Beranda blog Halaman 117

Menyambut Ramadhan dengan Penuh Kesungguhan

0

BULAN suci Ramadhan, bulan kemuliaan yang dinantikan oleh kaum muslimin di seluruh dunia, semakin dekat. Kesadaran akan pentingnya bulan ini telah lama tertanam dalam tradisi Islam.

Yahya bin Abi Katsir, seorang ulama dari generasi tabi’in, berdoa menjelang Ramadhan: “Ya Allah, antarkanlah aku hingga sampai Ramadhan, dan antarkanlah Ramadhan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadhan.”* (Hilyatul Auliya’: 1/420).

Doa ini menggambarkan betapa besar harapan dan kegembiraan umat Islam dalam menyambut bulan pengampunan dan keberkahan ini.

Para sahabat Rasulullah juga menunjukkan kesungguhan dalam menantikan Ramadhan. Seperti yang diungkap dalam kitab Lathaaiful Ma’arif (hlm. 232), “Mereka (para sahabat) berdoa kepada Allah selama enam bulan agar mereka dapat menjumpai bulan Ramadhan”.

Munajat para orang shaleh terdahulu ini menilik pemahaman mendalam bahwa bertemu dengan Ramadhan bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh. Tak ada jaminan seseorang dapat menjumpai bulan penuh rahmat ini setiap tahun. Oleh karena itu, persiapan yang matang menjadi sebuah keharusan.

Kesungguhan dan kerinduan berjumpa dengan Ramadhan yang ditunjukkan oleh para ulama karena menyadari betul fasilitas yang luar biasa yang tersedia pada bulan kemuliaan ini; terbebas dari neraka, diterimanya amal dan dihapusnya segala dosa.

Disinilah pentingnya bekal persiapan menyambut bulan suci ini sebagaimana yang Allah Ta’ala ingatkan dalam firman-Nya:

وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لأعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَكِنْ كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ

Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka. dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.” (QS. At Taubah: 46).

Lantas, hal apa saja yang perlu kita persiapkan dalam menyambut bulan Ramadhan?

Pertama, bertaubat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Setiap keturunan Adam itu banyak melakukan dosa dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi: 2499).

Taubat adalah indikator paripurna dari kesungguhan sesorang menyambut datangnya Ramadhan. Dia ingin mempergauli bulan Ramadhan dengan sepenuh rasa dan raganya tanpa ada penghalang batiniyah yang berakibat kurang selarasnya dengan spektrum spritual dari bulan Ramadhan.

Bertaubat merupakan perintah Allah kepara hamba-Nya sebagaimana firman-Nya, “Bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An Nuur: 31).

Dengan bertaubat iman kita tercerahkan dengan baik sehingga siap berintraksi optimal dengan semua amalan-amalan pada bulan Ramadhan; berpuasa, shalat tarawih, membaca Al Qur’an dan amalan lainnya.

Kedua, persiapan ilmu. Walau sudah menjadi ibadah rutin tahunan, sebaiknya tetap kembali mendaras kitab-kitab atau buku-buku yang membahas hal ihwal Ramadhan.

Tercerahkannya pengetahuan tentang rukun dan amalan amalan pada bulan Ramadhan memicu dan memacu untuk mengisi waktu-waktu pada bulan Ramadhan dengan tertib.

Ketiga, bergembira menyambut datangnya Ramadhan. Hal ini seperti tergambar dalam mahfuzhat Abdul-Rahman bin Ahmad bin Rajab Al-Baghdadi, yang kemudian dikenal sebagai Ibnu Rajab Al-Hambali.

Beliau, yang dijuluki Zainuddin dan termasuk dalam jajaran ulama besar dari kalangan Hanabilah, menjelaskan:

“Bagaimana tidak gembira? seorang mukmin diberi kabar gembira dengan terbukanya pintu-pintu surga. Tertutupnya pintu-pintu neraka. Bagaimana mungkin seorang yang berakal tidak bergembira jika diberi kabar tentang sebuah waktu yang di dalamnya para setan dibelenggu. Dari sisi manakah ada suatu waktu menyamai waktu ini (Ramadhan)” (Latha’if Al-Ma’arif, hlm. 148)

Ulasan Ibnu Rajab ini menjadi pemantik menegasikan bayangan manusiawi kita betapa lapar dan dahaga yang menghampiri dikala berpuasa. Oleh karena, tergambar dengan jelas demikian besarnya keutamaan-keutaman yang bisa digapai pada bulan Ramadhan.

Keempat, persiapan harta untuk kedermawanan. Nabi Muhammad SAW telah memberi teladan tentang bagaimana agar harta yang kita dimiliki menjadi berkah dengan cara bersedekah, berinfaq, berzakat, atau pun berwakaf. Nabi pernah menyemangati Bilal untuk bersedekah:

أَنْفِقْ بِلاَل ! وَ لاَ تَخْشَ مِنْ ذِيْ العَرْشِ إِقْلاَلاً

“Berinfaklah wahai Bilal! Janganlah takut hartamu itu berkurang karena ada Allah yang memiliki ‘Arsy (Yang Maha Mencukupi).” (HR. Al-Bazzar dan Ath-Thabrani)

Nabi adalah orang yang paling dermawan di bulan Ramadhan karena mulianya berinfak di bulan Ramadhan. Dalam sebua hadis diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, bahwa Abdullah bin Abbas Radhiyallahu anhuma berkata:

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan dengan kebaikan, dan lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril Alaihissallam bertemu dengannya. Jibril menemuinya setiap malam Ramadhân untuk menyimak bacaan Al-Qur’annya. Sungguh, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dermawan daripada angin yang berhembus”.

Demikian pentingnya persiapan harta agar memungkinkan berbuat kebajikan lebih banyak pada bulan Ramadhan sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabiullah Muhammad SAW, yang juga sekaligus sebagai wahana tarbiyah untuk mengamalkan perintah Allah dalam surat At Taubah ayat 180:

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Dengan empat pilar persiapan ini kita dapat menyambut Ramadhan dengan kesiapan yang maksimal. Semoga dengan persiapan ini, kita bisa meraih predikat yang dijanjikan bagi orang-orang yang berpuasa dengan iman dan penuh kesungguhan: insan takwa.

*) Nursyamsa Hadis, penulis adalah Pembina Pondok Pesantren Hidayatullah Samarinda

Perjuangan Mushida Papua Barat Mengatasi Stunting dan Membina Umat

DALAM Rakernas Hidayatullah beberapa bulan lalu, penghargaan dari Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) diberikan kepada sejumlah program sinergi yang berhasil.

Salah satu penghargaan bergengsi itu diraih oleh Muslimat Hidayatullah (Mushida) Papua Barat atas program “Gizi untuk Balita Terlantar”. Program ini memberikan gizi kepada anak-anak stunting di daerah Satuan Pembangunan (SP), wilayah yang memiliki akses sulit dan keterbatasan fasilitas kesehatan.

Meski medan yang berat dan keterbatasan sumber daya, para ibu Mushida tetap bersemangat menjalankan misi ini. Mereka membawa shadaqah berupa sembako kepada keluarga-keluarga yang mengalami kekurangan gizi, sehingga anak-anak mereka dapat memperoleh nutrisi yang lebih baik.

Dedikasi Mushida Papua Barat ini membuahkan penghargaan, berkat keberhasilannya memenuhi sejumlah indikator, seperti keterlibatan banyak pihak, dampak sosial, keberlanjutan program, inovasi yang diterapkan, jumlah penerima manfaat, serta kualitas dokumentasi dan laporan.

Selain sebagai organisasi sosial, Mushida Papua Barat juga memiliki peran strategis dalam dakwah Islam di wilayah ini. Program-program mereka mencakup berbagai aspek, mulai dari pendidikan, sosial, hingga pelatihan keagamaan yang bersifat praktis.

Beragam Program Pemberdayaan

Salah satu program unggulan Mushida Papua Barat adalah Sedekah Jumat (Semat) yang dilaksanakan dua kali dalam sepekan. Kegiatan ini melibatkan jamaah masjid, guru-guru, dan wali santri dalam menyalurkan makanan kepada yang membutuhkan.

Ada yang menyiapkan lemari kaca di masjid untuk meletakkan makanan dan kue, sementara sebagian lain membagikan langsung kepada santri putra dan putri. Program ini tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga membangun kebiasaan berbagi dalam masyarakat.

Di bidang dakwah, Mushida mengelola Rumah Qur’an (RQ) sebagai sarana pembinaan anak-anak dalam membaca Al-Qur’an, shalat, dan akhlak. Kegiatan ini berlangsung lima hari dalam sepekan pada sore hari.

Dengan adanya program ini, banyak anak yang mengalami peningkatan dalam keterampilan membaca Al-Qur’an serta pemahaman tentang ibadah.

Selain itu, Mushida juga mengadakan pengajian wali santri setiap bulan, dengan materi yang mencakup fiqih wanita, parenting, serta pembinaan keluarga Islami. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat peran ibu dalam mendidik anak-anak mereka agar menjadi generasi Islami yang kuat.

Mushida menyadari bahwa salah satu aspek penting dalam kehidupan beragama adalah memahami kewajiban fardhu kifayah, terutama dalam perawatan jenazah.

Oleh karena itu, mereka mengadakan pelatihan perawatan jenazah yang diperuntukkan bagi para ibu. Pelatihan ini mencakup tahapan memandikan, mengkafani, hingga tata cara pemakaman yang sesuai dengan syariat Islam.

Mushida Papua Barat juga aktif dalam membina generasi muda melalui Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) yang ditujukan bagi santri SMP dan SMA. Program ini bertujuan menumbuhkan jiwa kepemimpinan dan semangat dakwah sejak dini.

Di bidang kepanduan, Mushida mengadakan pelatihan rutin untuk melatih kedisiplinan, keorganisasian, serta ketangkasan santri. Program ini bekerja sama dengan kepengasuhan dan kesiswaan di sekolah-sekolah Hidayatullah.

Sadar akan pentingnya pemahaman tentang pernikahan, Mushida juga mengadakan pelatihan pranikah bagi santri putri yang telah memasuki usia pernikahan.

Program training pra nikah ini membekali mereka dengan ilmu tentang hak dan kewajiban dalam rumah tangga, cara mengatasi konflik keluarga, serta pemahaman mendalam tentang tujuan pernikahan dalam Islam.

Saat Ramadhan, Mushida mengadakan Training Ramadhan Produktif guna meningkatkan pemahaman santri dan jamaah tentang bagaimana menjalani Ramadhan dengan lebih aktif dan penuh manfaat. Training ini bertujuan untuk membangun semangat ibadah, bukan sekadar menjadikan Ramadhan sebagai ajang bermalas-malasan.

Disamping itu, Mushida Papua Barat telah berhasil membentuk enam halaqah ibu-ibu yang tersebar di beberapa daerah, seperti Manokwari, Bintuni, Fakfak, Manokwari Selatan, dan Kaimana. Kegiatan halaqah ini meliputi kajian Sistematika Wahyu, hafalan Al-Qur’an, serta tahsin tilawah.

Selain itu, Mushida juga turut serta dalam Hari Solidaritas Jilbab Sedunia dengan mengumpulkan jilbab dan gamis untuk diberikan kepada santri putri serta muslimah di Papua Barat. Di Fakfak, aksi solidaritas ini dilakukan dengan cara unik, yaitu mengumpulkan jilbab melalui media sosial, lalu mendistribusikannya ke pulau-pulau terpencil.

Terus Bergerak Penuh Dedikasi

Mushida Papua Barat termasuk baru dari pemekaran DPW Papua sebelumnya. Mushida Papua Barat telah mengalami beberapa periode kepemimpinan. Periode pertama (2011-2015) dipimpin oleh Ustadzah Kasmawati didukung Sekretaris Ustadzah Sri Haryani dan bendahara Ustadzah Eva Baryanti, dilanjutkan oleh Ustadzah Eva Baryanti dengan sekretaris Ustadzah Fadliyah dan bendahara Ustadzah Hadrianti Rukmana pada periode kedua (2016-2020).

Adapun pengurus PW Mushida Papua Barat Periode 2021-2025 kini, dipimpin oleh Ustadzah Nadrah As, sekretaris Ustadzah Hadrianti Rukmana dan bendahara Ustadzah Sri wahyuningsih.

Pengurus departemen ada Ustadzah Yuli Puji Setianingrum, Ustadzah Istiqomah, Ustadzah Yuyun Yuniati dan Ustadzah Kamini. Sebagian masih merangkap dua departemen karena kekurangan sumber daya insani.

Meskipun memiliki banyak program inovatif, Mushida Papua Barat tetap menghadapi tantangan besar, terutama dalam hal keterbatasan sumber daya manusia dan finansial. Namun, dengan semangat dakwah dan keikhlasan, mereka terus berupaya memberikan yang terbaik bagi masyarakat Papua Barat.[]

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah. Ditulis sebagai tajuk “Laporan Perjalanan” di sela sela kunjungannya ke Papua beberapa waktu lalu.

Ketika Pejabat Mengira Al-Qur’an Masih Bersambung

0

ADA yang menggelitik dari khutbah Jumat tadi. Sang khatib bercerita tentang pengalamannya saat diundang mengisi sebuah acara di salah satu daerah di Sulawesi. Sebelum beliau tampil, seorang santri belasan tahun maju ke depan untuk melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Suasana tiba-tiba hening. Lantunan ayat yang begitu merdu dan penuh kekhusyukan membuat hadirin terpukau, termasuk seorang pejabat yang hadir di acara tersebut.

Dengan raut wajah penuh kagum, pejabat itu tak bisa menahan kekagumannya dan berkata, “Masya Allah, luar biasa!”

Mendengar hal itu, guru si santri pun dengan bangga berkata, “Alhamdulillah, anak ini sudah hafal 30 juz.”

Seketika, mata sang pejabat semakin berbinar. Ia lalu memanggil santri itu, merangkulnya dengan penuh kehangatan, dan bertanya dengan polos, “Masya Allah, kamu sudah hafal 30 juz ya, Nak? Jadi sekarang tinggal berapa juz lagi?”

Guru yang tadi dengan bangga memperkenalkan santrinya, kini malah terperangah. Sejenak ia bingung, tak tahu harus menjawab apa. Dalam hatinya ia bertanya, “Memangnya Al-Qur’an ada 39 juz?”

Kisah ini memberi kita gambaran jelas. Betapa seseorang yang jarang bahkan tidak pernah berinteraksi dengan Al-Qur’an bisa sangat asing dengan sesuatu yang mendasar dalam agama ini. Ia mungkin mengagumi, tetapi tidak memahami.

Inilah cerminan dari realitas umat saat ini. Kekaguman terhadap Al-Qur’an tidak cukup jika tidak diiringi dengan pemahaman dan interaksi yang lebih dalam. Karena tanpa itu, bisa jadi seseorang berpikir bahwa Al-Qur’an masih ada lanjutannya setelah 30 juz.

*) Muhammad Anzar, pegiat media sosial dan dai Hidayatullah tinggal di Balikpapan

Seminar Hukum Rayon Tengah Jabar Soroti Perlindungan Guru dari Kriminalisasi

0

KARAWANG (Hidayatullah.or.id) – Dalam upaya meningkatkan pemahaman hukum bagi para pendidik, guru, dan dai, Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Rayon Tengah, Jawa Barat yang meliputi Karawang, Purwakarta, Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi menggelar Rapat Kerja Daerah (Rakerda) yang dirangkai dengan Seminar Edukasi Hukum bertema “Perlindungan Hukum untuk Guru, Dai, dan Masyarakat dalam Rangka Menyikapi Maraknya Diskriminasi”.

Acara ini dihelat di Aula Yayasan Ummul Quro Hidayatullah, Karawang, Jawa Barat, belum lama ini dan ditulis pada Jum’at, 8 Syaban 1446 (7/2/2025).

Acara yang dihadiri berbagai tokoh ini dibuka oleh Asisten Daerah (Asda) I Kabupaten Karawang, Drs. Wawan Setiawan, yang mewakili Bupati Karawang.

Hadir pula Ketua DPRD Kabupaten Karawang Endang Sodikin, Kajari Karawang Syaifullah, SH, MH, Kepala Bakesbangpol Karawang Sujana Ruswana, SH, MH, serta Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Hidayatullah Pusat, DR Dudung A. Abdullah, M.Ag, MH.

Selain itu, kegiatan ini diikuti oleh para pengurus DPD Hidayatullah Rayon Tengah, guru, akademisi, dan tokoh masyarakat.

Dalam sambutannya, Wawan Setiawan menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan lembaga Islam dalam memajukan pendidikan, termasuk peningkatan kesadaran hukum di kalangan pendidik.

“Materi ini sangat penting karena kita harus selalu memperbarui pemahaman terhadap regulasi hukum, terutama bagi guru yang menghadapi tantangan besar di era saat ini,” ujarnya.

Ketua DPRD Karawang, Endang Sodikin, menambahkan bahwa perlindungan bagi guru telah diatur dalam regulasi daerah.

“Alhamdulillah, Karawang sudah memiliki Perda perlindungan guru yang bertujuan untuk memberikan perlindungan hukum bagi para pendidik agar mereka dapat menjalankan tugasnya dengan aman dan nyaman,” ungkapnya.

Namun, permasalahan kriminalisasi terhadap guru masih menjadi persoalan serius. Kepala Kejaksaan Negeri Karawang, Syaifullah, mengakui bahwa kasus-kasus guru yang berujung pada tuntutan hukum semakin marak.

“Banyak guru yang menghadapi kriminalisasi dalam praktik mengajar, baik dalam mendisiplinkan siswa maupun memberikan sanksi edukatif yang justru berujung pada laporan hukum,” jelasnya.

Menurut Syaifullah, regulasi perlindungan hukum bagi guru harus diperkuat agar mereka dapat menjalankan tugas dengan tenang dan profesional.

Tantangan Pendidik di Era Digital

Salah satu poin utama dalam seminar ini disampaikan oleh Direktur LBH Hidayatullah Pusat, DR Dudung A. Abdullah. Dalam paparannya, ia menyoroti tantangan besar yang dihadapi pendidik di era digital.

Menurut Dudung, perkembangan teknologi telah mengubah pola interaksi antara guru, siswa, dan orang tua, yang berdampak pada meningkatnya potensi kriminalisasi terhadap tenaga pendidik.

“Saat ini, masyarakat semakin kritis dan responsif terhadap tindakan guru. Hal yang dulu dianggap sebagai tindakan mendidik, kini bisa dipandang sebagai pelanggaran hukum. Banyak kasus guru yang akhirnya berujung di meja hijau karena tuduhan pencabulan dan penganiayaan, meskipun niatnya adalah untuk mendisiplinkan siswa,” ujar Dudung.

Ia menambahkan bahwa LBH Hidayatullah telah menangani berbagai kasus kriminalisasi guru yang seharusnya tidak terjadi. “Saya banyak menangani kasus di mana guru dan da’i dikriminalisasi atas tuduhan yang tidak sepenuhnya berdasar. Karena itu, saya mengingatkan para pendidik dan da’i agar selalu berhati-hati dalam menjalankan tugasnya,” imbuhnya.

Menurut Dudung, penting bagi para pendidik untuk memahami hak-hak mereka dalam hukum, serta bagaimana bersikap secara profesional dalam menghadapi tantangan di era digital.

Dudung juga mendorong adanya pendampingan hukum bagi guru agar mereka tidak merasa sendirian saat menghadapi permasalahan hukum.

Sinergi Mencegah Kriminalisasi Guru

Sementara itu, Kepala Bakesbangpol Karawang, Sujana Ruswana, menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, organisasi Islam, dan masyarakat dalam menegakkan hukum yang adil.

“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Sinergi dengan lembaga pendidikan, pesantren, dan komunitas Islam sangat diperlukan untuk memastikan bahwa perlindungan hukum bagi guru benar-benar efektif,” katanya.

Dalam penutupan acara, moderator acara Rudi Syafaat yang juga Direktur LBH Hidayatullah Jawa Barat mengatakan seminar ini menjadi momentum penting bagi para pendidik untuk lebih memahami hak dan kewajiban mereka di tengah dinamika sosial yang terus berkembang.

“Dengan sinergi yang baik antara pemerintah, lembaga hukum, dan komunitas pendidikan, diharapkan guru dan da’i dapat menjalankan tugas mereka dengan penuh dedikasi tanpa dihantui ketakutan akan kriminalisasi,” kata Rudi.

Rudi menggarisbawahi bahwa perlu ada langkah konkret untuk melindungi para pendidik dari ancaman hukum yang tidak berdasar. Selain peningkatan pemahaman hukum, regulasi yang lebih kuat dan pendampingan hukum yang optimal juga menjadi kebutuhan mendesak bagi dunia pendidikan saat ini.*/Dadang Kusmayadi

Memompa Kekuatan Spritual untuk Menyiapkan Alih Generasi

0

ALIH generasi dalam suatu organisasi bukan sekadar pergantian sosok secara fisik yang lebih muda, energik, dan cerdas. Lebih dari itu, alih generasi harus diawali dengan alih konsepsi.

Pewarisan konsepsi menjadi hal yang mendasar agar generasi penerus memiliki spiritualitas, moralitas, intelektualitas, dan mentalitas yang sesuai dengan jati diri organisasi.

Empat kekuatan tersebut di atas tidak hadir dengan sendirinya, melainkan melalui tempaan perkaderan, melewati berbagai tahapan (marhalah), dan penugasan yang sistematis.

Dalam gerakan Hidayatullah, kekuatan spiritual menjadi pondasi utama dalam mencetak kader. Nilai-nilai tauhid yang kokoh telah menjadi warisan yang diwariskan oleh pendiri organisasi ini. Pendiri Hidayatullah Ustadz Abdullah Said dan para senior secara konsisten menanamkan prinsip-prinsip ini dalam sistem tarbiyah mereka.

Ada beberapa aspek dalam proses tarbiyah spiritual yang diterapkan pada periode awal Hidayatullah yang dapat menjadi pelajaran penting dalam membangun generasi yang memiliki militansi dalam beribadah dan mengemban amanah dakwah.

Pertama, Injeksi Tarbiyah Ruhiyah

Salah satu metode utama dalam membangun spiritualitas kader adalah melalui injeksi tarbiyah ruhiyah. Ustadz Abdullah Said dan para senior tidak pernah lelah menekankan pentingnya ibadah, baik yang wajib maupun sunnah.

Pendidikan ibadah ini tidak hanya menitikberatkan pada aspek fiqhiyyah, tetapi juga menyoroti fadhilah dan manfaat yang diperoleh ketika ibadah dilakukan secara konsisten.

Penyampaian ini dilakukan secara berulang-ulang dengan berbagai pendekatan. Kadang dengan kisah inspiratif dari para sahabat, tabi’in, dan orang-orang saleh.

Kadang pula dengan menguatkan pengamalan surat Al-Muzammil, yang merupakan surat ketiga yang diturunkan kepada Rasulullah. Tadabbur terhadap surat ini memberikan pemahaman mendalam mengenai urgensi shalat lail sebagai sarana penguatan jiwa dan kedekatan kepada Allah.

Strategi ini berhasil menanamkan semangat ibadah dalam diri para santri tanpa merasa terbebani. Mereka menjalankannya dengan kesadaran penuh, karena telah menjadi bagian dari kebiasaan yang melekat.

Kedua, Keteladanan dalam Beribadah

Keteladanan menjadi metode yang sangat efektif dalam membentuk karakter kader. Ustadz Abdullah Said tidak sekadar menyampaikan teori, tetapi juga memberikan contoh langsung.

Dalam shalat lima waktu berjamaah, misalnya, beliau selalu menjadi yang pertama datang ke masjid, memastikan tidak ada santri yang terlambat, dan bahkan menegur mereka yang lalai.

Sikap ini juga terlihat dalam shalat lail (tahajjud). Ustadz Abdul Latif Usman menceritakan bahwa sebelum shalat lail, Ustadz Abdullah Said selalu mandi terlebih dahulu, memastikan kebersihan tubuh, serta mengenakan pakaian yang rapi. Ini menunjukkan betapa seriusnya beliau dalam menjalankan ibadah.

Keteladanan semacam ini memberikan dampak yang luar biasa. Santri tidak hanya mendapatkan teori tentang ibadah, tetapi juga melihat dan merasakan langsung bagaimana ibadah harus dijalankan dengan penuh kesungguhan.

Ketiga, Membangun Kultur dan Mindset Kehidupan Beribadah

Di lingkungan Hidayatullah, ibadah bukan sekadar rutinitas, tetapi menjadi bagian dari pola hidup. Shalat lima waktu menjadi barometer utama dalam menjalankan aktivitas harian. Bahkan, setiap kegiatan harus dihentikan 30 menit sebelum azan sebagai bentuk penghormatan terhadap waktu ibadah.

Masjid Ar-Riyadh menjadi saksi bagaimana budaya ibadah ini terbangun. Hampir tidak ada waktu kosong di masjid, karena selalu ada santri yang shalat sunnah, membaca Al-Qur’an, atau berdzikir.

Mindset tentang pentingnya ibadah juga ditanamkan dalam sistem pendidikan dan perkaderan. Bahkan, dalam penilaian akademik, aspek ibadah dijadikan tolok ukur keberhasilan. Seorang santri yang cerdas dan rajin dalam aktivitas sosial, tetapi lalai dalam ibadah, dapat tidak naik kelas atau gagal dalam tahap perkaderan.

Keempat, Fungsionalisasi Pemimpin dalam Ibadah

Di banyak tempat, ibadah sering dianggap sebagai urusan pribadi. Pemimpin jarang terlibat dalam mengawasi atau menegur anggotanya dalam urusan ibadah. Namun, di Hidayatullah, pemimpin memiliki tanggung jawab penuh dalam memastikan anggota menjalankan kewajiban ibadah.

Konsep ini didasarkan pada pemahaman bahwa tugas utama manusia adalah beribadah kepada Allah. Oleh karena itu, pemimpin tidak hanya mengawasi kinerja administratif, tetapi juga memastikan bahwa anggota memiliki kehidupan spiritual yang baik.

Di Hidayatullah, seorang pemimpin harus berani memberikan arahan, teguran, bahkan hukuman kepada anggota yang lalai dalam ibadah.

Jika ada anggota yang melewatkan shalat berjamaah, hal itu diibaratkan sebagai “membocori perahu.” Oleh karena itu, kontrol sosial terhadap ibadah menjadi bagian penting dalam struktur kepemimpinan.

Prinsip ini juga berlaku dalam rumah tangga. Seorang ayah atau suami bertanggung jawab dalam membina spiritualitas keluarganya. Sebagaimana disebutkan dalam surat At-Tahrim, tugas berat seorang pemimpin keluarga adalah menjaga keluarganya dari api neraka.

Kelima, Memberikan Tantangan Tugas yang Berat

Salah satu metode dalam membangun kekuatan spiritual santri adalah dengan memberikan tugas berat yang menantang. Penugasan ke daerah-daerah terpencil tanpa fasilitas yang memadai menjadi ajang ujian sejauh mana santri benar-benar bertauhid dan mengandalkan pertolongan Allah.

Dalam kondisi seperti ini, santri yang telah memiliki dasar spiritual yang kuat akan mampu bertahan dan menemukan pengalaman spiritual yang mendalam.

Sebaliknya, santri yang lemah secara spiritual akan mudah menyerah dan mencari jalan keluar dengan pulang kampung atau mencari alasan untuk mundur.

Metode ini membuktikan bahwa hanya mereka yang benar-benar memiliki hubungan kuat dengan Allah yang mampu bertahan dalam perjuangan dakwah. Tantangan yang dihadapi justru semakin memperkokoh keyakinan dan semangat ibadah mereka.

Tidak Bisa Instan

Menyiapkan generasi yang kuat secara spiritual tidak bisa dilakukan dengan instan. Diperlukan sistem tarbiyah yang intensif dan sistematis.

Hidayatullah telah menunjukkan bahwa dengan injeksi tarbiyah ruhiyah, keteladanan, pembentukan kultur ibadah, fungsionalisasi kepemimpinan dalam ibadah, dan pemberian tantangan berat, generasi yang militan dalam perjuangan Islam dapat terbentuk.

Kini, tantangan kita adalah bagaimana menerapkan metode ini dalam menyiapkan generasi mendatang agar tetap berpegang teguh pada nilai-nilai tauhid dan memiliki militansi dalam mengemban amanah dakwah.

Lantas, bagaimana menyiapkan spritualitas generasi sekarang? Bersambung.

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, M.Pd.I, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Ponpes Hidayatullah Besulutu Panen Jagung Perdana Upaya Bangun Kemandirian Pangan

KONAWE (Hidayatullah.or.id) – Pondok Pesantren Hidayatullah Besulutu, yang terletak di Desa Waworaha, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, merayakan panen perdana jagung sebagai bagian dari Program Ketahanan Pangan Santri yang diinisiasi oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH), Rabu, 6 Syaban 1446 (5/2/2025).

Acara ini berlangsung dengan penuh rasa syukur dan dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk jajaran DPW Hidayatullah Sulawesi Tenggara, pengurus BMH, pengurus pondok, santri, serta warga sekitar.

Pembina Pondok Pesantren Hidayatullah Besulutu, Syarifuddin, menyampaikan rasa syukurnya atas keberhasilan panen perdana ini. Ia mengungkapkan bahwa lahan kosong seluas dua hektare yang sebelumnya tidak dimanfaatkan kini telah produktif dan menghasilkan panen jagung yang akan dimanfaatkan untuk kebutuhan para santri.

“Alhamdulillah, lahan kosong seluas dua hektare kini produktif untuk penanaman jagung. Hasil panennya akan dikonsumsi para santri dan sebagian dijual untuk mendukung biaya operasional pondok,” ujarnya.

Syarifuddin juga menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Laznas BMH serta para donatur yang telah memberikan dukungan luar biasa terhadap program ini. Ia berharap agar program ketahanan pangan ini terus berkembang dan dapat membantu lebih banyak pondok pesantren, terutama yang masih dalam tahap perintisan.

“Kami berharap program ini bisa terus berkembang dan membantu pondok pesantren lainnya yang masih dalam tahap perintisan,” tambahnya.

Senada dengan itu, Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Tenggara, Achmad Syahroni, juga memberikan apresiasi atas keberhasilan panen perdana ini. Ia menegaskan bahwa program ketahanan pangan yang dijalankan oleh BMH merupakan langkah strategis dalam mewujudkan kemandirian pesantren, terutama bagi pondok pesantren yang berada di wilayah pedalaman dan masih dalam tahap berkembang.

“Dukungan BMH benar-benar memberikan dampak nyata. Ini bukan sekadar panen, tetapi langkah besar menuju kemandirian,” tegas Achmad Syahroni.

Menurutnya, program ini tidak hanya sekadar menghasilkan bahan pangan untuk kebutuhan para santri, tetapi juga berkontribusi dalam membangun kemandirian ekonomi pesantren.

Dengan demikian, lanjut dia, pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan dakwah, tetapi juga mampu mengelola sumber daya yang dimiliki secara produktif.

Kepala Perwakilan BMH Sulawesi Tenggara, Armin, turut menambahkan bahwa keberhasilan panen perdana ini tidak terlepas dari kontribusi para donatur yang telah berpartisipasi dalam program zakat, infak, dan sedekah.

“Alhamdulillah, berkat zakat, infak, dan sedekah dari sahabat kebaikan BMH, program ketahanan pangan santri ini berhasil membuahkan hasil. Manfaatnya sangat besar, baik untuk kebutuhan pangan pesantren maupun pengembangan ekonomi pesantren,” jelas Armin.

Keberhasilan ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi pesantren-pesantren lain untuk mengembangkan sektor pertanian sebagai bagian dari upaya mencapai kemandirian ekonomi.

Selain itu, Armin berharap, program ketahanan pangan ini juga memiliki nilai strategis dalam menciptakan ketahanan pangan di lingkungan pesantren, terutama di daerah yang memiliki keterbatasan akses terhadap bahan pangan.

Ke depan, diharapkan sinergi antara Laznas BMH, pesantren, dan para donatur dapat semakin kuat sehingga program ini tidak hanya berkelanjutan di Pondok Pesantren Hidayatullah Besulutu, tetapi juga dapat diperluas ke pesantren-pesantren lain di pelosok negeri.

“Ini merupakan langkah kecil yang diharapkan mampu berkontribusi dalam ketahanan pangan nasional dalam mewujudkan pesantren yang mandiri dan berdaya, sesuai dengan prinsip Islam yang mengajarkan pentingnya kemandirian dan produktivitas,” tandasnya.*/Herim

[KHUTBAH JUM’AT] Bersiap Sambut Ramadhan dan Tidak Abaikan Keutamaan Bulan Sya’ban

0

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَمَرَناَ أَنْ نُصْلِحَ مَعِيْشَتَنَا لِنَيْلِ الرِّضَا وَالسَّعَادَةِ، وَنَقُوْمَ بِالْوَاجِبَاتِ فِيْ عِبَادَتِهِ وَتَقْوَاهْ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ مَنْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمّا بَعْدُ

فَيَا عِبَادَ الله، اُوْصِيْنِي نَفْسِي بِتَقْوَى الله، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْم، أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ, بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. يَا أَيُّهَا الّذين آمنوا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Kaum Muslimin Jamaah Jum’ah yang Berbahagia

Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam, yang dengan kasih sayang-Nya menghidupkan dan mematikan, meninggikan dan merendahkan, mengatur segala urusan dengan kebijaksanaan yang tiada tara.

Dia-lah yang melimpahkan rahmat tanpa batas, mengampuni hamba-hamba-Nya yang bertobat, dan menuntun hati yang bersungguh-sungguh mencari jalan kebenaran. Keagungan-Nya tak tertandingi, kebesaran-Nya meliputi segala sesuatu, dan kasih sayang-Nya meliputi setiap makhluk.

Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad, sang pembawa cahaya di tengah kegelapan, manusia agung yang kehadirannya menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Beliaulah teladan sempurna dalam akhlak, puncak ketakwaan, dan cahaya petunjuk bagi umat manusia. Lewat ajaran dan perjuangannya, kita mengenal hakikat kehidupan, memahami makna ibadah, dan mengetahui jalan menuju keridaan Allah.

Di hadapan kebesaran Allah dan di bawah naungan ajaran Rasul-Nya, kita sebagai hamba wajib merenungi dan meningkatkan kualitas ketakwaan.

Terlebih dalam bulan Sya’ban yang penuh keutamaan, momentum ini menjadi pengingat agar kita lebih mendekat kepada-Nya dengan ibadah yang tulus dan amal yang lebih baik.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa. Sesungguhnya, orang yang bertakwa adalah mereka yang senantiasa menyadari bahwa dalam hidup ini ada perintah yang harus ditaati, ada larangan yang harus dijauhi, dan ada takdir yang harus diterima dengan keridhaan.

Setiap pekan, kita diingatkan untuk meng-upgrade ketakwaan kita dengan terus berusaha mengamalkan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Hari ini, kita telah memasuki bulan Sya’ban. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kita informasi yang berisi peringatan sekaligus motivasi. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda:

ذٰلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيْهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِـيْ وَأَنَا صَائِمٌ

“Bulan itu, banyak manusia yang lalai, yaitu (bulan) antara Rajab dan Ramadhan, bulan diangkatnya amal-amal kepada Rabb semesta alam, dan aku ingin amalku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa.” (HR. An-Nasa’i dan Ahmad)

Hadis ini bukan untuk membenarkan kelalaian, melainkan sebagai motivasi agar kita lebih semangat dalam beribadah dan tidak menjadi bagian dari orang-orang yang lalai. Kelalaian bukan sekadar lupa atau tidak tahu, tetapi sikap meremehkan atau mengabaikan sesuatu yang telah diketahui.

Banyak di antara kita yang menganggap bulan Sya’ban sebagai bulan biasa, sehingga amalnya pun dilakukan sekadarnya. Padahal, Rasulullah telah menjelaskan bahwa di bulan ini amal perbuatan kita diangkat kepada Allah.

Ada yang lalai karena menganggap bulan ini kurang mulia dibanding Rajab atau Ramadhan. Ada juga yang salah paham, menganggap bahwa bulan ini adalah waktu untuk beristirahat sebelum beribadah maksimal di bulan Ramadhan.

Allah memperingatkan kita tentang bahaya kelalaian dalam firman-Nya:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 179)

Kelalaian bisa berupa ketidakpekaan terhadap dosa, merasa biasa saja ketika meninggalkan Al-Qur’an, atau merasa tidak bersalah saat mengabaikan panggilan adzan. Salah satu bentuk kelalaian terbesar di bulan Sya’ban adalah tidak memanfaatkan waktu ini untuk memperbanyak amal sholeh.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Di bagian akhir hadis yang kita bahas tadi, Rasulullah menegaskan bahwa beliau ingin amalnya diangkat dalam keadaan berpuasa.

فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِـيْ وَأَنَا صَائِمٌ (aku ingin amalku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa). Padahal, beliau adalah manusia terbaik, yang amalnya sudah pasti diterima oleh Allah. Lalu, bagaimana dengan kita yang masih penuh dengan kekurangan? Bukankah seharusnya kita lebih bersemangat?

Puasa Sya’ban merupakan ibadah yang sangat dianjurkan. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari, Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ: وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِي شَعْبَانَ

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW melakukan puasa satu bulan penuh kecuali puasa bulan Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa sunah melebihi di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari)

Ibnu Rajab mengibaratkan puasa Ramadhan dan puasa Sya’ban seperti shalat wajib dengan shalat sunnah rawatib. Jika shalat wajib memiliki sunnah qabliyah dan ba’diyah, maka puasa Ramadhan memiliki sunnah qabliyah berupa puasa di bulan Sya’ban dan sunnah ba’diyah berupa puasa enam hari di bulan Syawal.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Sebagian orang mungkin berpikir, “Puasa Sya’ban kan hanya sunnah.” Memang benar, tetapi jika kita ingin benar-benar mengikuti Rasulullah, maka salah satu caranya adalah dengan meneladani kebiasaan beliau dalam beribadah.

Bulan Sya’ban adalah kesempatan untuk membuktikan kecintaan kita kepada Rasulullah dengan mengamalkan sunnahnya. Abu Bakar Al-Warroq Al-Balkhi rahimahullah pernah berkata:

“Bulan Rajab adalah bulan untuk menanam, Sya’ban adalah bulan untuk menyirami tanaman, dan Ramadhan adalah bulan untuk memanen hasilnya.”

Jika di Ramadhan sebelumnya kita merasa kurang merasakan nikmatnya ibadah, mungkin itu karena kita kurang mempersiapkan diri di bulan Rajab dan Sya’ban. Oleh karena itu, jangan sia-siakan bulan Sya’ban ini. Jadikan ia sebagai jembatan untuk menyongsong Ramadhan dengan maksimal.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Kadang kita terlalu percaya diri karena merasa sudah berpengalaman menjalani Ramadhan bertahun-tahun. Sikap overconfidence ini bisa berujung pada kelalaian dalam melakukan persiapan. Padahal, tidak ada jaminan bahwa kita akan bertemu dengan Ramadhan tahun ini atau bahkan Ramadhan berikutnya.

Mindset kita tentang bulan Sya’ban perlu diperbaiki. Kita harus membangun tekad untuk mengisi bulan ini dengan amal kebaikan. Salah satu caranya adalah dengan membaca dan mengkaji keutamaan bulan Sya’ban, serta meneladani bagaimana Rasulullah dan para sahabat memanfaatkannya. Dengan memahami keutamaannya, insya Allah akan tumbuh semangat dalam hati kita untuk memperbanyak ibadah.

Maka dari itu, mari kita gunakan bulan Sya’ban ini untuk memperbanyak puasa sunnah sebagaimana yang dilakukan Rasulullah, meningkatkan interaksi dengan Al-Qur’an, banyak beristighfar dan bertaubat, memperbaiki hubungan dengan sesama manusia, baik dengan keluarga, saudara, maupun teman, dan melatih diri untuk lebih disiplin dalam ibadah, agar saat Ramadhan tiba, kita sudah terbiasa dengan amal-amal sholeh.

Semoga Allah memberikan kita taufik untuk menghidupkan bulan Sya’ban dengan amal yang terbaik. Semoga kita semua diberikan kesempatan untuk bertemu dengan Ramadhan dalam keadaan sehat dan penuh semangat dalam beribadah.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!!!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Membangun Generasi Islami Berdaya melalui Pesantren Masyarakat Cibuntu

0

KUNINGAN (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai) baru-baru ini melakukan anjangsana silaturrahim ke komunitas warga binaan Pesantren Masyarakat Cibuntu, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, pada Kamis, 1 Syaban 1446 (30/1/2025).

Kunjungan ini tidak hanya dalam rangka mempererat hubungan dengan masyarakat setempat, tetapi juga bertujuan untuk melakukan musyawarah bersama Kepala Desa Cibuntu Dedi Kurniadi beserta jajaran, dan Pengasuh Pesantren Masyarakat Cibuntu Ust. Shidik Junihardin, Lc, guna menguatkan program pesantren masyarakat di kawasan wisata terpadu tersebut.

Dalam pertemuan tersebut, hadir Ketua Dewan Pembina PosDai Pusat, Ust. Shohibul Anwar, MH.I, yang didampingi oleh Direktur PosDai Pusat, Ust. Abdul Muin As-Sankabira, Instruktur Nasional Gerakan Dakwah Nasional Mengajar-Belajar Al-Qur’an (Grand MBA) Ust. H. Muhdi Muhammad, dan Ruslan Tanjung selaku pengurus harian PosDai.

Menurut Ust. Shohibul Anwar, MH.I, yang juga merupakan Ketua Departemen Dakwah, Komunikasi, dan Penyiaran DPP Hidayatullah, Pesantren Masyarakat Cibuntu memiliki peran penting sebagai wadah pembinaan dan pengembangan dalam lingkup masyarakat.

Shohibul menekankan bahwa konsep pesantren masyarakat ini unik karena melibatkan komunitas secara aktif dalam penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Dia menjelaskan, Pesantren Masyarakat adalah pesantren yang memiliki pesantren besar dan kecil di dalamnya. Di dalamnya terdapat masyarakat yang terus-menerus berislam dan menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan.

“Pesantren Masyarakat Cibuntu harus melibatkan masyarakat, dan Alhamdulillah mendapat sambutan yang luar biasa,” ujarnya, seperti dilansir laman Posdai.or.id.

Lima Pilar Pesantren Masyarakat

PosDai menjadi inisiator program Pesantren Masyarakat Cibuntu, bekerja sama dengan Kepala Desa Cibuntu serta mendapat dukungan penuh dari masyarakat.

Shohibul menyebutkan ada lima program utama yang ingin diwujudkan guna memberikan manfaat luas bagi semua lapisan masyarakat melalui Pesantren Masyarakat seperti yang ada di Cibuntu ini.

Pertama, sebagai lembaga pendidikan Islam bagi masyarakat khususnya dalam mencetak sumber daya manusia yang memahami dan mendalami Al-Qur’an.

