Beranda blog Halaman 100

Ketua Umum Mushida Dorong Penguatan Jatidiri dan Sinergi Kader di Sulawesi Barat

0

MAMUJU (Hidayatullah.or.id) — Dalam upaya memperkuat barisan dakwah dan mempererat ukhuwah Islamiyah, Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah menggelar kunjungan wilayah ke Pondok Pesantren Hidayatullah Mamuju, Sulawesi Barat, pada Sabtu, 1 Shafar 1447 (26/7/2025).

Kegiatan bertema “Sinergi Organisasi dan Spirit Juang dalam Bingkai Ukhuwah Islamiyah” ini dihadiri peserta dari berbagai jenjang kepengurusan, mulai dari tingkat pusat hingga daerah.

Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah Pusat, Hani Akbar, S.Sos.I, bersama Ina Sriwahyuni, S.Pd., turut memimpin kegiatan tersebut. Mereka disambut oleh pengurus wilayah dan perwakilan daerah dari seluruh kabupaten di Sulawesi Barat.

Ketua PW Muslimat Hidayatullah Sulbar Saldiana menyampaikan apresiasi atas kunjungan tersebut. Menurutnya, momentum ini menjadi titik awal penguatan semangat kaderisasi dan perjuangan dakwah lokal.

“Kunjungan ini menjadi penyegar semangat kami di daerah. Kami berharap ini menjadi langkah nyata dalam memperkuat sinergi dan memperluas peran Muslimat di berbagai lini,” ujarnya.

Memperteguh Identitas Dakwah Muslimat

Dalam sesi konsolidasi organisasi, Hani Akbar menekankan pentingnya penguatan jati diri Muslimat sebagai penggerak dakwah berbasis keluarga.

“Kita harus memperkuat jati diri organisasi agar mampu bertahan di tengah tantangan zaman. Muslimat harus menjadi pelopor dalam membangun keluarga yang kokoh dan peradaban yang Qur’ani,” tegasnya.

Sementara itu, Ina Sriwahyuni membawakan materi bertajuk “Team Building dalam Perspektif Islam” yang menyoroti pentingnya komunikasi dan penerimaan dalam membangun tim kerja.

“Organisasi yang efektif lahir dari tim yang solid. Komunikasi, kepercayaan, dan penerimaan terhadap sesama menjadi kunci penting,” jelasnya.

Pada kesempatan itu diadakan pengajian gabungan bersama Muslimat Hidayatullah Mamuju. Dalam tausiyahnya, Hani Akbar menekankan pentingnya peran orang tua sebagai pendidik utama.

“Pendidikan anak dimulai dari keteladanan orang tua. Mari kita perkuat peran kita sebagai ibu dan pendidik utama dalam rumah tangga,” pesannya.

KH Ma’ruf Amin Ingatkan Kerukunan Ulama Kunci Persatuan Umat dan Bangsa

0
Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia Prof Dr KH Ma’ruf Amin (Foto: Muhammad Zuhri Fadlullah/ Hidayatullah.or.id)

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Majelis Ulama Indonesia (MUI) memperingati puncak milad emasnya yang ke-50 tahun pada di Aula Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Sabtu malam, 1 Shafar 1447 (26/7/2025). Acara tersebut menjadi momen reflektif bagi eksistensi MUI sebagai lembaga keagamaan strategis dalam kehidupan kebangsaan dan keumatan.

Dalam sambutannya, Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) MUI KH Ma’ruf Amin menyampaikan arahan kepada seluruh jajaran kepengurusan MUI, mulai dari tingkat pusat, provinsi, hingga kabupaten/kota.

KH Ma’ruf menggarisbawahi pentingnya menjaga keberlanjutan peran MUI sebagai pelayan umat (khodimul ummah) dan mitra pemerintah yang terpercaya (sodiqul hukumah).

“MUI selama 50 tahun berkhidmat untuk umat, untuk bangsa dan negara. MUI tidak boleh berhenti dan harus terus melakukan pengabdian itu,” ujar Kiai Ma’ruf Amin di hadapan peserta acara.

Ia menegaskan bahwa keberadaan MUI tidak cukup hanya bertahan, tetapi juga harus tetap aktif dalam menjaga umat melalui fatwa-fatwa yang proporsional dan sesuai prinsip syariah. Menurutnya, fatwa tidak boleh bersifat ekstrem, baik terlalu keras maupun terlalu permisif.

“MUI harus menjaga umat dari fatwa-fatwa yang nyeleneh, fatwa-fatwa yang keras, dan fatwa yang memudah-mudahkan,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan peran penting MUI dalam melindungi umat dari praktik muamalah yang menyimpang dan konsumsi yang tidak halal. Kiai Ma’ruf menekankan, kunci utama dari semua itu adalah menjaga persatuan umat.

“Dan yang menjadi kunci dari semua hal tersebut adalah MUI harus menjaga umat dari perpecahan dan perselisihan. Sebab kalau ada keduanya, program apapun tidak dapat kita laksanakan,” imbuhnya.

Ia juga mengingatkan bahwa kerukunan antarumat merupakan fondasi bagi kerukunan antaragama dan antarbangsa. Dalam hal ini, dia menegaskan, peran ulama menjadi sentral.

“Rusaknya kerukunan ummat itu karena tidak rukunnya ulama. Maka yang paling utama dijaga adalah dijaga ulamanya dari perselisihan dan perpecahan,” pungkasnya.

Sinergi Hidayatullah Wujudkan Buton Tengah sebagai Kota Santri dan Pendidikan

0

BUTON TENGAH (Hidayatullah.or.id) — Kasat Binmas Polres Buton Tengah, AKP La Bela, menyampaikan komitmennya dalam mendukung pembangunan Pesantren Hidayatullah yang berlokasi di Kelurahan Lawela, Kecamatan Gu, Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi Tenggara. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu, 1 Shafar 1447 H bertepatan dengan 26 Juli 2025.

Dalam rangkaian kunjungan dan giat kerja bakti tersebut, AKP La Bela menegaskan pentingnya peran pesantren dalam penguatan karakter generasi muda. Menurutnya, institusi pendidikan berbasis Islam seperti Pesantren Hidayatullah memiliki kontribusi signifikan dalam membentuk generasi berakhlak mulia.

“Pesantren Hidayatullah memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan moral generasi muda yang berakhlakul karimah. Kami akan terus mendukung kegiatan positif yang dilakukan oleh pesantren ini,” ungkap AKP La Bela di hadapan para tokoh masyarakat dan jajaran pengurus pesantren.

Dukungan tersebut juga mencakup partisipasi aktif dalam proses pembangunan Masjid At-Taufiq yang menjadi fasilitas utama di lingkungan pesantren. Pembangunan masjid tersebut telah mencapai progres sekitar 30 persen dan membutuhkan dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak.

“Kami berharap pemerintah daerah dapat memberikan dukungan dan bantuan yang memadai untuk menyelesaikan pembangunan Masjid At-Taufiq dan meningkatkan kualitas pendidikan di pesantren Hidayatullah,” tambah AKP La Bela yang juga menjabat sebagai Ketua Pembangunan Masjid At-Taufiq.

Lebih lanjut, inisiatif ini dinilai sejalan dengan visi Kabupaten Buton Tengah di bawah kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Buton Tengah Dr. H. Azhari, S.STP., M.Si dan Muhammad Adam Basan, S.Sos., sebagai kota santri dan kota pendidikan, yaitu daerah yang menjunjung tinggi nilai-nilai religiusitas, pendidikan, dan budaya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri sejumlah pengerusi Hidayatullah dari berbagai wilayah, di antaranya Ketua Badan Pembina Pesantren Hidayatullah Lombe Ust. Abd Syukur, Murabbi Hidayatullah Kepton Ust. H. Mahrus Salam, Ketua DPDH Buteng Ust. Muh Nurdin, Sekretaris DPDH Baubau Ust. Muh Nur Akbar, Ketua DPDH Muna Ust. Muzakkar Salim, Ketua DPDH Muna Barat Ust. Abdul Azis, serta perwakilan Muslimat Hidayatullah Kepton.

Belajar dari Khaulah dan Khansa, Mushida Dorong Ibu Jadi Sahabat Anak di Era Digital

0

PONTIANAK (Hidayatullah.or.id) — Muslimat Hidayatullah (Mushida) Kalimantan Barat (Kalbar) menggelar kegiatan Temu Walimurid TK/SD sekaligus Halaqah Kubro bertajuk “Memperkuat Komitmen Kader, Meningkatkan Spiritual, dan Mempererat Ukhuwah” di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Pontianak, Kalbar, Sabtu, 1 Shafar 1447 (26/7/2025).

Kegiatan ini dihadiri ibu-ibu yang merupakan orang tua santri TK dan SD, serta kader Mushida dari berbagai wilayah di Pontianak.

Hadir sebagai narasumber utama, Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Mushida, Siti Sarah Zakiyah, yang menyampaikan materi bertemakan peran perempuan muslim dalam mendidik generasi di era digital.

Dalam pemaparannya, Sarah mengangkat nilai-nilai keteladanan dari sosok-sosok perempuan salehah dalam sejarah Islam.

Ia menyoroti karakter kepemimpinan dan keteguhan spiritual Khaulah binti Azwar, seorang pejuang perempuan dalam sejarah Islam yang dikenal karena keberaniannya.

Tak kalah penting, ia juga mengangkat kisah Khansa binti Amru, penyair muslimah yang kehilangan empat putranya dalam jihad, namun tetap tegar karena kesadaran spiritual dan kecintaan pada akhirat.

“Perempuan hari ini perlu belajar dari sahabiyah. Khaulah menunjukkan bahwa perempuan juga mampu menjadi sosok kuat dan cerdas dalam menjaga keluarga dan agama. Sedangkan Khansa mengajarkan kita pentingnya keteguhan hati dalam mendidik anak-anak dengan visi akhirat,” ungkap Sarah.

Sarah juga menekankan pentingnya peran doa dalam proses pengasuhan. Ia menyampaikan bahwa doa orang tua, khususnya ibu, memiliki kekuatan besar dalam membentuk karakter dan keberhasilan anak.

“Jangan lupa doakan anak-anak kita setiap menjelang tidur dan minta doa juga kepada anak-anak supaya kita jadi ibu dan bapak yang baik. Jadikan anak-anak sebagai sahabat, terutama anak laki-laki,” ujar Sarah dalam sesi motivasi yang membuat sebagian besar peserta terharu hingga menitikkan air mata.

Dalam sesi tanya jawab, seorang peserta dengan suara bergetar menyampaikan keluh kesah mengenai anaknya yang belum memiliki kesadaran diri untuk melaksanakan shalat meski telah berusia sepuluh tahun.

Sarah merespons dengan pendekatan psikologis dan spiritual. Ia menyarankan agar orang tua membangun komunikasi dari hati ke hati, menjadikan anak sebagai teman, dan menghindari membandingkan dengan saudara kandung.

“Kalau memarahi, beri tahu dengan pelan-pelan, tidak di depan saudaranya yang lain. Kita perlu lebih sabar dan bijak, bukan hanya keras, tetapi juga dekat dan menyentuh,” tutur Sarah.

Ketua PW Mushida Kalbar, Muthiah A. Mahmud, mengatakan kegiatan ini menjadi momen penguatan ukhuwah antar sesama ibu dan kader khususnya di Pontianak dalam rangka bina ketahanan keluarga muslim, yang menjadi bagian penting dari ketahanan nasional.

“Dalam situasi dunia digital yang tidak terbendung seperti sekarang, peran ibu dan keluarga menjadi bagian penting dalam membentengi generasi dari pengaruh negatif budaya luar,” katanya.

Acara ditutup dengan doa bersama dan saling bersalaman antar peserta serta foto bersama.

Para ibu menyatakan harapannya agar agenda semacam ini bisa rutin diselenggarakan sebagai wadah pembinaan dan penguatan spiritual bagi orang tua dan anak-anak di lingkungan Hidayatullah.

Kunjungan ke Kalbar, Sekjend Mushida Tegaskan Pentingnya Kaderisasi dalam Dakwah Islamiyah

PONTIANAK (Hidayatullah.or.id) — Sekretaris Jenderal (Sekjend) Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah (Mushida), Siti Sarah Zakiyah, melaksanakan kunjungan kerja selama dua hari ke Provinsi Kalimantan Barat, 1–2 Shafar 1447 H (26–27 Juli 2025), dengan tema “Sinergi Organisasi dan Spirit Juang dalam Bingkai Ukhuwah Islamiyah.”

Kunjungan ini menjadi momentum konsolidasi organisasi sekaligus penguatan semangat kaderisasi dalam dakwah dan pendidikan keluarga Muslimah di wilayah tersebut.

Dalam kunjungan yang turut didampingi Kepala Kantor PP Mushida, Fiqhi Ulyana, Sarah menyapa para pengurus dan kader Muslimat Hidayatullah di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Pontianak.

Kegiatan utama digelar dalam bentuk brainstorming dan rapat koordinasi yang berlangsung Sabtu pagi (26/7) dan diikuti oleh perwakilan Mushida di Pontianak dan kota terdekat sekitarnya.

Dalam arahannya, Sarah menekankan pentingnya kaderisasi sebagai ruh gerakan dakwah yang tak boleh terputus di tengah zaman yang terus berubah.

Ia mengingatkan bahwa kerja-kerja dakwah bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan bagian dari amanah ilahiyah yang membutuhkan kesinambungan melalui generasi yang dipersiapkan secara sungguh-sungguh.

“Kita memang memerlukan harta materi untuk visi perjuangan islami, tapi yang paling penting yang kita perlukan dari itu semua adalah generasi penerus perjuangan. Kita butuh kader yang akan terus melanjutkan dakwah dan sujud-sujud kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,” ujar Sarah.

Langkah kaderisasi serupa juga telah dilakukan Nabi dan para sahabat menekankan pentingnya kaderisasi umat yang memiliki integritas, visi tauhid, dan semangat juang tinggi.

Bagi Mushida, terang Sarah, kaderisasi bukan hanya dalam aspek struktural organisasi, tetapi juga mencakup pembinaan ruhani, ketahanan keluarga, dan kontribusi terhadap kehidupan kebangsaan.

Ketahanan Keluarga untuk Kejayaan Bangsa

Sarah juga menyoroti pentingnya menjadikan Mushida sebagai poros sinergi dalam pembinaan keluarga Muslimah yang tangguh secara spiritual, sosial, dan kebangsaan.

Ia menyebut bahwa ketahanan keluarga merupakan basis dari ketahanan nasional, dan Mushida memiliki peran strategis untuk memperkuatnya melalui program-program edukasi berbasis nilai Islam.

“Ukhuwah Islamiyah tidak hanya kita jaga dalam ruang organisasi, tetapi harus hidup dalam keluarga-keluarga kader. Di situlah peran nyata Mushida membangun generasi mukminah yang tangguh dan produktif,” jelas Sarah.

Kunjungan ini juga menjadi ajang evaluasi kinerja program Mushida di Kalimantan Barat, termasuk progres pembinaan anggota, pelatihan keterampilan keluarga, dan advokasi sosial berbasis nilai keislaman. Apalagi Kalbar memiliki potensi pengembangan dakwah perempuan yang signifikan, dan perlu didorong dengan penguatan kelembagaan.

“Tantangan dakwah saat ini tidak hanya dari luar, tetapi juga dari dalam keluarga kita sendiri. Karena itu, program Mushida harus adaptif, mendalam, dan berbasis pada kebutuhan real di masyarakat,” ujar Sarah.

Sarah menegaskan kembali pentingnya merawat ukhuwah dalam seluruh lini gerakan Muslimat Hidayatullah, baik melalui komunikasi aktif antarpengurus, kolaborasi lintas daerah, maupun penguatan spiritual melalui forum-forum keislaman rutin.

Kegiatan hari pertama ini ditutup dengan sesi foto bersama dan perumusan rekomendasi strategis daerah untuk program Mushida tahun 2025–2026. Agenda kunjungan kerja ini dijadwalkan berlanjut ke sejumlah titik di Kalimantan Barat.

Dari Kapten Kapal ke Pelayan Dakwah, Mengenang Sosok Pak Sentot Pranggodo

Almarhum Sentot Pranggodo bersama sang istri (Foto: Dok. Hidayatullah)

AWAN duka menggelantung di atas langit Kampus Utama Hidayatullah Samarinda, Kalimantan Timur. Ustadz Sentot Pranggodo bin T. H Sutojo (67 tahun), salah satu warga sekaligus kader senior Hidayatullah meninggal dunia pada hari Ahad, 25 Muharam 1447 (20/7/2025).

Meninggalkan istri dan lima orang anak, Pak Sentot demikian sapaan akrabnya, dikenal sebagai pribadi istimewa. Semasa hidupnya, suami dari ustadzah Siti Mukhlisoh ini memilih lebih banyak diam dan sedikit bicara.

Di balik itu, kemurahan hati membantu orang lain dan kesigapan tangan melayani tamu senantiasa menjadi buah bibir bagi yang pernah bersilaturahim ke Hidayatullah Samarinda.

Tak kenal status atau jabatan, setiap tamu yang berkunjung ke Pondok Pesantren Hidayatullah yang beralamat di Jl. Perjuangan Kelurahan Sempaja Selatan, Kecamatan Samarinda Utara ini akan dilayani penuh ikhlas di guest house pesantren. Bahkan termasuk kepada tamu-tamu dari kalangan santri sekalipun.

“Zaman nyantri di Gutem (Gunung Tembak), pernah sowan ke beberapa kampus Kaltim. Di Samarinda, tanpa ada akses ke orang dalam, tapi bisa dilayani dan dijamu dengan baik oleh seorang ustadz. Padahal bukan siapa-siapa, hanya santri biasa, dan gak kenal siapa-siapa. Bakda shalat jamak, belum selesai zikir, sudah dipanggil makan. Belakangan tahu, nama beliau pak Sentot,” ucap Ustadz Abdul Aziz Basyir, lulusan STIS Hidayatullah Balikpapan tahun 2012, mengenang pengalamannya dijamu oleh almarhum.

Kesaksian senada, datang dari Ustadz Sudirman, Ketua DPD Hidayatullah Wajo, Sulawesi Selatan. “Husnul Khatimah, Ustadz yang selalu memberikan pelayanan yang terbaik setiap tamu yang datang di kampus Hidayatullah Sempaja Samarinda,” tulisnya di salah satu grup obrolan.

“Saya kenal, almarhum orang baik. Selalu mendapatkan pelayanan terbaik, saat mampir di Kampus Sempaja. Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa-dosanya, menerima segala amal kebaikannya dan memberikan tempat terbaik di sisi-Nya. Amin,” kali ini Ustadz Musafir, Pengurus DPP Hidayatullah sekaligus turut mendoakan almarhum.

Almarhum (berdiri pojok kanan) bersama sanak family (Foto: Dok. Masykur Suyuthi)

Kapten Kapal

Pak Sentot juga pernah berprofesi sebagai kapten kapal hingga akhirnya pensiun dan memilih berkhidmat di pesantren sebagai pelayan tamu.

Bersama istrinya yang aktif di Muslimat Hidayatullah, mereka menempati sepetak rumah dinas yang bersebelahan dengan ruang tamu (guest house) tempatnya melayani tamu.

Almarhum juga dikenang sebagai sosok disiplin soal waktu dan aturan yang disepakati. Diamnya pria kelahiran tahun 1958 tersebut justru sebagai cermin ketegasan sikapnya.

“Iye kodong orang hebat warga andalan. Ingat sama beliau, masa-masa santri di Samarinda dulu. Rahimahullah rahmatan wasi’ah,” ucap Ustadz Habibie Nur Salam, santri Hidayatullah yang kini diamanahi di Sekolah Dai Hidayatullah, di Pare-Pare Sulawesi Selatan.

Ihwandi Saharuddin pun demikian. Personil tim pencarian dan pertolongan atau SAR Hidayatullah Sulawesi Selatan ini mengungkap.

“Masih saya ingat dibangunkan shalat lail pake air sama beliau waktu tugas mujahid Ramadhan di Hidayatullah Sempaja pada saat itu”.

Soal pekerjaan almarhum sebagai kapten kapal, rupanya Ustadz Imran Jufri juga punya cerita sendiri. Ustadz Imran yang pernah tugas di Samarinda dan merintis dakwah Hidayatullah di Palangkaraya, Kalimantan Tengah ini mengisahkan.

Waktu itu, almarhum Pak Sentot baru saja pulang dari kegiatan Diklat Kapten di Jakarta. Di saat bersamaan, pondok pesantren Hidayatullah dapat kabar baik, menerima bantuan kayu lebih 30 kubik dari salah satu perusahaan kayu di Samarinda Seberang. Sehingga untuk pengangkutan kayu sebanyak itu membutuhkan transportasi kapal.

Singkat kisah, Ustadz Imron lalu ngobrol ringan selepas shalat Shubuh di masjid. “Pak, kita butuh kapal untuk angkut kayu dari Samtraco (nama Perusahaan) di Seberang,”

Almarhum spontan menjawab, “Oh iya, kita pake kapal navigasi saja,”

Merasa masih belum “nyambung” akhirnya Ustadz Imron bertanya kembali,” Trus, yang bawa siapa, Pak?”

Kan, saya kapten kapal,” ucap almarhum ringan, seperti diceritakan.

Kini, almarhum mungkin masih dengan senyum yang sama ketika menyapa para santri dan tamu-tamu yang dilayaninya. Menikmati buah amal shalehnya sebagai pelayan para pejuang dakwah di dunia.

“Jazakumullah khairan untuk semua catatan sejarah kebaikan beliau. Menambah yakin kami almarhum bapak sedang memanen apa yang selama ini beliau yakini untuk diperjuangkan,” ungkap Ustadz Bunyanun Marsus.

Putra almarhum tersebut kini diamanahi sebagai Sekretaris Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Kalimantan Utara.

“Semoga kami anak-anaknya Allah mampukan untuk mengikuti beliau dengan segala tantangan terkininya. Diistiqamahkan sebagaimana assabiqunal awwalun Allah istiqamahkan dalam perjuangan Islam melalui lembaga ini,” tutupnya sambil menitip doa.

Seminar IIBF Tekankan Pentingnya Tax Survival Strategy bagi Pengusaha Muslim

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Seminar nasional bertajuk “Strategi Tax Survival untuk Pengusaha Muslim” digelar di Aula Orny Loebis, Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Kamis, 28 Muharram 1447 (24/7/2025).

Kegiatan ini diinisiasi sebagai bentuk ikhtiar edukatif untuk meningkatkan kesadaran dan kepatuhan pajak di kalangan pelaku usaha Muslim, sekaligus membekali mereka dengan strategi aman dalam pengelolaan pajak.

Seminar ini diselenggarakan dalam format hybrid, dihadiri langsung oleh peserta dari kalangan pengusaha, aktivis dakwah ekonomi, serta masyarakat umum, dan diikuti secara daring melalui Zoom dan media sosial. Acara menghadirkan narasumber tunggal Presiden Indonesian Islamic Business Forum (IIBF), Heppy Trenggono.

Menurut penyelenggara, kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang utuh mengenai sistem perpajakan nasional, mencegah terjadinya penipuan atau kesalahan administrasi perpajakan, serta menumbuhkan kepatuhan pajak sebagai bagian dari tanggung jawab syar’i dan kenegaraan.

“Pajak aman, usaha pun jadi aman. Jangan sampai usaha tersendat karena salah langkah,” ujar Heppy Trenggono dalam pemaparannya.

Dalam seminar tersebut, Heppy menyampaikan urgensi kesadaran pajak bagi pelaku usaha Muslim di tengah semakin kompleksnya regulasi dan peningkatan pengawasan fiskal negara. Ia menekankan bahwa tidak sedikit pelaku usaha yang terjebak dalam persoalan hukum perpajakan akibat minimnya pemahaman dan kurangnya pendampingan yang benar.

“Banyak pelaku usaha Muslim yang niatnya baik, tapi mereka belum memiliki sistem pencatatan yang akuntabel. Akhirnya, saat diperiksa, mereka kesulitan menjelaskan aliran keuangan. Ini bukan soal tidak mau patuh, tetapi karena tidak paham caranya,” jelas Heppy.

Ia juga menyoroti pentingnya membangun mindset kewirausahaan yang selaras dengan tanggung jawab syar’i, termasuk dalam urusan pajak. Dalam pandangannya, pajak tidak bisa dilepaskan dari peran strategis pengusaha Muslim sebagai bagian dari elemen negara yang ikut menjaga keberlangsungan pembangunan.

“Kesadaran pajak itu bukan hanya administratif, tapi juga spiritual. Ketika kita tertib pajak, itu bagian dari amanah sebagai warga negara dan sebagai Muslim,” ungkap Heppy.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya pengusaha Muslim memiliki tax survival strategy atau strategi bertahan dalam mengelola pajak secara legal, terencana, dan berkelanjutan. Ia menyarankan agar setiap pengusaha memiliki tim keuangan yang memahami regulasi perpajakan, mencatat setiap transaksi dengan sistematis, serta berkonsultasi secara rutin dengan ahli pajak.

“Kita tidak bisa lagi bersikap reaktif. Harus proaktif dalam hal tata kelola pajak. Karena dalam dunia usaha, yang tidak dipersiapkan dengan benar akan menjadi sumber kerugian di kemudian hari,” imbuh Heppy.

Seminar ini juga menjadi ajang silaturahmi dan konsolidasi antar pengusaha Muslim dari berbagai sektor. Diskusi berlangsung interaktif, dengan berbagai pertanyaan dari peserta seputar kasus perpajakan, tips audit pajak, serta cara menghadapi pemeriksaan fiskus.

Panitia mencatat bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program edukasi dan pembinaan rutin yang akan dilanjutkan dengan pelatihan teknis lanjutan.

“Kami berharap setelah seminar ini, para pengusaha memiliki pemahaman dasar yang kuat tentang pajak dan mampu menyusun sistem perpajakan yang rapi dan aman,” kata Ihul, salah satu panitia penyelenggara.

Dengan adanya seminar ini, diharapkan semakin banyak pengusaha Muslim yang menyadari pentingnya ketaatan pajak bukan hanya sebagai kewajiban legal, tetapi juga bagian dari kontribusi terhadap keadilan sosial dan pembangunan nasional.

Peran Amil Sebagai Pemimpin Amanah, Empat Pilar Etos Kerja Transformatif

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam pembinaan nasional Badan Amil Zakat Nasional (BMH) yang digelar secara hybrid pada Kamis, 28 Muharram 1447 (24/7/2025), Ust. H. Naspi Arysad memaparkan kerangka etis dan spiritual seorang amil dalam menjalankan perannya sebagai pemimpin yang mengemban amanah besar.

Menurutnya, peran amil bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif, tetapi mengandung makna mendalam sebagai refleksi dari kesadaran spiritual dan sosial.

“Tanggung jawab seorang amil tidak hanya sekadar kewajiban formal, melainkan juga cerminan dari kesadaran mendalam,” ungkap Ust. Naspi.

Anggoat Dewan Murabbi Pusat ini merinci empat faktor utama yang harus diinternalisasi oleh setiap amil agar dapat menjalankan amanahnya secara utuh dan berkelanjutan.

Pertama, kesadaran iman. Ini menjadi pilar utama yang menopang seluruh tindakan. “Ketika setiap gerak langkah amil dilandasi keyakinan akan pertanggungjawaban di hadapan Tuhan, integritas dan dedikasi akan terpancar secara alami,” jelasnya.

Kedua, ketekunan membaca. Menurut Ust. Naspi, amil yang terus belajar akan mampu menjawab tantangan zaman dengan solusi inovatif. “Ilmu adalah cahaya yang menuntun pada kebijaksanaan,” katanya.

Pembelajaran berkelanjutan memungkinkan amil merumuskan strategi pengelolaan zakat, infak, dan sedekah yang lebih efektif demi kemaslahatan umat.

Ketiga, moral dan etika. Ini berfungsi sebagai kompas pengambilan keputusan yang adil dan manusiawi. “Nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan harus menjadi prioritas,” tegasnya. Komitmen terhadap prinsip etika akan membangun kepercayaan publik dan menciptakan lingkungan yang harmonis.

Keempat, kesadaran pragmatis. Walau ini dianggap sebagai tingkatan motivasi terendah, tetap memiliki peran dalam memicu tanggung jawab dasar. “Namun, tujuan kita adalah mengangkat motivasi amil ke tingkat yang lebih tinggi,” paparnya.

Kepala Departemen Operasional BMH Pusat, Nur Hadiansyah, menegaskan pentingnya mendukung transformasi peran amil sebagai agen perubahan.

“Mari bersama-sama mendukung peran amil yang berlandaskan iman, agar setiap tetes keringat dan upaya mereka menjadi berkah yang meluas, merangkul semua, tanpa terkecuali,” ujarnya.

Hidayatullah Luncurkan “HijauRun” Gaungkan Kampanye Berlari dan Hijaukan Bumi

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Panitia Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah, Marwam Mujahidin, secara resmi meluncurkan gerakan HijauRun dengan tagline “Berlari dan Hijaukan Bumi” dalam rangkaian Hidayatullah Festival Spesial (Hi-Fess) yang digelar secara hybrid dari Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Kamis, 28 Muharram 1447 (24/7/2025).

Peluncuran ini menjadi salah satu tonggak penting dalam menyambut agenda puncak Munas VI Hidayatullah dan sekaligus menegaskan komitmen ormas Hidayatullah dalam menanggapi isu-isu strategis terkait lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Menurut Marwan, gerakan HijauRun dirancang sebagai inisiatif ekologis sekaligus kampanye publik yang menyatukan dua aktivitas kebaikan yakni berlari untuk kesehatan dan menanam pohon untuk kelestarian bumi.

Acara puncak HijauRun sendiri akan digelar pada 24 Agustus 2025 secara serentak dari Balikpapan bekerjasama dengan Pemuda Hidayatullah di berbagai wilayah Indonesia, dengan melibatkan partisipasi anggota, simpatisan, hingga masyarakat umum.

“HijauRun adalah simbol dari semangat untuk merawat diri dan bumi sekaligus. Melalui aktivitas berlari dan menanam pohon, kami ingin membangun budaya sehat dan cinta lingkungan dalam satu gerakan kolektif,” kata Marwam Mujahidin dalam keterangannya.

Lebih jauh Marwan menjelaskan, peluncuran HijauRun menjadi respon konkret terhadap dua tantangan global yang saling berkelindan yaitu krisis lingkungan dan masalah kesehatan masyarakat.

Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa Indonesia kehilangan jutaan hektar hutan setiap dekade akibat deforestasi dan alih fungsi lahan. Sementara itu, WHO menyebut polusi udara sebagai faktor risiko utama penyakit tidak menular seperti asma, jantung, dan stroke.

Di sisi lain, gaya hidup modern turut memperparah ketimpangan kesehatan masyarakat. Kurangnya aktivitas fisik, konsumsi makanan instan, dan polusi perkotaan menjadikan masyarakat rentan terhadap obesitas, tekanan darah tinggi, dan gangguan metabolik.

“Dalam hal ini HijauRun menawarkan pendekatan integratif dengan mengajak masyarakat untuk aktif bergerak melalui olahraga lari dan berjalan kaki, serta menanam pohon sebagai tindakan nyata memperbaiki kualitas udara dan ekosistem,” katanya.

Pendekatan Strategis Hidayatullah

Ormas Hidayatullah menilai bahwa solusi atas krisis ekologis dan degradasi kesehatan tidak cukup hanya mengandalkan regulasi negara. Diperlukan gerakan sosial berbasis nilai, spiritualitas, dan kesadaran kolektif.

Karena itu, jelas Marwan, HijauRun bukan sekadar event lari, melainkan bagian dari gerakan peradaban yang mengakar pada ajaran Islam tentang menjaga amanah bumi (khalifah fil ardh) dan merawat tubuh sebagai karunia Allah.

“Melalui HijauRun, kita tidak hanya bergerak secara fisik, tetapi juga menggerakkan kesadaran umat akan tanggung jawab ekologis sebagai bagian dari ibadah,” ujar Marwam Mujahidin.

Sebagai langkah awal penguatan gerakan, panitia Munas VI juga secara resmi membuka open order (PO) untuk berbagai produk kampanye HijauRun seperti jersey, topi, gelang, dan botol minum ramah lingkungan. Produk-produk ini dapat dipesan melalui panitia Munas VI Hidayatullah baik di pusat maupun perwakilan daerah atau lewat laman munashidayatullah.id.

Produk tersebut tak hanya berfungsi sebagai perlengkapan olahraga, tetapi juga menjadi sarana dakwah visual untuk menyuarakan pesan cinta lingkungan dan hidup sehat di tengah masyarakat.

Selain peluncuran produk dan kegiatan olahraga, HijauRun juga akan diikuti dengan kegiatan penanaman pohon serentak, edukasi lingkungan berbasis masjid dan pesantren, serta pembinaan komunitas lari Islami di berbagai kota. Ini menjadi bentuk kontribusi jangka panjang Hidayatullah dalam membangun green community di tengah umat.

“Gerakan HijauRun menjadi langkah awal menuju transformasi kultural yang menjadikan berlari atau berjalan dan menanam pohon sebagai budaya umat Islam yang peduli akan masa depan bumi dan generasi mendatang,” katanya.

Sejalan dengan misi Munas VI Hidayatullah, katanya menambahkan, gerakan ini diharapkan memperkuat sinergi dakwah, pendidikan, dan aksi nyata dalam membangun peradaban Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Menyambut Munas VI, Hidayatullah Gelar Festival Nasional Hi-Fess

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Semarak menyongsong Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah semakin terasa dengan diluncurkannya Hidayatullah Festival Spesial (Hi-Fess) secara hybrid dari Media Center Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, pada Kamis, 28 Muharram 1447 (24/7/2025).

Kegiatan ini menjadi tonggak penguatan peran Hidayatullah sebagai elemen strategis bangsa dalam membangun peradaban menuju Indonesia Emas 2045.

Ketua Panitia Munas VI Hidayatullah, Marwan Mujahidin, menyampaikan bahwa Hi-Fess merupakan bagian tak terpisahkan dari rangkaian kegiatan Munas yang akan digelar pada Oktober mendatang.

Dalam sambutannya, Marwan menekankan bahwa Hi-Fess bukan sekadar festival, tetapi ruang kolaboratif untuk menebar nilai-nilai kebaikan melalui kreativitas, kompetisi, dan kontribusi seluruh jaringan Hidayatullah di tanah air.

“Hi-Fess adalah satu kegiatan yang bertujuan untuk menyemarakkan Munas VI Hidayatullah yang akan digelar pada bulan Oktober mendatang di Jakarta,” ungkap Marwan dengan antusias.

Marwan menjelaskan bahwa Hi-Fess hadir sebagai sarana bagi institusi-institusi di bawah jaringan Hidayatullah untuk mengekspresikan pesan-pesan kebaikan dalam bentuk perlombaan yang bermakna dan berdampak. Tujuan utamanya adalah menumbuhkan semangat khidmat dan partisipasi kolektif dari semua elemen untuk bangsa.

“Kami mengajak seluruh elemen terutama institusi yang ada di bawah jaringan Hidayatullah untuk menyampaikan pesan-pesan kebaikan dengan berbagai macam jenis perlombaan yang tentu hadir,” jelasnya.

Hi-Fess menjadi wadah strategis untuk menunjukkan kontribusi nyata Hidayatullah sebagai bagian dari anak bangsa yang aktif dalam pembangunan karakter masyarakat dan peradaban. Marwan menegaskan, melalui festival ini, Hidayatullah ingin memperluas jangkauan dakwah dan kiprah ke tengah masyarakat.

“Bertujuan untuk menyemarakkan Munas dan sekaligus upaya menguatkan khidmat serta kontribusi Hidayatullah sebagai anak bangsa untuk bangsa kita, untuk menyongsong Indonesia Emas 2024,” tegas Marwan.

“Melalui kegiatan ini, kita ingin mengenalkan Hidayatullah, kiprah dan program-programnya,” tambahnya.

Semarak Beragam Perlombaan

Peluncuran Hi-Fess turut diwarnai dengan presentasi bidang-bidang perlombaan yang akan digelar. Lima institusi dari berbagai unit kelembagaan tampil memperkenalkan agenda kompetisi yang disiapkan secara khusus dalam Hi-Fess 2025.

Iwan Abdullah selaku Direktur Korps Muballigh Hidayatullah yang diwakili Achmad Maghfur, menjelaskan ragam lomba dakwah dan penguatan kapasitas muballigh yang akan menjadi salah satu poros penting festival ini salah satunya lomba menulis naskah khutbah Jum’at.

Sementara itu, Abdul Muin, Direktur Persaudaraan Dai Indonesia, memaparkan program penguatan jaringan dai dan kaderisasi kepemimpinan dakwah berbasis komunitas dengan membuat lomba video “Apa itu Hidayatullah?”.

Dari sisi penguatan sistem jaminan halal dan gaya hidup thayyib, Muhammad Faisal, Direktur Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) Hidayatullah yang diwakili Ubaidillah Navis (Kadiv Komunikasi & Pengembangan), memperkenalkan lomba yang memadukan edukasi halal dan inovasi praktis bertajuk “Halalin Gaya Hidupmu!”.

Sementara itu, Toriq, Lc., MA., Pemimpin Redaksi Majalah Suara Hidayatullah, turut memperkenalkan lomba jurnalistik, esai dakwah, dan penulisan kreatif dengan fokus topik dakwah ekologi sebagai sarana ekspresi literasi dakwah.

Di ranah digital, Bayu Rian dari Digital Impact Nusantara (DIN) membawakan rangkaian lomba produksi konten dakwah digital untuk menjawab tantangan zaman sekaligus menumbuhkan kreator muda produktif dan berakhlak yang menyasar anak anak dengan lomba design thinking.

Kelimanya menyampaikan bahwa seluruh program kompetisi akan digelar secara nasional dan melibatkan peserta dari berbagai kalangan dalam jaringan Hidayatullah, baik secara daring maupun luring.

Hi-Fess pun diproyeksikan menjadi ajang sinergi nasional untuk menunjukkan semangat kolaborasi, keberagaman peran, dan penguatan nilai-nilai dakwah yang rahmatan lil ‘alamin.

Menutup sambutannya, Marwan Mujahidin mengajak seluruh komponen bangsa untuk mendoakan dan mendukung pelaksanaan Hi-Fess sebagai bagian dari gerakan kebaikan yang lebih besar.

Dengan diluncurkannya Hi-Fess, terang dia, Hidayatullah kembali menegaskan posisinya sebagai organisasi yang tidak hanya fokus pada internalisasi nilai, tetapi juga konsisten menghadirkan kontribusi strategis untuk bangsa.

“Mudah-mudahan apa yang menjadi hajat kita bersama dan bangsa ini, Allah SWT menguatkan dalam gerakan kebaikan ini,” pungkasnya penuh harap.