Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِلْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَنَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ وَإِحْسَانِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّم عَلَى حَبِيْبِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى الِهِ وَاَصْحَابِهِ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
Saudara seiman rahimakumullah,
Mengapa iman dan takwa selalu mengawali setiap tausiyah dalam khutbah Jumat? Karena iman melahirkan keberanian untuk berubah, sedangkan takwa melahirkan kesungguhan untuk terus bertumbuh. Keberanian untuk berubah dan bertumbuh adalah manifestasi syukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya yang tak terhitung. Jadi, bersyukur bukan sekedar mengucapkan kalimat hamdalah “alhamdulillah”, tetapi menggunakan nikmat-nya untuk memaksimalkan tugas sebagai pemimpin atau khalifah di bumi ini.
Iman membuat seseorang berani meninggalkan kebiasaan buruk, berani melawan ketakutan, berani meninggalkan cara berfikir yang melemahkan dan berani hidup dalam kebenaran. Sementara takwa menjadikan seseorang tidak pernah merasa cukup dengan kebaikan yang telah dicapai. Ia terus memperbaiki diri, meningkatkan kualitas amal, dan memperluas manfaat kehidupannya.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).
Ayat ini mengajarkan bahwa Allah menunggu kita memiliki kesadaran untuk berubah, bukan menunggu Allah mengubah nasib kita. Umumnya orang memiliki keberanian untuk berubah dan bertumbuh karena menghadapi 2 kondisi:
- Menginginkan keadaan yang lebih baik, enak dan penuh kenikmatan.
- Takut dengan kondisi yang penuh derita.
Saudara seiman yang dimuliakan Allah,
Bulan November mengingatkan kita pada sebuah peristiwa bersejarah. Delapan puluh satu tahun yang lalu, tepatnya 10 November 1945, meletus pertempuran besar di Surabaya. Para pejuang bangsa menghadapi kekuatan militer yang jauh lebih besar dengan keberanian dan tekad mempertahankan kemerdekaan.
Mereka menyadari bahwa kemerdekaan tidak cukup hanya diproklamasikan, tetapi harus dipertahankan dengan pengorbanan. Mereka berani menghadapi risiko, bahkan mempertaruhkan nyawa demi masa depan bangsa. Sudah sekian lama hidup dalam derita penjajahan bangsa asing, sudah waktunya merencakan masa depan lebih baik. Semua memiliki hak yang sama untuk menikmati kehidupan yang Allah hadirkan di bumi ini.
Bayangkan, jika para orang tua kita saat itu memilih diam, takut, dan menyerah, mungkin perjalanan bangsa Indonesia akan sangat berbeda.
Sejarah mengajarkan bahwa perubahan besar selalu membutuhkan keberanian. Tidak ada kemajuan tanpa keberanian untuk berubah. Tidak ada pertumbuhan tanpa keinginan untuk hidup lebih baik.
Saudara seiman rahimakumullah,
Sesungguhnya semua manusia memiliki kesempatan yang sama untuk berubah dan bertumbuh. Kita sama-sama diberi akal pikiran, waktu, potensi, dan kesempatan oleh Allah SWT. Sejak awal penciptaan Allah telah mendesain manusia dengan sebaik-baik bentuk. Sebagaimana firman-Nya:
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
هُوَ الَّذِيْ يُصَوِّرُكُمْ فِى الْاَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاۤءُ ۗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
“Dialah (Allah) yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana yang Dia kehendaki.83) Tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Āli ‘Imrān [3]:6
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ
“sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.“ (QS At-Tīn [95]:4)
Lantas, mengapa ada orang yang terus berkembang, sementara yang lain berjalan di tempat?
Sering kali bukan karena perbedaan kemampuan, melainkan karena perbedaan keberanian. Ada yang berani belajar, sementara yang lain gengsi untuk belajar. Ada yang berani memulai, sementara yang lain sibuk mencari alasan. Ada yang berani mengakui kesalahan dan memperbaiki diri, sementara yang lain gemar mencari pembenaran.
Saudara seiman rahimakumullah,
Mari kita bertanya kepada diri sendiri: Sudah berapa lama kita hidup, tetapi masih begitu-gitu saja. Nasib belum banyak berubah, apalagi bertumbuh? Sudah berapa banyak kesempatan yang Allah berikan, tetapi belum banyak kita manfaatkan?
Semoga Allah menjadikan kita pribadi-pribadi yang memiliki keberanian untuk berubah dan kesungguhan untuk bertumbuh, sebagai wujuj jiwa-jiwa yang bersyukur.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
Saudara seiman rahimakumullah,
Menua adalah pasti. Tetapi hidup sehat dan berlimpah dalam ketaatan kepada Allah adalah pilihan. Perubahan adalah pilihan, pertumbuhan adalah ikhtiar. Jangan menunggu keadaan untuk berubah, tetapi mulailah berubah dari cara berikir yang enak dan benar. Insyaallah, Allah akan membukakan jalan menuju kehidupan yang kita inginkan. Sebagaimana hadits qudsi:
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي…
“Aku sesuai persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku…” (HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675)
Akhirnya marilah kita berdoa, Allah pasti mengabulkan doa-doa kita.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَ بَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَوَفِّقْنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
(Untuk mengunduh naskah ini ke format PDF, klik icon “print” pada share button di bawah lalu pilih simpan file PDF)






