Beranda blog Halaman 102

Syawalan Hidayatullah Tekankan Kontinuitas Semangat Ibadah Selepas Ramadhan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menyelenggarakan agenda nasional bertajuk Syawalan Pengurus Hidayatullah Se-Indonesia pada Sabtu, 20 Syawal 1446 (19/4/2025).

Kegiatan ini diikuti oleh jajaran pengurus dari berbagai wilayah di Indonesia secara virtual melalui Zoom Meeting, dengan mengusung tema “Mengokohkan Komitmen Kepemimpinan dalam Organisasi.”

Dalam kesempatan ini, Ketua Umum DPP Hidayatullah, KH. Dr. Nashirul Haq, Lc., MA., hadir sebagai pemateri utama. Ia menyampaikan pesan tentang pentingnya kontinuitas semangat ibadah dan perjuangan selepas Ramadhan. “Jadilah engkau insan robbani sepanjang masa, jangan hanya di bulan Ramadhan saja,” tegasnya.

KH Nashirul Haq mengingatkan agar spirit Ramadhan tidak dikhianati setelah Syawal, seperti wanita yang memintal benang lalu mengurainya kembali.

Menurutnya, Syawal harus menjadi momentum peningkatan iman, ilmu, dan amal. Ia juga menekankan bahwa keistiqomahan tidak bisa dipertahankan sendiri, melainkan harus dirawat dalam kebersamaan bersama orang-orang shalih dan struktur organisasi yang kokoh.

“Ber-Hidayatullah itu berat bagi mereka yang tidak memiliki idealisme dan militansi,” ujarnya. Karena itu, pemimpin di setiap level organisasi harus menguatkan visi dan misi berdasarkan manhaj nabawi.

Mengacu pada QS. Ali Imran ayat 103, beliau menekankan pentingnya berpegang teguh pada kebenaran dalam bingkai jamaah dan kepemimpinan. “Ahlussunnah wal Jamaah bukan hanya konsep, tetapi praktik nyata dalam menjalankan Islam secara kolektif dan terorganisir,” jelasnya.

KH. Nashirul Haq juga mengurai sistematika wahyu sebagai fondasi pergerakan Hidayatullah: dimulai dari pembentukan aqidah (Al-‘Alaq), pemahaman ber-Qur’an (Al-Qalam), penguatan ibadah (Al-Muzzammil), dan baru kemudian dakwah (Al-Muddatstsir) hingga terbangun peradaban islam (Al-Fatihah). “Inilah urutan dakwah profetik yang harus dijaga,” katanya.

Dalam konteks kepemimpinan, KH Nashirul menyampaikan bahwa seorang pemimpin harus memiliki kekuatan mental dan spiritual, keyakinan terhadap ayat-ayat Allah, serta integritas tinggi.

Kepemimpinan yang efektif, tegasnya, harus mampu membangun kepercayaan jamaah melalui konsistensi, transparansi, dan keteladanan. “Top leader harus menjadi role model bagi para bawahannya, serta bisa mendelegasikan pekerjaan teknis dengan efektif,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa organisasi memerlukan pemimpin yang kompeten dan mampu meningkatkan kapabilitasnya. Program-program strategis membutuhkan standardisasi dan pelibatan anggota melalui musyawarah yang bermakna.

Konsolidasi di dalam organisasi menjadi sorotan penting dalam syawalan ini. KH. Nashirul Haq menekankan tiga aspe yaitu Konsolidasi Jati Diri yang mencakup pengokohkan idealisme perjuangan berdasarkan sistematika wahyu dan imamah jamaah, Konsolidasi Organisasi untuk membangun jaringan yang luas, menyiapkan SDM berkualitas, dan melakukan standardisasi seluruh lini, dan Konsolidasi Wawasan untuk memperluas pengetahuan seputar dinamika organisasi, konteks Nusantara dan global, serta memahami karakter zaman.

Ia juga menyampaikan peringatan atas fenomena perpecahan umat yang menjadi sumber kelemahan, sebagaimana digambarkan dalam sabda Nabi bahwa kelak umat Islam akan dikerumuni oleh musuh seperti makanan dikerumuni, bukan karena jumlah mereka sedikit, tetapi karena kehilangan soliditas dan bingkai jamaah, seperti buih di lautan.

“Pemimpin harus terus melakukan evaluasi dan muhasabah secara rutin, fokus mencari solusi, bukan sibuk menyalahkan,” ujarnya.

Dalam penutupnya, KH. Nashirul Haq menyerukan kepada seluruh pengurus untuk mengoptimalkan mujahadah, menuntaskan amanah, dan terus melahirkan kader-kader berkualitas yang mampu membangun komunitas Islami, menyelenggarakan pendidikan dan dakwah secara profetik dan profesional, serta menjalin kerjasama strategis dengan elemen umat dan bangsa.*/

Spirit Syawal, Hidayatullah Teguh Meniti Jalan Ahlussunnah dan Perjuangkan Soliditas Umat

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Di tengah dinamika zaman yang terus berubah, Hidayatullah sebagai organisasi keislaman yang berpijak pada nilai-nilai ahlussunnah waljamaah menegaskan komitmennya untuk tetap berada di garis terdepan dalam memperjuangkan kebenaran dan solidaritas umat.

Menjelang Musyawarah Nasional (Munas) VI, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH Dr Nashirul Haq, mencetuskan sebuah spirit baru “Optimalkan Mujahadah, Tuntaskan Amanah” yang disampaikan dalam acara Silaturrahim Syawal Bersama DPW Hidayatullah se-Indonesia secara daring, Sabtu, 20 Syawal 1446 (19/4/2025).

Tagline ini jelas dia sebagai cerminan semangat untuk menyelesaikan tugas-tugas besar dengan penuh kesungguhan di tengah keterbatasan waktu. “Karena pekerjaan rumah kita masih sangat banyak sementara waktu sangat singkat,” tegasnya.

Munas VI Hidayatullah rencananya akan digelar pada bulan November mendatang, yang akan menjadi tonggak penting dalam perjalanan Hidayatullah, dipersiapkan dengan penuh keyakinan dan ketaatan pada regulasi organisasi.

Berbeda dengan dinamika organisasi politik yang kerap diwarnai dengan pendaftaran calon dan kompetisi, terang Nashirul, Hidayatullah tetap selalu dalam jalan musyawarah yang inklusif. “Kita berbeda dengan organisasi politik, ada pendaftaran calon, Hidayatullah semuanya melalui musyawarah,” ungkap Nashirul.

Dia menjelaskan, prinsip musyawarah mufakat ini adalah kearifan kolektif yang menempatkan kepentingan bersama di atas ambisi individu, sekaligus menegaskan identitas Hidayatullah sebagai organisasi yang berpijak pada prinsip syura.

Teguh Pada Kebenaran dan Menjaga Persatuan

Pada penyampaiannya dalam acara Silaturrahim Syawal ini, Nashirul menegaskan pentingnya menjaga komitmen kepemimpinan yang berakar pada Al-Qur’an, khususnya Surah Ali Imran ayat 103:

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْاۖ وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara…”

Ayat ini, menurut Nashirul, menyandingkan dua perintah utama yakni berpegang teguh kepada kebenaran Islam—dalam istilah Hidayatullah dikenal sebagai manhaj rabbani dan manhaj nabawi—dan bergerak bersama dalam kebersamaan tanpa tercerai-berai.

“Ayat ini mendorong kita untuk berjamaah, bergerak bersama dalam kebaikan, dan inilah yang kemudian menjadi jatidiri Hidayatullah, ahlussunnah waljamaah,” jelasnya.

Dalam konteks gerakan Hidayatullah, ayat ini menjadi landasan ideologis yang kuat. Nashirul menjelaskan, manhaj rabbani menegaskan komitmen untuk menjalankan Islam secara murni berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah, sementara manhaj nabawi merujuk pada cara Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan dakwah dengan hikmah, keteladanan, dan kesabaran.

Prinsip berjamaah, sebagaimana ditekankan dalam ayat ini, menjadi perekat yang memastikan Hidayatullah tetap solid dan terdepan dalam memperjuangkan nilai-nilai kebenaran.

“Ahlussunnah adalah orang yang konsisten di jalan Allah dan konsisten dalam jamaah kaum muslimin,” tambah Nashirul, seraya menegaskan bahwa Hidayatullah berupaya menjadi teladan terbaik dalam mewujudkan semangat ini.

Spirit Ali Imran 103 juga mengingatkan pada kisah awal perjuangan Rasulullah SAW di Makkah. Meski jumlah pengikutnya sedikit, kekuatan mereka terletak pada keimanan yang kokoh dan solidaritas yang tak tergoyahkan.

Hidayatullah, dengan semangat yang sama, bertekad untuk menjaga manhaj gerakan dan soliditas kepemimpinan sebagai dua pilar utama. “Inilah sesungguhnya menjadi kekuatan Islam, ada manhaj gerakan, ada soliditas dalam kepemimpinan, jika keduanya terjaga maka Hidayatullah akan terjaga, eksis, dan maju. Ini sunnatullah,” tegas Nashirul.

Prinsip ini, menurut Nashirul, menjadi pengingat bahwa keberhasilan sebuah gerakan tidak diukur dari jumlah, melainkan dari kualitas keimanan dan kekompakan.

Kunci Kekuatan Organisasi

Untuk mewujudkan visi besar tersebut, Nashirul memaparkan sejumlah kunci strategis yang harus dipegang teguh oleh seluruh elemen Hidayatullah. Pertama, menguatkan visi dan misi. “Kita harus tahu visi misi kita, sehingga kita tahu kita mau ngapain dan sadar ngapain kita di sini,” katanya.

Visi besar Hidayatullah adalah membangun peradaban Islam yang unggul, yang diwujudkan melalui Sistematika Wahyu sebagai metodologi perjuangan yang menggairahkan. Pendekatan ini menekankan pentingnya integritas antara ucapan dan perbuatan, transparansi, serta amanah dalam setiap langkah.

Kedua, kepemimpinan syura yang inklusif. Hidayatullah menjunjung tinggi musyawarah sebagai mekanisme pengambilan keputusan, memastikan setiap anggota merasa dilibatkan dan didengar. “Sehingga semua merasa diperankan, dilibatkan, dan kita sebagai leader hadir mendengarkan,” ujar Nashirul.

Pendekatan ini tidak hanya memperkuat rasa memiliki terhadap organisasi, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai demokrasi Islam yang berlandaskan keadilan dan kebersamaan.

Ketiga, membangun budaya organisasi yang kokoh. Ini membutuhkan keteladanan dari pemimpin, pembiasaan nilai-nilai positif, serta keterbukaan terhadap inovasi dan kolaborasi.

Di era modern yang penuh tantangan, kata Nashirul, Hidayatullah dituntut untuk terus bersinergi dan menghasilkan terobosan dalam berkhidmat kepada umat. Selain itu, delegasi tugas yang berbasis pada skala prioritas dan peningkatan kompetensi menjadi elemen penting untuk menjaga dinamika organisasi.

Terakhir, Nashirul menegaskan pentingnya konsolidasi jatidiri dan organisasi. Hidayatullah harus terus berjuang dengan manhaj rabbani dan manhaj nabawi, serta menjalankan perjuangan secara jama’i (bersama-sama).

Dengan pendekatan metodologis seperti ini, dia menekankan, Hidayatullah tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu menjadi pelopor dalam mewujudkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.*/

LSH Hidayatullah Gelar Bimtek Juru Sembelih Halal dan Pengukuhan Pengurus Wilayah

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Sembelih Halal (LSH) Hidayatullah menggelar acara Bimbingan Teknis (Bimtek) dan Pelatihan Juru Sembelih Halal yang digelar selama 3 hari di Pusat Dakwah Hidayatullah, Cipinang Cempedak, Otista, Polonia, Jakarta, dibuka pada Sabtu, 20 Syawal 1446 (19/4/2025).

Dalam kehidupan seorang muslim, memastikan kehalalan makanan yang dikonsumsi bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan wujud ketaatan kepada Allah SWT sekaligus bentuk tanggung jawab sosial.

Dalam sambutannya membuka acara ini, Ketua Dewan Pembina LSH Hidayatullah, Drs. Nursyamsa Hadis, menegaskan pentingnya menjaga kehalalan pangan hewan sebagai amanah ilahi yang memiliki dimensi spiritual, sosial, dan ekonomi.

Ia menyoroti dasar hukum eksistensi LSH, peran strategisnya dalam mengawal kehalalan, serta peluang ekonomi yang terbuka melalui pengelolaan sembelihan halal yang profesional.

LSH Hidayatullah, terang Nursyamsa, hadir sebagai garda terdepan dalam memastikan masyarakat muslim Indonesia mengonsumsi daging yang disembelih sesuai syariat. Dengan mengacu pada Al-Qur’an, khususnya Surah Al-Baqarah ayat 168, Nursyamsa menegaskan bahwa kehalalan pangan adalah perintah universal bagi umat manusia.

“Ayat ini menjadi landasan utama yang menegaskan bahwa makanan halal dan thayyib adalah kebutuhan esensial untuk menjaga kesucian jiwa dan raga,” katanya.

Lebih lanjut, Surah Al-Maidah ayat 5 memperjelas bahwa sembelihan dari Ahlul Kitab diperbolehkan, sementara Surah Al-An’am ayat 121 melarang konsumsi sembelihan yang tidak menyebut nama Allah, karena hal itu merupakan kefasikan. Ketiga ayat ini menjadi pijakan teologis bagi LSH Hidayatullah dalam menjalankan misinya.

Di sisi hukum positif, LSH Hidayatullah beroperasi sesuai Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal. UU ini mengatur pengawasan, sertifikasi, dan pengakuan sertifikat halal, memberikan kerangka hukum yang kuat bagi lembaga seperti LSH untuk memastikan standar kehalalan terpenuhi.

“Dalam hal ini, LSH tidak hanya berperan sebagai lembaga sertifikasi, tetapi juga sebagai agen dakwah yang menjaga umat dari konsumsi daging yang tidak sesuai syariat,” imbuhnya.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan pengukuhan Pengurus Wilayah LSH Hidayatullah se-Indonesia kepada 24 peserta yang hadir perwakilan dari berbagai provinsi di tanah air. Pengukuhan dilakukan langsung oleh Ketua LSH Hidayatullah Pusat, Ust. H. Nanang Hanani, S.Pd.I, MA, dan turut disaksikan Dewan Pembina dan Pengawas.

Nursyamsa menekankan dua langkah strategis bagi pengurus LSH. Pertama, memperluas pelayanan sembelihan halal ke Rumah Potong Hewan (RPH) dan masyarakat secara umum. Dan, Kedua, mengikuti bimbingan teknis untuk memperoleh sertifikasi sebagai jaminan pelayanan profesional.

“Kedua langkah ini untuk meneguhkan komitmen LSH untuk tidak hanya memenuhi kebutuhan spiritual umat, tetapi juga meningkatkan standar profesionalisme dalam pengelolaan sembelihan halal,” terang Nursyamsa.

Dengan memperluas jangkauan ke RPH, LSH ingin memastikan bahwa daging yang beredar di pasar, restoran, dan rumah tangga memenuhi kriteria syariat. Sementara itu, Bimtek menjadi sarana untuk membekali para pegiat LSH dengan pengetahuan dan keterampilan teknis, sehingga pelayanan yang diberikan tidak hanya halal secara syariat, tetapi juga higienis dan terpercaya.

Menyentuh Aspek Ekonomi dan Dakwah

Menariknya, Nursyamsa juga menyoroti dimensi ekonomi dari keberadaan LSH. Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS) terkait jumlah RPH dan volume hewan yang dipotong—seperti sapi, kambing, dan ayam—terlihat adanya ceruk ekonomi yang menjanjikan.

Menurut Nursyamsa, industri sembelihan halal tidak hanya berkontribusi pada pemenuhan kebutuhan pangan, tetapi juga membuka peluang usaha bagi pelaku ekonomi syariah, mulai dari penyedia jasa sembelihan hingga distribusi daging halal.

Namun, lebih dari sekadar peluang ekonomi, Nursyamsa menegaskan bahwa peran LSH adalah media dakwah dan menyelamatkan umat dari mengonsumsi daging hewan yang tidak disembelih secara syariah.

“Dalam konteks Indonesia, di mana mayoritas penduduknya muslim, tanggung jawab ini menjadi semakin krusial. Konsumsi daging yang tidak halal tidak hanya berdampak pada aspek spiritual individu, tetapi juga pada kepercayaan masyarakat terhadap sistem pangan yang mereka konsumsi,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua LSH Hidayatullah Pusat, Ust. H. Nanang Hanani, dalam keterangannya menambahkan, sebagai bagian dari jaringan Hidayatullah, LSH memiliki akar yang kuat dalam gerakan dakwah dan pendidikan Islam.

“Lembaga ini tidak hanya fokus pada sertifikasi halal, tetapi juga pada edukasi masyarakat tentang pentingnya kehalalan pangan hewan. Melalui pelatihan, sosialisasi, dan pengawasan di RPH, LSH berupaya membangun ekosistem pangan halal yang terintegrasi,” jelas Nanang.

Dalam hal ini, lanjut Nanang, LSH tidak sekadar menjadi pengawas, tetapi juga pendidik yang membimbing masyarakat menuju kesadaran akan pentingnya memilih makanan yang halal dan thayyib.

Nanang menyadari bawah di tengah tantangan modern seperti globalisasi dan maraknya produk impor, peran LSH semakin strategis sehingga dituntut untuk terus menguatkan perannya tersebut.

“Lembaga ini menjadi benteng yang memastikan bahwa nilai-nilai syariat tetap terjaga di tengah dinamika pasar. Dengan pendekatan yang menggabungkan nilai spiritual, profesionalisme, dan peluang ekonomi, LSH Hidayatullah menunjukkan bahwa menjaga kehalalan pangan adalah misi yang multidimensional,” katanya.

Dia menegaskan, dengan landasan Al-Qur’an, dukungan hukum nasional, dan strategi pelayanan yang profesional, LSH tidak hanya berupaya mengawal kehalalan daging yang dikonsumsi umat, tetapi juga membuka jalan bagi kebangkitan ekonomi berbasis syariat.

“Mari bersama-sama menjaga kehalalan pangan, bukan hanya untuk diri kita, tetapi juga untuk generasi mendatang, demi terwujudnya kehidupan yang barokah dan sesuai dengan kehendak Ilahi,” tandasnya.*/

[KHUTBAH JUM’AT] Dari KTT Asia-Afrika Menuju Solidaritas untuk Pembebasan Palestina

0

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

أما بعد : عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dzat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang telah melimpahkan kepada kita berbagai nikmat, terutama nikmat iman dan Islam.

Hanya dengan rahmat-Nya lah kita dapat kembali berkumpul dalam majelis mulia ini, menunaikan kewajiban sebagai hamba yang tunduk dan patuh pada perintah-Nya.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, suri teladan sepanjang zaman, yang telah membawa cahaya petunjuk dari kegelapan menuju terang benderang.

Semoga kita termasuk umat yang istiqamah dalam mengikuti sunnah beliau hingga akhir hayat.

Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Hari ini, 18 April 2025, kita memperingati 70 tahun Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika 1955 di Bandung, sebuah momen bersejarah ketika 29 negara Asia dan Afrika, yang sebagian besar baru merdeka, bersatu menyuarakan anti-kolonialisme, perdamaian, dan kemerdekaan bagi setiap bangsa.

Sebuah momen haru yang sarat makna, ketika bangsa-bangsa yang baru saja lepas dari belenggu penjajahan saling menggenggam tangan dalam semangat solidaritas dan perjuangan.

