Beranda blog Halaman 99

KHUTBAH JUM’AT Penerapan Nilai Shalat dalam Kehidupan Sehari hari

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

أما بعد : عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah,

Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dzat Yang Maha Mengatur kehidupan, yang dengan kasih sayang-Nya kita masih diberi kesempatan untuk menghirup udaranya, berdiri tegak di rumah-Nya, dan merasakan nikmat iman serta Islam.

Betapa agung karunia-Nya, betapa sempurna hikmah-Nya, hingga setiap detik kehidupan ini pun menjadi bukti bahwa kita tidak pernah luput dari pengawasan dan rahmat-Nya.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad, manusia pilihan, cahaya petunjuk bagi umat manusia yang terbenam dalam kegelapan.

Beliaulah yang mengajarkan kita arti ketundukan yang tulus, kekuatan dalam shalat, serta keteguhan dalam amal. Di tengah kesibukan dunia yang melelahkan dan arus kehidupan yang kian deras, keteladanan beliau adalah kompas penunjuk arah menuju ridha Ilahi.

Jamaah Jum’ah yang dimuliakan Allah Ta’ala,

Shalat, sebagai rukun Islam kedua, bukan sekadar ritual penggugur kewajiban. Lebih dari itu, ia adalah fondasi utama bagi pembentukan karakter Muslim yang komprehensif.

Dalam bingkai Ahlussunah Wal Jama’ah, implementasi nilai-nilai shalat dalam kehidupan sehari-hari menjadi sebuah keniscayaan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Koneksi antara shalat dan etos kerja seorang mukmin dapat dilihat dari nilai muraqabah yang ditanamkan.

Shalat yang dikerjakan dengan penuh kesadaran menumbuhkan perasaan senantiasa diawasi oleh Allah SWT, Yang Maha Melihat dan Maha Mendengar.

Perasaan inilah yang menjadi kontrol konstruktif dalam setiap langkah kehidupan seorang mukmin, termasuk dalam etos kerjanya.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah,

Dengan mental muraqabah yang terinternalisasi dari shalat, seorang mukmin sejati akan termotivasi untuk selalu memberikan yang terbaik dalam setiap pekerjaannya.

Ia bertindak dengan disiplin tinggi layaknya shalat yang terikat waktu, menghargai waktu karena setiap detik adalah amanah, serta senantiasa memperhitungkan efektivitas dan efisiensi dalam setiap tindakan.

Segala bentuk kemubaziran dihindari karena dianggap sebagai bagian dari langkah syaitan yang merugikan, sebagaimana shalat mengajarkan kesederhanaan dan keberkahan.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah,

Yang Pertama, shalat adalah pondasi utama amalan dan basis nilai kehidupan. Perintah shalat ini ditegaskan dalam firman Allah SWT:

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ankabut: 45).

Dalam ayat ini, Allah SWT tidak hanya memerintahkan untuk menegakkan shalat, melainkan juga menjelaskan dampak transformatifnya.

Para ulama menjelaskan bahwa menegakkan shalat bukan sekadar menjalankan gerakan dan bacaan sesuai tuntunan Rasulullah SAW.

Lebih dari itu, menegakkan shalat menuntut kehadiran hati, penghayatan, dan tadabbur (perenungan) terhadap setiap bacaannya. Puncaknya, seluruh nilai-nilai dari bacaan shalat tersebut harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Urgensi shalat diperkuat dengan statusnya sebagai ibadah paling utama bagi setiap mukmin, bukan sekadar rutinitas.

Shalat menuntut fokus dan kesungguhan karena kelak di Hari Kiamat, shalat akan menjadi amalan pertama yang dihisab di hadapan Allah SWT. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ”

(Perkara pertama yang akan dihisab dari seorang hamba pada Hari Kiamat adalah shalatnya.) (HR. Tirmidzi, Abu Daud, Nasa’i, Ibnu Majah, dari Abu Hurairah r.a.)

Hadits ini menegaskan, jika shalat seorang hamba diterima, seluruh amalannya akan diterima; sebaliknya, jika shalatnya tertolak, maka seluruh amalannya pun akan ditolak.

Dari sini, jelas bahwa seluruh aktivitas dan perbuatan manusia di dunia ini sangat bergantung pada kualitas shalatnya. Ini berarti, nilai-nilai yang terkandung dalam bacaan shalat harus menjadi basis nilai yang mewarnai setiap aspek kehidupan seorang mukmin.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah,

Yang Kedua, shalat sebagai bingkai produktivitas dalam berbagai bidang kehidupan.

Ketika gambaran aktivitas seorang mukmin terbingkai oleh keimanan dan keyakinan kepada Allah, ia pasti akan menjadi pribadi yang produktif dan senantiasa melakukan kerja-kerja konstruktif di berbagai bidang yang ia geluti.

Mari kita ambil contoh konkret di beberapa ranah kehidupan. Dalam dunia pendidikan, misalnya.

Ketika seorang mukmin yang berprofesi sebagai pendidik menegakkan shalat dan kemudian terjun dalam dunia pendidikan, ia tidak hanya menjalankan kewajiban ritual, melainkan menerjemahkan seluruh nilai shalat ke dalam setiap helaan napas proses pengajarannya.

Ini adalah wujud integrasi iman dalam profesi, sebuah manifestasi nyata dari ketakwaan. Bagi pendidik Muslim, bacaan “Allahu Akbar!” saat takbiratul ihram adalah fondasi yang menancap kuat di hati.

Prinsip ini berarti dalam mengajar, fokus utama adalah membesarkan Allah SWT, bukan diri sendiri atau hal duniawi.

Dengan demikian, pendidik akan membimbing murid-murid untuk meyakini bahwa hanya Allah yang Maha Besar, Maha Kuasa, dan satu-satunya yang patut disembah, bukan sekadar hafalan, melainkan penanaman akidah yang kokoh.

Implikasi dari “mengingat Allah lebih besar” harus termanifestasi dalam setiap aktivitas di kelas. Membesarkan Allah menjadi tujuan utama dari setiap materi, metode, dan interaksi.

Ilmu pengetahuan, seni, dan keterampilan diajarkan sebagai jalan untuk mengenal kebesaran Allah, mensyukuri nikmat-Nya, dan beribadah kepada-Nya.

Hasilnya adalah lahirnya generasi yang tidak hanya ahli dan kompeten, tetapi juga memiliki karakter mulia sebagai pribadi yang takut kepada Allah, tunduk kepada-Nya, dan menyembah-Nya semata. Mereka adalah insan-insan yang ilmu dan akhlaknya selaras, menjadikan setiap pencapaian sebagai pengabdian kepada Sang Pencipta.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah,

Dalam di dunia ekonomi dan bisnis juga begitu. Di dunia ekonomi dan bisnis, seorang mukmin, baik sebagai ahli ekonomi maupun pengusaha, yang mengaplikasikan prinsip shalat akan senantiasa menunjukkan kerendahan hati dan jauh dari kesombongan, bahkan ketika mencapai puncak kesuksesan dan bergelimang harta.

Keyakinan teguh bahwa kebesaran sejati hanya milik Allah mencegahnya dari ujub (kagum pada diri sendiri) atau merasa diri paling hebat.

Sikap sombong ini bertolak belakang dengan esensi shalat, yang mengajarkan kerendahan hati dan kepasrahan total di hadapan Allah.

Setiap gerakan shalat, terutama sujud, menekankan ketidakberdayaan kita di hadapan Sang Pencipta, mengajarkan bahwa semua pencapaian adalah anugerah-Nya. Dengan demikian, kesuksesan justru akan membuatnya semakin bersyukur dan tawadhu’ (rendah hati).

Begitu pula dalam dunia politik dan kepemimpinan. Bagi politisi atau pemimpin, kesadaran sebagai hamba Allah yang menginternalisasi nilai shalat membentuk prinsip hidup yang mengagungkan kebesaran-Nya. Dengan begitu, jabatan setinggi apa pun tidak akan menjadikannya sombong.

Shalat, melalui takbiratul ihram “Allahu Akbar”, meniadakan segala kesombongan. Ini mengingatkan pemimpin bahwa hanya Allah yang patut diagungkan, menumbuhkan tawadhu’ (kerendahan hati) mendalam.

Dengan begitu, kepemimpinan bukan lagi tentang kebanggaan diri dan aksi aksi tak terpuji seperti korupsi, melainkan amanah besar yang diemban penuh tanggung jawab, semata demi mencari rida Allah. Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW:

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji sawi.” (HR. Muslim).

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah,

Nilai yang Ketiga, adalah menginternalisasi seluruh nilai shalat. Ini baru satu nilai shalat: takbiratul ihram, sebuah pengagungan yang mengikis kesombongan dan menancapkan kebesaran Allah.

Bayangkan, bagaimana jika seluruh nilai bacaan shalat, dari takbir pembuka hingga salam penutup, khususnya Ummul Kitab (Al-Fatihah), berhasil diinternalisasikan dan diimplementasikan secara menyeluruh dalam hidup kita?

Niscaya, setiap aspek kehidupan Muslim akan sempurna terwarnai nilai-nilai Islam. Cara kita bekerja, berinteraksi, memimpin, dan mengelola keuangan, semuanya akan memancarkan cahaya shalat. Hasilnya, seorang mukmin akan bersinar dengan akhlak Qur’ani yang termanifestasi nyata di setiap ranah kehidupan.

Melalui internalisasi shalat yang utuh ini, kehidupan mulia akan terwujud kembali di masyarakat, persis seperti yang telah dicontohkan Rasulullah SAW di Madinah, sebuah komunitas Muslim yang berjamaah dan berkepemimpinan. Inilah visi hidup yang dibangun di atas fondasi ibadah sejati.

Seorang mukmin yang teguh berpegang pada prinsip Ahlussunah Wal Jama’ah akan senantiasa meraih keselarasan dan keseimbangan sempurna antara kehidupan dunia dan akhirat.

Hal ini terwujud karena ia mampu menginternalisasi dan menerapkan seluruh kandungan nilai dalam shalat ke setiap aspek kehidupannya.

Pada akhirnya, dengan konsistensi ini, Islam kaaffah akan terwujud dengan sempurna dalam diri dan lingkungannya. Wallahu A’lam bis shawab.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!!!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

(Untuk mengunduh naskah ini ke format PDF, klik icon “print” pada share button di bawah lalu pilih simpan file PDF)

Kelaparan Rakyat Gaza Kian Mengerikan, WHO dan WFP Peringatkan Ambang Kehancuran Gizi

Nur Abu Sel’a, seorang anak berusia 10 tahun yang dirawat di Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa, Deir al-Balah, Gaza tengah, meninggal dunia akibat kekurangan gizi dan formula nutrisi medis. Krisis kemanusiaan yang parah di Gaza disebabkan oleh blokade penjajah ‘Israel’ terhadap Gaza dan penutupan pelintasan, 27 Juli 2025. [Ashraf Amra – Anadolu Agency]

BAITUL MAQDIS (Hidayatullah.or.id) — Enam warga Gaza, termasuk dua anak, dilaporkan kembali meninggal akibat kelaparan, menurut Kementerian Kesehatan Palestina seperti dilansir Anadolu Agency. Dengan penambahan ini, jumlah korban gugur akibat kelaparan di Jalur Gaza sejak Oktober 2023 telah mencapai 133 jiwa, termasuk 87 anak-anak.

“Angka-angka ini mencerminkan dampak bencana dari blokade ‘Israel’ yang terus berlanjut, ditambah blokade pengiriman makanan dan bantuan ke Gaza,” kata pernyataan resmi Kementerian Kesehatan.

Salah satu korban adalah Zainab Abu Haleeb, bayi lima bulan yang wafat akibat kekurangan gizi di Rumah Sakit Nasser. “Tiga bulan di rumah sakit, dan inilah takdir untuk saya, dia sudah meninggal,” kata ibunya, Israa Abu Haleeb, dalam kondisi pilu.

World Food Programme (WFP) mencatat bahwa satu dari tiga warga Gaza telah berhari-hari tidak makan, dengan hampir 500.000 orang berada dalam kondisi bencana kelaparan.

Sementara itu, World Health Organization (WHO) memperingatkan bahwa lebih dari 20 persen perempuan hamil dan menyusui mengalami kekurangan gizi.

Falestine Ahmed, seorang ibu asal Gaza, menyatakan kepada Al Jazeera, “Dulu berat badan saya 57 kg, sekarang berat badan saya 42 kg, dan baik putra saya maupun saya telah didiagnosis kekurangan gizi parah.”

Kelaparan ini diperparah oleh blokade 18 tahun yang diberlakukan oleh ‘Israel’, yang diperketat sejak 2 Maret 2025 dengan menutup seluruh pelintasan bantuan.

Sejak 7 Oktober 2023, serangan ‘Israel’ menyebabkan lebih dari 59.700 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, kehilangan nyawa.

Hidayatullah terus menyerukan bantuan untuk Gaza, Baitul Maqdis, Palestina. Apapun yang kita mampu, bantu Gaza. Kirimkan doa, suarakan kebenaran, salurkan bantuan, dan terus peduli.

Pemuda Hidayatullah Gagas Aksi “Geber Masjid” untuk Rawat Fungsi Sosial Masjid

BENGKULU (Hidayatullah.or.id) — Pemuda Hidayatullah Bengkulu menggelar aksi sosial bertajuk Geber Masjid (Gerak Besamo Bersih Masjid) yang dipusatkan di Masjid Al-Hikmah, RT 31, Kelurahan Sawah Lebar, Kecamatan Ratu Agung, Kota Bengkulu, pada Selasa, 4 Shafar 1447 (29/7/2025).

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya kolektif dalam memperkuat peran masjid sebagai pusat aktivitas sosial dan keagamaan masyarakat.

Ketua Pemuda Hidayatullah Bengkulu, Ahlun Nazir, menjelaskan bahwa inisiatif tersebut lahir dari semangat kolaborasi antara pemuda, masyarakat, dan lembaga sosial.

“Kegiatan ini perlu terus dilanjutkan, karena kebersihan sebagian dari iman, dan masyarakat antusias dengan perhatian langsung pada masjid mereka,” kata Ahlun dalam keterangannya, Rabu.

Program Geber Masjid tidak hanya menyasar kebersihan fisik bangunan masjid, tetapi juga menjadi sarana membangun kesadaran bersama tentang pentingnya menjaga ruang ibadah dan publik secara berkelanjutan.

“Program ini secara langsung ingin menghadirkan kesadaran bahwa kebersihan, memakmurkan masjid, dan lingkungan adalah hal mendasar yang perlu dirawat bersama secara berkelanjutan,” tambah Ahlun Nazir.

Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH) turut mendukung program ini.

Kepala BMH Perwakilan Bengkulu, Hendrianto, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut akan menyasar sejumlah titik masjid yang selama ini menjadi bagian dari pembinaan rutin.

“Alhamdulillah hari ini kami bersama Pemuda Hidayatullah dan jamaah masjid menggelar aksi bersih-bersih masjid di Bengkulu. Insha Allah, kami targetkan 10 masjid yang menjadi titik pembinaan selama ini,” ujarnya.

Selain membersihkan area dalam dan luar masjid, para relawan juga memperbaiki fasilitas tempat wudhu dan halaman masjid untuk meningkatkan kenyamanan jamaah.

Sekolah Dai Hidayatullah Sultanbatara Kembali Cetak Dai Siap Dakwah ke Pelosok

PAREPARE (Hidayatullah.or.id) — Sebanyak 15 santri Sekolah Dai Hidayatullah (SDH) Sultanbatara resmi menamatkan masa belajarnya setelah melalui ujian terbuka kitab Syarah Matan Jazari, karya monumental abad ke-14 dalam ilmu tajwid dan qira’at.

Ujian ini menjadi tonggak akhir pendidikan sekaligus pengukuhan kesiapan mereka terjun dalam dakwah di daerah-daerah pelosok Sulawesi.

Acara penamatan yang berlangsung di Gedung Dakwah Hidayatullah Parepare dihadiri oleh pejabat daerah, ulama, serta tokoh masyarakat pada Senin, 3 Shafar 1447 (28/7/2025).

“Setiap angkatan memang terbatas, tapi dampaknya besar. Para alumni langsung ditunggu di wilayah-wilayah terpencil di Sulsel, Sulbar, hingga Sultra,” ujar Muhammad Nasri Bohari, Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, menegaskan pentingnya SDH sebagai program strategis dakwah berkelanjutan.

Wisuda kali ini menandai kelulusan angkatan keenam, mengindikasikan kesinambungan program SDH dalam mencetak dai berkualitas.

Dalam kesempatan tersebut, Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) BMH Sulsel turut menyampaikan komitmen beasiswa senilai Rp 48 juta untuk satu tahun mendatang.

Penandatanganan dukungan itu disaksikan oleh Kepala Bappeda Parepare, perwakilan Hidayatullah Sulbar, dan Dewan Murabbi Sulsel.

“Kami percaya, investasi dalam pendidikan dai adalah investasi untuk masa depan umat,” tegas Kadir, Kepala BMH Sulsel.

Kolaborasi antara SDH dan BMH menghadirkan model sinergi kelembagaan dalam membangun jaringan dakwah yang sistematis.

Dengan pendekatan edukatif dan dukungan finansial jangka panjang, menurut Nasri menambahkan, inisiatif ini menunjukkan bagaimana gerakan keagamaan dan lembaga zakat dapat berkontribusi pada transformasi sosial-keagamaan di daerah terpencil.

Mushola dan Rumah Qur’an Diresmikan, Warga Lereng Gunung Malang Sambut Haru

0

JEMBER (Hidayatullah.or.id) — Haru dan syukur menyelimuti Lereng Gunung Malang, Kecamatan Sumberjambe, Kabupaten Jember, saat diresmikannya Mushola Dahlan dan Rumah Qur’an Baitul Amin, belum lama ini.

Dua bangunan sederhana ini menjadi tonggak baru bagi warga yang selama ini hidup jauh dari akses ibadah dan pendidikan agama.

“Alhamdulillah, tempat kami mengabdi dan mendidik tak lagi meminta belas kasihan cuaca,” ujar Ustadz Abdul Waqil, dai setempat yang menjadi pilar utama kegiatan keagamaan di wilayah ini.

Peresmian ini sekaligus menandai berakhirnya kondisi lama, di mana warga shalat berdesakan dan anak-anak mengaji di atas tikar usang di lantai tanah.

Imam Muslim, Kepala Divisi Program dan Pendayagunaan BMH Jawa Timur, menyebut program ini bukan sekadar proyek pembangunan fisik yang dilakukan BMH di berbagai titik di Jatim.

“Kami percaya, dari pelosok seperti ini, bisa lahir hafizh-hafizh Qur’an yang kelak menerangi bangsa,” tegasnya.

Sebelum dilakukan renovasi
Setelah dilakukan renovasi

Kehadiran Mushola dan Rumah Qur’an ini diharapkan menjadi pusat transformasi sosial di Sumberjambe. Selain memudahkan ibadah, tempat ini menjadi ruang belajar, tumbuh, dan bermimpi bagi generasi muda di pedesaan.

“Dengan membangun infrastruktur ibadah dan pendidikan di wilayah terpencil, BMH tidak hanya memberi tempat ibadah, tapi juga menanam benih peradaban Qur’ani yang berkelanjutan—dampaknya tak hanya dirasakan hari ini, tapi oleh generasi mendatang,” lanjut Imam Muslim.

Hari itu bukan sekadar peresmian dua bangunan. Di lereng terpencil Jember, masyarakat menyaksikan lahirnya peradaban. Sebuah bukti bahwa perencanaan kebaikan mampu menjembatani keterbatasan menuju harapan.

GMH Undang Menko Pangan Zulkifli Hasan di Forum NextGen Leader 2025

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Zulkifli Hasan, menerima audiensi silaturrahim dari Ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (PP GMH), Rizki Ulfahadi, dan jajarannya bertempat di ruang kerja Menko Gedung Kemenko Pangan, Jl. Imam Bonjol, Jakarta, pada Senin, 3 Safar 1447 (28/7/2025).

Selain konsolidasi pemikiran dalam membangun kontribusi pemuda terhadap agenda pembangunan Indonesia, audiensi ini bertujuan menyampaikan undangan kepada Menko Zulkifli Hasan dalam agenda NextGen Leader (NGL) Nasional 2025 yang akan diselenggarakan pada Kamis, 31 Juli 2025 mendatang.

Rizki mengatakan, forum NGL sendiri diinisiasi sebagai ruang kaderisasi dan kepemimpinan yang dirancang oleh GMH untuk mencetak pemimpin muda yang berintegritas dan visioner.

Ia menyampaikan harapannya atas partisipasi aktif Zulkifli Hasan dalam forum tersebut sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap peran strategis pemuda.

“Silaturrahim ini menjadi langkah awal kolaborasi strategis antara mahasiswa dan pemerintah dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. Kehadiran Pak Menko tentu sangat kami harapkan,” ujar Rizki.

Audiensi berlangsung dalam suasana hangat dan produktif. Rizki berharap, pertemuan ini membuka ruang kolaborasi lebih luas antara Gerakan Mahasiswa Hidayatullah dan kementerian dalam mendukung program-program pembangunan nasional.

Santri Terima Beasiswa Penuh di Ponpes Tahfidz Global Hidayatullah Jayakarta

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pondok Pesantren Tahfidz Global (PPTG) Hidayatullah Jayakarta secara resmi memulai proses pembelajaran tahun ajaran baru 2025 dengan menyambut kedatangan puluhan santri baru dari berbagai provinsi di Indonesia. Para santri ini merupakan penerima program beasiswa penuh yang telah melalui proses seleksi ketat.

Diketahui, para santri berasal dari wilayah seperti Bengkulu, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Jawa Tengah, dan Jabodebek. Mereka telah tiba di lingkungan pesantren sejak dua pekan lalu untuk mengikuti masa orientasi dan pengenalan lingkungan.

“Tahun ini kami menerima santri-santri pilihan dari seluruh pelosok tanah air yang akan menempuh pendidikan tahfidz Al-Qur’an dengan sistem terpadu, mencakup pembinaan karakter, pembelajaran diniyah, hingga keterampilan masa depan,” ungkap Ustadz Mahidin Sahidu,M.Pd., Kepala Sekolah PPTG Hidayatullah Jayakarta, dalam keterangannya di Jakarta, Senin, 3 Safar 1447 (28/7/2025).

Pesantren yang berlokasi di ibu kota ini dikenal sebagai lembaga yang memberikan akses pendidikan berkualitas secara gratis bagi anak-anak dari keluarga yang membutuhkan.

Biaya pendidikan, asrama, konsumsi, dan kebutuhan pokok santri sepenuhnya ditanggung oleh program beasiswa dan dukungan para donatur.

Sistem pendidikan yang diterapkan memadukan pembelajaran Al-Qur’an dengan penguatan karakter dan pengembangan kapasitas.

Kegiatan belajar dimulai sejak pukul 03.30 WIB dengan shalat tahajud berjamaah, dilanjutkan halaqah tahfidz setelah subuh, pembelajaran diniyah intensif, serta program kepemimpinan Islami.

Ponpes ini juga menekankan pembentukan karakter dengan nilai-nilai adab Islam, seperti menghormati yang lebih tua, menyayangi sesama, dan melarang segala bentuk perundungan.

Selain itu, pembelajaran bahasa Arab, bahasa Inggris, dan keterampilan teknologi informasi turut diberikan sebagai bekal menghadapi tantangan global.

Dengan dimulainya kegiatan belajar tahun ini, PPTG Hidayatullah Jayakarta kembali menegaskan komitmennya sebagai pusat pendidikan tahfidz yang inklusif, profesional, dan berdampak.

Program ini merupakan bagian dari visi lembaga untuk melahirkan sumber daya insani yang bertauhid, berakhlakul karimah, dan berwawasan global.

Kembali ke Hidayatullah Bima, Perjalanan Menyambung Kenangan dan Silaturrahim

BULAN Ramadhan malam 1446 itu terasa lebih hangat dari biasanya. Seusai sholat tarawih di Masjid Ummul Quraa Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, aku duduk santai bersama Faishal Daariy, sahabat masa kecilku sejak PAUD di Hidayatullah Bima.

Kami mengobrol soal kenangan kami di Bima, tanah kelahiran jiwa kami, tempat kami pertama kali belajar mengenal dunia. Obrolan itu membuka kembali lembaran-lembaran masa kecil yang selama ini hanya tinggal dalam ingatan.

Setelah perbincangan itu, hatiku terasa bergejolak. Rindu. Dalam diam aku bertanya, “Kapan ya bisa ke sana lagi?” Sudah tujuh tahun aku tak menginjakkan kaki di tanah Mbojo. Tapi entah mengapa, malam itu, rasa rinduku jauh lebih kuat. Seolah ada panggilan untuk pulang, untuk kembali.

Waktu terus berjalan. Saat daurah Al-Qur’an pada bulan April, Bima tetap saja tak pergi dari pikiranku. Aku mulai berdoa lebih sungguh-sungguh.

“Ya Allah, Vano pengen ke Bima lagi. Pengen ketemu teman dan guru-guru lama. Ya Allah, kabulkan…”

Doa itu menjadi rutinitasku setelah setiap sholat fardhu. Sampai suatu hari, kedua orang tuaku datang menjengukku. Dengan penuh harap, aku sampaikan keinginan itu. Alhamdulillah, mereka mengizinkan. Katanya, “Anggap saja ini sebagai menyambung silaturrahim keluarga juga.”

26 Juni 2025 menjadi hari yang tak terlupa. Aku berangkat dari Depok, ke Bandara Internasional Soekarno Hatta Jakarta, lalu terbang ke Bima. Sendiri. Menempuh lebih dari 1.200 km, dengan total waktu perjalanan sekitar tujuh jam.

Ketika akhirnya kakiku menapak tanah kelahiran itu, air mata hampir jatuh. Aku tak menyangka. Aku benar-benar kembali.

Selama empat hari di Bima, waktuku padat. Aku tahu, kunjungan ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Aku kunjungi kembali sekolah masa kecilku — Hidayatullah Bima.

Tempat ini menyimpan banyak cerita. Dulu, hanya ada masjid, TK, dan SD. Tapi setelah banjir bandang 2018 menghancurkan masjid, banyak perubahan terjadi.

Kini, SMP Hidayatullah pun telah hadir. Gedung baru berdiri di belakang lapangan. Masjid baru mulai dibangun. Semua itu membuktikan bahwa waktu memang mengubah segalanya, tapi semangat tetap hidup.

Yang paling berkesan adalah pertemuanku dengan Pak Pri dan Bu Sri — dua sosok guru yang amat aku hormati.

Di rumah sederhana mereka, kami mengenang masa lalu, membahas kondisi sekarang, dan menyisipkan doa-doa untuk masa depan.

Pak Pri berkata padaku, “Tali silaturrahim itu harus dijaga, Mas Vano. Pokoknya nggak boleh putus, apa pun keadaannya. Dan Mas Vano sudah melakukan itu.”

Kami juga berbincang tentang perjalananku sekarang: mondok di Hidayatullah Depok, menulis artikel di website Hidayatullah.or.id, hingga fotoku yang muncul di Republika, Antara, dan Detik.

Pak Pri tersenyum bangga, “Bima berhasil mencetak murid-murid hebat. Bahkan ada yang sampai ke Dubai dan Mesir.” Masya Allah.

Empat hari berlalu sangat cepat. Tapi dalam waktu yang singkat itu, aku mendapatkan banyak pelajaran: bahwa rindu tak harus disimpan, ia harus diperjuangkan. Bahwa silaturrahim adalah kekuatan, bukan sekadar kunjungan.

Saat pesawatku lepas landas meninggalkan Bima, aku merasa sedang membawa satu pesan, bahwa waktu adalah anugerah yang tak bisa diputar.

Maka, selagi ada kesempatan, temui orang-orang yang pernah mewarnai hidupmu. Sampaikan terima kasih. Peluk masa lalu. Dan doakan masa depan.

Karena mengenang itu seperti memutar waktu, meski hanya dalam hati.[]

*) Mercyvano Ihsan, penulis santri kelas X MA dan peserta kelompok Program Lifeskill Jurnalistik Sekolah Integral Hidayatullah Depok

Syukur Mengundang Nikmat dan Ridha Allah

0

SYUKUR dalam bahasa Arab, syakara, berarti mengakui kebaikan. Syukur dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bermakna rasa terima kasih kepada Allah.

Ibnul Qayyim Al Jauziyah menguraikan bahwa syukur itu adalah tunduk dan taat kepada aturan Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan amalan yang disukai-Nya baik lahir maupun batin (Al Fauzan, 2012: 47).

Syukur adalah ungkapan terima kasih sebagai pengakuan kebaikan, ketundukan dan ketaatan kepada Allah sebagai upaya mendekatkan diri kepada-Nya.

Dalam kehidupan sungguh banyak nikmat pemberian Allah yang saking banyaknya manusia tak mampu menakarnya sebagaimana diingatkan dalam firman-Nya:

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nahl: 18).

Oleh karena itu, hendaknya warnai keseharian kita dengan memperbanyak bersyukur.

Bagaimana caranya bersyukur? Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Majmu’ah Al-Fatawa menyatakan bahwa syukur haruslah dijalani dengan hati, lisan, dan anggota badan.

Syukur dalam lisan mengucapkan Alhamdulillah atas nikmat yang diterima. Syukur dalam hati terbangunnya kesadaran bahwa semua kebaikan berasal dari Allah. Syukur dalam perbuatan dengan menggunakan nikmat dengan cara yang diridhai Allah.

Untuk kesempurnaan syukur, Ibnul Qayyim Rahimahullah memberikan rambu-rambu berdasarkan pada lima prinsip yang saling melengkapi.

Kelima prinsip tersebut adalah: (1) Rendah hati dan tunduk kepada Allah bagi orang yang bersyukur, (2) Cinta kepada-Nya, (3) Mengakui nikmat-nikmat-Nya, (4) Memuji-Nya atas nikmat-nikmat tersebut, dan (5) Tidak menggunakan nikmat-nikmat tersebut dalam hal-hal yang Allah benci (Al Fauzan: 2012).

Melakoni kelima prinsip tersebut akan memudahkan merasakan manfaat dari bersyukur tersebut.

Beberapa manfaat bersyukur. Pertama, mendapat ganjaran baik di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana firman-Nya :“Dan sungguh orang-orang yang bersyukur akan kami beri ganjaran” (QS. Al Imran: 145).

Kedua, menjadi sebab selamatnya seseorang dari azab Allah. Allah SWT berfirman yang artinya:“Tidaklah Allah akan mengadzab kalian jika kalian bersyukur dan beriman. Dan sungguh Allah itu syakir lagi alim” (QS. An-Nisa: 147).

Ketiga, bakal menambah nikmat yang Allah SWT berikan. Allah berfirman: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mengumumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’” (QS. Ibrahim: 7).

Keempat, mengundang datangnya ridha Allah. Allah berfirman: “Jika kalian ingkar, sesungguhnya Allah Maha Kaya atas kalian. Dan Allah tidak ridha kepada hamba-Nya yang ingkar dan jika kalian bersyukur Allah ridha kepada kalian” (QS. Az-Zumar: 7).

Kelima, mendatangkan kebaikan sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW : “Setiap perkara orang beriman itu sungguh luar biasa. Karena setiap urusannya adalah baik. Ini tidak akan terjadi pada diri seseorang kecuali orang beriman yang sejati. Jika dia memperoleh, kesenangan, dia bersyukur, dan ini baik baginya. Jika dia mengalami kesulitan, dia bersabar dan ini juga baik untuknya.” (HR. Muslim).

Dengan bersyukur yang berasa manfaatnya akan memperkuat hubungan seseorang dengan Pencipta. Juga memperbaiki kualitas hidupnya.

Hubungan harmonis dengan Pencipta dan kualitas hidup yang baik merupakan jalan lempang bagi seorang muslim meraih kebahagiaan dalam hidupnya.

*) Nursyamsa Hadis, penulis Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Ummat DPP Hidayatullah

Kapolsek Sinjai Tengah Pimpin Kerja Bakti Bangun Masjid Pesantren HIdayatullah

CREATOR: gd-jpeg v1.0 (using IJG JPEG v62), quality = 82

SINJAI TENGAH (Hidayatullah.or.id) — Dalam upaya memperkuat relasi sosial dan mempererat tali silaturahmi, Kapolsek Sinjai Tengah Iptu Tenri Gangka, SH., memimpin langsung kegiatan kerja bakti pembangunan Masjid Pesantren Hidayatullah yang berlokasi di Dusun Sabbang, Desa Kanrung, Kecamatan Sinjai Tengah, Kabupaten Sinjai, Sabtu, 1 Shafar 1447 (26/7/2025).

Puluhan warga dari berbagai latar belakang turut serta dalam kegiatan tersebut. Mereka bergotong royong mengangkut bahan bangunan, melakukan pengecoran, serta membersihkan area proyek.

Kebersamaan antara aparat dan masyarakat terlihat nyata di tengah suasana yang akrab dan penuh kekeluargaan.

Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk keterlibatan aktif kepolisian dalam dinamika sosial masyarakat. Kapolsek Sinjai Tengah menyatakan bahwa kerja bakti merupakan wujud sinergi yang produktif antara kepolisian dan warga.

“Kami ingin menunjukkan bahwa polisi bukan hanya hadir untuk menjaga keamanan, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat dalam kegiatan-kegiatan sosial yang bermanfaat seperti ini,” ungkap Iptu Tenri Gangka.

“Gotong royong adalah nilai luhur bangsa yang harus terus kita jaga dan lestarikan bersama,” lanjutnya.

Dengan mengenakan pakaian kerja sederhana, Kapolsek turut serta mengangkat batu, semen, dan membersihkan lokasi pembangunan.

Kapolsek juga menyampaikan imbauan kamtibmas kepada warga. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan.

“Kami berharap semangat kebersamaan ini tidak hanya berhenti di sini. Mari kita lanjutkan dengan saling menjaga, saling menghargai, dan bersama menciptakan suasana yang aman dan nyaman di tengah masyarakat,” tambahnya.

Melalui kegiatan kerja bakti ini, diharapkan hubungan antara polisi dan masyarakat semakin solid dalam membangun lingkungan yang aman dan religius.

Selain kerja fisik, kegiatan ini juga menjadi ruang dialog terbuka antara masyarakat dan pihak kepolisian.