Beranda blog Halaman 101

Hidayatullah Serukan Revitalisasi Peran Keluarga dalam Perlindungan Anak

0
Ketua Departemen Sosial Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Musliadi Raja (Foto: Billy/ Hidayatullah.or.id)

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Ketua Departemen Sosial Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Musliadi Raja mengatakan peringatan Hari Anak Nasional (HAN) yang jatuh pada 23 Juli 2025 menjadi momentum strategis untuk meninjau kembali komitmen nasional dalam memenuhi hak-hak anak sebagai bagian integral dari pembangunan berkelanjutan.

Di tengah berbagai tantangan sosial, ekonomi, dan budaya, nasib anak-anak Indonesia masih diwarnai dengan persoalan yang kompleks, mulai dari kekerasan dalam rumah tangga, eksploitasi ekonomi, hingga keterbatasan akses terhadap pendidikan dan layanan kesehatan.

Berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sepanjang tahun 2024 tercatat lebih dari 2.057 laporan pelanggaran hak anak, termasuk kekerasan seksual, kekerasan fisik, penelantaran, dan perundungan di lingkungan sekolah. KPAI juga menyoroti meningkatnya jumlah anak yang terlibat dalam pekerja anak, terutama di wilayah urban dan pinggiran kota besar.

Menurut Musliadi, kondisi ini diperburuk oleh pesatnya penetrasi teknologi digital tanpa pengawasan yang memadai. Laporan terbaru dari Kementerian Komunikasi dan Informatika menunjukkan bahwa anak-anak usia 10–17 tahun merupakan kelompok pengguna aktif internet terbesar kedua di Indonesia, dengan kerentanan tinggi terhadap paparan konten pornografi, kekerasan, dan penipuan daring.

“Dalam konteks ini, Hidayatullah memandang bahwa peringatan HAN harus dijadikan sebagai pengingat kolektif untuk menegaskan kembali tanggung jawab semua pihak, khususnya umat Islam, dalam mendidik dan melindungi generasi penerus bangsa,” kata Musliadi dalam keterangannya kepada media ini, Kamis, 28 Muharram 1447 (24/7/2025).

Musliadi menjelaskan bahwa perlindungan anak merupakan bagian dari amanah agama yang tidak dapat dipisahkan dari sistem nilai Islam.

“Dalam Islam, anak bukan sekadar objek kasih sayang, tetapi subjek tanggung jawab pendidikan akhlak dan penjagaan iman,” ujar Musliadi yang juga Direktur Sahabat Anak Indonesia (SAI) ini.

Hidayatullah melalui berbagai lembaga sayapnya seperti Sekolah Integral Hidayatullah dan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Hidayatullah telah mengembangkan pendekatan pendidikan berbasis tauhid yang menekankan sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam pembentukan karakter anak. Pendekatan ini dirancang untuk menjawab kegagalan sistem sekuler dalam membangun ketahanan moral dan spiritual anak di era globalisasi.

“Masalah anak harus dilihat sebagai bagian dari krisis keluarga dan lemahnya kontrol sosial berbasis nilai. Kita tidak bisa menyelesaikan krisis anak hanya dengan pendekatan kebijakan negara yang teknokratis, tetapi harus ada revitalisasi peran keluarga sebagai madrasah utama,” tambah Musliadi.

Selain itu, Hidayatullah juga menyerukan pentingnya negara untuk lebih progresif dalam melindungi hak-hak anak dengan melibatkan ormas Islam dan lembaga keagamaan dalam penyusunan kebijakan pendidikan dan pengasuhan.

Dalam pandangannya, Musliadi melihat program-program perlindungan anak harus selaras dengan prinsip maqashid syariah yang menjamin keselamatan agama, akal, jiwa, dan keturunan anak-anak.

Sebagai langkah strategis, Hidayatullah mendorong lahirnya gerakan nasional perlindungan anak berbasis nilai Islam yang mencakup pembinaan keluarga muda, pelatihan guru dan dai ramah anak, serta kampanye media literasi untuk mencegah dampak buruk digitalisasi terhadap anak-anak.

Disamping itu, program ini juga diharapkan dapat menjadi kontribusi nyata dalam mendukung target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin ke-4 tentang pendidikan berkualitas dan poin ke-16 tentang perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang kuat.

Menurut Musliadi, peringatan Hari Anak Nasional tahun ini menjadi panggilan moral bagi umat Islam untuk kembali menegaskan posisi strategis anak dalam peradaban Islam.

“Anak-anak bukan hanya penerima manfaat kebijakan, tetapi juga calon pemimpin yang harus dipersiapkan dengan nilai iman, ilmu, dan tanggung jawab sosial. Seperti ditegaskan dalam QS At-Tahrim ayat 6, “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”, maka perlindungan anak bukan hanya urusan negara, tetapi juga ibadah kolektif umat,” pungkasnya.

Makna Nasehat kepada Allah, Rasul, dan Sesama dalam Islam

0
ist – agama-nasehat

عَنْ أَبِي رُقَيَّةَ تَمِيْمٍ بْنِ أَوْسٍ الدَّارِي رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا : لِمَنْ ؟ قَالَ للهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلِأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Daari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi rasul-Nya, bagi pemimpin-pemimpin kaum muslimin, serta bagi umat Islam umumnya.” (HR. Muslim)

IMAM Nawawi (676 H) berkata: Nasehat untuk Allah artinya mengajak masyarakat manusia ke jalan Allah. Makna nasehat kepada Allah adalah beriman kepada-Nya, menafikan semua sekutu bagi-Nya, menetapkan sifat-sifat yang mulia bagi-Nya, melaksanakan ketaatan kepada-Nya, menjauhkan diri dari berbagai maksiat kepada-Nya, berjihad melawan orang-orang yang kufur kepada-Nya, dan mensyukuri nikmat-nikmat-Nya.

Nasehat kepada Allah mencakup dua hal: ikhlas dalam beribadah kepada-Nya dan memenuhi persaksian tauhid kepada-Nya secara rububiyyah, uluhiyyah, serta asma’ wa sifat.

Syaikh Muhammad As-Sindi (1163 H) berkata: Nasehat kepada Allah maksudnya agar seorang hamba berusaha menjadikan dirinya ikhlas kepada-Nya. Seorang muslim wajib mengagungkan-Nya dengan sebesar-besar pengagungan, mengamalkan ketaatan secara lahir maupun batin, serta menjauhi segala yang dibenci-Nya. Hatinya penuh cinta dan rindu kepada-Nya, mensyukuri seluruh nikmat-Nya, sabar atas bencana yang menimpanya, serta ridha kepada takdir-Nya.

Nasehat kepada Allah berarti menyeru manusia agar memurnikan ibadah hanya kepada-Nya, seperti melaksanakan rukun iman dan Islam, berdoa, berharap, memohon perlindungan dan ampunan, bertobat, tawakal, takut, bernazar, ta’dzim, berserah diri dan taslim secara total hanya kepada Allah Ta’ala, dan bukan kepada selain-Nya.

Nasehat kepada Kitab-Nya

Nasehat kepada kitab mencakup: mengagungkannya, membenarkan isi beritanya, tidak meragukannya, melaksanakan perintahnya, menjauhi larangannya, berhukum dengan hukumnya, dan meyakini bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah yang terjaga hingga hari kiamat.

Syaikh Muhammad As-Sindi berkata: Nasehat kepada Kitab maksudnya meyakini bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah, mengimani isinya, membacanya, memuliakannya, mengutamakannya dibanding selainnya, mempelajarinya untuk mendapatkan ilmu, serta mengamalkannya untuk memperoleh keselamatan.

Nasehat kepada Kitab juga berarti menyerukan Al-Qur’an ke seluruh penjuru dunia: desa, kota, kantor, instansi, hingga ke pelosok daratan dan lautan. Masyarakat harus diberi akses kepada Al-Qur’an, dan Al-Qur’an harus dimasyarakatkan. Inilah pekerjaan paling mulia, sebab akan melahirkan jaringan sosial yang bertauhid.

Seruan Al-Qur’an adalah keutamaan, anugerah, kasih sayang, cinta, keadilan, keuntungan, dan harapan bagi seluruh umat manusia. Sebab kandungannya mengajak kepada tauhid, memurnikan ibadah hanya kepada Allah, dan menjauhi kesyirikan.

Al-Qur’an adalah pelita zaman, wasilah perjalanan menuju Allah, penyejuk hati orang berilmu, pelipur lara bagi yang teruji. Tanpanya, manusia akan tersesat dalam perjalanan menuju keselamatan.

Nasehat kepada Rasul-Nya

Nasehat kepada Rasulullah mencakup: ittiba’ kepadanya, beriman bahwa beliau adalah manusia pilihan yang benar, membenarkan seluruh sabdanya, melaksanakan perintahnya, menjauhi larangannya, dan mengamalkan sunnahnya yang mulai banyak diremehkan.

Nasehat ini juga berarti meyakini bahwa Rasulullah adalah makhluk paling utama dan kekasih Allah. Beliau diutus untuk memberi kabar gembira kepada yang mengikutinya dan peringatan kepada yang mengingkarinya: kebahagiaan dunia dan akhirat bagi yang taat, dan kesengsaraan dunia dan neraka bagi yang membangkang.

Orang yang sukses adalah yang mencintai dan menaati sunnahnya, sedangkan yang gagal adalah yang meremehkan hadits-haditsnya. Mengikuti Rasul berarti mengikuti Allah; menentangnya berarti membangkang kepada Allah secara nyata.

Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan berkatalah dengan perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia telah memperoleh kemenangan yang besar.” (QS. An-Nisa: 69)

Nasehat kepada Pemimpin Kaum Muslimin

Sebagian ulama menyebut pemimpin kaum muslimin sebagai ulama (dalam urusan agama) dan umara (dalam urusan dunia). Nasehat kepada ulama berarti mencintai mereka sebagai pewaris nabi, membantu mereka, bergaul baik, dan menasihati mereka dengan adab jika salah. Demikian pula kepada pemerintah.

Nasehat kepada penguasa mencakup: mendengar dan taat dalam perkara makruf, tidak memerangi mereka selama tidak kafir, memperbaiki mereka, tidak memberontak, tidak menebar fitnah dan kebencian, serta selalu mendoakan mereka agar mendapatkan kebaikan. Kebaikan pemimpin akan diikuti rakyat, kerusakan mereka mencerminkan kehancuran umat.

Imam Fudhail bin ‘Iyadh berkata: Jika aku punya doa yang baik, maka aku peruntukkan untuk pemimpinku. Ketika ditanya mengapa, ia menjawab: Karena jika pemimpin menjadi baik, maka semua orang akan merasakan manfaatnya.

Menjelekkan penguasa di media, mengkudeta, mengangkat senjata, menebar kebencian adalah metode khawarij yang jauh dari petunjuk Nabi. Nabi sendiri tidak mencontohkan demikian. Ini termasuk dosa besar yang mendatangkan kerusakan lebih besar.

Nasehat kepada Kaum Muslimin Secara Umum

Nasehat kepada kaum muslimin berarti: menolong mereka dalam kebaikan dan takwa, melarang mereka dari keburukan, membimbing kepada petunjuk, mencegah kesesatan, mencintai kebaikan untuk mereka sebagaimana untuk diri sendiri. Semua muslim harus dipandang dengan kaca mata kebenaran, bukan kebencian.

Nasehat juga berarti memperbaiki keadaan umat, menjaga keutuhan, menunaikan hak dan kewajiban, serta mempererat kasih sayang. Hak-hak muslim antara lain: menjenguk yang sakit, mengiringi jenazah, menjawab salam, memenuhi undangan, menutup aib, menolong kebutuhan, menjaga darah dan kehormatan, serta menghindarkan dari bahaya.

Kesimpulan Faidah Hadits Ini

  1. Pentingnya nasehat agama untuk umat manusia.
  2. Bagusnya metodologi Nabi yang memulai dengan penjelasan umum, kemudian rinci.
  3. Semangat sahabat dalam mencari ilmu.
  4. Sistematika Nabi dalam memulai dari perkara terpenting: Allah, kitab, rasul, pemimpin, dan kaum muslimin.
  5. Wajibnya nasehat kepada pemimpin.
  6. Pentingnya hidup berjamaah di bawah kepemimpinan.
  7. Wajibnya menjaga ukhuwah antar sesama.

Sungguh nasehat Nabi ini pendek dan singkat, namun betapa agung isinya. Alangkah baiknya jika diamalkan, betapa mulianya pelakunya. Semoga kita termasuk golongan tersebut.[]

*) Ust. Mardiansyah, Sos.I, penulis pengajar di Pondok Pesantren Hidayatullah Bontang, Kalimantan Timur.

Ketua Umum Hidayatullah Tekankan Peran Strategis Instruktur Grand MBA

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Departemen Komunikasi dan Penyiaran Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menyelenggarakan Training of Trainers (ToT) Gerakan Dakwah Mengajar dan Belajar Al Qur’an (Grand MBA) pada tanggal 21–25 Juli 2025.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. H. Nashirul Haq, M.A., hadir sebagai pemateri utama dalam sesi yang membahas Grand MBA dalam perspektif manhaj dakwah Hidayatullah.

Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa menjadi instrukur atau pengajar Al Qur’an adalah bagian dari warisan kenabian.

“Mu’allim dan da’i adalah profesi para nabi dan rasul, khususnya Rasulullah saw. Karenanya ini merupakan amanah yang sangat agung dan mulia,” ungkapnya, sembari mengutip Surah Al-Jumu’ah ayat 2.

Nashirul juga menekankan peran strategis peserta ToT sebagai calon instruktur nasional.

Ia menjelaskan bahwa kebutuhan akan guru-guru Al Qur’an di berbagai wilayah sangat mendesak, sehingga peran instruktur dalam mencetak mu’allim yang standar menjadi sangat penting.

Dalam sesi lainnya, Nashirul menyinggung konsep pribadi rabbani sebagaimana disebutkan dalam Surah Ali Imran ayat 79. “Salah satu indikator utama sosok Rabbani, yaitu mengajarkan dan mempelajari Al Qur’an,” tegasnya.

Dengan pengalaman lebih dari 25 tahun dalam program Grand MBA, Nashirul menekankan pentingnya metodologi pengajaran. Menurutnya, guru Al Qur’an tidak hanya dituntut ikhlas dan berilmu, tetapi juga menguasai teknik mengajar.

“Metode mengajar sangat penting karena dapat memudahkan dan mempercepat pemahaman serta mencegah kejenuhan,” tegasnya.

Kegiatan ToT yang berlangsung selama 5 hari ini ini bertujuan memperkuat kapasitas instruktur Grand MBA dalam rangka mencetak guru-guru Al Qur’an yang kompeten secara nasional.

Sebanyak 25 peserta terpilih dari utusan Dewan Pengurus Wilayah dan Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah se-Indonesia mengikuti pelatihan intensif ini.

Mereka telah melalui tahapan seleksi dan dianggap memenuhi kualifikasi untuk mengikuti pelatihan sebagai calon instruktur tingkat wilayah.

Program ini diharapkan memperkuat ekosistem dakwah Al Qur’an secara berjenjang dan terstandar, sejalan dengan visi Hidayatullah dalam membangun peradaban Islam melalui pendidikan Qur’ani.*/

Tanah dan Bangunan Dihibahkan ke Hidayatullah untuk Kepentingan Dakwah

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Langkah konkret dalam mendukung kegiatan dakwah kembali terwujud melalui penyerahan hibah tanah dan bangunan dari pihak keluarga Haji Yunis kepada organisasi Hidayatullah melalui Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai).

Penyerahan resmi dilakukan oleh salah satu putranya, Bapak Yudd, didampingi saudara kandung lainnya bertempat di Kantor Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, pada Senin, 25 Muharram 1447 (21/7/2025).

Aset yang dihibahkan berupa sebidang tanah dan bangunan rumah yang terletak di Kota Depok, Jawa Barat. Hibah ini diberikan dengan maksud mendukung program dakwah, pendidikan, dan sosial yang dijalankan oleh Hidayatullah.

Proses serah terima berlangsung secara resmi dan khidmat. Hadir dalam kesempatan tersebut antara lain Abdul Rahman Hasan notaris dari kantor notaris di Jakarta Timur, Direktur Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai) Abdul Muin, serta turut disaksikan Ketua Pengurus Wilayah Pemuda Hidayatullah DKI Jakarta Adam Sukiman.

Prosesi diawali dengan pengecekan dokumen, dilanjutkan penandatanganan berkas, dan diakhiri dengan penyerahan simbolis dari pihak keluarga kepada pengurus Hidayatullah.

“Ini adalah bagian dari amanah keluarga kami, khususnya dari ayahanda Haji Yunis, agar aset ini digunakan untuk kepentingan dakwah dan kebaikan umat,” ujar Bapak Yudd dalam sambutannya.

Hidayatullah menyampaikan apresiasi atas hibah tersebut dan menyatakan komitmennya dalam pemanfaatan aset untuk program strategis organisasi.

“Insya Allah hibah ini akan dimanfaatkan sepenuhnya untuk kemaslahatan dakwah, pendidikan, dan sosial. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir bagi keluarga besar wahib,” tutur Abdul Muin.

Menurut Abdul Muin, hibah ini memperkuat kolaborasi antara masyarakat dan lembaga dakwah dalam membangun fondasi peradaban berbasis nilai-nilai Islam.

Penyerahan ini juga menjadi bentuk pengabdian keluarga besar Haji Yunis dalam melanjutkan jejak kebaikan yang diwariskan melalui aset produktif bagi umat.

Nikmat Bangun Tidur, Karunia Besar yang Sering Dilupakan

0

SETIAP kali membuka mata di pagi hari, sesungguhnya kita sedang menyaksikan sebuah mukjizat hidup yang tak ternilai.

Dalam Surah Ibrahim ayat 34, Allah SWT mengingatkan manusia:

وَاٰتٰىكُمْ مِّنْ كُلِّ مَا سَاَلْتُمُوْهُۗ وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَاۗ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌࣖ

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu minta. Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”

Ayat ini menegur kesadaran manusia yang sering lalai. Kita terlalu mudah lupa terhadap apa yang sudah dimiliki, dan justru lebih sibuk meratapi apa yang belum kita genggam.

Saat bangun tidur, lisan kita diajarkan untuk berucap, اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ “Alhamdulillahil ladzi ahyana ba’da ma amatana wa ilaihin nusyur.”

“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami kembali setelah mematikan kami (sementara), dan hanya kepada-Nya lah kami akan kembali.”

Kalimat mulia ini adalah deklarasi syukur yang mendalam. Sebab tidur adalah kematian kecil, dan bangun adalah bentuk kehidupan baru yang Allah berikan. Maka setiap bangun pagi adalah karunia. Sebuah kesempatan baru, yang tak semua orang dapatkan.

Namun betapa sering hati kita dikuasai keluhan. Kita merasa kekurangan karena membandingkan diri dengan orang lain, merasa tidak cukup karena terpaku pada apa yang tidak ada.

Padahal, jika kita sejenak saja merenung, betapa banyak nikmat yang melekat pada diri ini sejak membuka mata di pagi hari. Kita bisa bernapas tanpa alat bantu, jantung berdetak teratur, otak masih bekerja, mata masih bisa melihat cahay. Ini semua bukan hal biasa.

Cobalah bertanya berapa biaya rumah sakit untuk pasien yang mengalami gangguan pernapasan, penyakit jantung, atau stroke. Nikmat sehat adalah kekayaan yang tidak bisa dibayar dengan harta.

Refleksi dari Surah Ibrahim ayat 34 memperlihatkan kepada kita bahwa kufur nikmat itu tidak selalu dalam bentuk menolak secara terang-terangan, tetapi bisa juga saat kita tidak merenungi dan mensyukuri karunia yang tampak sepele namun sesungguhnya sangat besar nilainya.

Bahkan, kemampuan untuk bersujud di pagi hari setelah bangun tidur adalah nikmat agung, karena tidak semua orang bisa melakukannya, entah karena sakit, lalai, atau telah wafat.

Karena itu, mulailah setiap pagi dengan syukur. Jangan biarkan pikiran langsung dipenuhi kekhawatiran duniawi. Resapi setiap detik kehidupan sebagai karunia, dan jadikan doa bangun tidur sebagai momen kontemplasi, bukan rutinitas kosong.

Ketika hati dibimbing oleh syukur, maka pikiran akan lebih jernih, langkah akan lebih ringan, dan hidup akan terasa cukup.

Nikmat Allah tidak selalu berupa hal-hal besar yang mencolok mata. Acapkali malahan, ia tersembunyi dalam hal-hal kecil yang kita anggap biasa.

Maka, mari belajar melihat luar biasanya yang biasa. Dan mulailah hari dengan kesadaran bahwa bangun pagi, dalam keadaan sehat, dan bisa sujud kepada-Nya, itu adalah nikmat yang melebihi harta dunia dan segala isinya.

*) Transkrip refleksi pagi dalam halaqah Umar Bin Khattab (Halaqah Subuh) pada Selasa, 25 Muharram 1447 (22/7/2025) yang disampaikan oleh Ust. Dr. Ir. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, M.Si

Penanaman 1000 Pohon Mangrove di Torobulu, Aksi Hijau Sambut Munas VI Hidayatullah

0

KONSEL (Hidayatullah.or.id) — Pesisir Pantai Gelora, Desa Torobulu, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, menjadi saksi semangat kolaborasi dalam menjaga lingkungan melalui aksi nyata penanaman 1.000 pohon mangrove.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, Sabtu–Ahad, 24-25 Muharam 1447/ 19–20 Juli 2025 ini mengusung tema “Merawat Lingkungan Hari Ini, untuk Kehidupan Esok yang Lebih Baik.”

Aksi ini merupakan bagian dari rangkaian semarak Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah yang akan diselenggarakan pada bulan Oktober mendatang.

Acara ini digagas oleh Halaqah Hidayatullah Rescue (H2R) Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Tenggara, dengan dukungan dari berbagai pihak, termasuk Laznas BMH, SAR Hidayatullah, Pemuda Hidayatullah, Universitas Haluoleo (Unhalo), Yayasan Batundu Lestari Indonesia, dan Hidayatullah Mangrove Center (HMC).

Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Tenggara, Achmad Syahroni, menjelaskan bahwa tema kegiatan ini diangkat sebagai bentuk kesadaran kolektif untuk merawat ekosistem pesisir sebagai bagian dari tanggung jawab keimanan dan kebangsaan.

“Penanaman mangrove ini adalah simbol harapan. Kita tidak hanya berbicara tentang pohon, tapi tentang masa depan generasi. Tema ini mencerminkan komitmen Hidayatullah untuk hadir dan peduli terhadap isu-isu strategis bangsa, termasuk krisis iklim dan kerusakan lingkungan,” ujar Syahroni.

Lebih lanjut, Syahroni menekankan pentingnya peran organisasi kemasyarakatan dalam mendorong perubahan melalui aksi konkret yang melibatkan masyarakat, kampus, dan komunitas lokal.

Sementara itu, Ketua SAR Hidayatullah Sulawesi Tenggara, Abdul Hafidz, menyatakan bahwa kegiatan ini bagian dari kampanye lingkungan nasional. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini sejalan dengan tema besar Munas VI Hidayatullah yakni “Sinergi Anak Bangsa Menyongsong Indonesia Emas 2045.”

“Lingkungan adalah salah satu sektor strategis dalam menyongsong Indonesia Emas. Melalui aksi ini, kami ingin menunjukkan bahwa anak-anak bangsa bisa bersinergi membangun kesadaran lingkungan dari bawah. Penanaman mangrove ini adalah bentuk sinergi spiritual dan ekologis demi masa depan bangsa,” ujar Hafidz.

Selain aksi penanaman, acara ini juga dirangkaikan dengan edukasi lingkungan kepada para peserta dan masyarakat sekitar, termasuk pelatihan pengelolaan kawasan pesisir, teknik konservasi mangrove, serta diskusi terbuka bersama akademisi dari Universitas Haluoleo.

Partisipasi aktif generasi muda, khususnya dari kalangan mahasiswa dan santri, jelas Hafidz, menjadi elemen penting dalam kegiatan ini. Mereka tidak hanya menanam, tetapi juga menerima pemahaman praktis mengenai pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem pesisir dalam konteks pembangunan berkelanjutan.

Dengan semangat gotong royong, Hafidz berharap, acara ini menjadi penanda bahwa membangun bangsa tidak hanya melalui pembangunan infrastruktur, tetapi juga melalui penjagaan dan pemulihan alam.

“Harapannya, 1.000 pohon mangrove yang ditanam ini dapat menjadi warisan hidup bagi generasi mendatang dan simbol komitmen umat terhadap masa depan bumi,” pungkasnya.*/

TOT Grand MBA Nasional Digelar, Respon Kebutuhan Dakwah hingga Pelosok

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Departemen Komunikasi dan Penyiaran Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah melalui Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai), berkolaborasi dengan Gerakan Nasional Dakwah Membaca dan Belajar Al-Qur’an (Grand MBA), menyelenggarakan kegiatan Training of Trainers (TOT) Grand MBA Nasional selama dua hari.

Kegiatan ini dibuka secara resmi pada Senin, 25 Muharram 1447 (21/7/2025) dengan mengangkat tema sentral “Membangun Indonesia dengan Al-Qur’an”.

Acara yang berlangsung selama dua hari tersebut diikuti oleh para peserta utusan personil dai dan guru ngaji Hidayatullah dari berbagai daerah di Indonesia, dengan agenda utama mencetak pelatih (trainer) Grand MBA guna menjawab kebutuhan masyarakat terhadap pembelajaran Al-Qur’an secara sistematis dan aplikatif, terutama di daerah-daerah terpencil.

Ketua Panitia Pelaksana TOT Grand MBA Nasional 2025, Ustaz Muhdi Muhammad, S.Sos.I, dalam keterangannya menjelaskan bahwa tema yang diangkat dalam kegiatan ini merupakan refleksi dari semangat membangun bangsa melalui pendekatan dakwah berbasis Al-Qur’an, dengan landasan historis keislaman yang telah mengakar kuat dalam perjalanan bangsa Indonesia.

“Spirit keislaman dan keindonesiaan itu bertemu dalam satu titik kesadaran sejarah bahwa dakwah Islam telah menjadi bagian integral dari pembentukan jati diri bangsa. TOT ini kami selenggarakan untuk memperkuat peran dakwah Al-Qur’an sebagai energi pembangun masyarakat,” ujar Ustaz Muhdi.

Ia menegaskan bahwa penyelenggaraan TOT ini tidak hanya bersifat pelatihan teknis semata, melainkan juga sebagai gerakan strategis untuk menyiapkan para pelatih yang mampu menjalankan program Grand MBA secara masif, terstruktur, dan berkelanjutan, sesuai dengan tuntutan zaman.

“Permintaan masyarakat terhadap trainer Grand MBA masih sangat besar. Ini menjadi indikator kuat bahwa kebutuhan akan pendidikan Al-Qur’an yang sistematis dan mudah diakses masih sangat tinggi, terutama di wilayah-wilayah terpencil yang selama ini kurang terjangkau,” tambahnya.

Muhdi juga menyoroti pentingnya pengembangan materi pembelajaran Al-Qur’an yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. Ia menekankan bahwa transformasi digital harus direspon secara aktif oleh para dai dan pelatih agar nilai-nilai Al-Qur’an tetap relevan dan efektif disampaikan dalam era disrupsi informasi.

“Materi Grand MBA disusun dengan menyesuaikan perkembangan zaman. Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan metode konvensional. Tapi, kita juga tidak boleh kehilangan esensi dari nilai-nilai Al-Qur’an yang menjadi pedoman hidup umat,” jelasnya.

Gagasan Grand MBA Lahir dari Istikharah

Muhdi turut mengungkapkan bahwa program Grand MBA merupakan ide strategis dakwah yang berasal langsung dari Pemimpin Umum Hidayatullah, Ust. H. Abdurrahman Muhammad. Menurutnya, gagasan ini lahir dari proses perenungan dan istikharah panjang Ust. H. Abdurrahman Muhammad saat berada di Kota Suci Makkah.

“Selain sebagai metode pembelajaran Al Qur’an, Grand MBA juga menjadi strategi dakwah yang visioner. KH Abdurrahman Muhammad merumuskan ini sebagai bentuk ikhtiar peradaban, yang dimulai dari huruf-huruf suci dalam Al-Qur’an. Ini menjadi warisan pemikiran dakwah yang sangat mendalam,” ungkap Muhdi.

TOT Grand MBA Nasional ini mencakup beberapa sesi penting, antara lain pelatihan metodologi pembelajaran Al-Qur’an, pendalaman kurikulum Grand MBA, simulasi pengajaran berbasis praktikum, serta sesi motivasi dakwah dan keislaman.

Para peserta akan dibekali kemampuan teknis dan spiritual agar siap terjun langsung dalam mengajar dan mendampingi masyarakat secara luas.

Muhdi menambahkan, kegiatan ini diharapkan dapat memperluas jangkauan dakwah Grand MBA dan memperkuat peran Hidayatullah sebagai organisasi dakwah dan pendidikan yang terus merespon tantangan zaman melalui pendekatan Al-Qur’an yang sistematis, relevan, dan membumi.*/

Pemuda Hidayatullah Peringati Harlah ke-25 dengan Turnamen Olahraga se-Jabodetabek

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Pemuda Hidayatullah memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-25 tahun dengan mengusung tema “Pemuda Beradab, untuk Indonesia Emas”, yang dirangkaikan dengan Turnamen Futsal dan Badminton Pemuda Cup 2025 pada Sabtu-Ahad, 24-25 Muharam 1447/ 19–20 Juli 2025, bertempat di Gedung Olahraga (GOR) Rakyat Cilodong, Kota Depok, Jawa Barat.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini diikuti oleh sedikitnya 400 peserta pemuda dari berbagai perwakilan wilayah Jabodetabek.

Mereka bertanding dalam suasana yang menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas, memperkuat solidaritas, serta menunjukkan semangat berprestasi sesuai tagline kegiatan: “Eratkan Persaudaraan, Junjung Sportivitas, Raih Prestasi.”

Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah, Rasfiuddin Sabaruddin, menegaskan bahwa usia seperempat abad Pemuda Hidayatullah menjadi momentum strategis untuk memperteguh jati diri pemuda sebagai aktor pembangunan bangsa yang berakhlak dan beradab.

“Pemuda Hidayatullah tidak hanya ingin hadir sebagai kekuatan sosial, tetapi sebagai bagian dari solusi bangsa menuju Indonesia Emas 2045. Tema ‘Pemuda Beradab’ ini adalah penegasan bahwa adab adalah landasan dasar dalam setiap gerak langkah perjuangan kami,” ujar Rasfiuddin.

Ia juga menjelaskan bahwa arah gerakan Pemuda Hidayatullah selama 25 tahun terakhir selalu berpijak pada integrasi antara dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan. Dalam konteks itu, olahraga pun ditempatkan bukan sekadar ajang fisik, tetapi sebagai medium silaturrahim, wahana pembinaan karakter, disiplin, dan solidaritas.

Turnamen Pemuda Cup 2025 tahun ini tercatat diikuti oleh 30 tim futsal dan 30 pasangan badminton, yang berasal dari simpul-simpul kepemudaan dan kampus-kampus Islam se-Jabodetabek. Para peserta menunjukkan antusiasme dan performa terbaik mereka dalam setiap pertandingan.

Ketua Panitia Pemuda Cup 2025, Haniffudin Chaniago, menyampaikan bahwa turnamen ini bukan hanya tentang persaingan olahraga, melainkan sarana membangun jaringan antar-pemuda lintas wilayah.

“Kami menyaksikan bagaimana para peserta bermain dengan penuh semangat namun tetap menjunjung sportivitas. Suasana persaudaraan sangat terasa di sepanjang kegiatan. Ini adalah esensi dari Pemuda Cup,” kata Hanifuddin.

Rangkaian kegiatan Harlah ke-25 ini juga diisi dengan refleksi sejarah pergerakan Pemuda Hidayatullah, penyelenggaraan zoom webinar untuk refleksi organisasi, serta pembacaan komitmen bersama dalam membina generasi muda yang adaptif terhadap tantangan zaman namun tetap teguh pada nilai-nilai Islam.

GOR Rakyat Cilodong sebagai lokasi utama kegiatan dipenuhi oleh gelora semangat kolaboratif para peserta. Selama dua hari, pertandingan berlangsung dengan tertib di bawah pengawasan dewan juri dan panitia pelaksana. Puncak kegiatan ditutup dengan penyerahan trofi dan penghargaan kepada para juara serta peserta terfavorit.

Adapun dalam pesan penutupnya, Rasfiuddin Sabaruddin menegaskan pentingnya kesinambungan kaderisasi dalam setiap lini kehidupan pemuda.

Ia menambahkan, Pemuda Hidayatullah akan terus memperluas peran dan kontribusi aktif di tengah masyarakat melalui program-program berbasis adab, keterampilan, dan keteladanan.

“Menuju Indonesia Emas, bangsa ini membutuhkan generasi muda yang tidak hanya cakap teknologi dan strategi, tapi juga kokoh dalam moral dan nilai. Maka, Pemuda Beradab bukan sekadar slogan, melainkan misi kebangsaan kami,” tandasnya.

Acara Harlah ke-25 ini menjadi penanda keseriusan Pemuda Hidayatullah dalam melanjutkan peran strategis mereka dalam lanskap kebangsaan dengan corak keislaman yang inklusif dan solutif.

Murid MA Hidayatullah Depok Raih Juara 1 Mimbar Muda Sunda Karsa Fest 2025

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Hasan Fatih Zanki Heluth, siswa kelas XII Madrasah Aliyah (MA) Hidayatullah Depok, berhasil meraih Juara 1 dalam ajang Final Stage – Live Show Lomba Dai Muda Mimbar Muda 2025 yang digelar oleh Bank Indonesia Jawa Barat.

Final ini berlangsung di Mall Trans Studio Mall (TSM) Bandung, sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Sunda Karsa Fest Karya Kreatif Jawa Barat (KKJ) dan West Java Sharia Economic Festival (WJSEF) 2025 pada Kamis (17/7/2025).

Lomba ini menjadi salah satu panggung pengembangan generasi muda dalam bidang dakwah dan literasi ekonomi syariah.

Seleksi awal dilakukan melalui penilaian video dan naskah dakwah peserta yang diseleksi oleh dewan juri. Ada sebanyak 83 peserta yang ikut dalam babak penyisihan ini secara online dengan usia peserta 15 – 25 tahun.

Dari proses tersebut, tujuh peserta terbaik dipilih sebagai finalis dan diundang untuk tampil langsung dalam sesi panggung final.

Hasan Fatih Zanki Heluth tampil meyakinkan di atas panggung dalam sesi final tersebut. Dakwahnya yang bertemakan penguatan peran dai muda dalam literasi ekonomi syariah berhasil menarik perhatian juri dan audiens.

Keberhasilan ini membawanya menjadi satu-satunya perwakilan dari Depok yang meraih posisi tertinggi di ajang tersebut.

“Ini pengalaman yang sangat berkesan. Pertama kali saya naik kereta, pertama kali menginap di hotel, dan pertama kali ke Bandung. Semua ini jadi momen berharga yang akan saya kenang seumur hidup,” ujar Hasan Heluth kepada media ini.

Sebagai pemenang, Hasan akan mewakili Jawa Barat dalam kompetisi dakwah ekonomi syariah (eksyar) tingkat regional pulau Jawa. Ia juga akan mendapatkan fasilitas pelatihan dan pendampingan intensif sebagai persiapan menuju kompetisi selanjutnya.

Ustadz Azhar Ahmad, guru pendamping Hasan dari MA Hidayatullah Depok, menyampaikan apresiasi dan kebanggaannya atas capaian yang diraih anak didiknya. Menurutnya, pencapaian ini merupakan buah dari latihan rutin, komitmen dakwah, dan keberanian Hasan dalam menjawab tantangan baru.

“Hasan menunjukkan semangat yang luar biasa. Ia mempersiapkan diri secara matang, tidak hanya dalam materi dakwah tetapi juga secara mental dan spiritual. Kami bersyukur bisa mendampingi proses ini dari awal hingga puncak kemenangan,” ungkap Ustadz Azhar Ahmad.

Hasan juga mengungkapkan bahwa prestasi ini menjadi pemacu semangatnya untuk terus belajar dan mengembangkan diri di bidang dakwah dan literasi ekonomi syariah. Ia berharap dapat memberikan kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat melalui jalur dakwah yang ia tempuh.

“Ini bukan hanya kemenangan pribadi, tetapi juga amanah dan tanggung jawab dakwah yang harus saya emban ke depannya. Saya ingin terus belajar dan berjuang agar bisa menjadi dai muda yang bermanfaat untuk umat,” pungkas Hasan.

Ajang Mimbar Muda 2025 menjadi salah satu upaya Bank Indonesia Jawa Barat dalam menumbuhkan generasi muda yang cakap berdakwah dan memahami ekonomi syariah sebagai bagian dari pembangunan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan.

Pesan Lingkungan Menggema di Pernikahan Massal 10 Pasang Santri Hidayatullah Makassar

0

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar menggelar Walimah Mubarak 2025 dengan mengusung pesan lingkungan melalui aksi penanaman pohon oleh para pengantin di kampus utama Pondok Pesantren Hidayatullah, Tamalanrea, Kota Makassar, Sabtu, 24 Muharam 1447 (19/07/2025)

Agenda pernikahan massal ini diikuti 10 pasangan kader dai-daiyah alumni pendidikan Hidayatullah yang telah mengemban amanah dakwah di berbagai wilayah, khususnya Indonesia Timur.

Perhelatan ini merupakan bagian dari upaya kelembagaan dalam memfasilitasi pernikahan para kader, sekaligus penguatan visi pendidikan dan dakwah berkelanjutan.

Ketua Steering Committee, Ust. Jumaruddin, M.Pd., menuturkan bahwa sebelum menikah, para peserta menjalani karantina intensif yang mencakup materi keilmuan keluarga, adab suami-istri, parenting, serta pembinaan ruhiyah.

“Sebelum pelaksanaan akad, para peserta mengikuti karantina intensif,” jelasnya.

Karantina didampingi oleh Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sulsel, KUA Tamalanrea, dan pembina internal.

Ketua DMW Hidayatullah Sulsel, Ir H Abdul Majid, MA., menyatakan bahwa pembekalan tersebut merupakan bagian dari amanah Islam. “Ilmu adalah keniscayaan sebelum berkata dan berbuat,” tegasnya.

Dalam tausiyahnya, Dewan Pertimbangan Hidayatullah, Dr H Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, M.Si., menekankan bahwa Walimah Mubarak bukan akhir, tetapi awal dari misi keluarga dakwah.

“Membangun keluarga adalah membangun benteng terakhir peradaban,” ujarnya.

Menariknya, seluruh pasangan pengantin turut menanam pohon dalam rangkaian acara tersebut.

Penanaman pohon ini dilakukan sebagai bentuk komitmen lembaga terhadap pelestarian lingkungan sekaligus menyemarakkan Pra-Munas VI Hidayatullah.

Ketua Yayasan Al Bayan, Ust. Suwito Fatah, M.M., menyebut kegiatan ini sebagai bagian dari gerakan penanaman satu juta pohon.

“Ini sebagai stimulus untuk menyukseskan gerakan penanaman 1 juta pohon menjelang Munas Hidayatullah,” ungkapnya dalam penyerahan simbolik bibit pohon kepada peserta.

Dalam acara tersebut, Bank Syariah Indonesia Cabang Makassar turut memberikan hadiah tabungan haji kepada seluruh pasangan. Walimah ini dihadiri tokoh masyarakat, pengurus wilayah, dan alumni dari berbagai daerah.

Agenda Walimah Mubarak merupakan kegiatan tahunan yang dilaksanakan secara rutin oleh Yayasan Al Bayan dengan dukungan penuh dari struktur Hidayatullah Sulsel dan lembaga-lembaga afiliasinya.