Di Gedung Merdeka, para pemimpin seperti Soekarno, Nehru, Ali Jinnah, dan Nasser menegaskan bahwa penjajahan adalah kejahatan terhadap kemanusiaan, sebagaimana dijunjung dalam Pembukaan UUD 1945:

“Kemerdekaan adalah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Namun, di tengah gema semangat Bandung, hati kita tersayat oleh kenyataan pahit hari hari ini. Palestina, saudara kita, masih menderita di bawah cengkeraman penjajahan Zionis Israel, dihantui genosida yang telah merenggut lebih dari 50.000 nyawa, sebagian besar perempuan dan anak-anak.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah ayat 191, mengingatkan kepada kita bahwa membela diri dari penindasan dan penjajahan adalah hak, bahkan kewajiban, ketika kaum Muslimin diusir dari tanah mereka dan dihancurkan secara sistematis.

وَاقْتُلُوْهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوْهُمْ وَاَخْرِجُوْهُمْ مِّنْ حَيْثُ اَخْرَجُوْكُمْ وَالْفِتْنَةُ اَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِۚ

Dukungan kita kepada Palestina yang dijajah dan dibakar adalah perjuangan kemanusiaan dan keimanan, di mana Masjid Al-Aqsa, kiblat pertama umat Islam, masih dirantai penjajahan.

Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Konferensi Asia-Afrika 1955 mengamanatkan solidaritas untuk kemerdekaan setiap bangsa. Presiden Soekarno dalam sambutannya pada pembukaan KTT kala itu berseru dengan berapi api:

“Kita bersatu, misalnya, oleh sikap yang sama dalam membenci kolonialisme dalam bentuk apa saja yang muncul. Kita bersatu oleh sikap yang sama dalam hal membenci rasialisme. Dan kita bersatu karena ketetapan hati yang sama dalam usaha mempertahankan dan memperkokoh perdamaian dunia”.

Namun, kini, bagaimana kita bisa merayakan semangat ini ketika saudara kita di Gaza hidup di bawah reruntuhan, tanpa air, makanan, dan obat-obatan, sementara dunia—termasuk sebagian negara Muslim—terdiam?

Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa seorang mukmin dengan mukmin yang lain bagaikan sebuah bangunan. Satu sama lain saling menguatkan sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim. Jika satu bagian tubuh umat ini terluka, bukankah seluruh tubuh harus merasakan sakitnya?

اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

Hadirin yang dimuliakan Allah, genosida di Palestina sangat mengerikan.

Lebih dari 115.000 jiwa terluka, 2 juta orang terpaksa mengungsi, dan infrastruktur Gaza hancur. Ini adalah kejahatan kemanusiaan yang didukung oleh kekuatan besar, namun ditoleransi oleh kebungkaman sebagian dunia.

Ulama dunia, melalui Persatuan Cendekiawan Muslim Internasional (IUMS), telah mengeluarkan fatwa pada awal April 2025 ini, menyerukan jihad untuk membela Palestina.

Sekretaris Jenderal IUMS, Syaikh Ali Al-Qaradaghi, menegaskan, bahwa jihad melawan pendudukan adalah kewajiban individu bagi setiap Muslim yang mampu.

Fatwa ini melarang segala bentuk normalisasi dengan Israel, menyerukan boikot ekonomi, dan mendesak intervensi militer, finansial, serta diplomatik dari negara-negara Muslim untuk menghentikan genosida.

Indonesia, sebagai pewaris semangat KTT Asia-Afrika, memiliki tanggung jawab moral dan konstitusional untuk membela Palestina. Pemerintah Indonesia, dari era Soekarno hingga kini, konsisten menolak normalisasi dengan Israel dan mendukung solusi dua negara.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Fatwa Nomor 83 Tahun 2023 menegaskan bahwa mendukung agresi Israel adalah haram, sementara boikot produk yang terafiliasi dengan Israel adalah wajib. Ini adalah wujud nyata solidaritas kita, namun kita harus bertanya: sudahkah kita melakukan cukup?

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah,

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dalam konteks kekinian, solidaritas untuk Palestina menghadapi tantangan besar. Dunia modern, dengan segala kemajuan teknologi dan diplomasinya, gagal menghentikan kebrutalan Israel.

Dewan Keamanan PBB dan Mahkamah Internasional kerapkali mandul di hadapan veto kekuatan besar. Sementara itu, normalisasi hubungan beberapa negara Arab dengan Israel, serta kebungkaman sebagian pemimpin Muslim, adalah pengkhianatan terhadap amanah KTT Asia-Afrika yang menyerukan persatuan melawan penjajahan.

Analisis kritis menunjukkan bahwa genosida di Palestina bukanlah peristiwa spontan, melainkan bagian dari proyek kolonialisme Zionis yang telah berlangsung sejak abad ke-20. Dukungan militer dan finansial dari Amerika Serikat dan sekutunya memungkinkan Israel bertindak tanpa hukuman.

Namun, kita juga harus introspeksi, apakah umat Islam telah bersatu? Fatwa ulama dunia menyerukan kepemimpinan global umat untuk memobilisasi kekuatan, tetapi realitasnya, ego nasionalisme dan kepentingan politik seringkali menghambat langkah kolektif.

Indonesia, dengan posisinya sebagai negara Muslim terbesar, harus memimpin. Ratifikasi Konvensi Genosida 1948, sebagaimana direkomendasikan oleh berbagai organisasi masyarakat sipil, akan memperkuat posisi hukum Indonesia di panggung internasional.

Selain itu, boikot ekonomi harus diperluas, bukan sekadar seruan, tetapi kebijakan nasional yang tegas. Kita juga harus mendorong OKI untuk mengambil langkah konkret, seperti menghentikan ekspor minyak ke Israel dan membentuk aliansi militer Islam, sebagaimana diusulkan dalam fatwa IUMS.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Inisiatif Indonesia untuk mengadakan KTT Asia-Afrika 1955 adalah mercusuar harapan bagi bangsa-bangsa terjajah, namun Palestina tetap menjadi luka terbuka di hati umat. Kita tidak boleh puas dengan kecaman atau donasi semata.

Allah memerintahkan dalam Surah Al-Hujurat ayat 10:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَࣖ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudara kalian.”

Persaudaraan iman menuntut kita berjuang hingga Palestina merdeka. Mari kita wujudkan semangat nyala api KTT di Bandung 70 tahun lalu ini dengan aksi nyata: boikot, doa, dan tekanan kepada dunia untuk menghentikan genosida.

KTT Asia-Afrika 1955 adalah panggilan untuk melawan penjajahan. Indonesia harus memimpin dengan keberanian, menggalang solidaritas global, dan mendukung fatwa ulama untuk jihad melawan penjajahan.

Hanya dengan persatuan dan aksi nyata, kita dapat mewujudkan dunia yang bebas dari penindasan. Semoga Allah membebaskan Al-Aqsa dan memberikan kemenangan kepada rakyat Palestina. Aamiin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

اَللّٰهُمَّ انْصُرِ الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمِ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ. اَللّٰهُمَّ اكْشِفْ الغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْفَعَ الْبَلَاءَ عَنْ غَزَّةَ وَأَهْلِهَا، وَأَنْ تَنْصُرَهُمْ عَلَى عَدُوِّهِمْ، وَأَنْ تَرْحَمَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ، وَأَنْ تَكْشِفَ الْغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ عَافِنَا وَالْطُفْ بِنَا وَاحْفَظْنَا وَانْصُرْنَا وَفَرِِّجْ عَنَّا وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اكْفِنَا وَإِيَّاهُمْ جَمِيْعًا شَرَّ مَصَائِبِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ

!!!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

(Untuk mengunduh naskah ini ke format PDF, klik icon “print” pada share button di bawah lalu pilih simpan file PDF)

Kementerian Kesehatan Gaza Sebut 1.400 Lebih Tenaga Medis Gugur di Gaza

0

GAZA (Hidayatullah.or.id) – Kementerian Kesehatan Gaza mengumumkan lebih dari 1.400 tenaga medis gugur sejak dimulainya agresi genosida ‘Israel’ yang didukung Amerika Serikat (AS) terhadap rakyat Palestina di Gaza.

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada Selasa (15/4/2025) melalui Telegram, kementerian tersebut mengonfirmasikan: “Lebih dari 1.400 tenaga kesehatan telah gugur, sedangkan sekitar 360 orang lainnya masih ditahan di penjara-penjara penjajah ‘Israel’.” Demikian dilaporkan The Palestinian Information Center (PIC) dan dikutip Sahabat Al Aqhsa.

Sejak dimulainya agresi ‘Israel’ pada 7 Oktober 2023, sebagian besar rumah sakit dan fasilitas medis di Gaza telah menjadi sasaran pengeboman berulang kali.

Penjajah ‘Israel’ melakukan penghancuran sistematis infrastruktur kesehatan dan menghalangi perawatan medis yang penting bagi ribuan orang yang terluka dan sakit.

Dengan dukungan penuh dari AS, ‘Israel’ terus melanjutkan agresi genosida-nya di Gaza.

Hal tersebut mengakibatkan hampir 167.000 warga Palestina dibunuh dan terluka, yang sebagian besar di antaranya adalah perempuan dan anak-anak. Selain itu, lebih dari 11.000 orang masih dinyatakan hilang.

Penjajah ‘Israel’ telah mempertahankan blokade di Gaza selama 18 tahun. Sebagai kejahatan yang terus berlangsung, sekira 1,5 juta dari 2,4 juta penduduk Gaza mengungsi.

Wilayah tersebut juga menghadapi kelaparan hebat akibat penutupan pelintasan dan pencegahan masuknya bantuan kemanusiaan oleh penjajah ‘Israel’.

Merawat Warisan Merajut Konektivitas sebagai Strategi Kultural dan Institusional

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Dalam konteks dinamika sosial-kultural dan pendidikan tinggi Islam di Indonesia, kegiatan silaturahim antar alumni merupakan strategi penguatan jati diri institusi dan kontinuitas nilai-nilai perjuangan. Inilah yang tercermin dalam kegiatan Sapa Alumni yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni STIS Hidayatullah (IAS-HIDA) pada Ahad, 14 Syawal 1446 H (13/4/2025) lalu.

Dengan mengusung tema “Merajut Kembali Ikatan, Menguatkan Jalan Perjuangan”, acara ini menjadi ruang artikulasi nilai, memori kolektif, serta sinergi strategis antara kampus dan para alumninya.

Kegiatan yang berlangsung secara hybrid (daring dan luring) di Ruang Rapat Utama Gedung WKP, Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur, ini menjadi momentum penting dalam merekatkan hubungan struktural dan emosional antar insan STIS.

Momentum ini mengingatkan pada pentingnya membangun social capital dalam pendidikan dimana jejaring sosial berperan penting dalam menunjang keberlanjutan institusi dan memperkuat kepercayaan antar anggotanya.

Kegiatan ini dihadiri mulai dari dosen senior hingga para Ketua STIS Hidayatullah dari berbagai periode.

Dalam sesi pembukaan, sambutan disampaikan oleh Ketua Umum IAS-HIDA periode 2023–2028, Ustadz Nasikin, S.H., M.E., serta Ketua STIS Hidayatullah Balikpapan, Ustadz Muh. Zaim Azhar, Lc., M.H.

Dalam sambutannya, Ustadz Zaim menyampaikan penghargaan mendalam terhadap kehadiran para alumni seraya menegaskan pentingnya kolaborasi antara kampus dan alumni:

“STIS sejak 2004 hingga 2025 telah meluluskan 18 angkatan. Ini merupakan potensi besar untuk kolaborasi dan sinergi antara kampus dan alumni, demi pengembangan mutu perguruan tinggi serta kapasitas alumni,” ungkapnya.

Lebih jauh, ia menyampaikan harapan agar forum ini menjadi wadah berbagi wawasan dan motivasi. Penekanan ini penting untuk menghubungkan kembali paradigma akademik dengan dinamika kehidupan praktis para alumni.

Dipandu oleh Ustadz Aji Prasetyo, S.H., sesi utama Sapa Alumni menjadi ruang reflektif dan historis. Ustadz Dr. Nashirul Haq, sebagai nakhoda pertama STIS Hidayatullah dan kini menjabat Ketua Umum DPP Hidayatullah, membuka sesi ini dengan narasi tentang masa-masa awal pendirian STIS.

Ia mengenang keterbatasan infrastruktur, mulai dari papan tulis hitam hingga ruang belajar tanpa meja. Bukan sekadar nostalgia, melainkan pelajaran bahwa nilai-nilai perjuangan dan semangat pengorbanan adalah warisan tak ternilai.

“Kita ini sama-sama sedang mengemban amanah yang berat dan itu adalah ujian semampu apa kita mengemban amanah yang sangat berat ini,” katanya.

Maka, lanjutnya, konsep-konsep STIS yang menjadi idealisme awal dan di PUZ juga harus dinarasikan supaya itu menjadi warisan, karena jangan sampai terjadi defiasi.

Beliau menekankan pentingnya menjaga kesinambungan nilai (value continuity) dan identitas institusional sebagai basis perjuangan. Dalam konteks institusi pendidikan Islam, ini menjadi penting agar tidak tercerabut dari akar sejarah dan cita-cita awal pendirian.

Sesi berikutnya memperkaya refleksi dengan kontribusi intelektual dari para dosen senior lainnya, yaitu Ustadz Dr. Abdul Gofar Hadi, Ustadz Dr. Abdurrahim, dan Ustadz Masykur Suyuti, Lc., M.Pd.

Menjelang akhir kegiatan, sesi Kata Alumni menjadi wadah ekspresi para alumni, seperti yang disampaikan oleh perwakilan angkatan 2013, Ustadz Ismail Zalukhu, S.H., M.Pd. yang kini bertugas di Bangka Belitung.

Ismail menekankan pentingnya menjaga kesinambungan silaturahim sebagai bentuk ikhtiar kolektif dalam membangun peradaban melalui jalur pendidikan:

“Silaturahim ini harus terus berlanjut sebagai bagian dari ikhtiar bersama membangun peradaban melalui pendidikan,” katanya.

Kegiatan ini kemudian ditutup dengan doa bersama, yang bukan hanya menjadi simbol spiritualitas, namun juga sebagai afirmasi bahwa perjuangan yang dibangun harus disertai kesadaran transendental.

Di akhir acara, Ustadz Zaim kembali menegaskan amanah kepada para alumni untuk menjaga nama baik almamater serta berkontribusi nyata, termasuk dengan menyebarkan informasi terkait Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) STIS Hidayatullah tahun 2025.

Hal ini terang dia merupakan bentuk konkret dari institutional advocacy—upaya untuk memperkuat posisi dan citra institusi melalui partisipasi aktif para alumninya.*/

Meneguhkan Kolaborasi Ormas Islam dan Pemerintah dalam Membangun Jakarta

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Daerah Khusus Jakarta (DKJ) bersama 20 organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam lainnya melakukan silaturrahim sekaligus audiensi dengan Ketua DPRD Daerah Khusus Jakarta, Drs. H. Khoirudin, M.Si, serta Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Biro Pendidikan Mental dan Spiritual (Dikmental) Setda Provinsi DKI Jakarta, Aceng Zaeni, pada Rabu, 18 Syawal 1446 (1/4/2025).

Selain silaturrahim, pertemuan ini juga menjadi ruang komunikasi untuk membahas peran, dukungan, serta masa depan kolaborasi antara ormas Islam dan pemerintah daerah.

Muhammad Isnaini, Ketua DPW Hidayatullah DKJ, dalam sambutannya menekankan pentingnya menjalin sinergi antara ormas Islam dan pemerintah.

“Silaturahim semacam ini adalah upaya mempererat hubungan strategis dalam membina masyarakat. Ormas Islam tidak sekadar entitas keagamaan, melainkan mitra strategis pemerintah sebagai garda terdepan dalam pembinaan umat,” ujarnya.

Lebih jauh, Isnaini memperkenalkan Hidayatullah sebagai gerakan keislaman yang menjunjung tinggi nilai persatuan dan kebersamaan sebagai modal penting dalam memajukan umat dan membangun bangsa.

Di tengah tantangan sosial dan ekonomi urban yang kompleks, Hidayatullah tetap aktif menjalankan program-program seperti pesantren, rumah dan majelis Qur’an, serta berbagai inisiatif sosial dan pemberdayaan ekonomi. Semua ini, sebagaimana ditegaskan Isnaini, membutuhkan dukungan finansial yang berkesinambungan.

Dalam konteks tersebut, Isnaini secara terbuka menyampaikan harapan terhadap keberlanjutan dan pemerataan akses terhadap dana hibah pemerintah. Dana hibah ini, menurutnya, merupakan bagian dari amanah publik yang seyogianya dapat digunakan untuk memperkuat kegiatan dakwah dan sosial kemasyarakatan.

“Pada dasarnya, dana itu akan kembali kepada umat dalam bentuk kegiatan keislaman yang konstruktif di masyarakat,” kata Isnaini.

Dalam sebuah masyarakat yang plural dan majemuk seperti Jakarta, tambah Isnaini, ormas Islam memainkan peran penting sebagai agen perubahan sosial yang berbasis nilai-nilai spiritual dan moral.

Dengan demikian, terangnya, pertemuan ini menjadi langkah strategis memperkuat harmoni antara ormas Islam dan pemerintah yang didasari oleh kepedulian terhadap umat dalam membangun Jakarta yang inklusif dan religius, disamping sebagai kota modern yang membutuhkan interaksi yang kreatif antara spiritualitas dan tanggung jawab sosial.

Menanggapi hal ini, Ketua DPRD DKJ Drs. H. Khoirudin, M.Si menyambut positif kehadiran rombongan ormas Islam. Ia menegaskan bahwa setiap organisasi memiliki hak untuk mengakses dana hibah, asalkan mengikuti prosedur dan regulasi yang berlaku.

“Dana hibah adalah dana negara, maka penggunaannya harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan sesuai aturan,” ujarnya, seraya menggarisbawahi pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana publik, terutama yang dialokasikan untuk kegiatan keagamaan.

Pertemuan ini juga membuka ruang harapan dari berbagai ormas Islam yang hadir agar pemerintah memberikan perhatian yang adil dan proporsional kepada semua elemen keumatan.

Sejumlah peserta menegaskan bahwa kiprah ormas Islam dalam mendidik, melayani, dan memperbaiki kondisi umat terus berjalan, baik dengan atau tanpa dukungan anggaran dari negara.

Pertemuan ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting dari berbagai ormas Islam yang mewakili keberagaman kultur dan pendekatan dakwah di ibu kota. Selain perwakilan Hidayatullah, hadir pula para pimpinan dari Persatuan Umat Islam (PUI), Mathlaul Anwar, dan Al Washliyah.

Berikutnya, hadir pula pimpinan Ikatan Dai Indonesia (Ikadi), Ikatan Muballighin dan Muballighat Indonesia (IMMI), Wahdah Islamiyah, Persaudaraan Muslimin Indonesia (PARMUSI), Syarikat Islam, serta Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti). Dari DPW Hidayatullah sendiri, hadir pula Suhardi Sukiman sebagai Sekretaris Wilayah dan Ade Syariful Allam sebagai Bendahara Wilayah.*/

Pemuda Hidayatullah Dukung Penuh Fatwa Jihad Ulama Internasional Bela Gaza

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Perjuangan umat Islam yang tertindas, khususnya di Gaza, P4lestina, terus menuai simpati dan dukungan dunia internasional secara luas. Apalagi penjajah Israel kembali berulah dengan mengingkari janjinya dan kembali melakukan genosida.

Teranyar, Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah ikut menyerukan kecaman kepada penjajah. Seruan ini juga disebutkan sebagai penegasan komitmen dalam membela hak-hak umat Islam yang teraniaya, khususnya di Gaza.

Dalam rilis resmi yang ditandatangani oleh Ketua Umum PP Pemuda Hidayatullah pada Rabu (9/4/2025) tersebut, Pemuda Hidayatullah (Pemhida) menyerukan sejumlah dukungan dan ajakan kepada seluruh pemuda Islam di manapun berada.

“Dukungan penuh terhadap fatwa jihad; Kami mendukung penuh fatwa jihad yang dikeluarkan oleh ulama internasional sebagai respons terhadap agresi yang dialami oleh umat Islam, khususnya di Gaza. Fatwa ini merupakan panggilan moral bagi setiap Muslim berjuang demi keadilan dan hak asasi manusia,” tegas Rasfiuddin Sabaruddin, Ketum PP Pemuda Hidayatullah mengawali surat dukungan tersebut.

Bersatu dalam Aksi

Selanjutnya, Pemuda Hidayatullah menyerukan kepada seluruh pemuda Muslim untuk tetap bersatu dalam aksi solidaritas.

Persatuan ini disebutnya adalah kunci utama memperkuat suara dan menunjukkan bahwa Pemuda tidak akan tinggal diam dan terus menggalang aksi solidaritas.

Pemhida juga mengajak setiap pemuda Muslim untuk terlibat aksi nyata dalam perjuangan mendukung kemerdekaan rakyat Gaz4 dan P4lestina.

“Kami mengajak pemuda untuk berkontribusi dalam berbagai bentuk aksi, baik melalui penggalangan dana, kampanye kesadaran, maupun dukungan moral kepada mereka yang teraniaya, setiap tindakan kecil dapat memberi dampak besar bagi yang mereka yang membutuhkan,” lanjut bunyi seruan itu.

Tarbiyah dan Dakwah

Dari sejumlah seruan yang dirilis, Pemuda Hidayatullah juga tetap mengingatkan agenda strategis berupa pentingnya program tarbiyah dan dakwah, khususnya yang terkait dengan perkembangan dunia Islam internasional dan peta politik global yang dihadapi.

“Agar setiap Muslim berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran di kalangan pemuda tentang pentingnya memahami isu-isu global uang dihadapi umat Islam. Melalui pendidikan, kita berharap dapat membentuk generasi yang peka dan responsif terhadap tantangan yang ada,” ujarnya.

Galakkan Doa

Terakhir, Pemhida terus menggalakkan dukungan spiritual dengan mendoakan keselamatan dan keberkahan bagi saudara-saudara umat Islam di Gaz4 dalam melawan ketidakadilan dan penindasan oleh penjajah Zion1s-Is**el.

“Doa adalah senjata yang ampuh dalam menghadapi tantangan dan kesulitan. Semoga Allah memberikan kekuatan dan petunjuk kepada kita semua dalam menjalankan amanah ini,” pungkasnya.

Fatwa Jihad Ulama Internasional

Sebelumnya, sebagaimana dirilis media nasional Hidayatullah.com, Persatuan Ulama Muslim Internasional (IUMS), sebuah organisasi yang sebelumnya dipimpin oleh Syeikh Yusuf al-Qaradhawi, mengeluarkan fartwa dan menyerukan kepada semua negara Muslim “segera campur tangan secara militer, ekonomi, dan politik” guna menghentikan genosida dan penghancuran di Jalur Gaza, Palestina.

“Komite [IUMS] mengeluarkan fatwa yang mengharuskan blokade udara, darat, dan laut terhadap musuh yang menduduki untuk mendukung saudara-saudara kita di Gaza,” demikian isi fatwa yang ditandatangani Syeikh Dr. Fadl Abdullah Murad (Ketua Komite) dan Syeikh Prof. Dr Ali Muhyiddin al-Qaradaghi (Sekretaris Komite).

Pernyataannya, yang juga didukung 14 ulama Muslim terkemuka juga menyerukan pada semua negara Muslim untuk melakukan aliansi militer, meninjau perjanjian dengan ‘Israel’, menekan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, melakukan aksi boikot menyeluruh, melakukan jihad harta dan menghentikan normalisasi dengan pihak penjajah. Ada 15 poin bunyi fatwa Persatuan Ulama Muslim Internasional (IUMS)./* (Abu Jaulah/@Ummulqurahidayatullah)

Gubernur dan Wakil Gubernur Papua Barat Daya Halal Bihalal Idulfitri di Ponpes Hidayatullah

SORONG (Hidayatullah.or.id) — Gubernur Provinsi Papua Barat Daya Elisa Kambu, S.Sos dan Wakil Gubernur, Ahmad Nausrau, S.Pd.I., MM menghadiri acara Halal Bihalal Idulfitri 1446 di Pondok Pesantren Hidayatullah SP3, Kabupaten Sorong, Propinsi Papua Barat Daya, Jumat, 12 Syawal 1446 (11/4/2025).

Pada kesempatan tersebut, Wakil Gubernur Papua Barat Daya Ahmad Nausrau menjadi perhatian setelah berpidato dalam Bahasa Arab di acara tersebut.

“Ingin saya sampaikan pada Anda dalam Bahasa Arab sebagai pembelajaran dan memotivasi bagi para santri, dari Pondok Pesantren Hidayatullah dan pondok pondok lainnya, yang hadir di majelis ini. Saya dan Bapak Elisa Kambu (Gubernur Papua Barat Daya 2025 mantan Bupati Asmat) ingin bersyukur pada Allah, atas nikmat yang diberikan pada kita, “ ujarnya dalam Bahasa Arab tanpa teks.

“Dan kami ingin berterima kasih pada Anda semua, atas kepedulian Anda dan pilihan Anda dalam Pemilu untuk Provinsi Papua Barat Daya,” tambahnya lagi.

Dalam pidatonya, Ahmad Nausrau menegaskan bahwa Papua Barat Daya adalah tempat di mana semua agama diterima dengan baik, di mana masyarakat hidup dalam harmoni dan menghargai nilai-nilai toleransi.

“Kami hidup dalam harmoni, menghargai nilai-nilai toleransi dari setiap agama,” ujar Nausrau.

Pidato Ahmad Nausrau mendapat apresiasi yang luas dari masyarakat, terutama netizen setelah hal ini viral di media sosial. Hal ini dianggap sebagai bentuk kedekatan dengan masyarakat Muslim serta simbol dari komitmen terhadap keberagaman.

Lahir 28 Juni 1982 di Kaimana, Papua Barat, Ahmad Nausrau terpilih jadi Wakil Gubernur Papua Barat Daya pertama untuk periode 2025–2030.

Semenjak kecil ia memperoleh pendidikan sekolah Islam. Ia pernah menjadi santri Pesantren Al-Irsyad Pasuruan, MAN 2 Madiun, lalu melanjutkan Bahasa Arab di Ma’had Al-Birr, Universitas Muhammadiyah Makassar.

Ia kemudian sempat kuliah di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir dan melanjutkan gelar sarjananya di IAI Al-Aqidah, Jakarta.

Sebelum ini, ia pernah menjadi Ketua MUI Kabupaten Kaimana, termasuk termuda se-Indonesia saat memimpin MUI di usia 25 tahun. Selanjutnya, ia menjabat Ketua MUI Provinsi Papua Barat selama dua periode (2016–2026).

Di bawah kepemimpinannya, kantor-kantor MUI dibangun megah dan menjadi simbol kekuatan ukhuwah Islamiyah di Papua.

Ahmad Nausrau memulai kiprahnya di politik bersama Partai Gerindra, sempat mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI pada 2019 dan menjadi Ketua Tim Pemenangan Prabowo-Sandi di Papua Barat. Pada Pilpres 2024, ia kembali dipercaya sebagai Ketua Tim Relawan Prabowo-Gibran untuk wilayah Papua Barat.*/Miftahuddin

Hidayatullah di Usia Emas, Merajut Dakwah dan Pendidikan melalui Jaringan Bisnis

0
Ust. Drs. Wahyu Rahman (Foto: dok/ hidayatullah.or.id)

MEMASUKI usia 50 tahun kedua, Hidayatullah telah menorehkan perjalanan panjang yang penuh makna dalam memperluas jaringan dakwah dan pendidikan di seluruh Nusantara.

Organisasi ini telah menunjukkan kekokohan yang bersahaja, dengan kehadiran cabang-cabangnya hingga ke pelosok tanah air, membawa misi dakwah dan pendidikan yang terus berkembang secara signifikan.

Penugasan para da’i secara massif, pendirian sekolah-sekolah berbasis tauhid, serta pendekatan yang mengakar pada nilai-nilai keindonesiaan telah menciptakan dampak positif yang dirasakan masyarakat luas.

Upaya tersebut tidak hanya mengukuhkan eksistensi Hidayatullah sebagai lembaga dakwah, tetapi juga menempatkannya sebagai pelopor pendidikan Islam yang mampu menjawab tantangan zaman.

Namun, di usia emas yang kedua ini, Hidayatullah menghadapi panggilan baru yang mendesak, yaitu aktifasi dan transformasi menuju jaringan bisnis. Langkah ini bukanlah upaya untuk mengalihkan fokus dari misi inti organisasi, melainkan sebuah strategi cerdas untuk memastikan keberlanjutan dan penguatan misi dakwah dan pendidikan.

Dalam dunia yang terus berubah, keterbatasan finansial sering kali menjadi hambatan bagi organisasi nirlaba untuk memperluas jangkauan dan meningkatkan kualitas programnya.

Oleh karena itu, pengembangan sayap ekonomi menjadi langkah yang relevan sekaligus strategis untuk mengokohkan fondasi Hidayatullah, sehingga sayap dakwah dan pendidikan yang telah mengepak kuat dapat terbang lebih tinggi.

Transformasi ini menawarkan peluang untuk membangun kemandirian finansial yang kokoh. Dengan fondasi finansial yang memadai, Hidayatullah dapat lebih mandiri dalam mencapai tujuan-tujuan strategisnya, termasuk pengembangan program-program inovatif yang relevan dengan kebutuhan masyarakat modern.

Kemandirian finansial juga memberikan keleluasaan bagi organisasi untuk menentukan sikap politiknya tanpa tekanan dari pihak eksternal. Dalam konteks Hidayatullah, yang memiliki visi besar untuk berkontribusi bagi kemajuan bangsa, kebebasan ini menjadi sangat penting.

Dengan dukungan finansial yang kuat, Hidayatullah dapat fokus pada penciptaan solusi-solusi kreatif, seperti pengembangan kurikulum pendidikan yang kontekstual atau program pemberdayaan masyarakat yang berbasis nilai-nilai Islam.

Lebih dari sekadar stabilitas finansial, penguatan jaringan bisnis juga membawa efek berganda yang signifikan. Jaringan bisnis yang dibangun dengan integritas dan berlandaskan etika Islam dapat menjadi sarana dakwah yang efektif di luar ruang-ruang konvensional.

Melalui praktik bisnis yang menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan, kejujuran, dan kepedulian sosial, Hidayatullah dapat mengedukasi masyarakat tentang penerapan Islam dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam dunia usaha.

Dengan begitu, dakwah tidak lagi terbatas pada mimbar masjid atau ruang kelas, tetapi hadir dalam setiap transaksi, keputusan bisnis, dan interaksi dengan komunitas. Pendekatan ini memperluas cakupan dakwah sekaligus membuat peran Hidayatullah semakin relevan di tengah masyarakat yang terus bertransformasi.

Langkah menuju jaringan bisnis juga merefleksikan kesiapan Hidayatullah untuk beradaptasi dengan dinamika zaman. Di tengah tantangan modernisasi dan globalisasi, organisasi dakwah dituntut untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga berinovasi.

Dengan mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam model bisnis yang berkelanjutan, Hidayatullah dapat menjadi teladan dalam menjalankan misi sosial secara sinergis dengan pengelolaan ekonomi yang sehat.

Pendekatan ini juga membuka peluang untuk menciptakan lapangan kerja, memberdayakan komunitas lokal, dan memperkuat ekonomi umat—semua merupakan wujud nyata dari komitmen Hidayatullah untuk memajukan bangsa.

Di usia 50 tahun, Hidayatullah tidak hanya mensyukuri pencapaian luar biasa di bidang dakwah dan pendidikan, tetapi juga mempersiapkan diri untuk babak baru yang lebih dinamis dan inklusif.

Transformasi menuju jaringan bisnis bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari fase yang lebih progresif. Dengan kemandirian finansial yang terbangun, Hidayatullah dapat terus memperluas jangkauan misinya, menjaga spirit dakwah dan pendidikan sebagai inti perjuangan, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi kemaslahatan umat dan bangsa.

Ke depan, langkah-langkah ini akan menjadi pijakan penting bagi Hidayatullah untuk tetap relevan, adaptif, dan inspiratif, tidak hanya bagi komunitasnya sendiri, tetapi juga bagi organisasi-organisasi lain yang berjuang demi kebaikan bersama.[]

*) Ust. Drs. Wahyu Rahman, MM, penulis adalah Ketua Bidang Perekonomian Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah