Beranda blog Halaman 104

Hidayatullah Minta Tarik Tawaran Evakuasi Keluar dan Dukung Perjuangan Palestina Seperti Soekarno

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyatakan kesiapan Indonesia untuk mengevakuasi 1.000 warga Gaza ke Tanah Air telah memicu perdebatan publik. Tawaran ini disampaikan dalam konteks krisis kemanusiaan yang masih berlangsung di wilayah Gaza akibat agresi militer Israel yang tak kunjung reda.

Namun, langkah yang dianggap sebagai tindakan kemanusiaan tersebut justru mendapatkan respons kritis dari berbagai pihak, termasuk dari Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Dr. H. Nashirul Haq.

Dalam pernyataannya, Nashirul menyampaikan kekhawatiran bahwa tawaran evakuasi dari Presiden Prabowo bisa ditafsirkan keliru oleh masyarakat internasional maupun rakyat Palestina sendiri.

“Seakan-akan menolong, tapi tawaran Presiden Prabowo itu bisa disalahartikan menikam perjuangan Palestina dari belakang,” ujarnya, seperti dalam keterangannya diterima media ini, Kamis, 11 Syawal 1446 (10/4/2025).

Menurut Nashirul, warga Gaza selama ini telah menunjukkan keberanian dan keteguhan dalam memperjuangkan kemerdekaan tanah mereka yang telah dijajah selama puluhan tahun oleh rezim Zionis Israel.

Mereka bertahan dalam kondisi yang sangat sulit, tanpa pasokan listrik, air bersih, dan kebutuhan dasar lainnya. Namun, bagi mereka, tanah air bukan sekadar tempat tinggal dan tumpah darah, melainkan simbol harga diri dan kemerdekaan.

“Warga Gaza sudah berkorban luar biasa demi kemerdekaannya. Kejahatan penjajah Zionis Israel yang harus dihentikan dan dihukum, bukan warga Gaza yang harus meninggalkan tanah airnya,” lanjut Nashirul menegaskan.

Tindakan evakuasi, meski dibungkus dalam semangat kemanusiaan, dapat berisiko mengikis semangat perjuangan rakyat Palestina. Bahkan lebih jauh, dapat ditafsirkan sebagai bentuk penyerahan wilayah Gaza secara de facto kepada penjajah Israel.

Nashirul pun mengusulkan agar Presiden Prabowo mempertimbangkan kembali kebijakan tersebut dan mengambil langkah yang lebih tegas dalam mendukung kemerdekaan Palestina.

Ia bahkan menyarankan agar Indonesia meneladani langkah Presiden Soekarno pada tahun 1964 saat mendukung perjuangan rakyat Aljazair melawan penjajahan Prancis.

“Dengan hormat, kami sarankan Bapak Presiden menarik kembali tawarannya yang keliru itu, dan lebih aktif menolong Palestina seperti Presiden Soekarno ketika menolong rakyat Aljazair melawan penjajah Prancis 1964, dengan mengirim senjata sisa Operasi Pembebasan Irian Jaya,” pungkasnya.

Diketahui, Presiden Prabowo Subianto sebelum lawatannya ke lima negara di Timur Tengah, Rabu (9/4/2025), mengatakan akan membahas rencana evakuasi 1.000 warga Gaza, Palestina, ke Indonesia.

Rencananya, mereka yang dievakuasi mayoritas korban luka, anak-anak yatim piatu, serta warga yang terdampak trauma akibat perang. Prabowo menyebut evakuasi akan dilakukan dalam gelombang pertama dan menggunakan pesawat. Mereka bakal tinggal sementara di Indonesia, dan akan dipulangkan ke tempat asal ketika situasi di Gaza membaik.

Selama sepekan, Prabowo akan berkunjung ke Uni Emirat Arab (UEA), Turki, Mesir, Qatar, dan Yordania. Di sana, dia akan berkonsultasi langsung dengan para pemimpin negara terkait rencana evakuasi ini.

Dia menyatakan bahwa tawaran evakuasi tersebut bersifat sukarela dan atas dasar kemanusiaan serta hanya bisa dilakukan kalau semua pihak terkait menyetujui.[]

Seruan Jihad Ulama Dunia dan Posisi Kita dalam Membela Palestina

IST: Ngerinya serangan bom brutal Israel yang membuat tubuh warga Palestina terhempas ke udara. (Foto: tangkapan layar TRT World)

BOMBARDIR penjajah atas Palestina, khususnya Gaza, telah mencapai titik kritis yang mengguncang hati umat manusia. Kekejaman yang dilakukan Israel, dengan dukungan Amerika Serikat dan sekutunya itu, telah memicu seruan keras dari dunia Islam.

Pada 4 April 2025, Syaikh Ali Al-Qaradaghi, Sekretaris Jenderal International Union of Muslim Scholars (IUMS), mengeluarkan fatwa yang menyerukan intervensi militer, ekonomi, dan politik dari seluruh negara Muslim untuk menghentikan genosida dan penghancuran di Palestina. Pernyataan ini, yang dikutip dari Middle East Eye News, menegaskan bahwa diamnya pemerintah Arab dan Islam di tengah penderitaan Gaza adalah dosa besar menurut hukum Islam.

Fatwa tersebut, yang terdiri dari 15 poin, mendapat dukungan penuh dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sudarnoto Abdul Hakim, Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri, pada 8 April 2025, menyatakan bahwa fatwa ini selaras dengan keputusan Ijtima’ Ulama MUI. Ia menekankan kewajiban umat Islam untuk membela Palestina, termasuk dengan merekomendasikan pengiriman pasukan guna melindungi rakyat Gaza dari kebiadaban Israel.

Menurutnya, dunia Islam harus bersatu dalam pendekatan yang terkoordinasi untuk melawan agresor dan mewujudkan kemerdekaan Palestina.

Sudarnoto menambahkan bahwa membiarkan Israel terus melakukan pembantaian massal bertentangan dengan prinsip Islam, khususnya ajaran amar ma’ruf nahi munkar—mendorong kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Ia menyebut Israel sebagai “teroris terbesar abad ini” yang, bersama aliansi pendukungnya, mengancam perdamaian dunia. Jika tidak dihentikan, kehancuran akan meluas, dan umat Islam memiliki tanggung jawab untuk mengakhiri kemungkaran sistemik ini.

Perintah Jihad dalam Islam

Jihad dalam konteks ini bukan sekadar seruan emosional, melainkan panggilan yang berakar pada Al-Qur’an dan hadis. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 41:

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Berperanglah kalian dengan sendiri-sendiri atau berkelompok-kelompok, dan berjuanglah di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui.”

Ayat ini menegaskan bahwa jihad adalah kewajiban yang mencakup penggunaan harta dan jiwa demi keadilan. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 193, Allah juga memerintahkan:

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ

“Perangilah mereka sehingga tidak ada fitnah dan agama itu hanyalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan jika mereka berhenti (berperang) maka tidak boleh memusuhi kecuali atas orang-orang yang zalim.”

Ayat ini menunjukkan bahwa perjuangan melawan kezaliman harus berlangsung hingga fitnah berakhir, dengan fokus pada pelaku kezaliman.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Anas bin Malik:

عن أنس رضي الله عنه أن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «جَاهِدُوا المُشْرِكِينَ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَأَلْسِنَتِكُمْ». أخرجه أبو داود والنسائي

“Perangilah kaum musyrik dengan harta, jiwa, dan lisan kalian.” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i).

Sabda ini memperluas makna jihad, tidak hanya terbatas pada peperangan fisik, tetapi juga perjuangan melalui ucapan dan harta.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di membagi jihad menjadi dua jenis. Pertama, jihad untuk memperbaiki aqidah, akhlak, dan perilaku umat Islam, yang menjadi dasar utama. Kedua, jihad melawan musuh agama—seperti kaum kafir, munafik, atau pelaku kesesatan—yang menyerang Islam dan umatnya. Genosida di Gaza oleh Israel jelas termasuk dalam kategori kedua, menjadikannya panggilan jihad yang mendesak.

Posisi Umat Islam

Di tengah situasi ini, umat Islam dunia termasuk di dalamnya organisasi Islam seperti Hidayatullah memiliki peran strategis. Dalam Pedoman Dasar Organisasi Bab II Pasal 2 ayat 1, Hidayatullah disebut sebagai Al Haraqah Al Jihadiyah Al Islamiyah—gerakan perjuangan Islam yang merupakan bagian dari umat Muslim global. Posisi ini mewajibkan Hidayatullah menjawab seruan IUMS, tentunya dengan berkoordinasi bersama pemerintah dan organisasi lain untuk membela Palestina.

Ada beberapa langkah praktis yang dapat diambil. Pertama, menggalang donasi untuk membantu korban di Gaza. Kedua, menyebarkan informasi terkini dari sumber kredibel tentang kondisi di sana, baik melalui berita maupun foto.

Ketiga, mengorganisasi demonstrasi untuk menekan sekutu Israel, seperti Amerika Serikat. Keempat, mengajak umat untuk berdoa bagi perjuangan rakyat Palestina.

Kelima, memboikot produk-produk Israel sebagai bentuk tekanan ekonomi. Agar efektif, langkah-langkah ini perlu dikoordinasikan secara sistematis oleh Pengurus Pusat Hidayatullah, diikuti dengan pernyataan resmi organisasi.

Menyatukan Langkah

Seruan jihad ini bukan tanpa tantangan. Konsolidasi dunia Islam sering terhambat oleh perbedaan politik dan kepentingan nasional. Namun, fatwa IUMS dan dukungan MUI menjadi titik awal untuk menyatukan langkah. Pendekatan yang komprehensif—militer, ekonomi, dan politik—harus dijalankan secara serentak agar Israel dan sekutunya dapat ditundukkan.

Lebih dari itu, perjuangan ini adalah ujian bagi umat Islam untuk menegakkan keadilan. Membiarkan genosida berlangsung sama dengan mengabaikan perintah Allah dan Rasul-Nya. Sebaimana ditegaskan MUI, kehancuran Gaza bukan hanya tragedi lokal, tetapi ancaman global yang menuntut respons kolektif.

Rakyat Palestina, khususnya Gaza, sedang menanti pembelaan nyata kita dan dari semua orang orang merdeka di belahan bumi manapun. Jihad dalam berbagai bentuk—dari doa hingga aksi langsung—adalah cara umat Islam menunjukkan solidaritas.

Semoga seruan ini membuahkan langkah konkret, mengakhiri penderitaan, dan mewujudkan Palestina yang merdeka. Di mana posisi kita? Jawabannya ada pada tindakan yang kita ambil hari ini.[]

*) Nursyamsa Hadis, penulis dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah Depok, Jawa Barat

Semarak Silaturrahim Syawal 1446 Hidayatullah Jatim “Ukhuwah Rekatkan, Al Qur’an Laksanakan”

0

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya menjadi tuan rumah perhelatan akbar Silaturahim Syawal 1446 Hijriyah yang diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Timur pada hari Ahad, 7 Syawal 1446 H, bertepatan dengan tanggal 6 April 2025.

Mengusung tajuk “Ukhuwah Rekatkan, Al Qur’an Laksanakan,” semarak acara tahunan ini menjadi momentum merekatkan silaturrahim untuk merajut solidaritas kaum muslimin khususnya antar kader serta menguatkan komitmen terhadap nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Anggota Dewan Pertimbangan (Wantim) DPP Hidayatullah, Ust. H. Drs. Ec. Abdul Rahman, SE, Hadir sebagai narasumber utama yang menyampaikan taushiyah Syawal.

Dalam taushiyahnya, ia menegaskan bahwa silaturahim bukanlah sekadar pertemuan fisik, melainkan anugerah yang memiliki nilai strategis dalam membentuk karakter individu dan komunitas muslim.

“Silaturahim adalah anugerah yang mahal dan menjadi modal kuat untuk menjadi agen perubahan dan kehidupan,” ujar Abdul Rahman.

Beliau menggarisbawahi urgensi transformasi pasca-Ramadhan. Menurutnya, momentum suci yang telah dilewati sebulan penuh harus menjadi titik tolak bagi umat Islam untuk tidak hanya berhenti pada ritual, tetapi juga melahirkan dampak nyata dalam tatanan sosial dan kebangsaan.

Silaturahim Syawal, dalam pandangannya, adalah jembatan untuk mempertahankan energi spiritual tersebut, sekaligus memperkuat ikatan ukhuwah sebagai fondasi perjuangan dakwah.

“Pasca melalui madrasah bulan suci Ramadhan, hendaknya kita menjadi individu muslim yang semakin produktif dan progresif dalam amal sosial dan ritual, serta berdampak dalam kehidupan masyarakat, komunitas, dan kehidupan berbangsa,” pesannya.

Ustadz Abdul Rahman menekankan bahwa produktivitas dan progresivitas pasca-Ramadhan menjadi penanda bahwa keimanan harus diwujudkan dalam tindakan nyata dalam berbagai lingkup kehidupan.

Acara yang digelar di kompleks Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya ini dihadiri oleh berbagai elemen organisasi, mulai dari Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah, Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, hingga Ketua dan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Timur. Tak ketinggalan, ratusan kader dan perwakilan anggota Hidayatullah dari berbagai daerah di Jawa Timur turut memeriahkan suasana.

Ketua Panitia Kegiatan, Muhammad Idris, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Wilayah Hidayatullah Jawa Timur, menjelaskan bahwa Silaturahim Syawal ini memiliki makna mendalam bagi para penggerak dakwah. “Kegiatan ini adalah penyempurna energi dakwah kader dalam mengemban amanah setelah sebulan menjalankan rangkaian ibadah Ramadhan,” ungkap Idris.

Idris menambahkan, acara ini bukan hanya seremonial, tetapi juga sarana konsolidasi untuk memastikan langkah dakwah tetap relevan dan berdampak. “Pertemuan fisik menguatkan hati dan semangat penggerak dakwah di seluruh wilayah Jawa Timur,” imbuh Idris.

Lebih lanjut Idris mengungkapkan, Silaturahim Syawal 1446 H ini menjadi refleksi dari komitmen Hidayatullah Jawa Timur dalam menjaga tradisi keilmuan dan kebersamaan.

Tajuk “Ukhuwah Rekatkan, Al Qur’an Laksanakan” yang diusung, jelas dia, menjadi pijakan filosofis yang mengajak seluruh elemen organisasi untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup yang aktif dan dinamis.

“Dalam kerangka semangat tersebut, ukhuwah tidak dipahami sebagai ikatan emosional semata, melainkan kekuatan kolektif yang mampu mendorong perubahan sosial yang progresif,” kata Idris dalam keterangannya kepada media ini.

Pihaknya pun menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, sebagai tuan rumah dengan fasilitas yang representatif dan atmosfer keilmuan yang kental, yang kembali membuktikan perannya sebagai pusat pembinaan kader dan penyebaran nilai-nilai keislaman di Jawa Timur.

Salah satu peserta, Abdul Hamid, Ketua DPD Hidayatullah Kota Batu, turut berbagi kesan mendalam atas pengalamannya mengikuti kegiatan ini. Baginya, pertemuan ini bukan sekadar ajang silaturahim biasa, tetapi juga sumber inspirasi yang membakar semangat para dai untuk terus berkontribusi bagi umat dan bangsa.

Dalam suasana yang penuh kehangatan, ia mengaku merasakan energi berbeda yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. “Momen Silaturahim Syawal ini sungguh luar biasa dan kami nanti setiap tahunnya,” kata Hamid.*/

Inilah Empat Amalan Harian Alumnus Ramadhan

0

HARI hari setelah Ramadhan berlalu membawa kita pada refleksi Idulfitri. Secara harfiah, Idulfitri bermakna kembali kepada kesucian, sebuah pengingat akan fitrah manusia yang ditegaskan dalam Al-Qur’an:

فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, (tetaplah atas) fitrah Allah yang menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya” (QS. Ar-Rum: 30).

Para ulama menafsirkan bahwa ayat ini merujuk pada kecondongan jiwa dan raga manusia untuk selaras dengan Islam sebagai fitrah bawaan. Idulfitri, dengan demikian, bukan sekadar perayaan, melainkan momentum introspeksi mengenai sejauh mana madrasah Ramadhan telah membentuk kualitas iman kita, mengembalikan kita pada esensi penciptaan sebagai hamba yang berusaha menjalankan Al-Qur’an dan Sunnah.

Tujuan akhir dari puasa Ramadhan adalah terwujudnya insan bertakwa, sebagaimana digambarkan dalam firman Allah dalam Al Qur’an surah Ali Imran ayat 134-135:

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ. وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللّٰهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْۗ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللّٰهُۗ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ

“(Yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui”

Ayat ini menjadi fondasi bagi kita untuk menakar takwa melalui empat pilar utama yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan setelah Ramadhan usai.

Pertama, kebiasaan berinfak—memberi sebagian harta di jalan Allah—baik dalam kelapangan maupun kesempitan. Ramadhan acapkali membangkitkan semangat filantropi, namun tantangannya adalah melanggengkan kebiasaan ini di bulan-bulan berikutnya.

Allah berfirman, “Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan infakkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar” (QS. Al-Hadid: 7).

Infak di sini mencakup jihad fi sabilillah, pembangunan masjid, madrasah, hingga lembaga sosial yang diridai Allah. Banyak yang ragu berinfak karena khawatir hartanya berkurang, namun Rasulullah menegaskan bahwa sedekah tidak pernah mengurangi kekayaan, melainkan menjadi investasi akhirat.

Dalam QS. Al-Baqarah: 261, Allah mengibaratkan, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir tumbuh seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang dikehendaki, dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Bahkan, dalam QS. Al-Baqarah: 274, disebutkan, “Orang-orang yang menginfakkan hartanya malam dan siang hari (secara) sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya.” Janji pengganti pun ditegaskan dalam QS. Saba’: 39, “Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezeki yang terbaik.”

Kedua, pengendalian hawa nafsu, terutama dalam menahan amarah. Kehidupan selalu diwarnai cobaan, sebagaimana Allah tegaskan dalam QS. Al-Baqarah: 155, “Dan Kami pasti akan menguji kamu.”

Sabar menghadapi ujian tanpa keluh kesah adalah tanda kekuatan sejati. Rasulullah bersabda, “Siapa yang menahan amarahnya padahal ia mampu melakukannya, Allah ‘Azza wa Jalla akan memenuhi hatinya dengan rasa aman pada hari kiamat” (HR. Ibnu Asakir).

Dalam pandangan penulis, cobaan sejati hanya akan sirna ketika kita telah berada di surga. Oleh karena itu, di sinilah pentingnya kita memiliki pendekatan yang tepat untuk merespon setiap persoalan yang menghinggapi kita sehingga memiliki determinasi yang kuat dalam melakoni kehidupan untuk menjadi manusia pemenang. Bukan sebaliknya, menjadi manusia pecundang.

Ketiga, kesabaran sebagai sikap aktif dalam menghadapi penderitaan. Ibn Qayyim Al-Jawziyyah mendefinisikan sabar sebagai kemampuan menanggung rasa sakit tanpa mengeluh, sekaligus mencari solusi.

Sementara itu, Imam Al-Ghazali mengklasifikasikan sabar dalam tujuh bentuk: al-iffah (menahan nafsu perut dan farji), asy-syaja’ah (menahan diri dari permusuhan), al-hilm (menahan amarah), az-zuhd (menjauhkan diri dari kemewahan), al-qana’ah (menerima rezeki dengan ikhlas), serta kitmanu sirrin dan sa’atu shadrin (menjaga rahasia dan memaafkan orang lain).

Ali bin Abi Thalib menyamakan hubungan sabar dan iman seperti kepala dengan tubuh: tanpa sabar, iman akan rapuh. Kesabaran ini bukanlah kepasifan, melainkan kekuatan batin yang menuntun kita pada kemenangan spiritual.

Keempat, taubat atas dosa yang telah lalu. Nabi bersabda, “Setiap anak Adam pernah berbuat salah, dan sebaik-baik yang berbuat salah adalah yang bertaubat dari kesalahannya” (HR. At-Tirmidzi, no. 2499, hasan).

Kesadaran akan kekhilafan mendorong kita memperbanyak kalimat thayyibah—tahlil, tahmid, tasbih, dan istighfar—sebagai perisai dari godaan syaitan dan penghapus dosa. Nabi menjanjikan, “Barang siapa yang membaca ‘Maha Suci Allah dan aku memuji-Nya’ dalam sehari seratus kali, maka kesalahannya akan dihapuskan sekalipun seperti buih air laut” (HR. Bukhari: 7/168, Muslim: 4/2071, no. 2691).

Dalam hadits lain, beliau menyebut, “Perkataan yang paling disenangi oleh Allah adalah empat: Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, Allahu Akbar. Tidak mengapa dimulai yang mana di antara kalimat tersebut” (HR. Muslim: 3/1685, no. 2137).

Bulan Syawal, khususnya Idulfitri, menjadi momentum emas untuk saling memaafkan dan membuka lembaran baru. Bagi alumni madrasah Ramadhan, hari raya ini menandai komitmen menjalani kehidupan dengan kebiasaan mulia tadi: gemar berinfak dalam segala kondisi, menguasai hawa nafsu, menjalani kesabaran dengan penuh kendali, dan segera bertaubat atas setiap dosa. Semoga nilai-nilai ini terus terpatri dalam keseharian, mengantarkan kita pada kejayaan dunia dan akhirat.[]

*) Nursyamsa Hadis, penulis adalah Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Ummat Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Semoga Ramadan yang Telah Berlalu Menjadi Cermin yang tak Pecah

0

BULAN suci Ramadan telah pergi meninggalkan kita, bagaikan tamu agung yang datang membawa rahmat, lalu berlalu dengan senyap, menyisakan jejak luka di hati yang peka.

Ia hadir sebagai cermin jiwa, menyingkap tabir kelalaian kita, dan kini, ketika bayangannya telah sirna, kita ditinggalkan dalam sunyi yang penuh tanya: apakah kita telah menjadi hamba yang lebih baik, ataukah kita masih terpuruk dalam lumpur dosa yang sama?

Hati ini terasa berat, bukan hanya karena kepergiannya, tetapi juga karena kesadaran bahwa kita, umat yang mengaku beriman, masih jauh dari cahaya yang dijanjikan.

Ditambah lagi, luka yang lebih dalam menganga di dada: saudara-saudara kita di Palestina, darah mereka tumpah bahkan di hari kemenangan, Idulfitri 1446, saat tawa seharusnya menggema, digantikan oleh jerit tangis dan dentuman kehancuran.

Ramadan adalah madrasah ruhani yang mengajarkan kita tentang sabar, syukur, dan cinta. Namun, apa makna sabar kita di hadapan meja berbuka, ketika di ujung dunia sana, saudara kita berbuka dengan air mata dan puasa dengan kelaparan abadi?

Apa arti syukur kita atas nikmat kecil, ketika anak-anak Gaza tak lagi mengenal wajah pagi tanpa bayang-bayang maut? Dan cinta, oh, betapa rapuhnya cinta kita, yang tak mampu menjangkau mereka yang tercekik dalam keputusasaan.

Umat Islam, dengan jumlah miliaran jiwa, dengan negeri-negeri kaya minyak dan emas, ternyata tak lebih dari raksasa yang tertidur, tak berdaya di hadapan tangisan Palestina. Negara-negara muslim yang megah dengan gedung-gedung menjulang, yang sibuk dengan gemerlap dunia, seolah lupa bahwa di pundak mereka terpikul amanah untuk menolong yang lemah, melindungi yang tertindas.

Hati ini perih, bukan hanya karena dosa-dosa pribadi yang menumpuk bagaikan gunung, tetapi juga karena dosa kolektif kita sebagai umat. Kita menyaksikan pembantaian, kita mendengar jeritan, namun tangan kita terikat, langkah kita terhenti, dan suara kita tenggelam dalam kebisingan dunia.

Ramadan seharusnya menjadi titik balik, saat di mana kita menyadari bahwa keimanan bukan sekadar ritual, tetapi panggilan untuk bertindak. Ia mengajarkan kita tentang empati dalam lapar, tentang solidaritas dalam doa, tentang kekuatan dalam persatuan.

Tetapi, apakah kita telah belajar? Ataukah kita hanya menjadikannya sebagai tamu musiman yang kita sambut dengan gegap gempita, lalu kita lupakan begitu ia pergi?

Di tengah kemiskinan yang melanda dunia hari ini, di mana jutaan jiwa berjuang untuk sesuap nasi, Ramadan seharusnya membuka mata kita. Kelaparan bukan hanya milik mereka yang jauh di sana, tetapi juga milik tetangga kita, milik anak-anak yang berlari tanpa alas kaki di jalanan berdebu.

Jika kita tak mampu menghentikan peluru yang menghujam Palestina, setidaknya kita bisa mengulurkan tangan kepada mereka yang dekat, yang lapar, yang tak berdaya. Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi lainnya?

Namun, kita sering kali terlalu sibuk dengan diri sendiri, dengan dosa-dosa yang kita peluk erat, hingga lupa bahwa keimanan sejati diukur dari seberapa jauh kita mampu meringankan beban sesama.

Mari kita merenung dalam diam, menatap langit yang kelam, bertanya pada diri: kapan umat ini akan bangkit? Kapan kita akan menyadari bahwa persatuan adalah kekuatan yang telah lama kita abaikan? Ramadan telah pergi, tetapi harapan belum boleh padam.

Ia meninggalkan kita dengan pelajaran berharga, bahwa kelemahan kita bukan karena musuh yang kuat, tetapi karena hati yang terpecah, tangan yang tak saling menggenggam.

Semoga Ramadan yang telah berlalu menjadi cermin yang tak pecah, yang terus memantulkan wajah kita yang penuh noda, hingga kita tergerak untuk berubah. Semoga ia menjadi panggilan abadi, bahwa menolong yang lemah, memberi makan yang lapar, dan melindungi yang tertindas adalah diantara inti dari keimanan yang kita junjung.

Di ufuk sana, Palestina masih menanti. Di sudut dunia ini, kemiskinan masih merajalela. Dan di dalam dada kita, dosa masih bersemayam. Ramadan telah pergi, tetapi perjuangan kita belum usai.

Mari kita jadikan kepergiannya sebagai titik tolak untuk menjadi umat yang lebih baik, yang tak hanya pandai berdoa, tetapi juga berani bertindak. Sebab, pada akhirnya, Allah tak akan mengubah nasib suatu kaum, hingga kaum itu sendiri yang mengubahnya.[]

*) Suhardi Sukiman, penulis Sekretaris Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Daerah Khusus Jakarta, Pembina Pondok Pesantren Tahfidz Global Jayakarta Ciracas

[KHUTBAH JUM’AT] Merawat Capaian Taqwa Pasca Ramadhan

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

أما بعد : عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Segala puji hanya bagi Allah, Dzat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dia yang telah memperjalankan kita dalam madrasah Ramadhan, membimbing hati-hati yang lalai menuju kesadaran, dan menyucikan jiwa-jiwa yang terkotori oleh kelalaian dunia.

Betapa banyak nikmat yang telah kita kecap di bulan suci itu—rahmat-Nya yang mengalir deras, ampunan-Nya yang merangkul hamba-hamba yang bertaubat, serta keberkahan yang meresap dalam tiap helaan napas orang-orang yang beribadah dengan ikhlas.

Namun, kini Ramadhan telah berlalu. Apakah hati ini tetap bersinar dengan cahaya takwa, ataukah ia kembali redup diterpa arus dunia?

Shalawat serta salam yang tulus kita haturkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad ﷺ, cahaya penerang dalam gelap, rahmat bagi seluruh alam. Sang suri teladan yang sepanjang hidupnya menjaga ketakwaan dengan penuh keteguhan. Di dalam dirinya terdapat pelajaran bagi kita, bagaimana menjaga warisan spiritual setelah bulan penuh berkah pergi meninggalkan kita.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Kita baru saja menyelesaikan perjalanan suci sebulan penuh di bulan Ramadan. Betapa indahnya momen-momen itu terasa di hati. Dzikir yang mengalun lembut, lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang menyejukkan jiwa, tarawih yang penuh khusyuk, hingga qiyamullail yang membawa kita lebih dekat kepada Sang Pencipta.

Hari-hari kita lalui dengan penuh ketaatan, menjaga diri dalam lindungan ibadah puasa yang menjadi tameng dari godaan nafsu. Di dalamnya, dahaga ruhani kita bangkit, bekerja dengan penuh semangat, mengalahkan bisikan syahwat yang tak pernah lelah menggoda. Sungguh, Ramadan telah membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik, lebih tunduk, dan lebih sadar akan kebesaran Allah SWT.

Namun, saudara-saudaraku kaum muslimin yang dirahmati Allah, setelah kita memasuki bulan Syawal dan melangkah ke bulan-bulan berikutnya, pertanyaan besar menghampiri kita: akankah keindahan itu tetap hidup dalam jiwa kita?

Akankah kebiasaan mulia yang kita pupuk selama Ramadan terus mewarnai langkah kita, ataukah justru kita kembali terjerumus dalam kelalaian? Naudzubillahi min dzalik—semoga Allah melindungi kita dari keburukan itu.

Mereka yang mampu mempertahankan, bahkan meningkatkan intensitas ibadah dan ketaatan setelah Ramadan, adalah hamba-hamba pilihan yang telah meraih takwa sejati. Sebagaimana janji Allah dalam Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah ayat 183: “La‘allakum tattaqūn”—agar kalian bertakwa.

Takwa adalah mahkota tertinggi yang kita dambakan, bukti bahwa Ramadan bukan sekadar ritual, melainkan transformasi batin yang abadi.

Di era disrupsi seperti sekarang, tantangan untuk mempertahankan takwa terasa kian berat. Teknologi dan inovasi yang melaju kencang membawa perubahan besar dalam kehidupan. Hiruk-pikuk dunia modern menjadi ujian nyata bagi hati yang baru saja disucikan.

Di tengah godaan dan gemerlapnya dunia, Rasulullah SAW telah memperingatkan kita melalui sabdanya yang penuh makna sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim:

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Bersegeralah melakukan amal saleh sebelum datang fitnah seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit keuntungan dunia.”

Hadis ini adalah cermin besar bagi kita semua bahwa betapa rapuhnya iman jika tidak dijaga, betapa mudahnya hati tergoda oleh kilau dunia yang fana.

Ikhwani kaum muslimin yang berbahagia,

Di sinilah pentingnya lingkungan dan komunitas yang saleh. Beruntunglah kita jika dikelilingi oleh orang-orang yang senantiasa mengajak kepada kebaikan dan berani menegur saat kita melenceng.

Seperti yang digambarkan Allah dalam Surah Al-‘Ashr, mereka adalah insan-insan yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran (tawāṣaw bil-ḥaqq), dan saling menguatkan dalam kesabaran (tawāṣaw biṣ-ṣabr). Bersama mereka, kita bisa menjaga api takwa agar tak pernah padam, bahkan terus menyala lebih terang.

Sebaliknya, betapa mengerikan jika kita terjebak dalam lingkungan yang acuh tak acuh, enggan menasihati, dan takut menentang keburukan. Inilah akar kerusakan yang perlahan merenggut keimanan. Ketika sikap seperti ini merajalela, azab Allah tak lagi menjadi ancaman kosong.

Dalam Surah Al-Anfal ayat 25, Allah berfirman:

وَاتَّقُوْا فِتْنَةً لَّا تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَاۤصَّةًۚ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

“Peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim di antara kamu, dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksanya”.

Ayat ini adalah peringatan keras bahwa azab tidak pandang bulu; ia bisa menimpa sebuah kaum karena kebisuan mereka terhadap kezaliman.

Oleh karena itu, jamaah kaum muslimin yang berbahagia, mari kita berhijrah menuju komunitas yang lebih baik. Jika belum ada, bangunlah lingkungan itu dengan tangan kita sendiri.

Carilah sahabat-sahabat yang peduli, yang tak segan mengulurkan tangan saat kita terpuruk, dan yang berani menegur saat kita tersesat. Bersama mereka, kita rawat takwa yang telah kita tanam di bulan Ramadan.

Secara pribadi, mari kita juga perkuat benteng iman dengan menjaga sholat lima waktu—tepat waktu, berjamaah, dan di masjid—membaca Al-Qur’an dengan penuh tadabbur, menghidupkan malam dengan qiyamullail, dan menyisihkan harta untuk sedekah. Semua itu adalah perisai jiwa yang akan melindungi kita dari badai fitnah dunia.

Di akhir perjalanan ini, kita hanya bisa berserah diri kepada Allah SWT. Kita mohon pertolongan dan perlindungan-Nya agar tetap istiqamah dalam ketaatan. Semoga Allah Ta’ala menjaga kita dalam keridhaan-Nya hingga akhir hayat.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!!!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

KMH-Posdai Sebar 724 Khatib Idulfitri di Kota hingga ke Desa Pedalaman Nusantara

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Hari Raya Idulfitri selalu menjadi momen yang dinanti umat Islam di seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Di tengah gegap gempita takbir yang menggema, ada cerita menarik keberhasilan Korps Mubaligh Hidayatullah (KMH) bekerjasama dengan Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai) mengirimkan 724 khatib ke berbagai wilayah di Indonesia.

Dari kota-kota besar yang ramai hingga pelosok desa pedalaman yang terpencil, para mubaligh ini hadir untuk menyampaikan pesan-pesan kebaikan, mempererat tali silaturahmi, dan menguatkan ruhaniyah umat di hari kemenangan.

Direktur KMH, Ustadz Iwan Abdullah, M.Pd.I, mengatakan inisiatif sinergis ini sebagai upaya meneguhkan dedikasi dalam memperluas jangkauan dakwah. Iwam menyampaikan rasa syukur atas pencapaian tersebut.

“Kita berharap dukungan masyarakat untuk melahirkan mubaligh-mubaligh muda terus digencarkan,” ungkapnya dengan nada penuh harap.

Namun, di balik angka yang terlihat besar, Iwan mengakui bahwa 724 khatib masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan dakwah yang sangat luas, terutama pada momen-momen penting seperti Idulfitri, Iduladha, hingga khutbah salat Jumat. Meski demikian, langkah ini tetap menjadi tonggak berarti dalam memperkuat fondasi dakwah di Nusantara.

Penyebaran khatib Idulfitri 1446 H ini mencakup seluruh provinsi di Indonesia, menunjukkan komitmen KMH-Posdai untuk merangkul setiap lapisan masyarakat. Di Aceh, misalnya, 7 khatib berdiri di mimbar, sementara Sumatra Utara mengirimkan 20 khatib untuk menyapa jemaah.

Sumatera Selatan dan Sumatra Barat masing-masing menyumbang 10 dan 5 khatib, sedangkan Bengkulu menonjol dengan 28 khatib yang siap berbagi hikmah. Riau dan Kepulauan Riau turut berpartisipasi dengan 7 dan 25 khatib, diikuti Jambi dengan 2 khatib, Lampung 8 khatib, serta Bangka Belitung dengan 4 khatib.

Melintasi perairan ke Kalimantan, semangat dakwah tak kalah membara. Kalimantan Barat mengutus 3 khatib, sementara Kalimantan Timur menjadi sorotan dengan jumlah luar biasa, yakni 188 khatib. Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah masing-masing mengirimkan 3 dan 4 khatib, sedangkan Kalimantan Utara menugaskan 37 khatib untuk mengisi hari raya dengan nasihat bijak.

Di Pulau Jawa, Banten menghadirkan 3 khatib, Jakarta dan Depok berkolaborasi dengan 15 khatib, Jawa Barat dengan 14 khatib (berdasarkan data sementara), Jawa Tengah 3 khatib, DIY dan Jawa Tengah Bagian Selatan 35 khatib, serta Jawa Timur dengan 36 khatib yang siap menggugah hati.

Tak ketinggalan, Bali menyumbang 10 khatib, Nusa Tenggara Timur 4 khatib, dan Nusa Tenggara Barat 12 khatib, menunjukkan bahwa dakwah tak mengenal batas geografis. Di wilayah timur Indonesia, Gorontalo mengutus 12 khatib, Sulawesi Barat 22 khatib (data sementara), Sulawesi Tengah 11 khatib, Sulawesi Utara 14 khatib, Sulawesi Tenggara 38 khatib, dan Sulawesi Selatan menjadi penyumbang terbesar di kawasan ini dengan 83 khatib.

Sementara itu, Maluku Utara dan Maluku masing-masing mengirimkan 7 dan 8 khatib, sementara Papua Barat menghadirkan 11 khatib, Papua 15 khatib, Papua Tengah 10 khatib, Papua Pegunungan 1 khatib di Jayawijaya, Papua Selatan 6 khatib di Merauke, dan Papua Barat Daya 3 khatib di Sorong.

Iwan pun menyampaikan rasa syukurnya atas langkah yang turut didukung Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) ini yang dibarengi kerja keras dan semangat kolaborasi yang patut diapresiasi.

Menurutnya, para khatib ini tak hanya menyampaikan khotbah, tetapi juga menjadi jembatan yang menghubungkan umat dengan nilai-nilai keislaman yang universal.

“Mereka hadir di tengah masyarakat untuk mengingatkan pentingnya kebersamaan, pengampunan, dan perjuangan menuju kebaikan setelah sebulan penuh berpuasa,” katanya.

Dalam pada itu, Direktur Posdai Pusat, Ust. Abdul Muin, menegaskan bahwa perjalanan ini masih panjang. Kebutuhan akan mubaligh yang kompeten dan berdedikasi terus meningkat, seiring luasnya wilayah Indonesia dan kompleksitas tantangan dakwah masa kini. Idulfitri bukanlah akhir, melainkan awal dari langkah baru untuk memperkuat generasi muda dalam meneruskan estafet dakwah.

“Langkah kolaboratif ini menjadi bukti bahwa setiap usaha, sekecil apa pun, dapat membawa perubahan besar jika dilakukan dengan niat tulus dan kerja sama yang solid,” imbuhnya.

Dia berharap keterlibatan para dai 724 yang menjadi khatib Idulfitri 1446 H ini menjadi inspirasi bagi semua. Mereka adalah para pencerah yang tak kenal lelah, mengarungi jarak dan waktu demi menyemai harapan di hati umat. Di balik setiap khotbah yang mereka sampaikan, ada doa agar Indonesia terus menjadi negeri yang harmoni, dipenuhi nilai-nilai kebaikan dan keadilan.

“Semoga langkah ini menjadi pijakan bagi lahirnya lebih banyak mubaligh muda yang siap melanjutkan perjuangan mulia ini,” imbuhnya Muin menandaskan.*/

Kesalehan Ritual dan Sosial, Spirit Idul Fitri dalam Transformasi Diri dan Masyarakat

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Ummat (Dakwah Yanmat) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. H. Drs. Nursyamsa Hadis, menjadi khatib Idulfitri di Lapangan Pusat Rehabilitasi Kementerian Pertahanan (Pusrehab Kemhan), Jalan RC. Veteran Raya No.178, RT.9/RW.3, Bintaro, Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Senin, 1 Syawal 1446 (31/3/2025).

Dalam khutbah yang dibawakannya, Nursyamsa mengajak umat Islam untuk merenungkan makna spiritual dan sosial dari perayaan Idul Fitri, yang tidak hanya menjadi puncak kemenangan setelah menjalani ibadah Ramadhan, tetapi juga titik awal untuk mempertahankan kebaikan dan menebar manfaat bagi umat manusia.

Khutbahnya menekankan pentingnya istiqamah dalam beramal saleh sebagai wujud syukur atas nikmat Ilahi serta komitmen untuk terus memperbaiki diri dan lingkungan sekitar.

Dalam semangat kemenangan, Idul Fitri digambarkan dia sebagai momen refleksi atas ujian Ramadhan, di mana keberhasilan meraih takwa dan ampunan menjadi hadiah bagi yang tekun, sementara penyesalan menanti mereka yang lalai.

Dalam khutbah yang dibacakannya, Nursyamsa menyoroti dua dimensi utama keimanan: hubungan vertikal dengan Allah dan tanggung jawab horizontal kepada sesama.

Dalam dimensi pertama, umat diajak untuk mempertahankan kebiasaan baik Ramadhan—seperti shalat berjamaah, tilawah Al-Qur’an, dan sedekah—sebagai bukti kesungguhan menuju fitrah sejati.

Dalam dimensi kedua, panggilan untuk menjadi agen perbaikan (mushlih) ditegaskan sebagai respons terhadap berbagai kerusakan moral dan sosial yang disebabkan oleh perbuatan manusia, seperti korupsi, riba, dan kemaksiatan lainnya.

Dengan mengutip ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis, Nursyamsa sebagai khatib menggarisbawahi bahwa kebaikan individu harus meluas menjadi kebaikan kolektif, melalui kolaborasi dan persatuan untuk menyelamatkan masyarakat dari ancaman degradasi akhlak dan bencana.

Lebih jauh, Nursyamsa dalam khutbahnya mengedepankan nilai kemanusiaan dengan menekankan pentingnya peduli terhadap yang lemah—fakir miskin, anak yatim, dan orang tua—sebagai wujud nyata kesalehan sosial.

Pesan Rasulullah bahwa membantu sesama lebih utama daripada ibadah ritual tertentu menjadi landasan intelektual untuk menggeser paradigma dari kesalehan pribadi menuju kesalehan yang inklusif dan transformatif.

Masih dalam khutbahnya, ia juga menyentuh hubungan emosional dengan orang tua, yang menegaskan bahwa keberkahan hidup bergantung pada doa dan keridhaan mereka, sebuah pengingat yang mendalam tentang nilai-nilai keluarga dalam Islam.

Lebih lanjut, Nursyamsa dalam khutbahnya menawarkan kerangka berpikir yang seimbang antara kontemplasi spiritual dan aksi nyata yang tidak hanya merayakan Idul Fitri sebagai ritual tahunan, tetapi juga mengajak umat untuk menjadikannya momentum perubahan berkelanjutan. []

Penghujung Ramadhan, Depsos DPP Hidayatullah Gelar Refleksi Spiritual untuk Produktivitas Lansia

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Di penghujung Ramadhan yang penuh berkah, tepatnya pada Kamis, 27 Ramadhan 1446 H, Departemen Sosial DPP Hidayatullah menggelar kegiatan Senior Living Hidayatullah yang dirangkai dengan buka puasa bersama.

Bertempat di Yayasan Ar Ribat, Pondok Bambu, Jakarta Timur, acara ini mengusung tema inspiratif, “Bahagia di Usia Senja, Bersama Menuju Surga.” Sebanyak 50 lansia dari berbagai penjuru Jakarta turut hadir, menyemarakkan suasana dengan semangat kebersamaan dan refleksi mendalam.

Menikmati usia lanjut adalah impian yang kerap terucap dalam doa-doa di setiap perayaan hari kelahiran. “Panjang umur dan sehat selalu,” menjadi kalimat klise yang mencerminkan hasrat universal manusia.

Namun, ketika senja usia tiba, realitas tak selalu seindah harapan. Tanda-tanda penuaan perlahan muncul: kekuatan fisik merosot, pandangan mata memudar, daya ingat melemah, hingga kulit yang tak lagi kencang. Aktivitas pun menyusut, dan tak jarang waktu hanya dihabiskan di depan layar televisi, menanti hari berganti tanpa makna.

Dalam suasana penuh hikmah tersebut, KH. Fahmi Niman, narasumber utama kegiatan, menyampaikan pandangan yang menyegarkan tentang bagaimana mengisi usia senja dengan produktivitas dan kedamaian batin.

Kiai Fahmi menawarkan tiga pilar utama. Pertama, memperbanyak ibadah sebagai fondasi keseimbangan hidup. Dia menyebutkan, kesehatan bukan hanya soal fisik, tetapi juga mental dan spiritual.

“Rasulullah SAW telah mencontohkan pola hidup sehat: berpuasa, menjaga pola makan halal dan thayyib, serta aktif bergerak. Ini adalah rahmat Allah yang harus kita syukuri,” ujar Kiai Fahmi.

Dia menegaskan, dalam Islam, ibadah tak sekadar ritual, tetapi jalan menuju harmoni jiwa dan raga.

Pilar kedua, lanjut Kiai Fahmi, yakni doa untuk ketaatan dan istiqamah. Kiai Fahmi menegaskan bahwa ibadah yang telah dibangun sejak muda tak otomatis bertahan di usia tua.

“Konsistensi itu anugerah, dan doa adalah kuncinya,” pesannya. Di fase ketika tenaga kian rapuh, harapan kepada Allah menjadi penopang agar langkah tetap lurus di jalan-Nya.

Ketiga, menjaga hati dari penyakit batin seperti hasad, riya, dan ujub. Membersihkan diri dari sifat tercela adalah upaya menjaga kesehatan spiritual, sebuah investasi tak ternilai menuju kebahagiaan sejati. “Penyakit hati ini tak hanya merusak hubungan sosial, tetapi juga menggerogoti ketenangan jiwa,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Departemen Sosial DPP Hidayatullah, Musliadi Rasmin, menjelaskan bahwa Senior Living Hidayatullah hadir sebagai solusi bagi lansia yang rentan menghadapi tantangan kesehatan, baik fisik maupun mental.

“Dari sisi spiritual, pembinaan emosional sangat penting agar mereka tetap teguh dan bahagia. Dari sisi fisik, lansia rentan terhadap penyakit karena daya tahan tubuh menurun seiring penuaan organ,” paparnya.

Mantan Ketua Umum Pemuda Hidayatullah ini menambahkan, program ini dirancang untuk menciptakan lingkungan yang mendukung lansia menjalani hidup bermakna, sekaligus mempersiapkan mereka menuju tempat terbaik di sisi Allah.

Acara ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan cerminan dari visi Islam tentang keseimbangan hidup. Dalam buka puasa bersama, lansia tak hanya berbagi hidangan, tetapi juga inspirasi.

Mereka diajak merenung bahwa usia senja bukan akhir dari produktivitas, melainkan awal dari perjalanan spiritual yang lebih mendalam. Seperti kata filsuf Muslim Ibnu Sina, “Kesehatan adalah harmoni antara tubuh dan jiwa,” dan Departemen Sosial DPP Hidayatullah melalui turunan programnya berupaya mewujudkan harmoni itu bagi para lansia.

Musliadi menambahkan, di tengah gemuruh modernitas yang sering melupakan generasi tua, Senior Living Hidayatullah menjadi oase. Ia mengingatkan bahwa bahagia di usia senja bukan utopia, melainkan tujuan yang dapat diraih melalui ibadah, doa, dan hati yang bersih.

“Bersama, mereka melangkah menuju surga—tak hanya sebagai harapan, tetapi sebagai janji yang dirawat dengan penuh kesadaran,” tandas bos Ayya Catering ini.[]

Menapaki Jalan Menuju Harakah Terbaik untuk Umat

0

PADA tanggal 1 Muharram 1393 Hijriah atau 5 Februari 1973, sebuah tonggak sejarah berdirinya pesantren Hidayatullah tercatat di Karang Bugis, Kalimantan Timur. Inisiatif ini lahir dari tangan KH Abdullah Said, seorang yang berdedikasi membangun fondasi pendidikan dan kebaikan untuk umat.

Setelah wafatnya sang pendiri, pesantren ini terus berkembang pesat di bawah kepemimpinan KH Abdurrahman Muhammad sebagai penerus. Perjalanan panjang ini membawa Hidayatullah menuju transformasi besar.

Pada 13 Juli 2000, melalui musyawarah nasional pertama, Hidayatullah resmi menjadi organisasi masyarakat (ormas). Kemudian, pada 26 April 2011, statusnya diperkuat sebagai badan hukum perkumpulan.

Kini, di usianya yang ke-52 tahun pada 2025, Hidayatullah menghadapi pertanyaan besar: bagaimana organisasi ini bisa menjadi gerakan (harakah) terbaik yang benar-benar melayani umat? Jawabannya terletak pada aktualisasi panggilan suci yang tercantum dalam Al-Qur’an, khususnya dalam surat Ali Imran ayat 110:

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِۗ

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah”

Ayat ini menegaskan tiga pilar utama untuk menjadi umat terbaik: mengajak kepada kebaikan (amar makruf), mencegah keburukan (nahi munkar), dan memegang teguh keimanan kepada Allah. Pesan ini diperkuat lagi dalam surat Ali Imran ayat 104:

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

“Hendaklah ada di antara kamu menjadi bagian dari sekelompok umat yang mengajak pada kebajikan, menyuruh pada yang makruf, dan melarang yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”

Dua ayat ini menjadi panduan bagi setiap kader Hidayatullah untuk menjalankan peran mereka, baik secara individu maupun sebagai bagian dari organisasi.

Mengajak Kebaikan, Mencegah Keburukan

Istilah amar makruf nahi munkar merujuk pada upaya mengajak manusia kepada hal-hal yang baik dan mencegah segala bentuk keburukan. Ma’ruf mencakup segala sesuatu yang dicintai Allah, seperti keyakinan yang kuat, ibadah wajib (sholat, zakat, puasa, haji), sedekah, jihad di jalan Allah, hingga membantu sesama.

Sebaliknya, munkar adalah segala yang dibenci Allah, mulai dari kemusyrikan (syirik), penyakit hati seperti iri (hasad) dan riya’, hingga perbuatan dosa seperti zina, mencuri, minum khamr (minuman keras), atau menyakiti orang lain.

Bagi kader Hidayatullah, panggilan ini bukan sekadar di alam cerita. Mereka harus menjadi pelopor dalam aksi nyata. Misalnya, ketika umat menghadapi kemiskinan atau kesulitan ekonomi, kader Hidayatullah perlu hadir dengan solusi konkret—bukan hanya diam atau acuh.

Jika organisasi ini ingin dicintai dan dirasakan manfaatnya oleh umat, maka setiap anggotanya harus tampil sebagai teladan dalam berbagai aspek kehidupan. Kehadirannya harus terasa penting dan melengkapi, dan ketiadaannya harus dirasakan sebagai kehilangan.

Namun, menjalankan amar makruf nahi munkar tidak bisa sembarangan. Allah memberikan petunjuk dalam surat An-Nahl ayat 125:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Ayat ini menekankan tiga cara dalam berdakwah: pertama, dengan hikmah—bijaksana, sopan, dan sesuai situasi. Kedua, dengan mau’izhah hasanah—nasihat yang lembut dan tidak menyakiti hati. Ketiga, dengan mujadalah—dialog yang membangun, didukung argumen kuat dan dalil yang jelas.

Untuk mencegah kemunkaran, Rasulullah SAW juga bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيْمَانِ

“Barangsiapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah ia mengubah dengan hatinya, dan itulah keimanan yang paling lemah.”

Hadits ini menggarisbawahi tiga tingkatan tindakan: dengan tangan (aksi nyata sesuai kewenangan), lisan (teguran atau peringatan), dan hati (penolakan batin). Setiap kader harus menyesuaikan langkahnya dengan kemampuan dan posisinya masing-masing.

Iman kepada Allah untuk Menuju Gerakan Terbaik

Mengajak kebaikan dan mencegah keburukan bukanlah tugas ringan. Tantangan dan cobaan akan selalu mengiringi. Di sinilah keimanan kepada Allah menjadi penentu.

Iman bukan sekadar ucapan, tetapi keyakinan mendalam akan keberadaan Allah, kekuasaan-Nya (rububiyah), keesaan-Nya dalam ibadah (uluhiyah), serta nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang sempurna.

Seorang kader Hidayatullah harus terus belajar dan memperkuat imannya. Tanpa pondasi yang kuat, godaan setan bisa melemahkan langkah mereka dalam berdakwah. Ketika iman tertanam dalam hati, setiap tindakan akan menjadi ibadah yang bernilai di sisi Allah.

Perjalanan 52 tahun adalah bukti komitmen Hidayatullah. Namun, untuk menjadi yang terdepan, langkah nyata harus terus diperkuat. Dengan mengamalkan Al-Qur’an dan hadits sebagai pedoman, Hidayatullah bisa menjadi cahaya yang membawa kebaikan bagi umat, hari ini dan di masa depan.

Jika setiap kader Hidayatullah menjalankan amar makruf nahi munkar dengan penuh keimanan, mereka akan menjadi insan-insan terbaik. Kolaborasi antar-insan terbaik ini akan membentuk umat yang unggul—umat yang dicari dan dirindukan. Pada titik itu, Hidayatullah bukan hanya menjadi gerakan yang disegani di mata umat, tetapi juga harakah yang mendapat tempat istimewa di hadapan Allah SWT.

(Depok, 28 Ramadhan 1446 / 28 Maret 2025)

*) Nursyamsa Hadis, penulis adalah Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Ummat Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah