejahatan.

Hingga saat ini tersangka belum ditetapkan. Semoga tidak lama penetapan dapat dilakukan pihak berwenang. Bagaimanapun pelaku harus dihukum setelah penyelidikan secara seksama.

Penghilangan nyawa manusia dikategorikan sebagai dosa besar dalam Islam. Perihal ini dapat dirujuk pada kitab Al-Kaba’ir karya Imam Adz-Dzahabi rahimahullah. Apalagi korban merupakan penjaga fasilitas umum. Tentu dampaknya tidak bersifat privat saja, semisal pada korban dan keluarga korban, tapi juga masyarakat. Layanan fasilitas umum bisa terganggu. Bertambah besar dosa yang ditanggung pelaku.

Sehubungan dengan peristiwa ini, satu hal penting untuk digarisbawahi: Kendali diri.

Bahwa dengan mengendalikan diri, semoga seseorang tidak melakukan kezhaliman sekecil apapun. Bisikan hawa nafsu dan godaan setan bisa dilawan. Perilaku yang hadir lebih banyak kebaikan.

Berkaitan dengan pengendalian diri, nasehat Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah dalam kitab Al-Fawa’id terasa relevan untuk diangkat kembali. Beliau mengingatkan setiap insan untuk mewaspadai lintasan pikirannya. Jangan sampai lintasan pikiran yang buruk terus mengakar. Karena setelahnya dimungkinkan muncul fantasi. Berikutnya lahirlah keinginan, dilanjutkan dengan perbuatan-perbuatan.

Dengan demikian diharapkan setiap insan mampu menjaga lintasan pikirannya. Fantasi-fantasi liar hendaklah tidak ditumbuhsuburkan. Memang perbuatan alam pikiran belum dicatatkan sebagai dosa. Akan tetapi karena pengaruhnya tidak kecil, maka tidaklah boleh disepelekan.

Harus diakui tantangan mutakhir tentang fantasi terasa begitu berat. Begitu banyak konten yang menyebarluaskan sekaligus mengajak penontonnya berfantasi liar. Dosa dianggap tidak ada. Yang penting hanyalah senang dan memang di atas penderitaan orang lain.

Oleh karena itulah kiranya perlu setiap insan menjaga inderanya. Selain itu waktu muhasabah juga ditingkatkan, kuantitas dan kualitasnya. Hendaklah selalu ada doa kepada Allah ta’ala agar lintasan pikiran senantiasa dibersihkan. Dimohonkan juga kepadanya penjagaan setiap saat. Bagaimanapun Allah ta’ala sebaik-baik penjaga.

Di sisi lain sangat dianjurkan untuk setiap insan melakukan banyak kebaikan. Selain beramal baik, seseorang didorong untuk senantiasa menstimulus inderanya dengan segala sesuatu yang baik. Pandangannya hanya pada hal yang baik, demikian pula pendengaran dan indera lainnya. Apabila kemudian inderanya dicemari oleh hal buruk, istighfar segera dilakukan.

Satu perkara lagi tidak boleh ditinggalkan: Berkumpul dengan orang shaleh.

Saling jaga, doa, dan nasehat merupakan aktivitas utama bersama mereka. Satu sama lain berupaya agar maksiat sekecil apapun tidak dilakukan. Sebaliknya dzikir dikuatkan, sebagai salah satu asas membangun perikehidupan Islam.

Sungguh era ini dapat dikatakan sebagai era ujian hebat. Siapapun yang merasa kuat, apalagi menghadapi banyak godaan sendirian, akan diterpa banyak kengerian. Berjamaah bersama orang shaleh inilah satu solusi utama. Semoga kezhaliman semakin berkurang hari demi hari.

Peranan Pemerintah

Berkaca pada nasehat Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah tersebut, dapat dipahami peranan pemerintah dalam mengurangi potensi kezhaliman. Selain penegakan dan edukasi hukum, pemerintah punya tugas meminimalisir berbagai konten yang menstimulus perilaku buruk. Cakupannya konten online ataupun offline.

Selain itu, pemerintah perlu menjalin kemitraan dengan komunitas-komunitas penganjur kebajikan. Jauh lebih baik jika mereka diberi apresiasi, moril ataupun materil. Semoga kiprah serta kontribusi mereka meluas.

Hendaklah dampak kezhaliman tidak dipandang sebagai statistik belaka. Satu nyawa begitu berharga, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 32, “Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.”

Wallah a’lam.

Fu’ad Fahrudin / Penulis adalah Ketua Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

K.H. Naspi Arsyad: Wakaf Produktif Perkuat Kemandirian Pangan dan Kesejahteraan Umat

YOGYAKARTA (hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, K.H. Naspi Arsyad, Lc., menegaskan bahwa wakaf tidak hanya...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img