Adil terhadap Diri Sendiri
Menunaikan Hak Allah, Hak Diri, dan Hak Sesama
KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَنَهَانَا عَنِ الظُّلْمِ وَالْعُدْوَانِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan hendaknya kita hadirkan dalam seluruh aspek kehidupan: dalam ibadah, keluarga, pekerjaan, pergaulan, bahkan dalam cara kita memperlakukan diri sendiri.
Pada kesempatan khutbah ini, marilah kita merenungkan sebuah perkara penting yang terkadang luput dari perhatian kita, yaitu berlaku adil terhadap diri sendiri.
Pertama: Keadilan Harus Dimulai dari Diri Sendiri
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Ketika mendengar kata adil, sering kali pikiran kita langsung tertuju pada keadilan seorang pemimpin terhadap rakyatnya, seorang hakim terhadap pihak yang berperkara, seorang suami terhadap istri, atau seseorang terhadap orang lain.
Padahal, Islam juga mengajarkan agar manusia tidak menzalimi dirinya sendiri.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Yunus ayat 44:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْئًا وَلَٰكِنَّ النَّاسَ أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
Artinya:
“Sesungguhnya Allah tidak menzalimi manusia sedikit pun, tetapi manusialah yang menzalimi diri mereka sendiri.” (QS. Yunus: 44)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa kezaliman tidak selalu datang dari orang lain. Terkadang, kita sendirilah yang menjadi sebab kerugian bagi diri kita.
Ketika seseorang mengetahui kewajiban salat tetapi sengaja meninggalkannya, ia sedang merugikan dirinya sendiri.
Ketika seseorang mengetahui bahwa dusta, ghibah, fitnah, dan maksiat dilarang Allah, tetapi tetap melakukannya, ia sedang menzalimi dirinya sendiri.
Ketika seseorang menyia-nyiakan waktu, mengabaikan amanah, menuruti hawa nafsu, dan melupakan akhirat demi kesenangan sesaat, ia sedang mempertaruhkan keselamatan dirinya sendiri.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Adil terhadap diri sendiri berarti menempatkan diri pada jalan yang diridai Allah, bukan sekadar memenuhi semua keinginan diri.
Sebab, tidak semua yang kita inginkan membawa kebaikan. Ada keinginan yang menyenangkan hati sesaat, tetapi merusak iman dan kehidupan kita dalam jangka panjang.
Karena itulah, orang yang benar-benar menyayangi dirinya bukanlah orang yang selalu menuruti hawa nafsunya, melainkan orang yang membimbing dirinya menuju keselamatan dunia dan akhirat.
Kedua: Menjaga Hak Allah adalah Bentuk Keadilan terhadap Diri Sendiri
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Hak yang paling agung dalam kehidupan seorang hamba adalah hak Allah untuk disembah, ditaati, dan tidak dipersekutukan dengan sesuatu apa pun.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Artinya:
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Kita diciptakan bukan semata-mata untuk mencari harta, mengejar jabatan, membangun rumah, membesarkan anak, atau menikmati kehidupan dunia. Semua itu dapat menjadi bagian dari ibadah apabila dilakukan dengan niat dan cara yang benar. Namun, tujuan tertinggi kita tetaplah mengabdi kepada Allah.
Maka, apabila seseorang begitu bersemangat mengejar dunia tetapi melalaikan salat, ia belum memberikan hak yang semestinya kepada dirinya.
Apabila seseorang mampu bekerja berjam-jam demi penghasilan, tetapi merasa berat meluangkan waktu untuk membaca Al-Qur’an, menghadiri majelis ilmu, atau berdoa kepada Allah, ia perlu mengevaluasi kembali keseimbangan hidupnya.
Jangan sampai kita menjaga hubungan dengan manusia, tetapi merusak hubungan dengan Allah. Jangan sampai kita takut kehilangan kedudukan di hadapan manusia, tetapi tidak takut kehilangan keridaan Allah.
Allah mengingatkan kita dalam Surah Al-Hasyr ayat 18:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)
Perhatikanlah, Allah memerintahkan setiap orang untuk melihat apa yang telah dipersiapkannya bagi hari esok, yakni kehidupan akhirat.
Karena itu, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Sudahkah salat kita terjaga? Bagaimana hubungan kita dengan Al-Qur’an? Sudahkah kita bertobat dari dosa-dosa yang kita lakukan? Apa yang telah kita persiapkan untuk menghadap Allah?
Jangan menunggu tua untuk taat. Jangan menunggu sakit untuk memperbanyak ibadah. Jangan menunggu kematian datang untuk menyesali waktu yang telah berlalu.
Berlaku adil terhadap diri sendiri berarti memberikan kepada diri kita kesempatan untuk memperoleh keselamatan akhirat.
Ketiga: Jangan Menzalimi Tubuh, Jiwa, dan Kebutuhan Diri Sendiri
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Islam tidak mengajarkan manusia untuk memenuhi hawa nafsu tanpa batas. Namun, Islam juga tidak mengajarkan manusia untuk menyiksa dirinya, mengabaikan kesehatannya, atau meninggalkan seluruh hak dunia demi ibadah dengan cara yang melampaui tuntunan agama.
Rasulullah ﷺ memberikan teladan tentang keseimbangan dalam kehidupan.
Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari, Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Abu Darda radhiyallahu ‘anhu:
إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ
“Sesungguhnya Tuhanmu mempunyai hak atas dirimu, dirimu sendiri mempunyai hak atas dirimu, dan keluargamu mempunyai hak atas dirimu. Maka berikanlah kepada setiap yang memiliki hak, haknya.” (HR. Al-Bukhari, dalam kisah Salman dan Abu Darda)
Hadis ini mengandung pelajaran yang sangat mendalam.
Pertama, tubuh kita memiliki hak. Tubuh harus dijaga, diberi makanan yang baik, diistirahatkan secukupnya, dan tidak sengaja dirusak melalui kebiasaan yang membahayakan.
Kedua, jiwa kita memiliki hak. Hati perlu dirawat dengan iman, ilmu, zikir, lingkungan yang baik, dan kebiasaan yang mendekatkan diri kepada Allah.
Ketiga, keluarga kita memiliki hak. Jangan sampai kesibukan mencari nafkah membuat kita melupakan pendidikan agama anak, perhatian kepada pasangan, dan tanggung jawab terhadap orang tua.
Keempat, Allah memiliki hak yang paling agung. Jangan sampai alasan bekerja, beristirahat, atau mengurus keluarga menjadi pembenaran untuk terus-menerus meninggalkan kewajiban agama.
Inilah keseimbangan yang diajarkan Islam.
Adil terhadap diri sendiri bukan berarti memanjakan diri. Bukan pula berarti memaksakan diri hingga melampaui kemampuan. Adil berarti menempatkan setiap kewajiban dan kebutuhan pada tempatnya sesuai tuntunan syariat.
Jangan zalim kepada tubuh dengan merusaknya. Jangan zalim kepada jiwa dengan membiarkannya tenggelam dalam maksiat. Jangan zalim kepada keluarga dengan mengabaikan tanggung jawab. Dan jangan zalim kepada akhirat dengan menjualnya demi keuntungan dunia yang sementara.
Keempat: Jangan Mengikuti Hawa Nafsu yang Merusak Diri Sendiri
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Salah satu musuh terbesar manusia adalah hawa nafsu yang tidak dikendalikan oleh iman dan petunjuk Allah.
Hawa nafsu dapat membisikkan kepada seseorang, “Tidak apa-apa meninggalkan salat sekali ini.” Kemudian menjadi dua kali, tiga kali, hingga meninggalkan salat terasa biasa.
Hawa nafsu dapat berkata, “Tidak apa-apa berbohong sedikit demi keuntungan.” Lama-kelamaan, dusta menjadi kebiasaan.
Hawa nafsu dapat membujuk seseorang untuk memandang yang haram, memakan harta yang tidak halal, merendahkan orang lain, atau menyimpan kebencian dan kedengkian.
Pada awalnya, seseorang mungkin mengira bahwa ia sedang menyenangkan dirinya. Padahal, ia sedang merusak hati dan kehidupannya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Asy-Syams ayat 9–10:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
Artinya:
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9–10)
Ayat ini mengajarkan bahwa keberuntungan sejati tidak hanya diukur dengan kekayaan, kedudukan, popularitas, atau keberhasilan duniawi. Keberuntungan yang sesungguhnya adalah ketika seseorang berhasil menyucikan jiwanya dengan iman, ketaatan, tobat, dan amal saleh.
Karena itu, marilah kita berani mengoreksi diri.
Apabila kita bersalah, akuilah kesalahan itu. Apabila kita berdosa, segeralah bertobat. Apabila kita lalai, bangkitlah kembali. Apabila kita memiliki kebiasaan buruk, berjuanglah untuk meninggalkannya.
Jangan sampai kita terlalu sibuk melihat kesalahan orang lain, tetapi tidak pernah memeriksa keadaan diri sendiri.
Jangan sampai kita keras kepada orang lain, tetapi selalu mencari alasan untuk membenarkan kesalahan diri sendiri.
Namun, mengoreksi diri juga bukan berarti membenci diri sendiri atau berputus asa dari rahmat Allah. Seorang Muslim mengakui kekurangannya, memperbaiki kesalahannya, dan tetap berharap kepada ampunan Allah.
Kelima: Adil terhadap Diri Sendiri Berarti Mempersiapkan Bekal Sebelum Kematian
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Setiap manusia sedang menempuh perjalanan menuju akhirat. Usia terus berkurang, waktu terus berlalu, dan kesempatan beramal tidak akan berlangsung selamanya.
Kita mungkin masih mempunyai banyak rencana, tetapi tidak seorang pun dapat memastikan berapa lama lagi ia akan hidup.
Karena itu, jangan menunda perbaikan diri.
Jika selama ini kita lalai salat, mari kita jaga salat mulai hari ini.
Jika selama ini kita jarang membaca Al-Qur’an, mari kita mulai membacanya secara rutin.
Jika selama ini kita menyakiti orang tua, pasangan, anak, tetangga, atau saudara kita, mari kita meminta maaf dan memperbaiki hubungan.
Jika selama ini kita memperoleh harta dengan cara yang tidak benar, mari kita bertobat dan berusaha menyelesaikan hak-hak orang lain sesuai kemampuan dan tuntunan syariat.
Jika selama ini kita tenggelam dalam dosa, jangan berputus asa. Pintu tobat terbuka bagi hamba yang sungguh-sungguh kembali kepada Allah sebelum ajal tiba.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Az-Zumar ayat 53:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Artinya:
“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’” (QS. Az-Zumar: 53)
Ayat ini adalah seruan harapan bagi orang-orang yang ingin kembali kepada Allah.
Maka, jangan menzalimi diri sendiri dengan terus-menerus melakukan dosa. Jangan pula menzalimi diri sendiri dengan berputus asa setelah melakukan dosa.
Kembalilah kepada Allah dengan tobat yang sungguh-sungguh, perbaiki amal, dan tunaikan hak-hak manusia yang pernah kita langgar.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita mengambil lima pelajaran dari khutbah ini.
Pertama, jangan menzalimi diri sendiri dengan kemaksiatan.
Kedua, jangan mengabaikan hak Allah berupa tauhid, salat, dan ketaatan.
Ketiga, jagalah tubuh, jiwa, keluarga, dan amanah dengan seimbang.
Keempat, kendalikan hawa nafsu dan biasakan melakukan muhasabah.
Kelima, persiapkan bekal akhirat dan jangan menunda tobat.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang adil terhadap diri sendiri, baik dalam urusan dunia maupun akhirat.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ.
Kemudian khatib duduk sejenak di antara dua khutbah.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Sekali lagi, marilah kita bertakwa kepada Allah dan senantiasa mengingat bahwa diri kita adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.
Jangan hanya menuntut keadilan dari orang lain, tetapi lupa berlaku adil kepada diri sendiri.
Jangan hanya sibuk memperbaiki kehidupan dunia, tetapi melupakan kehidupan akhirat.
Jangan hanya menjaga penampilan di hadapan manusia, tetapi membiarkan hati jauh dari Allah.
Marilah kita memulai perubahan dari diri sendiri: memperbaiki niat, menjaga salat, membersihkan hati, mencari rezeki yang halal, menunaikan hak keluarga, serta memperbanyak amal saleh.
Semoga Allah memberikan kepada kita kemampuan untuk mengenali kekurangan diri, keberanian untuk bertobat, dan kekuatan untuk istiqamah dalam kebaikan.
Marilah kita menutup khutbah ini dengan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Doa Penutup
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا، وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ. اللَّهُمَّ آتِ نُفُوسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنَا. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.