Kedua, sebagai gerakan Desa Mengaji. Shohibul menjelaskan, program ini bertujuan agar semua warga desa, mulai dari anak-anak hingga orang tua, aktif mengikuti pengajian Islam.

Shohibul Anwar menyebutkan bahwa gerakan serupa ini telah diterapkan di tiga tempat, yakni di Penajam, Kalimantan Timur; Olor Agung Labulia, Lombok; dan di komunitas Suku Ta Wana, Morowali Utara. Ia berharap program ini dapat berkembang ke desa-desa lain.

Ketiga, sebagai sarana wisata ruhani. Menurut Shohibul, Pesantren Masyarakat Cibuntu potensial dikembangkan sebagai destinasi wisata ruhani berbasis alam. Salah satu konsep unggulan adalah “Camp Al-Qur’an,” yang dirancang untuk menarik wisatawan yang ingin menikmati alam sembari mendalami ajaran Islam.

“Camp Al Qur’an sebagai daya tarik wisatawan sehingga sekembali dari kegiatan wisata bisa mengaji atau setidaknya terbangun kesadaran untuk mau belajar mengaji Al Quran,” kata Shohibul.

Keempat, sebagai agrokompleks dan ketahanan pangan. Shohibul menjelaskan, Pesantren Masyarakat Cibuntu kedepan dimungkinkan mengembangkan sektor pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan, dan pengolahan hasil produksi pertanian.

Untuk mendukung program ini, PosDai bekerja sama dengan PT Natural Nusantara (NASA), yang memberikan pendidikan dan contoh dalam bidang pertanian serta memberdayakan petani setempat.

Dan, Kelima, upaya pemandirian ekonomi melalui lembaga keuangan syariah. Untuk mendukung perekonomian masyarakat, pesantren masyarakat juga akan mengembangkan lembaga keuangan syariah.

“Hal ini diharapkan dapat membantu komunitas dalam mendapatkan akses modal untuk memajukan potensi ekonomi desa secara mandiri,” katanya.

Kepala Desa Cibuntu, Dedi Kurniadi, menyambut baik program Pesantren Masyarakat Cibuntu dan berharap inisiatif ini dapat berkontribusi dalam membangun karakter serta moral generasi muda di desanya.

“Alhamdulillah, kita ingin anak-anak sejak kecil sudah terbiasa dengan ajaran agama. Harapan kita, masyarakat Cibuntu semakin tercerahkan dengan hadirnya pesantren ini,” ujar Dedi Kurniadi.

Dedi Kurniadi juga menegaskan komitmennya dalam mendukung program tersebut agar dapat berjalan sesuai harapan demi menciptakan masyarakat yang religius, mandiri, dan berdaya saing tinggi. (ybh/hidayatullah.or.id)

Rakerwil Hidayatullah Maluku Sinergi Menguatkan Ukhuwah dan Membangun Umat

0
oplus_2

MASOHI (Hidayatullah.or.id) – Gedung Islamic Center Kota Masohi menjadi tempat perhelatan besar yang mempertemukan para ulama, cendekiawan, serta tokoh pemerintahan dalam Pembukaan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Maluku dan Tabligh Akbar pada Sabtu, 2 Sya’ban 1446 H (1/2/2025).

Acara yang berlangsung penuh khidmat ini dihadiri oleh ratusan peserta yang datang dengan satu tujuan, yakni memperkuat ukhuwah Islamiyah dan meningkatkan kontribusi dalam pembangunan umat.

Acara ini dihadiri oleh Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah yang diwakili Ust. Dr. Muhammad Shaleh Usman, SS, M.I.Kom, serta Ketua Dewan Mudzakarah Pusat Hidayatullah, Ust. Drg. Fathul Azdhim, M.KM.

Selain itu, turut hadir Penjabat (Pj) Bupati Maluku Tengah, Dr. Rakib Sahubawa, S.Pi, M.Si, yang diwakili oleh Staf Ahli Bidang Pembangunan dan Kemasyarakatan Setda Maluku Tengah, Zahlul Ikhsan, serta Kakankemenag Kabupaten Maluku Tengah H. Taslim Tuasikal, S.Ag, Ketua MUI Maluku Tengah KH Abdul Rajab Sese, Ketua DPW Hidayatullah Maluku Ustaz Sulaiman Ismail, dan berbagai tokoh masyarakat serta imam masjid.

Dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Zahlul Ikhsan, Pj Bupati Maluku Tengah, Dr. Rakib Sahubawa, memberikan apresiasi terhadap kiprah Hidayatullah Maluku dalam membangun umat, memperkuat nilai-nilai keislaman, serta berkontribusi dalam pendidikan dan sosial kemasyarakatan.

“Hidayatullah sebagai organisasi dakwah dan pendidikan telah banyak memberikan kontribusi nyata dalam pembinaan keislaman dan penguatan ukhuwah Islamiyah. Saya berharap Rakerwil ini dapat menghasilkan program-program yang bermanfaat, tidak hanya bagi internal organisasi tetapi juga bagi masyarakat luas, khususnya di Maluku dan di Kabupaten Maluku Tengah,” ujar Rakib.

Rakib juga menegaskan bahwa kegiatan ini memiliki arti penting dalam meningkatkan pemahaman agama serta memperkokoh persaudaraan dalam bingkai ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah.

“Semoga dengan kerja sama yang erat antara pemerintah, organisasi keagamaan, serta seluruh elemen masyarakat, kita dapat mewujudkan Maluku yang lebih maju, sejahtera, dan bermartabat,” tambahnya.

Sinergi untuk Kemajuan Umat

Ketua Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah, KH. Dr. Muhammad Shaleh, SS, M.I.Kom, menyampaikan bahwa Kota Masohi dipilih sebagai lokasi Rakerwil untuk memperkuat sinergi antara Hidayatullah dengan pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah.

“Di Masohi, terdapat cabang pesantren kami yang sudah berdiri lama. Namun, dari segi perluasan masih rendah, dan fasilitas pondok masih sederhana. Insya Allah, dengan adanya rapat kerja ini, kami akan menghadirkan pihak-pihak terkait guna membangun kerja sama yang lebih sinergis dalam mencerdaskan generasi bangsa, khususnya di Maluku Tengah,” tutur Shaleh.

Ia menegaskan bahwa Hidayatullah tidak hanya fokus pada aspek spiritual semata, melainkan juga berperan dalam kemajuan ekonomi, sosial, dan pendidikan. Dalam konteks ini, kesinambungan semangat kerja kolektif sangat penting.

“Pada akhir November hingga awal Desember lalu, kita baru saja menyelesaikan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) V di Bandung. Kini, dengan semangat yang sama, kita bertemu kembali dalam forum Rakerwil ini,” ujarnya.

Mengutip QS. Al-Insyirah:7, ‘Maka apabila kamu telah selesai dari suatu urusan, maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan lainnya’, Shaleh mengajak seluruh peserta untuk terus melanjutkan amal saleh secara berkelanjutan. Rakerwil ini, menurutnya, bertujuan untuk konsolidasi, koordinasi, sosialisasi, serta evaluasi program kerja sepanjang tahun 2025.

Tabligh Akbar

Puncak acara pembukaan Rakerwil ditandai dengan Tabligh Akbar bertema “Membangun Ukhuwah Islamiyah adalah Kunci Kebangkitan Umat”. Dalam kesempatan ini, Shaleh menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, institusi keagamaan, dan tokoh masyarakat sebagai kunci dalam kebangkitan umat Islam.

Masyarakat dan pemerintah Kota Masohi menyambut baik gagasan tersebut. Mereka berharap program-program keislaman yang dirancang dapat semakin memperkuat wawasan keagamaan di Maluku Tengah.

Setelah sesi Tabligh Akbar, rangkaian kegiatan Rakerwil dilanjutkan di Pondok Pesantren Hidayatullah Masohi Km 12. Selama dua hari, sebanyak 40 peserta membahas berbagai agenda strategis yang bertujuan meningkatkan efektivitas program keislaman.

Pada malam dan pagi hari berikutnya, peserta mendapatkan tausiyah dari Ustaz Muhammad Shaleh Usman. Dalam ceramahnya, ia menegaskan pentingnya memperjuangkan visi organisasi dengan semangat kolektif.

Sementara itu, Ustaz Drg. Fathul Azdhim memberikan penguatan melalui kajian Pedoman Dasar Organisasi (PDO) dan pedoman amal usaha.

Salah satu pesan inspiratif yang disampaikan adalah tentang makna kebahagiaan. Ustaz Fathul Azdhim mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati bukan diukur dari jabatan atau harta.

“Kebahagiaan itu hadir dari hati yang tenang dan penuh rasa syukur,” ujarnya.

Diharapkan, melalui Rakerwil ini, tidak hanya program kerja yang dievaluasi dan dirancang, tetapi juga terbentuk kekuatan mental dan spiritual bagi para peserta dalam menghadapi tantangan dan melaksanakan berbagai program strategis di tahun 2025.*/Herim

Mengawal Pewarisan Nilai, Alih Konsepsi dan Alih Generasi Hidayatullah

0

DALAM empat tahun terakhir, enam kader terbaik Hidayatullah yang menduduki posisi strategis di kepengurusan pusat telah berpulang ke Rahmatullah. Tentu ada rasa kehilangan yang mendalam, tetapi inilah sunnatullah yang alamiah.

Meski kepergian mereka terasa mendadak dan menyesakkan, peristiwa ini mengingatkan kita pada pentingnya kesinambungan perjuangan melalui alih konsepsi.

Alih konsepsi bukan sekadar pewarisan pemikiran dan metodologi perjuangan, tetapi juga proses pemantapan nilai agar Hidayatullah tetap eksis sebagai amal jariyah, meskipun para pendiri dan perintisnya telah tiada.

Dinamika Alih Konsepsi

Diskusi terkait alih konsepsi dalam tubuh Hidayatullah bukanlah hal baru. Pada tahun 1995, santri-santri awal Hidayatullah mengusulkan agar Ustadz Abdullah Said, sebagai pendiri, mendokumentasikan gagasan perjuangannya dalam konsep tertulis.

Keresahan tersebut muncul karena ketidakpastian mengenai bagaimana perjalanan Hidayatullah akan berlangsung jika sang pendiri tiba-tiba dipanggil ke Rahmatullah.

Namun, hingga wafatnya, Ustadz Abdullah Said tidak meninggalkan dokumen tertulis terkait konsep perjuangannya. Sebagai gantinya, para ustadz senior yang telah mengikuti dan memahami pemikiran beliau berusaha merumuskan konsep perjuangan ini melalui diskusi intensif dan kajian mendalam. Basisnya adalah ceramah-ceramah beliau yang mengandung doktrin utama untuk mencetak kader militan dalam dakwah.

Dua doktrin utama yang diwariskan adalah Sistematika Wahyu dan ketaatan kepada Allah, Rasulullah, serta pemimpin (imamah jamaah). Namun, pewarisan secara lisan memiliki risiko multitafsir dan pergeseran makna. Oleh karena itu, diperlukan konseptualisasi yang lebih konkret untuk menjaga keutuhan pemikiran awal.

Penyempurnaan Menuju Jati Diri

Seiring waktu, doktrin-doktrin dasar ini disempurnakan menjadi khittah, yang menjadi garis besar pergerakan Hidayatullah. Jika sebelumnya hanya terdapat dua doktrin utama, maka dalam khittah ditambahkan dua konsep lagi.

Keduanya adalah Al-Harakah al-Jihadiyah al-Islamiyah (Gerakan dakwah dan tarbiyah Islam) dan Jama’atun minal Muslimin (Hidayatullah sebagai bagian dari jamaah Muslimin seluruh dunia).

Kemudian, konsepsi perjuangan dalam khittah ini semakin dimatangkan dengan perumusan jati diri Hidayatullah, yang menambahkan dua prinsip penting, yaitu Ahlus Sunnah wal Jamaah sebagai landasan akidah dan amaliyah dan Wasathiyyah (moderat) dalam pendekatan dakwah dan pergerakan.

Dengan demikian, alih konsepsi dalam Hidayatullah bukan sekadar pewarisan verbal, tetapi sebuah proses transformasi intelektual dan organisatoris untuk memastikan kesinambungan gerakan.

Alih Kepemimpinan

Setelah wafatnya Ustadz Abdullah Said, kepemimpinan beralih kepada Ustadz Abdurrahman Muhammad dengan mulus. Ini terjadi karena kader-kader awal Hidayatullah telah memahami dan berkomitmen terhadap sistem kepemimpinan yang ada.

Meskipun terdapat dinamika dan tantangan, Hidayatullah justru berkembang pesat dalam 25 tahun terakhir. Beberapa indikator pertumbuhan tersebut adalah jumlah cabang yang semakin banyak dan lahirnya generasi kader muda yang siap meneruskan perjuangan.

Indikator berikutnya adalah pembentukan Perguruan Tinggi Hidayatullah (PTH) sebagai mesin pencetak kader dakwah dan transisi dari pesantren (orsos) menjadi Organisasi Massa (Ormas) yang dinamis.

Indikator yang tak kalah penting lainnya adalah penguatan regulasi melalui Pedoman Dasar Organisasi (PDO) dan berbagai Peraturan Organisasi (PO) serta pembentukan amal usaha dan badan usaha sebagai pilar ekonomi dakwah.

Tantangan Alih Generasi

Tantangan berikutnya yang dihadapi Hidayatullah adalah alih generasi. Jika alih konsepsi telah berjalan dengan baik, maka memastikan kesinambungan generasi yang memahami, menginternalisasi, dan mengimplementasikan nilai-nilai Hidayatullah menjadi pekerjaan besar selanjutnya.

Saat ini, jumlah santri Hidayatullah telah mendekati 100.000, dengan hampir 1.000 sekolah yang tersebar dari tingkat TK hingga SMA. Program dakwah dan tarbiyah semakin masif, mulai dari rumah Qur’an, majelis Qur’an, dakwah pedalaman, dakwah muallaf, hingga pendirian sekolah dai. Layanan khutbah dan mubaligh juga terus berkembang di berbagai daerah.

Namun, keberlanjutan semua pencapaian ini bergantung pada bagaimana alih generasi dikelola. Bukan sekadar pergantian individu, tetapi bagaimana nilai, sistem, dan budaya organisasi dapat dipahami dan diterapkan oleh generasi penerus.

Bagaimana strategi alih generasi ini akan dilakukan? Bersambung.

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, M.Pd.I, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah