KHUTBAH PERTAMA
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Mari kita bersyukur, kita masih diberi kesempatan menjadi pemuda, atau pernah menjadi pemuda. Karena pemuda adalah aset Islam dan bangsa yang paling mahal.
Hari ini jelang satu abad Sumpah Pemuda 1928, sebuah peristiwa sejarah yang diukir oleh Pemuda yang memengaruhi jalannya nasib bangsa terjajah yang kemudian terantar menjadi bangsa merdeka Indonesia, khatib akan mengajak kita merenungi satu ayat tentang pemuda paling pemberani dalam sejarah: Allah SWT berfirman:
قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ
Artinya: “Mereka berkata: Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.” (QS. Al-Anbiya: 60)
Ayat ini adalah pengakuan musuh. Musuh-musuh tauhid mengakui bahwa Ibrahim adalah seorang FATAA – pemuda.
Jamaah Jum’at yang berbahagia,
Apa hebatnya pemuda Ibrahim? Tiga keberaniannya tidak dimiliki pemuda lain.
Pertama: BERANI BERBEDA SAAT SEMUA ORANG SESAT.
Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya menjelaskan, saat itu seluruh penduduk Babilonia, termasuk ayah Ibrahim sendiri, Azar, adalah penyembah berhala. Tidak ada satu pun yang beriman. Bayangkan, sendirian. Tapi Ibrahim berani berkata: “… Patung-patung apakah ini yang kamu tekun menyembahnya?” (QS. Al-Anbiya: 52).
Pemuda hari ini banyak yang ikut-ikutan. Ikut tren maksiat karena takut dibilang tidak gaul. Ibrahim mengajarkan: pemuda hebat itu berani beda untuk kebenaran, walau sendirian.
Kedua: BERANI BERARGUMEN DENGAN ILMU, BUKAN EMOSI.
Imam Fakhruddin Ar-Razi menafsirkan, keberanian Ibrahim bukan keberanian otot, tapi keberanian logika. Ia menghancurkan berhala kecil dan menyisakan berhala besar, lalu meletakkan kapak di leher berhala besar itu. Saat ditanya siapa pelakunya, ia berkata: “Tanyakan saja kepada berhala besar itu.” Itu bukan mengejek, tapi menyadarkan akal mereka yang mati.
Ketiga: BERANI MENANGGUNG RISIKO KEBENARAN.
Akibat keberaniannya, ia dibakar hidup-hidup. Raja Namrudz membuat api besar. Tapi karena keberaniannya untuk Allah, Allah yang membela.
Ma’asyiral Muslimin,
Rasulullah SAW bersabda tentang nilai pemuda pemberani seperti Ibrahim:
“Sesungguhnya Allah kagum kepada pemuda yang tidak memiliki shabwah (tidak memperturutkan hawa nafsunya).”(HR. Ahmad, dishahihkan Al-Albani)
Dan Rasulullah juga menjamin:
“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya… di antaranya: Syaabun nasya-a fii ‘ibaadatillah, seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah.”(HR. Bukhari & Muslim)
Lihat, Ibrahim tumbuh dalam ibadah, bukan tumbuh dalam nongkrong tanpa makna, bukan tumbuh dalam judi online, bukan tumbuh dalam narkoba.
Prof. Quraish Shihab dalam Al-Mishbah berkata: Kata Fatan dalam ayat ini menunjukkan pemuda yang matang pikirannya, kuat fisiknya, dan bersih hatinya.
Maka wahai pemuda-pemuda Indonesia. Jadilah pemberani!
Berani menolak ajakan pacaran yang haram.
Berani menolak ajakan korupsi walau kecil.
Berani berkata “ini haram” di tengah teman-teman yang menghalalkan.
Berani menolak menjadi Pejabat kalau tak ada ijazahnya.
Berani maju membela rakyat dan bangsa Indonesia yang hari ini terpuruk akibat ulah oligarki dan birokrat yang tak cakap dan korup.
Karena api Namrudz hari ini bukan api kayu, tapi api hawa nafsu, api HP, api pergaulan bebas. Dan satu-satunya yang bisa memadamkannya adalah keberanian tauhid seperti Ibrahim.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ
فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ
Jamaah sekalian,
Menjadi Ibrahim tidak harus menunggu menjadi Nabi. Cukup menjadi pemuda yang di hatinya hanya ada Allah.
Pemuda Indonesia yang di hatinya ada Allah, insyaa Allah akan mengantarkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang sejahtera. Bangsa yang disegani dalam pergaulan internasional.
Jika Allah sudah bersama kita, api pun akan Allah perintahkan menjadi dingin, sebagaimana Allah berfirman kepada api Ibrahim:
قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ
“Kami berfirman: Wahai api, jadilah kamu dingin dan keselamatan bagi Ibrahim.” (QS. Al-Anbiya: 69)
Mari tutup khutbah dengan doa untuk pemuda kita.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ شَبَابَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَاجْعَلْهُمْ كَإِبْرَاهِيْمَ فِي الشَّجَاعَةِ وَالتَّوْحِيْدِ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ… فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ
(Untuk mengunduh naskah ini ke format PDF, klik icon “print” pada share button di bawah lalu pilih simpan file PDF)






