إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ
Jamaah Jum’at rahimakumullah,
Bersyukur kita kepada Allah atas segala nikmat-Nya, dan kita berdoa kepada-Nya, agar sholawat dan salam selalu tercurah kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Aamiin.
Selanjutnya,
Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa bukan sekadar takut kepada Allah, tetapi kesadaran bahwa Allah Yang Mahapengasih dan Penyayang selalu hadir dalam seluruh kehidupan kita, sehingga respon yang perlu kita biasakan adalah selalu berfikir yang baik, percaya diri, senang dan bahagia.
Hadirin rahimakumullah,
Hari ini kita hidup di era digital, yakni zaman ketika informasi bergerak sangat cepat, pengetahuan berada di ujung jari, dan manusia dapat berinteraksi dengan dunia tanpa batas ruang dan waktu.
Dulu kita mencari informasi. Sekarang informasi berseliweran tiap saat. Dulu kita memilih apa yang ingin kita lihat. Sekarang algoritma ikut memilihkan apa yang perlu kita lihat.
Dulu guru, orang tua dan ulama menjadi sumber utama pengetahuan. Sekarang anak-anak kita bisa mendapatkan ribuan informasi hanya dalam beberapa detik.
Pertanyaannya: Apakah iman kita juga sudah siap menghadapi perubahan sebesar ini?
Jamaah rahimakumullah,
Karena itulah kita membutuhkan rekonstruksi keimanan. Apa itu rekontruksi keimanan? Mengapa perlu rekonstruksi?
Rekonstruksi bukan berarti mengganti iman. Iman tidak kita ubah. Yang kita rekonstruksi adalah cara kita memahami, menghayati dan mengaktualisasikan iman dalam kehidupan sehari-hari.
Sebab dunia cepat berubah. Cara manusia memperoleh ilmu berubah. Cara manusia bekerja berubah. Cara manusia berkomunikasi juga berubah.
Maka cara kita menghadirkan iman dalam kehidupan juga harus semakin dewasa dan matang.
Tujuannya apa?
Agar iman tidak monoton dan berhenti sebagai identitas. Tetapi menjadi landasan berpikir, bersikap, mengambil keputusan dan pondasi menjalani kehidupan di era digital.
Jamaah Jum’at rahimakumullah,
Tentu, yang pertama-tama perlu kita rekonstruksi adalah:
CARA PANDANG KITA TERHADAP ALLAH
Al-Qur’an memulai wahyu dengan sebuah perintah:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)
Mari kita perhatikan!
Allah tidak mengatakan sekadar “bacalah”. Tetapi: اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ
Bacalah dengan nama Tuhanmu. Artinya, semakin kita membaca dunia, seharusnya semakin mengenal Allah, Rabb kita.
Ada beberapa point yang perlu kita pahami terkait rekontruksi keimanan ini :
1. Beriman kepada Allah secara logis dan rasional
Iman bukan anti akal. Bukan anti pikiran. Akal dan pikiran adalah alat yang Allah ciptakan agar manusia mendapat pemahaman iman yang benar dan utuh. Keimanan yang kokoh dibangun melalui proses yang benar. Bukan ala kadarnya, bukan asal-asalan, bukan pula paksaan.
Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an justru mengajak manusia berpikir.
وَلَوْ شَاۤءَ رَبُّكَ لَاٰمَنَ مَنْ فِى الْاَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيْعًاۗ اَفَاَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتّٰى يَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَ
Seandainya Tuhanmu menghendaki, tentulah semua orang di bumi seluruhnya beriman. Apakah engkau (Nabi Muhammad) akan memaksa manusia hingga mereka menjadi orang-orang mukmin?
وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ اَنْ تُؤْمِنَ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗوَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِيْنَ لَا يَعْقِلُوْنَ
Tidak seorang pun akan beriman, kecuali dengan izin Allah dan Dia menimpakan azab kepada orang-orang yang tidak mau mengerti (tidak berfikir). (Yūnus [10]:99-100)
Agama ini memang dibangun dengan akal pikiran yang benar. Bukan sekedar taklid buta atau ikut-ikutan belaka. Yang mana Allah justru akan menimpakan adzab kepada orang yang tidak berfikir dalam menjalankan agamanya.
Dengan beragama demikian, mestinya islam cocok dengan kaum millennial yang cenderung skeptis dan mengandalkan akal dalam setiap keputusannya.
Keimanan di zaman digital ini harus bisa menjelaskan secara logis dan rasional bahwa Tuhan itu ada. Sebagaimana Nabi Ibrahim menjelaskan kepada ummatnya.
قَالَ بَلْ رَّبُّكُمْ رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ الَّذِيْ فَطَرَهُنَّۖ وَاَنَا۠ عَلٰى ذٰلِكُمْ مِّنَ الشّٰهِدِيْنَ
Dia (Ibrahim) menjawab, “Sebenarnya, Tuhan kamu adalah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya dan aku adalah salah satu saksi atas itu.” (QS Al-Anbiyā’ [21]:56)
2. Tuhan tidak mungkin banyak
Allah berfirman:
لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا
“Sekiranya pada keduanya ada tuhan-tuhan selain Allah, niscaya keduanya telah rusak.” (QS. Al-Anbiya: 22)
Logikanya sederhana. Kalau ada dua penguasa mutlak dengan kehendak yang berbeda, bagaimana alam semesta bisa berjalan begitu teratur? Justru akan berantakan.
3. Tuhan mestilah Maha Besar.
Dan Maha Meliputi segalanya. Sehingga Dia mengetahui peristiwa apa saja di jagad raya. Tuhan mestilah tidak berada di dalam alam semesta ini. Tetapi justru sebaliknya, alam semesta berada di dalam Diri-Nya. Surga, neraka, dan alam akhirat berada di dalam Diri-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ وَكَانَ اللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ مُّحِيْطًا ࣖ
Hanya milik Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Allah Maha Meliputi segala sesuatu. (QS.An-Nisā’ [4]:126)
4. Tuhan Sangat Dekat
Allah berfirman:
وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
“Kami lebih dekat kepadanya daripada urat nadinya.” (QS. Qaf: 16)
Al Qur’an menggambarkan sedemikian dekatnya Allah dengan kita. Lebih dekat dengan urat leher. Padahal urat leher ada di dalam leher kita sendiri. Berarti sejatinya kita tidak berjarak dengan-Nya. Subhanallah. Yang karena dekatnya itu, segala bisikan hatipun Allah tahu.
CARA PANDANG KEPADA MALAIKAT
Membangun kesadaran bahwa segala perilaku kita selalu diawasi dan dicatat oleh malaikat
اِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيٰنِ عَنِ الْيَمِيْنِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيْدٌ
(Ingatlah) ketika dua malaikat mencatat (perbuatannya). Yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri. Qāf [50]:17)
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ
Tidak ada suatu kata pun yang terucap, melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat). (QS Qāf [50]:18)
Apa relevansinya di era digital?
Hari ini orang bisa melakukan sesuatu di ruang digital karena merasa tidak ada yang melihat. Tetapi orang beriman memiliki kesadaran: Tidak ada ruang yang benar-benar tersembunyi dari Allah dan para malaikat-Nya.
Boleh jadi manusia tidak melihat. Boleh jadi orang tua tidak melihat. Boleh jadi guru tidak melihat. Tetapi Allah melihat. Dan para malaikat mencatat. Maka iman kepada malaikat membangun integritas digital.
CARA PANDANG TERHADAP AL QUR’AN SEBAGAI STANDARD KEBENARAN
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ
“Kami telah menurunkan kepadamu Al-Kitab dengan membawa kebenaran, membenarkan kitab-kitab sebelumnya dan menjadi penjaga terhadapnya.” (QS. Al-Ma’idah: 48)
Di era digital, problem kita bukan kekurangan informasi. Kita justru kebanjiran informasi. Masalahnya adalah mana yang benar? Tidak semua yang viral itu benar. Tidak semua yang banyak like itu benar. Tidak semua yang dikatakan tokoh terkenal itu benar. Tidak semua yang muncul di mesin pencarian itu benar.
Maka orang beriman membutuhkan filter wahyu. Al-Qur’an menjadi kompas untuk membedakan haq dan batil, benar dan salah, baik dan buruk, bermanfaat dan merusak.
CARA PANDANG TERHADAP RASULULLAH SEBAGAI ROLE MODEL
قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا… وَمَا أُوتِيَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ…
“Katakanlah: Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub… dan kepada apa yang diberikan kepada Musa dan Isa…” (QS. Al-Baqarah: 136)
Hari ini manusia mencari role model. Anak-anak kita mencari figur. Mereka melihat influencer. Melihat artis. Melihat pengusaha. Melihat tokoh media sosial. Tidak salah belajar kepada manusia.
Tetapi seorang mukmin harus memiliki standar keteladanan tertinggi. Rasulullah ﷺ.
Kita tidak hanya mengagumi beliau. Kita belajar bagaimana beliau berpikir, berbicara, memimpin, memperlakukan keluarga, berdagang, menghadapi orang yang membencinya dan bagaimana beliau membangun umat.
CARA PANDANG TERHADAP KEHIDUPAN DAN KEMATIAN
كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ بِاللّٰهِ وَكُنْتُمْ اَمْوَاتًا فَاَحْيَاكُمْۚ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ ثُمَّ اِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ
Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia akan mematikan kamu, Dia akan menghidupkan kamu kembali, dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan? (QS Al-Baqarah [2]:28)
Era digital membuat manusia sangat mudah mengejar sesuatu yang instan. Iingin cepat kaya, ingin cepat terkenal, ingin cepat viral, ingin cepat mendapatkan pengakuan. Tetapi iman kepada akhirat mengajarkan, hidup bukan hanya tentang apa yang kita dapatkan hari ini, tetapi bagaimana pertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak.
CARA PANDANG TERHADAP TAKDIR
Jamaah rahimakumullah,
Takdir bukan alasan untuk pasif.
Allah menggambarkan orang-orang yang mau berubah dan bertumbuh.
لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَتَقَدَّمَ أَوْ يَتَأَخَّرَ
“Bagi siapa di antaramu yang mau maju atau mundur.” (QS. Al-Muddatstsir: 37)
Karena itu, iman kepada takdir harus melahirkan optimisme, bukan fatalisme. Maka di era digital, tetap semangat belajar, beradaptasi, berinovasi, dan meningkatkan kemampuan.
Semoga Allah selalu membimbing kita dalam ridho-Nya. Aamiin.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ…
(Untuk mengunduh naskah ini ke format PDF, klik icon “print” pada share button di bawah lalu pilih simpan file PDF)






