Beranda blog Halaman 103

Pinrang Perdana, Semarak Pra Munas VI Hidayatullah Canangkan Gerakan Donor Darah Nasional

0

PINRANG (Hidayatullah.or.id) — Kegiatan donor darah bertajuk “Donor Darah 10.000 Dai dan Guru Ngaji Nusantara” secara resmi dimulai di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, Ahad, 17 Muharram 1447 (13/7/2025).

Acara perdana ini digelar dalam rangkaian Halaqah Kubro Hidayatullah se-Sulawesi yang berlokasi di Kampus Hidayatullah Lamatanre, Pinrang.

Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama antara panitia Halaqah Kubro dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Pinrang, dan menjadi bagian dari program nasional Semarak Muharram 1447 Hijriah.

Agenda ini sekaligus menandai dimulainya program Donor Darah 10.000 Dai Nusantara yang dicanangkan sebagai bentuk kepedulian sosial Hidayatullah menjelang pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah yang akan diselenggarakan di Jakarta pada Oktober 2025 mendatang.

Ketua Panitia Lokal, Sarmadani Karani, menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar aksi donor darah biasa, melainkan bagian dari komitmen dakwah Hidayatullah dalam memperluas kontribusi di bidang kesehatan masyarakat.

“Donor darah ini adalah bagian dari peneguhan pesan-pesan kebaikan Hidayatullah. Kami ingin menunjukkan bahwa para dai tidak hanya berdakwah di atas mimbar, tapi juga hadir nyata dalam kepedulian sosial yang konkret dan sistematis,” ungkap Sarmadani.

Ia juga menyebutkan bahwa kegiatan ini menjadi momentum penting karena untuk pertama kalinya dilaksanakan di Kabupaten Pinrang dan diharapkan menjadi titik tolak penguatan kontribusi dai Hidayatullah di bidang kemanusiaan.

“Ini adalah titik awal. Kita gulirkan gerakan donor darah dai secara nasional dari Pinrang. Targetnya, sebelum Munas VI di Jakarta, 10.000 dai berkontribusi menyumbangkan darah sebagai wujud kepedulian terhadap sesama,” tambahnya.

Kegiatan ini turut dihadiri ratusan peserta Halaqah Kubro yang berasal dari berbagai daerah di Sulawesi. Selain mengikuti agenda penguatan manhaj dakwah dan tarbiyah, mereka juga antusias mengikuti aksi donor darah sebagai bentuk partisipasi aktif dalam program nasional ini.

Sementara itu, Ketua Departemen Kesehatan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Imran Faizin menyampaikan apresiasinya atas inisiatif kolaboratif ini.

Imran menilai keterlibatan lembaga keagamaan dalam mendukung gerakan kemanusiaan sangat strategis, mengingat kebutuhan darah di Indonesia terus meningkat.

“Kami menyambut baik kolaborasi dengan PMI. Kegiatan ini memperkuat sinergi antara dakwah dan kemanusiaan. Semoga menjadi inspirasi bagi yang lain,” ujarnya dalam kesempatan terpisah.

Selain kegiatan donor darah, Halaqah Kubro juga diisi dengan kajian strategis, tausiyah kebangsaan, dan konsolidasi menjelang Munas VI.

Semarak Muharram 1447 H ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antarwilayah serta memperluas kontribusi Hidayatullah dalam bidang sosial, pendidikan, dan kesehatan.*/

Dua Karakter Kunci dalam Rekrutmen Sumber Daya Manusia

0

DALAM Al-Qur’an, paling tidak terdapat tiga kisah pencarian SDM (sumber daya manusia) dengan karakter tertentu untuk memikul amanah tertentu.

Dan, sebagaimana lazimnya kisah-kisah Qur’ani, selalu terdapat ibroh (pelajaran) di dalamnya. Artikel ini akan membawa kita untuk mengkajinya satu per satu.

Pertama, hafizhun ‘alim dalam kisah Nabi Yusuf ‘alaihis salam.

Setelah melalui serangkaian kisah hidup yang berliku, akhirnya beliau sampai di hadapan Raja Mesir.

Beliau diminta menjelaskan arti mimpi sang Raja, dan kemudian ditunjuk menempati kedudukan yang sangat mulia.

“Dan raja berkata: ‘Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku.’ Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: ‘Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami.’” (QS. Yusuf: 54).

Dijelaskan pula bahwa Nabi Yusuf kemudian memilih sebagai bendaharawan negara, khususnya untuk hasil panen.

“Berkata Yusuf: ‘Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga (hafizh), lagi berpengetahuan (‘alim).” (QS. Yusuf: 55).

Menurut Imam al-Qurthubi (Tafsir, IX/212-213), makna hafizhun ‘alim adalah pandai menjaga apa yang ditugaskan kepadanya dan sangat mengerti tentang urusan yang diserahkan kepadanya.

Menurut pendapat lain, maknanya pandai menghitung dan tertib mencatat. Ada juga yang menafsirkan: pandai menjaga kadar timbangan bahan makanan dan sangat mengerti bagaimana mengelola tahun-tahun paceklik.

Lebih detil, Imam Ibnul Jauzi (Zadul Masir, II/449-450) mencatat tiga penafsiran. Pertama, pandai menjaga amanat yang diberikan dan sangat mengerti kapan terjadinya masa paceklik. Ini diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas.

Kedua, serupa dengan yang pertama, yang ditafsirkan al-Hasan. Ketiga, pandai menjaga perhitungan dan sangat mengerti bahasa yang berlainan, sebab banyak penduduk negeri sekitar yang akan datang ke Mesir untuk meminta bahan makanan sedang bahasa mereka berbeda-beda. Ini dikemukakan as-Suddi.

Singkatnya, SDM yang tepat harus dua memiliki sifat. Pertama, teguh dalam menjalankan tugas, tekun, bisa diandalkan. Kedua, memiliki pengetahuan yang mendalam di bidangnya.

Penguasaan lebih dari satu bahasa bisa menjadi nilai plus. Maka, bila hendak merekrut guru, dosen, pegawai, karyawan, dsb pastikan si calon memiliki keduanya.

Tentu saja, ini sifat-sifat yang sangat bagus untuk level staf dan bawahan, apalagi untuk jenjang manajer dan leader (pemimpin).

Kebalikannya adalah pemimpin dan staf yang tidak tekun, tak bisa diandalkan, cepat bosan; apalagi jika dia juga minim ilmu dan bodoh. Musibah!

Kedua, qawiyyun amin dalam kisah Nabi Musa ‘alaihis salam.

Dituturkan, setelah mengalami insiden pembunuhan seorang bangsa Mesir, beliau lari dari kota menuju pedalaman dan padang gurun.

Dalam situasi ketakutan dikejar tentara Fir’aun dan kebingungan di tanah asing, beliau melihat sekelompok penggembala kambing yang sedang memberi minum ternaknya.

Tapi, di luar mereka terlihat dua gadis yang menyendiri bersama ternaknya, tidak ikut berdesakan bersama para lelaki penggembala lain.

Karena merasa aneh, beliau mendekati keduanya. Akhirnya beliau mengetahui bahwa keduanya memiliki ayah yang sudah berusia lanjut, yang tidak mampu menggembala ternaknya.

Dua gadis yang sangat berbakti. Dengan tulus beliau menawarkan bantuan. Maka, ternak-ternaknya segera mendapatkan minuman dan mereka bisa pulang lebih cepat dari biasanya.

Tentu saja, sang ayah keheranan. Tapi, dari cerita putrinya ia segera tahu alasannya. Kemudian, “Salah seorang dari kedua gadis itu berkata: ‘wahai ayah, ambillah dia sebagai orang yang bekerja (pada kita). Sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (QS. Al-Qashash: 26).

Imam Ibnu Katsir (Tafsir, VI/229) menyitir dari Umar, Ibnu Abbas, Syuraih, Ibnu Ishaq, dan lain-lain bahwa ketika si gadis menyebutkan kedua sifat itu – yakni: qawiyyun amin – sang ayah bertanya, “Bagaimana kamu mengetahuinya?”

Si gadis menjawab, “Dia mengangkat batu (penutup sumur) yang hanya bisa diangkat oleh sepuluh orang. Dan ketika aku hendak pulang bersamanya, aku maju untuk berada di depannya. Lalu ia berkata: ‘Silakan Anda di belakangku! Bila saya salah jalan, lemparkan batu kecil kepadaku agar saya tahu mana jalan yang tepat, agar saya mendapat petunjuk.”

Dalam Tafsir ath-Thabari (XIX/563) kisahnya dikutip lebih gamblang. Konon, batu penutup mulut sumur itu hanya mampu digeser tigapuluh orang. Nabi Musa menggesernya sendirian.

Kekuatan fisik beliau memang luar biasa. Sebagai seseorang yang dibesarkan di istana Fir’aun, bahkan diangkat anak olehnya, beliau pasti memperoleh segala yang terbaik. Allah mengokohkan fisik beliau melaluinya.

Ditambahkan, beliau selalu menundukkan pandangan selama berbicara dengan kedua gadis tersebut.

Saat itu juga sedang musim angin, sehingga ketika diajak menemui sang ayah, beliau meminta berada di depan si gadis karena khawatir tiupan angin menyingkap aurat si gadis atau membentuk lekuk-liuk tubuhnya di balik pakaiannya. Ini menggambarkan sifat amanah beliau.

Kisah ini mengisyaratkan dua kualitas terbaik bagi pekerja yang hendak direkrut. Yaitu memiliki kualitas fisik yang tangguh dan karakteristik mental yang kokoh. Bila hanya salah satu yang dimiliki, pekerjaan yang diberikan kepadanya takkan maksimal bahkan disalahgunakan.

Seseorang yang berfisik kuat tetapi mentalnya bejat, pasti berbahaya. Sebaliknya, pekerja yang bisa dipercaya tetapi sering keluar-masuk Rumah Sakit jelas tidak akan optimal. Wallahu a’lam.

*) Ust. M. Alimin Mukhtar, penulis pengasuh Yayasan Pendidikan Integral (YPI) Ar Rohmah Pondok Pesantren Hidayatullah Batu, Malang, Jawa Timur

Hidayatullah Gaungkan Spirit Hijrah dan Sinergi Umat Menuju Indonesia Emas

0
CREATOR: gd-jpeg v1.0 (using IJG JPEG v62), quality = 82

PINRANG (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH. Dr. Nashirul Haq, MA., menyerukan pentingnya membumikan semangat hijrah dan memperkuat sinergi kebangsaan demi menyongsong visi besar Indonesia Emas 2045.

Seruan tersebut disampaikannya saat memberikan ceramah dalam Tabligh Akbar Halaqah Kubro Hidayatullah Se-Sulawesi dan Gorontalo di Kampus Hidayatullah Lamatanre, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, Ahad, 17 Muharram 1447 (13/7/2025).

Acara bertema “Menguatkan Jatidiri Kader Hidayatullah Menuju NKRI Beradab dan Terhormat” ini merupakan bagian dari rangkaian Semarak Muharram 1447 H Hidayatullah Sulawesi Selatan, yang dihadiri ratusan peserta lintas wilayah, termasuk dari Sulawesi dan Kalimantan, serta berbagai tokoh masyarakat dan tamu undangan.

Dr. Nashirul menegaskan bahwa hijrah adalah prinsip dasar dalam Islam yang bersifat menyeluruh, menjangkau aspek fisik, spiritual, dan sosial.

“Hijrah dalam makna spiritual adalah perjalanan abadi seorang mukmin. Ia adalah proses meninggalkan kejahiliyahan menuju cahaya iman dan kebaikan,” ungkapnya, seperti dinukil dari laman hidayatullahsulsel.or.id

Ia menjelaskan bahwa hijrah terjadi karena dua hal yaitu tekanan dan panggilan dakwah. Ia menyebut tragedi umat Islam di Rohingya, Suriah, dan Gaza sebagai contoh hijrah karena tekanan.

Sementara, pendiri Hidayatullah, KH. Abdullah Said, disebutnya sebagai simbol hijrah karena panggilan dakwah, yaitu meninggalkan tanah kelahiran di Sulawesi Selatan untuk mendirikan pesantren di Kalimantan Timur.

Lebih dari sekadar wacana hijrah, Dr. Nashirul mengangkat urgensi sinergi antara umat dan negara, antara ulama dan umara. Ia mengutip Imam Al-Ghazali: “Agama adalah fondasi, dan negara adalah penjaganya. Jika salah satunya hancur, maka peradaban akan runtuh.”

Ia juga menegaskan bahwa sistem pendidikan integral yang dikembangkan Hidayatullah merupakan bentuk hijrah intelektual dan moral.

“Pendidikan harus menyentuh akal, ruh, dan perilaku agar mampu melahirkan generasi tangguh dan siap membangun peradaban,” tegasnya.

Mengakhiri ceramah, Dr. Nashirul menyerukan penguatan nilai-nilai Islam yang selaras dengan kearifan lokal seperti sipakatau (saling memanusiakan), sipakalebbi (saling menghormati), dan sipakainge (saling menasihati) sebagai bagian dari kultur dakwah Hidayatullah.

“Hakikat hijrah adalah peningkatan diri secara berkelanjutan. Dan, siapa yang berhijrah karena Allah, maka Allah akan cukupkan kebutuhannya,” pungkasnya.

Santri Hidayatullah Surabaya Radinka Darrien Wakili Indonesia di Forum Diplomasi Pelajar Asia

0

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Bangkok tak hanya menjadi destinasi wisata, tapi juga panggung diplomasi internasional bagi para pelajar muda Asia. Salah satunya adalah Radinka Darrien Nurawan, santri kelas 11 Boarding SMA Luqman Al Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, yang menjadi delegasi Indonesia dalam forum Asia Youth International Model United Nations (AYIMUN) 2025.

Selain sebagai simulasi sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa, forum AYIMUN juga merupakan medan latihan generasi muda global untuk mengasah diplomasi, berpikir kritis, dan public speaking terkait isu-isu strategis seperti perubahan iklim, HAM, dan perdamaian dunia.

Tahun ini, forum tersebut mengusung tema “Maintaining a Legacy of Peace in Turbulent Times.”

Radinka melaju ke Bangkok melalui serangkaian seleksi ketat mulai dari wawancara, penyusunan position paper, dan simulasi sidang.

“Radinka berhasil menjadi bagian dari delegasi Indonesia untuk mewakili suara pelajar Muslim Indonesia dalam forum global tersebut,” ungkap rilis resmi sekolah.

Ustadz Santoso, S.Si., Kepala SMA Luqman Al Hakim Surabaya, turut memberikan apresiasi. Menurutnya, keikutsertaa Radinka menjadi inspirasi bagi santri lainnya untuk terus meningkatkan kualitas diri, tidak hanya dalam akademik dan tahfizh, tetapi juga dalam ajang nasional maupun internasional.

“Kami bangga dengan semangat dan dedikasi Radinka. Ini bukti bahwa santri tidak hanya unggul dalam aspek keagamaan, tetapi juga mampu bersaing dan berkontribusi di tingkat internasional,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa Radinka membawa semangat rahmatan lil ‘alamin ke forum dunia.

Tak hanya menjadi ajang prestasi, terang Santoso, keikutsertaan ini juga menegaskan misi besar sekolah dalam mencetak generasi yang tangguh secara spiritual, unggul secara akademik, dan siap tampil di pentas dunia.

Program Boarding School serta kurikulum integratif menjadi pondasi Radinka dan rekan-rekannya untuk berpikir global tanpa kehilangan identitas keislaman.

Selama beberapa hari ke depan, Radinka akan terlibat dalam forum diskusi intensif, negosiasi multinasional, hingga diplomasi pemuda lintas negara di Bangkok.

Dari kampus pesantren ke meja-meja diplomasi internasional, langkah Radinka menjadi teladan nyata bahwa santri hari ini bisa menjadi pemimpin dunia esok hari.

Qur’an Camp Balikpapan Menyalakan Semangat Da’i Muda dari Pesisir

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Di balik keheningan fajar pesisir Balikpapan, gema lantunan ayat suci berpadu dengan debur ombak Pantai Teritip.

Di tempat itulah, 20 mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan menjalani Qur’an Camp, program pembinaan karakter yang digelar awal Juli 2025 di Rumah Qur’an Abdul Azis.

Bukan sekadar program hafalan, Qur’an Camp dirancang sebagai proses pembentukan karakter da’i muda dengan pendekatan spiritual yang menyeluruh.

Ketua STIS Hidayatullah Balikpapan, Muhammad Zaim Azhar, menjelaskan bahwa kegiatan ini adalah ruang hidup untuk membentuk karakter da’i muda dengan fondasi spiritual yang kuat.

Selama dua hari, para peserta menjalani aktivitas yang berpola terstruktur namun penuh refleksi.

Kegiatan dimulai sejak sebelum fajar dengan shalat lail dan tadabbur Al-Qur’an, kemudian berlanjut dengan senam ringan dan futsal santai di pagi hari. Puncaknya adalah sesi setoran hafalan dan talaqqi, lalu ditutup dengan khataman Al-Qur’an secara kolektif.

Salah satu sesi utama bertajuk “Menjadi Generasi Qur’ani” dirancang untuk memantik kesadaran spiritual peserta.

Dalam sesi ini, mahasiswa diajak bukan hanya untuk mendengarkan materi, tapi juga merenung dan menggali makna hidup berporoskan wahyu.

“Program ini menjadi wasilah menyalakan semangat Al-Qur’an di dada para mahasiswa,” ungkap Zaim. Ia menambahkan bahwa Qur’an Camp adalah investasi jangka panjang untuk masa depan dakwah dan pendidikan Islam di Kalimantan Timur.

Dukungan terhadap program ini juga datang dari Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Kalimantan Timur. Kepala Divisi Prodaya BMH Kaltim, Achmad Rifa’i, menilai bahwa pendekatan seperti ini menunjukkan sinergi positif antara pembinaan karakter dan kedekatan dengan alam.

“Qur’an Camp menjadi bukti nyata bahwa pendekatan spiritual dalam pendidikan karakter dapat berjalan harmonis dengan aktivitas sosial dan alam terbuka,” ujar Rifa’i.

Menurut Rifa’i, di tengah modernisasi dan kompleksitas zaman, kegiatan seperti ini menjadi alternatif pendidikan yang tidak hanya menumbuhkan intelektualitas, tetapi juga membentuk jiwa-jiwa berkarakter Qur’ani yang siap mengabdi bagi masyarakat.*/

Mengapa Tidur Disebut Tanda Kebesaran Allah?

KETIKA membaca surah Ar-Rum ayat 23, “Dan diantara ayat-ayat-Nya adalah tidur kalian pada waktu malam dan siang”, tiba-tiba terpikir kenapa tidur disebut sebagai salah satu ayat Allah?

Apa sih istimewanya tidur? Bukankah kita semua biasa tidur setiap hari, dan sepertinya tidak ada yang penting untuk dipikirkan?

Kami putuskan untuk mencari tahu. Kami mulai dengan literatur Barat, Encyclopaedia Britannica (2009 Ultimater Reference Suite, CD-ROM). Sekedar ingin tahu apa kata mereka. Banyak hal telah mereka selidiki dengan seksama, dan mungkin tidur (sleep) termasuk di dalamnya.

Tapi, kami tertegun-tegun membaca ulasan para ahli psikologi Barat yang dirangkum oleh David Foulkes (Georgia Mental Health Institute, Atlanta) dan Rosalind D. Cartwright (Rush-Presbyterian St. Luke’s Medical Center, Chicago).

Ternyata, sampai sekarang belum ada satu kata sepakat di antara para ahli tentang apa dan bagaimana tidur itu sesungguhnya.

Dalam entri “sleep”, mereka menulis, “Tidak ada kriteria tunggal dan bisa diterima secara sempurna tentang tidur. Tidur didefinisikan melalui observasi-konvergen yang memenuhi sejumlah kriteria gerak, saraf, dan fisiologis berbeda.

Terkadang, satu atau lebih dari kriteria ini bisa absen selama tidur atau hadir ketika terjaga, bahkan dalam sejumlah kasus para pengamat selalu mendapati kesulitan kecil untuk memilah kedua kondisi tersebut.”

Dengan kata lain, tidur dimengerti sebagai pengalaman umum yang gejala-gejalanya diketahui semua orang. Namun, tidur bukan sesuatu yang mudah dijelaskan, tidak juga bisa disederhanakan dalam rumusan ringkas.

Ada gejala tidur yang bisa didapati ketika seseorang terjaga, begitu pula sebaliknya ada gejala terjaga yang didapati ketika tidur. Banyak misteri yang tidak bisa dijelaskan oleh psikologi.

Kecewa dengan itu, kami baru menyadari mengapa psikologi gagal menyingkapnya, ketika menemui fakta bahwa psikologi adalah ilmu yang aneh. Ia membahas jiwa (psyche), namun di saat bersamaan ia menolak mempercayai metafisika atau hal-hal gaib.

Padahal, hakikat jiwa itu gaib dan tidur adalah fenomena jiwa. Itulah alasan mengapa orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan selalu mengalami gangguan atau masalah pada tidurnya, entah yang biasa seperti stres maupun yang parah seperti depresi dan gila.

Meski demikian, ternyata para ulama muslim sendiri tidak bisa menjelaskan apa itu ‘tidur’. Mereka hanya mengulas keajaiban-keajaibannya, seperti memulihkan keletihan, menyembuhkan sakit, merehatkan hati, juga menginteraksikan kita selangkah lebih dekat dengan alam ruh dan malaikat.

Ternyata tidur benar-benar tidak terpahami dengan gampang, padahal kita semua terbiasa mengalaminya. Maha Benar Allah bahwa tidur adalah salah satu ayat-Nya. Dan, tidak pernah ada yang remeh di dalamnya (lihat: Tafsir Ibn Katsir, VI/309-310, penjelasan QS. Ar-Rum: 22-23).

Para ulama muslim memandang tidur sebagai cara Allah menyadarkan kita tentang realitas jiwa atau ruh, yang tidak mudah dijelaskan itu.

Bagaimana pun, ruh adalah rahasia Allah. Sangat sedikit yang dibagikan-Nya untuk kita. Tidur adalah jalan untuk mendekatkan pemahaman kita terhadap kepastian kebangkitan kembali setelah mati, juga pertanggungjawaban amal di akhirat kelak.

Allah berfirman: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: “Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. Al-Isra’: 85).

Dalam surah lain, Allah berfirman:

“Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. Al-An’am: 60).

Juga firman-Nya yang lain:

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir.” (QS. Az-Zumar: 42).

Kami kemudian mendapati anekdot dalam Tarikh Islam (V/286, tahqiq: Basysyar) karya Al-Hafizh adz-Dzahabi, pada biografi teolog Mu’tazilah termasyhur, Abu Ma’n Tsumamah bin Asyras an-Numairi al-Bashri.

Suatu ketika, ia keluar dari Bashrah hendak menemui khalifah al-Ma’mun di Baghdad. Di perjalanan ia melihat seorang gila yang diikat.

Setelah dekat, si gila itu mendahului bertanya, “Siapa namamu?” “Tsumamah,” jawabnya. “Si teolog itu?” tanyanya lagi. “Ya.”

Terjadilah dialog diantara mereka, sampai akhirnya si gila itu bertanya, “Beritahu aku, kapan seseorang merasakan lezatnya tidur?”

Mungkin karena tidak segera dijawab, si gila itu menjawabnya sendiri, “Jika kaukatakan ‘sebelum ia tidur’ maka kamu keliru sebab ia masih terjaga. Jika kaukatakan ‘ketika tidur’ maka kamu salah total sebab ia tidak sadar. Jika kaukatakan ‘setelah tidur’ maka ia telah keluar darinya dan sesuatu yang sudah tidak ada itu tidak bisa lagi dia rasakan.”

Tsumamah hanya diam terpana, tidak tahu harus bicara apa.

Sungguh benar jika tidur adalah salah satu ayat-Nya, petunjuk menuju pengakuan akan keberadaan dan kuasa-Nya.

Sayangnya, betapa banyak ayat-ayat Allah yang tidak kita sadari, apalagi kita renungi.

Pantas bila Allah berfirman, “Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling darinya.” (QS. Yusuf: 105).

Ya Allah, ampuni kami! Sesungguhnya kami termasuk orang-orang yang zhalim. Wallahu a’lam.

*) Ust. M. Alimin Mukhtar, penulis adalah pengasuh Yayasan Pendidikan Integral (YPI) Ar Rohmah Pondok Pesantren Hidayatullah Batu, Malang, Jawa Timur.

Ketua MPR Ajak Pemuda Hidayatullah Jadi Solusi bagi Umat dan Bangsa

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Ahmad Muzani menerima audiensi Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah di Gedung Nusantara III, Jakarta, Kamis, 14 Muharram 1447 (10/7/2025).

Dalam pertemuan tersebut, Ahmad Muzani mengajak Pemuda Hidayatullah terus menjadi solusi bagi umat dan bangsa. Ia mengapresiasi konsistensi Pemuda Hidayatullah dalam kontribusinya di bidang dakwah dan pendidikan untuk pembangunan sumberdaya manusia.

“Sebagai subordinat Hidayatullah yang bergerak dalam pembangunan masyarakat melalui dakwah dan pendidikan, Pemuda Hidayatullah harus terus menekuni apa yang selama ini telah dilakukan,” ungkap Muzani.

Ia menekankan pentingnya organisasi kepemudaan sebagai ruang belajar dan latihan memimpin, serta sarana pembentukan karakter generasi muda.

“Organisasi kepemudaan adalah tempat latihan memimpin dan menyelesaikan masalah orang,” tegasnya.

Ahmad Muzani juga mengajak Pemuda Hidayatullah untuk mengelola organisasi dengan maksimal agar menjadi bekal penting dalam mengemban tanggung jawab lebih besar ke depan. “Banyak berpikir, terus latihan menyelesaikan masalah orang lain, dan yang terpenting harus banyak baca,” pesannya.

Dalam forum tersebut, Ketua Umum PP Pemuda Hidayatullah, Rasfiuddin Sabaruddin, menyampaikan maksud pertemuan adalah sebagai ajang silaturrahim sekaligus menggali inspirasi dari kiprah Ahmad Muzani yang telah lama berperan aktif di tingkat nasional.

“Kami juga sebenarnya sudah banyak membaca dan mengenal tentang Ahmad Muzani, justru kami yang belum dikenal,” ujar Rasfiuddin dengan nada berseloroh.

Rasfiuddin menyampaikan bahwa pihaknya juga memanfaatkan kesempatan ini untuk memperkenalkan organisasi Pemuda Hidayatullah lebih jauh serta melaporkan sejumlah program dan kegiatan yang telah dijalankan.

Ia juga menyampaikan agenda Milad Pemuda Hidayatullah ke-25 yang akan diselenggarakan pada bulan Juli ini serta memberikan cinderamata berupa buku karya PP Pemuda Hidayatullah yang memuat pemikiran dan saran menuju Indonesia Emas 2045.

Rasfiuddin menyampaikan harapan agar program-program besar pemerintah seperti kedaulatan pangan, pengentasan kemiskinan, pemerataan pembangunan, pemajuan pendidikan, dan pembangunan generasi muda dapat terus dikawal agar sejalan dengan visi pembangunan nasional yang berpihak kepada rakyat.

[KHUTBAH JUM’AT] Momentum Muhasabah, Menyelami Hakikat Waktu dan Penyesalan

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن

أَمَّا بَعْدُ, فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى : وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً، فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Segala puji hanya bagi Allah Ta’ala, Tuhan semesta alam, yang dengan kasih sayang-Nya kita masih diberi kesempatan untuk menghirup udara kehidupan hingga hari ini.

Kita memohon kepada-Nya agar hati ini tetap lembut dalam menerima kebenaran, dan tidak menjadi keras karena lalai dalam memperhatikan waktu yang terus menyusut.

Betapa sering kita terlena dalam rutinitas duniawi hingga lupa bahwa hidup ini fana, dan bahwa setiap perjalanan pasti akan sampai pada akhirnya.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam, teladan utama yang menggunakan waktunya untuk menegakkan keadilan, menyebarkan kasih sayang, dan memperbaiki umat manusia.

Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa meneladani beliau dalam kesungguhan, ketulusan, dan pengorbanan, terlebih dalam memaknai waktu sebagai amanah besar yang kelak akan ditanya di hadapan Allah.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Perputaran waktu berjalan begitu cepat. Tanpa terasa, kita telah berada di pertengahan bulan Muharram 1447 Hijriyah.

Padahal kenangan tahun 1446 H masih terasa begitu segar dalam ingatan, seolah baru kemarin. Namun kini tahun itu telah berlalu, dan tidak akan pernah kembali lagi.

Begitulah sifat waktu. Ia terus berjalan, tidak menunggu, tidak menoleh ke belakang. Sekali berlalu, ia tak dapat diputar ulang. Imam Asy-Syafi’i pernah mengingatkan:

الْوَقْتُ سَيْفٌ فَإِنْ لَمْ تَقْطَعْهُ قَطَعَكَ، وَنَفْسُكَ إِنْ أَشْغَلْتَهَا بِالْحَقِّ وَإِلاَّ اشْتَغَلَتْكَ بِالْبَاطِلِ

“Waktu itu seperti pedang. Jika engkau tidak menggunakannya (dengan baik), maka ia akan menebasmu. Dan dirimu, jika tidak tersibukkan dalam kebaikan, pasti akan tersibukkan dalam kebatilan.”

Hadirin Jamaah Jumat yang dirahmati Allah SWT,

Waktu yang terus berlalu ini menuntut kita untuk berhenti sejenak dan merenung. Untuk apa kita hidup?

Apa yang sudah kita lakukan? Untuk itulah muhasabah menjadi penting — sebagai bentuk evaluasi, introspeksi, sekaligus penataan kembali arah hidup.

Muhasabah adalah perintah Allah kepada orang-orang yang beriman, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Hasyr ayat 18:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Ayat ini dengan tegas mengajak kita bukan hanya bertakwa, tetapi juga melihat dan merenungi apa yang telah kita lakukan—untuk masa depan, yakni hari akhir.

Umar bin Khattab, Amirul Mukminin, memberi nasihat tegas:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوها قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا، وَتَأهَّبُوا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ

“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, timbanglah sebelum kalian ditimbang, dan bersiaplah menghadapi hari besar ketika amal diperlihatkan”

Hadirin Jamaah Jumat yang dirahmati Allah SWT,

Muhasabah adalah jalan menuju perbaikan. Tanpa muhasabah, hidup bisa terus terseret dalam rutinitas tanpa arah.

Muhasabah memanggil kita untuk kembali pada dua identitas utama kita, yaitu sebagai hamba Allah (abdullah) dan wakil Allah di bumi (khalifatullah). Itulah tujuan hidup yang sejati.

Islam menanamkan keyakinan bahwa dunia ini hanyalah sementara. Bahwa akhirat adalah kehidupan yang abadi. Kematian bukanlah akhir, melainkan awal dari kehidupan hakiki.

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثاً وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

“Apakah kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian dengan sia-sia dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minun: 115)

Karena itulah, hidup di dunia ini ibarat masa menanam, dan akhirat adalah masa panen. Jika kita tak menanam kebaikan, bagaimana mungkin berharap menuai kebahagiaan?

Hadirin Jamaah Jumat yang dirahmati Allah SWT,

Muhasabah adalah cermin. Ia memperlihatkan noda-noda pada amal kita.

Tanpa cermin, kita mungkin merasa bersih, padahal kenyataannya penuh cela. Tanpa muhasabah, manusia akan berjalan dalam kelalaian, dan akan berakhir pada penyesalan.

Dan penyesalan di akhirat, adalah penyesalan yang tidak berguna. Allah telah mengingatkan kita melalui ayat-ayat-Nya tentang berbagai bentuk penyesalan manusia di hari kiamat:

Pertama, menyesal karena tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya:

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا

“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balik dalam neraka, mereka berkata, ‘Alangkah baiknya andaikan kami taat kepada Allah dan taat pula kepada Rasul.’” (QS. Al-Ahzab: 66)

Kedua, menyesal karena menerima catatan amal dari tangan kiri:

وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيهْ

“Adapun orang yang menerima kitabnya dari sebelah kirinya, dia berkata, ‘Duhai, alangkah baiknya andai aku tidak diberikan kitabku ini.’” (QS. Al-Haqqah: 25)

يَا لَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَ

“Duhai, andaikan kematian itu mengakhiri segalanya.” (QS. Al-Haqqah: 27)

مَا أَغْنَى عَنِّي مَالِيهْ، هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيهْ

“Hartaku tidak berguna bagiku. Kekuasaanku telah lenyap dariku.” (QS. Al-Haqqah: 28–29)

Ketiga, menyesal karena tidak beramal shalih:

يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي

“Dia berkata, ‘Alangkah baiknya andai aku telah mempersiapkan (amal shalih) untuk hidupku ini.’” (QS. Al-Fajr: 24)

Keempat, menyesal karena salah memilih teman:

يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَاناً خَلِيلًا

“Celakalah aku, andai aku tidak menjadikan si dia sebagai teman akrabku.” (QS. Al-Furqan: 28)

لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءنِي

“Sesungguhnya dia telah menyesatkanku dari Al-Qur’an setelah Al-Qur’an datang kepadaku.” (QS. Al-Furqan: 29)

Puncaknya, menyesal karena menjadi manusia—yang menginginkan dirinya dahulu hanya tanah:

إِنَّا أَنذَرْنَاكُمْ عَذَاباً قَرِيباً يَوْمَ يَنظُرُ ٱلْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُولُ ٱلْكَافِرُ يَـٰلَيْتَنِى كُنتُ تُرَٰبًا

“Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kalian tentang azab yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh tangannya, dan orang kafir berkata: ‘Andai saja dahulu aku hanyalah tanah.’” (QS. An-Naba: 40)

Hadirin Jamaah Jumat yang dirahmati Allah SWT,

Waktu terus berjalan, dan pintu tobat masih terbuka. Mari kita manfaatkan sisa usia ini dengan penuh kesadaran, bukan kelalaian. Sebagaimana pesan Nabi Muhammad ﷺ kepada Ibnu Umar:

عن ابن عمر رضي الله عنهما قال : أخذ رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم بمنكبي فقال : كن في الدنيا كأنك غريب أو عابر سبيل

“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang pengembara.”

Ibnu Umar lalu menambahkan:

إذا أمسيت فلا تنتظر الصباح وإذا أصبحت فلا تنتظر المساء وخذ من صحتك لمرضك ومن حياتك لموتك

“Jika engkau berada di sore hari, maka jangan tunggu hingga pagi; dan jika pagi, jangan tunggu sore. Ambillah (peluang) dari sehatmu sebelum sakit, dan dari hidupmu sebelum mati.” (HR. Al-Bukhari)

Semoga kita menjadi hamba yang pandai bermuhasabah, sebelum datang masa di mana tak ada lagi waktu untuk kembali.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ

اَللّٰهُمَّ انْصُرِ الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمِ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ. اَللّٰهُمَّ اكْشِفْ الغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْفَعَ الْبَلَاءَ عَنْ غَزَّةَ وَأَهْلِهَا، وَأَنْ تَنْصُرَهُمْ عَلَى عَدُوِّهِمْ، وَأَنْ تَرْحَمَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ، وَأَنْ تَكْشِفَ الْغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ عَافِنَا وَالْطُفْ بِنَا وَاحْفَظْنَا وَانْصُرْنَا وَفَرِِّجْ عَنَّا وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اكْفِنَا وَإِيَّاهُمْ جَمِيْعًا شَرَّ مَصَائِبِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

(Untuk mengunduh naskah ini ke format PDF, klik icon “print” pada share button di bawah lalu pilih simpan file PDF)

Rejuvenasi Organisasi Menjaga Semangat Awal, Menjawab Tantangan Zaman

0

SETIAP organisasi, sekuat dan seideal apa pun cita-cita awalnya, pada satu titik akan dihadapkan pada pertanyaan mendasar, apakah semangat awal itu masih hidup? Apakah ia masih berdenyut dalam program, dalam gerak, dalam visi kolektif para anggotanya?

Pertanyaan ini bukan sekadar evaluasi internal, melainkan panggilan sejarah, bahwa, apakah organisasi masih menjadi solusi yang relevan bagi masyarakat yang terus berubah.

Pertanyaan semacam ini mengemuka dalam banyak forum musyawarah dan pertemuan strategis, termasuk dalam agenda besar seperti Musyawarah Nasional (Munas) yang akan digelar oleh Hidayatullah pada Oktober mendatang. Namun, maknanya melampaui sekat organisasi tertentu. Ini adalah isu universal yang relevan bagi setiap lembaga yang bercita-cita membawa perubahan sosial.

Apa Itu Rejuvenasi Organisasi?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), rejuvenasi diartikan sebagai peremajaan. Dalam dunia medis, istilah ini sering merujuk pada proses mengembalikan vitalitas kulit agar tampak muda kembali.

Dalam dunia organisasi, maknanya serupa, yakni, sebuah proses penyegaran visi, nilai, sistem, dan struktur untuk memastikan organisasi tetap hidup, menarik, dan produktif.

Rejuvenasi bukan hanya soal mengganti pengurus atau membuat slogan baru, tapi bagaimana organisasi menemukan kembali jiwanya, ruh perjuangannya, lalu menyelaraskannya dengan konteks zaman.

Setiap organisasi yang hidup pasti mengalami siklus dinamika: semangat awal yang menyala, program yang mulai rutin, ritme yang cenderung mekanis, lalu stagnasi visi. Dari sini, rejuvenasi menjadi keniscayaan. Ia adalah jalan menuju relevansi baru.

Pilar-Pilar Rejuvenasi Organisasi

Dalam diskusi-diskusi strategis, baik dalam organisasi keagamaan, pendidikan, kemasyarakatan, maupun bisnis, setidaknya ada delapan aspek penting yang sering muncul sebagai indikator utama kebutuhan peremajaan organisasi.

1. Reformulasi Visi dan Misi

Visi adalah arah jangka panjang, misi adalah cara mencapainya. Dalam perspektif Simon Sinek, penulis buku Start With Why, visi menjawab “mengapa” organisasi ini ada, sedangkan misi menjawab “bagaimana”.

Visi yang kabur atau terlalu abstrak akan sulit ditransformasikan menjadi gerakan nyata. Maka, mereformulasi visi bukan berarti mengubah cita-cita, tetapi menyederhanakannya agar membumi dan menggerakkan.

Banyak organisasi sukses menggunakan narasi yang sederhana tapi kuat. Lembaga pendidikan yang menjanjikan “membentuk manusia berakhlak dan mandiri” misalnya, lebih mudah dipahami publik daripada jargon akademis yang kaku.

Dalam sebuah forum kecil bernama “Halaqah Sulthan” yang rutin mengaji dan berdiskusi setiap pekan beberapa waktu lalu, bahkan muncul usulan, organisasi dakwah mesti lebih membumi dengan mengusung visi seperti “bahagia di dunia dan masuk surga”—sebuah frasa sederhana, namun menyentuh spiritual dan rasional publik sekaligus.

2. Penguatan Sumber Daya Insani

Setiap perubahan butuh pelaku yang siap. Maka, investasi pada manusia adalah investasi strategis. Organisasi perlu mendorong kader mudanya untuk belajar, mengambil beasiswa, mengasah kompetensi, dan memahami konteks. Ini bukan hanya untuk regenerasi, tapi memastikan organisasi tidak mengalami apa yang disebut dengan brain drain—kehilangan potensi terbaiknya karena tidak dipersiapkan.

3. Pengembangan Pelayanan Masyarakat

Organisasi apa pun, apalagi yang berbasis sosial atau keagamaan, hidup dari kebermanfaatannya. Maka, program-program pelayanan—dari pendidikan, bantuan kemanusiaan, pemberdayaan ekonomi, hingga advokasi sosial—perlu diperkuat. Di era digital, pelayanan juga harus tertransformasi. Teknologi bukan musuh, melainkan alat untuk efisiensi dan perluasan jangkauan.

4. Kolaborasi dan Kemitraan

Rejuvenasi organisasi juga mensyaratkan keterbukaan. Zaman ini bukan lagi soal siapa yang paling mandiri, tapi siapa yang paling mampu bersinergi. Lembaga yang menjalin kemitraan strategis akan lebih tahan terhadap krisis, memiliki pembiayaan lebih beragam, dan mampu menjangkau lapisan masyarakat yang lebih luas.

Contoh sederhana: penyelenggaraan pendidikan gratis berbasis kolaborasi antara organisasi dan mitra filantropi memungkinkan ribuan anak muda mendapatkan akses belajar yang bermutu. Kolaborasi bukan hanya soal teknis, tapi memperluas ekosistem perjuangan.

5. Diversifikasi Pendanaan

Organisasi memerlukan sumber daya untuk bergerak. Ketergantungan pada satu model pendanaan membuat organisasi rentan. Maka, banyak organisasi sosial kini mengembangkan sektor-sektor produktif seperti pertanian, perikanan, atau properti syariah sebagai sumber dana mandiri. Hal ini memberikan ruang lebih luas untuk tetap independen dalam bersikap terhadap isu publik.

6. Evaluasi Dampak Sosial

Sering kali, keberhasilan organisasi diukur dari jumlah cabang, banyaknya kader, atau data kuantitatif lainnya. Tapi keberhasilan sejati adalah seberapa besar dampaknya terhadap masyarakat. Apakah program yang dijalankan benar-benar menjawab kebutuhan umat? Apakah masyarakat merasa tertolong, tercerahkan, atau justru merasa terasing?

Maka, evaluasi dampak sosial harus menjadi kebiasaan. Tidak hanya agar program tetap tepat sasaran, tapi juga sebagai bentuk pertanggungjawaban moral kepada publik.

7. Restrukturisasi Lembaga

Struktur organisasi bukan warisan abadi. Ia harus adaptif terhadap perubahan zaman. Restrukturisasi bukan hal tabu, tetapi wujud keberanian untuk memperbaiki cara kerja, menata ulang lembaga, dan memangkas birokrasi yang tidak fungsional. Proses ini bisa mencakup penyesuaian tugas, efisiensi jabatan, hingga penyelarasan unit yang ada agar tetap relevan.

8. Regenerasi dan Rekrutmen Generasi Muda

Generasi muda adalah denyut masa depan organisasi. Jika mereka tidak dilibatkan hari ini, organisasi akan kehilangan relevansi esok hari. Tapi keterlibatan ini harus dibarengi dengan proses kaderisasi yang tidak hanya administratif, tapi membentuk karakter, wawasan, dan militansi.

Dalam banyak organisasi, halaqah, pelatihan intensif, mentoring, dan pengalaman lapangan menjadi medium penting dalam menyiapkan calon pemimpin masa depan.

Rejuvenasi Adalah Tajdid

Dalam khazanah Islam, rejuvenasi identik dengan tajdid—pembaruan. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: “Sesungguhnya Allah mengutus kepada umat Islam, setiap seratus tahun, seseorang yang memperbarui bagi mereka ajaran agama mereka.” (HR Abu Daud)

Pembaruan adalah bagian dari sunnatullah. Ia bukan pengkhianatan terhadap masa lalu, melainkan kesetiaan terhadap ruh awal perjuangan.

Maka, dalam kerangka ini, rejuvenasi organisasi adalah momentum untuk memperbarui niat, menyusun kembali strategi, dan memperluas manfaat sosial.

Setiap organisasi yang ingin bertahan dan memberi dampak harus memiliki keberanian untuk berubah. Bukan ‘berubah’ demi berubah, tetapi berubah demi menyelamatkan makna.

Rejuvenasi bukan proyek elite, tetapi tugas kolektif. Ia harus menjadi gerakan bersama yang lahir dari refleksi, dipandu oleh nilai, dan didorong oleh cinta kepada umat.

*) Nursyamsa Hadis, penulis adalah Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Ummat Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Pesantren Al Ikhlas Taliwang IIBS Gandeng LSH Hidayatullah Gelar Pelatihan Sembelih Halal di KSB

SUMBAWA BARAT (Hidayatullah.or.id) — Dalam upaya memperkuat pemahaman dan keterampilan praktis dalam penyembelihan halal, Pondok Pesantren Al Ikhlas Taliwang International Islamic Boarding School (IIBS) menggelar pelatihan khusus bekerja sama dengan Lembaga Sembelih Halal (LSH) Hidayatullah.

Kegiatan diagendakan berlangsung selama dua hari di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Nusa Tenggara Barat, Selasa-Rabu, 12-13 Muharram 1447 (8-9/7/2025).

Pelatihan tersebut menghadirkan dua narasumber utama dari LSH Hidayatullah, yakni H. Nanang Hanani, S.Pd.I., M.A., Ketua LSH Hidayatullah Pusat dan pakar sembelih halal nasional, serta H. Kholid Zuhri, M.Pd., Ketua LSH Hidayatullah NTB.

Keduanyamemberikan materi mendalam dan praktik lapangan tentang kaidah penyembelihan sesuai syariat Islam yang ilmiah dan profesional.

Nanang Hanani dalam pemaparannya menekankan pentingnya literasi halal sebagai bagian dari tanggung jawab keislaman di era modern.

“Pelatihan ini bukan hanya soal teknik menyembelih, tetapi membangun kesadaran tentang amanah besar umat Islam dalam menjaga makanan yang dikonsumsi tetap thayyib dan halal,” ungkapnya.

Pelatihan ini diikuti oleh para santri, pengasuh, dan masyarakat yang memiliki ketertarikan di bidang sembelih halal. Materi yang diberikan mencakup teori fiqh penyembelihan, praktik langsung penyembelihan ayam, hingga pengetahuan seputar syarat alat, hewan, dan proses sesuai ketentuan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Fatwa DSN.

Pimpinan Pondok Pesantren Al Ikhlas Taliwang IIBS, Dr. Lalu Mujahid Imaduddin, SH.I., M.Ag., menyambut baik kegiatan ini sebagai bagian dari pendidikan integral di pesantren yang menggabungkan nilai-nilai agama, keterampilan hidup, dan kesadaran sosial.

“Kami ingin santri tidak hanya alim secara ilmu, tapi juga kompeten dan siap berkontribusi langsung dalam kehidupan masyarakat, termasuk dalam bidang penting seperti halal food,”* jelasnya.

Dr. Mujahid juga menekankan bahwa pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional Islam perlu terus berinovasi dan membuka diri terhadap perkembangan isu-isu kontemporer yang relevan dengan kehidupan umat.

Kerja sama antara Al Ikhlas Taliwang IIBS dan LSH Hidayatullah ini menjadi bagian dari gerakan nasional edukasi sembelih halal yang diusung oleh LSH sejak 2019.

Pesantren Al Ikhlas Taliwang yang dikenal sebagai sekolah berasrama bertaraf internasional terus mengembangkan pendekatan pendidikan yang menyentuh langsung kebutuhan umat.

Pelatihan Juru Sembelih Halal ini merupakan bagian dari program penguatan literasi halal yang menjadi prioritas lembaga pendidikan Islam masa kini.

Kegiatan ini juga sejalan dengan komitmen Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia yang memiliki peran strategis dalam ekosistem halal global.

LSH Hidayatullah sendiri merupakan lembaga yang aktif dalam pelatihan, edukasi, dan sertifikasi sembelih halal di berbagai wilayah Indonesia. Fokusnya adalah membina SDM halal yang tidak hanya paham secara teknis, tetapi juga menghayati nilai ibadah dan etika dalam setiap prosesnya.

Dalam rangkaian acara ini, dilangsungkan pula penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Pondok Pesantren Al Ikhlas Taliwang IIBS dan LSH Hidayatullah. Kerja sama ini bertujuan memperkuat sinergi dalam pengembangan edukasi halal yang menyasar pelajar, santri, dan masyarakat luas.*/