
DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Bidang Perkaderan dan Pembinaan Anggota, Dr. Abdul Ghofar Hadi, M.Pd., menghadiri dan memberikan sambutan dalam acara Grand Launching Lembaga Bantuan Hukum (LBH), website, serta logo baru Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (GMH) yang digelar di Kota Depok, Jawa Barat, pada Sabtu, 27 Sya’ban 1447 (14/2/2026).
Dalam sambutannya, Abdul Ghofar Hadi menegaskan kapasitas mahasiswa sebagai unsur sentral dalam sejarah pertumbuhan Hidayatullah. Ia menjelaskan bahwa sejak fase awal berdirinya, pendiri Hidayatullah, KH Abdullah Said, telah menjadikan mahasiswa sebagai sasaran utama pembinaan. Pendekatan tersebut didasarkan pada kesadaran bahwa mahasiswa memiliki kapasitas intelektual dan potensi kepemimpinan yang kuat dalam membangun masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa pola pembinaan yang dilakukan Abdullah Said berfokus pada lingkungan kampus, yang pada akhirnya menjadi titik awal berkembangnya jaringan Hidayatullah di berbagai daerah. Kehadiran organisasi ini di kota-kota besar, menurutnya, tidak terlepas dari basis kader yang berasal dari komunitas mahasiswa.
“Ustadz Abdullah Said selalu memberikan perhatian lebih kepada mahasiswa, makanya Hidayatullah berkembang di daerah di daerah yang ada kampusnya seperti Surabaya dan Makassar,” katanya.
Ghofar menegaskan bahwa mahasiswa memiliki karakter progresif yang menjadikan mereka sebagai elemen strategis dalam pergerakan sosial dan intelektual. Ia menyebut bahwa kesadaran intelektual yang dimiliki mahasiswa harus diarahkan pada pengabdian yang berdampak bagi masyarakat luas.
Menurutnya, posisi mahasiswa tidak hanya sebagai peserta pendidikan formal, tetapi juga sebagai bagian dari struktur sosial yang memiliki tanggung jawab moral terhadap pembangunan masyarakat.
“Mahasiswa harus ada rasa keterpanggilan untuk membangun masyarakat,” katanya.
Kesadaran dan Tanggung Jawab Sosial
Untuk menggambarkan makna keterpanggilan tersebut, Ghofar menceritakan pengalamannya sendiri ketika menjadi mahasiswa di Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam Luqman Al Hakim (STAIL) Surabaya pada masa reformasi 1998. Ia menjelaskan bahwa pada saat itu terjadi gelombang perubahan politik besar yang melibatkan mahasiswa di berbagai daerah, termasuk Surabaya.
Sebagai mahasiswa, ia merasakan dorongan kuat untuk terlibat dalam dinamika sejarah tersebut. Namun, kebijakan kampus saat itu membatasi keterlibatan mahasiswa dalam aksi demonstrasi. Dalam situasi tersebut, ia menyalurkan aspirasi melalui tulisan reflektif yang menggambarkan dialog imajiner tentang tanggung jawab generasi terhadap perubahan sejarah.
“Saya membuat tulisan imajiner kilas balik tentang peristiwa tahun 1998 itu karena ada rasa keterpanggilan sebagai seorang mahasiswa,” katanya, yang saat itu memimpin pers kampus bernama Buletin Nurani.
Tulisan tersebut kemudian sampai kepada pengurus yayasan dan menjadi salah satu faktor yang membuka ruang partisipasi mahasiswa dalam peristiwa reformasi. Ghofar menjelaskan bahwa keterlibatannya tidak berhenti di tingkat lokal, tetapi juga meluas hingga ke Jakarta.
Ia menuturkan bahwa dirinya menjadi saksi langsung salah satu peristiwa penting dalam perjalanan reformasi nasional. “Saat peristiwa Semanggi, saya hadir di situ,” katanya.
Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi bagian dari proses pembelajaran yang membentuk kesadaran kepemimpinan dan tanggung jawab sosial. Dalam konteks masa kini, ia menegaskan bahwa mahasiswa tetap memiliki peran penting dalam menyuarakan kepentingan publik dan menjaga keberpihakan terhadap masyarakat.
Ia menekankan bahwa mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai penghubung antara aspirasi masyarakat dan ruang publik yang lebih luas.
“Mahasiswa harus hadir menyuarakan isu kepentingan publik karena mahasiswa adalah corong masyarakat,” kata Ghofar.
Pada bagian akhir sambutannya, Ghofar mengajak mahasiswa untuk memanfaatkan waktu secara optimal dalam menjalankan peran pengabdian. Ia menekankan pentingnya kesadaran waktu sebagai faktor penting dalam proses perjuangan dan kontribusi sosial.
“Kita harus gerak cepet, nanti keburu kiamat. Kita punya waktu 365 hari untuk berjuang,” katanya.
Acara Grand Launching tersebut juga menandai penguatan infrastruktur kelembagaan GMH melalui pembentukan LBH, peluncuran website resmi, serta pengenalan logo baru sebagai bagian dari konsolidasi identitas organisasi mahasiswa Hidayatullah. Langkah tersebut diharapkan memperkuat peran GMH dalam kaderisasi, advokasi, serta pelayanan kepada masyarakat dan mahasiswa di berbagai wilayah Indonesia.






